
Setelah Cassandra pulang Danial pun menghampiri Alena dan mempertanyakan tentang kejadian tadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi?, kenapa kamu mengganggu wanita itu?, apakah kamu sudah bosan hidup?" ucap Danial pada Alena.
"Kenapa Danial?, kenapa kamu membela wanita ****** itu?, oh aku tau, kamu sudah ingat semuanya kan?, makanya kamu membelanya dan malah mengabaikan aku, aku adalah tunanganmu Danial, sedangkan wanita itu, dia bahkan tidak lebih hanya seorang ******." ucap Alena.
'Ada apa dengan ku, kenapa aku merasa marah ketika Alena memaki wanita itu?, siapa sebenarnya wanita itu?' ucap Danial dalam hati.
"Siapa yang kamu sebut ******?" tanya Danial.
"Sapa lagi kalau bukan gadis tadi, kamu tidak usah sok polos Danial, aku tau kamu sudah mengingatnya. Kenapa kamu diam Danial?, bukankah kamu sudah mengingat Cassandra." ucap Alena.
'Cassandra, jadi wanita tadi itu Cassandra, oh tidak aku harus mengejarnya.' ucap Danial dalam hati.
"Apakah kamu yakin kalau itu benar-benar Cassandra?, kamu tidak bohong kan Alena?" tanya Danial.
"Untuk apa aku berbohong, kalau tidak percaya kamu lihat sendiri. Tapi kenapa kamu masih mempertanyakannya?, bukankah kamu..." ucapan Alena terhenti karena dengan cepat Danial pergi meninggalkannya dan mengejar Cassandra.
"Jangan bilang kalau Danial masih tidak bisa mengingatnya. Sial, aku keceplosan." ucap Alena.
Danial berlari keluar restoran tersebut, tapi sayangnya mobil mereka sudah berangkat dari tadi, Danial tidak tau kemana harus mencari mereka.
'Sial, ternyata gadis itu adalah Cassandra, kenapa aku bisa begitu bodoh tidak mengenalinya, padahal aku sudah mendapatkannya tadi. Dia berada dalam pelukanku tapi sayangnya aku masih tidak dapat melihat wajahnya, kemana lagi aku harus mencarinya.' batin Danial.
Disisi lain Alena tengah menelfon orang tua Danial, dan dia menceritakan kejadian tadi. Sandra sangat shock mendengarnya, karena dia sangat takut putranya akan kembali seperti waktu itu.
"Aku sarankan mulai sekarang kamu harus lebih sering menghabiskan waktu dengan Danial, hingga dia lupa akan Cassandra. Dan ya, jangan ulangi kejadian seperti ini lagi." ucap Sandra.
"Baik Tante, Alena akan melakukan seperti yang Tante katakan." ucap Alena dan telfon pun berakhir.
Sedari tadi Jovan mendengarkan pembicaraan istrinya dengan Alena, sebenarnya dia masih tidak ingin putranya merasa sedih, tapi dia juga tidak ingin terus-terusan menyembunyikan kebenaran itu dan membuat putranya kehilangan cinta sejatinya. Akhirnya Jovan pun menghampiri Sandra.
"Mah, sudahlah, mau sampai kapan kamu menyembunyikan kebenaran ini?, ini sudah 3 tahun berlalu Mah. Coba saja mama bayangkan kejadian ini menimpa kita, Bagaimana perasaan Mama ketika Papa melupakan semua kenangan bersama Mama, apa yang Mama rasakan?" ucap Jovan pada istrinya.
"Maafkan Mama Pah, seharusnya kita tidak menyembunyikan hal ini dari Danial, Mama tidak tau lagi bagaimana perasaan Cassandra jika tau orang yang dia cintai melupakannya, hiks... harusnya Mama tidak melakukan hal ini, itu sama saja dengan memisahkan mereka." ucap Sandra menyesal.
"Suuuut, sudahlah Mah, ini sudah terjadi, dan yang harus kita lakukan sekarang adalah membantu Danial untuk mengingatnya." kata Jovan.
"Papa benar, kita harus bisa mengembalikan ingatan Danial tentang Cassandra." ucap Sandra.
"Syukurlah jika Mama sudah sadar." kata Jovan.
"Sudahlah, lebih baik kita temukan cara bagaimana membuat Danial mengingat Cassandra, dan mungkin kita akan membutuhkan bantuan Dhefin." kata Jovan.
"Papa benar, kita harus mulai menyusunnya dari sekarang." ucap Sandra.
Akhirnya Sandra dan Jovan pun menyusun rencana supaya Danial dapat mengingat Cassandra kembali. Mereka berencana akan membuat Danial pergi ke tempat-tempat yang akan mengingatkannya tentang Cassandra, hanya itu yang mereka bisa, karena Danial tidak pernah memiliki foto satupun bersama Cassandra, mungkin jika mereka memiliki beberapa foto, itu akan membuatnya semakin mudah untuk mengingat Cassandra.
.
.
.
.
.
1 Minggu Kemudian
Cassandra dan Bima telah sampai di Indonesia, mereka baru saja turun dari pesawat. Sebenarnya Cassandra tidak ingin menginjakkan kaki di negara itu lagi, tapi mau bagaimana lagi, mungkin takdir yang membawanya ke sini. Cassandra pergi ke Indonesia untuk urusan bisnis, terlebih lagi menyangkut kerjasama dengan perusahaan Danial, Bima sudah berkali-kali bilang pada Cassandra untuk tidak ikut dengannya, tapi sampai kapan Cassandra harus menghindar, sudah cukup waktu 3 tahun untuk mengurung dirinya dari dunia luar, terlebih lagi jika menyangkut kehidupannya yang dulu.
Bima mengajak Cassandra pulang ke rumahnya, dan tanpa Cassandra ketahui Bima telah membuat kejutan di sana, dan mungkin hal itu dapat membuat Cassandra bahagia berada di Indonesia.
Cassandra masuk ke rumah Bima dan betapa terkejutnya dia melihat sahabat-sahabatnya menyambutnya di sana. Dia pikir selama di Indonesia dia akan tertekan, tetapi dia sadar, yang tinggal di Indonesia bukan hanya masa lalu yang kelam dan orang-orang yang membuatnya sakit, tapi di sini juga terdapat banyak orang yang begitu menyayanginya.
"Selamat datang Cassandra, aku sangat merindukanmu." ucap Emily yang langsung berlari memeluk Cassandra.
"Aku juga merindukanmu Emily." ucap Cassandra.
Emily dan Cassandra menangis pilu, mereka sedang menyalurkan rasa rindu mereka masing-masing, sehingga tanpa sadar mengabaikan seseorang yang berada di sana.
"Apakah kamu tidak merindukanku Cassandra." ucap Kevin.
"Tentu saja aku paling merindukanmu Kevin." ucap Cassandra dan dia pun memberikan pelukan hangat untuk Kevin.
'Aku sangat merindukanmu Cassandra, aku pikir aku tidak akan pernah melihat mu lagi, tapi aku bersyukur bisa melihatmu bahagia, dan aku akan berjuang untuk bisa mendapatkan mu lagi, karena sekarang kamu sudah bukan lagi milik siapapun.' ucap Kevin dalam hati.
Hai semua, jangan lupa untuk terus like komen dan vote sebanyak-banyaknya karena itu semua gratis tidak dipungut biaya sedikitpun, so semangat untuk votenya ya, karena satu vote saja dari kalian itu begitu berharga bagi author 😉. See you 👋😘♥️