My Wife My Maid

My Wife My Maid
Menikah?



"Permisi pak, ada apa ya pak?, kenapa anda mencari saya?"


"Apakah kamu mau menikah dengan Danial?"


"Maksud bapak apa ya?, saya tidak mengerti?"


"Apakah kamu bersedia menikah dengan Danial?"


"Saya?, apakah bapak tidak salah pilih?, saya hanya pembantunya saja, tidak lebih dari itu, bagaimana mungkin saya-"


"Bapak tau itu, tapi kamu membawa kebahagiaan bagi mereka, tidak hanya Dhefin, kamu juga membuat Danial dekat dengannya, dan Dhefin sepertinya sangat menyayangimu, apakah kamu tidak mau membuatnya bahagia dengan menjadi ibunya yang sesungguhnya?"


"Saya memang sangat ingin membuat Dhefin bahagia, tapi kalau harus menikah dengan Danial, saya rasa saya tidak bisa."


"Apakah ada yang salah dengan Danial?, bukankah dia lelaki yang sempurna."


'Iya sih dia memang sempurna, tapi aku tidak tahan melihat kelakuannya sehari-hari padaku, aku tidak tahan dengan kelakuannya yang menyebalkan itu. Jika saja dia baik padaku, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya.' batin Cassandra.


"Baiklah, bapak harap kamu mau memikirkannya kembali."


"Baik pak, saya permisi dulu ya pak."


"Ya, silahkan."


Cassandra masih memikirkan perkataan pak Dewo, dia tidak habis pikir, kenapa pak Dewo mau menikahkannya dengan Danial, padahal dia hanya gadis biasa. Di luar sana masih banyak gadis yang lebih cantik dan lebih baik dari pada dirinya.


Cassandra tidak sadar jika Kevin dari tadi memperhatikannya, dia memperhatikan Cassandra dengan cermat, Kevin pikir Cassandra pasti punya masalah, dan dia berniat untuk bertanya padanya.


"Cassandra."


"Eh iya Kevin ada apa?" ucapnya terkejut.


"Apakah kamu ada masalah?"


"Tidak, kenapa kamu berfikiran seperti itu?"


"Dari tadi aku memperhatikanmu, kamu hanya diam dan bengong saja. Jika kamu ada masalah ceritakan saja padaku, bukankah aku ini sahabatmu Cassandra, apakah kamu tidak menganggapku sebagai sahabatmu?"


"Kenapa kamu bicara seperti itu Kevin, kamu adalah sahabat terbaikku, kamu sahabatku satu-satunya."


"Lalu kenapa kamu tidak menceritakannya padaku, bukankah kita sudah berjanji untuk saling berbagi suka dan duka yang kita alami."


'Aku tau itu Kevin, tapi aku takut jika kamu marah, dan aku tidak mau selalu bergantung padamu dan membuatmu terbebani dengan keadaanku.' batin Cassandra.


"Aku tidak apa-apa Kevin, jika aku ada masalah aku akan selalu datang mencarimu."


"Apakah perkataanmu itu benar Cassandra?"


"Ya tentu saja, Kemana lagi aku harus pergi jika bukan kepadamu."


"Baiklah, tapi kamu harus berjanji kepadaku, aku adalah orang pertama yang kamu cari ketika kamu ada masalah, bagaimana?"


"Baiklah-baiklah, kamu akan menjadi orang pertama yang aku cari jika aku sedang dalam masalah."


"Yasudah ayo kita pulang."


"Ayo."


.


.


.


.


.


Kediaman Bramantyo


"Dhefin, kamu bisa bantu Mama?"


"Ada apa Ma?"


"Apakah kamu mau membantu Mama menyiram tanaman ini?"


"Tentu saja Ma."


"Eh tuan muda, apa yang anda lakukan, sini berikan kran air itu pada saya." ucap salah satu pembantu di sana.


"Tapi tuan muda, nanti anda bisa basah semua."


"Apakah kamu tidak mengerti perkataanku."


"Tidak tuan, maafkan saya."


"Pergilah."


Pelayan itupun pergi mengerjakan tugas yang lain, Dhefin kembali melanjutkan pekerjaannya menyiram tanaman di taman, sedangkan Cassandra, dia sedang menyiapkan makanan untuk makan siang.


"Hai Dhefin, apa yang kamu lakukan di sini?"


"Apakah matamu rusak, bukankah kamu bisa melihat apa yang sedang aku lakukan."


'Astaga, kenapa bocah ini begitu kasar, awas saja ya aku akan menghukum mu ketika aku sudah menjadi nyonya di rumah ini.' batin Aleena.


"Kenapa kamu melakukan itu, itu sangat kotor biarkan pelayan saja yang mengerjakannya, Dhefin ikut Tante main di dalam."


"Tidak, Mama yang menyuruhku untuk melakukannya jadi aku harus melakukannya dan kamu lebih baik pergi dari sini."


"Apakah ****** itu yang menyuruhmu melakukan hal menjijikkan seperti ini?"


"Dia ibuku, kamu tidak berhak menyebutnya ******."


Dhefin yang marah pun menyiram Aleena dengan kran yang dia pegang, Aleena sudah berteriak kepada Dhefin agar dia berhenti menyiraminya, namun Dhefin tidak mau mendengarkannya.


"Dasar bocah nakal."


Alena hendak memukul Dhefin namun hal itu di halangi oleh Cassandra.


"Apa yang mau kamu lakukan?, apakah kamu mau memukul Dhefin?"


"Ya, bocah ini harus di beri pelajaran, dia sudah membuat bajuku basah."


"Kenapa?, itu hanya baju."


"Hanya baju kamu bilang, baju ini tuh sangat mahal, gajimu lima tahun aja gak cukup membeli baju ini."


"Ya memang aku tidak sanggup untuk membelinya, tapi Danial dia bisa mengganti bajumu itu, kenapa harus memukul Dhefin?"


"Kamu itu tidak perlu ikut campur, kamu hanya pembantu di sini, sedangkan aku, aku adalah tunangan Danial calon nyonya di sini, jadi kamu gak usah sok berkuasa, mengerti. Dasar pembantu tidak tau diri." ucapnya dengan sinis.


'Kenapa aku lupa, aku hanya sekedar pembantu, harusnya aku sadar bahwa aku tidak akan pernah pantas menjadi ibu bagi Dhefin, aku hanya gadis miskin yang jika di bandingkan dengannya sangat beda jauh, Aleena masih lebih pantas dari pada diriku, benar katanya, harusnya aku tau diri.' batin Cassandra.


"Kenapa kamu diam hah, sudah sadar akan posisimu."


"Kamu yang harus sadar, dia ibuku dan dia yang akan menjadi nyonya di sini, dan kamu, kamu tidak pantas bersanding dengan Ayahku, jika aku mau aku bisa menyuruh Ayah untuk memutuskan hubungan denganmu, jadi kamu tidak usah berharap untuk bisa menjadi nyonya di sini."


"Dasar bocah nakal."


Aleena hendak memukul Dhefin, namun Cassandra langsung memeluk Dhefin, tapi Cassandra tidak merasakan sakit di tubuhnya, dia pun menoleh dan dia terkejut melihat Danial menahan tangan Aleena yang hendak memukulnya.


"Apa yang kamu lakukan?, apakah kamu berniat untuk memukul Dhefin?"


"Ti-tidak Danial, Bagaimana mungkin aku memukul Dhefin, aku hanya-"


"Ayah...., dia berniat memukulku dan Mama, dia bilang aku nakal, dan dia juga bilang jika dia menjadi nyonya di rumah ini, dia akan membalaskan semua perbuatanku padanya." ucap Dhefin dengan manja.


"Apakah benar yang dikatakan Dhefin?"


"It-itu...., itu tidak benar Danial, percayalah padaku."


"Apakah Ayah tidak percaya pada Dhefin." (Sambil memelas).



(anggap saja seperti itu ya guys:v)


"Tentu saja Ayah percaya padamu. Dan mulai sekarang kamu bukan tunanganku lagi, aku tidak akan menikah dengan orang yang akan menyakiti anakku, aku hanya akan menikahi wanita yang mencintai anakku dan menyayanginya seperti anaknya sendiri, walaupun dia hanya seorang pembantu sekalipun."


'Apa yang dikatakannya?, apakah itu benar?, apakah dia berniat untuk menikahiku?, apakah dia tidak sedang bercanda?, aku hanya seorang pembantu, tapi mungkin saja itu hanya sebuah alasan untuk menyingkirkan Aleena, jadi aku tidak boleh senang dulu.' batin Cassandra.


Hai semua, terimakasih sudah like, komen dan vote novelku ini. Aku harap kalian menyukai ceritaku ini ya....


Sampai jumpa:)