My Wife My Maid

My Wife My Maid
Jealous



Dokter akhirnya keluar, Danial pun langsung menghampirinya. Dia menanyakan kondisi Cassandra.


"Bagaimana keadaannya?, apakah dia baik-baik saja?" ucap Danial.


"Tenanglah tuan, dia baik-baik saja. Tubuhnya hanya lemas karena dia sedang demam, dan dia juga melewatkan waktu makannya. Saya sarankan supaya dia tidak melewatkan waktu makannya, jika tidak itu akan melukai lambungnya." jelas Dokter.


"Baik Dok, aku akan menjaga pola makannya." kata Danial.


"Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu." ucap Dokter itu.


Danial masuk ke kamar inap Cassandra, dia melihat wajah gadis itu yang sangat tenang ketika tidur, dan dia juga dapat melihat wajah pucat pasi Cassandra.


"Apakah itu begitu sakit?, harusnya kamu tidak melewatkan makananmu, jika kamu membenciku itu tak apa, aku tidak mempermasalahkannya, tapi harusnya kamu tetap makan, bukan untukku tapi untuk dirimu sendiri." ucap Danial.


Danial memegang tangan Cassandra, dia mengelus tangan Cassandra yang terdapat selang infusnya. Dia berharap itu bisa meringankan rasa sakitnya.


Tak lama kemudian Danial pun terlelap, dia tidur di samping Cassandra dengan kondisi duduk dan tangannya tetap memegang tangan Cassandra.


Cassandra mengalami mimpi buruk, mungkin itu juga di sebabkan oleh demam yang di alaminya. Dia memegang tangan Danial begitu keras, dan dia juga mengigau hingga membuat Danial terbangun.


"Mama..... tidak Mama..., jangan tinggalkan Cassandra, Ayah.... jangan pergi..... Cassandra ingin ikut dengan kalian. hiks... hiks... Cassandra tidak ingin sendirian." ucap Cassandra.


Cassandra memeluk tangan Danial seakan-akan itu adalah tangan orang tuanya. Danial yang merasa kasian pun memeluknya dan mengucapkan kata-kata yang membuatnya tenang.


"Tenanglah, tidak ada yang akan pergi meninggalkan mu. Ada aku di sini, aku akan menjagamu." ucap Danial pada Cassandra, dan itu membuat Cassandra menjadi lebih tenang.


Danial membetulkan posisi tidur Cassandra, dan dia juga membenarkan selimutnya.


"Tidurlah, aku di sini untukmu. Jangan takut." ucap Danial sambil mengelus kepala Cassandra.


.


.


.


.


.


.


Pagi hari


Cassandra bangun dari tidurnya, dia merasakan sakit di kepalanya, namun itu tidak sebanding dengan sakit tangannya.


"Kenapa tanganku kebas?" ucap Cassandra.


Cassandra pun mengecek tangannya, dan betapa terkejutnya dia melihat Danial tertidur di sampingnya sambil memegang tangannya.


"Apakah kamu yang membawaku ke sini?" ucap Cassandra.


Cassandra membelai rambut Danial, dan dia juga memperhatikan wajah Danial yang tertidur dengan pulasnya.


"Rasa senang itu sangat simpel ya, bisa melihat orang yang kamu cintai saat kamu bangun tidur itu sudah membuat hatiku senang." ucap Cassandra. "Tapi bukankah kemarin aku ada di kamar mandi?" sambungnya.


"Aaaaaaahhhhhh........ " teriak Cassandra.


Danial pun terbangun karena mendengar teriakkan Cassandra.


"Ada apa?, apakah ada yang sakit?. Dimana yang sakit?, aku panggil Dokter dulu ya." ucap Danial khawatir.


"Ah tidak, aku tidak apa-apa, tidak perlu memanggil dokter." ucap Cassandra.


"Apakah kamu yakin?, lalu apa yang membuat mu berteriak?" tanya Danial.


"Itu......"


Blush


Wajah Cassandra pun merona.


"Cassandra, apakah kamu yakin kalau kamu tidak apa-apa?" tanya Danial.


"Ya, aku tidak apa-apa." jawab Cassandra.


"Lalu kenapa wajahmu merah begitu?, apakah demam mu belum turun." ucap Danial.


"Demam mu lumayan turun jika di bandingkan dengan semalam, tapi kenapa wajahmu semakin memerah?" ucap Danial.


"Aku.... aku tidak apa-apa, hanya saja..." ucap Cassandra terpotong karena ingatan tadi malam pun datang.


"Astaga wajah mu semakin merah." ucap Danial khawatir.


"Tidak aku tidak apa-apa. Hm.... Danial, bolehkah aku bertanya padamu?" ucap Cassandra ragu.


"Apa?, tanyakan saja?" kata Danial.


"Tadi malam, apakah kamu yang membawaku ke sini?" tanya Cassandra.


"Ya tentu saja. Ada apa memangnya?" kata Danial.


'Apa?, jadi Danial yang membawaku, jadi dia melihat tubuhku yang tel@nj@ng. Tidak tidak, mungkin saja Mama yang membantuku untuk mengganti baju.' ucap Cassandra dalam hati.


"Ada apa Cassandra?"


"Lalu.... bagaimana caraku berganti ba... baju." ucap Cassandra gugup.


"Tentu saja aku yang menggantikannya." ucap Danial.


Cassandra yang terkejut pun memandang wajah Danial tidak percaya.


'Apakah dia sudah gila?, dia mengakuinya dan mengatakannya seolah-olah itu hal yang biasa baginya.' batin Cassandra.


"Ada apa?, kenapa kamu menatapku begitu?" ucap Danial. "Ah aku tau, kamu pasti malu ya, tenang saja aku langsung menutupi tubuhmu dengan handuk, dan aku memakaikan kamu baju dengan mata terpejam." lanjutnya.


"Apakah itu benar?" ucap Cassandra.


'Ternyata itu yang dipikirkannya, aku pikir dia kenapa. Hahahaha, lucu sekali.' batin Danial.


"Ya, mana mungkin aku bohong." kata Danial.


"Baiklah aku percaya padamu." ucap Cassandra.


"Kalau begitu kamu tunggu di sini sebentar, aku akan membelikan bubur untukmu." ucap Danial.


"Tidak itu tidak perlu, kamu pulang saja, aku akan menelfon Kevin. Hari ini dia libur, jadi dia yang akan menemaniku di sini. Kamu pergi ke kantor saja." ucap Cassandra tidak ingin merepotkan Danial.


'Apakah sebegitu bencinya kamu terhadapku, padahal aku sudah menemanimu semalam, tapi di hatimu hanya ada Kevin?. Apakah kamu tidak pernah sekalipun menganggapku ada?' batin Danial.


"Aku tidak ada pekerjaan hari ini, jadi aku yang akan menemani mu." ucap Danial bohong.


Tentu saja dia berbohong, dia seorang CEO dan sekarang masih hari Kamis, tidak mungkin jika dia tidak ada kerjaan, terlebih hari ini jadwalnya sangat padat. Tapi entah mengapa dia membatalkan semuanya.


"Ah tak apa, kamu bisa pulang ke rumah mu, Rayna pasti menunggumu. Bolehkah aku meminjam ponselmu?" ucap Cassandra.


"Untuk apa?" tanya Danial.


"Aku ingin menelfon Kevin." Jawab Cassandra.


"Ponselku mati." bohongnya.


"Ah baiklah, aku akan meminjam ponsel suster nanti." ucap Cassandra.


'Tidak bisakah kamu tidak membicarakan pria lain di depanku, apakah sebegitu rindunya kamu padanya hingga ingin menelfonnya?" batin Danial.


"Sudahlah, aku pergi beli bubur dulu, jangan kemana-mana. Mengerti!" ucap Danial.


"Baiklah." ucap Cassandra patuh.


Danial pergi membeli bubur, tidak butuh waktu lama, dia pun kembali ke kamar inap Cassandra. Danial membuka pintu kamar Cassandra, namun terhenti karena mendengar Cassandra sedang menelfon Kevin.


'Kenapa kamu masih menelfonnya, aku masih berada di sini Cassandra.' ucap Danial dalam hati.


Danial yang emosi pun mengambil telfon yang di pegang oleh Cassandra dan membantingnya ke lantai. Suster yang punya telfon itu pun terkejut.


"Apa yang kamu lakukan Danial?, apakah kamu gila?" tanya Cassandra.


"Ya, aku gila. aku gila karena AKU MENCINTAI MU." ucap Danial.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Dan jika kalian mau kalian bisa follow akun Instagram author @Fafawilona. See you di bab selanjutnya 👋😘