
πππππππππππππππ
Tamu yang baru saja datang ke kamar rawat inap Zhafira adalah seorang pria paruh baya yang dikenal oleh Liliana membuat Liliana langsung bersikap hormat pada Ibrahim. Ibrahim menerima perlakuan Liliana dan para sahabat Liliana lainnya yang ternyata mengenal sosok Ibrahim yang merupakan klien, dan juga sahabat dari orang tua mereka, kecuali Fauziah yang bisnis keluarga nya tidak sehebat itu bahkan mengenyam pendidikan pun dia dapatkan dari program beasiswa. Dan memang sepintar itu Fauziah yang bisa dikatakan satu level dengan Zhafira, hanya saja Zhafira tidak bisa melanjutkan pendidikan dikarenakan banyak faktor.
Ibrahim memerintahkan beberapa orang untuk menyajikan menu makanan siang di meja makan yang entah sejak kapan ukuran meja makan itu semakin panjang saja, untungnya ruangan ini sangat besar, begitu pula dengan ruangan bagian dalam tempat Zhafira di rawat inap.
" Hm "
" Kami juga sudah memesan menu makan siang, paman " ucap Cleo tidak enak hati
" Yah, di gabung aja, tidak apa-apa, kan " ucap Ibrahim yang membuat beberapa sahabat Zhafira menahan tawanya
" Uncle "
" Kami sih nggak masalah, tapi tuh " Inez menunjuk ke arah Fauziah yang membuat Fauziah menundukkan kepalanya
" Kenapa ? " Tanya Ibrahim
" Zia sama Zhaza si calon menantu paman tuh satu circle. Mereka tidak suka dengan makanan yang mubazir "
" Lihat saja, nanti ketika dia lihat makanan sebanyak ini, belum lagi nanti pesanan yang Anggie pesan datang, ngereog pasti dianya " ucap Liliana dengan sedikit tertawa
" Ah "
" Kita lihat dulu, bagaimana reaksi calon menantu paman. Masa iya, dia nggak ada ja'im, ja'im nya dengan paman " ucap Ibrahim yang sudah merasa penasaran sikap Zhafira nantinya.
Ibrahim mengetuk pintu rawat inap Zhafira bagian dalam, di sana sang istri sudah mulai berdiri sambil meletakkan jari telunjuk ke tengah bibirnya, agar sang suami tidak bersuara, karena Zhafira sempat tertidur dan agak absurd ketika Anggie ikut tertidur di ranjang pasien
" Itu " ucap Ibrahim berbisik
" Iya, Daddy sudah datang, kita keluar aja "
" Mommy mau lihat apa aja yang Daddy bawa " ucap Amanda sembari mengajak sang suami keluar, agar tidak menganggu Zhafira yang tertidur di dekap oleh Anggie
" Kenapa keluar, Aunty"
" Sudah kagak nahan, lihat kelakuan nona muda Clarke " kekeh Cleo, membuat Amanda tertawa.
Karena ternyata bukan isapan jempol, jika putri tuan Clarke begitu protective terhadap putri Adhitama. Bagaimana ini, sang putra juga memiliki gejala yang sama untuk segala sesuatu yang berada di area teritorial miliknya. Tidak terbayangkan oleh Amanda, akan terjadi bentrokan
" Belum lagi adiknya Zhaza, Aunty "
" Lebih baik berpikir ulang untuk menjadikan Zhaza calon menantu keluarga Abrisham " ucap Inez yang sedikit serius
" Wah "
" Kalau untuk itu, nggak ada tawar-menawar lagi. Itu fixed milik keluarga Abrisham " ucap Amanda dengan tegas membuat sahabat Zhafira tertawa
" Welcome to jungle, Aunty " ucap Liliana tertawa renyah
" Kamu bangunin Zhaza, Zia "
" Tadi dia habis minum obat. Kayaknya ada efeknya, dia sudah lama tertidur tuh. Bukankah dia mau sholat siang " ucap Cleo
" Sholat zhuhur, bukan sholat siang iih kamu Cleo ada- ada aja " ucap Fauziah lalu berdiri setelah menyimpan file nya
Fauziah masuk ke bagian dalam ruangan, membangunkan Zhafira dengan hati-hati, karena tidak mau membangunkan Anggie yang masih tertidur.
Lalu Zhafira dan Fauziah mengambil wudhu, dan melaksanakan kewajibannya, lalu membaca kitab suci sebentar yang hanya mentahsinkan sebentar, karena waktu makan siang sudah terlewat beberapa waktu. Mereka harus memikirkan para sahabatnya yang nonis.
Astaghfirullahaladzim adalah kalimat pertama kali yang Zhafira ucapkan ketika melihat di atas meja makan dipenuhi dengan lauk pauk makan siang. Belum lagi di meja lainnya. Zhafira sampai menggaruk dahinya. Sahabatnya ini sungguh keterlaluan, bukankah dia dan Fauziah mengatakan tidak boleh bersikap berlebihan, apalagi dengan makanan.
" Gie " Zhafira menatap Anggie menanyakan mengapa seperti ini, dia tidak melihat jika ada sepasang suami-isteri paruh baya menatap dirinya dengan penasaran
" Bukan aku " ucap Anggie dengan entengnya.
Zhafira hanya menggelengkan kepalanya, dan benar adanya jika Zhafira ngereog dan setelah Fauziah memilah makanan yang mana mereka mau makan dan tidak, yang mana terlalu banyak untuk separuhnya diberikan pada perawat jaga, setelah itu Zhafira menggapai ponselnya di dalam saku baju khas pasien rawat inap, lalu men-dial kontak salah satu bodyguard yang selalu menemani. Zhafira meminta Ali untuk naik ke lantai atas tempat rawat inap, dan menyantap makan siang bersama, tidak lupa dia berpesan agar mengajak bodyguard yang ada di depan rawat inap Zhafira, karena Zhafira tahu jika ada dua orang yang berjaga, namun tidak tahu atas perintah siapa.
Ali suka- suka saja, malah dia merasa bangga, karena Zhafira tidak pernah lupa mengajak Ali
" Jangan terlalu berlebihan, nona hanya bersikap baik. Bukan hanya tertuju padamu saja, tapi pada semua orang termasuk aku. Hentikan perasaan luar yang hadir di hatimu, agar tidak terlalu sakit ketika perasaan itu tidak berbalas " ucap Yoyok yang berjalan beriringan dengan Ali. Namun Ali kadung cinta, ucapan Yoyok tidak mau dia dengar, sungguh dia tidak bisa menahan perasaan yang tumbuh dengan sendirinya itu untuk tidak terus berkembang. Ali merasa masih bisa menyimpan perasaan itu dengan baik.
Ali mengajak kedua pria yang duduk di depan pintu ruangan rawat inap Zhafira, dengan tegas mereka menolak, namun ucapan Yoyok membuat mereka pasrah, mereka takut jika sampai tuan mereka mengetahui jika mereka meninggalkan pos penjagaan, nyawa mereka dipertaruhkan disini, namun menolak juga hasilnya sama.
Zhafira kembali menggaruk puncak kepala yang tertutup hijab ketika baru menyadari jika ada sepasang suami-isteri paruh baya, yang entah kenapa sejak kemarin ada di sini menemaninya. Zhafira terlalu lelah berfikir siapa mereka, yah sudah namanya tamu berkunjung, yah di sambut dan dilayani, itu salah satu attitude di negeri ini, bukan.
Beberapa duduk di meja, karena mereka terbiasa dengan table manner, seperti Cleo, Queen, Inez dan sepasang suami-isteri paruh baya ini, sedangkan yang lainnya memilih untuk duduk lesehan bersama lainnya, walaupun ruangan masih cukup besar, Zhafira ingin saja duduk makan khas pribumi yang lebih merakyat, dan dengan suasana lebih kekeluargaan.
Sesekali mereka makan dengan bercerita, termasuk Ali dan Yoyok. Kedua bodyguard lainnya saling lirik, mereka tidak menyangka begini karakter perempuan yang akan menjadi nyonya mereka. Dalam hati mereka sangat bahagia, ternyata sang tuan sangat pintar memilih calon isteri.
Bagaimana makan siang, begitu pula makan malam. Yang berbeda kali ini kehadiran Kenzie yang membuat Zhafira mengernyitkan dahinya, " Ah, putra dari pasangan suami-isteri paruh baya ini " , Zhafira hanya berfikir seperti itu, harusnya Zhafira menangkap maksud kedatangan pria ini, namun Zhafira terlalu polos untuk urusan percintaan, kecuali orang tersebut menyampaikan maksud dan tujuannya, maka Zhafira pasti berbeda sikapnya.
Zhafira bahkan tidak melihat perubahan sikap dua bodyguard yang duduk makan bersama dia, seperti Yoyok, Ali, dan lainnya
" Kenapa, kurang enak lauknya " tanya Zhafira ketika melihat wajah kedua bodyguard ini terlihat kesulitan menelan makanan, bahkan sungkan untuk makan, tidak seperti siang tadi, yang mana mereka makan dengan asyiknya.
" Ah... i- itu " ucap salah satu bodyguard dengan tergagap.
Zhafira dengan entengnya memberikan satu botol air mineral ke arah bodyguard, memberikan mereka masing-masing satu botol
" Seret yah, minum gih " ucap Zhafira yang membuat kedua pria itu gemetaran, karena Kenzie menatap wajah mereka berdua dengan tatapan yang mematikan
Cleo berusaha untuk tidak tertawa, karena dia tahu mengapa kedua pria ini bersikap seperti ini,
" Mengapa kamu menurunkan suhu ruangan, Lily " tanya Zhafira yang langsung memeluk tubuhnya ketika suhu semakin turun
" Ah, hareudang "
" Zha " ucap Liliana dengan tertawa
" Masa "
" Oh, hanya aku yang kedinginan yah " ucap Zhafira dengan polosnya
" Ada yang panas, tapi bukan kompor ini " ucap Queen yang sedang menikmati menu makan yang berkuah lengkap dengan kompor listrik agar panasnya terjaga
" Iya "
" Ada yang terbakar, tapi bukan kayu bakar " Inez ikut berucap
Sedangkan semua orang menahan tawa mereka ketika melihat raut wajah kesal Kenzie,
" Ayo, dimakan , bang " ucap Zhafira dengan ramah menambah percikan api itu semakin membara.
Anggie dengan santainya menyuapi Zhafira dan kemudian menyuapi dirinya dengan satu sendok, yang membuat Kenzie semakin meradang. Makan malam ini, membuat suasana hati Kenzie semakin buruk. Ibrahim dan Amanda hanya bisa tertawa kecil
" Daddy "
" Mommy "
" Makan yang banyak, maafkan saya, menu nya seadanya " ucap Zhafira dengan menyunggingkan senyuman
" Ah, ini luar biasa "
" Sesekali menikmati menu makan seperti ini, dan ternyata menyenangkan makan dengan banyak orang " ucap Amanda
" Ah, iya "
" Pakde mengajarkan kami untuk selalu makan bersama. Itu lebih menyenangkan, maafkan aku yang tidak bisa memilih untuk duduk bersama kalian " ucap Zhafira lagi. Yang sama seperti sebelumnya, Zhafira lebih nyaman makan bersama, duduk lesehan sembari bercerita bukan konsep fine dining ataupun table manner seperti pada umumnya di kelas mereka. Zhafira tidak mau, Ali dan lainnya merasa dibedakan. Lebih baik dia bersama Ali dan lainnya, toh di meja makan sudah ada Cleo dan lainnya yang mewakili Zhafira
" Dia terlalu merendah "
" Terlalu merakyat, Hm saya harap uncle dan aunty tidak tersinggung " ucap Cleo dengan serius. Karena sedikit banyak Cleo tahu maksud tujuan Ibrahim dan Amanda, apalagi Kenzie yang meluangkan waktunya hanya untuk sekedar makan malam di rumah sakit yang tentunya tidak senyaman makan di restoran.
" Ah , tidak masalah "
" Aunty semakin yakin dengan pilihan kami. Hanya saja, bisakah anak aunty mengikuti style calon menantu kami " ucap Amanda yang sudah menyelesaikan makan malamnya
Kenzie hanya terdiam saja, sama sekali tidak berkata apa-apa, dia masih terlalu shock ketika melihat Zhafira tertawa lepas ketika Yoyok bercerita kisah lucu. Anggie pun tersenyum samar, dan memang selucu itu, dua bodyguard yang diperintahkan oleh Kenzie pun ikut tertawa, mereka lupa jika Kenzie berada di sini. Ibrahim tidak tahu harus bagaimana, ketika melihat wajah Kenzie yang sudah memerah menahan marah akibat cemburu buta.
Zhafira secara terang-terangan menyapa mereka dengan sapaan akrab yang sama seperti Ali dan Yoyok " Abang ". Dan itu membuat Kenzie memikirkan sapaan lain untuk dirinya kelak, dia tidak mau lagi di sapa Zhafira dengan sapaan itu. Yang diawal kenalan, Kenzie merasa bangga Zhafira begitu hormat dengan dia, menyapanya dengan lembut dengan kata " Abang '.
Tidak, Kenzie tidak mau lagi menerima jika Zhafira memperlakukan dirinya sama seperti pria lainnya.
Makan malam yang cukup menyenangkan bagi Zhafira seperti biasanya, namun sedikit menyimpan sedih dikarenakan tidak ada sekalipun ibundanya datang membesuk, apakah sebegitu bencinya sang ibu akan dirinya. Zhafira berusaha untuk menyimpan rapat kesedihan di dalam hatinya dengan menampilkan wajah seceria mungkin.
Hari semakin larut, Zhafira yang telah menelan obat untuk dikonsumsi malam, sudah mulai terlelap. Bahkan dia tidak tahu siapa saja yang masih menemani dirinya di kamar rawat inap ini. Sedangkan satu persatu sahabatnya sudah meninggalkan Zhafira bersama sang ibu yang datang cukup malam bersama sang ayah.
Zhidan sengaja tidak datang, dan menginap malam ini karena Azzam sudah menyampaikan jika Aisyah akan menginap bersama ayahnya. Zhidan terlalu malas untuk bertemu pasangan suami-isteri yang entah mengapa Zhidan masih sulit menerima keputusan mereka tanpa menanyakan pendapat mereka sebagai anak. Zhidan semakin kecewa dengan sikap sang ibu.
Disini Zhidan semakin kehilangan rasa hormatnya pada sang ibu. Cukup Zhafira yang akan selalu menjadi role models wanita impian yang mungkin kelak jika dia berhasil menata hatinya.
Aisyah tidak henti menghujam'i kecupan di wajah Zhafira membuat Adhitama tertawa melihat tingkah Aisyah yang mengemaskan seperti ini
" Dia akan selalu menjadi putri kecil kita, Honey " ucap Adhitama menatap wajah damai Zhafira
" Iya "
" Terkadang aku keterlaluan kepadanya "
" Hidupnya bahkan tergadaikan karena aku " ucap Aisyah dengan lirih
" Semua salah aku, maaf " ucap Adhitama yang langsung merasa bersalah. Karena semua kesakitan yang anak dan istrinya rasakan akibat dari kesalahannya di masa lalu.
" Sudahlah, biarkan itu menjadi sejarah dalam hidup kita " ucap Aisyah yang sudah bisa menguasai dirinya
Adhitama meminta istrinya untuk segera beristirahat di kasur yang disediakan untuk orang yang menunggu pasien. Sedangkan Adhitama masih duduk di sofa yang cukup nyaman, tapi kurang nyaman jika tubuh besarnya tidur dalam kondisi duduk.
Obat yang diminum Zhafira membuat Zhafira terlelap dengan pulas, bahkan Zhafira nyaris meninggalkan ibadah wajib subuhnya jika Aisyah tidak membangunkan Zhafira.
Zhafira menangis dengan terisak-isak sembari menggumamkan kata maaf tanpa henti ketika melihat ibunya yang ternyata menjaga dia sepanjang malam tadi. Adhitama yang baru saja menyelesaikan mandi terpekur di posisinya. Pemandangan yang tidak diinginkannya ketika melihat dua perempuan yang sangat disayanginya menangis seperti ini. Adhitama menyusutkan jejak air mata yang mengalir begitu saja.
Secara perlahan-lahan dia mendatangi dua perempuan yang masih menyisakan isak tangis. Sentuhan di punggung membuat Zhafira mengalihkan pandangan ke arah orang yang memberikan sentuhan itu. Sesaat Zhafira terdiam menatap manik mata yang sangat dia rindukan akan tetapi sangat dia benci dalam bersamaan.
Tatapan penuh cinta, luka, sedih, kecewa menjadi satu , sedangkan Adhitama hanya menatap Zhafira dengan penuh cinta dan penyesalan yang dalam.
" Maafkan, ayah " gumam Adhitama dengan bibir bergetar, bahkan air mata mengalir begitu saja tanpa bisa dia hentikan. Zhafira menundukkan wajahnya
Dia terluka, kecewa, sedih, namun dia merindukan pria yang menjadi cinta pertamanya. Ah, Zhafira tidak dapat melukiskan bagaimana perasaannya pagi hari ini, meledak. Hati dan perasaannya sakit, sangat sakit entahlah Zhafira menggambarkan bagaimana suasana hati Zhafira membuat Zhafira jatuh pingsan akibat shock.
Adhitama panik luar biasa membuat nya berkali-kali menekan tombol emergency room yang pasti ada di setiap ruangan rawat inap. Hanya beberapa menit saja, dokter dan perawat berlarian masuk ke dalam memeriksa kondisi pasien.
Setelah memeriksa denyut nadi, denyut jantung, dan lainnya dokter mengatakan jika Zhafira hanya jatuh pingsan akibat shock dan itu tidak apa- apa. Tapi tidak bagi Zhidan yang melihat petugas medis datang berlarian menuju ke arah ruangan Zhafira. Zhidan dilanda cemas luar biasa.
Setelah mendengar ucapan dokter Zhidan tanpa aling-aling langsung menghantam wajah Adhitama tidak peduli pria paruh baya itu ayah kandungnya membuat Aisyah berteriak, untungnya gerakan selanjutnya segera di tangkis Abhi yang datang menemani Zhidan.
Sekali lagi, tenaga Zhidan luar biasa, membuat Abhi kelimpungan yang untungnya dia bodyguard membantu Abhi. Bahkan Anggie harus ikut turun tangan, memberikan totok pada titik yang membuat Zhidan tidak bisa menggerakkan tubuhnya
" Kak " ucap Zhidan dengan penekanan
Plak, sebuah tamparan Anggie layangkan di pipi Zhidan yang membuat semua orang terkejut, karena tidak ada yang berani bersikap seperti itu pada Zhidan
" Lepaskan " ucap Zhidan yang tidak memperdulikan apa yang telah Anggie lakukan
" Zhaza sedang tidur. Bukankah kamu menyayanginya, bukan ? "
" Berhentilah bersikap kekanak-kanakan ! "
" Sikap kamu ini membuat Zhaza hanya merasa sedih dan terluka " ucap Anggie menatap dalam manik mata Zhidan dengan penekanan, agar suaranya tidak terdengar Zhafira yang sudah terlelap tidur lagi
Anggie memerintahkan dua orang bodyguard dan Abhi untuk membawa tubuh Zhidan pergi dari rumah sakit. Dikarenakan tubuhnya Zhidan besar, dan kokoh membuat mereka harus meminjam brangkar atau tempat tidur pasien.
*
*
*
*
*
*
*
πΊπΊ