
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Zhafira yang berjalan menuju lift untuk turun ke restoran hotel diikuti beberapa penghuni room hotel lainnya yang beberapa kali berhenti di lantai di bawah dari lantai room hotel yang di tempati oleh Zhafira dan Anggie
Setelah sampai di restoran hotel yang menyajikan menu sarapan pagi, Zhafira langsung saja memilih menu apa yang diinginkan oleh dirinya. Namun, sesaat Zhafira sedang asyik memilih menu sarapan pagi nya, tiba-tiba seseorang menyapa Zhafira dengan antusias, yang membuat Zhafira segera membalikkan tubuhnya ke arah asal suara dan seketika Zhafira mengucapkan masyaallah yang kemudian setelah itu tanpa ragu Zhafira melambaikan kedua tangannya yang juga antusias bertemu dengan seorang kenalan , lalu kemudian Zhafira menangkupkan kedua telapak tangannya sebagai cara Zhafira menyapa kenalannya
" Apa kabar, bang " ucap Zhafira kepada salah satu sahabat Zhayn yang bukan kewarganegaraan negara ini
" Seperti yang kamu lihat, Zha " ucap James
" Bagaimana kabar bunda dan si kecil ,eh "
" Maafkan Abang "
" Abang lupa " ucap James sembari memperlihatkan dimples di satu sisi pipinya
" Zhizi "
" ih, Abang enggak asyik "
" Masa adiknya dilupakan "
" Malas deh Zhaza " ucap Zhafira sedikit merajuk
" Hm "
" Kok gitu "
" Kita breakfast saja terlebih dahulu " ucap James mengakhiri drama Zhafira
" Emang Zhaza mau breakfast "
" Abang gimana, udah atau belum breakfast nya " jawab dan tanya Zhafira secara bergantian
" Belum "
" Ini baru turun kok "
" Kita breakfast bareng aja , Abang sudah sangat merindukan kalian " ucap James
" Heh "
" Abang Merindukan kalian " ucap Zhafira dengan menye-menye membuat James tertawa dengan lepas
" Abang tuh pembohong "
" Bilang rindu "
" Sudah hampir sepuluh tahun tidak pulang ke indo "
" Itu yang dibilang rindu "
" Kalau rindu tuh yah, bang "
" Didatangi, ditengok, di tanya , gitu " ucap Zhafira sembari memilih menu yang ingin disantapnya pagi hari ini.
" Yah "
" Tahu sendiri sibuknya jika bekerja di corporate , Zha " ucap James yang membuat Zhafira mendengus ketika mendengar jawaban dari James
" Iya, corporate sih "
" Kan Abang pemilik corporate nya "
" Masa iya, enggak bisa libur satu hari pun "
" Udah deh "
" Emang Abangnya yang sudah hilang rasa sama kami "
" Malas deh Zhaza mendengarkan celotehan Abang lagi "
" Yang hanya sekedar omdo aja " ucap Zhafira yang masih kesal dengan James
" Omdo ? "
" What it that " ucap James yang melupakan beberapa kalimat di negara ini
" Omong doang " ucap Zhafira sembari melototkan kedua bola matanya yang terlihat menggemaskan bagi Zhafira. Sehingga James kembali tertawa lepas
Tanpa mereka sadari sejak dari tadi, interaksi yang terjadi di antara mereka berhasil di rekam tim dari pria yang sangat menyebalkan bagi Zhafira.
Zhafira nampak santai menikmati sarapan pagi yang ditemani oleh James, bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing setelah meninggal nya Zhayn. Bagaimana James yang diharuskan pulang ke negaranya akibat ulah sang ayah yang membuat skenario sehingga dirinya harus di deportasi dari negara ini.
Banyak cerita kehidupan yang mereka bagi dalam pertemuan ini. Tanpa Zhafira sadari jika sahabat dari Abangnya ini sejak sedari tadi memperhatikan Zhafira bukan karena hubungan yang Zhafira anggap hanyalah hubungan silaturahmi kepada sahabat Zhayn. Ada perasaan lain yang tumbuh.
Beberapa kali James memalingkan wajahnya, mungkin ini hanya perasaan yang datang sesaat saja, rasa rindu yang terpendam kepada adik sahabatnya, toh ada seorang batita yang membutuhkan perhatian darinya karena kematian sang isteri saat melahirkan putra mereka.
" Jadi "
" Bagaimana kabar mbak Valen, bang " tanya Zhafira setelah menghabiskan menu sarapannya
" Oh "
" Dia sudah tenang di sana, Zha "
" Dia pergi meninggalkan Abang dan putra kami " ucap James dengan sendu
" Pergi bagaimana " ucap Zhafira memastikan kembali maksud ucapan James
" Cia "
" Meninggal dunia setelah melahirkan Sean
" Innalilahi wainnailaihi rojiun " ucap Zhafira mengatupkan kedua tangannya pada area mulutnya.
" Sakit atau bagaimana, bang "
Tanya Zhafira
" Memang ada masalah dalam kandungan setelah mendekati trisemester ke tiga "
" Dan yah seperti itu "
" Ketika dokter menyarankan agar prose kelahiran melalui Sectio Caesarea "
" Dan kami pastinya menurut akan saran dokter, akan tetapi sebelum jadwal SC terjadi , istri Abang mengalami kejang "
" dan entahlah karena apa "
" Yang pasti Abang menandatangani berkas operasi, dengan resiko seperti biasa yang dokter sampaikan jika melakukan proses tersebut "
" Dan " ucap James yang tidak mampu melanjutkan ceritanya kembali
" Qadarallah "
" Husnul khatimah buat mbak Valen "
" Aamiin " ucap Zhafira seraya melapalkan doa' kepada orang yang dia kenal, berharap doa'nya akan sampai ke almarhumah istri James
" Dimana anaknya Abang " ucap Zhafira
" Oh "
" Kebetulan, Abang membawa serta dia dalam perjalanan Abang kali ini "
" Entah kenapa dia sangat rewel sekali "
" Yah, mau tidak mau, Abang terpaksa ajak dia "
" Daripada Abang kepikiran, dan tidak fokus pada kerjanya Abang nanti " ucap James
" Abang sudah meminta baby sitter Sean untuk segera turun ke sini membawa Sean "
" Tadi, kata susternya Sean sulit bangun " ucap James
Seorang bocah kecil berusia kurang lebih tiga tahunan mendekati James dan langsung memeluk kaki James
" you here "
" Come on ,kenalan terlebih dahulu dengan aunty " ucap James kepada putranya. Sang putra enggan melihat ke arah Zhafira. Karena Sean bukan tipe yang langsung mudah akrab dengan seseorang yang baru dia kenal
" Wah "
" Tampan sekali "
" Kenalan dong, dengan aunty "
" Eh , bentar " ucap Zhafira yang langsung merogoh tasnya
Kemudian Zhafira meletakkan mobil-mobilan berukuran kecil yang aman untuk usia anak tiga tahun tersebut ke atas meja.
Zhafira mulai dengan aksi nya, yang menarik perhatian dari Sean. Sean segera meminta James untuk segera menurunkan dirinya, karena James dengan jahil menahan tubuh si kecil tetap berada di atas pangkuannya ketika perhatian Sean sudah berpusat pada mainan mobil-mobilan yang sedang dimainkan oleh Zhafira
Sean dengan bahasa khas anak-anak meminta Zhafira untuk memberikan dirinya mainan mobil-mobilan tersebut dengan sopan, yang tentu saja diberikan oleh Zhafira, toh dari awal Zhafira memang memiliki niat untuk memberikan mainan tersebut untuk Sean.
Jika Sean sangat antusias, yang bahkan sudah memberikan Zhafira pelukan dan kecupan karena Zhafira yang sudah bermurah hati untuk memberikan dia mainan mobil-mobilan dengan cuma-cuma, tidak untuk baby sitter Sean yang terlihat sekali tidak suka akan kedekatan Sean dengan Zhafira.
Wanita itu sibuk meminta Sean mendekati dirinya lagi, yang disambut oleh Sean dengan gelengan kepala, yang bahkan terlihat ketakutan. Dengan sinis wanita itu memberikan Sean kode melalui bola matanya, yang sayangnya terlihat oleh Zhafira.
Zhafira yang menyukai anak-anak, sudah tentu tahu jika wanita ini sepertinya tidak memiliki sikap yang baik, begitulah feeling Zhafira jika berhadapan dengan anak-anak , mother instinct nya keluar, yang kalau untuk kita sering sebut naluri seorang ibu.
" Kamu "
" Pergi saja "
" Seperti nya Sean sedang ingin bermain dengan saya " ucap Zhafira yang sangat terlihat aku nya ketika berhadapan dengan jenis orang yang seperti ini.
James memberikan kode melalui matanya kepada baby sitter anaknya untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Zhafira
" Tuan " ucap baby sitter itu dengan nada dibuat-buat, dan terdengar menjijikkan bagi Zhafira. James akan mendengar keluhan dari baby sitter anaknya, segera mengangkat telapak tangannya, yang artinya jika dia tidak ingin di bantah.
Setelah dengan drama baby sitter Sean yang terlihat merajuk, dengan mata menatap Zhafira dengan sinis, ketika siluet tubuh baby sitter tersebut tidak terlihat lagi , James menanyakan kepada Zhafira, mengapa Zhafira tiba-tiba bersikap sedikit arogan, yang sama sekali bukan sikap Zhafira.
Zhafira segera menjawab pertanyaan James dengan mengatakan jika baby sitter Sean tidak lah cukup baik untuk Sean. Karena entah kenapa hatinya mengatakan jika James harus segera mengganti wanita tersebut sebelum James menyesali sesuatu hal di akan datangnya. Dan ucapan Zhafira meluncur begitu saja yang tidak pernah Zhafira sangka- sangka kenapa dia bersikap seperti ini, dan Zhafira segera mengucapkan kalimat istighfar, kenapa dia seperti ini.
James merasa jika tidak ada apa-apa dengan wanita itu, sehingga membuat James merasa jika Zhafira hanya bersikap peduli saja. Padahal pada kenyataannya setelah kepergian wanita itu, anaknya James masih terlihat ketakutan, dan itu terlihat dari sorot matanya yang sendu, seakan-akan dia harus bersiap akan menghadapi sesuatu hal yang menyakitkan setelah ini.
" Berapa lama Abang di sini " ucap Zhafira kepada James
" Kurang lebih, satu bulan , tergantung nantilah "
" Jika lancar dan cepat dalam kesepakatan,maka Abang akan segera pulang " ucap James yang membuat Zhafira mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan Sean dari wanita tersebut
" Kalau begitu, bolehkah Sean bersama aku, bang " ucap Zhafira yang meminta Sean untuk tinggal bersamanya
" Hm "
" Apakah tidak merepotkan kamu, Zha " ucap James
" Tidak sama sekali "
" Sean akan selalu bersama aku dan selalu dalam pengawasan aku , bang "
" Meskipun nantinya aku akan meminta salah satu suster di yayasan yang aku dirikan untuk ikut bersamaku "
" Bagaimana ? " Tanya Zhafira kepada James
" Yah "
" Bagaimana, Sean "
" Do you wanted " tanya James yang mendapatkan anggukan kepala Sean begitu semangatnya
James tertawa dengan tingkah Sean, begitu pula dengan Zhafira, melihat kedua orang dewasa ini tertawa, Sean menyunggingkan senyuman di wajah tampan nan imutnya, Sean mendekap Zhafira, seolah-olah Zhafira adalah tempat ternyaman baginya. Dimana kebersamaan mereka terlihat seperti keluarga kecil bahagia. Dan hal itu sukses membuat Kenzie mengepalkan di kedua telepak tangannya
" Tuan " ucap Kim dengan sedikit takut
" Berikan aku semua data pria itu "
" Sekarang juga " ucap Kenzie dengan nada dingin, dan terdengar horor bagi Kim, yang juga berjalan cepat meninggalkan restoran hotel.
Bagaimana dengan Zhaza, bang " tanya Aisyah ketika mereka menyelesaikan sarapan pagi.
" Memangnya ada apa dengan Zhaza " bukannya menjawab pertanyaan dari adiknya, Azzam malah memberikan adiknya pertanyaan
" Aku " ucap Aisyah yang tidak mampu mengucapkan sebuah kalimat yang sebenarnya melukai hatinya sendiri
" Tenangkanlah dirimu "
" Bukankah sudah Abang katakan, jika bukan hanya dirimu yang tersiksa, Zhaza pun lebih menderita dari yang kita bayangkan "
" Jangan melihat dia baik-baik saja, maka tidak ada yang terjadi pada Zhaza "
" Dia memang anakmu "
" Akan tetapi dia adalah anakku juga, Ais "
" Jangan kamu berikan dia tekanan sebesar itu padanya, Abang juga berharap Zhaza dapat mendapatkan jodoh terbaik untuk nya "
" Bukan berarti kita harus memaksa dia untuk menikah "
" Cara kamu cukup " ucap Azzam yang tidak mampu mencela cara sang adik yang melewati batasan. Yang sangat terlihat sekali Aisyah memaksakan kehendaknya.
" Sudah "
" Sudah "
" Itu, kita mau pamit Pi "
" Kami akan menghadiri acara launching produk punya teman kami "
" Mohon berikan kami izin yah, Pi " ucap Siti menengahi percakapan yang hanya akan menemui jalan buntu, yang pembahasan nya hanya akan menghasilkan debat kusir saja, tidak ada yang benar tidak ada yang salah. Yang pada akhirnya akan drama lagi, Siti hanya akan berserah pada sang waktu.
" Pergilah "
" Ingat " ucap Azzam yang tidak meneruskan kalimatnya lagi dikarenakan baik adik maupun istrinya sudah paham betul apa yang menjadi larangan, dan apa saja ketentuan berlaku untuk mereka meninggalkan rumah. Baik Siti maupun Aisyah menganggukkan kepalanya sebagai pertanda jika mereka berdua mengerti maksud Azzam, dan tanpa menunggu lama Azzam pun lekas meninggalkan mereka berdua yang nampak saling menatap.
Untuk hari ini, Anggie memiliki agenda yang berbeda dengan Zhafira, sehingga mau tidak mau mereka harus berpisah di lobby perusahaan. Anggie memberikan kode kepada bodyguard Zhafira dari Zhidan, dan tentu saja baik Ali maupun Yoyok segera menganggukkan kepalanya pertanda mereka tahu apa maksud dari tatapan mata Anggie yang terkesan dingin itu.
Mereka berdua selalu takut dengan setiap arti tatapan Anggie dan Zhidan, karena kedua sosok ini terlihat sekali serius dalam setiap tatapan mata tanpa harus mereka berkata satu katapun. Berbeda dengan Zhafira, yang dalam keadaan tertentu saja, dan itu di barengi dengan ekspresi wajah Zhafira yang nampak berbeda dari biasanya. Sehingga orang-orang bisa tahu jika Zhafira dalam keadaan seperti apa.
Dan Ali dapat melihat ada kesedihan di dalam senyuman manis yang Zhafira berikan kepada Anggie mengawali perpisahan mereka hari ini, karena masing-masing memiliki tempat tujuan yang berbeda. Jika Anggie hendak ke arah barat , maka Zhafira akan bergerak ke arah timur yang artinya untuk beberapa jam bahkan satu hari ini Anggie tidak akan bertemu dengan Zhafira karena kesibukan mereka masing-masing.
Setelah perpisahan mereka berdua, entah bagaimana caranya Kenzie berhasil menemui Zhafira ketika akan melakukan pertemuan dengan Mr. W dalam urusan membicarakan kelanjutan kontrak kerjasama yang sudah mereka jalin selama ini.
Zhafira yang sudah lebih dahulu tiba pada private room, menantikan kedatangan tamu, karena ini pembicaraan penting, maka Ali dan Yoyok berada di room berbeda, namun bisa memantau perkembangan Zhafira, yang pada kenyataannya posisi room Ali dan Yoyok di atur sedemikian rupa sehingga pada kenyataannya posisi mereka sangat jauh dari jangkauan, dan room yang di tempati oleh Zhafira dilengkapi dengan peredam suara terbaik sehingga apapun yang terjadi di dalam ruangan tidak akan pernah diketahui oleh orang luar, kecuali penghuni room membuka pintu ruangan tersebut.
Zhafira yang tidak mendengar suara ketukan sepatu pada lantai marmer, tentu saja tidak mengetahui jika ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan Zhafira yang sedang membuka dapat Al - Karim yang memiliki terjemahan sehingga selain membaca , Zhafira dapat melihat makna yang terkandung dalam Alkitab nya. Selain itu, memang sudah menjadi kebiasaan Zhafira untuk membaca karena nantinya Zhafira dan Zhidan akan mengoreksi bacaan mereka atau lebih dikenal dengan men-Tahfiz kan bacaan setelah men- Tahsin kan bacaan dengan tajwid yang baik dan benar.
Zhafira yang mengenakan headphone, selain sedang melakukan tahsin, Zhafira merekam bacaannya sendiri sehingga Zhafira akan menghapalkannya di manapun kondisi di saat dia memiliki senggang.
Zhafira menutup bacaannya seperti pada umumnya selesai tahsin.
Alangkah kagetnya Zhafira, ketika Zhafira mengemasi barang-barang ke dalam tas berukuran lumayan besar, melihat sosok Kenzie berada di ruangan yang sama dengan dirinya. Zhafira segera bangkit dari posisi sebelumnya, hendak menuju ke arah pintu ruangan, dan tindakan Zhafira memancing kesabaran Kenzie yang hanya setipis satu lembar tissue.
Melihat tatapan mata Zhafira yang melihatnya dengan tidak suka, tidak seperti tatapan mata Zhafira berikan kepada pria di restoran hotel tadi, membuat Kenzie semakin meradang. Kenzie hendak menyentuh Zhafira, namun kali ini Zhafira memberikan perlawanan, apalagi kondisi kakinya yang sudah cukup pulih membuat gerakan Zhafira lumayan membaik.
*
*
*
*
*
*
🌺🌺