My Darling

My Darling
39



πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Aisyah tidak ingin apa yang menimpa dirinya terjadi kepada setiap anaknya. Apalagi ketika saat dia menikah, tidak ada ayah dan ibu yang mendampingi dirinya di atas pelaminan, walaupun ada Azzam dan Siti sebagai pengganti sosok orang tua, tetap saja berbeda rasanya jika di dampingi oleh kedua orang tua sendiri, coba tanyakan kepada orang-orang yang menikah tanpa kehadiran kedua orangtuanya, pasti seperti itu perasaan di batin mereka, walaupun mereka tidak pernah mengatakan langsung atau mengeluh atas kekurangan itu.


Aisyah ingin melihat senyuman yang memancarkan kebahagiaan di wajah setiap anaknya ketika berada di atas pelaminan, inilah doa yang selalu Aisyah panjatkan di sisa umurnya yang entah tinggal berapa lama lagi. Vonis dokter membuat Aisyah ketakutan sendiri, oleh itulah Aisyah kesannya lebih cenderung tergesa-gesa, emosional yang membuat beberapa anggota keluarga Lesham merasa agak aneh dengan sikap Aisyah yang tidak seperti biasanya.


Tanpa diketahui oleh Aisyah jika semua ini sudah termasuk dalam rencana busuk seseorang yang tidak ingin Aisyah dan Adhitama bersatu kembali. Tidak suka melihat kebahagiaan di dua keluarga besar ini, apalagi kenyataannya dirinya sudah terhempas dari kehidupan nyaman kala dirinya dan anggota keluarga mereka berada di strata sosial yang tinggi. Secara tiba-tiba terjatuh ke dasar paling rendah. Dia merasa sangat dihinakan sehingga dia menanamkan ain atau kejahatan di hati setiap anak cucunya untuk menghancurkan keluarga Lesham dan Bhalendra.


Tidak bisa menghancurkan secara finansial, maka mereka semua harus hancur sehancur-hancurnya secara psikis, itulah janji hatinya yang busuk tertanam begitu dalam yang menyimpan dendam yang tidak berujung pada dirinya dan itu diturunkan ke anak cucu keturunannya. Padahal terjatuhnya, terpuruknya kehidupan dia dan keluarganya akibat dari ulah dia sendiri. Akibat keserakahan dia sendiri. Akan tetapi disaat dirinya terjatuh dia sibuk menyalahkan orang lain atas apa yang telah dia alami dan itu atas perbuatan dia sendiri .


Andai saja saat itu, keluarga Lesham dan Bhalendra tidak mengalami suatu tragedi yang memilukan itu jika mereka mengenang hal itu, maka sudah pasti dijamin anak keturunan dari parasit ini pasti telah dimusnahkan oleh keluarga Bhalendra yang terkenal kejam terhadap musuh-musuhnya. Akan tetapi fokus Bhalendra dan Lesham adalah keselamatan anggota keluarga, termasuk keselamatan Aisyah sekeluarga yang hampir merengang nyawa akibat kecelakaan yang di sengaja beberapa pihak.


Lesham pada saat itu berterimakasih atas perlindungan dari Bhalendra, akan tetapi tetap tidak membuka jalur damai atas apa yang telah diperbuat oleh Adhitama terhadap Aisyah. Karena Aisyah enggan untuk berdamai dengan Adhitama dengan alasan tidak ingin bersama lagi walaupun Adhitama menolak pengajuan tuntutan cerai yang Aisyah layangkan kepada Adhitama.


Bahkan Adhitama membuat skenario seolah-olah perceraian itu terjadi terlihat nyata dan benar-benar terjadi yang pada kenyataannya tidak pernah ada ikra talak. Keluarga Lesham bahkan sudah pasrah dengan kerasnya keluarga Bhalendra dalam hal itu, oleh karena itu, di dalam keluarga Lesham hanya Azzam yang mengetahui jika pada kenyataannya Aisyah tidak pernah bercerai dengan suaminya, namun tidak pula mengizinkan Adhitama untuk mengatakan kenyataan itu, karena kerasnya Aisyah ketika tersakiti. Maka Aisyah rela harus jauh dari keluarga Lesham, jika sampai Azzam ketahuan mengetahui jika Adhitama berbuat seperti itu. Maka dari itu Azzam memilih untuk diam saja, karena Azzam tidak ingin kehilangan adiknya lagi yang membiarkan perbuatan Adhitama untuk tidak benar-benar melakukan perceraian. Azzam juga tidak membenarkan perbuatan Adhitama yang seperti ini, namun sekali lagi Toh, Adhitama bersikeras untuk tidak menceraikan istrinya dalam kondisi apapun, dan sudah bertaubat akan kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya.


" Bunda terbangun " ucap Maxwell dengan mata yang masih terpejam.


" Kamu, tidur lah lagi "


" Atau mau sesuatu " timpal Aisyah ketika mendengar suara serak Maxwell yang terbangun dari tidurnya.


" Peluk " ucap Maxwell yang masih belum membuka kedua matanya. Dan hal itu berhasil membuat Aisyah terkekeh. Aisyah menyematkan kecupan hangat di puncak kepala sang putra, lalu memeluk tubuh putra angkatnya


" Sudah adakah perempuan yang mencuri hati putra kesayangan bunda ini ? " Ucap Aisyah sembari membelai puncak kepala putra angkatnya


" Belum ada perempuan yang memiliki spek bidadari "


" Yah "


" Tunggulah sampai ada perempuan seperti itu, maka Affan akan menikahinya " ucap Maxwell dengan suara seraknya


" Mana ada yang seperti itu, nak " ucap Aisyah sembari terkekeh kecil


" Ada "


" Almarhum mami "


" Bunda dan Zhaza "


" Tiga bidadari kesayangan Affan " ucap Maxwell


" Menikah lah, nak "


" Bunda tidak tahu umur hidup bunda, entah tinggal berapa lama lagi " ucap Aisyah yang sukses membuat Maxwell membuka kedua matanya yang sulit terbuka itu


" Bunda " ucap Maxwell yang tidak suka jika Aisyah mengucapkan kalimat keramat, yang paling tidak disukai oleh Maxwell. Bagaimana tidak, di masa itu sang mami juga mengatakan hal yang sama seperti yang diucapkan oleh Aisyah barusan saja, dan kemudian tidak berselang lama sang mami berkata-kata seperti itu, sang mami benar-benar meninggalkan Maxwell seorang diri tanpa siapapun. Hanya ada di fase kehidupan tersulit bagi Maxwell, Aisyah layaknya malaikat dimana Aisyah yang bersedia mengulurkan tangannya untuk merawat, menjaga, memberikan Maxwell kasih sayang yang tulus, serta menampung Maxwell di dalam rumah sederhana Aisyah di kala itu, dan mencurahkan kasih sayang kepada Maxwell layaknya putra kandung nya sendiri.


Oleh karena itu, Maxwell sangat tidak menyukai kalimat-kalimat berbau perpisahan, seperti mendengarkan ucapan dari Aisyah seperti ini tadi yang seakan-akan kalimat yang dikatakan oleh Aisyah merupakan kalimat perpisahan.


" Bunda ada apa ? " Ucap Maxwell yang sudah hilang rasa kantuknya


" Besok kita cek up kesehatan bunda " ucap Maxwell dengan khawatir, karena sang maminya dulu seperti ini juga


" Kamu " ucap Aisyah yang takut ketahuan yang selama ini Aisyah rahasiakan.


" Sudah "


" Tidurlah "


" Tidak terjadi apa-apa dengan bunda "


" Jangan khawatir " ucap Aisyah sembari menepuk bantal agar Maxwell kembali untuk tidur


" Tidak "


" Katakanlah bunda "


" Apa yang bunda sembunyikan dari kami " ucap Maxwell lagi dengan khawatir


Yang tentunya Aisyah harus menampilkan wajah setenang mungkin agar tidak ketahuan dari sang putra bahwa dirinya menyembunyikan sesuatu


" Ck "


" Bilang seperti itu saja, sudah seperti ini "


" Bunda hanya ingin melihat kalian menikah, punya isteri yang akan mengurus kalian, punya anak yang akan menjadi penyemangat kalian "


" Bunda sudah sangat ingin menimang cucu "


" Beberapa teman bunda sudah memiliki cucu "


" Bunda hanya kesepian, apalagi bunda sudah merindukan suara bayi , celoteh anak-anak " ucap Aisyah yang berpura-pura merajuk


" Astagfirullah "


" Bunda "


" Sumpah yah , Affan pikir bunda sudah bersikap seperti mami " ucap Maxwell yang menyenderkan kepalanya pada sofa


Maxwell berdiri, lalu menuju ke arah kamar mandi, kemudian segera menandaskan segelas air mineral. Maxwell mengelus-elus puncak kepala Zhafira lalu mencium puncak kepala Zhafira


" Hm "


" Jangan berlebihan "


" Kamu dan Zhaza bukan mahram " ucap Aisyah yang sukses mengambil atensi Maxwell


" Ya udah, tinggal di halal kan saja " ucap Maxwell dengan enteng


" Sembarangan kamu ngomong "


" Masa Abang sendiri menikahi adiknya " ucap Aisyah menepuk bahu Maxwell


" Lah "


" Adik ketemu gede "


" Nggak masalah kan "


" Yah udah, bunda tinggal merestuin aja Affan "


Ucap Maxwell dengan enteng


" Nak "


" Agama kamu apa "


" Lagipula kamu belum sunat " ucap Ais menolak permintaan Maxwell


" Sudah kok, Affan sunat. Tanyakan aja sama Rasyid "


" Dia ikut menyaksikan Affan di sunat " ucap Maxwell


" Tinggal syahadat, Islam lah itu Affan " ucap Maxwell yang sukses membuat Aisyah menggaruk tengkuknya


" Aku yang akan menikahi adik akuh ini " ucap Rasyid yang masih memejamkan kedua matanya yang sudah berada di dekat Zhafira tidur, bahkan sudah memeluk lengan Zhafira.


Yang sesaat kemudian terdengar suara aw dari bibir Rasyid


" Kakak hanya boleh menikah dengan aku " ucap Zhidan yang sudah melindungi tubuh Zhafira dari kedua pria itu.


" Zhi ! "


" Kamu tidak mungkin pernah bisa, " ucap Maxwell yang kemudian terjadi perdebatan diantara mereka membuat suasana hening sebelumnya menjadi gemuruh suara. Zhafira yang sangat mengantuk masih tetap tidur tanpa peduli perdebatan yang terjadi


Tanpa suara, hanya seketika tercium bau busuk yang menyengat di indera penciuman mereka semua. Sontak mereka semua menolehkan kepala mereka ke arah Zhafira


" Zhaza " teriak semua orang, sedangkan Zhafira dengan santainya berbalik memunggungi mereka semua dan kembali memberikan mereka semua bom atom yang sukses membuat mereka menutup hidung, bahkan terdengar suara muntah dari seseorang.


" Ck "


" Makan tuh spek bidadari " ucap Rasyid meledek Maxwell yang sedang terungkup


" Bidadari kentut " ucap Aisyah sembari terkekeh


" Sedangkan Zhidan sudah berlari ke arah kamar mandi. Setelah mencium aromaterapi dari Zhafira. Dimana dirinya lah korban yang paling dekat sehingga aromaterapi itu sangat pekat di lubang hidung Zhidan.


Malam hari ini, mereka semua terbangun kecuali Zhafira. Sehingga Zhidan dan Rasyid memutuskan untuk ibadah sunah malamnya, dikarenakan takut tertidur lagi setelah terbangun sebentar, lagipula untuk sholat sunah malam jumlah raka'at nya bisa disesuaikan dengan keinginan dari orang yang ingin beribadah yang tetap sesuai pada tuntutan sholatnya.


Mereka, khususnya anak laki-lakinya Aisyah membahas banyak hal namun berisikan tema tentang yang tidak terlalu berat ketika mata mereka belum mau terpejam, hingga mereka semua terpejam kembali dengan sendirinya. Sedangkan Zhafira terbangun dari tidurnya setelah semua orang terlelap. Zhafira melakukan apa yang ibundanya lakukan, hingga dia pun kembali terlelap menanti waktu subuh.


Entah kenapa hari ini Zhafira sering kali tidur tanpa dia sadari. Namun Zhafira mengetahui jika hal itu terjadi karena reaksi tubuh ketika tidak terlalu baik kondisinya sehingga imun tubuh sedang di uji kualitas nya, jika mampu bertahan artinya Zhafira akan baik. - baik saja , jika tidak artinya Zhafira butuh tambahan untuk menyegarkan tubuhnya yaitu dengan bantuan multivitamin, bila masih dirasa belum cukup mantap maka Zhafira membutuhkan obat yang memiliki kinerja sebagai antipireutik dan analgesik.


Zhafira tidak suka berbagi hal yang dianggapnya masih dapat dia lakukan sendiri, masih dapat dia cover kebutuhannya. Dengan cepat Zhafira meminum apa yang dia butuhkan sebelum dia kembali tidur.


Tanpa Zhafira sadari jika tubuhnya sudah mencapai limit karena kelelahan, akhirnya Zhafira hampir tumbang, namun Zhafira segera meminta bantuan dengan obat, walaupun hasilnya tidak seketika langsung dirasakan setidaknya pagi hari ini Zhafira mampu untuk beraktivitas.


" Kamu kenapa, Zha " ucap Rasyid yang melihat wajah Zhafira kemerahan


" Hm "


" hanya sedikit kelelahan saja " ucap Zhafira yang sedang mempersiapkan meja makan, di bantu oleh kedua kakak laki-lakinya dan Zhidan.


Tanpa bicara Zhidan segera membawa kakak perempuannya untuk segera duduk. Yang membuat Zhafira langsung menahan lengan sang adik


" Kakak sudah meminum multivitamin dan juga obat yah "


" Jangan kamu hubungi dokter Ryan "


" Kakak hanya membutuhkan istirahat, tidak lebih dari itu " ucap Zhafira yang tidak ingin adiknya memperlakukan dirinya secara berlebihan. Karena jika tidak segera di cegah, maka Zhafira akan melewati medical check up yang sangat melelahkan.


" Wah "


" Harusnya kamu itu enak dong, Zha "


" Memiliki adik yang begitu memperhatikan Kepada kamu, Zha " Rasyid menggoda Zhafira yang saat ini menopang kepalanya dengan kedua tangannya yang berada di atas meja


" Iya "


" Enaknya " ucap Zhafira dengan jengah. Zhafira masih terasa berat hanya untuk mengangkat kepalanya saja


" Beritahu sekretaris kalian masing-masing "


" Hari ini kita akan melakukan medical check up sebentar sesudah pulang ziarah dari rumah Zhayn " ucap Maxwell yang tidak bisa dibantah oleh siapapun termasuk Aisyah. Karena Maxwell jika dalam mode on seperti ini bisa begitu mengerikan jika tidak dituruti keinginannya.


Baik Zhidan maupun Rasyid terdiam saja menyetujui apa yang direncanakan oleh Maxwell. Untuk Rasyid sebenarnya semalam dia ikut mendengar isi pembicaraan yang terjalin antara Maxwell dengan Aisyah, oleh karena itu Rasyid tidak membantah apa yang diucapkan oleh Maxwell sedangkan Zhidan menyetujui hal tersebut dikarenakan dia ingin mengetahui kesehatan kedua malaikatnya ini sebelum dia berangkat ke negara tempat dia menimbah ilmu ke jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya.


Kalau sudah seperti ini, Aisyah hanya bisa pasrah, begitu pula dengan Zhafira yang sudah tidak bisa berkonsentrasi dikarenakan walaupun sudah meminum obat namun sepertinya Zhafira membutuhkan istirahat untuk tubuhnya yang tidak fit.


Proses medical check up sudah dilakukan oleh mereka semua sepulangnya dari ziarah ke rumah Zhayn. Mereka lebih suka menyebutnya dengan rumah daripada tempat peristirahatan terakhir, karena terkesan Zhayn tidak bisa bersama mereka lagi walaupun pada kenyataannya memang mereka sudah berbeda dunia. Namun, mereka semua menempatkan nama Zhayn di dasar relung hati yang terdalam. Sehingga rasa cinta kasih terhadap Zhayn masih begitu kental terasa.


Seperti Rasyid yang masih sering mengunakan tongkat bisbol yang dihadiahkan oleh Zhayn kepadanya. Maxwell yang selalu mengenakan sepasang vest dan jas yang juga dihadiahkan oleh Zhayn ketika hari kelulusan wisuda mereka. Dan barang-barang kenangan dari Zhayn masih sangat terawat oleh mereka.


Makanya ketika Zhafira melihat pemberian Zhayn dirusak oleh Kenzie membuat Zhafira tertanam benci, meskipun kebencian terhadap Kenzie hanya sebesar biji Zahrah, namun membenci termasuk larangan dari agama yang terdapat dalam Hadits dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda β€œJanganlah kalian saling membenci, janganlah saling mendengki dan janganlah kalian saling membelakangi dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam”. (HR. Bukhari 6065).


Selain diriwayatkan dalam hadist larangan untuk memiliki perasaan benci, apalagi mempunyai rasa dendam dituliskan di dalam Al-Qur'an diantaranya terdapat dalam surah Al-HujurΓ’t ayat 11 , surah Al-Nur ayat 19, dan surah Al-Maidah ayat 8 , serta beberapa surah yang lainnya.


Yang intinya adalah perasaan itu hanya memberikan banyak hal negatif bagi diri kita sendiri yang sama sekali tidak pernah ada manfaatnya sama sekali. Oleh karena itu jika ada orang yang memiliki perangai buruk, dan ada beberapa perbuatan orang tersebut menyakiti hati, atau menyakiti kita sudah ikhlaskan saja, toh keburukan yang dia berikan akan kembali ke dirinya sendiri bisa cepat atau lambat entah nanti ketika dia sudah tenang di sisinya yang artinya setiap perbuatan akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang dia perbuat. Jangan khawatir soal bagaimana dia akan mendapatkan apa yang telah diperbuat.


Zhafira berkali-kali istighfar berusaha untuk melepaskan perasaan benci yang merasuki hatinya beberapa hari ini. Zhafira merasa sedikit lega ketika Kenzie sudah tidak lagi mendekati dirinya, apalagi saat ini ada Rasyid dan Maxwell. Perasaan Zhafira semakin bertambah lega, karena Kenzie tidak akan berani berhadapan dua jagoannya ini yang terkenal sanggar.


Cleo, salah satu sahabat Zhafira mendapatkan kabar dari Anggie ketika Cleo menanyakan Zhafira pada Anggie. Anggie tidak pernah menutupi sesuatu apapun pada soulmate masa putih abu-abu ini, sehingga Cleo memutuskan untuk pulang ke +62, dan mengajak teman-teman lainnya untuk having fun menjelajahi destinasi wisata di negara ini yang terkenal dengan keeksotisan panorama alam.


Lagipula ada beberapa tempat yang menjadi investasi milik keluarga Cleo. Sehingga tidak perlu repot-repot harus mencari tempat lagi.


*


*


*


*


*


🌺🌺