
🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷
Dan untuk permasalahan dengan saudara-saudara Azzam yang lainnya. Siti juga berkata pada suaminya untuk tidak perlu risau akan hal itu karena sudah sangat wajar-wajar saja jika mereka bersikap seperti itu. Karena mereka juga kakak kandung Aisyah yang sudah pasti menyayangi adik mereka. Sikap mereka menunjukkan betapa mereka peduli pada saudari mereka, dan ucapan keras dari Ammar merupakan bentuk kekecewaannya karena mereka baru saja mengetahui yang sebenarnya terjadi dan itu bukanlah sesuatu yang sesuai dengan pendapat mereka berdasarkan sudut pandang mereka.
Sehingga semua itu sangat lah wajar jika respon Ammar dan kedua adik Azzam lainnya seperti itu. Akan tetapi tunggu lah sebentar, berjalannya waktu mereka akan memaklumi atas apa yang terjadi, dan memaklumi apa yang dilakukan oleh Azzam bukanlah atas kehendaknya sendiri, bagaimana pun hebatnya manusia tidak akan bisa menandingi takdirnya Allah yang sudah pasti menjadi ketetapan Allah, dan itu bukanlah faktor kesengajaan dari Azzam. Selain itu, atas apa yang terjadi pada status pernikahan Aisyah dengan Adhitama, itu juga ada peran serta dari Umma mereka, ada amanah seorang ibu yang harus Azzam patuhi.
Untuk itu Azzam yang mendapatkan merasa bersalah atas apa yang telah terjadi, toh semua juga atas kehendak Allah SWT, bukan keputusannya, hanya saja Azzam tidak mengatakan semua hal secara terbuka mengingat respon keluarga akan seperti apa yang dia takutkan dan sekarang terjadi apa yang dia takutkan selama ini.
Siti juga berkata semua akan baik-baik saja jika para saudara-saudaranya kelak akan menyadari bahwa banyak sudut pandang yang Azzam pikirkan, baik itu tentang status Aisyah, baik itu amanah, dan baik itu memberikan kesempatan pada orang yang bertaubat apalagi semenjak kejadian itu Adhitama secara signifikan banyak mengubah diri menuju ke arah yang lebih baik. Secara perlahan-lahan namun pasti Adhitama sudah memperbaiki diri dengan memperbaiki kualitas ibadahnya, memperbaiki sikapnya yang selama ini kurang begitu baik. Dan poin terpenting, Adhitama sama sekali tidak mendekati perempuan mana pun selain Aisyah yang selalu dia pantau dari jarak jauh.
Dengan alasan-alasan inilah Azzam akhirnya luluh akan perjuangan Adhitama demi memperoleh sebuah kata maaf. Bukankah sifat Allah dalam Asmaul Husna Al Ghaffar memiliki arti Yang Maha Pengampun, Yang Maha Pemaaf.
Allah SWT pemilik alam semesta, pencipta bumi dan langit saja Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, mengapa kita yang hanya manusia biasa yang penuh salah, dosa, dan khilaf bertindak seperti seorang hakim yang masih menghukum orang lain yang sudah mengakui kesalahannya, dan memperbaiki kesalahannya.
Jika kita terluka atas perbuatan buruk orang lain itu wajar terjadi, namun jika seseorang tersebut yang sudah menyakiti kita bertaubat dan meminta maaf maka sudah kewajiban bagi kita untuk memaafkan. Kenapa seperti itu, karena Allah SWT ingin kita terlepas dari perasaan sakit yang hanya merugikan diri kita sendiri, sehingga lepaskanlah perasaan itu, karena Allah telah meletakkan pahala pada titik itu, yaitu pahala memaafkan, dan itu masyaallah pahalanya luar biasa indah. Oleh karena itu perlunya kita menerapkan sifat Al Ghaffar ini dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk dosa orang tersebut bagaimana ?. Nah untuk ini jangan diperdebatkan lagi untuk ini, karena Allah SWT telah mencatat setiap amalan hamba-nya baik amalan baik maupun amalan buruk yang akan di hisab dan dipertanggungjawabkan nanti di hadapan Allah SWT. Sehingga jangan khawatir, hakim di dunia mungkin bisa berlaku tidak adil, tidak jika itu dalam peradilan Allah SWT.
Malam berlalu,
Dengan perlahan-lahan mentari kian menampakkan sinarnya pertanda jika hari telah berganti, namun pagi hari ini langit tidak secerah kemarin. Mendung menyelimuti kota, akan tetapi tidak terlihat di kamar pasien yang pastinya di ruangan terbaik yang dimiliki oleh rumah sakit ini.
Adhitama yang di masa itu, tidak pernah terbangun lagi, kini dia sudah bersiap-siap untuk sarapan pagi, setelah mandi dan berganti pakaian. Adhitama menyunggingkan senyuman ketika dia bisa melihat Aisyah dengan jarak sedekat ini. Bukankah ini seperti mimpi yang selalu dirindukan oleh Adhitama.
Adhitama mulai menyiapkan menu makanan yang akan mereka berdua santap. Seseorang mengetuk pintu dan memberikan satu gelas kopi yang biasa Adhitama minum setiap harinya, dan satu gelas susu hangat.
" Tuan " ucap asisten kepercayaan Adhitama
" Katakan kepada Wina, saya tidak akan bekerja untuk dua hari ke depan, sampai istriku kembali sehat " ucap Adhitama yang mendapatkan anggukan kepala dari salah satu asisten kepercayaannya Adhitama
" Selamat, tuan ' ucap Raka dengan usil, sembari menggoda tuannya yang mendapatkan pukulan siku pada perut Raka. Yang membuat Raka berteriak kesakitan
" Bang " ucap Raka yang hendak protes, namun delik mata sang senior membuat nyalinya menciut
" Terimakasih " ucap Adhitama dengan tersenyum yang belum pernah mereka lihat lagi setelah bertahun-tahun lamanya
" Kalian jangan ribut, isteri ku masih terlelap " ucap Adhitama dengan ramah, dimana Adhitama tidak hanya sudah mengubah sifatnya bahkan sikapnya pun sudah jauh lebih baik
" Iya, tuan " ucap keduanya
" Dito, tolong kamu awasi gerak gerik Robi "
" Entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan Robi beberapa bulan belakangan ini " ucap Adhitama yang merasa jika ada perubahan dari Robi
" Dia melakukan kesalahan, tuan " tanya Dito dengan serius
" Saat ini belum, akan tetapi aku tidak ingin sampai itu terjadi " ucap Adhitama lagi
" Baik, tuan "
" Mr Q yang akan mengawasinya, karena agen R sedang melakukan penyelidikan lain " ucap Dito dengan serius, dan mendapatkan anggukan kepala dari Adhitama. Yang kemudian dua pria tampan ini berlalu dari hadapannya Adhitama.
Aisyah yang sudah akan terbangun ketika mendengar suara sedikit keras, apalagi mencium aroma khas kopi yang sudah di seduh oleh asisten kepercayaan Adhitama membuat Aisyah menggeliatkan tubuhnya yang entah kenapa terasa nyeri. Aisyah lupa dengan kejadian semalam, wajar sih karena Aisyah barusan saja terbangun belum mencerna kondisinya.
Aisyah merasakan hembusan nafas yang harum. Aroma mint yang menyegarkan, namun Aisyah masih enggan membuka kedua matanya. Namun di antara tidur tapi terbangun membuat Aisyah sedikit banyak sudah mulai mengingat memori sebelumnya.
Aisyah membuka kedua matanya, tatapan mata Adhitama menyapu seluruh bagian wajah cantik Aisyah yang tidak lekang oleh umur, Aisyah mendelikkan kedua bola matanya yang indah membuat Adhitama tersenyum gemas melihat ekspresi wajah Aisyah yang terlihat menggemaskan.
Aisyah mencoba untuk duduk dari posisi sebelumnya, yang membuat Adhitama berdiri dari posisinya. Aisyah berusaha untuk berlari pergi dari ruangan ini , dengan melompati ranjang pasien, namun gerakan Aisyah kalah cepat dengan gerakan Adhitama yang sudah menahan tubuh kecil Aisyah.
Adhitama merengkuh tubuh Aisyah di dalam pelukannya, sehingga membuat Aisyah yang tidak bisa apa-apa, tidak punya skill apa-apa, apalagi ilmu beladiri apa-apa itu hanya terdiam dalam kungkungan tubuh besar Adhitama.
" Lepaskan " ucap Aisyah sembari mengeram kesal atas perbuatan Adhitama yang seenaknya saja menyentuh tubuhnya
" Aku merindukan kamu, sayang "
" Sangat merindukan kamu " ucap Adhitama dengan lembut, bahkan dengan tanpa malu Adhitama melabuhkan kecupan di leher Aisyah yang membuat Aisyah merinding disco. Sudah sangat lama Aisyah tidak mendapatkan sentuhan dari suaminya, apalagi di bagian sensitif seperti ini. Membuat pikiran Aisyah traveling kemana-mana.
Oh tidak, oh tidak, jangan, jangan terpengaruh dengan bujukan, rayuan syaitan nirojim , ucap Aisyah sembari menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran negatif Aisyah. Wala bagaimanapun Aisyah masih sangat mencintai suaminya, namun luka hatinya masih sangat membekas sehingga membuat rasa cinta itu terbungkus luka.
Bagaimana ceritanya jika hanya dengan bersentuhan seperti ini, Aisyah bisa luluh begitu saja. Tidak, Aisyah harus bisa mengeraskan hati dan pikirannya seperti masa itu, di dalam batinnya Aisyah sembari memejamkan kedua matanya.
" Ais "
" Cinta ku " ucap Adhitama dengan lembut, sangat lembut, membuat Aisyah sedikit terguncang perasaannya
" Lepaskan aku " ucap Aisyah yang sudah bisa menguasai diri agar tidak mudah tertipu bujuk rayunya buaya buntung tepat di hadapannya
" Hei "
" Buaya "
" Lepaskan aku " ucap Aisyah sembari melototkan kedua bola matanya yang membuat Adhitama tertawa melihat ekspresi wajah isteri yang sangat dia rindukan. Tanpa sadar Adhitama melabuhkan kecupan di dahi dan puncak kepala Aisyah yang membuat Aisyah kembali mendelikkan kedua bola matanya yang kali ini berusaha memukul Adhitama yang asyik tertawa
" Bajingan, lepaskan aku " ucap Aisyah yang kembali meminta agar Adhitama segera melepaskan Aisyah
" Tenang lah isteri ku "
" Kita sarapan pagi terlebih dahulu " ucap Adhitama yang tidak menghiraukan racauan Aisyah.
" Hei "
" Tuan Adhitama Malik Bhalendra "
" Jangan sekate- Kate ye Ente "
" Ingat, aku adalah mantan isteri "
" M-A-N-T-A-N " ( em-a-en-te-a-n )
Ucap Aisyah dengan mengeja setiap huruf pada kata mantan.
Bukannya sedih, terluka hatinya Adhitama. Adhitama malah semakin keras tertawa, membuat Aisyah semakin bertambah rasa kesalnya
" Tolong lah, lepaskanlah aku "
" Hidup kamu sudah bahagia kan tanpa aku "
" Apa untungnya kamu mengikat aku lagi di sisimu "
" Maafkan aku, maafkan semua kesalahanku, sungguh tolonglah lepaskan aku, aku berjanji setelah ini kamu tidak akan pernah melihat aku lagi, aku membutuhkan kamu hanya untuk Zhaza " ucap Aisyah yang sudah pasrah ketika Aisyah tahu jika usahanya tidak akan berhasil.
Namun bukannya senang, bukannya bahagia, bukan pula tertawa lagi ekspresi wajah Adhitama. Adhitama terdiam, dengan bola matanya yang memerah
" Aku tidak bisa hidup tanpa melihat kamu "
" Dunia ku runtuh, hidup ku hancur tanpamu, sungguh aku tidak berdaya tanpamu " ucap Adhitama menatap manik mata Aisyah dengan dalam penuh cinta. Akan tetapi tidak dengan Aisyah yang menatap manik mata dengan penuh luka
" Noh "
" Hari masih terus berganti, matahari, bukan, dan bumi masih pada porosnya "
" Bumi belum runtuh , karena kiamat belum tiba waktunya "
" Hentikan omong kosong yang kamu ucapkan mantan suami " ucap Aisyah dengan penuh penekanan
" Katakanlah kesalahan apa yang telah aku perbuat pada kamu sehingga sebegitu kerasnya kamu mempertahankan aku " ucap Aisyah lagi dengan menggebu-gebu
" Bukan kesalahan "
" Dan tidak ada satupun kesalahan kamu "
" Akulah yang bersalah, aku yang latus disalahkan " ucap Adhitama
" Emang benar "
" Kamu sudah tahu itu, kenapa masih saja mempertahankan wanita sampah seperti aku, bukankah itu yang kamu katakan terakhir kali " ucap Aisyah dengan penuh penekanan menahan gejolak rasa terluka saat mengenang pertengkaran mereka terakhir kali sebelum Adhitama pergi meninggalkan Aisyah yang belum sempat bertanya alasan mengapa suaminya meluapkan emosi tanpa membiarkan Aisyah bertanya, ada apa, mengapa sampai Adhitama sebegitu marahnya
" Tidak "
" Akulah yang sampah " ucap Adhitama
" Ya udah "
" Oleh karena itu, lepaskanlah aku dari belenggu ini, toh kita tidak akan pernah bisa bersama, terlalu besar jurang diantara kita "
" Aku mengajak bertemu dengan kamu bukan untuk mendengarkan fakta yang tidak penting seperti itu "
" Aku hanya ingin kamu menghadiri prosesi lamaran, akad nikah, dan resepsi pernikahan serta ngunduh mantu nya Zhaza. Hanya itu, tidak lebih "
" Karena aku sadar, bahwa sebesar apapun kekecewaan Zhaza kepada kamu, tidak sebesar cintanya kepada cinta pertamanya " ucap Aisyah yang mengungkapkan apa yang ingin disampaikan oleh Aisyah dan keluarga Lesham dipertemuan dua keluarga besar.
" Kita masih pasangan suami istri, sayang "
" Itu adalah faktanya. Penting atau tidak bagimu, tidak masalah buat aku, yang pasti untuk aku pribadi itu sangatlah penting untuk aku, kamu , dan anak-anak kita '' ucap Adhitama yang kekeuh dengan pendapat dirinya
" Bisa tidak, untuk kali ini kamu berhenti bersikap egois seperti ini "
" Aku sudah lelah " ucap Aisyah dengan lirih. Hati dan perasaannya sangat lelah menghadapi Adhitama yang memiliki sikap pemaksa, egois, over protective, dan over posesif.
" Aku sangat mencintaimu, Aisyah"
" Isteri " ucap Adhitama yang sudah membawa satu telapak tangan Aisyah ke depan bagian dadanya
" Kamu bisa tanpaku, namun aku tidak bisa tanpamu, sayang "
" Aku telah menghukum diriku sendiri atas perbuatan aku di masa lalu. Walaupun sama sekali tidak mengurangi dosaku padamu. Anggaplah itu caraku melakukan penebusan dosa "
" Tolong, bebaskan aku dari penjara penyesalan ini "
" Selamatkan lah aku, sungguh aku sangat menyesali atas apa yang terjadi pada keluarga kita " ucap Adhitama dengan suara yang gemetaran.
Aisyah terdiam merenungi setiap bagian kalimat yang keluar dari bibir Adhitama. Dia melihat. Di dalam tatapan mata Adhitama tersirat rindu, cinta, kesedihan, dan harapan. Namun Aisyah memalingkan wajahnya enggan untuk menerima bujuk rayu Adhitama lagi yang mungkin kali ini tidak hanya akan melukai Aisyah saja, ada Zhafira dan Zhidan yang menjadi alasan Aisyah belum bisa menerima Adhitama.
" Entahlah "
" Aku tidak tahu harus menjawab apa saat ini "
" Karena ada hati saudara-saudara ku, ada hati anak-anak ku yang harus aku pertimbangkan " ucap Aisyah
" Berarti jika aku bisa meyakinkan mereka, maka kamu akan menerima aku, sayang " ucap Adhitama melihat ada secercah harapan di sana
" Kata siapa " tanya Aisyah yang masih enggan menerima kehadiran Adhitama
" Baiklah, untuk sementara biarkan aku berusaha meluluhkan hati saudara-saudara kamu "
" Dan juga anak-anak kita " ucap Adhitama penuh semangat yang membuat Aisyah memutar bola matanya, karena merasa jengah dengan ucapan Adhitama yang kepedean bisa meluluhkan perasaan saudara-saudaranya yang sudah sekeras baja jika tersakiti.
" Kalau begitu, menyingkir lah "
" Aku mau pulang " ucap Aisyah
" Tidak "
" Kamu tidak akan bisa pulang " ucap Adhitama
" Oh, baiklah kita akan pulang setelah menyelesaikan sarapan pagi terlebih dahulu "
" Setelah itu kita akan pulang ke mansion kita " ucap Adhitama yang membuat Aisyah tiba-tiba tersulut emosi ketika mendengar kata mansion kita
" Mansion kita ? " Ucap Aisyah dengan sinis
" Mansion yang mana ? "
" Mansion yang kamu maksud adalah mansion tempat dimana aku dan anak-anak terusir dengan tidak layak, dilemparkan begitu saja di jalanan oleh ibumu dan wanita simpanan kamu itu ! "
" Salah, aku salah , wanita yang sudah kamu nikahi itu, "
" Mansion yang itu yang kamu maksud " ucap Aisyah yang sudah mengeraskan rahangnya dengan memberikan tatapan tajam yang juga tersirat luka di sana. Terlihat air mata Aisyah terjatuh
Adhitama gemetaran menahan diri untuk bersikap baik-baik saja, padahal dia pun sama terlukanya ketika mengetahui perbuatan ibunya. Tanpa Aisyah ketahui jika Adhitama sudah menodongkan senjata api tepat di kepalanya di depan sang ibu, namun sang ibu berhasil menggagalkan ny8, Adhitama malah mengarahkan kembali senjata api tepat di bagian dadanya, yang lagi-lagi bisa digagalkan ketika saudara laki-lakinya yang lain membantu sang ibu merampas senjata api tersebut.
*
*
*
*
*
🌺🌺