
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Dan di sinilah mereka berada di tempat khusus treatment pijat memijat yang ternyata sudah ada beberapa pria yang mendahului mereka. Kenzie yang memang penasaran bagaimana karakter dari Zhidan segera mengikuti langkah kaki keduanya.
" Bukankah Maxwell dan Rasyid juga ada di sini, Zhi " ucap Aditya mengawali percakapan
" Benarkah, bang " ucap Zhidan yang tidak mengetahui kehadiran keduanya
" Kalau begitu, aku harus mempersiapkan diri untuk mendapatkan amukan keduanya " ucap Zhidan sembari terkekeh
" Kenapa " tanya Aditya
" Saat pakde memberitahukan ini padaku, yah "
" Panik lah aku "
" Bagaimana bisa aku membiarkan kakak menyetir sendiri ke sini, sedangkan kakak beberapa waktu lalu belum terlalu sembuh dari cidera pada kakinya " ucap Zhidan. Dan Kenzie tahu kapan itu terjadi. Karena pada saat itu dialah yang menjadi penyebab Zhafira cidera
" Ck "
" Memang betul-betul tuh gadis "
" Inez juga selalu berkata jika dia memang sering ceroboh, Abang pikir hanya perasaan Inez saja. Ternyata memang benar seperti itu " ucap Aditya merespon apa yang diucapkan oleh Zhidan
" Iya "
" Sehingga itulah bang. Kami tidak pernah menyalahkan orang lain. Memang kakak juga sih terlalu sembrono kalau berjalan suka tidak lihat sekitar "
" Akan tetapi, untuk kali ini cidera nya agak sedikit serius, dikarenakan cideranya selalu pada area itu terus, kalau terus dibiarkan yah " ucap Zhidan yang menggantung karena orang-orang pasti paham apa yang dikhawatirkan oleh Zhidan dan keluarga
" Yah "
" Namun jangan terlalu berlebihan juga , Zhi "
" Kamu tahu sendiri bagaimana kakak kamu jika terlalu di kekang "
" Itu akan membuat dia semakin jadi-jadi " ucap Aditya yang mendapatkan anggukan kepala dari Zhidan yang ikut membenarkan apa yang diucapkan oleh Aditya
" Mungkin itulah Kak Anggie meminta kak Cleo membawa tukang urut keluarga kesini. Aku lihat tadi ada mbok * di sini , tadi " ucap Zhidan
" Iya "
" Abang juga melihatnya "
" Mungkin setelah mereka melakukan trip hari ini, Zhaza akan segera mendapatkan treatment pijat " ucap Aditya
Kenzie hanya menjadi pendengar setia dari keduanya sembari terus berjalan menuju ke salah satu area villa dimana mereka akan mendapatkan treatment pijat. Satu persatu dari mereka yang ingin merasakan relaksasi dari pijatan melakukan treatment ini. Termasuk Zhidan dan Aditya, sedangkan Kenzie hanya sekedar nimbrung doang yang tidak lain tidak bukan mengakrabkan diri dengan calon adik ipar.
Sesekali mereka terlibat percakapan. Jika di nilai dalam proses pendekatan ini, Zhidan cukup santun dan ramah menurut Kenzie. Sehingga Kenzie tidak terlalu kaku untuk beradaptasi dan berkomunikasi dengan Zhidan. Namun Zhidan tidak terbuka jika ada beberapa lelaki membicarakan tentang kakaknya.
Ternyata untuk membicarakan tentang Zhafira dan menembus restu dari Zhidan itu cukup sulit. Kenzie memindai wajah-wajah pria yang ikut serta di dalam treatment ini. Ternyata semua lelaki di sini rata-rata sedang mencari informasi dan proses pedekate dengan Zhidan juga. Kenzie menertawakan dirinya yang ternyata sama saja seperti pria-pria ini. Untuk tampang seperti nya dia merasa unggul, apalagi dengan kekayaan, sehingga alasan apa yang membuat dia akan di tolak oleh putri Adhitama.
Masih tidak masuk akal, ketika Zhafira secara terang-terangan menolak dirinya pada waktu pertemuan mereka di malam itu.
" Dimana Zhaza " ucap Maxwell yang baru bergabung ke dalam ruangan ini
" Kakak masih di hutan Pinus bersama enam kakak lainnya " ucap Zhidan yang masih telungkup dan menerima pijatan dari sang terapis
" Kamu tidak mengikuti mereka " ucap Rasyid tidak percaya jika Zhidan masih disini sedangkan Zhafira sudah pergi bersama teman-temannya.
" Ah "
" Dia ditinggalkan, Rasyid " ucap Aditya sembari terkekeh
Rasyid yang mendengarnya pun ikut terkekeh geli, bagaimana bisa seorang Zhidan ditinggalkan begitu saja oleh Zhafira
" Bagaimana bisa " ungkap Maxwell tidak percaya
" Biasa aja kali, bang "
" Gaya ngomongnya tuh nggak perlu di dramatisasi seperti itu juga kali " ucap Zhidan memutarkan kedua bola matanya dengan malas. Namun Rasyid, Maxwell, Aditya bahkan Kenzie mereka tertawa lebih keras ketika melihat ekspresi wajah Zhidan yang nampak pasrah kena bullying
" Bahkan Mr P tertawa geli ketika melihat Zhidan yang masih berdiri setelah ditinggalkan mobil mereka " ucap Aditya menambahkan bumbu - bumbu agar orang-orang semakin puas menertawakan Zhidan
" Iya "
" Puas puasin Abang mengejek Zhidan "
" Nanti Zhidan buat Abang sama kayak Zhidan baru tahu rasa " ucap Zhidan dengan jengkel
" Sudahlah Zhidan "
" Tanpa kamu berkata seperti itu, Abang sudah pernah mengalaminya. Dan itu bukan sekali dua kali. Sering " ucap Aditya yang dalam posisi yang sama seperti Zhidan
" Benarkah " tanya pria lain
" Iya "
" Ck "
" Mereka itu, kalau lagi ngumpul, tidak peduli dengan orang lain. Bahkan meskipun aku merengek untuk istri aku tetap tinggal bersamaku. Dia tidak peduli, jika mereka sudah berkumpul,yah... seperti ini " ucap Aditya
" Mengapa seperti itu ?. Bukankah kewajiban seorang istri untuk taat kepada suaminya " tanya pria lain
" Benar "
" Sangat benar "
" Namun itu tidak berarti apa-apa bagi mereka, karena sebelum aku menikahi istri aku. Aku telah menandatangani surat perjanjian pranikah, dan di dalam surat perjanjian itu tertulis poin yang awalnya aku berpikir itu akan yah... seperti itu "
" Namun ternyata, itu poin yang tidak semudah itu digoyahkan apalagi di tumbangkan " ucap Aditya yang membuat Zhidan tertawa mendengar keluhan Aditya
" Ck "
" Mereka itu sudah lebih dahulu saling kenal daripada kamu. Yah jelaslah persahabatan bagi mereka sangat penting " ucap Maxwell
" Hm "
" Sangat sulit untuk memecah-belah mereka, apalagi putri tuan Clarke , iya kan Zhi " ucap Rasyid yang ikut menimpali
" Bukankah Anggie selalu menjadi rival bagi Zhizi " ucap Maxwell menggoda Zhidan
" Yah "
" Akan bertambah rival Zhizi jika ada seorang pria berhasil menikahi Zhaza " ucap Rasyid
Zhidan malas untuk berdebat dia memilih untuk diam saja karena dia tidak terlalu suka pembicaraan yang menjurus tentang perjodohan, pernikahan Zhafira. Zhidan masih belum mau berbagi dengan pria lain untuk kasih sayang sang kakak. Cukuplah sang ibu dan kedua kakak laki-lakinya ini. Tidak ada laki - laki lain yang akan menjadi rival dalam kasih sayang Zhafira.
" Come on, Zhi "
" Katakanlah pria seperti apa yang kamu harapkan untuk mendampingi Zhaza "
" Bukankah usia kakak kamu itu sudah cukup matang memenuhi syarat dalam pernikahan " ucap Aditya dengan hati-hati. Namun ternyata walaupun Aditya mengucapkan kalimat itu dengan hati-hati sekalipun tetap saja membuat Zhidan sulit menerima pembahasan soal Zhafira
Zhidan tidak merespon sama sekali, berbeda dari sebelumnya. Bahkan Rasyid harus menghidupkan kembali suasana yang tadinya sempat senyap. Jangan pernah harapan Maxwell. Dia akan bertingkah laku konyol hanya dihadapan Zhafira saja.
Ah, mengingat Zhafira membuat Kenzie tidak sabar untuk kembali membuat Zhafira
mengingat dirinya. Karena setelah banyak berbincang-bincang dengan Aditya, Kenzie mengetahui beberapa hal mengenai kekurangan dari Zhafira, salah satunya Zhafira kurang bisa mengingat orang lain, apalagi jika itu berjenis kelamin laki-laki.
Zhafira hanya berinteraksi sebentar, lalu dia akan mengenyahkan segala hal mengenai pria itu dalam ingatannya, dan itu memang di sengaja oleh Zhafira entah apa alasannya yang pasti Aditya hanya tahu sedikit tentang itu dikarenakan sebelum Kenzie bertanya mengenai Zhafira sudah ada sahabat Aditya yang lain yang lebih dahulu mengagumi Zhafira namun yah seperti yang sudah-sudah pria tersebut mundur teratur ketika Zhafira sama sekali tidak merespon perasaan lawan jenisnya.
" Kapan mereka kembali " tanya Rasyid
" Mungkin sekitar satu jam lagi. Lagipula mereka hanya akan melakukan photoshoot saja. Maklum lah siapa yang sanggup menolak permintaan nona muda Morris " ucap Aditya sedikit terkekeh
" Bukankah kamu saudara sepupunya, Aditya " ucap pria lainnya sembari terkekeh kecil
" Iya "
" Kira-kira diantara kalian adakah yang menginginkan saudari ku " ucap Aditya
" Aku tidak akan se' kaku " ucap Aditya yang melirik ke arah Zhidan yang hanya diam menikmati setiap pijatan. Ucapan Aditya spontan membuat beberapa orang ikut tertawa termasuk Kenzie.
Mereka tertawa, sebenarnya ikut membenarkan ucapan Aditya. Karena bukan menjadi rahasia lagi jika Zhidan cukup posesif'in sang kakak jika ada pria yang mendekati sang kakak.
Zhidan masih tidak peduli dengan celotehan dari Aditya bahkan godaan dari Aditya. Zhidan menganggap itu hanyalah angin lalu sekedar cerita kosong.
Ponsel milik Zhidan berdering, ada video call dari sang kakak. Membuat Zhidan segera memposisikan dirinya duduk. Ucapan salam dan sapa disampaikan oleh Zhafira sebagai penelepon yang tentu saja dijawab oleh Zhidan dengan hal yang sama.
Zhafira mengatakan jika dia akan segera menyelesaikan acara photoshoot yang sedang mereka lakukan. Dan meminta Zhidan untuk langsung saja ke lokasi. Dan akan bertemu di sana. Kalaupun Zhidan tidak mengetahui jalan menuju ke lokasi, Zhafira akan mengirimkan search loc.
Zhidan mengiyakan saja tanpa membantah sedikitpun apa yang dikatakan oleh Zhafira. Zhafira mendekatkan wajahnya sehingga wajah Zhafira terlihat penuh memenuhi layar handphone Zhidan
" Bukankah itu, Abang " ucap Zhafira ketika melihat siluet Rasyid yang sudah menaikturunkan kedua alisnya
" Keterlaluan kamu, Zha "
" Kamu tidak mengingat kamu berdua,dan pergi begitu saja " Rajuk Rasyid
" Masyaallah, tidak seperti itu, bang "
" Orang Zhaza aja nggak tahu bakal berangkat ke sini, tahu sendiri Cleo orangnya gimana "
" Tahu-tahu pergi aja "
" Gitu " Zhafira memberikan penjelasan yang sebenarnya
" Akan tetapi Zhizi di ajak "
" Emang kamu aja yah yang melupakan kami " Rajuk Maxwell
" Astagfirullah "
" Nggak gitu juga, bang "
" Zhizi tuh tahu dari Cleo juga. Terus dia yang maksa imut, kalau nggak Zhaza nggak diizinkan dia untuk ikut " Zhafira masih kekeh untuk tidak mau disalahkan atas apa yang tidak dilakukan
" Ya udah "
" Abang ikut ke lokasi yah, biar bisa gantian mengendong kamu kalau Zhidan sudah lelah " teriak Rasyid
" Ah "
" Nggak bisa kayak gitu "
" Abang bukan mahramnya kakak "
" Nggak, nggak bisa " tolak Zhidan
" Yah udah tinggal dihalalkan saja biar bisa jadi mahramnya Zhaza " ucap Maxwell yang tidak lagi ragu mengatakan niatnya yang membuat semua laki-laki disana menolehkan pandangannya ke arah Maxwell. Sedangkan Zhafira hanya tertawa mendengar ucapan dari Maxwell, dan mengira jika Maxwell hanya omong kosong doang.
" Ah , mana ada Abang menikahi adiknya sendiri " tolak Zhafira
" Ada lah "
" Menikahi adik ketemu besar, bisa - bisa aja kan " ucap Maxwell yang masih kekeh dengan pendapatnya
" Ck "
" Spek calonnya Zhaza tuh Rasullullah "
" So, kalau di bawah itu nggak bisa " ucap Zhafira sembari tertawa
" Nggak bisa nolak, gitu " ucap Maxwell lagi
" Udah - udah "
" Nggak ada bahasan nikah- nikah lagi "
" Kalau mau ikut, Abang siap - siap aja, atau Zhizi tinggalkan nih " ucap Zhidan yang sudah mulai berdiri dan memakai baju kaosnya
" Acie -cie- cieee "
" Ada yang cembukur nih " Rasyid menggoda Zhidan yang sudah selesai memakai kaosnya. Dengan cepat Zhidan mematikan sambungan telepon lalu keluar dari ruangan
" An* "
" Tuh bocah, nggak ada manis-manisnya " ucap Rasyid yang ikut memakai baju kaosnya dengan cepat. Agar dirinya jangan sampai ditinggalkan oleh Zhidan. Begitu pula dengan Maxwell yang sudah melangkahkan kakinya menuju ke kamar villa yang dia tempati. Mempersiapkan peralatan perjalanan menuju ke titik lokasi destinasi wisata yang akan mereka datangi.
Kenzie memberikan kode kepada asisten kepercayaannya untuk segera mempersiapkan semua yang dibutuhkan, dan tentu saja Kim menundukkan kepalanya sebagai pertanda jika dia sudah mempersiapkan sejak sedari tadi tanpa perlu Kenzie mencemaskan segala sesuatu.
Jika para pria-pria sedang dalam persiapan, dan sedang menanti beberapa mobil siap melakukan konvoi, maka para gadis telah menyelesaikan sesi photoshoot di hutan Pinus. Dan saat ini mereka baru saja meninggalkan area hutan Pinus menuju curug cibaliung, dimana di dalam perjalanan Zhafira dan Fauzia terlelap begitu saja. Namun tidak satu pun diantara para sahabatnya yang lain berani membangunkan tidur dua gadis ini. Malah Cleo memberikan selimut untuk Zhafira, sedangkan Liliana memperbaiki selimut yang digunakan oleh Fauzia karena posisi Liliana yang lebih dekat dengan Fauziah.
" Mereka sangat kelelahan " ucap Inez
" Mr P tadi mengatakan jika mereka berdua selesai melakukan sparing, wajar saja jika mereka begitu kelelahan " ucap Cleo
" Iya "
" Bahkan Zhafira mengalami cidera " ucap Anggie
" Itu sih bukan hasil dari sparing dengan Zia "
" Dia nya saja yang ceroboh saat turun dari mobil " ucap Cleo memutar kedua bola matanya dan sukses membuat para sahabatnya tertawa akan apa yang mereka dengar
" Zhaza gitu loh " ucap Liliana sembari tertawa, dan ikut membenarkan apa yang dituduhkan oleh Cleo
" Aku sudah memanggil mbok * , saat Mr P mengatakan informasi " ucap Cleo
" Bukan kamu yang memanggil mbok * , itu sih Mr P kalee " bantah Inez
" Iya , sama aja " bela Cleo
" Beda ! " Ucap yang lainnya secara bersamaan membuat Cleo mau tidak mau pasrah jika dia kalah, dan sukses membuat semua tertawa kecuali Zhafira dan Fauziah yang tertidur lebih dahulu.
Tidak terasa perjalanan para gadis sudah sampai ke tempat lokasi begitu pula dengan para pria yang sudah lebih dahulu tiba. Para gadis satu persatu turun, dan meregangkan tubuh mereka yang terasa kaku.
" Dimana kakak " tanya Zhidan yang sudah mendekati mobil yang membawa ke tujuh gadis ini
" Masih tidur "
" Fauziah juga masih tidur, biarkan saja nanti kami yang akan membangunkan mereka " ucap Inez.
Walaupun Zhafira mahram bagi Zhidan namun tidak untuk Fauziah, dan Zhidan harus tahu diri. Tidak untuk kakaknya saja, ada gadis yang sama seperti kakaknya yang menjaga keimanan nya dalam menjaga harga diri nya sebagai wanita muslimah yaitu menjaga izzah (kemuliaan diri), muru'ah (menjaga kehormatan diri), dan iffah (menahan diri) mereka dalam kehidupan mereka selama di dunia persinggahan ini menuju ke dunia yang sesungguhnya.
*
*
*
*
*
*
*
🌺🌺