
πππππππππππππ
Percakapan para pria masih berlanjut. Yoyok merasa rendah diri ketika para pria lain selain dari keluarga Lesham juga hadir disini. Namun Yoyok harus menyampaikan unek-unek nya juga dihadapan Zhidan tentang tingkah laku Zhafira yang suka seenaknya sendiri. Dan mungkin Zhidan bisa menegur sang kakak nantinya.
Walau bagaimanapun Yoyok merasa sungkan untuk menegur Zhafira. Dan semoga saja klarifikasi dari Yoyok diterima oleh Zhidan yang terkenal bucin pada kakaknya sendiri.
" Oh itu "
" Kami kehilangan jejaknya nona Zhaza, walaupun akhirnya ketemu juga " ucap Yoyok yang membuat Zhidan pasrah dengan tingkah sang kakak yang memang buta jalan. Walaupun terkadang sudah mengunakan aplikasi, kecuali rute yang sering dia lalui, dan yang sudah tersimpan di dalam ingatannya, selebihnya tidak.
" Awalnya dia kesasar, hanya saja kebetulan ada yang membutuhkan pertolongan, kan langsung saja dia bantu tanpa pikir bagaimana setelahnya. Nona tidak salah, tidak ada yang salah dari nona. nona hanya terlalu mulia hatinya, dan sama sekali tidak merepotkan, kok " ucap Ali yang memang bagaimanapun kekurangan Zhafira tetaplah kelebihan bagi Ali. Apalagi Zhidan yang di matanya tidak ada satupun yang kurang dalam diri Zhafira bahkan jika Zhafira mengupil sekalipun tetap mempesona baginya.
" Oh, God "
" Hentikan kalimat itu apalagi dengan senyuman kamu yang sangat memuja tuan putri sembrono kamu itu, Ali "
" She is human, Ok " ucap Aditya membuat para pria disana tertawa termasuk Ali yang terlihat sekali sangat mengagumi Zhafira, tapi tidak dengan Kenzie yang hanya terdiam ketika melihat rona wajah Ali yang berbinar hanya menyebut nama Zhafira saja.
Ayolah Kenzie sebegitu saja membuat kamu kesal, gumam Kenzie di dalam batinnya.
Pembicaraan berlanjut hingga tanpa di komando beberapa orang mengikuti Zhidan yang sudah membasuh wajahnya dan terlihat sudah menyelesaikan wudhu, dan memakai sarung dan kopiah khas +62 dalam melaksanakan beribadah. Zhidan melantunkan surah pendek yang cukup panjang, dan walaupun panjang namun membuat semua makmum semakin khusyuk dikarenakan alunannya begitu indah menyapa indera pendengaran.
Bahkan untuk menutup ibadah dengan doa pun terpaksa Zhidan melakukannya dikarenakan pria lainnya merasa malu untuk memimpin doa takut salah pelafalannya, untungnya ada Abhi sehingga untuk melantunkan doa selepas sholat, Abhi melakukannya dengan sangat baik, dan indah sekali di indera pendengaran semua orang. Jika semua orang langsung selesai setelah melaksanakan sholat tidak bagi Zhafira, Zhidan, Fauziah, dan Abhi . Mereka masih melanjutkan dengan menyambung ayat yang diikuti oleh Fauziah dan Abhi. Dan berakhir setelah hampir empat puluh menit dikarenakan Zhafira yang sudah mengantuk yang jelas-jelas efek dari obat yang telah dia konsumsi. Bahkan Zhafira tidak sadar jika dia belum melepaskan mukenah yang dia pergunakan.
" Dasar ***** " gumam Queen yang membuat Anggie mendelik, dan dibalas dengan Queen dengan cengiran saja
Para perempuan memutuskan untuk menginap, sedangkan beberapa lelaki memilih pulang, termasuk Kenzie. Biar bagaimanapun Kenzie masih terlalu sungkan dengan Zhidan apalagi nanti subuh harus bertemu dengan Zhidan lagi, yang artinya harus jama'ah kembali. Kan agak bagaimana gitu, jika Zhidan harus menjadi imam sholat lagi. Sedangkan Kenzie merasa insecure dalam bacaan yang sudah lama dia tinggalkan.
Mulai malam ini, Kenzie semakin bersemangat untuk memperbaiki bacaannya, karena Kenzie tidak ingin dianggap remeh dalam banyak hal. Dia yang selalu tampil percaya diri, tiba-tiba di jatuhkan dengan hal yang dianggap penting dalam nilai keimanan.
Kenzie ragu, bisakah dia melakukannya, memperbaiki keimanannya yang sudah sangat lama dia tinggalkan itu. Bahkan ketika sang mommy mengajak beribadah, dia memilih pergi karena merasa tidak ada gunanya dia bertaqwa.
Hari berlalu, sampai dimana Zhafira diizinkan untuk dapat beristirahat di rumah. Namun, Zhafira yang pada dasarnya workaholic, berdiam diri di rumah sakit saja masih mengerjakan banyak pekerjaan walaupun terpaksa dengan daring tapi tidak mengapa karena baginya setiap menit waktunya sangat berharga.
Bahkan, di rumah nya saja Zhafira sempat - sempat nya menyirami tanaman ketika sang ibu tidak berada di rumah yang entah kemana rimbanya, Zhafira pun tidak terlalu bertanya takutnya sang ibu tersinggung.
Sedangkan Zhidan sudah bertolak ke negri tempatnya menimba ilmu.
Suara ketukan pintu membuat bik Sumi, salah satu asisten rumah tangga Azzam yang diminta Azzam untuk membantu di rumah Aisyah membukakan pintu. Terlihat beberapa ibu - ibu kompleks datang mengunjungi rumah Aisyah. Dengan sopan bik Sumi meminta para tamu untuk segera masuk ke dalam rumah Aisyah. Bik Sumi pun segera memanggil Zhafira untuk segera menemui tamu yang kemudian langsung menuju ke dapur untuk memberikan sajian pada tamu yang datang.
Zhafira dengan sopan mempersilahkan ibu - ibu kompleks untuk menikmati sajian yang telah tersedia di atas meja. Bertutur sapa dengan baik, hingga obrolan semakin asyik dengan tema random
Dan di satu titik, akhirnya salah satu ibu kompleks, yang lebih tepatnya ibu RT mengatakan tujuan kedatangan mereka, dimana Zhafira beserta keluarga di undang dalam acara RT tiap tahunnya, dan kebetulan sekali tahun ini RT tempat tinggal Zhafira menjadi tuan rumah untuk acara yang akan di hadiri beberapa RT dalam satu kelurahan.
Dan Zhafira sudah termasuk dalam list kepanitiaan. Zhafira hanya menggaruk kepalanya saja ketika dia diikutsertakan dalam susunan kepanitiaan, karena jadwal kerja yang padat, membuatnya harus menelan umpatan Anggie kembali. Zhafira menganggukkan kepalanya dengan pasrah, walaupun tahu resiko yang akan dia dapatkan ketika menyetujui permintaan para ibu-ibu ini.
Aisyah menyapa ibu - ibu kompleks ketika dia memasuki rumah, ternyata sudah banyak sekali teman- teman satu kompleks. Mereka bertegur sapa dengan excited, mengalir lah cerita dengan topik random sebagai bahan pembicaraan mereka. Dan disinilah Zhafira memanfaatkan momen untuk melarikan diri. Masih banyak sekali pekerjaan nya yang menumpuk yang membutuhkan bubuhan tandatangan dirinya.
Aisyah mengerti keinginan anaknya, dan mempersilahkan Zhafira meninggalkan ruangan tamu dengan kode melalui mata saja. Zhafira undur diri setelah memberikan hormat pada para teman sang ibu
" Ibu Ais "
" Anak gadisnya buat saya saja yah "
" Saya mertua yang baik loh, yang pasti sayang sama menantu.
" Buktinya noh si Ayu, istrinya Ahmad betah tuh tinggal di dekat saya meskipun kami tidak satu rumah " ucap si ibu A
" Ah "
" Jangan atuh "
" Buat aa' Ikhsan aja, neng geulis dijamin pasti suka. Mana kasep pisan si aa' " ucap si ibu B
" Alah "
" Baiknya jadi bojo nya mas Sultan saja , mbak Ais "
" Satu circle dalam pengajian masjid dengan mas Zhidan sudah seperti kakak beradik , cocok deh " ucap si C
" Halo "
" Every badeh.... Anak gadis aku tidak kalah unggul kok, cyin " ucap si D membuat semua orang tertawa, bagaimana bisa sang ibu mempromosikan anak gadisnya yang masih duduk di sekolah dasar pada para pria lajang yang sudah di usia produktif.
Aisyah hanya menggelengkan kepalanya saja. Sembari mengucapkan kalimat terimakasih, dan mengatakan jika Zhafira telah dikhitbah oleh pria yang tidak lain adalah putra dari sahabat ayahnya Zhafira membuat semua ibu - ibu kompleks hanya bisa pasrah
" Ah "
" Janur kuning belum melengkung, teh "
" Hajar aja, siapapun masih bisa menikung " ucap si si E membuat semua orang tertawa termasuk Aisyah.
Pembicaraan kembali sedikit serius. Sang ibu RT sebagai ketua perkumpulan kembali menjelaskan apa saja yang menjadi bahan pembicaraan agar para anggota memberikan masukan berupa saran dan ide yang akan mereka realisasikan nanti pada saat acara berlangsung.
Hingga tidak terasa sudah beberapa waktu mereka habiskan sampai ibu RT mengajak anggota lainnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Dan akan melanjutkan di hari yang sudah mereka sepakati bersama.
Zhafira masih sibuk dengan file - file yang dikirimkan oleh Diana, sementara asisten kepercayaannya menjadi perpanjangan tangan Zhafira dalam mengurus beberapa kegiatan yang harus Zhafira datangi selama Zhafira masih dalam proses pemulihan di rumah, yang sudah sejak seminggu yang lalu sehingga wajar saja Zhafira merasa bosan.
Zhafira tentu saja menolak, namun banyak orang yang memaksa Zhafira untuk tidak bekerja seperti biasanya, jika tidak Zhafira akan menerima sanksi yang tentunya membuat Zhafira semakin merasa tersiksa.
" Kamu buat apa, Zha " tanya sang ibu yang tentu saja dijawab Zhafira. Aisyah hanya menyunggingkan senyuman saja, yang ternyata makanan yang di olah Zhafira merupakan makanan kesukaan sang Abang.
" Kak "
" Kangen " ucap Afika dengan manja
" iih "
" Assalamualaikum " ucap Zhafira yang membuat Afika membalas salam Zhafira sembari melabuhkan kecupan di wajah cantik Zhafira
" Jangan di gelanyuti kakaknya, Fika " ucap Aisyah
" Masih sakit yah, kak " ucap Afika dengan khawatir membuat Zhafira tertawa kecil dan kemudian menggelengkan kepalanya. Akan tetapi Afika sadar diri, dia tidak lagi bergelanyut di tubuh Zhafira.
" Kak "
" Memanjakan diri, yuk " ucap Afika yang membuat Zhafira memutarkan kedua bola matanya, Zhafira masih malas gerak. Kalau saja sejak tadi sang ibu merestui dia beraktivitas sudah sedari pagi Zhafira sudah meluncur ke beberapa tempat demi menyelesaikan pekerjaannya.
" Ayo, kita temani adik kamu "
" Bunda juga ingin sekali melakukan perawatan " ucap Aisyah tanpa merasa bersalah sama sekali setelah mengucapkan kalimat ini.
Ah, Zhafira rasanya ingin berteriak. Lah, tadi pake acara ngegas ngomong nya, padahal sudah meminta baik- baik loh minta izinnya walaupun hanya lewat jaringan telepon, tapi kan sama saja. Tidak mendapatkan izin, dan ini dipergunakan waktu untuk sekedar bermalas-malasan sembari menikmati sensasi nyaman setelah selesai perawatan. Dan memangnya perawatan di salon mahal tidak mengeluarkan budget. Zhafira tidak bisa mengekspresikan perasaan karena yang menjadi lawan bicaranya saat ini adalah sang nyonya besar.
Aisyah meminta sopir pribadi yang tidak pernah standby di rumahnya untuk segera datang, karena Zhafira tidak mungkin mengendarai kendaraan. Aisyah tahu jika Zhafira lelah, mungkin setelah perawatan akan berbeda. Aisyah pernah sangat sibuk dengan perusahaan sehingga dia tahu ritme kerja Zhafira yang di tuntut untuk bekerja cepat dan teliti.
Lagipula mobil Zhafira ada di mansion Azzam karena pada saat itu memang di titipkan di mansion sang abang. Mereka bertiga menikmati perawatan dari salah satu salon, dengan perawatan yang komplit, mulai dari potong rambut, walaupun hanya sekedar di rapikan saja, karena Aisyah tidak mengizinkan Zhafira untuk memotong rambut panjang indahnya, padahal berkali-kali Zhafira memintanya dikarenakan Zhafira ingin sekali melihat wajahnya berambut pendek.
Bukan waktu yang sebentar, namun cukup membuat Zhafira nyaman dan rileks, walaupun biaya perawatan yang dikeluarkan tidaklah murah. Yah, sekali- sekali memanjakan diri setiap bulan nya tidak lah masalah, bukan.
Sejak Zhafira keluar dari rumah sakit, terhitung tiga bulan lebih Zhidan sudah berada di negeri nan jauh untuk menuntut ilmu yang diharapkan agar sang adik bisa mengantikan posisi Zhafira dalam pengelolaan perusahaan milik sang ibu.
Terhitung tiga bulan juga, Aisyah tidak pernah bisa berkomunikasi dengan Zhidan dikarenakan Zhidan masih belum menerima keputusan sepihak dari sang ibu tanpa melibatkan mereka dalam pernikahan kedua sang ibu.
" Zha "
" Kita belanja terlebih dahulu " ucap sang ibu
" Belanja "
" Bunda, mau belanja, yah udah, Zhaza temenin " ucap Zhafira
" Kamu juga ikut pilih, nanti bunda yang bayar " ucap sang ibu yang langsung ditolak oleh Zhafira karena Zhafira termasuk orang yang tidak suka menumpuk banyak barang, takutnya di hisab, dan Zhafira tidak mau itu
" Buat acara RT, dan ada acara yang harus kamu hadiri " kekeh sang ibu agar sang anak menuruti kehendak Aisyah. Mau tidak mau Zhafira mengiyakan saja, lagipula hari ini penghujung weekend, besok pagi Zhafira banyak sekali schedule yang sudah dikirimkan oleh Diana melalui Email.
Acara pilih memilih pakaian sudah mereka lakukan, tubuh pun sudah melakukan perawatan makan malam pun sudah mereka selesaikan, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke mansion Azzam karena mengantarkan Afika pulang ke rumahnya. Namun siapa sangka Aisyah harus menginap lantaran permintaan Siti, yang mau tidak mau Aisyah mengiyakan permintaan sang kakak ipar. Tetapi tidak untuk Zhafira, jarak tempuh dari mansion Azzam ke tempat kerja Zhafira memakan waktu lebih lama daripada dari rumah Aisyah, sehingga malam hari ini yang sudah sangat larut, bahkan sudah menunjukkan pukul 01.30 yang sudah termasuk dini hari.
Zhafira pergi tanpa izin pada sang ibu yang sudah terlelap. Zhafira akan mengatakan pada Aisyah, nanti setelah subuh saja, karena Zhafira terlalu sungkan membangunkan sang ibu. Pertimbangan Zhafira yang pertama kali, besok adalah hari pertama dia bekerja setelah keluar dari rumah sakit, dan setelah masa observasi selama hampir satu minggu lebih, dan yang paling penting besok adalah waktunya dia sidak lokasi cabang* yang di duga adanya kebocoran data perusahaan yang dilakukan oleh oknum.
Oleh karena itu, Zhafira harus pulang malam ini sekarang juga, agar bisa sampai di tempat kerja lebih awal, dimana lebih leluasa memeriksa berkas sebelum survei lokasi.
Yoyok sebenarnya cukup mengantuk malam hari ini, namun demi sang tuan putri tercinta, dia berusaha untuk tetap terjaga demi mendampingi Zhafira pulang ke rumah Aisyah, Ali pun juga seperti itu. Panggilan alam yang harus segera dituntaskan oleh Ali membuat mereka tertinggal dengan tempo waktu yang tidak sebentar.
Dasar Zhafira nya yang keras kepala, dia meninggalkan penjagaan Ali dan Yoyok, bahkan Zhafira sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai ke rumah dengan meninggalkan Ali dan Yoyok semakin jauh. Beberapa kali Yoyok memanggil Ali untuk segera menyusul Zhafira, namun yah seperti itulah, namanya juga panggilan alam harus sampai tuntas.
" Ck "
" Lama sekali, nona sudah dari tadi berangkat nya " ucap Yoyok sembari menghidupkan starter mobilnya. Ali merasa tidak enak hati, dan entah kenapa semakin membuat dia kepikiran dengan Zhafira
" Bang "
" Ngebut, entah kenapa malam ini perasaan aku tidak enak " ucap Ali yang mendapatkan anggukan kepala dari Yoyok, Yoyok juga merasakan perasaan gelisah, entahlah dia tidak tahu, sehingga Yoyok tidak lagi menatap kecepatan yang dia tingkatkan.
Yoyok juga yakin, secepat apapun dia, masih akan kalah cepat dari Zhafira, karena Zhafira tidak akan membawa mobil dengan kecepatan rendah apalagi ini sudah termasuk dini hari, yang pastinya jumlah kendaraan lebih berkurang. Lagipula menuju ke rumah Aisyah jalanan nyaris sangat lenggang, dan sangat sepi sekali.
Zhafira melibas jalanan sepi ini dengan kecepatan diatas delapan puluh per kilometernya, dan itu tidak lah masalah asalkan fokus dengan kemudi , dan masih bisa mengendalikan kemudi yang hal itu biasa saja, apalagi sudah sangat sedikit mobil yang melintas disana,
Entah di kilometer berapa, namun Zhafira sudah memasuki jalan bebas hambatan, dan disinilah Zhafira merasakan kejanggalan, dan perasaannya tiba-tiba merasakan tidak nyaman, ada rasa yang merasuki yang membuat Zhafira segera menghubungi Yoyok atau Ali sekarang juga. Apalagi keadaan diperparah dengan adanya keanehan pada ban mobil nya membuat Zhafira harus menurunkan kecepatan pada laju kemudi nya saat ini juga
Kalimat umpatan berbarengan dengan kalimat istighfar Zhafira ucapkan ketika Zhafira baru menyadari jika ada salah satu mobil mengikuti mobilnya semenjak sebelum sampai ke jalan bebas hambatan ini, andaikan saja dia bersama Anggie, sudah dipastikan Anggie sudah membaca pergerakan lawan, karena memang se' sensitif itu Anggie dengan keadaan sekitarnya, berbeda dengan Zhafira yang kurang terlalu bisa membaca situasi , kecuali dia sudah waspada sejak awalnya. Zhafira berusaha untuk tetap tenang di sela rasa gugup itu datang. sembari dia terus berbicara dengan Ali.
Zhafira mengatakan posisinya sekarang karena memang posisi mereka terlampau jauh, dan mengirimkan search loc posisi dia saat ini berhenti, karena Zhafira tidak yakin bisa bertahan lama dengan kondisi ban mobil yang sudah kempes.
" iya, Zhaza akan bertahan " salah satu ucapan yang Zhafira yakinkan untuk Ali dan untuk dirinya sendiri agar bisa menghadapi situasi seperti ini. Sedangkan bagi Ali ini merupakan situasi berbahaya sehingga membuat dia segera meminta Yoyok untuk menambah kecepatan dan dia segera menghubungi tim medis, dan tim keamanan Lesham untuk segera membantu mereka.
*
*
*
*
*
*
πΊπΊ