
πππππππππππππ
Zhafira segera naik ke atas panggung yang diikuti oleh ke-enam sahabatnya, tidak untuk Zhidan karena merasa tidak nyaman saja berdiri bersama para perempuan, kecuali jika hanya Zhafira saja yang naik ke atas panggung maka sudah pasti Zhidan akan berdiri tepat di samping Zhafira. Zhidan hanya mengantarkan Zhafira sampai di tepi panggung. Sekali lagi Zhafira memberikan kecupan pada sang adik yang membuat sorak sorai suara penonton bergemuruh, karena tingkah laku mereka membuat mereka merasa iri, potek lah hati Abang melihat sikap Zhafira terhadap Zhidan yang terkesan penuh kasih sayang.
Satu persatu gadis cantik ini naik ke atas panggung yang membuat gemuruh tepuk tangan menghiasi perjalanan mereka menuju ke atas panggung. Apalagi ketika para gadis sudah memberikan hormat pada semua penonton yang memandang wajah - wajah cantik mereka dengan begitu bersemangat.
Wah, aura para gadis keluarga high class memang berbeda, mereka begitu nampak sangat menawan dengan style mereka masing-masing. Terlihat dari cara mereka berjalan saja membuat pandangan mata pria-pria disini malas untuk berkedip barang sebentar saja. Karena mereka semua berjalan dengan sangat khas padahal mereka bukanlah seorang model yang sudah terbiasa berlengak- lengok di atas stage.
Fauziah mewakili Zhafira untuk berbicara di atas panggung, mengucapkan kalimat terimakasih atas trofi yang diberikan kepada mereka bertiga malam hari ini, dan sejumlah uang yang akan mereka donasi kan ke salah satu rumah panti asuhan yang membutuhkan perhatian, karena tidak semua panti asuhan memiliki hunian yang layak untuk itulah acara ini diadakan, selain untuk menghibur, mereka juga menjadikan acara ini untuk acara amal, sehingga dapat memanfaatkan hasilnya untuk didonasikan pada orang- orang yang membutuhkan, bukan untuk masuk ke rekening pribadi.
Fauziah masih mengucapkan beberapa kalimat yang bermanfaat menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, Fauziah juga menyampaikan ucapan terimakasih atas kehadiran para kerabat sehingga acara malam hari ini dapat terselenggara dengan sangat baik juga meriah apalagi hadiah yang didapatkan luar biasa besar nominalnya.
Jika Fauziah sibuk menata kalimat yang dia sampaikan, maka para sahabat Fauziah yang lain, mulai sibuk mempersiapkan alat musik yang akan mereka pegang. Untuk Zhafira, dia sudah mulai latihan vokal bersama Liliana yang akan menjadi vokalis bersamanya. Membagi part mereka masing-masing. Untuk posisi Liliana sebenarnya menggantikan Anggie yang biasanya menjadi vokalis, namun dikarenakan Anggie kangen merasakan drum, sehingga Anggie langsung saja menduduki posisi drum, dan mulai melakukan pemanasan yang membuat Liliana mengacungkan jari tengahnya dan Anggie tidak peduli dengan hal itu. Anggie asyik dengan dunianya begitu pula dengan Inez dan juga Queen yang sudah asyik mengatur alat musik yang mereka mainkan .
Zhafira yang sudah mulai berkoordinasi dengan Cleo mengenai part yang memang sedikit sulit ditaklukkan oleh mereka saat itu, walaupun mereka bisa namun ada rasa takut jika membuat penampilan mereka tidak optimal malam hari ini seperti saat mereka tampil saat itu.
Zhafira mulai melakukan intro ketika Fauziah menyelesaikan pidatonya, Fauziah bahkan sudah berdiri di depan keyboard dan mulai seperti Inez, karena Queen akan mengunakan bass sebagai alat musik yang akan dia gunakan sama seperti sebelumnya pada waktu mereka menjadi salah satu kontestan ajang musik di masa itu.
Zhafira menyampaikan ucapan terimakasih, dan juga beberapa kalimat penutup acara malam hari. Beberapa guyonan diucapkan oleh Zhafira untuk menarik perhatian dari penonton mereka malam ini.
Secara garis besar, malam hari ini formasi mereka dalam band Zhafira akan menjadi vokalis bersama Liliana yang ahli dalam musik yang bergenre rap sama seperti Anggie, yang terkadang mereka berdua berganti posisi saja. Untuk Inez sendiri yang memiliki kemampuan yang bisa mengunakan segala alat musik, sama seperti Zhafira, Queen,dan Anggie mengambil gitar untuk dia mainkan bersama Queen yang lebih memilih sebagai bassis. Untuk Cleo sendiri dia akan berperan sebagai DJ dan turntable, sedangkan untuk keyboard, dan sampling akan dipegang oleh Fauziah.
Dan dikarenakan lagu yang dibawakan oleh Zhafira malam hari ini bergenre metal rock, maka tidak ada seorang pun yang mau mengambil posisi Zhafira sebagai vokalis. Dengan alasan sakit tenggorokan setelah selesai bernyanyi.
Mau tidak mau Zhafira akan tampil malam hari ini, toh ini hanyalah ajang seru- seruan saja, penonton nya pun hanya dari kalangan keluarga mereka, tidaklah masalah bukan jika dia tampil dengan aku nya Zhafira dalam bermusik.
Aliran musik ini sebenarnya diperkenalkan oleh Zhayn, yang saat itu mendirikan group band bersama para sahabatnya, termasuklah Maxwell yang mampu memainkan hampir semua alat musik, sama seperti Zhayn. Itulah cikal bakal Zhafira mampu memainkan alat musik, sang kakak selalu menularkan ilmu yang dia miliki untuk dikuasai oleh adiknya juga.
Petikan gitar elektrik mulai terdengar, bersahutan dengan suara yang dihasilkan dari alat yang dipegang oleh Cleo dan Fauziah. Dari sini, mereka paham judul lagu apa yang akan dinyanyikan oleh Zhafira meskipun Zhafira tidak mengatakannya. Semua orang tertarik untuk mendengarkan suara dari dua vokalis ini.
Ah, pecah, sumpah demi Patrick suara Liliana dalam nge' rap membuat orang berdecak kagum. Tidak lama kemudian terdengar suara Zhafira yang kali ini sedikit berat. Kenzie tidak habis pikir jika Zhafira tidak hanya bisa menyanyikan lagu yang biasa, karena untuk jenis musik rock ataupun metal biasanya harus memiliki suara berat, dan tinggi.
Dan ternyata Zhafira pun mampu menaklukkan lagu dari group band L* P* yang terkenal dengan vokalis tampannya yang sudah meninggal karena B*D* tanpa tahu apa yang menjadi penyebab pastinya. Dua lagu dimainkan, dan diakhiri dengan lagu yang berjudul faint, dimana Zhafira membanting microphone atas ide Queen.
Apik sekali acara penutupan malam hari ini, Zhafira yang tadinya serius melakoni perannya, harus tersadar ketika Lukman mengendong Zhafira ala bridal dengan memutarkan tubuh Zhafira. Yang tentu saja Zhafira sangat senang sekali, Zhafira bahkan tertawa dengan renyah akan perbuatan sang kakak sepupu.
" Sumpah "
" Eerg..... Pecah banget "
" Anj* , Abang sampe nggak bisa ngomong... Bagus banget " ucap Lukman, sedangkan Zhafira hanya tersenyum saja ketika kalimat pujian diucapkan oleh sang kakak.
" Ck "
" Adiknya siapa dulu dong " ucap Zhafira dengan jumawa yang mendapatkan gelak tawa Lukman.
Jika acara ajang pencarian bakat ala - ala mereka sudah selesai, tidak untuk acara party nya. Night party masih berjalan sepanjang malam. Namun tidak untuk Zhafira dan Fauziah yang sudah bergegas masuk ke dalam villa utama dikarenakan mereka belum melaksanakan ibadah sunnah malam. Lagipula Fauziah memang sudah mengantuk sejak tadi, hanya saja dia masih menghargai para sahabatnya apalagi ketika penutupan acara lomba mereka harus tampil dalam formasi band yang pernah jaya di masanya.
Zhidan memilih untuk pergi bersama sang kakak, nanti di persimpangan dia akan menuju ke dalam villa dimana dia akan menginap. Namun, Zhidan sudah terlebih dahulu di cekal oleh Lukman ketika baru saja hendak beranjak dari posisi sebelumnya.
Zhidan tidak suka, dan tidak nyaman bersama para sepupunya, karena bersikap manis dengan orang yang menyakiti keluarga nya, Zhidan bukanlah orang yang bisa seperti itu. Dia pasti merespon buruk terhadap orang-orang itu.
Zhidan mengepalkan kedua telapak tangannya ketika Lukman mengucapkan kalimat yang tidak dia sukai, hanya saja Zhidan menahan diri untuk bersikap dan berkata-kata kasar dikarenakan ingat pesan sang kakak sebelum dia naik ke atas panggung. Jika dirinya harus berdamai dengan masa lalu demi masa depan. Demi kesehatan mentalnya, yang jika terus menerus menyimpan luka hanya akan mendapatkan mental illness saja.
" Tidak kah kamu merindukan kami, Zhi " tanya Ameer yang umurnya lebih tua satu setengah tahun di atas Zhidan
" Lumayan " sahut Zhidan dengan malas
" Eh, bang " ucap Ameer yang segera berdiri dari posisi sebelumnya, saat melihat kedatangan Kenzie
" gabung aja, bang " ajak Ameer yang awalnya hanya sekedar basa-basi namun Kenzie tanpa malu, duduk diantara mereka yang notabenenya keturunan Bhalendra.
Sedangkan Malik dan Faiz yang juga sepupu Zhidan nampak malu- malu untuk mengajak Zhidan berbincang dikarenakan Zhidan tidak memberikan respon yang baik padahal umur mereka tidak terlalu jauh yang bahan perbincangan mereka bisa saja satu server. Mereka tahu mengapa Zhidan bersikap seperti ini, apalagi sudah sangat lama sekali mereka tidak bertemu dengan Zhidan. Jika diingat- ingat mungkin sudah hampir dua belas tahun lebih Zhidan dan Zhafira menarik diri dari keluarga Bhalendra sejak kejadian di masa lalu.
Kenzie mengamati sikap Zhidan yang tidak sehangat ketika dia dan para sahabatnya mengajak Zhidan berbincang. Zhidan bisa mengikuti arus pembicaraan walaupun umur Zhidan masih tergolong sangat muda. Pembawaan Zhidan yang tenang, sangat jauh berbeda dengan Zhafira yang sering kali terkesan humble dan mudah akrab dengan orang yang baru Zhafira temui.
Karakter seseorang tidak ditentukan oleh hubungan darah, sangat wajar jika mereka berdua berbeda dalam bersikap dan berpikir. Hanya saja terkadang karena dekatnya seseorang biasanya mempengaruhi sikap seseorang.
Obrolan masih mengalir sampai larut malam, walaupun sebenarnya Zhidan terlihat malas dan enggan untuk berkumpul dengan keluarga sang ayah, namun demi menghormati dan menghargai apa yang dikatakan sang kakak, Zhidan menurunkan egonya kali ini yang harus bersikap baik pada para sepupunya
" Kakek sangat merindukan kamu, Zhi "
" Begitu pula dengan nenek " ucap Malik dengan sangat pelan dan hati-hati
" Hm, nenek kembali di rawat dua hari yang lalu di " ucap Malik lagi, namun belum selesai Malik berucap Zhidan segera berdiri dari posisi sebelumnya yang meninggalkan orang-orang yang masih berkumpul di sana. Peduli setan bagaimana pendapat orang tentang sikapnya, Zhidan terlalu malas untuk melanjutkan basa- basi yang sangat menyebalkan baginya. Apalagi Malik menyebutkan orang yang telah menghancurkan keluarga nya, Zhidan merasa jijik untuk harus duduk bersama keluarga Bhalendra. Masa lalu masih begitu lekat di ingatannya, apalagi ketika Malika menghinakan ibunya, ketika pengusiran di mansion yang Adhitama beli untuk keluarga kecilnya.
Tidak, Zhidan tidak mau berurusan dengan keluarga Bhalendra ini lagi, terlalu menyesakan hatinya masih terlalu sakit. Apalagi Zhidan mendengar dengan jelas, siapa orang yang menyebabkan kematian sang Abang. Terpuruknya Zhafira yang masih memakai baju sekolah berlumuran darah sang Abang. Hampir satu hari Zhafira tidak mau menganti pakaian dan membersihkan tubuhnya, jika tidak dipaksa oleh petugas medis.
Tidak, Zhidan tidak sebaik itu mengampuni orang yang menyakiti keluarga nya, walaupun dia memaafkan, namun kenangan itu mengikat setiap langkahnya. Bukan dendam, hanya saja ingatan itu seakan-akan selalu terdistorsi dengan sendirinya.
" Maafkan aku, bang " ucap Malik dengan sendu, menundukkan kepalanya. Ameer memberikan tepukan di pundak Malik seakan-akan mengatakan jika itu bukanlah kesalahannya.
" Bagaimana kabar nyonya Hutama " tanya Kenzie pada Lukman dan didengar oleh para sepupu lainnya
" Hm "
" Seperti itulah, bang " jawab Lukman mewakili para sepupunya
" Aku hanya mencemaskan nenek. Kondisinya sangat buruk. Dia tenggelam dalam penyesalan yang dalam " ucap Malik dengan frustasi
" Bukankah itu kesalahan nenek sendiri " ucap Darvesh dengan sarkas, karena dia lebih memihak Zhidan dan Aisyah yang memilih untuk pergi dari kehidupan bersama keluarga Bhalendra
" Vesh "
" Jaga ucapan kamu " tegur Arash yang seumuran dengan Kenzie
" Sudah akhiri saja pembicaraan tentang keluarga kita " ucap Arash yang tidak ingin Kenzie mendengar keburukan keluarga
" Aku akan mengajak Zhidan atau Zhafira menemui nyonya Hutama. Jika bisa keduanya akan aku usahakan. Jika tidak, yah, hanya salah satunya " ucap Kenzie yang setelah itu menyesap minumannya
" Ah "
" Jangan katakan jika sebenarnya kamu " ucap Arash yang langsung dijawab Kenzie dengan kata " iya "
" Mustahil "
" Bukankah Zhaza sangat selektif, bahkan hingga sampai saat ini belum ada yang bisa mengkhitbah Zhaza " jawab Arash yang meragukan ucapan Kenzie
" Berikan saja restu untukku "
" Apalagi jika aku berhasil membawa Zhafira bertemu dengan nyonya Hutama, bagaimana ? " Tanya Kenzie
" Ah, mustahil "
" Jangankan restu. Aku akan memberikan salah satu pulau milikku di * jika memang kamu berhasil menikahi adikku itu "
" Apalagi dengan yah....
Tidak mungkin Tante mengizinkan kamu menikahi adikku itu "
" Dan ingat, Zhaza masih dibawah perlindungan Bhalendra "
" Meskipun kami melakukannya tidak secara terang-terangan seperti yang pakde Azzam lakukan " ucap Arash yang tidak suka jika Zhafira sampai berhasil dinikahi oleh Kenzie. Karena Arash sedikit banyak tahu sepak terjangnya Kenzie yang tidak tampil di publik.
" Secara perlahan-lahan Aku sudah memperbaiki diri. Bukankah Allah SWT saja maa pemaaf, dan mensucikan dosa- dosa hambaNya yang bertaubat " ucap Kenzie yang kali ini secara langsung menyatakan bahwa dirinya akan berjuang demi mendapatkan Zhafira.
Bukankah cepat atau lambat, dia akan berhadapan dengan keluarga besar Bhalendra yang tidak akan mudah bagi Kenzie mendapatkan restu. Minimal Kenzie sudah mulai mencicil, agar dia mendapatkan restu
" Tidak perlu dipertemukan, bang "
" Tidak penting juga "
" Bagiku kebahagiaan kakak adalah yang paling utama " ucap Darvesh yang lagi-lagi kalimat sarkas yang keluar dari bibirnya. Darvesh memang masih sangat kecil ketika insiden itu terjadi sama seperti Zhidan. Namun secara perlahan-lahan Darvesh tahu alasan apa yang menyebabkan teman sepermainannya sekaligus sepupunya itu bersikap seperti ini.
" Bagaimana jika kebahagiaan Zhafira adalah melihat orang-orang yang dia sayangi bahagia. Bukankah Zhafira seluas dan sebersih itu hatinya " ucap Kenzie yang membungkam semua orang yang ada di sana
" Sudahlah, mana baiknya saja "
" Jika Zhafira mengetahui jika nenek kalian saat ini dirawat pasti tanpa diminta, dia akan mendatangi neneknya yang menyebalkan itu " ucap Inez yang tidak menyalahkan dan tidak membenarkan ucapan Kenzie. Memang begitulah Zhafira selalu luluh bahkan jika itu musuhnya sekalipun.
*
*
*
*
*
*
πΊπΊ