
πππππππππππππππ
Zhafira yang masih tertidur dengan pulas setelah di tinggalkan oleh Zhidan masih terus mengarungi dunia mimpinya. Entah apa yang di impikan oleh Zhafira hingga membuat Zhafira terlihat sangat pulas dalam damai.
Sedangkan untuk Zhidan, yang tidak pernah bisa damai ketika melihat kakak perempuannya sakit, merasa was-was, dan waspada dengan kondisi kesehatan Zhafira. Oleh karena itu setiap beberapa jam sekali pada malam hari, Zhidan selalu datang untuk melihat kondisi Zhafira.
Dan kemudian setelah Zhidan menyelesaikan sholat sunnah malam nya, Zhidan kembali lagi ke kamar Zhafira untuk mengecek lagi kondisi Zhafira, dan pada waktu inilah Zhidan mematikan dering ponsel Zhafira agar Zhafira tidak terganggu istirahat nya. Bahkan alarm untuk sholat sunnah malam pun sudah Zhidan matikan, sehingga Zhafira tidak menyadari jika sejak tadi ponselnya terus berdering dan beberapa notifikasi pesan masuk yang belum terbaca. Dikarenakan Zhidan dengan sengaja membisukan dering ponsel agar Zhafira tidak terganggu oleh notifikasi pesan ataupun panggilan telepon masuk.
Zhafira terbangun tidurnya setelah terdengar suara adzan subuh yang bergema di mushola pribadi mansion Azzam. Dengan perasaan sedih, Zhafira berusaha mengerakan anggota tubuhnya yang beberapa terasa sakit jika digerakkan.
Namun rasa sakit itu tidak menggoyahkan niat Zhafira untuk terus berusaha bangkit dari tidur nya. Walaupun Zhafira merasa rugi setelah melewatkan sholat sunnah tahajud nya, setidaknya sholat wajib dua rakaat nya, tidak dia tinggalkan.
Suara pintu kamar terbuka, membuat Zhafira mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar. Zhidan sudah siap dengan pakaian sholat nya.
" Ayo "
" Zhizi bantu kakak untuk ke kamar mandi " ucap Zhidan yang sudah mengangkat tubuh Zhafira
" Ck "
" Kakak bukanlah gadis lumpuh, Zhi " sahut Zhafira sedikit kesal dengan perlakuan sang adik.
" Jangan berkata-kata dengan kata-kata yang tidak - tidak "
" Berkata buruk "
" Berhati - hatilah segala ucapan adalah do'a " ucap Zhidan yang tidak suka ,jika sang kakak suka berkata hal buruk untuk dirinya sendiri. Padahal niat Zhafira bukan seperti itu. Zhafira hanya tidak ingin Zhidan bersikap seperti Zhafira barang pecah belah, yang harus diperlakukan dengan sangat hati-hati.
Bukannya tidak suka akan perhatian dari sang adik. Akan tetapi bisakah Zhidan sedikit saja mengurangi sikap overprotektif agar Zhafira tidak merasa terlalu di kekang kehidupannya.
Namun semua protes yang hendak Zhafira layangkan kepada Zhidan hanya sampai di tenggorokannya saja, dan itupun tertelan kembali. Karena Zhafira merasa jika complain yang Zhafira ajukan hanya akan seperti sebulir tetesan embun yang akan menguap bersama datang nya sinar mentari pagi.
Zhidan tidak melaksanakan ibadah subuh nya bersama para penghuni mansion Azzam, karena dia yang memimpin sholat berjamaah bersama Zhafira di dalam kamarnya. Bahkan Zhidan meminta salah satu maid Azzam untuk membawa sarapan pagi ke dalam kamar Zhafira saja.
Mendengar hal itu membuat Zhafira mau tidak mau mengajukan permohonan agar dia ikut sarapan pagi bersama para sepupunya di area dapur. Dan kali ini , Zhafira berhasil membujuk Zhidan dengan drama.
Setelah Zhidan meninggalkan kamar yang di tempati oleh Zhafira. Zhafira memutuskan untuk kembali berbaring di atas kasur, sembari membuka ponselnya. Ketika pertama kali membuka kunci handphone dengan sidik jarinya, atau finger print pada aiphone miliknya.
Beberapa pesan dan panggilan telepon tidak terjawab sangat banyak sekali. Dan ada juga beberapa dari nomor tidak tersimpan kontak nya.
Namun, Zhafira mengacuhkan itu, dan memutuskan untuk membuka pesan yang di anggap nya penting terlebih dahulu. Dan beberapa obrolan group yang sangat malas Zhafira untuk memanjat kembali obrolan dari awal, sehingga Zhafira memutuskan untuk clear obrolan saja. Jika memang teman, sahabat, atau siapapun itu pasti akan menghubungi dirinya kembali hari ini jika Zhafira tidak membalas pesan sebelum nya.
Setelah selesai dengan semua pesan dan melihat siapa saja menghubungi nya, Zhafira hendak beranjak dari posisinya untuk keluar menemui para sepupunya dan para penghuni mansion Azzam lainnya, yang pasti sudah berkumpul di area ruangan keluarga, dan tidak lagi berada di kamar mereka masing-masing lagi.
Namun kali ini bunyi dering pada ponsel membuat Zhafira menunda keinginan, Zhafira memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon yang masuk. Setelah Zhafira mengeser ikon panggilan masuk, terdengar salam sapa dari seorang pria, yang terdengar dari suara khas laki-laki dengan sedikit lebih bass dari suara adiknya.
" Bagaimana kondisi kamu ? " Tanya pria tersebut, membuat Zhafira mengeryitkan dahi nya.
" Sok tahu sekali orang ini dengan kondisi aku " gumam Zhafira dalam batinnya sembari melihat kembali nomor telepon yang tidak tersimpan tersebut di display handphone, pertanda jika si penelepon bukanlah orang yang penting baginya dan bukan orang terdekat baginya
" Kenapa diam saja "
" Perlu abang datang untuk menjenguk kamu " ucap pria itu lagi , ketika tidak ada jawaban dari Zhafira
" Oh "
" Itu "
" Hm "
" Maafkan saya, apakah saya mengenal anda " ucap Zhafira dengan sopan
" Apakah kamu sungguh telah melupakan abang " ucap pria itu kembali
" Sekali lagi maafkan saya membuat anda tersinggung "
" Lupakan saja "
" temui abang sebelum makan siang di resto BR di jl S " ucap pria itu yang terdengar seperti sebuah kalimat perintah yang membuat Zhafira merasa cukup aneh sehingga Zhafira berfikir untuk tidak perlu menemui pria tersebut, apalagi dirinya sangat malas untuk memenuhi undangan dari seorang berjenis kelamin pria.
" apakah abang harus mengingatkan janji kamu kepada abang ? " Ucap pria itu kembali ketika tidak ada respon balik dari Zhafira, dan tentu saja hal itu membuat Zhafira kembali berpikir ulang untuk mempertimbangkan permintaan dari pria di seberang telepon
" Baiklah "
" Inshaallah, saya akan datang sesuai dengan alamat yang anda berikan " jawaban yang Zhafira berikan ketika pria tersebut menagihkan janji yang pernah Zhafira lontarkan. Sehingga membuat Zhafira tidak bisa berkutik ketika orang tersebut meminta haknya.
Hujan yang mengguyur kota hingga subuh hari ini masih terlihat meneteskan air hujan yang masih setia jatuh ke atas permukaan tanah membuat suhu terasa sangat dingin, sehingga membuat para penghuni mansion masih bermalas-malasan untuk beraktivitas termasuk Zhafira apalagi kondisi tubuhnya yang sedikit tidak baik.
Namun, karena perutnya selalu makan di waktu yang tepat setiap paginya, maka mau tidak mau untuk keluar dari kamar yang di tempati nya. Setelah sampai di area dapur, Zhafira dapat melihat para tetua yang terdiri dari ibunya, Siti, dan Azzam sudah berada di dalam gazebo yang berada di tengah-tengah kolam ikan yang berukuran besar yang terletak di bagian mansion sebelah kiri dimana di sana terdapat juga taman yang indah nan tertata rapi tanaman nya.
Udara yang bersih dan sejuk tentu semakin menambah selera , begitu lah yang di rasakan oleh Azzam, isteri,dan adiknya. Mereka menyantap sarapan pagi mereka dengan lahap dan sesekali terdengar suara tawa diantaranya. Entah dengan topik pembicaraan apa, hal itu karena Zhafira tidak dapat mendengarkan dengan jelas apa yang mereka bertiga bahas dengan excited.
" Assalamualaikum "
" Para penghuni surga nya Allah " ucap Zhafira dengan menyimpulkan senyuman manis yang ikut memperlihatkan dimples di pipinya.
" Waalaikumsalam"
" Masyaallah, aamiin ya rabbal alamin "
" Semoga Allah mendengar doa mu, nak. Menjadikan kita semua para penghuni surga nya Allah " sahut ke-tiga ketika Zhafira mengucapkan kalimat yang menyenangkan hati. Karena tujuan hidup sesungguhnya adalah untuk meminta tempat terbaik ketika kembali ke kehidupan yang sesungguhnya.
Zhafira tidak segera menyantap sarapan, dia malah sibuk memeluk tubuh sang ibu, mendusel- dusel seperti anak kucing ke tubuh sang ibu. Bakti seorang Zhafira kepada ibunya tidak perlu diragukan, hidupnya selalu disertakan doa sang ibu, di dalam setiap perjalanan, namun satu hal yang belum bisa di penuhi oleh Zhafira yaitu menikah. Karena pernikahan merupakan momok yang sangat menakutkan bagi Zhafira, dan dia sangat traumatis dalam hal itu. Bukan keluarga tidak tahu hal itu, akan tetapi kalau Zhafira sendiri tidak mau speak up akan hal itu, maka Zhafira akan terus terkungkung dalam pemikirannya sendiri sampai kapanpun. Oleh karena itu, Aisyah tidak henti-hentinya selalu memberikan kalimat yang membujuk Zhafira selalu untuk berani bangkit.
Tapi entah apa yang merasuki Aisyah pagi hari ini, ketika dia membahas hal itu, dan Zhafira mulai dengan memberikan jawaban yang selalu sama yang membuat Aisyah naik pitam. Sehingga untuk pertama kalinya, hari ini pecah keributan di antara Aisyah dan Zhafira dimana Aisyah bersikukuh untuk Zhafira menuruti perintah nya untuk segera menikah dengan siapapun pria nya. Asalkan Zhafira menikah.
Hal itu membuat Azzam dan Siti sangat terkejut, sangking terkejutnya Azzam sampai memegang bagian dada sebelah kiri, karena untuk pertama kalinya juga dia melihat perlakuan kasar Aisyah terhadap Zhafira, bagaimana pun kondisinya, Azzam merasa selama ini sebagai ayah penganti , terlihat sangat sedih ketika Aisyah memperlakukan Zhafira dengan seperti ini, apalagi kata-kata yang Aisyah lontarkan tidak hanya menyakiti hati Zhafira , tapi hati Azzam dan Siti yang melihatnya.
Rintihan suara tangisan Zhafira yang terdengar memilukan di bawah telapak kaki Aisyah membuat Azzam dan Siti ikut menangisi kesedihan Zhafira. Namun seakan-akan buta dan tuli Aisyah terus saja melontarkan kata-kata yang membuat Zhafira semakin terisak-isak di bawah telapak kaki Aisyah.
Bersamaan dengan kejadian itu, Abhi dan Zhidan menuruni anak tangga untuk sampai di ruangan makan yang masih di area dapur. Suara keras Aisyah terdengar sangat jelas membuat Zhidan mematung di tempat. Tepukan yang disematkan oleh Abhi menyadarkan Zhidan untuk segera berlari menuju sumber suara. Betapa terkejutnya Zhidan ketika melihat wajah bengis ibunya, dan Zhafira yang sudah berderai air mata bersimpuh di telapak kaki sang ibu, wajah Zhafira sudah terlihat sangat menyedihkan, tubuh kecilnya masih memperdengarkan rintihan yang memilukan.
Azzam memerintahkan Zhidan untuk segera membawa Zhafira segera kembali ke kamar yang ditempati Zhafira, agar konflik ini harus segera berakhir. Tanpa menunggu waktu lama, Zhidan segera membawa Zhafira dengan mengangkat tubuh sang kakak ke dalam dekapannya, mengendong Zhafira layaknya anak koala di dada bidangnya.
Ketika Zhafira dan Zhidan tidak terlihat lgi oleh Aisyah. Aisyah yang sejak tadi menahan air matanya dan amarah nya secara bersamaan membuat kepalan di tangan Aisyah kian memutih buku-buku nya secara perlahan-lahan dia lepaskan, dan secara perlahan juga kesadaran Aisyah menghilang. Untungnya Azzam menyadari hal itu, dengan sigap Azzam segera menyambut tubuh Aisyah yang hampir ambruk ke lantai
" Bhi "
" Cepat hubungi dokter ! " Perintah Azzam dengan cepat, tentu saja Abhi dengan cepat men-dial kontak dokter keluarga Lesham, sedangkan Siti segera mencarikan minyak kayu putih atau apapun yang bisa menyadarkan Aisyah dari pingsannya.
Kalimat istighfar selalu mereka panjatkan sepanjang tragedi ini berlangsung berharap semua akan berakhir.
*
*
*
*
*
*
*
πΊπΊ