
ππππππππππππππ
Zhafira mulai berbicara kembali yang membuat tuan Med Mendez terbangun dari lamunannya
" Untuk adik saya, dan abang-abangnya saya "
" Saya yang akan berbicara dengan mereka bisa jadi nanti saya yang akan mendatangi mereka agar tidak melanjutkan niat mereka, Paman "
" Akan tetapi jika ada gugatan yang dilayangkan oleh beberapa pihak sehingga adanya proses hukum yang dilayangkan kepada Pretty, cucunya Paman. Saya mohon maaf, untuk tidak bisa ikut campur urusan itu karena itu di luar kuasa saya, Paman " ucap Zhafira
" untuk apa yang terjadi pada Pretty itu tidak masalah "
" Yang penting putra Paman dan keluarga tidak lagi dilibatkan atas perilaku Pretty, apalagi keluarga besar Paman sudah mengalami dampak buruk atas perbuatannya "
" Dan mengenai cucu , Pretty bukanlah cucu Paman "
" Dia hanyalah anak sambung putra Paman saja , nak " ucap Med Mendez menjelaskan apa yang ada di benaknya
" Yah "
" Kalau itu, sih "
" Saya tidak mau ikut campur urusan internal keluarga Paman "
" Fokus saya hanya bagaimana saya bisa mengupayakan agar keluarga saya tidak melakukan hal yang yah seperti itu lah, yang pasti keluarga Paman tidak akan mengalami sesuatu hal lagi terkait permasalahan ini, itu saja sih poin pentingnya "
" Dan untuk itu kita sudahi sampai di sini saja, yah . Paman "
" Kita saling memaafkan " ucap Zhafira sembari memberikan senyuman. Med Mendez merasa sangat senang mendengar apa yang diucapkan oleh Zhafira, dia pun segera menganggukan kepala.
" Tidak akan pernah ada negoisasi lagi "
" Setelah hari ini " ucap Azzam dengan tegas kepada Med Mendez, menatap manik mata Med Mendez dengan dingin, Azzam menegaskan jika dia tidak akan memberikan Mendez kesempatan lagi jika Pretty masih saja melakukan tindakan seperti itu lagi. Walaupun di penjara, paling lama hitung tahunan saja. Dan bagaimana setelah Pretty bebas dari tahanan, itu yang Azzam pikirkan, Azzam takut jika Pretty akan mengulangi lagi perbuatannya kepada Zhafira yang bisa saja lebih buruk dari sebelumnya.
" Jika dia sampai menyakiti keponakan kamu, Zam "
" Jangan kan kamu, bahkan aku sendiri yang akan menghukumnya "
" Dosa apa aku sampai memelihara parasit di rumah aku " ucap Med Mendez sembari menekan pelipis nya
" Yah "
" Bertaubat, saran aku "
" Toh, semua itu bisa terjadi mungkin dampak dari dosa yang pernah kita perbuat atau mungkin juga ini adalah ujian yang Allah SWT titipkan kepada kita, agar kita senantiasa untuk ingat kepadaNya, untuk semakin memperkuat keimanan kepada sang Pencipta. " Ucap Azzam yang mendapatkan anggukan kepala dari Med Mendez.
Tidak berlama-lama lagi, Med Mendez keluar dari ruangan kerja Azzam dengan wajah sumringah, sedangkan Azzam sudah memerintahkan sekretaris Azzam untuk masuk ke dalam ruangan kerja nya, membahas schedule hari ini, juga memanggil asisten kepercayaan Azzam, sesuai dengan perintah Azzam. Karena sebelum pergi Med Mendez juga menandatangani surat perjanjian di atas materai mengenai perilaku anggota keluarga Mendez, yang isi perjanjiannya kurang lebih hampir sama dengan yang Med Mendez tandatangani sebelumnya.
Zhafira yang keluar hampir bersamaan dengan tuan Med Mendez, berada di dalam lift yang sama, di dalam lift Zhafira menanyakan kondisi putra Med yang membuat Med semakin suka dengan karakter Zhafira. Bahkan Zhafira berkata ingin datang menjenguk putranya Med, tanpa ragu Med memberikan nomor kontak pribadinya yang langsung disambut baik oleh Zhafira.
Mereka berpisah di pelataran lobby perusahaan Azzam. Zhafira mengantarkan tuan Med terlebih dahulu menuju mobil Mendez, yang kali ini membuat Med Mendez hampir menangis haru, karena dia belum pernah merasakan perhatian yang kecil bagi Zhafira namun bermakna bagi Med.
Zhafira segera masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Robi. Robi hanya melirik Zhafira melalui center mirror, kaca spion bagian tengah dalam mobil. Zhafira terlihat mendesah frustasi ketika mendapatkan jawaban yang tidak diinginkan Zhafira. Siapa lagi yang dihubungi oleh Zhafira jika bukan Zhidan yang tetap kekeuh melanjutkan perkara ini lebih serius
" Bang "
" Kita menuju ke perusahaan Zhizi terlebih dahulu sebelum kita ke kantor " ucap Zhafira ketika Zhidan masih tidak bisa diajak kompromi melalui sambungan telepon. Zhafira akan melakukan tindakan lain. Karena Zhidan tidak bisa berkata tidak jika sudah bertemu dengan Zhafira. Dan betul sekali perkiraan Zhafira. Zhidan terpaksa harus mengiyakan permintaan Zhafira ketika Zhafira sudah bertingkah seperti ini. PR satu lagi bagi Zhafira adalah mengajak Zafran Maxwell dan Zhabit Rasyid untuk tidak melakukan gugatan terhadap keluarga Mendez sesuai dengan permintaan tuan Med Mendez.
Sangat sulit untuk meyakinkan kedua kakak laki-lakinya ini. Sulit bukan berarti tidak bisa, Zhafira selalu bisa mencapai keinginannya, itulah juga yang membuat perusahaan Aisyah dan Zhafira semakin makmur, karena Zhafira sangat pandai berkomunikasi dengan baik terhadap lawan bicaranya.
Di masa itu, di saat Zhafira pernah bekerja sebagai sales marketing bersama Zhayn. Zhafira mempelajari ilmu strategi komunikasi, dimana ilmu ini berisi paduan dan perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen komunikasi (communication management). Sehingga tujuan si pemberi komunikasi melakukan pendekatan (approach) dengan melakukan teknik komunikasi.
Teknik komunikasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan teknik Redundancy (Repetition), teknik Canalizing, teknik Informatif, teknik Persuasif, teknik
Edukatif, dan teknik Koersif. Untuk teknik Koersif ini Zhafira termasuk kurang menguasai teknik komunikasi jenis ini yang kurang pas dengan karakter dari Zhafira, sehingga membuat Zhafira kurang mampu untuk melakukan komunikasi dengan teknik ini. Untuk teknik komunikasi jenis ini hanya mampu dilakukan oleh Anggie, Cleo, dan beberapa sahabat Zhafira lainnya karena mereka yang lebih kompeten dalam melakukan memanifestasikan bentuk peraturan-peraturan, perintah-perintah dan bentuk intimidasi-intimidasi.
Seperti apa yang diinginkan oleh Zhafira, maka semua anggota keluarga Lesham termasuk kedua kakak laki-lakinya sudah tidak lagi berkutik ketika Zhafira meminta hal yang sebenarnya membuat mereka ngeregetan. Akan tetapi Zhafira bertindak sesuai dengan apa yang dia yakini. Walau bagaimanapun buruknya Pretty, Pretty memiliki kesempatan untuk berubah. Zhafira juga bukan seperti orang bodoh yang diam saja ketika harga dirinya diinjak-injak oleh Pretty, terbukti Zhafira menantang Pretty untuk melakukan duel di area tanding, daripada Pretty selalu menyakiti dirinya seperti itu, yang jelas-jelas merugikan Zhafira.
Dalam keadaan Zhafira yang tidak siap, sudah pasti Zhafira terluka. Nah, Zhafira tidak ingin Pretty melakukan hal itu lagi. Bukan berarti semua anggota keluarga Pretty harus ikut menanggung apa yang telah Pretty perbuat. Apalagi sampai menyebabkan ayah Pretty jatuh sakit, usaha keluarga Mendez sampai gulung tikar. Zhafira memikirkan nasib para karyawan yang bekerja di bawah naungan perusahaan Mendez. Jika sampai anggota keluarga nya melakukan hal - hal tersebut.
Lagipula Zhafira tidak ingin anggota keluarga nya menanggung dosa atas kesalahan yang tidak perlu dilakukan. Toh, setiap kejahatan akan ada balasannya dari Allah SWT, sehingga kita tidak perlu capek-capek membalas perbuatan orang tersebut. Maafkan saja, selesai. Karena urusan kejahatan yang telah diperbuat setiap orang toh ada hakim yang pasti adil dalam setiap urusan yaitu Allah SWT, dan Zhafira sangat mempercayai itu.
Kembali lagi dimana Zhafira masih dalam perjalanan menuju ke perusahaan milik dia sendiri, karena ada beberapa rapat tertutup yang wajib dia hadiri. Cukup krusial jika dia tidak datang karena akan mempengaruhi nilai perusahaan.
Rapat tertutup ini akan membahas budgeting dengan bagian keuangan, dan beberapa pihak terkait, dan jangan tanya Anggie karena Anggie pun melakukan hal yang sama, sehingga mereka tidak akan bertemu hari ini. Hanya saja , Zhafira sudah melakukan video call kepada sahabatnya itu. Jika tidak, Anggie tidak akan semangat bekerja hari ini, atau yang lebih buruk, Anggie mungkin akan mengintili Zhafira seharian penuh. Bukan karena Anggie memiliki kelainan orientasi seksual, bukan karena itu.
Anggie memiliki trauma masa lalu, yang membuat Anggie over protective terhadap Zhafira yang sudah dianggap dia sebagai bagian dirinya. Anggie juga sudah menjalani pemeriksaan medis, dan di sanalah dia mengetahui jika dirinya mengidap Fear of abandonment yang juga diketahui oleh Zhafira dan kedua orangtuanya.
Karena Zhafira lah yang mengajak Anggie untuk berobat, ketika Zhafira melihat sesuatu yang aneh pada Anggie ketika Anggie akan bersikap berlebihan jika Zhafira mengalami sesuatu yang buruk. Seperti kejadian semalam. Oleh karena itu Anggie termasuk orang pertama yang di hubungi setelah Zhafira menghubungi kakek buyutnya, dan Zhidan.
Mengapa Anggie bisa mengalami hal seperti ini. Hal ini dikarenakan Anggie mengalami kesedihan luar biasa ketika saudari kembarnya meninggal di masa itu. Awalnya hal itu tidak begitu nampak dan berdampak pada Anggie, namun semakin lama semakin terlihat ketika Zhafira pernah mengalami kecelakaan yang membuat Zhafira harus berpisah dari Anggie untuk jangka waktu cukup lama. Dan dari situlah ada perubahan yang signifikan dalam diri Anggie, dimana perubahan itu membuat Anggie semakin memburuk kondisinya. Rasa takut kehilangan yang berlebihan terhadap Zhafira membuat Anggie seperti orang yang sakau bagi orang yang kecanduan napza akan tetapi tidak mengkonsumsi napza, seperti itulah.
Tingkah laku Anggie inilah yang sangat membuat Anggie di kondisi yang memprihatinkan. Oleh karena itu, orang tua Anggie yang mengkhawatirkan kondisi anaknya memutuskan untuk mengajak Anggie melakukan pengobatan dengan mengajak Zhafira sebagai person support yang paling penting bagi anak perempuan keluarga Clarke.
Tuan Steve yang meminta bantuan kepada Zhafira untuk mengajak Anggie memeriksakan kesehatan nya, disambut baik oleh Zhafira. Zhafira pun awalnya beralasan ingin memeriksa kesehatan dirinya sebagai alasan mengajak Anggie berobat, dan dari sanalah bukan hanya mengetahui penyakit apa yang di derita oleh Anggie, Zhafira pun mengetahui apa yang menjadi penyebab utama dari tingkah lakunya yang sudah tidak akan respect terhadap pria yang sudah menyatakan perasaan suka terhadap dirinya, dimana Zhafira lebih cenderung menghindari pria tersebut.
Jika Anggie mengidap Fear of abandonment, maka Zhafira mengidap Philophobia. Hal ini wajar terjadi pada mereka, karena di masa itu, masa paling berkesan sangat buruk di hidup mereka, sehingga sangat wajar jika mereka mengalami trauma yang menekan jiwa mereka sampai seperti ini. Dimana tingkat trauma tersebut semakin lama semakin dalam, dan semakin sulit bagi mereka untuk bangkit dan keluar dari trauma tersebut, karena terkadang sesekali tampil keluar dari ingatan bagaikan Dejavu yang datang layaknya kolase kilas balik kehidupan yang membuat mereka mengikuti ketakutan, Tremor, bahkan menjerit histeris di kala mereka sendiri.
Makanya Zhafira membutuhkan Anggie, Anggie pun membutuhkan Zhafira. Alasan inilah mereka tidak terpisahkan dalam kondisi apapun, walaupun ada Zhidan, namun Zhafira tidak ingin adiknya ini mengetahui sisi terlemah Zhafira, jika sampai Zhidan mengetahui hal ini, maka luka hati Zhidan kepada sang ayah semakin dalam. Zhafira tidak menginginkan hal itu, dikarenakan bagaimana pun buruknya ayah mereka di masa lalu, itu adalah ayah yang wajib mereka hormati. Zhafira tidak ingin adiknya menjadi anak durhaka yang akan menanggung dosa besar jika sampai menjadi anak yang durhaka. Zhafira sangat menyayangi adiknya sehingga untuk segala sesuatu yang buruk pada dirinya, Zhafira berusaha menahannya sendiri. Oleh karena itulah Zhafira menyembunyikan penyakitnya ini dari Aisyah dan Zhidan. Dikarenakan Zhafira tidak ingin keluarga nya tahu kelemahan yang dia miliki, kesulitan yang dia rasakan, dan kesakitan yang dia alami setiap kenangan itu datang.
Anggie yang sekarang sudah mengalami kemajuan yang sangat signifikan, namun yah seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang, dan bukan lagi rahasia umum jika kadar posesif Anggie sama dengan Zhidan. Banyak orang mengasihi Zhafira yang dilingkupi oleh orang-orang seperti ini. Tapi sejauh ini Zhafira terlihat santai, dan biasa-biasa saja.
Hari ini, Zhafira menghabiskan waktunya dengan beraktivitas di luar rumah. Zhafira sampai lupa jika hari sudah semakin larut malam. Suara ketukan di pintu mobil membuat Zhafira menoleh ke asal suara. Maxwell ternyata sudah berdiri di depan pintu mobil Zhafira yang masih menunggu lampu hijau pada traffic light di persimpangan jalan.
Zhafira yang melihat siluet tubuh sang kakak laki-lakinya langsung saja membuka pintu untuk kakak laki-laki nya dan membiarkan Maxwell duduk di samping Zhafira
" Hei "
" Abang dari mana "
" Bukankah harusnya Abang beristirahat terlebih dahulu hari ini " ucap Zhafira
" Terlalu lama aku beristirahat, mungkin besok akan tercipta danau Maninjau dari air liur di kamar Abang " ucap Maxwell membuat Zhafira tertawa lepas. Bagaimana tidak, Abang yang super duper irit bicara ini, akan bersikap konyol jika berhadapan dengan Zhafira
" Ayo, Kita makan malam terlebih dahulu sebelum pulang " ucap Maxwell sembari memberikan alamat tujuan kepada sang sopir.
Robi yang mengendarai mobil segera menganggukan kepala saja, namun tanpa sadar tangannya meremas setir dengan keras hingga buku-buku tangannya terlihat memutih. Sedangkan Zhafira dan Maxwell tidak memperhatikan tingkah laku sang sopir mereka bercerita banyak hal, baik Zhafira maupun Maxwell masih excited terhadap topik pembicaraan mereka yang tanpa menyadari jika ada hati yang terluka melihat kedekatan Zhafira dengan Maxwell.
Cerita ngarul-ngidul entah kemana akhir cerita atau awal cerita, yang pastinya mereka berdua bercerita dengan sangat asyik hal itu bisa terdengar dari riuh suara tawa Zhafira, terkadang terdengar riuh suara tawa Maxwell.
" Oh iya "
" Bang Robi, ini permen buat Abang " ucap Zhafira yang baru saja teringat jika dia tadi membelikan Robi permen untuk menghilangkan rasa jenuh berkendara. Hal itu tentu saja membuat perasaan Robi berbunga-bunga, sebegitu perhatiannya Zhafira terhadap dirinya, padahal menurut Zhafira itu hal biasa, perhatian kecil ini lumrah diberikan kepada orang-orang yang Zhafira kenal, akan tetapi bagi Robi ini dianggap hal yang luar biasa.
Maxwell pun menganggap hal itu biasa juga, toh adik perempuannya ini biasa bersikap seperti itu, bahkan kepada seorang yang tidak dia kenal, yang memiliki kebutuhan, tanpa diminta Zhafira akan memberikan yang Zhafira bisa, misalnya ada seorang jual makanan, yang sepi pembeli, Zhafira akan memborong habis jualannya lalu membagikan apa yang dijual, lalu Zhafira memberikan makanan dan minuman kepada penjual tersebut. Karena itu di mobil yang ditumpangi oleh Zhafira, tidak pernah sepi dengan makanan , minuman, dan snacks atau makanan ringan, siapa tahu ada orang yang membutuhkan makanan tersebut ketika tidak sengaja dia jumpai.
Tidak ada yang berlebihan. Dari apa yang Zhafira lakukan terhadap Robi, akan tetapi sekali lagi tidak bagi Robi yang sudah jatuh cinta kepada majikannya.
*
*
*
*
*
πΊπΊ