My Darling

My Darling
67



🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Zhafira tidak pernah tahu, jika dia mengalami demam, atau sakit dan di rawat di rumah sakit, Adhitama tidak pernah absen untuk datang dan menemani Zhafira, walaupun Adhitama harus pintar-pintar mencari sela waktu agar tidak ketahuan oleh keluarga Lesham.


Seperti pagi hari ini, lebih tepatnya waktu subuh, Zhafira merasa sedih melewatkan qobliyah subuh nya, namun mau bagaimana kondisinya yang membuat dia melewatkan kesempatan itu, dan Allah SWT maha tahu segala hal walaupun sebesar biji zarah.


Cleo dan Anggie terlelap dengan sangat nyenyak, tanpa sadar, jika sejak tadi perawat lalu lalang melewati mereka berdua, termasuk petugas kebersihan, dan petugas gizi rumah sakit yang mengantarkan menu sarapan pagi khusus pasien.


" Bangun, woi " ucap Liliana yang sudah gatal dari tadi, melihat dua gadis ini tidak bergerak sejak satu jam yang lalu mereka datang.


" Berisik ! " Gumam Cleo yang segera membalikkan badannya ke arah lain. Sedangkan Zhafira menertawakan Liliana yang cenggo akibat ucapan singkat Cleo


" Sudah, jangan di ganggu si nona muda Morris, daripada saham kamu besok jatuh akibat amukannya " ucap Inez sembari terkekeh


" Widih "


" Anj* , saham mainannya "


" Nggak mutu banget sih " ucap Liliana


" Lah, emang elo nggak inget tuh bocah buat sahamnya Atmadja guling-guling pas dia nggak sengaja menertawakan dia pas Zhaza nge' nistain dia pas lagi ngumpul di rumah bunda " ucap Fauziah


" Dia aja yang sensi' an " kesal Liliana mengingat kejadian itu


" Kalau nggak mandang Zhaza, bisa - bisa selesai perusahaan itu " gumam Inez


" Gimana kabarnya, bang Evan " tanya Liliana


" Jangan tanya kabar bang Evan. Tanya kabar istrinya aja. Pasti tertekan punya suami posesif'in dia mulu " ucap Inez


" Iya , yah "


" Resiko punya isteri cantik "


" Ngomong-ngomong, siapanya Zhaza sih, bang Evan " tanya Fauziah


" Masih ada bau - bau keluarga gitu kalau nggak salah denger. Tapi saudara jauh gitu sih, jarang banget ketemu dengan Zhaza. Itu sih katanya Zhaza " Inez memberikan penjelasan


" Udah ah, bahas yang lebih bermutu aja kali " ucap Liliana sembari menuangkan sereal dan susu secara bergantian


" Ck "


" Beda banget yah vibes calon direktur PT *, udah nggak mau bahas yang nggak berbobot " seloroh Inez


" Loh, udah capek jadi CEO PT* milik keluarga Weiner " tanya Fauziah


" Udah di balikin jabatan CEO nya ke Abang "


" Capek akuh, mending urusin usaha sendiri, duitnya duit sendiri, untungnya makan sendiri, nggak bagi - bagi sama orang " ucap Liliana


" Mantap "


" Wah, bakal rampung nih pulau * yang kemarin udah kamu searching sejak kemarin " goda Inez


" Nggak "


" Nggak cukup tabungan dollar nya aku "


" Jadi, Aku minta ditambahin dengan Daddy untuk sisa pembayaran pulaunya " ucap Liliana tanpa beban


" Emang kurang berapa, penasaran deh gue " tanya inez


" sedikit sih "


" Hanya sekitar ******* " ucap Liliana dengan santainya


" Anj* "


" Pake kata " hanya " " Inez tertawa lepas yang terdengar sangat renyah


" Kamu minta pake apa nambahin sebanyak itu " tanya Fauziah yang juga ikut tertawa renyah


" Terserah, mau di bayar pake KWD, atau pake OMR, GBP juga boleh lah "


" EUR, maupun USD juga no problem buat aku "


" Hitung- hitung bonus gue yang udah kerja rodi di perusahaan tuan Mike " ucap Liliana yang kali ini mengambil buah pepaya, yang entah kenapa jika berada di negara ini dia paling suka konsumsi buah yang jarang disukai dan dinikmati oleh penduduk aslinya.


" Benar- benar anak nggak ada akhlak nya "


" Tawa Inez yang membuat semua orang ikut tertawa karena Liliana menyapa ayah kandung Liliana hanya dengan namanya saja.


" Untung- untung aku mau mengantikan Abang yang lagi sibuk di dunianya. Salah sendiri nakal, di tinggal istri lagi bunting pula. Hm, rasain tuh "


" nyesel dan nyesek sendiri " ucap Liliana yang menistakan sang kakak laki-lakinya membuat semua orang tertawa, benar - benar saudara yang absurd, biasanya saudara akan membela saudara kandungnya sendiri. Dan ini Liliana malah bersikap pro ke saudara iparnya.


Mereka tidak terlalu tahu permasalahan yang dialami oleh saudara laki-laki Liliana, namun spoiler permasalahan yang membuat saudari ipar Liliana memilih untuk meninggalkan suaminya, membuat para sahabatnya Liliana merasa iba. Sungguh kisah yang luar biasa menguras air mata. Di saat perjuangan saudari ipar nya mencapai puncak keberhasilan, di saat itu pula saudari ipar nya meletakkan semua rasa cintanya pada sang suami. Membuat kakak laki-lakinya Liliana terjebak rasa sedih yang teramat dalam, akibat terlambat menyadari rasa cintanya sudah tumbuh dan mengakar di hatinya dan terlambat mempertahankan pernikahan mereka. Sang istri meninggalkan dirinya dengan sisa rasa.


Terpuruk dalam penyesalan, membuat sang ayah mau tidak mau menarik anak gadisnya untuk mengantikan posisi sang kakak demi kemakmuran perusahaan. Roda perusahaan tetap harus berjalan, ada jutaan karyawan yang harus mereka pikirkan jika perusahaan sampai kolaps, walaupun mereka masih bisa bertahan hidup dengan perusahaan lainnya yang mereka miliki, namun bagaimana nasib seluruh karyawan yang harus kehilangan pekerjaan, akibat kecerobohan sang pemimpin dalam mengelola perusahaan.


Liliana yang terbiasa hidup bebas, harus mau dan harus bisa melaksanakan perintah kepala rumah tangga Weiner. Hidup dalam privilege keluarga high class membuat Liliana harus siap dalam segala kondisi, termasuk menjadi pemimpin di perusahaan keluarga.


" Bagaimana kondisi kamu, Zha " tanya Liliana


" Much better " sahut Zhafira dengan enteng


" Anj* "


" Sumpah, kamu keren banget Zha "


" Dengan kecepatan seperti itu, dengan trouble seperti itu kamu masih bisa mengendalikan tuh mobil yang ternyata sudah di rusak " ucap Liliana dengan heboh


" Kok bisa-bisanya kamu malah menambah kecepatan mobil, padahal tuh mobil sudah di setting timer kapan bom meledaknya " tanya Inez


" Ck "


" Kalian terlalu fokus di balapannya saja, padahal aku sudah memberikan kode saat aku melampaui mobil kalian satu persatu " ucap Zhafira sedikit mencibirkan bibirnya, membuat semua orang terdiam


" Sudahlah, aku nggak masalah sih, lagipula momen seperti itu membuat adrenalin dan otak aku terpacu untuk bekerja lebih cepat " ucap Zhafira


" Sorry, Zha "


" Sumpah, gue pikir kemarin tuh, Anggie dan kamu saling salip itu, biasa lah namanya di tengah pertandingan. Nggak tahunya, Anggie berusaha menghentikan ide gila kamu "


" Bisa saja aku berhenti di tengah pertandingan, namun aku mikir lagi nih, ya iya kalau daya ledaknya rendah, hanya mobil yang aku kendarai aja yang bakal meledak, bagaimana kalau daya ledaknya besar, kalian bisa ikut terluka "


" Waktu ledaknya juga harus aku perhitungkan, biasanya sih segitu, makanya aku harus bisa melibas aspal lebih cepat, selain bisa mengalahkan kalian, aku bisa menyelamatkan kalian agar nggak terkena dampak tekanan ketika mobil aku meledak " ucap Zhafira


" Zha "


" Sarangheo " Inez segera memeluk tubuh Zhafira. Rintihan di bibir Zhafira membuat Inez mengendurkan pelukannya


" Kamu sakit, di bagian mana nya ? " Tanya Inez


" Pakaikan salep, sumpah sakit banget " ucap Zhafira dengan frustasi


" Kenapa kamu nggak ngomong sih, Zha"


" Kan bisa di obati dari kemarin " ucap Inez sembari bersungut-sungut


" Ck "


" Kagak tahu Zhizi aja " kesal Zhafira, membuat semua orang tertawa. Karena mereka semua tahu bagaimana hebohnya Zhidan jika mengetahui jika ada luka di tubuh Zhafira meskipun satu inci saja. Hanya lebam, Zhafira merahasiakan saja luka kecil seperti ini, daripada sampai membuat Zhidan mereog- reog tidak karuan.


Inez membantu mengoleskan salep di area punggung yang terdapat luka lebam.


" Zha "


" Dada kamu nyeri, nggak " tanya Fauziah


" Zia "


" Aku ini manusia, nyata di dunia yang fana "


" Bukan jin yang nggak bisa aku lihat dan aku raba " sewot Zhafira yang membuat semua orang tertawa.


" Airbag nya bagus, tapi tetap aja akibat benturan itu, tangan, kaki, badan aku sakit semua akibat jumpalitan kayak gitu. Sumpah, aku sudah merapalkan doa' - doa, bahkan kalimat syahadat agar aku balik ke Rahmatullah dalam keadaan mengingat Allah SWT " ucap Zhafira sembari tertawa


" Zhaza ! " Desis Anggie penuh penekanan dengan mata menatap tajam wajah cantik Zhafira , membuat semua orang terdiam, Zhafira sampai kesulitan menelan air ludahnya sendiri. Zhafira mengira Anggie masih tertidur, di saat mereka masih bercengkrama


" Ck " decak Cleo sembari menggelengkan kepalanya, kemudian Cleo langsung menuju ke arah kamar mandi. Dapat mereka pahami sikap Cleo yang memiliki arti cari mati aja kamu, Zha. Sudah tahu, kalimat itu sangat dilarang jika diucapkan oleh dirinya, masih saja ngeyel, rasakan saja itu, ngamuk si Anggie.


" Canda " ucap Zhafira sembari nyengir kuda


" Eh, bagaimana rencana merger kita " tanya Inez mengalihkan pembicaraan. Yang dijawab Liliana dan lainnya


" Aku, nanam saham aja "


" Lagi sibuk di semester akhir " ucap Fauziah


" Aciee- ciee "


" Yang udah mau S3 aja nih. Dulu'in kita- kita semua " goda Inez


" Kamu kapan, Zha nyambung S2, cuma kamu sendiri yang masih nyaman di situ " goda Liliana


" Ntar deh, aku ambil sekalian S3, bakwan satu, molen dua, empek-empek tiga gratis cuko " kelakar Zhafira yang membuat semua tertawa tanpa terkecuali


" Nanti lah, selesaikan Zhizi, aku mau fokus aku tidak terbagi, lagipula setelah selesai aku berencana healing dan vakum dari dunia bisnis sampai aku merasa lebih baik " ucap Zhafira karena dia harus menahan diri. Sungguh dia tahu dirinya jenuh akan kegiatannya yang menguras energi dan pikirannya selama ini


" Eh "


" Mampir ke ko* ,yuk " ucap Queen


" Ngapain ? " Tanya Fauziah


" Bisnis, kita melakukan perjalanan bisnis terus sekalian refreshing dong "


" tentukan harinyaq, lagipula ada concert nya *** " ucap Queen lagi yang membuat mata semua orang berbinar-binar


" Buat kamu, bonus lah ke pulau *, biar bisa rasane nuna, nuna " ucap Queen pada Inez yang membuat semua orang tertawa lepas,


" Ah " ucap Inez dengan ******* membuat semua orang mengucapkan kata-kata umpatan atas apa yang diucapkan oleh Inez, yang ditanggapi oleh Inez dengan tertawa puas membuat para sahabatnya yang masih gadis tercemari ucapan laknat itu.


Mereka masih sibuk dengan percakapan dengan tema random walaupun sedikit di intruksi ketika dokter menjalankan tugasnya, dan Zhafira diminta melakukan pemeriksaan.


" Eh "


" Banyak banget kiriman bunga " Liliana menatap berbagai buket bunga yang datang. Inez sudah ber'selfie ria dengan Queen, sedangkan Fauziah mendadak menjadi model ketika Cleo membidik wajah cantik dengan lensa kamera yang menjadi hobi baru Cleo.


Untuk Anggie dia sedang sibuk dengan lantop dan MacBook di hadapannya. Yang saat ini melakukan rapat virtual, karena Anggie tidak mau meninggalkan Zhafira, padahal banyak sahabat nya yang bisa menjaga Zhafira, namun over protective Anggie tiada lawan.


" Lily "


" Parcel yang ada di kamar depan, bagikan saja dengan perawat jaga, lagipula kita tidak kekurangan makanan. Sayang, mubazir " ucap Zhafira yang mendapatkan anggukan kepala dari Liliana, dengan cekatan Liliana langsung melaksanakan permintaan Zhafira.


Zhafira mengerutkan keningnya ketika Liliana memerintahkan dua bodyguard yang berdiri di depan membawa banyak makanan yang sepertinya dikirim oleh orang yang datang bersama Liliana setelah Liliana menjalankan permintaan Zhafira


Amanda mengucapkan kalimat salam, dengan mengembangkan senyuman, membuat para sahabatnya Zhafira menolehkan pandangannya kepada orang yang datang berkunjung, dan kemudian menatap Zhafira dengan sedikit mengulum senyuman. Mereka berada di circle high class, dan mereka tahu siapa perempuan paruh baya yang datang ke sini, nyonya Abrisham. Dan sudah terbaca maksud dan tujuannya tanpa Amanda menjelaskan hal itu.


" Ah "


" Siapa yah " tanya Zhafira setelah menjawab salam dari Amanda. Membuat Amanda sedikit kagok, dan terpaku sesaat


" Hm "


" Kita pernah berjumpa di panti asuhan nyonya Darwin " ucap Amanda, yang membuat Zhafira menerka- nerka dalam ingatannya, namun nihil, karena memang sesadis itu ingatannya Zhafira dalam mengingat orang.


" Ah, lupakan saja jika kamu melupakan Mommy "


" Bagaimana kondisi kamu ? " Tanya Amanda yang sedikit kesal karena Zhafira melupakan dirinya, padahal Amanda berharap banyak pada Zhafira.


Zhafira yang merasa tidak enak mengucapkan kalimat maaf, dengan ekspresi merasa bersalah membuat para sahabatnya tertawa


" Maafkan dia, Tante "


" Zhaza emang gitu, konslet otaknya kalau soal mengingat nama orang " ucap Inez yang segera mendekati Amanda, dan bersikap penuh hormat, yang diikuti oleh semua sahabat Zhafira lainnya


" Nggak apa-apa, kok "


" Nggak apa-apa dia gitu, yang penting dia ingat anaknya Tante aja, kan calon istrinya Kenzie " ucap Amanda dengan sedikit tertawa, membuat semua orang mengulum senyuman.


" Wah udah langsung ditandai nih, Aunty " ucap Cleo yang membuat mereka kembali menahan tawa ketika Zhafira membelalakkan kedua bola mata indahnya.


" Zha, mau makan apa siang ini " tanya Anggie yang tidak terpengaruh dengan keadaan, sejak tadi Anggie hanya memperhatikan Amanda yang terlihat sangat perhatian pada Zhafira.


" Kamu pesan apa, aku ikut aja " ucap Zhafira. Zhafira terlihat memendam sedihnya, tidak ada yang tahu jika dirinya sejak tadi ingin melihat sang ibu, yang sepenglihatannya sejak awal dia masuk rumah sakit, ibunya tidak pernah datang. Sebegitu bencinya sang ibu pada dirinya. Zhafira menyayangkan sikap sang ibu, yang ternyata tidak main-main dengan ucapannya kala di rumah sang paman. Amanda yang bukan siapa-siapa saja datang berkunjung, sedangkan sang ibu kandung sama sekali tidak mengunjunginya. Jangankan mengunjungi, menghubungi dirinya pun tidak sama sekali.


Baiklah, Zhafira kalah. Dia memutuskan untuk menerima pinangan dari pria manapun pilihan sang ibu, tidak peduli dengan luka hatinya. Tidak ada seorang ibu di dunia ini yang menjerumuskan anaknya pada keburukan, menurut pemikiran Zhafira. Oleh karena itu lah untuk kesekian kalinya Zhafira meletakkan keinginannya diatas keinginan sang ibu.


Menjelang siang, pintu ruangan bagian depan di ketuk, membuat Liliana dengan malas membuka pintu, Liliana juga sejak tadi sibuk kerja melalui virtual, begitu pula dengan para sahabatnya, mereka terikat dengan bisnis, dan juga beban kerja yang diberikan oleh orang tua mereka.


Tamu yang baru saja datang ke kamar rawat inap Zhafira adalah seorang pria paruh baya yang dikenal oleh Liliana membuat Liliana langsung bersikap hormat pada Ibrahim. Ibrahim menerima perlakuan Liliana dan para sahabat Liliana lainnya yang ternyata mengenal sosok Ibrahim yang merupakan klien, dan juga sahabat dari orang tua mereka, kecuali Fauziah yang bisnis keluarga nya tidak sehebat itu bahkan mengenyam pendidikan pun dia dapatkan dari program beasiswa. Dan memang sepintar itu Fauziah yang bisa dikatakan satu level dengan Zhafira, hanya saja Zhafira tidak bisa melanjutkan pendidikan dikarenakan banyak faktor.


*


*


*


*


*


🌺