My Darling

My Darling
36



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sedangkan di kediaman mansion Azzam Lesham, Zhafira yang sudah menyelesaikan sarapan pagi yang sempat tertunda karena kedatangan dua jagoan Aisyah lainnya. Mereka semua sarapan pagi dengan damai. Namun tidak lagi damai ketika sarapan pagi telah selesai mereka lakukan. Para remaja gadis begitu excited kedatangan kakak laki-laki mereka yang sangat jarang sekali pulang kampung. Berbagi cerita dan pengalaman hidup yang mereka lalui se masa mereka tidak berjumpa membuat Zafran Maxwell yang pendiam hanya menjadi pendengar setia atas cerita para gadis. Berbeda dengan Zhabit Rasyid yang ikut menanggapi cerita para gadis. Sedangkan untuk pria seperti Zhidan dan Abhi, serta beberapa sepupu mereka lainnya sama seperti Maxwell yang lebih cenderung menjadi pendengar saja.


Zhafira yang juga terlihat sangat senang kedatangan dua jagoan yang selalu melindungi dirinya sebelum Zhidan dewasa, tentu sangat mengekspresikan perasaan rindunya, walaupun tidak lagi bersentuhan fisik mengingat jika kedua kakak laki-laki nya ini bukanlah mahram baginya. Bahkan Zhafira sudah merencanakan untuk datang sedikit terlambat dari waktu kedatangan dia ke perusahaan.


Zhafira masih melepaskan rindu dengan kakak laki-lakinya, sehingga mau tidak mau sekretaris utama Zhafira yaitu Diana menjadwalkan ulang atau re- schedule kegiatan Zhafira hari ini.


Zhafira termasuk beruntung karena selain memiliki sekretaris - sekretaris yang kompeten , Zhafira memiliki backup person yang sangat baik. Yah, betul sekali, Zhafira memiliki Anggie yang selalu bisa Zhafira andalkan dalam segala kondisi karena Anggie sangat handal dalam mengatur semuanya walaupun terkadang Zhafira harus ikhlas menerima kalimat umpatan yang dilayangkan oleh Anggie ketika Zhafira senang sengklek atau dalam kondisi tidak becus karena Zhafira terlalu sering ceroboh dalam beberapa hal.


Pagi hari ini yang ceria menghadirkan rasa bahagia di hati Zhafira begitu pula dengan Aisyah ketika Zhafira memeluk tubuh Aisyah. Dan Zhafira tidak membiarkan sang ibu untuk membicarakan hal yang pernah menyakiti Zhafira. Karena Zhafira tidak suka melihat air mata sang ibu. Serta Zhafira juga telah pasrah untuk kali ini jika memang sang ibu ngotot untuk menjodohkan Zhafira lagi dengan seorang pria hasil pilihan sang ibu, atau dari keluarga nya.


Zhafira hanya bisa pasrah menerima pria yang akan dijodohkan kepadanya untuk terakhir kali ini. Mungkin inilah saatnya dia meletakan satu-satunya keinginan dalam hidupnya. Toh hidupnya akan berakhir, dunianya akan berakhir jika sampai dirinya kehilangan sang ibu. Maka dari itu untuk kali ini Zhafira sangat pasrah dengan jalan takdir yang Allah SWT berikan kepadanya .


Suasana mansion utama Azzam kembali hening ketika semua orang sudah kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing. Apalagi ketika Zhafran dan Zhabit diminta Aisyah untuk beristirahat karena Aisyah merasa cemas putra-putranya ini mengalami jetlag setelah melakukan perjalanan udara yang cukup lama.


Lagipula Zhafira dan lainnya akan segera berangkat kerja, mengisi hari mereka dengan kegiatan masing-masing termasuk Aisyah yang sudah pergi ke sekolah untuk memenuhi tugasnya sebagai guru.


Padahal niat awalnya Aisyah ingin memberikan Zhafira kejutan ketika sampai di rumah mereka. Namun malang tidak dapat di tolak, Zhafira mengalami musibah yang membuat mereka semua harus kembali ke mansion utama Azzam.


Tragedi yang di alami oleh Zhafira sesungguhnya tidak pernah di sangka- sangka oleh semua orang, bagaimana bisa Zhafira sampai mengalami hal seperti ini, padahal penjagaan terhadap Zhafira sudah sangat ketat. Namun Zhafira kalimat Zhafira " bahwa semua karena Allah SWT, satu dahan pohon yang gugur pun pasti karena kehendak Allah SWT, dan Allah SWT pasti tahu itu, sehingga jangan menyalahkan siapa-siapa, karena sesuatu yang terjadi pada Zhaza itu karena atas kehendak Allah SWT " ucap Zhafira yang membuat semua orang tertegun. Inilah yang membuat semua orang suka kepada Zhafira.


Bahkan Zhafira kembali berucap " Zhaza masih Alhamdulillah loh, sangat bersyukur karena Allah SWT hanya memberikan Zhaza ujian sebatas itu saja, toh semua itu terjadi pasti nya Zhaza jadikan hal itu sebagai pengingat dosa dan khilaf yang mungkin tidak sengaja Zhaza perbuat, atau bisa juga karena Allah SWT sedang mengingatkan Zhaza untuk harus lebih berhati-hati lagi " yang lagi-lagi membuat hati semua orang meleleh mendengarkan kalimat Zhafira yang seperti ini. Kedewasaan Zhafira dalam bersikap, kedewasaan Zhafira dalam menyikapi masalah yang menimpa dirinya. Bahkan Zhafira belum pernah terdengar mengumpat, atau menindaktegas orang yang telah memperlakukan Zhafira buruk. Kecuali jika sudah terjadi kekerasan fisik, maka Zhafira akan melindungi dirinya, bukan untuk menyalurkan emosi, bukan. Akan tetapi sebagai bentuk perlawanan diri terhadap tindakan lawan atau musuh yang Zhafira hadapi.


Zhafira bukannya sibuk mengkoreksi orang lain, akan tetapi Zhafira sibuk mengintrospeksi dirinya sendiri, menelaah kesalahannya sendiri dengan tidak sibuk menyalahkan orang lain atas apa yang sudah menimpa dirinya, toh sudah terjadi sehingga nikmati saja prosesnya karena Allah SWT selalu memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang meminta perlindungan Nya.


Inilah yang membuat Lesham begitu menyayangi Zhafira, keponakannya ini begitu indah perangainya, Azzam sangat beruntung memiliki Zhafira yang bisa dijadikan sebagai role models bagi semua anak keturunan Lesham lainnya, padahal untuk Zhafira sendiri , dia memiliki kekaguman terhadap sosok Fatimah Az-Zahra RA, putrinya Rosullullah SAW dengan Khadijah.


Note : RA merupakan singkatan Arab untuk menyingkat lafaz Radhiyallahu `anhu/`anha / `anhum., Yang artinya semoga Allah senantiasa melimpahkan keridhaan kepadanya


Bukan hanya para pemuda pemudi keluarga Lesham saja memiliki segudang aktivitas pagi hari ini, Azzam yang masih memimpin perusahaan Lesham juga sudah berada di dalam ruangan kerja nya di perusahaan yang saat ini masih dipimpinnya. Karena sang putra pertama Azzam memilih untuk tetap berada di negara * demi mengokohkan kerajaan bisnis keluarga, sama seperti yang dilakukan oleh Zhafran dan Zhabit.


Azzam yang menelusuri setiap dokumen yang berada di meja kerjanya seketika merasa terusik ketika mendengarkan suara ketukan pada pintu ruangan kerjanya. Tanpa melihat ke arah pintu, Azzam hanya memerintahkan orang di balik pintu untuk masuk saja ke dalam ruangan kerja Azzam karena Azzam masih konsentrasi meneliti dokumen yang saat ini di bacanya.


Sekretaris Azzam yang datang mendekati sang tuannya segera memberitahukan bahwa ada seseorang yang datang, dan meminta waktu bertemu, padahal tamu tersebut sama sekali belum mendapatkan janji temu dengan Azzam. Namun sang tamu bersikeras untuk bertemu saat ini juga, sehingga membuat Azzam mengerutkan dahinya, siapakah tamu yang sangat ingin bertemu dengan dirinya saat ini juga.


" Untuk apa " ucap Azzam dengan singkat , namun sekretaris utama Azzam tahu makna dari ucapan Azzam yang berarti Azzam sudah tahu tamu yang hendak menemui dirinya dan dia tidak sudi untuk bertemu dengan tamu tersebut . Namun tanpa di duga tamu tersebut dengan lancang masuk ke dalam ruangan tanpa permisi, membuat sekretaris Azzam terkejut, dan sempat melongo, yang kemudian dia hendak melakukan pengusiran terhadap tamu tersebut.


Namun Azzam memberikan sekretaris nya sebuah kode agar dia membiarkan saja tamu tidak di undang ini berada di dalam ruangan kerja Azzam. Walaupun Azzam terlihat tidak menyukai tamunya, Azzam tidak akan berlaku buruk terhadap seorang yang sudah datang bertamu padanya karena Azzam sangat menjunjung nilai kesopanan yang diajarkan dalam agamanya. Bahkan Azzam meminta sekretaris nya menjamu tamu tersebut walaupun sebenarnya terlihat sekali jika Azzam tidak menyukai kedatangan tamunya.


" Azzam "


" Berikan lah aku kesempatan untuk mengatakan maksud kedatangan saya kali ini "


" Aku mohon " ucap seorang tamu itu dengan mengiba.


Azzam yang sudah skeptis terhadap tamu yang tidak tahu diri ini, menduga jika maksud kedatangan nya pasti berhubungan dan berkaitan dengan Zhafira. Dan ketika Med Mendez menyampaikan maksud kedatangannya, dimana hal tersebut sesuai dengan apa yang diperkirakan oleh Azzam, membuat Azzam menyunggingkan senyuman smirk yang jarang dia lakukan.


" Ayolah tuan Mendez "


" Bukankah aneh, dari semua yang kamu katakan " ucap Azzam dengan tenang


" Bagian yang mana aneh menurut kamu , Azzam " tanya Med Mendez


" Kamu mendatangi keluarga itu "


" Dan sudah melakukan negosiasi, yang kemudian mencapai mufakat dengan keluarga itu " ucap Azzam


" Iya " sahut Med Mendez


" Itu "


" Kesepakatan di antara kamu, dan mereka "


" Bukan di antara kamu dan kami " ucap Azzam dengan tenang


" Untuk itulah, aku kesini, Azzam "


" Memberikan penjelasan bahwa aku telah melakukan perjanjian yang tidak gampang dengan tetua Bhalendra " ucap Med Mendez lagi


" Berilah aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini "


" Bukankah setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, lagipula perempuan itu bukanlah cucu kandung aku, bukan pula bagian dari keluarga Mendez "


" Aku akan membuat klarifikasi pada publik akan hal ini " ucap Med Mendez masih mengupayakan mediasi kepada Azzam


" Hm "


" Memang benar setiap orang, memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan "


" Namun kesalahan yang dia lakukan selalu berulang-ulang, hingga kini pun masih sama, tidak ada bedanya " ucap Azzam


" Dan kalian diam saja "


" Bukan hanya kepada Zhaza seorang, kepada orang lain yang strata sosial nya rendah semakin dipijaknya "


" Aku akan memberikan dia pelajaran untuk itu " ucap Azzam


" Puji Tuhan "


" Terimakasih, Azzam "


" Karena kamu hanya menghukum dia saja "


" Toh memang dia lah yang selalu membuat ulah " ucap Med Mendez yang secara spontan membuat Azzam tertawa


" Siapa bilang, aku hanya menghukum dia saja "


" Aku akan menghukum setiap orang yang terlibat dengan perempuan itu "


" Tidak akan aku biarkan orang-orang bernafas lega atas apa yang terjadi pada anggota keluarga aku "


" Mengusik orangku sama saja dengan mengusik aku " ucap Azzam dengan dingin yang membuat Med Mendez terdiam. Karena apa yang dikatakan oleh Azzam itu benar, karena dia sendiripun sama, pasti akan melakukan hal yang sama jika anggota keluarga terusik.


Azzam meninggalkan sesuatu, sedangkan Zhafira baru akan berangkat kerja, sehingga Zhafira menawarkan diri untuk mengantarkan barang Azzam yang tertinggal. Di sinilah Zhafira dia berada di depan meja sekretaris Azzam. Melihat kegelisahan sang sekretaris membuat Zhafira heran. Setelah Zhafira mengucapkan kalimat salam, Zhafira menanyakan apa gerangan yang membuat pria ini nampak gelisah.


Zhafira tersenyum, dan mengatakan bahwa dia akan mencoba membujuk Azzam agar tidak memarahi pria ini, karena telah teledor membiarkan tamu yang tidak diundang tersebut menyerobot masuk menemui Azzam. Zhafira juga penasaran siapakah tamu yang tidak diinginkan oleh Azzam.


Zhafira mengetuk pintu membuat pembicaraan antara Azzam dengan Med Mendez terhenti sejenak. Med Mendez tidak henti menatap wajah cantik Zhafira, betapa terkejutnya Med Mendez ketika dia bertemu untuk pertama kalinya dengan Zhafira. Karena bukan hanya isapan jempol belaka jika banyak orang memuji kecantikan keturunan Bhalendra.


Zhafira memberikan senyuman saat pandangan mata Med Mendez bertemu dengan tatapan mata Zhafira. Zhafira segera menghampiri Azzam, memberikan salam penuh takzim, Azzam pun mengecup puncak kepala Zhafira yang tertutup hijab


" Apakah Zhaza menganggu pembicaraan kalian, pakde " ucap Zhafira dengan santun yang di jawab Azzam dengan gelengan kepala dan sebuah senyuman yang membuat Med Mendez terdiam, karena tingkah Azzam yang begitu hangat menyambut keponakannya berbeda dengan yang Azzam tunjukkan kepada dirinya.


Zhafira pun memberikan salam walaupun tidak bersentuhan, bertanya kabar pada tamu Azzam, serta tidak lupa tersenyum dan Med Mendez memanfaatkan kesempatan ini sebagai peluang agar bisa meluluhkan hati Azzam.


" Kamu "


" Putrinya Adhitama " ucap Med Mendez yang tentu saja membuat Zhafira terdiam, lalu menatap wajah lawan bicaranya


" Iya "


" Apakah saya mengenal anda, tuan " ucap Zhafira yang tidak mengingat pria paruh baya di hadapannya.


" Aku adalah Med dari keluarga Mendez "


" Kamu pasti tidak mengingat aku, karena kita pernah bertemu di saat kamu masih sangat kecil pada waktu itu " ucap Med Mendez yang mulai melakukan aksinya


" Oh "


" Benarkah " ucap Zhafira dengan tenang


" Iya "


" Hubungan " ucap Med Mendez yang terhenti ketika Azzam mengusir Zhafira segera pergi dari ruangan Azzam, karena Azzam tidak ingin Med Mendez memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik simpati dari Zhafira.


" Zhafira tolong, dengarkan permintaan Paman sebelum kamu pergi "


" Putra Paman terbaring lemah, saat ini dia mengalami stroke akibat perilaku putri sambung nya "


" Putra Paman adalah putra yang baik, dia sama sekali tidak tahu perbuatan dari putri sambung nya " ucap Med Mendez membuat Zhafira yang hendak berdiri pergi seketika menghentikan langkah kaki nya. Ketika melihat seorang ayah mengiba belas kasih.


Zhafira yang memiliki hati yang tulus tentu saja terenyuh ketika ada seorang ayah meminta ampunan kepada dirinya. Azzam menekan pelipis nya yang terasa sakit akibat menahan emosi, Med Mendez pintar sekali memanfaatkan kesempatan.


Med Mendez mulai melancarkan aksinya dengan menceritakan segala hal dari pangkal hingga akhir, Zhafira terdiam sembari mencerna setiap ucapan Med Mendez sembari mencari kebenaran dari setiap kalimat yang dia ucapkan. Apakah kejujuran atau kebohongan. Namun sepanjang cerita, Zhafira sama sekali tidak mendapatkan kebohongan dari apa yang disampaikan oleh Med Mendez.


Sekali lagi Zhafira tersenyum, lalu mengucapkan kalimat yang membuat Med Mendez tersenyum. Alangkah luas hati putri Adhitama, puji Med Mendez di dalam hatinya.


Zhafira segera bersimpuh di bawah kaki Azzam, layaknya jika seorang anak meminta sesuatu kepada orang tua, cara meminta dengan bersungguh-sungguh, yang memiliki niat dan harapan terkabul keinginannya Zhafira.


Zhafira mulai mengeluarkan kalimat yang mengugah hati Azzam, sehingga membuat Azzam pasrah untuk menuruti keinginan dan permintaan Zhafira, inilah yang tidak disukai oleh Azzam jika orang seperti Med datang menemui Zhafira. Sedangkan Med Mendez jangan ditanyakan lagi perasaannya sangat senang sekali. Jika boleh berandai-andai, Med Mendez sangat ingin memiliki Zhafira sebagai bagian keluarga Mendez. Andai saja sang cucu laki-lakinya bertemu dengan Zhafira, Med Mendez rela jika cucu memiliki keyakinan yang sama dengan Zhafira.


*


*


*


*


*


🌺🌺