My Darling

My Darling
35



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Tetua Med Mendez yang saat ini masih mencoba negoisasi dengan tetua dari keluarga Bhalendra. Agar tetua Bhalendra melepaskan putranya


" Ada anak-anak saya yang lainnya, tuan "


" Ada ribuan karyawan yang menggantungkan kehidupan mereka pada usaha yang sudah saya rintis selama ini, bahkan tuan lah juga yang ikut membantu dalam proses tersebut "


" Jika sampai perusahaan itu hancur pada generasi putra saya, bagaimana nasib mereka, tuan "


" Saya bukannya tidak siap untuk jatuh miskin, toh sejak kecil kehidupan saya seperti itu, dan tuan sudah tahu bagaimana hidup saya tanpa bantuan tuan, saya bukanlah siapa-siapa " ucap Med Mendez kembali mencoba mencari simpati tetua Bhalendra


" Hm "


" Bukan hanya sekali dua kali, cucu kamu memperlakukan Zhafira begitu buruk "


" Dia bukanlah cucu saya, tuan " ucap Med Mendez yang merasa sedih


" Dia bagian keluarga kamu, mau atau tidak kamu menerima mereka, toh kamu tidak bisa mencegah itu kan di masa lalu "


" Dan ini adalah buah yang kalian tanam, selamat menikmati "


" Kalian berdua sama-sama tidak belajar dari pengalaman orang lain ketika berlaku kufur terhadap nikmat yang Allah SWT berikan " ucap tetua Bhalendra membuat Idris sang putra keluarga Bhalendra, juga sahabat nya Med Mendez yang juga putra angkat tuan Sultan Bhalendra semakin menundukkan kepalanya


" Intinya, aku tidak ingin lagi ada orang-orang yang semena-mena terhadap cicit- cicit kesayangan aku, keturunan aku "


" Aku tidak akan membalas jika tidak di awali "


" Dan ini peringatan terakhir untuk kamu "


" Selanjutnya, aku akan meratakan semua para benalu di kehidupan dari para keturunan aku " ucap Sultan Bhalendra , tetua Bhalendra yang masih hidup hingga saat ini


" Hanya menyelamatkan perusahaan kan "


" Tidak dengan pelaku kekerasan terhadap cicit kesayangan aku, karena aku tidak ingin singanya Zhaza mengotori tangannya karena aku membebaskan si pelaku " ucap tetua Bhalendra itu lagi


" Sekedar saran dari seorang yang sudah sepuh ini "


" Bertaubat lah, dan perbaiki semua kesalahan yang pernah kalian perbuat, perbaiki ibadah kalian dengan begitu secara otomatis Allah SWT akan membuka pintu dan jalan kebaikan kepada kalian "


" Perkara hal ini, hal itu bisa saja terjadi "


" Kembalikan lagi ke diri kalian sendiri, karena ketidakbecusan kalian dalam memimpin rumah tangga, sehingga orang yang harus kalian didik menginjak-injak kepala kalian ( yang memiliki arti : jika istri dan anak dari Idris dan Med sudah menginjak harga diri kedua pria ini dan karena kedua pria ini tidak tegas kepada anggota keluarga mereka sehingga membuat anggota keluarga mereka berbuat dan bertindak semena-mena, serta tidak mau mendengarkan nasehat, atau memang Idris dan Med membiarkan saja perbuatan anggota keluarga mereka yang seperti itu ) "


" Jangan salahkan orang lain "


" Introspeksi diri, apa yang telah kalian lakukan, sekali lagi setiap apa yang kita perbuat pasti ada buah yang kita dapatkan, yah sesuai amalan perbuatan "


ucap tetua Bhalendra lagi yang membuat Idris dan Med Mendez terdiam, dan apa yang dikatakan oleh tetua memang benar. Karena mereka berdua menutup mata telinga terhadap perilaku anggota keluarga, bukannya memberikan peringatan, dan mengajari anggota keluarga mereka mereka seakan-akan terkesan tidak peduli.


Melihat kedua orang yang hingga saat ini masih berteman baik, bahkan sangking baiknya perbuatan mereka pun hampir sama, sehingga di masa tua mereka harus menghadapi konflik internal yang belum tuntas. Terdiamnya Idris dan Med Mendez membuat tetua Bhalendra memberikan kode kepada asisten kepercayaannya yang sudah beberapa generasi mendampinginya.


Bagaimana pun juga Mendez adalah putra angkat dari tuan Sultan Bhalendra sendiri


Ada rasa kasih di dalam batinnya, siapa tahu Med Mendez tidak sebodoh putranya yang menuruti semua keinginan sang istri yang bahkan memiliki sifat angkuh, sombong, dan buruk akibat star sindrom yang menggerogoti hatinya.


Dengan tega menyakiti perempuan yang sudah melahirkan cucu-cucu yang soleh dan soleha kebanggaan tuan Sultan demi pengakuan paling dan paling, yang pada kenyataannya hanya lah pengakuan semu, salah satu jalan orang lain menghancurkan keutuhan keluarga, sedangkan Idris membiarkan saja perbuatan sang istri dan anaknya.


Oleh karena itulah tetua Bhalendra memberikan peringatan akan tetapi mereka masih mengindahkan peringatan dari tetua, sehingga tetua menghukum mereka, dengan menutup akses Idris beserta keluarga dari semua kegiatan keluarga serta dari kediaman mansion utama Bhalendra.


" Baca dan tandatangani surat perjanjian itu jika kali ini kamu bersungguh-sungguh ingin memperbaiki perilaku cucu dan anggota keluarga kamu "


" Aku tidak ingin di kemudian hari, cicit kesayangan aku kalian sakiti lagi "


" Cukuplah sudah , "


" Zhaza bahkan datang dan meminta kepada aku untuk tidak memberikan hukuman kepada kalian saat itu setelah cucu kamu menyakiti dia, melukai dia "


Ucap tetua Bhalendra dengan tegas namun masih memberikan Med Mendez kesempatan, jika Med Mendez tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, maka tetua pasti sudah memiliki cara menghancurkan keluarga Mendez yang masih terlalu kecil dibandingkan keluarga Bhalendra.


" Zhaza adalah permata hatiku "


" Jantung hatiku "


" Bahkan istri aku tercinta menitipkan Zhaza langsung kepada aku setelah kematian cicit ku yang sangat aku sayangi "


" Selama hidupku, di sisa hidupku tidak akan pernah lagi aku biarkan orang menyakiti Zhaza - ku seujung kuku pun "


" Bahkan jika itu ayah ataupun ibu kandungnya sendiri, aku akan menghancurkan orang-orang tersebut tanpa sisa, jadi "


" Ini hanya belas kasih Zhaza kepada orang lain bukan belas kasih aku " ucap Bhalendra dengan bergetar menahan emosi di hatinya. Karena Zhafira sebelum menghubungi siapapun, orang pertama yang dia hubungi adalah kakek buyutnya, karena Zhafira sadar jika sang kakek buyutnya pasti akan bertindak tegas terhadap orang-orang yang menyakiti dia, tidak seperti anggota keluarga lainnya yang masih memikirkan a, b, c, dan lainnya sebelum membalas perbuatan orang lain.


Permintaan dari Zhafira lah yang membuat kakek tua ini memilih untuk mengalah, dengan tidak menindaktegas pelaku tindakan kekerasan terhadap Zhafira. Kalau Zhidan bisa luluh, itu masih hal wajar karena untuk meluluhkan hati tetua Bhalendra sangat lah tidak mudah. Bahkan para cucu dan cicit Bhalendra lainnya selalu meminta bantuan Zhafira untuk mensukseskan program atau pun proposal yang mereka ajukan.


Suasana hening semakin hening, semua terdiam tanpa kecuali karena kesalahan mereka fatal telah bersinggungan dengan hal yang sangat sensitif bagi tetua Bhalendra. Bahkan Adhitama yang termasuk cucu kesayangan masih berdiri di depan ruangan tamu tanpa berani masuk ke dalam area ruangan tamu, Adhitama hanya diam mematung sembari menundukkan kepalanya yang sangat malu atas perbuatan yang pernah dia lakukan sehingga membuat ayah dan ibunya tidak lagi mendapatkan sapaan hangat dari sang ayah. Sebegitu sayangnya kakek buyut Zhafira terhadap anaknya membuat Adhitama sangat menyesali perbuatannya serta sangat malu karena telah menyia-nyiakan istri, dan anak-anaknya, bahkan Adhitama harus kehilangan sang putra sulung akibat perbuatannya di masa lalu.


Sama halnya dengan sikap tuan Idris Bhalendra, dan juga putranya Adhitama, Istri dari tuan Idris yang duduk di kursi roda pun terdiam saja tanpa bisa membantah satu katapun, yang sesekali menyeka air matanya pertanda dia menyesali perbuatannya. Dua putranya pun sudah menjaga jarak terhadap ayah dan ibu kandung mereka karena mereka tidak ingin istri dan anak-anak mereka merasakan apa yang dirasakan oleh ipar mereka.


" Selesaikan urusan kamu "


" Dan pergilah "


" Oh iya "


" Dan satu lagi Aku sudah Memaafkan kalian seperti apa yang dikatakan oleh cicit kesayangan aku "


" Bahwa aku tidak boleh memiliki dendam di hati karena hanya akan menyakiti aku sendiri, dan Zhaza tidak menyukai hal itu, karena dia sangat menyayangi aku "


" Karena itu lah aku akan memaafkan kalian " ucap tetua sebelum meninggalkan ruangan


" tetapi aku tidak akan pernah bisa menerima kehadiran kalian lagi di sini "


" Oleh karena itu setelah ini, pikirkan lagi matang-matang jika ingin mengulang kembali perbuatan yang melukai cicit- cicit aku, karena aku tidak akan mendengarkan lagi permintaan yang Zhaza katakan kepada aku " ucap tetua Bhalendra yang berlalu pergi tanpa menatap wajah putranya sendiri, bahkan melewati Adhitama dan sang ibunda Adhitama yang berdiri diam mematung dengan kepala tertunduk, tetua berlalu pergi tanpa memberikan sapaan sedikitpun.


" Terimakasih, Pi "


" Ini saja sudah cukup, saya akan memanfaatkan kesempatan yang Papi berikan dengan sangat baik " ucap Med Mendez ketika tetua Bhalendra sudah mulai memerintahkan perawat untuk mendorong kursi rodanya.


" Bagaimana, Med " ucap Idris ketika Med terdiam setelah tetua Bhalendra sudah mulai menjauhi area sofa di ruangan tamu. Med langsung membaca setiap poin dalam surat perjanjian, dimana asisten kepercayaannya tetua Bhalendra masih setia menunggu keputusan dari tuan Mendez.


Med Mendez langsung menandatangani surat perjanjian tersebut di atas materai, tanpa membaca ulang surat perjanjian karena isi perjanjian tersebut sangat lengkap, jelas, mengenai apa yang diinginkan oleh tetua Bhalendra.


" Sejak dahulu, aku selalu iri kepada kamu, karena memiliki ayah yang begitu melindungi anggota keluarga nya "


" Kamu terlalu bodoh menyia-nyiakan kasih sayangnya " ucap Med Mendez


" jangan tersinggung, dan aku mengucapkan Terimakasih, tanpa kamu aku tidak akan bisa masuk ke kediaman mansion utama Bhalendra " ucap Med Mendez sekali lagi


" Tidak masalah "


" Aku melakukan ini karena banyak hal "


" Terutama karena aku juga menantikan kesempatan kedua, dari apa yang sudah terjadi "


" Kamu beruntung karena Papi masih memberikan kamu kesempatan "


" Saran aku, jangan sia-siakan kesempatan ini "


" Karena aku pernah menyia-nyiakan kesempatan itu, yang aku pikir akan ada kesempatan lain lagi yang Papi berikan kepada aku "


" Yang pada kenyataannya kesempatan itu tidak pernah datang lagi kepadaku "


" Kamu lihat sendiri kan, bagaimana cara Papi memperlakukan aku " ucap Idris dengan sendu


Karena Sultan Bhalendra tidak pernah main-main dengan apa yang telah dia ucapkan. Hanya saja, saat itu Idris tidak menyangka jika sang ayah akan benar-benar melakukan apa yang telah dia peringatkan kepada dirinya. Idris saat itu berfikir jika anaknya hanya mengalami pergolakan dalam rumah tangga yang umum terjadi di dalam sebuah pernikahan, dan istri juga hanya memberikan saran sebagai seorang yang lebih dewasa. Yang pada kenyataannya ulah sang istri lah yang membuat Adhitama semakin bertingkah laku buruk terhadap rumah tangga yang dijalaninya.


Idris mengakui jika semua ini terjadi akibat kelalaian yang dia lakukan dalam mendidik anak dan istrinya, akibat ketidakpedulian dia terhadap masalah- masalah yang dia anggap remeh dan enteng. Sampai di masa ketika hal kecil, remeh dan enteng itu bagaikan bom atom yang meledak ketika anak menantunya pergi meninggalkan mansion sang anak, kematian cucu pertama Idris. Jangan ditanyakan bagaimana reaksi keluarga besar Bhalendra, karena keluarga itupun seketika langsung menjauhi karena sudah pernah memberikan Idris nasehat namun tidak di gubris oleh Idris. Bahkan ketiga putranya yang lain, yang merupakan adik-adik dari Adhitama juga sudah menjaga jarak meskipun hubungan silaturahmi tetap terjaga dengan baik.


Karena takut jika sang ibu akan mengintervensi rumah tangga mereka, yang jika hal itu sampai terjadi, nasib rumah tangga mereka dijamin tidak jauh dari Adhitama rasakan saat ini. Yah, berganti tahun ke tahun secara perlahan-lahan sang ibu sudah mulai menyadari kesalahannya, namun semua sudah terlambat, sangat terlambat, pintu maaf sudah terbuka, namun tidak dengan pintu silaturahmi, karena sudah ada jarak sendiri akibat perilakunya di masa lalu.


" Iya "


" Untuk itu aku berterimakasih " ucap Med Mendez di saat mereka masih mengobrol dengan Idris Bhalendra


" Karena kamu sudah menyelamatkan keluarga aku "


" Aku akan memberikan saran "


" Coba perbaiki silaturahmi kamu dengan cucu kamu "


" Itu kunci agar kamu termaafkan oleh Papi " ucap Med Mendez sembari menepuk pundak Idris


" Aisyah tidak memberikan akses itu, Med "


" Bahkan Lesham memberikan proteksi nya terhadap anak dan istri aku "


" Pernah aku mendekati Zhidan, akan tetapi hanyalah kekecewaan yang aku dapatkan "


ucap Idris pasrah dengan takdirnya


" Sesekali bermain licik untuk kebaikan tidak masalah, Id " ucap Med sembari membisikkan kata-kata ke telinga Idris


" Aku akan membuka jalan untuk itu "


" Bukankah aku harus segera menemui cucu kesayangan kamu setelah bertemu dengan Azzam " ucap Med Mendez yang membuat Idris menyunggingkan senyuman di wajahnya yang sudah semakin berumur.


" Subhanallah "


" Terimakasih, Med " ucap Idris dengan bahagia


" Jangan senang dahulu, kita baru akan mencoba "


" Azzam mungkin tidak masalah "


" Kamu lupa, jika Aisyah memiliki satu singa dua harimau empat kuda yang sulit kita tembus "


" Belum lagi para sahabatnya yang kamu tahu sendiri mereka dari keluarga siapa saja "


" Kita harus bekerjasama untuk bisa bertemu langsung dengan Zhafira, jika tidak semua usaha yang kamu dan aku lakukan akan sia-sia saja " ucap Med Mendez yang sudah mengetahui seberapa sulit menembus pertahanan penjagaan sebelum mereka berhasil bertemu dengan Aisyah dan Zhafira.


Idris menekan pelipis yang tiba-tiba terasa sakit.


" Tenang lah, Pa "


" Aku juga akan berusaha untuk dekat dengan Putri aku "


" Untuk meluluhkan hati Zhizi, kita memang harus bisa mendekati Zhafira "


" Hati putri aku itu sangat lembut sekali, wajar jika Azzam, dan Zhidan memberikan perlindungan begitu ketat kepadanya, mereka takut jika kita bisa bertemu dengan Zhaza maka mereka pasti akan luluh dengan sendirinya karena Zhaza pasti meminta hal itu kepada mereka yang tentu saja tidak dapat mereka tolak " ucap Adhitama membanggakan sang putri tunggal yang selalu dia perhatikan dari jauh, bahkan mencuri bertemu demi menuntaskan rasa kangennya.


" Iya "


" Untuk kali ini, kita harus berusaha lebih maksimal "


" Papa sudah tidak tahan lagi untuk bertemu dengan cucu perempuan aku satu-satunya "


" Aku merasa sudah cukup menghukum diri aku karena kesalahan yang tidak aku perbuat akan tetapi aku biarkan saat itu " ucap Idris yang membuat sang istri dan anaknya tertunduk semakin dalam


" Maafkan aku " ucap istri Idris dengan lirih bahkan terdengar suara isak tangis yang ditahan.


Idris tidak menghiraukan istrinya lagi, karena hatinya masih terlampau sakit, akibat ulah istri dan anaknya membuat dirinya dijauhi oleh keluarga besar, di campakkan oleh sang ayah, dan yang paling sakit adalah kehilangan cucu-cucunya, apalagi Zhayn.


Setiap harinya Idris pasti mendatangi makam Zhayn, akan tetapi tidak membunuh rasa bersalahnya terhadap sang cucu. Teramat sakit, hingga jangankan memaafkan orang lain, memaafkan dirinya sendiri, dia tidak sanggup. Bukan dia tidak memaafkan sang istri dan sang anak. Akan tetapi rasa itu masih tersimpan di relung hati nya terdalam.


Tanpa mereka sadari, sejak sepeninggal Aisyah beserta anak-anaknya menyebabkan mansion utama Idris Bhalendra semakin suram, tidak pernah ada lagi cahaya kebahagiaan. Meskipun terkadang sering diadakan acara keluarga.


Mereka kembali ke mansion masing-masing, namun tidak untuk Med Mendez karena dia akan segera melancarkan rencananya. Membasmi parasit dan benalu dalam kehidupan putra bodohnya, memberikan perawatan terbaik untuk putra bodohnya, dan menjalin komunikasi dengan keluarga Lesham guna meminta Azzam untuk mencapai kesepakatan dan menjelaskan semua secara keseluruhan yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.


*


*


*


*


*


🌺🌺