
Hai semua, author mengucapkan terimakasih buat yang sudah vote novel author ini. Dan buat yang belum jangan lupa untuk vote ya, karena vote kalian sangat berharga. Selamat membaca:)
Jovan dan Sandra pergi meninggalkan rumah Danial bersama Dhefin. Dhefin sedari tadi tidak bisa diam dan selalu bertanya tentang Cassandra.
"Nenek, sejak kapan Mama tinggal di rumah nenek?. Apakah selama ini Mama tinggal di sana?. Kenapa nenek tidak memberi tau Dhefin?. Dan kenapa mobil ini sangat lambat?, dari tadi kita belum sampai-sampai." kata Dhefin bertubi-tubi.
"Hahaha, sabarlah cucuku. Kita akan segera sampai. Apakah kamu sangat merindukan Mamamu?" ucap Jovan pada cucunya.
"Tentu saja. Dhefin sangat sangaaaaaat rindu sama Mama." ucap Dhefin dengan imut.
"Oh astaga, kenapa kamu sangat imut sayang?. Sepertinya kamu benar-benar sayang pada Mamamu ya?" ucap Sandra.
"Tentu saja nek, Dhefin sangat menyayangi Mama. Karena Mama sangat sayang sama Dhefin." ucap Dhefin dengan antusias.
"Baiklah-baiklah. Bisakah kamu diam, dari tadi lompat-lompat tidak karuan di situ, nanti kalau sampai jatuh bagaimana?" ucap Jovan menasehati.
"Sudahlah biarkan saja dia, dia sudah tidak sabar menemui Cassandra." kata Sandra.
"Hah..., kamu benar. Percuma aku menasehatinya, dia tidak mendengarkan aku. Tapi coba lihat wajahnya, dia sangat gembira sekali, siapapun yang melihatnya akan ikut bahagia." Kata Jovan.
Sesampainya di rumah, Dhefin langsung membuka pintu dan menghampiri Cassandra yang tengah sibuk di dapur.
"Mama......" ucapnya sambil memeluk Cassandra.
Cassandra yang terkejut pun langsung meletakkan masakan yang sedang ia masak dan langsung membalas pelukan Dhefin tak kalah erat.
"Dhefin, Mama sangat merindukanmu." ucap Cassandra.
Mereka berdua melepas kerinduan masing-masing, dan tanpa mereka sadari, orang tua Danial melihat interaksi mereka.
"Oh lihatlah, mereka manis sekali." ucap Sandra terharu melihat keakraban Cassandra dan Dhefin.
"Sudah lama kita tidak melihat pemandangan ini." kata Jovan.
"Benar sekali Pah. Ayo kita pergi, jangan mengganggu waktu mereka." kata Sandra.
Sandra dan Jovan pun pergi ke kamar mereka. Sedangkan Cassandra dan Dhefin masih setia dengan posisi mereka.
"Dhefin, Mama sangat merindukanmu." ucap Cassandra di sela tangisannya.
"Dhefin juga sangat merindukan Mama." kata Dhefin.
Dhefin merasa punggungnya basah, dan dia melepas pelukannya.
"Apakah Mama menangis?, jangan menangis Mah. Dhefin juga nangis nantinya jika Mama menangis." ucap Dhefin sambil menghapus air mata Mamanya.
"Tidak, mama tidak nangis kok." ucap Cassandra sambil tersenyum.
"Apa yang sedang Mama buat?" tanya Dhefin.
"Mama sedang membuat cookis kesukaanmu." ucap Cassandra.
"Banarkah itu?. Dhefin ingin mencobanya." kata Dhefin.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita memakannya sambil bermain ayunan di taman belakang." ucap Cassandra.
"Kalau begitu, Let's go." ucap Dhefin sambil berlari menirukan gaya Superman terbang.
.
.
.
.
.
Cassandra dan Dhefin bermain bersama hingga lupa waktu. Mereka bermain hingga sore, dan akhirnya Mama Danial menyuruh mereka menyudahinya.
"Sudah sore, lebih baik kalian mandi. Nenek mau menyiapkan makan malam dulu." ucap Sandra.
"Tidak perlu Mah, biar Cassandra saja yang masak." kata Cassandra.
"Benar nek, masakan Mama yang paling the best. Jadi biarkan mama saja yang memasak." Kata Dhefin.
"Mama masak apa?, Dhefin bantu ya ma?" kata Dhefin.
"Tidak, lebih baik Dhefin bermain dengan nenek dan kakek saja." ucap Cassandra.
"Tapi Dhefin ingin membantu Mama." ucapnya sedih.
"Tapi dapur itu tempat yang berbahaya Dhefin." ucap Cassandra.
Ting tong
"Nah, Bagaimana kalau Dhefin membuka pintu, mungkin saja itu kakek Dewo." ucap Cassandra.
"Siap Nyonya, perintah nyonya akan saya kerjakan." ucap Dhefin sambil membungkuk layaknya seorang pelayan.
"Haduh, ada-ada saja anak itu." ucap Cassandra.
Ceklek
"Paman kakek. Dhefin sangat merindukanmu." ucap Dhefin memeluknya, dan Dewo pun menggendongnya.
Ya, Dhefin memanggil Dewo dengan sebutan paman kakek, karena Dewo masih muda. Umurnya hanya terpaut 15 tahun dari Danial.
"Apakah benar begitu hm...?" tanya Dewo.
"Tentu saja, Dhefin tidak akan bohong." ucapnya.
"Siapa yang datang Dhefin?" tanya Sandra.
"Halo kakak ipar, Bagaimana kabarmu?" tanya Dewo.
"Eh Dewo, kabarku baik. Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Sandra.
"Cukup baik Kakak ipar. Oh ya dimana yang lain?" kata Dewo.
"Cassandra sedang masak di dapur, sedangkan kakakmu dia ada di ruang kerjanya." ucap Sandra.
"Ya sudah kalau begitu, aku pergi temui Cassandra dulu ya kakak ipar." kata Dewo.
"Baiklah, aku akan panggil kakakmu." ucap Sandra.
Dewo dan Dhefin pun pergi ke dapur, mereka menghampiri Cassandra yang tengah sibuk dengan urusan memasaknya.
"Masak apa kamu Cassandra?" tanya Dewo.
"Eh Bapak, saya hanya masak makanan yang saya bisa saja." ucap Cassandra.
"Jangan panggil saya Bapak, panggil Paman saja. Kita berada di rumah, dan kita sekarang keluarga. Tidak enak jika memanggil dengan sebutan Bapak." kata Dewo.
"Baiklah Paman." ucap Cassandra.
Mereka semua bersiap untuk makan malam, di meja sudah tersaji berbagai macam makanan yang dimasak oleh Cassandra dengan sepenuh hati.
Sandra turun bersama suaminya. Mereka menuju ruang makan dimana Cassandra, Dhefin dan Dewo berada.
Ting tong
"Siapa itu Mah?" tanya Jovan.
"Tidak tau Pah, mungkin saja Kevin." ucap Sandra.
Sandra pergi membuka pintu, dan betapa terkejutnya dia.
"Hai Mah, dimana Dhefin." ucap Danial.
Karena terlalu lama Sandra berdiam di sana membuat Cassandra penasaran dengan tamu itu.
"Siapa Mah?" tanya Cassandra.
Danial yang mendengar suara Cassandra pun langsung masuk begitu saja, dan tatapannya beradu dengan tatapan mata Cassandra.
"Cassandra." ucap Danial.
Hai semua, jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya. See you di part selanjutnya:)