
Hai semua, author mohon bantuannya untuk memvoting novel author ini, biar novel author semakin di kenal oleh pembaca lainnya. Jadi author memohon partisipasinya untuk memberikan voting sebanyak-banyaknya. Dan author bakal sering update, jadi mohon bantuannya yaXD.
Cassandra berada di rumah orang tua Danial, dan dia sangat terkejut melihat sikap mereka yang sangat baik terhadapnya. Dia merasakan kasih sayang seorang ibu, dan dia juga bisa merasakan kebahagiaan memiliki orang tua. Dia tidak percaya bahwa Danial merupakan anak mereka, karena sikap mereka sangat bertolak belakang.
"Ma, mana yang bisa Cassandra bantu?" ucap Cassandra. Ya sekarang dia memanggil orang tua Danial dengan sebutan Mama dan Papa, karena itu juga permintaan dari mereka, dan Cassandra tidak bisa menolaknya.
"Tidak perlu nak, kamu duduk saja di sana, temani Papamu itu, dia pasti bosan sendirian." ucap Sandra, Mama Danial.
"Tapi Ma, Cassy ingin membantu Mama." ucap Cassandra.
"Sudahlah sayang, dengarkan saja Mamamu itu, sini temani ayah nonton TV." ucap Jovan, Ayah Danial.
"Baiklah, tapi jika Mama perlu sesuatu Mama bisa memanggilku." kata Cassandra kepada Sandra.
"Iya cantik, sudah sana temani Papamu." ucap Sandra.
"Ya sudah, aku temani Papa ya ma." kata Cassandra.
"Iya." ucap Sandra kepada Cassandra.
Mereka seperti keluarga yang sangat harmonis, orang tua Danial memang sangat penyayang, namun mereka tidak bisa memperlakukan putranya seperti itu, karena putranya itu sangat dingin, dan dia selalu berkata bahwa orang tuanya sangat kekanakan. Karena mereka sangat perhatian kepadanya, padahal orang tuanya hanya ingin memberikan kasih sayang kepadanya.
"Andaikan saja aku memiliki putri sepertimu Cassy, betapa indahnya keluarga kami. Entah apa yang ada di fikiran Danial hingga dia menolak permata yang berkilau sepertimu demi memilih pedang bermata dua, yang siap menusuk majikannya sendiri." ucap Sandra setelah Cassandra pergi.
Mereka terlihat begitu akrab, sangat senang melihat mereka tertawa bersama, saling mengejek dan saling menyayangi satu sama lain. Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, perasaan yang sama membuat mereka saling menyayangi satu sama lain.
"Cassy, besok Mama akan menjemput Dhefin, kamu jaga rumah ya nak." ucap Sandra.
"Iya Ma, Mama tenang saja, rumah ini aman bersamaku." ucap Cassandra.
"Apakah ada yang kamu inginkan?, Papa bisa memberikannya padamu." ucap Jovan.
'Ada Pa, tapi aku tidak yakin Papa bisa memberikannya untukku. Yang aku inginkan hanyalah cinta dari anak Papa, namun itu sangat tidak mungkin, dan aku akan berusaha melepasnya.' batin Cassandra.
"Tidak ada ayah, aku hanya ingin Dhefin dan kalian saja. Itu sudah cukup untukku." Kata Cassandra.
'Betapa baiknya gadis ini, dikala yang lain sibuk untuk mengejar harta, dia hanya ingin kasih sayang dari keluarga. Aku harap kamu tidak menyesalinya Danial, kamu telah menyia-nyiakan gadis yang tulus mencintaimu. Semoga hatimu terbuka nantinya.' batin Jovan.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang sudah malam, waktunya kita tidur." ucap Jovan.
"Baik Pah." ucap Cassandra.
Jovan mencium dahi Cassandra, dan Sandra memeluknya. Mereka sangat menyayangi Cassandra, begitu pun dengan Cassandra.
Disisi lain, Danial sedang sibuk mencari keberadaan Cassandra, namun tidak ada yang tau keberadaannya, dia pun pasrah. Dia pergi ke kamarnya, namun sebelum dia masuk ke kamarnya, dia mampir ke kamar putranya.
"Apakah kamu membenciku?, yah siapa yang tidak membenciku, semua orang membenciku. Ayah memang tidak pantas menjadi Ayahmu, Ayah minta maaf, Ayah hanya bisa menyakitimu, bukan membuatmu bahagia. Maafkan Ayah Dhefin." ucap Danial sambil menangis.
Dan perlahan air mata Dhefin mengalir, dia tidak tidur, dia tidak bisa tidur akhir-akhir ini. Dia mendengar keluhan Ayahnya, dia merasa bersalah pada Ayahnya, seharusnya dia tidak berbuat seperti itu padanya, namun dia terlalu marah sehingga dia membenci Ayahnya.
'Maafkan Dhefin Ayah, Dhefin nakal, Dhefin bukan anak yang baik, tapi Dhefin terpaksa seperti ini. Dhefin seperti ini juga karena sikap Ayah kepada Mama, dan asalkan ayah tau, Mama bukan wanita yang gila harta, dia hanya perempuan yang baik, terlalu baik hingga Ayah selalu menyakiti hatinya.' ucap Dhefin dalam hati.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya
Papa dan Mama Danial pergi ke rumah Danial, mereka sudah berencana untuk membawa Dhefin tinggal bersama mereka. Mereka memencet bel rumah Danial, dan pembantu disana pun keluar.
"Eh nyonya, silahkan masuk nyonya." ucap pelayan itu.
Mereka masuk ke rumah Danial, dan mereka melihat Danial sedang sarapan bersama Rayna, namun disana tidak ada Dhefin, dan itu membuat mereka bertanya-tanya.
"Dimana Dhefin?, kenapa dia tidak ikut sarapan?" tanya Sandra.
"Dikamar nya." ucap Danial cuek.
"Kalian keterlaluan, Bagaimana bisa kalian makan sendiri sedangkan anak kalian di biarkan kelaparan di kamarnya." ucap Sandra marah.
Braaak
"Sudah Ma, jangan memulai pertengkaran lagi, aku sudah capek mendengar keributan. Salah Dhefin sendiri, dia tidak ingin makan bersama kami, jadi bukan salah kami dong." ucap Danial.
"Dasar kamu ya.." ucap Sandra terpotong.
"Sudahlah Ma, percuma ngomong sama orang yang gak punya hati, ayo kita ke kamar Dhefin." kata Jovan.
"Ayo Pah." ucap Sandra.
Mereka menemui Dhefin di kamarnya, dia sedang bermain game di sana, padahal sekarang sudah waktunya untuk pergi ke sekolah.
"Dhefin sayang, kenapa kamu masih main game, bukankah sekarang waktunya pergi ke sekolah?" tanya Sandra.
Namun tidak ada satupun perkataan yang keluar dari mulut Dhefin. Sandra dan Jovan pun menjadi sedih, meraka kasihan melihat Dhefin, anak sekecil ini harusnya menerima kasih sayang dari orang tuanya, bukannya menerima penderitaan yang disebabkan oleh orang tuanya.
"Dhefin ikut sama nenek yuk." ajak Sandra. Namun tidak ada jawaban dari Dhefin.
"Dhefin mau kan tinggal sama nenek?" kata Sandra.
Tetap saja Dhefin tidak mengubis perkataan mereka, mereka sampai bingung mau mengajak dengan cara apa lagi.
"Bukannya Dhefin ingin bertemu dengan Cassandra?, Cassandra sekarang ada di rumah nenek. Dia tinggal di rumah nenek. Nenek disini berniat untuk menjemput Dhefin, apakah Dhefin mau ikut bersama nenek?" ucap Sandra.
"Apakah itu benar?, nenek tidak bohong kan?" ucapnya dengan antusias.
"Tentu saja tidak." ucap Sandra sambil tersenyum.
"Baiklah, Dhefin siapkan baju dulu, nenek tunggu sebentar ya." ucapnya dengan gembira.
"Lihatlah Pah, dia sangat senang mendengar nama Cassandra, apa lagi jika dia bertemu dengannya." kata Sandra kepada suaminya.
"Kamu benar, hanya Cassandra yang membuat dia bahagia, karena hanya dialah yang bisa memberikan Dhefin kasih sayang yang tulus layaknya seorang ibu." ucap Jovan.
Mereka bertiga keluar dari kamar Dhefin, mereka membawa tas kecil yang berisi baju Dhefin, dan itu membuat Danial bingung.
"Kalian mau kemana?" tanya Danial.
"Dhefin ingin menginap di tempatku, tenang saja aku akan merawatnya, kalian nikmati saja waktu berdua kalian." kata Sandra.
"Tidak. Dhefin masuk ke kamar." ucap Danial.
"Apa-apaan kamu, dia ingin menginap di rumah nenek dan kakeknya, apa yang salah dari itu?" kata Sandra tidak percaya dengan ucapan Danial.
"Sudahlah sayang, benar kata Mama, mungkin saja Dhefin sangat rindu pada mereka. Lagian kita jadi bisa menghabiskan waktu berdua." ucap Rayna.
"Mama?, siapa Mamamu?. Aku tidak punya anak j*l*ng sepertimu." ucap Sandra.
"Sudahlah Ma, cepat bawa Dhefin pergi sebelum aku berubah pikiran." kata Danial.
"Kami juga akan pergi, lama-lama mataku akan ternodai melihat wanita ****** itu." ucap Sandra.
'Dasar perempuan tua Bangka, awas saja kamu, tunggu setelah aku menjadi istri Danial aku akan membuatmu pergi ke panti jompo.' batin Rayna.
Hai semua, bagaimana ceritanya?, apakah masih menarik?. Semoga kalian suka dengan ceritanya ya, jangan lupa untuk vote sebanyak-banyaknya ya. Salam manis dari author untuk pembaca sekalianš