
ππππππππππππππ
Anggie bersikap masa bodoh, yang penting tidak menganggu kepentingan dirinya, Anggie tidak perduli. Namun tidak bagi Fauziah yang melihat itu sudah tidak lazim lagi untuk hubungan saudara. Ditakutkan Zhidan yang terlalu bucin akan salah rasa, dan itu tidak baik dan tidak dibenarkan dalam agama.
" Tetaplah menjaga sikap, dik "
" Zhaza adalah perempuan meskipun mahram untuk kamu ataupun Zhaza" sedikit nasihat Fauziah yang ditujukan untuk Zhidan
" Iya "
" Terimakasih sarannya, kak "
" Zhidan masih tahu akan batasannya " ucap Zhidan yang tidak terima jika sikapnya dikatakan berlebihan, padahal inilah cara Zhidan mengungkapkan rasa sayangnya pada Zhafira.
" Sudahlah "
" Nanti dia tidak akan terlalu bucin seperti ini lagi jika sudah ada pawangnya " ucap Cleo sok bijak kali ini. Membuat semua orang melupakan yang sudah menjadi bahan perbincangan.
Tanpa menunggu lama Anggie segera masuk ke dalam mobilnya yang sudah diserahterimakan kunci oleh asisten kepercayaannya Anggie, begitu pula dengan Fauziah, yang kali ini memilih untuk duduk di samping Liliana , sedangkan Queen sibuk membenarkan penampilannya sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Inez harus berbesar hati untuk tidak duduk di kursi pengemudi dikarenakan sang suami sudah lebih dahulu duduk di sana sembari menaikturunkan alisnya menggoda istrinya yang sangat ingin mengendarai mobil sport mereka.
Sedangkan Cleo sibuk berbicara dengan Mr. P yang menjadi tour guide dalam perjalanan, namun kendaraan Mr. P akan berada tepat di belakang mobil lainnya namun di depan mobil para ajudan lainnya. Sedangkan di depan sekali sudah ada patwal yang dimintai tolong oleh Mr P
Di saat semua orang sudah mulai bersiap-siap, Zhafira masih saja merengek-rengek membujuk Zhidan untuk dirinya lah yang akan mengemudi. Namun, Zhidan tetap kekeuh dengan pendapatnya. Kesal dengan sikap Zhidan, Zhafira segera membuka pintu mobil sport Anggie.
Sayang seribu kali sayang, kalimat yang diucapkan oleh Zhidan membuat Zhafira segera menutup kembali pintu mobil Anggie yang sempat di bukanya. Anggie yang melihat wajah Zhafira tertekuk hanya menyunggingkan senyuman lucu. Andai saja di masa itu, maka sudah pasti ada perdebatan diantara Zhidan dengan Anggie yang berujung keributan. Akan tetapi tidak kali ini, dikarenakan pengobatan yang dilakukan oleh Anggie lumayan membuahkan hasil yang cukup signifikan , walaupun terkadang masih sangat kentara jika Anggie masih diliputi perasaan cemas yang berlebihan.
Zhafira berjalan dengan gontai menuju mobil sport milik Zhidan, Zhafira sudah pasrah jika perjalanannya malam hari ini tidak akan se-menyenangkan seperti apa yang dia bayangkan. Banyak hal ini itu yang akan menjadi larangan untuk Zhafira lakukan.
perjalanan di mulai, Jakarta- Bogor,
Titik awal perjalanan di mulai dari cafe, satu persatu mobil sport mahal keluar dari area parkir yang di awali oleh mobil petugas patwal, terlalu berlebihan memang. Namun, dikarenakan di dalam rombongan ini termasuk anak-anak dari orang penting, lagipula Mr P sudah meminta persetujuan dari pihak terkait, tentang hal ini yang meminta bantuan perlindungan.
Di susul mobil yang dikendarai oleh Liliana yang duduk anteng bersama Fauziah yang sejak tadi sudah bergumam bacaan ketika hendak berpergian. Lalu ada Inez yang duduk cantik di sopirin pak bojo, Queen yang lebih memilih untuk sendiri dikarenakan Zhafira sudah nyaman bersama Zhidan.
Sama halnya dengan Queen, Cleo dan Anggie mengendarai mobil mereka masing-masing, karena ingin melakukan tes drive sebelum mereka akan melakukan pertandingan di sirkuit. Menurut insting Anggie, dikarenakan Cleo salah satu sahabatnya ini suka bersikap impulsif mengenai sesuatu yang diinginkan.
Di sepanjang perjalanan mereka semua terhubung dalam handy talky yang ada di setiap masing-masing mobil. Handy talky ini dipergunakan untuk mempermudah mereka berkomunikasi selain jaringan seluler pada handphone. Handy talky ini telah di setting sebelum mereka melakukan perjalanan, dan persiapan lainnya yang sudah tentu demi keselamatan para tuan putri.
Beberapa kali mereka berhenti di tempat rest area. Selain untuk membeli camilan, mereka manfaatkan untuk melaksanakan ibadah dan kegiatan lainnya. Untuk beberapa pria memilih untuk menghabiskan satu atau beberapa batang cigarette demi menghilangkan rasa jenuh perjalanan.
Ketika perjalanan di lanjutkan, jahilnya Queen menggoda Cleo. Awalnya hanya sekedar obrolan iseng di handy talky, namun lama-kelamaan yah itu. Cleo yang terpancing memacu mobil sport miliknya melintasi spot Queen dengan cara mengerem lebih lambat daripada lawan yang akan didahului yang pasti digunakan Cleo untuk menyalip mobil sport milik Queen. Teknik ini lebih di kenal dengan nama late braking. Tidak mudah bagi orang-orang yang belum pernah menjajal aspal balap, namun itu sangatlah mudah bagi Cleo ketika Cleo melakukan manuvernya
Inez yang melihat melihat dua mobil sahabat nya mendahului mobil yang dia tumpangi seketika membelalakkan kedua bola matanya
" An*** "
" Gi *** " ucap Inez tanpa sadar, yang membuat sang suami menggelengkan kepalanya. Apalagi Inez meminta sang suami untuk menambahkan kecepatan agar bisa mensejajarkan posisi mereka. Namun apa daya dirinya di sopir' in pak bojo, tatapan tajam mata Aditya membuat Inez seketika menciut nyalinya. Namun tidak bagi Liliana yang melihat kedua mobil sahabatnya yang akan mendahului. Segera Liliana mempersiapkan manuver apa yang akan dia gunakan agar posisinya tetap berada di paling depan.
Sayangnya, dia harus tertinggal dan menepati posisi ke tiga, dengan segala cara Liliana mempertahankan posisinya dan menambahkan kecepatan, tanpa dia sadari jika ada orang yang duduk tepat di sampingnya telah mengumandangkan kalimat-kalimat tasbih ketika Liliana yang tertawa dengan sangat renyah di atas kecepatan tinggi.
Anggie memberikan kode klakson satu kali pada mobil Zhidan untuk Zhidan yang tepat berada di depan mobil yang dikendarai oleh Anggie. Klakson yang dibunyikan oleh Anggie sebagai kode agar Zhidan memberikan Anggie akses mendahului mobil yang dikendarai oleh Zhidan. Tanpa menunggu terlalu lama, Zhidan mempersilahkan mobil Anggie mendahului mobil Zhidan dengan memberikan kode pada lampu sein mobil yang artinya silahkan mendahui. Dan hanya sedetik kemudian mobil yang dikendarai oleh Anggie melibas jalanan bagaikan kibasan angin yang berlalu . Iya, hanya beberapa detik saja mobil Anggie sudah menghilang dari pandangan mata. Tersisa hanyalah bayangan mobil yang semakin lama semakin mengecil dalam pandangan mata.
Mr. P yang sudah berpengalaman menghadapi kelakuan - kelakuan anak tuan besarnya ini, dan beberapa sahabatnya Cleo hanya menggelengkan kepalanya saja. Mr P sudah mempersiapkan rencana termasuk jika terjadi hal-hal yang tidak terduga seperti saat ini. Sepertinya Mr P paham betul sehingga memprediksi persiapan apa yang akan dilakukan jika terjadi hal-hal seperti ini, maka Mr P akan memberikan perintah baru pada para ajudan yang mengikuti iringan mobil mewah. Mr P sangat mengingat betul kejadian masa lalu yang menjadi pelajaran berharga buatnya sehingga jika para gadis melakukan tindakan tidak terduga, maka Mr P sudah memiliki rencana cadangan yang sangat banyak untuk mengantisipasi kemungkinan - kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Maka, untuk kali ini Mr P sudah memerintahkan dua mobil yang berisikan para bodyguard untuk tetap pada jalurnya mengikuti mobil yang tersisa di belakang mobil sport lainnya yaitu mobil miliknya Inez, dan mobil miliknya Zhidan. Sedangkan dua mobil lainnya termasuk mobil Mr P segera meluncur menyusul tuan putri yang sedang menjajal aspal yang untungnya malam hari ini jalan tol relatif sangat sepi.
Mobil patwal yang tertinggal yang dikendarai sopir yang sudah terbiasa mengawal tetap pada kecepatan rata-rata sesuai dengan SOP yang biasa digunakan. Sang sopir ini sempat melongo, namun segera tersadar ketika terdengar suara di handy talky yang memberikan sopir sebuah kalimat perintah yang santun yang intinya sopir tetap melakukan pengawalan pada mobil yang tersisa.
Perjalanan baik bagi Inez maupun Zhafira terasa membosankan. Karena baik sang suami untuk Inez, dan saudara untuk Zhafira. Dua lelaki ini mengendarai mobil dengan kecepatan yang lempeng saja tidak ada gereget nya sama sekali. Sehingga membuat mereka berdua terserang rasa kantuk. Alunan murotal yang di putar Zhidan serta tiupan dinginnya AC mobil menambah kian parah rasa kantuk itu yang kini menjadi kian memberat sehingga membuat Zhafira terlelap dalam tidurnya. Begitu pula dengan Inez yang sudah terhanyut dalam buaian mimpi.
Entah siapa yang menang dan siapa yang kalah untuk Liliana dengan Cleo yang pastinya Anggie telah terlebih dahulu tiba di depan pintu gerbang masuk ke dalam kawasan vila yang menjadi tempat mereka menginap mulai malam hari ini.
Liliana dengan Cleo masih memperdebatkan siapa yang terlebih dahulu tiba diantara mereka sehingga meminta Fauziah sebagai penentu. Fauziah yang masih shock dengan perbuatan Liliana hanya sibuk menenangkan diri atas apa yang menimpanya. Fauziah bisa dan mampu untuk bertanding, namun itu di area atau tempat yang memang menjadi fasilitasnya.
Misalnya tanding kuda, artinya di tempat pacuan kuda, tanding basket, voli, tenis yah di lapangannya, nah untuk balap mobil sudah pasti di sirkuitnya dong. Dan ini, mereka balap di tempat yang tidak tepat, membuat Fauziah yang memiliki sikap yang cenderung perfeksionis dalam keteraturan, ketika dihadapkan dengan tindakan ceroboh dan suka-suka beberapa sahabatnya membuat dia pusing kepala.
Di saat Cleo dan Liliana terlibat keributan, bukannya membantu dengan menenangkan salah satu diantaranya, Fauziah justru meninggalkan mereka berdua, dimana Fauziah berjalan masuk ke dalam salah satu unit villa berukuran besar yang menjadi salah satu diantaranya beberapa unit villa dalam satu kawasan vila yang ternyata milik keluarga Cleo.
" Oh **** "
" Sumpah "
" Menyebalkan sekali kamu , Zia " ucap Liliana yang memakai sahabat nya yang berjalan masuk ke dalam villa.
Anggie menyenderkan tubuhnya di pintu mobil sembari menyunggingkan senyuman tipis
" Bukankah perdebatan kalian sia-sia saja " ucap Anggie dingin
" Masih akan ada pertandingan, bukan " ucap Anggie dengan sebelah alis yang dia angkat sedikit
" Yup betul sekali " sahut Cleo
" Kalau begitu, aku mau berendam terlebih dahulu sebelum tidur " ucap Cleo tanpa dosa meninggalkan Liliana yang sudah menahan geramnya
" Kenapa kamu masih belum masuk " tanya Cleo ketika hampir mendekati posisi Anggie
" Zhaza belum tiba " ucap Anggie secukupnya saja
" Baiklah "
" See you again, in morning, Gie " ucap Cleo yang berlalu pergi meninggalkan Anggie. Liliana masih menahan kesal, dengan wajah bersungut-sungut, Liliana mendekati Anggie yang masih di posisi yang sama.
Anggie menyodorkan satu botol minuman di hadapan Liliana. Dengan rakus Liliana meminum air tersebut hingga hampir tersedak. Anggie berusaha menahan diri agar tidak tertawa dengan tingkah Liliana seperti seorang bocah.
Tidak berselang lama kemudian, satu persatu mobil yang tersisa dalam perjalanan berdatangan. Zhidan turun dari mobil, tanpa mematikan mesin mobil, begitu pula dengan Aditya.
" Dimana , Cleo " tanya Aditya pada Anggie dan Liliana
" Mungkin dia sudah tertidur " ucap Anggie singkat
" Katakan padanya jika aku akan membawa istri aku ke villa yang ada di ujung sana " ucap Aditya sembari menunjuk ke arah dimana tempat yang akan dia tempati bersama sang istri
" Baiklah "
" Akan tetapi, besok kembalikan Inez ke villa utama, jika tidak ingin bermasalah dengan Cleo " ucap Anggie menatap manik mata Aditya dengan tatapan khasnya
" Yah, lihat saja besok "
" Kalau pagi hari. Aku tidak bisa menjanjikannya " ucap Aditya bernegosiasi dengan Anggie
" Pukul 9 sudah harus ada di sini " ucap Anggie yang tidak perduli dengan siapa dia berbicara
" Baiklah " ucap Aditya pasrah. Artinya sia-sia saja apa yang dia rencanakan tadi, jika pada akhirnya dia tidak akan bisa menikmati indahnya memadu kasih sepuas-puasnya di area villa ini. Mungkin lain waktu dia akan mengajak kembali istrinya untuk melakukan perjalanan honeymoon.
" Kalau begitu, kak Zhaza Ju " ucapan Zhidan terhenti ketika Anggie mengatakan kata tidak dengan penuh penekanan. Zhidan tahu, jika Anggie dalam mode seperti ini artinya sudah tidak dapat diajak untuk bernegosiasi. Anggie menahan diri untuk tidak melebihi batasan. Namun, saat ini memang saat yang ditunggu-tunggu oleh Anggie untuk berkumpul dengan sahabatnya. Khususnya bisa tidur satu kamar dengan Zhafira berbagi cerita tentang banyak hal, walaupun sebenarnya di kantor bisa saja terjalin komunikasi, tetapi tidak sebebas ketika mereka menikmati weekend seperti ini.
Zhidan yang pasrah ketika berhadapan dengan Anggie segera menggendong Zhafira ala bridal masuk ke dalam villa utama yang terdapat cukup banyak kamar, dan Anggie sebagai pemandu membuka pintu kamar yang akan Zhafira tempati nanti bersama Anggie
" Kamu pasti sudah sangat lelah "
" Beristirahat lah " ucap Anggie sambil menyelimuti Zhafira yang sudah meringkuk di atas kasur
" Iya, kak "
" Terimakasih " ucap Zhidan yang sudah beranjak dari posisi sebelumnya setelah melabuhkan kecupan di dahinya Zhafira.
Zhafira yang sudah terlelap tidur tidak menghiraukan situasi dan kondisi di sekitarnya, bahkan jika ada seekor nyamuk yang hinggap di tubuhnya pun Zhafira tidak akan terbangun dari tidurnya. Untungnya saat di rest area, Zhidan menyerahkan paperbag yang berisi pakaian untuk Zhafira kenakan. Perlengkapan Zhafira sudah dipersiapkan oleh Zhidan sebelumnya untuk prepare jika dia tertidur, dan Zhafira menurut saja daripada bertengkar dengan sang adik yang selalu perfect dalam segala hal, sama halnya dengan Fauziah dan Anggie. Akan tetapi tidak separah Anggie dan Fauziah dalam hal keteraturan, dan kerapian.
Mereka berdua ini sangat sensitif jika berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga hidup mereka nyaris monoton, apalagi Anggie. Oleh karena itu, ketika ada sesuatu yang janggal menurut Anggie, dia pasti mencari kejanggalan tersebut sampai ke akar-akarnya, sangking sensitif nya Anggie.
Seperti pernah suatu hari, Anggie memergoki salah satu orang yang Anggie curigai bukan orangnya Zhidan, Azzam, bahkan bukan orangnya Adhitama sedang menguntit Zhafira. Tanpa berbasa basi Anggie menyerang orang tersebut, dan ternyata dalangnya tuan Ibrahim Abrisham.
Dan orang pertama yang mengetahui bagaimana yang akan terjadi pada Zhafira, yah Anggie. Di sana Ibrahim Abrisham yang berbicara langsung pada Anggie jika keluarga Abrisham terutama dirinya sudah mengikat Zhafira sebagai calon menantu bagi salah satu putranya, selain itu Ibrahim mengatakan jika mulai saat ini Zhafira akan mendapatkan perlindungan darinya.
Tanpa diketahui oleh keduanya jika Kenzie telah menyelipkan salah satu orangnya diantara orang-orang yang Ibrahim tugaskan untuk mengintai Zhafira. Dan dari sinilah Anggie telah mencari tahu semua kehidupan Kenzie. Namun sayangnya, semua akses itu sudah di kemas sedemikian rupa sehingga beberapa informasi mengenai Kenzie hanyalah kamuflase saja.
Hebatnya Abrisham menyembunyikan rapat-rapat semua rekam jejak anggota keluarganya, sehingga baik keluarga Lesham, Bhalendra, dan Clarke yang mencari tahu tentang Kenzie, hanya mendapatkan cover dan beberapa isi yang sudah mengalami revisi saja.
Tidak bagi Sultan Bhalendra, hanya pada dirinya lah Ibrahim berkata jujur dan meminta Sultan Bhalendra untuk merestui pernikahan Zhafira dengan Kenzie dengan menjanjikan akan mengikuti peraturan dan perjanjian yang mengikat dua keluarga ini. Dan dalam perjanjian tersebut, isinya mengikat Abrisham dalam beberapa hal yang ternyata cukup merugikan bagi Ibrahim dan keluarganya. Namun hal itu tidak masalah bagi Ibrahim dikarenakan dirinya sangat menginginkan Zhafira menjadi menantu dalam keluarganya. Oleh sebab itu lah Sultan Bhalendra membuka akses Abrisham untuk menguntit atau pun memberikan penjagaannya terhadap Zhafira.
*
*
*
*
*
*
*
πΊπΊ