
3 Bulan kemudian
Cassandra kembali tinggal di panti asuhan, dia tidak ingin hidup seorang diri, karena jika dia sendiri dia selalu memikirkan Danial dan Dhefin. Dia tidak dapat membohongi perasaannya, dia memang sangat membenci mereka, terlebih Danial, namun entah mengapa hatinya menolak untuk membenci pria itu.
Sekarang Cassandra sedang berada di kampusnya, walaupun dia sedang sedih tapi dia tidak pernah melewatkan sekolahnya. Dia sedang duduk di taman kampus sambil menunggu sahabatnya, mereka janjian untuk bertemu di taman sekolah, tapi entah mengapa Kevin belum datang.
"Kemana bocah itu pergi?, dia yang mengajakku janjian justru dia yang tidak datang, awas saja kamu ya." ucap Cassandra kesal.
"Hah hah ha...." suara nafas Kevin.
"Hei, dari mana saja kamu?"
"Maaf Cassandra, aku tadi habis ke kantor pak Broto." ucapnya.
"Ya ya ya, gak usah pamer juga kali, mentang-mentang jadi asisten dosen sekarang kamu jadi sibuk dan menelantarkan temanmu ini, aku sampai kering tau gak lama-lama nunggu kamu di sini." ucap Cassandra.
"Iya maaf, aku traktir eskrim deh."
"Oke, aku maafin kamu, tapi kamu harus traktir aku eskrim selama satu Minggu."
"Apa?, kenapa lama sekali?"
"Itu sepadan, aku menunggumu disiang bolong begini selama 2 jam, kamu pikir aku kerupuk apa?"
"Iya deh iya deh." ucap Kevin terpaksa.
"Ya sudah ayo beli eskrim, otakku mencair nih, emang kamu mau aku menjadi semakin bodoh."
"Jika kamu bodoh itu bukan salahku, itu karena kamu yang tidak mau belajar."
"Apakah kamu menghinaku?"
"Tentu saja tidak, aku tidak akan menghina sahabatku sendiri, ayo beli eskrim."
Kevin dan Cassandra pergi untuk membeli eskrim, mereka kembali bercanda di sana, tidak jarang mereka saling mengejek satu sama lain.
"Kevin, kenapa kamu mengejekku seperti itu." ucap Cassandra sambil menjewer kuping Kevin.
(Anggap saja itu mereka ya guys:))
"Aaaaa.... sakit Cassandra." keluh Kevin.
"Biarin, biar kamu tau rasa."
"Ih kamu nih, nanti kalo kupingku melar kamu mau tanggung jawab?, trus kalo sampek cewek-cewek gak suka sama aku gara-gara kupingku melar gimana?"
"Aku tidak percaya bahwa para wanita-wanita itu bisa pergi meninggalkan kamu sendiri, mereka tidak mungkin meninggalkan kamu hanya karena kupingmu."
"Ah sudahlah, oh ya Cassandra, aku berniat mengajakmu untuk pergi ke pesta nanti malam."
"Pesta?, pesta apa?, tumben banget kamu pergi ke pesta?" tanya Cassandra bertubi-tubi.
"Sudahlah, kamu dateng aja nanti, aku akan mengirimkan kamu pakaian."
"Baiklah-baiklah."
.
.
.
.
.
Malam hari
Kevin menjemput Cassandra di panti asuhan, dia sudah tidak sabar melihat Cassandra memakai gaun yang dia pilih, dia sangat yakin bahwa Cassandra akan terlihat cantik menggunakan gaun itu.
Tidak lama kemudian Cassandra datang, dia memakai baju yang dibelikan oleh Kevin, dia terlihat cantik dengan gaun itu.
'Wow, sangat cantik. Aku memang tidak salah mencintaimu, kamu membuatku semakin mencintaimu, andaikan saja kamu menyadari perasaanku.' batin Kevin.
"Ada apa Kev?, apakah aku terlihat aneh mengenakan pakaian ini?"
"Sapa bilang, kamu justru sangat cantik." ucap Kevin.
"Apakah itu benar?, kamu tidak sedang membohongiku kan?" tanya Cassandra tak percaya.
Mereka berdua pun sampai di tempat pesta, pesta itu cukup mewah, Cassandra tidak habis pikir kenapa temannya bisa datang ke pesta yang sangat berkelas. Yah, itu karena Cassandra masih belum tau kalau Kevin adalah seorang penerus perusahaan Aditama.
"Kevin, apakah kamu tidak salah tempat?, lebih baik kita pergi, kalau tidak kita berdua bisa di usir." ucap Cassandra khawatir.
"Hei tenanglah, kita tidak salah tempat. Percayalah padaku." ucap Kevin meyakinkan Cassandra.
"Baiklah, awas saja kalau sampek kamu membuatku malu."
"Tenanglah, tidak akan ada orang yang berani menertawakan kita, lagian aku punya undangannya, mana mungkin kita di usir."
Mereka berdua masuk ke dalam, Kevin dan Cassandra menjadi pusat perhatian, karena mereka tidak pernah menyangka bahwa pewaris perusahaan Aditama yang selalu menolak untuk tampil di depan publik akhirnya malah menghadiri sebuah pesta, dan itu menjadi pertanyaan semua orang.
"Hei, bukankah itu tuan Kevindra?" tanya seseorang tamu di sana.
"Ya itu dia." ucap yang lain.
"Tumben sekali dia datang ke sebuah pesta?, bukankah dia selalu menutup dirinya dari awak media?"
"Mungkin saja dia sudah lelah menutup diri."
"Tapi siapa gadis yang ada di sebelahnya itu?"
"Hei, apakah kamu tidak tau?, dia itu mantan istri tuan Danial."
"Apakah itu benar?, dasar gadis matre, baru aja di buang udah nemu yang lain, ****** sekarang memang gitu ya." ucap mereka.
Cassandra yang mendengarnya hanya bisa terdiam dan menunduk, dia malu, dia tidak tau mengapa orang-orang terus mengatainya. Dia tidak ingin dikatai seperti itu, dia sudah lelah.
"Kevin, tidak bisakah kita pulang?" ucap Cassandra.
"Eh, kenapa?, apakah kamu tidak suka pestanya?" ucap Kevin bingung.
"Tidak, aku hanya tidak ingin berada di sini."
"Baiklah-baiklah, ayo kita pulang, aku juga tidak suka berada di keramaian, intinya kita sudah hadir di sini. Ayo kita pergi." ajak Kevin.
Kevin dan Cassandra berniat untuk pulang, mereka pergi sebelum acara di mulai, tapi siapa yang berani menghalanginya, tidak ada yang bisa menghalangi mereka.
Saat mereka sampai di pintu keluar, mereka berpapasan dengan Danial dan Rayna. Cassandra terkejut melihat mereka berdua, begitupun dengan Danial.
Danial menatap Cassandra, entah mengapa dia tidak suka melihat Cassandra dekat dengan Kevin, terlebih melihat dia bergandengan dengan Kevin.
"Hei, siapa ini, bukankah dia mantan istrimu sayang?, mengapa dia bisa datang ke pesta ini?, orang sepertimu itu tidak pantas berada di sini, kamu tu pantasnya berada di pasar bukannya di pesta." ucap Rayna.
Perkataan Rayna mengundang tawa semua orang di sana, Cassandra yang mendengarnya hanya bisa menunduk dan menahan air matanya, dia tidak ingin menangis, karena jika dia sampai menangis itu pasti akan membuat mereka bahagia dapat menghinanya.
"Maaf, jangan halangi pintunya kami mau lewat." ucap Kevin.
"Hei, memangnya siapa kamu?, apakah kamu tidak tau? pacarku ini seorang yang sangat terpandang di sini, ngapain kita yang harus menyingkir, harusnya tuh kalian, dasar kampungan." ejek Rayna.
"Hei nona, kamu memang cantik dan berkelas, namun kenapa mulutmu begitu tidak terpelajar, lebih baik kamu menyingkir sebelum aku berbuat kasar kepadamu." ucap Kevin tidak mau kalah.
"Kamu berani menyentuhnya?" ucap Danial.
"Oh aku lupa, dia adalah pacar seorang Danial, Bagaimana mungkin aku melukainya. Tapi jika kalian tidak menyingkir Bagaimana caraku lewat?" tanya Kevin.
"Buat apa kalian ribut, kalian bukan anak kecil lagi, jangan membuat keributan di sini. Dan kamu Kevin, tetap di sini dan jangan pergi kemana pun." ucap Aditama.
"Tapi ayah-"
"Tidak ada tapi tapian." ucap Aditama dengan tegas.
"Baiklah."
"Ayo Danial kita masuk." ajak Aditama pada Danial.
"Baik om."
Pesta pun dimulai, mereka berada di puncak acara, yaitu acara dansa, setiap orang akan berdansa dengan pasangannya. Kevin berdansa dengan Cassandra, sedangkan Danial dengan Rayna.
Danial sedari tadi selalu memperhatikan Cassandra, entah mengapa dia tidak suka melihat Cassandra begitu dekat dengan Kevin, terlebih melihat Kevin menyentuh pinggang Cassandra.
Rayna yang menyadari bahwa Danial dari tadi selalu memperhatikan Cassandra pun mencoba mengalihkan perhatian Danial. Namun usahanya tidak berlangsung lama.
'Bagaimana ini, kenapa Danial terus memperhatikan gadis bodoh itu. Lihat saja Cassandra, aku akan membuatmu malu di pesta ini dan itu juga akan membuat Danial menjadi membencimu.' batin Rayna.
Hai, jangan lupa untuk like, komen dan vote ya, dan jangan lupa follow akun author. Sampai jumpa lagi:)