
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Tuan Idris hanya menundukkan kepalanya ketika Aisyah mengucapkan kalimat - kalimat yang sudah tentu sangat menyakitkan juga bagi dirinya mendengar tentang berita kematian cucu kebanggaan nya pada masa itu.
" maaf "
" maafkan Papi, Ais " ucap tuan Idris dengan suara berat menahan diri untuk tidak menangis lagi di hadapan Aisyah
" sudah sejak lama Aisyah sudah memaafkan kalian, Pi "
" Aisyah hanya ingin Papi tahu, bila pertemuan kita ini menyangkut anak-anak Aisyah "
" maka Aisyah menolak apapun itu " ucap Aisyah, yang paham sekali karakter mantan ayah mertuanya Aisyah ini.
" Papi hanya meminta kamu untuk mempertemukan papi, mami, dan keluarga papi, mami dengan Zhaza dan Zhizi "
" begitu juga dengan Adhitama "
" bagaimana pun juga, kalian adalah keluarga "
" darah Papi mengalir di tubuh cucu - cucu papi " ucap tuan Idris dengan lirih, sedangkan Aisyah yang mendengarkan permintaan dari tuan Idris menekan pelipis nya yang tiba-tiba terasa berdenyut nyeri
" kalau itu "
" akan Aisyah usahakan, Pi "
" Aisyah akan memberikan pengertian kepada anak-anak "
" akan tetapi Aisyah tidak akan pernah berjanji akan hasilnya apakah mereka akan mau untuk bersilaturahmi dengan kalian"
" terutama Zhizi " ucap Aisyah, sembari menarik nafasnya dengan berat
" kalau bisa "
" kamu bujuk lah Zhizi, Ais " ucap tuan Idris, membuat Aisyah menarik nafasnya dalam-dalam
" jangan pernah salahkan Aisyah yang tidak bisa membuat Zhizi tidak ingin bertemu kalian "
" karena itu adalah hasil dari perbuatan kalian pada anak-anak Aisyah "
" bukan Aisyah yang mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak boleh dekat dengan kalian "
" tidak sama sekali " ucap Aisyah, yang membuat tuan Idris kembali terdiam
" untuk kali ini, tolong berikan papi, mami, dan keluarga kesempatan memperbaikinya, Ais "
" terutama Adhitama " ucap tuan Idris
" Pi "
" please " ucap Aisyah sedikit memelas
" kembali lah, Ais "
" kembali lah hidup bersama Adhitama "
" dia sudah menyesali segala kesalahannya " ucap tuan Idris menatap manik mata Aisyah yang mencoba menahan laju air mata yang akan tumpah.
" Pi "
" Aisyah sudah memaafkan kalian, Papi "
" termasuk Adhitama "
" untuk kembali hidup bersama dia, itu sulit bagi Aisyah" ucap Aisyah
" sulit "
" bukan berarti tidak bisa, Ais "
" papi mohon berikan lah kesempatan untuk Adhitama, demi anak-anak, demi cucu - cucu papi "
" demi kalian, Adhitama masih sangat mencintai kamu, Ais "
" papi juga tidak pernah menyetujui perceraian kalian " ucap tuan Idris, yang membuat Aisyah semakin merasa terluka ketika luka lama kembali di sayat oleh tuan Idris
" Pi "
" di sini , Pi " ucap Aisyah menunjukkan ke bagian dadanya dengan sedikit menekan nya
" sakit, Pi "
" hatiku masih terasa sakit sampai saat ini, detik ini, Pi "
" sakit sekali "
" bila mengingat hari itu "
" hancur- sehancur hancur nya hati dan perasaan Aisyah, ketika merasakan dinginnya tubuh putraku "
"" Aisyah yang mengandung, melahirkan, mengurus Zhayn hingga dewasa seorang diri, tanpa peran Adhitama yang saat itu mulai dengan kisah cintanya yang belum usai "
" tapi apa yang Adhitama berikan kepada Aisyah "
" kematian Zhayn, trauma Zhaza karena melihat kematian abang kesayangan nya tepat di depan matanya "
" trauma Zhizi melihat Aisyah dan Zhaza yang tersiksa, terluka pada fase itu "
" dan dimana Adhitama ? " ucap Aisyah dengan sarkas
" Aisyah bertahan, Pi "
" dari kerasnya takdir menghantam Aisyah dengan ujian - ujian itu "
" sekeras-kerasnya Aisyah mencoba bertahan, Aisyah hanya lah manusia biasa "
" hati, perasaan, jiwa raga Aisyah dipaksa untuk bertahan dari himpitan derita, dari kebutuhan ekonomi " ucap Aisyah yang membuat tuan Idris kembali terdiam lagi untuk beberapa waktu.
" butuh waktu untuk Aisyah berfikir positif dari apa yang Aisyah dan anak-anak Aisyah alami di masa lalu "
" tidak ada Aisyah yang sekarang jika Aisyah tidak mengalami itu "
" jadi , kematian Zhayn pasti merupakan jalan terbaik, cara Allah meminta anakku pulang ke Rahmatullah, dan mungkin itu jugalah jalan Zhayn untuk kembali "
" walaupun karena hal itu jugalah yang membuat Zhaza menjadi seperti saat ini."
" tolong untuk tidak menghakimi keputusan anak-anak Aisyah atas apa yang mereka lakukan "
" karena semua itu, adalah buah yang kalian tanam untuk kami " ucap Aisyah lagi, yang lagi-lagi membuat tuan Idris terdiam, bahkan menundukkan kepalanya, dengan menyeka air mata yang tidak bisa dia hentikan.
" baiklah, Ais "
" Papi mengerti jika kamu tidak bisa menjanjikan apapun pada papi dan keluarga "
" Papi hanya meminta kepada kamu untuk memberikan papi kesempatan "
" kesempatan untuk menjadi opa yang baik , begitu pula dengan keluarga "
" papi mohon jangan menutup akses Adhitama untuk dekat dengan anak-anaknya " ucap tuan Idris
" kesempatan ? " Aisyah mengulangi ucapan tuan Idris dengan sarkas, karena tidak terima dengan pernyataan tuan Idris seolah-olah Aisyah tidak memberikan tuan Idris berserta keluarga besarnya kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Aisyah dan anak-anak Aisyah.
" kesempatan yang mana yang tidak Aisyah berikan kepada Papi dan keluarga kalian, Pi ? "
" jangan menolak lupa "
" tidak satu pun diantara kalian yang datang, di saat tubuh putraku dikebumikan "
" bahkan seorang ayah, katanya ayah, bahkan dia sama sekali tidak datang, bahkan di saat mengadzani putranya untuk terakhir kalinya pun dia tidak datang "
" ayah yang seperti apa yang papi maksud " ucap Aisyah yang sudah tidak bisa lagi membendung suara tangisannya.
" oke, jika Adhitama begitu muak dengan Aisyah "
" dengan pernikahan kami "
" karena saat itu, Adhitama memperjuangkan Aisyah, hanya karena obsesi, Ok, masih Aisyah terima "
" Adhitama membuang Aisyah seperti sampah ketika Adhitama merasa hilang rasa, masih Ok, Aisyah terima "
" akan tetapi ketika Adhitama tidak pernah peduli dengan anak-anak nya "
" ketika Zhayn akan dikebumikan, kemana ayahnya ? "
" kemana, Pi ? " ucap Aisyah dengan sesenggukan
" Dan sekarang, dia meminta Aisyah memberikan akses kepada anak-anaknya "
" heh "
" lucu sekali " ucap Aisyah dengan nafas yang memburu
" jangan pernah mengatakan bahwa Aisyah menutup akses komunikasi "
" sedangkan ayah mereka sendiri yang tidak pernah mau berkomunikasi dengan anak-anak nya " ucap Aisyah dengan sedikit emosi.
" maafkan aku, Pi "
" kita akhiri saja pertemuan ini "
" assalamualaikum "
ucap Aisyah segera bergegas untuk keluar dari ruangan private menuju ke halaman parkir restoran karena pertemuan ini hanya membuka luka lama , dan itu sangat menyakitkan bagi Aisyah. Belum lagi kalimat-kalimat yang tuan Idris ucapkan seolah-olah Aisyah lah yang bersalah di sini, tanpa menyadari bahwa semua hal ini terjadi akibat perbuatan mereka sendiri.
Sikap mau menang sendiri, tidak mau mengalah dan tidak mau salah, yang selama ini Aisyah berusaha bersabar dan bertahan. Dengan mengutamakan kepentingan anak-anak, agar anak-anaknya tidak menjadi korban perceraian kedua orang tua, tidak mempermalukan keluarga besar Lesham karena perceraian yang sudah lama ingin Aisyah ajukan karena perlakuan sang suami, ibu mertua, dan beberapa keluarga Bhalendra yang bersikap buruk kepada Aisyah dan anak-anaknya Aisyah.
Aisyah masih berusaha bertahan, meskipun mengorbankan dirinya, kebahagiaannya, bahkan Aisyah kehilangan kepercayaan diri nya akan perlakuan - perlakuan dari saudara ipar Aisyah, tidak mengapa.
Akan tetapi, kedatangan perempuan yang mengaku bahwa dirinya dan Adhitama telah melakukan pernikahan, dengan menunjukkan bukti-bukti terlihat nyata, pengusiran Aisyah dan anak-anaknya di mansion mereka sendiri, serta kecelakaan yang melibatkan Zhayn dan Zhafira yang menyebabkan kematian Zhayn. Inilah titik awal Aisyah bangkit dari keterpurukannya.
Dan dengan seenaknya , tuan Idris mengatakan bahwa Aisyah tidak memberikan keluarga besar Bhalendra kesempatan, tidak memberikan seorang ayah bertemu dengan anak-anaknya, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Tindakan playing victim ini semakin menjadi-jadi, sehingga pada awalnya Aisyah masih memberikan respon yang baik, dibuat illfeel dengan apa yang disampaikan oleh tuan Idris.
Sepeninggalnya Aisyah, yang meninggalkan tuan Idris seorang diri di ruangan private restoran, membuat tuan Idris menyesali ucapan nya, yang harusnya dia mampu menurunkan sikap egois yang sudah mendarah daging pada dirinya tuan Idris.
" sayang " ucap Adhitama dengan lirih, menatap sendu ke wajah Aisyah.
Adhitama mendengarkan semua isi pembicaraan tuan Idris dan Aisyah, karena Adhitama berada di depan pintu bagian dalam ruangan private. Aisyah kembali menarik nafasnya dalam-dalam, saat terdengar suara yang sudah lama tidak menyapa di indera pendengarannya.
" tolong perbaiki ucapan anda, tuan "
" saya dan anda tidak pernah ada hubungan selain anda, ayah dari anak - anak saya "
" untuk apa yang ayah anda sampaikan kepada saya tadi "
" silahkan "
" karena selama ini, saya tidak pernah menutup akses komunikasi "
" jadi, jika anda ingin memperbaiki silaturahmi anda dengan anak-anak "
" silahkan " ucap Aisyah, tanpa membalikkan tubuhnya, dan tanpa menatap wajah lawan bicaranya.
Aisyah meneruskan perjalanan nya menuju ke halaman parkir restoran milik Zhafira dengan anggun. Sopir pribadi Aisyah sudah memberikan kabar, jika dia sudah berada di restoran sejak tadi, namun Aisyah meminta bapak Irwan untuk menunggu dirinya, dan mempersilahkan bapak Irwan memesan menu makanan di restoran, karena Aisyah yang akan membayarkan bill tagihan sopir pribadinya.
Sedangkan di waktu yang sama di tempat yang berbeda, yang lebih tepatnya di dalam rumah Aisyah. Zhafira sibuk dengan aktivitas hariannya.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, Zhafira akan melakukan monitoring dan evaluasi kinerja para pegawai di kantor- kantor cabang perusahaan.
Zhafira juga akan melakukan monitoring dan evaluasi kinerja para pegawai di beberapa cabang restoran mewah milik Zhafira. Semua agenda harus diselesaikan sesuai dengan waktunya, karena Zhafira harus mengurusi salah satu startup yang beberapa tahun ini sedang sangat baik perkembangan profitnya, dan semakin naik popularitas nya, begitu pula dengan startup milik sahabatnya. Sehingga " Time is Money " sebuah teks aforisme yang dipelopori oleh Benjamin Franklin jika waktu adalah uang, cukup tepat untuk orang-orang dalam circle Zhafira.
Kunci kesuksesan bukan hanya pada banyaknya uang yang kita miliki, tapi bagaimana kita memanfaatkan peluang yang kita miliki. " Kalau bisa kenapa tidak ", kalimat yang pernah Aisyah katakan kepada Zhafira saat Zhafira meminta pendapatnya.
Hidup ini tidak hanya fokus dengan apa yang kita miliki, tapi memanfaatkan apa yang kita miliki, ini juga yang pernah dikatakan oleh Aisyah, ketika Zhafira ragu untuk mengambil peluang usaha yang cukup menjanjikan profitnya, dan Zhafira merasa sangat bersyukur kepada Allah, telah memberikan dirinya ibu yang luar biasa.
Dukungan Aisyah yang mengantarkan Zhafira menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses dengan beberapa bisnis di dalam beberapa value yang tentunya tidak hanya memberikan Zhafira keuntungan semata. Dari hasil usaha, Zhafira mampu membangun rumah ibadah, pesantren, panti asuhan, dan rumah sakit.
Dimana untuk penamaan tempat - tempat itu, ada juga tersemat nama kakak laki-laki Zhafira. " Zayn Internasional Hospital " yang juga sudah memiliki beberapa cabang di seluruh kota besar dengan memberikan fasilitas terlengkap dan pelayanan medis terbaik.
Dengan banyaknya investasi yang dimiliki oleh Zhafira, di bisnis properti, bisnis kuliner, dan dengan harta tidak bergerak yang di miliki Zhafira tidak membuat Zhafira kufur nikmat.
Zhafira mengatakan jika harta yang dimiliki dia adalah amanah yang Allah titipkan kepada nya, untuk dia manfaatkan di jalan Allah, karena pertanggung jawaban akan harta akan diperhitungkan ketika kelak di akhirat.
Oleh karena itu, memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya merupakan tindakan yang baik, yang bahkan hal ini tertuang dalam surah Al-Ashr, dimana di dalam surah ini mengandung hikmah agar kita menghargai setiap detik yang telah Allah berikan di dunia ini. Karena waktu tidak akan bisa terulang kembali, bukan seperti Doraemon yang bisa pergi kemana saja dengan pintu ajaibnya, mengulangi waktu sebelumnya.
bukan, bukan seperti itu.
Di dunia ini, bagi kita waktu hanya akan berjalan maju tanpa bisa mengulangi lagi waktu sebelumnya. Oleh karena itu, manfaatkan lah waktu sebaik-baiknya.
Aisyah harus mengakui kemampuan Zhafira dalam mengelola bisnis keluarga mereka yang memang diawali Aisyah sebagai pendiri perusahaan yang menjadikan Aisyah sebagai presiden direktur perusahaan. Namun kemampuan Zhafira lah yang membuat perusahaan Aisyah berada di puncak kejayaan, dan sekarang Zhidan sebagai support pendamping Zhafira, walaupun belum bisa menyamakan kemampuan, Zhidan termasuk tipe pemuda penuh kreativitas yang tinggi, bahkan banyak sekali ide-ide kekinian yang dikemukakan Zhidan yang membuat terobosan baru di perusahaan Aisyah. Oleh karena itu , jika ditanya bagaimana peran Zhidan di perusahaan Aisyah, jawabannya tentu saja sangat penting apalagi sebagai kreator dalam inovasi dalam beberapa aspek yang diperlukan oleh perusahaan.
Pengangkatan Zhidan sebagai CSO atau Chief Strategy Officier, dimana posisi ini menempati C- Level dalam perusahaan, yang bertugas membantu CEO menjalankan, mengembangkan, menjaga, serta mengkomunikasikan rencana perusahaan.
Oleh karena itu, di usia Zhidan yang masih sangat muda, dan masih menempuh pendidikan strata satu, Zhidan sudah mengemban tugas yang cukup menguras energi dan waktu nya, namun hal itu masih satu ujung Zhafira yang harus berdiri sebagai CEO di perusahaan Aisyah, Presdir dan CEO di perusahaan nya sendiri, belum lagi sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta dimana Zhafira juga sebagai investor di rumah sakit tersebut.
Sangat wajar, jika Anggie selalu menyampaikan keberatannya ketika Zhafira harus bekerja sebagai perawat, padahal waktu kerja yang kurang lebih delapan jam itu bisa dimanfaatkan Zhafira untuk memimpin perusahaan, melakukan monitoring dan evaluasi, atau setidaknya memeriksa dokumen penting perusahaan, akan tetapi Zhafira tetap bersikukuh untuk mempertahankan profesi nya sebagai perawat.
" healing nya akuh loh, Gie "
" kan tidak setiap hari juga aku kerja "
" kalau memang ada rapat penting, dan kondisi lain sebagainya "
" kan ada orang yang mengantikan kerja aku di rumah sakit " ucap Zhafira yang tidak bisa terbantahkan lagi, baik Anggie, Zhidan, maupun Aisyah.
Setelah Zhafira menyelesaikan aktivitas hariannya di rumah, Zhafira segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket. Butuh beberapa waktu untuk Zhafira merasakan segarnya tubuh ketika sudah mandi, dan sempat berendam sebentar di bathtub di kamar mandinya yang tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil juga.
Masih mengenakan bathrobe bewarna cerah, Zhafira memeriksa berkas-berkas dokumen yang di berikan oleh Anggie kepadanya nya kemarin, setelah merasa cukup melihat isinya, Zhafira segera melanjutkan merias wajah nya, dan memakaikan tubuh nya dengan pakaian yang formal sebagai pekerja kantoran.
Zhafira yang berdiri di depan kaca yang tinggi nya lebih tinggi sedikit dari tinggi tubuh nya, dan lebih lebar dari tubuhnya untuk melihat bagaimana penampilan nya hari ini. Apakah sudah cukup pantas dalam mix dan max memadu padankan setelan yang dia kenakan saat ini.
Zhafira memilih mengenakan kemeja lengan panjang berbahan yang flowy, adem, dan tidak mudah kusut untuk menjadi pasangan blazer yang sudah satu setelan dengan rok panjang bentuk A yang sudah Zhafira kenakan. Untuk warna hijab, Zhafira samakan warnanya dengan kemeja yang dia kenakan.
Sedangkan untuk warna sepatu, Zhafira samakan dengan tas jenis shatchel bag yang memiliki ukuran cukup besar yang bisa menampung laptop, berkas-berkas, serta perlengkapan wanita seperti alat-alat makeup, kalau Zhafira menambahkan mukena berbahan flowly yang tipis dan tidak mudah kusut. Zhafira sangat suka dengan dengan jenis tas ini, karena penggunaan nya bisa di jadikan sling bag dan bisa juga dengan cara di tenteng.
Untuk jam tangan yang akan digunakan oleh Zhafira termasuk dalam jenis smartwatch, karena dengan menggunakan jam tangan jenis ini, Zhidan dapat mengetahui titik koordinat atau posisi Zhafira, karena Zhafira ketika dia sedang bekerja suka lupa memberi kabar, begitu pula dengan Anggie, oleh karena itu, selain mengecek lokasi Zhafira melalui gps, Zhidan lebih suka menghubungi sekretaris utama Zhafira.
*
*
*
*
*
*
*
🌺🌺