
🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷
Aisyah yang melihat tangisan tanpa suara sang Abang, seketika langsung memeluk tubuh abangnya yang sudah terlihat tanda-tanda menua tidak seperti dahulu. Aisyah mendongak menatap wajah sang kakak laki-lakinya, di sana Aisyah dapat melihat ketulusan dan cinta kasih Azzam pada sang adik.
" Ais "
" Harus bagaimana "
" Ais , berdosa selama ini meninggalkan dia " ucap Aisyah dengan terbata-bata akibat sesegukan
" Dia berjanji untuk ikhlas menerima kondisi kalian selama ini, dia juga menerima jika kalian tidak bersama sampai kamu bersedia menerima kehadiran dia lagi di sisi kamu "
" Dia ridho dengan apa yang terjadi, dia pun ridho kemanapun langkah kaki kamu melangkah sehingga tidak akan ada dosa karena itu "
" Dia sudah menjanjikan itu, sehingga Abang tidak mampu menolak takdir yang Allah SWT tetapkan kepada kamu "
" Jika kamu merasa terluka, dan itu karena Abang maka hukum lah Abang, dik "
" Abang telah berdosa karena melukai hati kamu dengan tidak memberitahukan apa yang sesungguhnya "
" Abang merasa gagal melindungi kamu , dan anak-anak kamu "
" Abang gagal " ucap Azzam yang kali ini terlihat sekali mengeluarkan beban di hatinya yang selama ini dia pendam.
Membuat semua orang terdiam menyaksikan drama keluarga itu.
Aisyah masih menangis, dirinya sangat terkejut, tidak menyangka jika setelah bertahun-tahun dia merasa jika dirinya menyandang status janda, dan itu hanya menurutnya saja khayalan dia semata, yang pada kenyataannya dia masih berstatus kan seorang istri bagi Adhitama. Hal ini memang di luar logika, bagaimana ini bisa terjadi. Bukankah Adhitama tidak mencintainya, apakah ini dikarenakan sebegitu bencinya Adhitama kepada dirinya, sehingga membuat dirinya selalu terbelenggu di dalam genggaman Adhitama.
" Abang tidak bersalah "
" Bukankah harusnya sejak awal Ais yang meminta dia melepaskan Ais " ucap Aisyah yang menyeka air mata Azzam.
" Jangan menangis lagi, Ais tidak suka Abang menangis seperti ini karena Ais " ucap Aisyah
Aisyah berusaha menenangkan diri nya, mencoba berdamai dengan keadaan. Aisyah berusaha berdiri. Dia datang menghampiri Adhitama yang berdiri tidak jauh dari posisinya.
" Aku meminta belas kasih "
" Tolong lepaskanlah aku " ucap Aisyah yang bersimpuh di bawah kaki Adhitama. Kepala Aisyah mendongak ke atas menatap Adhitama berharap jika Adhitama melepaskan dirinya, namun yang terjadi Adhitama segera menurunkan tubuh jangkung nya tanpa melepaskan tatapan matanya dari Aisyah.
" Tidak "
" Bahkan sampai kematian ku, atau pun kematian kamu "
" Kamu akan selalu menjadi istri ku "
" Sungguh aku menyesali apa yang telah aku lakukan "
" Aku mohon maafkan kesalahan - kesalahan aku " ucap Adhitama mencoba membelai wajah cantik Aisyah yang tidak lekang di makan usia. Namun Aisyah memalingkan wajah nya, Aisyah menolak sentuhan dari Adhitama yang membuat Adhitama menelan kekecewaan, akan tetapi Adhitama memaklumi hal tersebut dikarenakan Aisyah pasti masih sangat terkejut dengan berita yang baru saja dia ketahui.
" Sebegitu bencinya kamu padaku " ucap Aisyah dengan sesegukan
" Tidak "
" Aku begitu mencintaimu, Ais "
" Sangat mencintai istriku " ucap Adhitama dengan lembut
" Isteri yang mana " ucap Aisyah dengan sarkas
" Aisyah Amora Lesham "
" Satu-satunya isteri yang sangat aku cintai " ucap Adhitama menatap wajah cantik Aisyah. Namun Aisyah tersenyum tipis dengan menyunggingkan bibirnya
Aisyah meraih telapak tangan Adhitama yang di pikiran Adhitama jika Aisyah memaafkan dirinya. Aisyah mengarahkan kedua tangannya Adhitama di leher Aisyah
" Nyawaku halal untuk kamu bunuh "
" Tidak ada satupun saudara-saudara aku yang akan menuntut balas atas kematian aku "
" Tidak pula dengan kedua anak-anak aku " ucap Aisyah dengan menatap serius wajah Adhitama.
Adhitama yang mendengar ucapan Aisyah segera menggelengkan kepalanya
" Tidak "
" Tidak seperti itu "
" Aku bersungguh-sungguh mencintaimu, Ais "
" Demi Allah SWT "
" Aku hanya mencintaimu, istri ku " ucap Adhitama berusaha melepaskan genggaman tangan Aisyah yang entah dapat kekuatan darimana bisa sekuat ini dan sekeras ini
" Oh iya " ucap Aisyah tersenyum namun terlihat senyum yang aneh menurut Adhitama, yang ternyata jemari Aisyah sembari menggapai pecahan vas bunga yang berukuran besar, namun sangat tajam.
Aisyah berhasil meraihnya, lalu dengan gerakan slow motion menancapkan pecahan tersebut ke arah batang leher tempat aliran darah arteri yang lebih tepatnya urat nadi leher ( arteri carotis ).
Tanpa kata Aisyah menggesekkan pecahan itu, membuat kedua bola matanya Adhitama melebar, ketika Aisyah berhasil menancapkan pecahan itu, namun gerakan refleks Adhitama membuat Aisyah gagal menekan lebih dalam pecahan vas bunga tersebut yang bisa memutuskan urat nadi arteri ( arteri carotis ) pada area leher.
Walaupun begitu luka sabetan pecahan vas bunga yang melukai Aisyah membuat darah mengalir menembus hijab yang dikenakan oleh Aisyah. Adhitama yang panik menekan area sabetan jangan sampai mengalir lagi, sehingga tangannya dipenuhi darah Aisyah.
Aisyah yang diperlakukan oleh Adhitama seperti itu menepis tangan Adhitama, dan berusaha meraih pecahan vas bunga lainnya dengan gerakan acak sehingga membuat tangan Aisyah terluka juga.
Adhitama dengan gemetaran menghalangi Aisyah dari perbuatannya yang sedikit impulsif, sedangkan saudari ipar Adhitama memberikan sapu tangannya untuk menekan luka Aisyah, sedangkan saudari ipar Adhitama yang lainnya segera mengikatkan kain yang aman pada tangan Aisyah, jangan sampai Aisyah berbuat nekad lagi
" Maafkan aku, Ais " ucap saudari ipar Aisyah
" Cepat bawa ke rumah sakit, Tama " perintah Idris. Mereka sama sekali tidak pernah menyangka jika menantu polosnya ini akan bersikap seperti ini. Tanpa mereka ketahui jika Aisyah beberapa waktu ini mengalami tekanan berat yang tidak pernah dia bagikan kepada orang lain. Tahu - tahu seperti ini pula jalan cerita kehidupannya. Kisah hidupnya terlalu menekan perasaannya sehingga Aisyah tidak memperdulikan lagi apa yang terjadi pada dirinya yang di diagnosis dokter tidak akan berumur panjang.
Adhitama langsung membopong tubuh istrinya yang terus saja memberontak. Ammar dan saudara lainnya berusaha meringsek masuk untuk mengambil alih tubuh Aisyah. Namun, Azzam menghentikan perbuatan saudara - saudara nya yang membuat Ammar memukul dinding ruangan hingga memar di buku-buku jemarinya
" Istighfar, bang " ucap Adnan melihat Ammar yang di kuasai emosi
" Abang sudah keterlaluan "
" Entahlah ! " Ucap Ammar dengan suara keras memandang wajah Azzam dengan tatapan mata penuh luka, kecewa, marah, dan sedih "
" Kurang sakit bagaimana adikku, bang "
" Kurang terluka bagaimana adikku, bang "
" Kali ini aku sungguh kecewa dengan keputusan Abang "
" Untuk kali ini, aku akan melihat apakah kesempatan ini dimanfaatkan baik oleh keluarga Bhalendra, oleh si brengsek Tama "
" Aku bersumpah atas nama Umma, Buya, atas nama Allah SWT "
" Darah Adhitama halal bagi ku, demi Allah aku rela jika mati ku seperti matinya Qobil "
" Aku pun rela di hisab atas dosaku membunuh si brengsek itu " ucap Ammar dengan lantang, yang belum pernah dia lakukan terhadap kakak laki-lakinya.
Untuk pertama kalinya Ammar kecewa dengan keputusan sang kakak laki-lakinya yang tega membiarkan Aisyah berada di genggaman Adhitama.
Ammar keluar dari ruangan yang diikuti oleh kedua saudaranya yang juga merasa kecewa dengan keputusan Azzam. Azzam terdiam, terpaku pada tempatnya berdiri, Azzam sedikit terhuyung ketika para saudaranya sudah berlalu pergi meninggalkan Azzam yang masih berada di dalam ruangan. Untung saja, Siti selalu berada di sampingnya.
Siti menuntun sang suami untuk duduk di kursi dan memberikan Azzam segelas air mineral untuk menetralisir gejolak di hati Azzam
" Kalian pulang lah "
" Suami kalian pasti telah menunggu kalian di lobby " ucap Azzam menundukkan kepalanya, menahan diri jangan sampai memperlihatkan kesedihannya, namun hal itu sia-sia saja, mereka semua bisa ikut merasakan kesedihan di hati Azzam, hal itu didapat dengan mengetahui dari nada suara Azzam yang bergetar
" Abang, maafkan suamiku, bang " ucap istri Ammar yang juga menahan tangisannya
" Bukan dia yang salah "
" Ini semua salah Abang, sampaikan permintaan maaf Abang padanya, dik " ucap Azzam yang masih menundukkan kepalanya
" kami pulang duluan yah, bang "
" Kak " pamit saudari ipar Azzam yang diwakili oleh istri Ammar. Siti dan Azzam menganggukan kepala. Siti merangkul satu persatu saudari - saudari ipar nya
" Kita sholawat agar semua baik-baik saja "
" Kakak jangan khawatir, insyaallah kami akan membujuk suami kami untuk dapat menerima semua keputusan yang sudah diamanatkan Umma kepada Abang dan kakak " ucap salah satu istri adiknya Azzam. Dan Siti kembali menganggukkan kepalanya saja sebagai tanda mengerti dan mengiyakan apa yang di sarankan oleh saudari ipar nya.
Kepergian Adhitama di ikuti beberapa adik-adiknya Adhitama sebagai bentuk solidaritas saudara. Hanya saudara bungsu Adhitama yang masih berada di dalam ruangan, untuk menjaga sang ibu dan para isteri - isteri yang suaminya membantu Adhitama.
Sultan Bhalendra menyayangkan pertemuan ini bisa menjadi seperti ini. Padahal dia sangat mengharapkan jika pertemuan ini menjadi titik terang dari perpecahan dua keluarga. Sultan Bhalendra menatap sendu wajah Azzam yang sudah menundukkan kepalanya.
" Azzam " ucap Sultan Bhalendra
" Iya, Paman " ucap Azzam dengan suara sendu
" Maafkan aku, karena keinginan aku "
" sampai - sampai kamu di musuhi oleh saudara-saudara kandung kamu " ucap Sultan Bhalendra dengan menundukkan kepalanya
Azzam mengangkat kepalanya, dan memberikan senyuman tipis yang dapat di lihat oleh Sultan Bhalendra
" Mereka hanya terkejut saja dengan kenyataan yang selama ini aku sembunyikan
Berjalan dengan waktu, mereka nanti akan menerima hal ini "
" Seperti Paman, aku pun menjalankan amanah dari Umma dan Buya " ucap Azzam
" Terimakasih, Azzam "
" Kamu anak yang berbakti, mereka di sana pasti sangat bangga kepada kamu " ucap Sultan Bhalendra yang bangga dengan cucu dari sahabatnya memiliki putra seperti Azzam, tidak seperti cucunya yang sampai sekarang tidak bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri. Bahkan membuat hubungan silaturahmi dengan keluarga sahabatnya retak seperti ini. Andaikan saja bisa mengulang kembali waktu, dia tidak akan menikahkan Idris dengan Malika yang memiliki perangai yang buruk, dia tidak akan menyetujui pernikahan cicitnya dengan Aisyah.
Padahal anak dari cucunya yang lain, lebih mencintai Aisyah daripada Adhitama. Namun, entah kenapa cicitnya itu memilih mundur daripada memperjuangkan cintanya, bahkan memilih untuk tidak tinggal di negara ini karena patah hati setelah menyaksikan pernikahan Aisyah dengan sepupunya.
Baik Sultan Bhalendra maupun Azzam memutuskan untuk menunda pertemuan ini. Dan merencanakan kembali pertemuan yang kali ini akan dilakukan setelah semua kembali kondusif, dan semua orang bisa bersikap dewasa dalam pertemuan selanjutnya.
Azzam yang mengkhawatirkan kondisi adiknya segera menuju ke rumah sakit yang menjadi tempat rujukan Aisyah. Di sana Azzam melihat adiknya tertidur dengan lelap. Hijab yang membungkus puncak kepalanya sudah tidak terpasang sehingga memperlihatkan warna rambut hitam pekat. Wajah cantik Aisyah semakin sempurna.
" Bagaimana, Ais " ucap Azzam tanpa memalingkan wajahnya dari wajah sang adik
" Dokter memberikan obat penenang agar Aisyah lebih tenang " ucap Adhitama dengan tenang
" Tinggalkan Aisyah bersamaku, biarkan aku yang akan menjaga Ais" ucap Azzam yang membuat Adhitama terdiam di tempatnya
" Bang "
" Izinkan aku bersama istriku, biarkan aku saja yang akan memberikan Aisyah penjelasan "
" Tama pikir, mungkin inilah saatnya Tama menjelaskan semuanya "
" Tolong berikan Tama kesempatan untuk memberikan penjelasan dan meyakinkan Aisyah " ucap Adhitama dengan sangat santun membuat Azzam tersentuh. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Adhitama jika Aisyah dan Adhitama perlu berbicara untuk kelanjutan kisah cinta mereka. Azzam tidak ingin status Aisyah seperti digantung seperti ini. Adiknya berhak bahagia.
Azzam segera berdiri dari duduknya setelah mengecup wajah adiknya yang masih terlelap tidur.
" Adikku halal untukmu, namun bagiku tidak "
" sebelum kamu menikahi adikku kembali "
" Berusahalah untuk meyakinkan Aisyah, karena dia rapuh akan masa lalu yang telah kamu lukis dengan buruk pada ingatannya "
" Aku memberikan kamu kesempatan, bukan berarti aku membuka jalan untuk kamu menyakiti dirinya lagi, bukan untuk itu "
" Seperti apa yang dikatakan oleh Ammar , jika darah kamu halal untukku jika kamu mengulangi kembali kesalahan kamu "
" Dan itu, merupakan sebuah tanda perang Lesham untuk keluarga Bhalendra " ucap Azzam dengan tegas menatap manik mata Adhitama.
Adhitama yang mendengar kalimat yang terucap di bibir Azzam tidak gentar sama sekali dengan apa yang telah diucapkan oleh Azzam, karena sejak awal dia sudah bertekad untuk tidak akan mengulangi kesalahannya seperti di masa lalu. Baginya Aisyah dan anak-anaknya adalah poin terpenting dalam hidupnya. Adhitama tidak ingin lagi terjebak pada rasa cemburu buta yang membuat dia tidak bisa melihat dengan baik mana yang direncanakan oleh orang mana yang sesungguhnya. Sehingga membuat dirinya masuk dalam jebakan orang-orang yang menginginkan dia terpisah dengan keluarga kecilnya.
Tekad itu sudah mengakar di sanubari Adhitama untuk tidak akan pernah terjadi lagi, Adhitama tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, tidak, sekali tidak akan tetap tidak, dan tidak akan berbuat kesalahan yang lainnya yang mungkin bisa melukai istri dan anak-anaknya.
Setelah beberapa waktu kemudian, Siti mengajak Azzam untuk pulang lagipula hari sudah semakin larut malam . Bukan hanya Aisyah yang membutuhkan istirahat mereka pun sama, yang kemudian Azzam dan Siti berpamitan pulang dengan Adhitama, setelah beberapa kalimat nasihat dari keduanya untuk Adhitama terapkan.
Siti selalu menjadi seorang support system bagi suaminya dimana dia selalu hadir untuk membantu Azzam dalam melewati fase pahitnya kehidupan, selalu mendukung Azzam dari belakang, dan siap membantu Azzam ketika Azzam berada di tengah kesusahan.
Siti juga selalu membantu Azzam ketika Azzam sedang dalam kondisi down ( merasa terpuruk ) seperti malam hari ini, Siti sama sekali tidak meninggalkan Azzam yang berada dalam fase yang sulit, maupun tersulit kehidupan. Siti berkata pada suaminya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Aisyah, apalagi tadi mereka sudah berbicara langsung dengan dokter bagaimana kondisi Aisyah saat ini. Walaupun mereka berdua tidak menjaga Aisyah ada Adhitama yang akan memberikan mereka kabar mengenai Aisyah. Lagipula besok hari mereka akan datang kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Aisyah.
*
*
*
*
🌺🌺