
ππππππππππππππ
Setelah Ibrahim dan istrinya, dan juga Adhitama dan Aisyah pergi meninggalkan ruangan rawat inap Zhafira. Azzam terlibat percakapan dengan sang istri. Mereka berbincang mengenai apa saja yang mereka rencanakan salah satu diantaranya bagaimana mereka menjelaskan dengan Zhafira jika Azzam tidak berhasil menasehati Zhidan. Bukannya hatinya Zhidan sekeras batu, bukan itu.
Masih dimaklumi Zhidan bersikap seperti itu, karena luka hati yang Adhitama dan keluarganya torehkan itu di usia Zhidan masih sangat labil hingga membuat jiwanya Zhidan tidak bisa meresapi rasa lain selain rasa sakit, dan dukanya atas apa yang dia, kakak, dan ibunya alami, itu.
Beberapa waktu kemudian, satu persatu keluarga Lesham memenuhi ruangan rawat inap Zhafira.
" Kenapa, Zhaza tidak di bawa ke rumah sakit keluarga Lesham saja, bang " tanya Athala, adiknya Azzam
" Keluarga Abrisham "
" Lebih tepatnya Kenzie yang membawa Zhafira langsung ke sini "
" Karena dia berada di lokasi, bersyukur nya dia bergerak cepat. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Zhaza. Bahkan mobil yang dikendarai Zhaza langsung meledak setelah mereka berhasil menyelamatkan Zhaza " ucap Azzam dengan sendu,
" Lalu mengapa kami belum diperbolehkan masuk ke dalam, bang "
" Apakah seserius itu kondisi Zhaza " tanya Ammar yang membuat Azzam menghembuskan nafasnya dengan berat
" Tama "
" Dia tadi datang kemari bersama dengan istrinya, Ais " ucap Azzam yang membuat Ammar langsung bereaksi, namun Abbas memberikan Ammar kode untuk diam karena Azzam belum menyelesaikan kalimatnya
" Dia datang "
" Sayangnya, dia harus berjumpa dengan Zhizi. Seperti kalian tahu, jika Zhizi berbeda dengan Zhayn dan Zhaza "
" Zhizi mengusir Tama, dan beberapa kali menyerang Tama secara brutal, sampai- sampai kami kewalahan menghadapi Zhizi dalam mode on seperti itu " ucap Azzam sedih, namun membuat Ammar, dan Athala tersenyum. Mereka bangga dengan Zhidan yang tidak mudah memaafkan Adhitama begitu saja
" Untuk kalian. Janganlah kalian pelihara penyakit hati itu, walaupun Tama bersalah, bukan kita yang memiliki hak untuk menghakimi atas kesalahannya "
" Hanya Allah SWT yang berhak atas apa yang diperbuat oleh hambaNya "
" Allah SWT terlalu baik menutupi aib kita, sehingga kita tidak dipermalukan. Oleh karena itu, berhentilah membenci Tama, bagaimanapun dia adalah adik ipar kita "
Ucap Azzam dengan bijak.
" Abang "
" Apakah Abang melupakan apa yang telah dia perbuat, apa yang Keluarga itu perbuat, bagaimana bisa Abang memaafkan dia dan keluarganya begitu saja sedangkan mereka sama sekali tidak menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat. Bahkan aku "
" Bahkan aku masih saja mengingat, dan merasakan dinginnya tubuh putraku. Yang masih saja mengalir darahnya di kain kafannya, bang "
Ucap Ammar dengan menahan tangisnya yang membuat nada suaranya bergetar, begitu pula dengan kedua bola matanya yang terlihat berembun, Ammar berusaha keras menahan titik- titik air itu tidak terjatuh
Azzam yang mendengar ucapan Azzam hanya bisa terdiam. Karena benar apa yang dikatakan oleh Ammar. Bahkan diantara keempat saudara ini, yang mampu meng-azankan Zhayn, hanya Adnan. Karena Azzam pun ikut menangis di sudut lubang kubur Zhayn, karena tidak mampu meng-azankan putra adiknya itu.
" Aku masih sakit, bang "
"Jangankan Zhizi. Bahkan aku masih menyimpan rasa sakit ini, sakit sekali, bang " ucap Ammar dengan nada suara yang sudah bergetar. Membuat semua orang terdiam tanpa terkecuali. Karena mereka semua merasakan apa yang dirasakan oleh Ammar. Mata mereka semua sudah berembun mengingat bagaimana prosesi pemulangan jenazah Zhayn, bagaimana proses memandikan, dan mengembalikan tubuh dingin itu kembali ke rumah keabadian.
Sang istri tidak tinggal diam, dia merengkuh tubuh suaminya yang sudah bergetar hebat, padahal sang istri sudah menangis tersedu-sedu, apa yang dikatakan Ammar, sangat benar. Keluarga Lesham dirundung duka yang mendalam ketika mendapatkan kabar yang tidak pernah mereka sangka-sangka.
Bukan hanya kehilangan Zhayn, mental illness yang dialami Zhafira harus segera diatasi, jangan sampai Zhafira terpuruk dan membuat Zhafira mengalami gangguan pada jiwanya yang melihat secara langsung bagaimana Zhayn berjuang menyelamatkan adiknya dan mengorbankan dirinya, trauma berat yang dialami oleh Zhafira membutuhkan penanganan medis dengan cepat, begitu pula dengan Zhidan yang terlihat bingung, dan terluka melihat anggota keluarga intinya mengapa seperti ini, di usia nya yang masih sangat kecil yang belum mampu berpikir bijak dalam menghadapi masalah seberat itu.
" Ammar "
" Ketahuilah, Abang pun masih mengingat hari itu hingga saat ini. Namun, kita tidak boleh memupuk perasaan sakit itu lebih dalam lagi. Bukankah mereka sudah menikmati buah yang mereka tanam. Allah SWT maha segalanya, Ammar "
" Memaafkan dia sama saja membersihkan hati kita dari dosa. Toh, memaafkan dia, tidak mengurangi dosanya di masa lalu. Kita akan di hisab dengan dosa kita masing-masing "
" Bukan untuk Tama, bukan "
" Tapi untuk diri kita sendiri jika kita memaafkan dia dan keluarganya " ucap Azzam yang membuat semua orang kembali terdiam. Bagaimana pun apa yang dikatakan oleh Azzam sangat benar. Menyelamatkan hati dan jiwa kita dari bisikan iblis dan setan yang sangat suka jika kita memiliki penyakit hati. Mereka sangat suka jika kita sama sesatnya dengan mereka. Oleh karena itu Azzam harus mengingatkan saudara - saudara kandung nya agar tidak terjerumus oleh bisikan maut setan dan rayuan manis iblis yang akan membawa manusia dalam kesesatan yang nyata.
" Entahlah, bang "
" Aku masih belum membuka pintu hatiku untuk menerima dia kembali " ucap Ammar setelah mampu menguasai perasaannya
" Belum, bukan berarti tidak "
" Aku melihat banyak perubahan dari Tama sejak dia ditinggalkan anak dan istrinya. Bukankah dia selalu hadir di setiap Lesham mengadakan acara "
" Tama juga memberikan bantuan pada Lesham ketika kita mengalami masalah "
" Jangan tutup mata kalian dengan kebaikan yang telah dia berikan, karena kesalahannya di masa lalu " ucap Azzam lagi yang membuat semua orang kembali terdiam
" Kita ini sudah tidak muda lagi, sudah layak dikatakan tua "
" Setiap saat, kapan pun, dimana pun, kematian itu pasti "
" Tidakkah kalian berfikir bagaimana meminta maaf dan memaafkan jika nafas saja sudah sampai di tenggorokan " ucap Azzam yang kembali membungkam semua orang.
" Baiklah, bang "
" Akan Ammar coba " ucap Ammar menyerah atas nasehat yang diberikan oleh Azzam
" Ingatlah men-talqin kan orang yang sedang sakaratul maut lebih mudah, daripada orang yang sedang berjuang menghadapi sakaratul mautnya itu sendiri "
" Jangan sampai di ujung nafas kita, bukannya sibuk mengucapkan kalimat syahadat tauhid, kita malah sibuk meminta maaf. Alangkah meruginya kita hidup di dunia ini hanya berakhir seperti itu "
" Tidak bisa meninggal seperti Rasullullah, setidaknya seperti sahabat Rasulullah, jika tidak sama sekali setidaknya seperti meninggalnya orang-orang biasa yang termasuk dicintai Allah SWT " ucap Azzam lagi yang kali ini membuat mata semua saudara kandung Azzam berkaca-kaca.
Benar sekali, sangat benar apa yang disampaikan oleh Azzam, yang membuat
Abbas, Ammar, Athala, dan Adnan terdiam begitu pula dengan para istri mereka. Di sinilah mereka menyadari, bagaimana luasnya hati sang kakak laki-laki mereka, bijaknya kakak laki-laki mereka. Sangat wajar jika ayah dan ibu mereka begitu menyayangi Azzam sejak dari kecil. Azzam selalu diutamakan, padahal tanpa sepengetahuan saudara - saudara nya, Azzam mendapatkan banyak sekali tuntutan yang harus dipenuhi oleh Azzam.
Karena Azzam memang di tempa sebagai sosok pemimpin oleh orang tuanya. Saat itu, mereka tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kedua orang tua mereka. Namun, hari ini mereka sadar letak perbedaan mereka dengan Azzam.
Seorang dokter dan asistennya masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, membuat semua orang terdiam.
" Permisi, tuan, nyonya "
" Sudah waktunya kami memeriksa keadaan pasien dan memberikan menu makan sore, beserta obat yang akan di minum oleh pasien " ucap dokter dengan ramah
" Oh "
" Silahkan dokter " ucap Siti dengan ramah, bahkan menuntun dokter masuk ke dalam ruangan istirahat pasien.
Dan ternyata Zhafira sedang mentahsinkan bacaan Alquran bersama Zhidan. Melihat kedatangan dokter, Zhafira dan Zhidan menghentikan bacaan mereka.
" Bude kapan kemari " tanya Zhafira melihat Siti yang datang mendekat
" Sejak tadi " ucap Siti sembari menatap Zhidan yang menundukkan kepalanya
" Maafkan, Zhaza tidak melihat bude " ucap Zhafira merasa bersalah. Karena dia sama sekali tidak mengingat Siti dan lainnya, fokusnya hanya menenangkan Zhidan yang mengamuk. Yang dia tidak tahu siapa orang yang membuat Zhidan bersikap seperti itu. Mau menanyakan langsung dengan Zhidan, seperti nya bukan waktu yang tepat, karena Zhidan baru saja berhasil dia tenangkan.
Dokter segera melakukan tugasnya, dan Zhafira segera menuruti apa yang diminta dokter untuk makan dan setelah itu minum obatnya
Zhidan menawarkan diri untuk menyuapi Zhafira, namun segera di tolak oleh Zhafira yang beralasan jika tangannya masih bisa berfungsi dengan baik. Zhafira bukan tipikal gadis manja, hanya saja terkadang dia suka bersikap childish di saat-saat tertentu. Itupun dikarenakan cara Zhafira melepaskan rindu pada sang Abang.
" Bude " sapa Zhidan yang mendekati Siti dan segera memeluk tubuh Siti
" Maafkan Zhizi " ucapnya dengan lirih, merasa bersalah karena bertingkah seperti itu. Awalnya Siti menganggukkan kepalanya sambil mengelus-elus punggung lebar sang anak. Kemudian tidak berselang lama Siti memberikan cubitan yang membuat Zhidan meringis kesakitan.
" Nakal kamu yah "
" Muka pakde kamu sampai bonyok seperti itu "
" Mau kamu hm, pakde kamu segera bertemu dengan Izrail, hah " hardik Siti yang masih memukul Zhidan dengan Badas, membuat Zhidan meringis kesakitan, sungguh tenaga wanita paruh baya ini luar biasa, Zhidan merasakan ngilu di titik-titik pukulan, yang sangat terasa itu, cubitan maut nyonya Azzam. Namun Zhidan sadar jika dia bersalah karena membiarkan dirinya ditunggangi oleh syaitan, sehingga Zhidan pasrah saja ketika Siti menghujam dirinya dengan pukulan, toh itu sebagai bentuk pelampiasan kekesalan Siti karena kenakalan yang Zhidan lakukan tadi.
Zhidan langsung pergi keluar ruangan istirahat pasien menuju ruangan satunya lagi setelah berhasil lepas dari cengkraman Siti dan setelah mendapatkan kata iya dari Siti ketika Zhidan mengucapkan kalimat maaf. Dan kali ini Zhidan bersimpuh meminta maaf pada Azzam setelah menemukan Azzam yang sedang bercengkrama dengan para saudaranya. Azzam mengelus-elus puncak kepala Zhidan. Azzam tahu jika Zhidan meluapkan emosi ketika untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Adhitama setelah belasan tahun Adhitama tidak bertatap muka dengan anak-anak dan istrinya
" Sudahlah "
" Tapi pakde tidak ingin kamu bersikap seperti itu lagi. Bagaimana pun seburuk - buruknya Adhitama, dia adalah ayah kandung kalian. Sudah sepantasnya kalian hormati, jangan hakimi perbuatannya, karena kalian bukan hakim. Sebaik-baiknya hakim hanyalah Allah SWT " ucap Azzam dengan bijak
Zhidan hanya diam saja, tidak menolak tidak juga menerima kalimat berisi nasihat ini. Hati Zhidan masih sangat rapuh. Azzam mengerti apa yang dirasakan oleh anak adiknya ini. Azzam mengecup puncak kepala Zhidan, memeluk tubuh atletis Zhidan yang lebih besar dari tubuh Azzam sendiri
" Berdamai lah dengan keadaan "
" Ayahmu sama terlukanya dengan kamu, nak. Bahkan lebih buruk lagi, karena "
" Dia hidup dalam penyesalan selama ini. Bukankah dia sudah mendapatkan hukuman atas apa yang dia lakukan pada ibumu dan kalian " ucap Azzam dengan lembut yang mampu menyentuh relung hati Zhidan yang paling dalam. Zhidan terisak-isak sampai tersedu-sedu membuat semua orang di dalam ruangan tersebut ikut terisak-isak pula.
Zhidan terluka, sangat terluka atas perbuatan ayahnya dan keluarga sang ayah. Zhidan melihat bagaimana Zhafira terpuruk ketika kematian Zhayn. Setiap malam dia selalu mendengar suara tangisan sang ibu menghiasi sepertiga malam setelah menyelesaikan ibadah sunah.
" Pakde menyayangi kamu. Sungguh sayang padamu, nak. Bagaimanapun buruknya seorang ayah, seorang ibu. Mereka adalah orang tua yang wajib kamu hormati, berbaktilah nak, itu adalah kewajiban yang patut dan harus kamu lakukan " ucap Azzam mencoba menasehati anak adiknya yang selama belasan tahun ini berada dalam asuhannya.
" Ta-ta " ucap Zhidan terbata- bata
" Jangan dijawab sekarang. Pakde tahu jika ini masih sulit untuk kamu "
" sulit, bukan berarti tidak bisa "
" Cobalah buka hatimu "
" Dia ayah yang baik, suami yang baik. Memang di masa lalunya dia melakukan kesalahan, kekhilafan. Karena dia hanyalah manusia yang selalu saja bisa berbuat salah dan dosa, sama saja seperti pakde, dan juga yang lainnya. Lagipula bukan hak kita untuk menghakimi kesalahannya, ada Allah SWT yang pasti menghukum dan mengadili dia seadil-adilnya. Dan kamu, pakde, kita semua disini tidak berhak untuk terus bersikap buruk padanya " ucap Azzam yang mampu membuat semua orang terdiam.
Azzam kembali mengelus-elus puncak kepala Zhidan. Membuat Zhidan merasa nyaman, karena Azzam adalah tempat ternyaman bagi Zhidan, setelah sosok ayah yang hilang selama ini, Zhidan mendapatkan nya dari Azzam.
" Ayo "
" Kita masuk ke dalam, kasihan kak Siti sendirian di dalam. Mungkin mereka membutuhkan kita " ucap Abbas yang mendapatkan anggukan kepala dari semua orang. Semua keluarga Lesham masuk ke dalam ruangan istirahat pasien, setelah Zhidan mampu menguasai diri.
" Masyaallah, ih "
" Zhaza terharu nih " ucap Zhafira dengan wajah bahagia menatap wajah paman, bibi nya, setelah mereka saling menjawab salam.
" Suka di kunjungi kami "
" Sepertinya kamu suka sekali keluar masuk rumah sakit " ucap istri Adnan
" Tidak seperti itu juga, Tante " ucap Zhafira dengan cemberut
" Mengapa kamu tidak memberikan kode jika ada masalah pada mobilnya " tanya Ammar yang heran mengapa Zhafira mengorbankan dirinya demi sahabat nya
" Hm "
" Zhaza awalnya tidak tahu juga, Paman "
" Zhaza hanya merasa ada yang janggal saja dengan mobil yang akan dikendarai oleh Cleo. Akan tetapi, Cleo bukan tipikal orang yang langsung percaya jika tidak ada bukti. Jadi, yah... Seperti itu "
" Untung saja Zhaza yang mengendarai mobil itu, entah apa yang terjadi jika itu Cleo " ucap Zhafira
" Dengan kondisi mobil seperti itu, kamu masih memacu mobil hingga garis finish, astagfirullah Zha ! "
" Nekat sekali kamu, nak " ucap Abbas tidak percaya ketika dia melihat rekaman video yang dikirimkan oleh Ammar di group keluarga. Zhafira hanya meringis ketika Siti melayangkan cubitan
" Sakit, bude " ucap Zhafira sembari merengek membuat semua orang menahan diri untuk tidak tertawa
" Baru tahu sakit , hah "
" Tadi, di sirkuit tidak sakit " ucap Siti dengan emosi. Siti sangat mengkhawatirkan Zhafira oleh karena itu, Siti sangat marah sekaligus sangat sedih ketika mendapatkan kabar tentang Zhafira yang mengalami kecelakaan. Apalagi melihat bagaimana detik- detik proses penyelamatan Zhafira yang di bumbui mobil balap yang Zhafira kendarai meledak, menghanguskan mobil seketika
" Jangan lagi, Zha "
" Jantung bude rasane copot " ucap Siti dengan emosi namun berderai air mata. Membuat Zhafira merasa sangat bersalah
" Maafkan Zhaza, bude " ucap Zhafira yang merasa bersalah
" Ok "
" Zhaza akan berhenti balapan untuk tahun ini " ucap Zhafira yang membuat Siti berhenti menangis. Namun sesaat kemudian Siti sadar jika kalimat Zhafira mengatakan tahun ini, artinya tahun depan dia akan mengulangi lagi
" Sontoloyo " ucap Siti yang membuat Zhafira tertawa ketika Siti memahami makna kalimat Zhafira yang tidak akan balapan untuk tahun ini saja.
Semua orang tertawa dengan perdebatan yang terjadi antara Zhafira dengan Siti. Suasana duka itu hilang tergantikan senyuman. Zhafira meminta pulang ke rumah saja. Toh, dia merasa baik- baik saja. Akan tetapi, Azzam meminta Zhafira untuk tetap berada di rumah sakit sampai hasil CT -Scan keluar dan menyatakan jika Zhafira dalam keadaan baik-baik, serta dokter telah menyatakan jika Zhafira telah diperbolehkan pulang, maka Azzam akan mengizinkan anak adiknya ini pulang ke rumah.
*
*
*
*
*
πΊπΊ