
❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️
Zhafira yang berada di dalam mobil segera menyenderkan kepalanya yang sejak tadi terasa berat. Anggie ingin segera memeriksa kondisi Zhafira, karena Anggie sangat yakin pukulan pemuda itu cukup kuat, dan Zhafira tidak sempat mengelak dari pukulan tersebut.
Anggie ingin segera memeriksa kondisi Zhafira, namun Zhafira menolak karena ingin beristirahat terlebih dahulu karena kepala nya terasa sangat sakit. Anggie segera akan menghubungi pihak rumah sakit milik keluarga Clarke, namun Zhafira meminta mereka untuk pergi ke rumah sakit terdekat saja.
Karena kalau sampai Zhafira menjadi pasien, tentu saja akan membuat kegaduhan di keluarga Clarke, karena Zhafira sudah menjadi bagian dari keluarga Clarke. Paman Anggie yang menetap di negara N selalu menyebut Zhafira anak menantu, padahal sudah sangat jelas anak kandungnya tidak akan pernah bisa menikah dengan Zhafira karena mereka berbeda keyakinan, kecuali salah satu dari mereka mengalah, sedangkan mereka berdua baik Zhafira dan anak paman Anggie sama-sama memiliki keyakinan yang kuat dalam memeluk agama yang mereka anut.
Anggie terpaksa mengiyakan ucapan Zhafira, karena wajah cantik Zhafira makin memucat, mungkin karena rasa sakit begitu terasa di tubuh Zhafira
" Gie "
" Aku nggak apa-apa "
" Jangan cemaskan aku " ucap Zhafira yang masih memejamkan matanya. Anggie menahan dirinya sampai mereka tiba di rumah sakit. Dia akan memeriksa seluruh tubuh Zhafira.
Sopir pribadi yang mengendarai mobil mencari rumah sakit terbaik yang terdekat dari jarak tempuh mereka saat ini. Mau tidak mau perjalanan harus di tempuh kurang lebih lima puluh menit, karena itu adalah jarak tempuh terdekat dari rumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan yang cukup baik.
Mobil mewah Zhafira berhenti di tempat drop zone tepat di depan lobby IGD salah satu rumah sakit swasta
" Ada apa gitu "
" Saudari aku kesulitan untuk berjalan " ucap Anggie berkata dengan salah satu perawat yang datang mendekati mobil mereka, sedangkan perawat satu lagi memandangi wajah cantik Anggie, namun pada saat Anggie menatap ke arah perawat yang menatapnya dalam diam, membuat perawat itu terdiam.
Karena aura mengintimidasi Anggie sangat mengerikan, perawat itu sampai membuang pandangannya ke arah lain, agar tidak menjadi objek Anggie. Pada hal menurut Anggie itu bukan hal yang penting. Dia hanya memendam perasaan kesal, mengapa sampai bisa terjadi seperti ini
" Eva " ucap Anggie menatap tajam ke arah Eva, di balas Eva dengan anggukan kepalanya saja
" Selesai kan sisa pekerjaan hari ini "
" Cari informasi pria itu sedetail mungkin "
" Tutup akses, jangan sampai hal yang baru saja terjadi di ketahui oleh keluarga "
" Termasuk para sahabat kami " ucap Anggie
" Hubungi Jamal untuk menyelesaikan pekerjaan Zhafira yang tersisa jangan sampai diketahui oleh Zhidan "
" Amankan CCTV restaurant, jangan sampai mereka mendahului gerakan kita " ucap Anggie, yang langsung segera diiyakan oleh Eva, dan Eva dengan gerakan cepat melakukan perintah dari Anggie
" Selesaikan dalam waktu tercepat "
" Aku memercayai kamu, Eva " ucap Anggie yang langsung meninggalkan Eva. Sedangkan Eva langsung bergerak cepat setelah Anggie meninggalkan dirinya melakukan semua perintah Anggie , untuk menunjukkan kualitas kinerjanya yang sangat baik
Zhafira yang sudah berada di ruangan triase sedang dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter, yang kebetulan dokter jaga sore ini adalah laki-laki, membuat Zhafira sedikit kecewa. Namun tidak berselang lama, pihak rumah sakit menjanjikan akan mendatangkan dokter perempuan yang akan segera menangani Zhafira setelah Diana menghubungi langsung direktur utama rumah sakit.
Sembari menunggu, Zhafira sedang melakukan screening, kaki yang terkilir, membutuhkan dokter spesialis bedah ortopedi dan Traumatologi yang akan menangani kasus cidera dan penyakit pada sistem muskoloskeletal tubuh, mencakup tulang, sendi, tendon otot, ligamen, dan saraf.
Bahkan Zhafira sudah dilakukan scan pada area yang sakit, atas perintah Diana. Sebegitu paniknya Diana. Namun Diana masih bisa fokus dengan semua hal yang terjadi secara tiba-tiba seperti ini. Diana masih mampu berpikir dengan cepat, mungkin karena sebelumnya Diana sudah sering bekerja seperti ini, sehingga hal seperti ini sudah cukup biasa terjadi.
Dokter spesialis Ortopedi dan Traumatologi membacakan hasil scan pada kaki yang terkilir, dan mengatakan jika keseleo yang dialami oleh Zhafira tidak sampai merusak tendon. Makanya ketika Diana berkata akan dilakukan urut saja kalau seperti itu.
Membuat dokter spesialis Ortopedi dan Traumatologi itu sedikit sewot, karena jika sampai melakukan urut pada tempat yang sakit, malah ditakutkan salah penanganan, padahal hanya biasa saja, akan tetapi dengan memberikan pijatan pada bagian yang keseleo dapat merusak jaringan otot, sehingga jaringan ligamen yang bermasalah akan semakin parah dari kondisi sebelumnya.
Menurut dokter, cukup pada bagian yang sakit, atau bengkak diberikan kompresan es batu selama lima belas menit, dan dilakukan setelah setiap jam sampai bagian yang terkilir mengempes atau tidak bengkak lagi, kemudian balut area yang terkilir dengan perban elastis.
Menunggu sampai kaki Zhafira sedikit lebih baik. Diana, Anggie memiilih untuk menginap di rumah sakit untuk sementara, Oleh karena itu baik Diana maupun Anggie serta yang menjadi pasien nya Zhafira masih menetap sementara di dalam rumah sakit. Ali membawakan menu makan malam, untuk para perempuan, karena sudah hampir masuk jam makan malam.
Anggie masih terlalu malas untuk menyantap makanan setelah Yoyok dibantu oleh Ali membagikan menu makanan malam. Anggie masih memutuskan untuk tidak makan malam setelah melihat lebam pada area pinggang Zhafira akibat pukulan dari Darren. Namun Zhafira memaksa Diana dan Anggie untuk segera makan bersama. Jika tidak, maka Zhafira juga tidak akan makan malam hari ini yang terbilang cukup cepat dari jam makan malam.
Ali, dan Yoyok ikut bergabung makan malam bersama dengan para bodyguard , dan seorang sopir yang menunggu Zhafira di rawat inap sementara di ruangan super VVIP atau yang lebih dikenal dengan suite room. Yang terdapat dua ruangan di dalam ruangan suite room rumah sakit ini, dengan fasilitas tempat tidur elektrik berukuran besar, sofa bad, tempat tidur untuk penunggu pasien dan fasilitas mewah lainnya pada bagian pasien beristirahat, sedangkan untuk ruangan bagian depan nya lagi terdapat sofa tamu, meja makan,dan fasilitas mewah lainnya yang tentu saja membuat nyaman pengunjung pasien.
Sehingga Ali, Yoyok dan sesama rekan profesi dari pihak Anggie merasa nyaman-nyaman saja ketika ikut menemani Zhafira di rawat inap sementara malam hari ini.
Namun Zhafira menolak untuk di rawat inap, karena pasti akan membuat khawatir Aisyah dan Zhidan. Entah kenapa Zhidan sejak tadi sibuk menghubungi Zhafira ketika Zhafira dalam penanganan medis. Zhafira meminta Diana untuk mengatakan jika dirinya sedang sibuk, sehingga jangan lagi menghubungi Zhafira. Karena Zhafira akan pulang mungkin larut malam nanti.
Setelah berganti pakaian, dan mendapatkan penanganan medis. Serta sudah menyantap menu makan malam yang cukup cepat dari jam makan malam membuat Zhafira tertidur, yang diikuti oleh Anggie yang telah ikut tidur di ranjang pasien. Sedangkan Diana tertidur di ranjang penunggu pasien.
Para bodyguard yang juga kelelahan tertidur di sofa bad, sofa tamu, bahkan di lantai rumah sakit yang di lapisi dengan kasur empuk atas permintaan Diana, karena jumlah mereka sedikit melebihkan kapasitas.
Sopir pribadi Zhafira menghubungi tuannya yang sesungguhnya, membuat tuannya segera menuju rumah sakit tempat Zhafira di rawat inap sementara. Jika tuan Adhitama masih dalam perjalanan ,maka Kenzie yang sudah berhasil menyamar menjadi petugas medis.
Di ruangan bagian dalam pasien dengan gerakan sangat pelan, Kenzie melihat di kaki sebelah kiri Zhafira sudah dipasangkan elastis perban oleh dokter spesialis Ortopedi nya langsung. Ingin sekali rasanya Kenzie menyentuh Zhafira, namun segera dihentikan oleh Kenzie, karena takut penyamarannya akan ketahuan jika sampai Zhafira, atau salah satu perempuan di ruangan ini terbangun.
Setelah puas memandangi wajah cantik Zhafira yang sedang terlelap, Kenzie memutuskan segera pergi dari ruangan rawat inap. Yoyok bergerak seakan-akan hendak terbangun dari tidurnya, membuat Kenzie sedikit khawatir, walaupun dia sudah mengenakan pakaian penyamaran.
Namun Yoyok kembali tertidur, mungkin posisi tidur nya sedikit membuat dia tidak nyaman.
Kenzie segera keluar dari ruangan ketika sudah aman, sedangkan Robi yang baru saja keluar dari kamar mandi, Segera menyemprotkan bius ke area ruangan yang kadarnya sangat rendah sehingga masih aman untuk orang yang menghirup nya. Robi segera memasangkan tanda di depan kamar rawat inap Zhafira agar tidak boleh dimasuki oleh siapapun termasuk petugas medis.
Robi segera memberikan tanda kehormatan setelah melihat sosok Adhitama yang berjalan mendekati kamar rawat inap Zhafira. Sedangkan Adhitama segera bergegas masuk ke area dalam kamar rawat inap.
Melihat wajah cantik Zhafira yang sedang tertidur, membuat Adhitama tidak kuasa lagi untuk tidak meneteskan air mata. Setelah berhasil memindahkan Anggie di sofa bad, dan memberikan selimut, agar Anggie tidak kedinginan, setelah itu memberikan kecupan di keningnya, bagaimanapun Anggie sudah di anggap Adhitama sebagai putri angkat nya. Walaupun hubungan Adhitama dengan Steven memburuk setelah perceraian Adhitama dengan Aisyah, Adhitama tetap menyayangi Anggie.
Sebesar apapun kesalahan tuan Adhitama, kasih sayang seorang ayah akan selalu tetap sama kepada anaknya, apalagi Zhafira satu-satunya anak perempuan. Kelahirannya pun bahkan sangat dinantikan oleh Adhitama dan keluarga. Kehadiran Zhafira mengubah dunia Adhitama, cinta nya hadir ketika Aisyah melahirkan Zhafira.
Zhaza, adalah nama yang Adhitama sematkan untuk putri kesayangannya, yang diambil dari Ibrani, yang artinya penuh bunga. Karena hati tuan Adhitama saat itu sangat bahagia, apalagi ketika menyambut kelahiran Zhafira yang Adhitama saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Sehingga Adhitama memberikan nama putrinya dengan sapaan itu.
Sedangkan Zhafira dalam bahasa Arab nya memiliki arti kemenangan, bersinar, atau pun kejayaan. Intinya kehadiran Zhafira menjadi keberuntungan bagi Adhitama, dimana perusahaan yang dia rintis sendiri diluar perusahaan keluarga Bhalendra mengalami lonjakan kenaikan yang sangat signifikan, bahkan menembus pasar internasional, sampai beberapa sejak kelahiran Zhafira, perusahaan Adhitama terus mengalami peningkatan penghasilan, sehingga Adhitama dapat memiliki cabang di beberapa negara besar.
Karier Adhitama yang semakin meningkat secara terus menerus, begitu pula dengan kondisi perusahaan besar keluarga Bhalendra yang ikut merasakan puncak kejayaan seperti perusahaan yang dimiliki oleh Adhitama, membuat keluarga Bhalendra semakin meyakini bahwa Zhafira adalah nama yang cocok untuk cucu, dan cicit pertama perempuan di dalam keluarga besar Bhalendra. Sehingga Zhafira begitu diberkahi cinta dari keluarga besar Bhalendra.
Adhitama mengalami fase surut, dimana perusahaan mengalami pailit karena terjadi penurunan jumlah pembeli pada produk yang dihasilkan oleh perusahaan, kerusakan yang disebabkan hama atau wabah yang sedang terjadi, bahkan adanya masalah keuangan yang menjadi salah satu akar permasalahan terjadi pailit pada perusahaan. Ada beberapa orang oknum bertindak tidak jujur mengenai pemasukan penghasilan dari pengeluaran dimana pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, hutang - hutang perusahaan yang tidak bisa tercover dengan penghasilan membuat perusahaan Adhitama hampir saja kolaps bila tidak mendapatkan bantuan dana dari para sahabatnya yang masih setia kepada Adhitama, sebagai bentuk rasa kemanusiaan. Karena setelah Adhitama digugat cerai istri nya Aisyah, para sahabatnya Adhitama menyayangkan sikap Adhitama.
Perusahaan Adhitama hampir saja kolaps, itu bisa terjadi mungkin di saat itu Aisyah memilih menyerah dari rasa cintanya, menyerah dari rasa sakitnya, oleh karena itu Aisyah memutuskan untuk mengakhiri hubungan pernikahan mereka, agar rasa sakit itu mungkin saja bisa terobati dengan sendirinya ketika Aisyah melepaskan seseorang yang sangat dia cintai.
Namun seiring berjalannya waktu, bukan hanya Adhitama dan Aisyah saja yang merasakan dampak dari perpisahan itu. Anak-anak mereka yang menjadi korban divorce, membuat kondisi Zhafira semakin lama semakin memburuk. Apalagi ketika hari dimana Zhayn meninggal dunia. Dunia Zhafira semakin hancur, dia terjatuh dalam kesedihan yang luar biasa mendalam, sampai-sampai Aisyah harus bergerak cepat untuk pemulihan psikis Zhafira, dan Zhidan.
Aisyah dituntut menjadi strongest women. Berkarier, menjadi sosok ayah dan ibu secara bersamaan. Menjadi wanita tangguh, dan tentu saja ada keluarga besar Lesham yang ikut andil dalam usaha Aisyah untuk kembali merangkak naik dari nol.
Kondisi Adhitama tidak jauh berbeda dari Zhafira, Aisyah dan Zhidan. Namun Adhitama memilih untuk menyelesaikan sendiri semua, dan akan mengaku dosa kepada keluarga tercintanya ketika dia berhasil menyelamatkan perusahaan miliknya.
Sesungguhnya tidak kebahagiaan bagi satu orang pun akibat kehancuran rumah tangga yang dibangun oleh Aisyah dan Adhitama. Butuh effort yang besar untuk bangkit dari keterpurukan diri mereka sendiri. Dan setelah bertahun-tahun lamanya, semua orang bisa menata masa depan mereka masing-masing, kecuali Adhitama.
Rasa penyesalan masih selalu menghiasi Adhitama di manapun dia berada. Karena ada satu orang bijak berkata
" Sesungguhnya tidak akan pernah ada jalan kembali dari satu kesalahan kita selain menyesali nya "
" dan meminta ampunan, berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan hanya sebagai bentuk memperbaiki kualitas diri "
Beberapa kalimat lainnya yang menjadi penyemangat Adhitama untuk bergerak maju dari keterpurukannya, dari rasa sesalnya, walaupun terkadang masih sangat dia rasakan di kesendiriannya. Hidup nya hampa, tanpa seorang isteri, tanpa anak, walaupun berkali-kali tuan Bhalendra menjodohkan Adhitama dengan para putri koleganya.
Tidak berhasil membuat Adhitama untuk membuka hati.
" Pi "
" Aku belum pernah memberikan talak kepada Ais "
" Meskipun telah jatuh cerai dari pengadilan agama "
" Ais , sampai kapanpun adalah isteri aku '
" Izinkan aku memperjuangkan cinta aku, Pi "
" Seperti Ais memperjuangkan cintanya dahulu "
" Hanya perkara waktu, aku yakin, sangat yakin "
" Allah memberikan semua yang terbaik bagi hambanya, selagi hambanya berprasangka baik " ucap Adhitama yang masih mempertahankan bahwa dia masih sangat berharap bisa mempertahankan pernikahannya meskipun sudah memiliki akta cerai, yang pada saat itu di urus secara satu pihak.
Kekuatan kekuasaan keluarga Lesham tidak bisa dianggap remeh, begitu pula dengan keluarga Bhalendra, akan tetapi Adhitama memilih mengalah untuk Aisyah, tangisan pilu Aisyah saat itu menggoyahkan hati Adhitama
" Tolong "
" Selamatkan aku " ucap Aisyah ketika terakhir kalinya mereka bertemu. Adhitama berusaha menahan diri untuk tidak menangis di hadapan isterinya. Berkali-kali Adhitama menghelakan nafasnya dengan berat
" Sampai kapanpun, kamu adalah isteri aku, Ais "
" Tidak akan pernah ada kata talak dari aku untuk kamu, dan tidak pernah ada perceraian di antara kita "
" Aku hanya membebaskan kamu meniti jalan yang membuat kamu merasa lebih baik, namun tidak dengan hidup kamu dan anak-anak kita "
" Aku disini, akan tetap berada disini "
Ucap Adhitama menyentuh Aisyah untuk terakhir kalinya
Adhitama merengkuh tubuh ringkih Aisyah dengan sangat lama, menyesap aroma tubuh Aisyah yang mungkin akan lama dia rasakan kembali.
*
*
*
*
*
*
*
🌺🌺