My Darling

My Darling
20



🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pikiran kedua kakak beradik itu, baik Azzam maupun Aisyah mulai menerawang kembali ke masa lalu, dimana mereka berusaha mempertemukan Zhafira dengan seorang pria yang telah menjadi pilihan terbaik bagi mereka . Baik Azzam, Siti, dan juga Aisyah membuat pertemuan itu yang memiliki motif utama yaitu perjodohan yang dikemas dengan berbagai cara, dan dengan berbagai alasan, mulai dari meminta Zhafira untuk menemani mereka ke acara - acara tahunan perusahaan si calonnya Zhafira atau keluarga calon Zhafira, atau acara - acara lainnya seperti aqiqah, acara tunangan, serta acara sejenis nya. Bahkan mereka bisa mengemasnya dengan pertemuan - pertemuan bisnis.


Namun siapa sangka jika Zhafira mampu untuk menolak perjodohan tersebut dengan sangat elegan tanpa harus berkata- kata tidak baik, ataupun bersikap tidak baik. Sangking hebat nya Zhafira hingga saat ini belum ada pria yang berhasil mengajak Zhafira untuk menuju ke arah pernikahan.


Azzam, Siti, dan juga Aisyah kembali ke masa kini setelah sama-sama pikiran mereka mengenang di masa lampau kisah-kisah penolakan yang Zhafira lakukan di masa lampau. Dan secara bersamaan mereka semua mendesah dengan ekspresi wajah yang kecewa.


secara tiba-tiba Siti tertawa dengan terbahak-bahak, sampai menyusutkan jejak air mata di pelupuk matanya, membuat Azzam dan Aisyah bengong, keheranan melihat tingkah laku Siti


" Mami "


" ada apa dengan kamu ? " ucap Azzam dengan mengernyitkan dahinya, binggung dengan sikap sang isteri


" Pi "


" kamu ingat tidak yah , Pi " ucap Aisyah, namun Azzam menggelengkan kepalanya, dia tidak mengingat nya


" itu loh Pi "


" yang pada waktu itu "


" Papi sibuk menjodohkan Zhaza di kota P dengan anaknya tuan L "


" Yang pada waktu itu, "


" bulan April deh kalau tidak salah "


" Saat kita mengajak Zhaza untuk datang ke acara makan malam di hotel G , di jalan S dengan tuan L loh " ucap Siti mencoba mengingatkan suami nya


Aisyah dan Azzam berusaha mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu,


1....


2...


3...


8 detik kemudian Azzam,dan Aisyah tertawa bersama, begitu pula dengan Siti yang ikut pula menyusul dalam paduan suara tawa


" Oalah "


" ingat "


" ingat "


" pada saat itu yah "


" kebetulan pula saat itu, Ais yang tidak bisa ikut ke kota P, dikarenakan ada kegiatan sekolah untuk study tour bersama anak-anak didik Ais, yang bersamaan waktu dengan pertemuan kedua keluarga "


" yang itu bukan sih ,kak " ucap Aisyah mencoba memberi tahu jika waktu yang dimaksudkan oleh Siti adalah pada waktu itu


" iya "


" iya "


" benar yang itu "


" kakak dan abang kamu saja yang menghadiri acara makan malam itu yang sebenarnya adalah acara perjodohan untuk Zhaza " ucap Siti


" Zhaza memang tidak menolak acara jamuan makan malam itu "


" padahal dia tahu jika kita berniat menjodohkan nya malam itu "


" Zhaza berkata seperti ini "


" Eh Em "


" bude "


" coba bude lihat deh " ucap Siti menirukan gaya bicara Zhafira


pada saat itu Siti melihat kearah yang ditunjukkan oleh Zhafira melalui sorot matanya


" masa bude tidak melihat pria itu "


" serius mau dijadikan suami untuk Zhaza "


" wajah nya itu loh ,bude "


" asimetris " ucap Zhafira berbisik dengan Siti


secara looking, memang yang diucapkan oleh Zhafira ada benarnya. Namun pria itu sebelumnya pernah bertemu Zhafira, dan menyampaikan keseriusan nya kepada Azzam dan tentu saja Azzam tidak membiarkan kesempatan baik ini terbuang percuma, makanya Azzam menyetujui ajakan makan malam dari pihak laki-laki.


Namun tidak dengan Siti yang memang belum pernah bertemu dengan pria itu, dan apa yang dikatakan oleh Zhafira tentu saja mendapatkan anggukan kepala dari Siti, tanpa Siti sadari jika Siti sudah masuk kedalam jebakan batman dari Zhafira, bahkan Zhafira sudah melukiskan senyuman smirk di wajah cantiknya


" bude "


" coba deh, bude lihat lagi dengan seksama di wajah pria tampan itu lagi "


" itu, "


" tahi lalat ? " ucap Zhafira berlagak polos


dan saat itu, Siti memang masih menatap wajah si pria di hadapan mereka


" sebesar itu, bude ? "


" itu bukan tahi lalat, bude "


" tapi " ucap Zhafira pura-pura polos dengan menjeda maksud ucapannya selanjutnya


" t.a.h.i s.e.p.i " ucap Zhafira dengan pelan sambil mengeja setiap kata-kata nya


tentu saja secara spontan Siti tertawa, bahkan sampai terbahak-bahak, sampai Siti kewalahan meredam suara tertawanya, Siti bahkan beberapa kali menyusutkan jejak air mata karena terlalu renyah nya tertawa. Dan di dalam hati Zhafira terus mengucapkan kalimat istighfar meminta maaf karena terpaksa harus mencari kekurangan pria yang saat ini menatap wajah cantik Zhafira


Melihat tingkah Siti seperti itu membuat suaminya merasa jika secara tidak langsung Siti bersikap tidak sopan dan tamu undangan menjadi illfeel akan hal itu. Tamu Azzam yang notabenenya adalah calon menantu keponakannya merasa sangat tersinggung, merasa tidak dihargai oleh keluarga Azzam, khusus nya isterinya Azzam dan terlihat tersinggung atas sikap yang Siti perbuat.


Hal itu pula lah yang membuat kolega Azzam malam hari itu memutuskan tidak menerima perjodohan di antara Zhafira dengan anaknya kolega Azzam.


Dan di malam itu lah pula, Siti harus menelan kemarahan dari sang suami . Sedangkan Zhafira telah sukses menggagalkan perjodohan tanpa susah payah melakukan drama-drama seperti yang ada di televisi.


dengan misinya, sejak saat itulah baik Siti maupun Azzam taubat untuk menjodohkan Zhafira dengan pria manapun, daripada yang pada akhirnya mereka akan dibuat malu sendiri


" anak kamu "


" memang keterlaluan, Ais " ucap azzam dengan nada suara yang nampak kesal, sesaat kemudian Azzam tertawa


begitupun juga dengan Siti dan Aisyah,


" oleh karena itu ,bang "


" lebih baik kita mencarikan Zhaza jodoh "


" aku tidak ingin Zhaza hidup melajang "


" dan tentu saja itu tidak dibenarkan oleh syariat agama kita " ucap Aisyah


" yah "


" akan kita pikirkan lagi bersama "


" bagaimana baiknya "


" yang pasti untuk saat ini jangan kita paksakan itu dengan Zhaza "


" sebelum Zhaza menyadari nya sendiri "


" Kalau untuk kembali mencarikan Zhaza jodoh "


" Terus terang saja, abang sudah benar-benar taubat, Ais " ucap Azzam yang mendapatkan anggukkan kepala dari Siti, yang juga sudah kapok di kerjain oleh Zhafira. Sedangkan Aisyah menekan pelipisnya, karena sudah tidak lagi mendapatkan dukungan dari Azzam dan Siti lagi dalam perihal perjodohan.


Kembali ke masa Zhafira yang baru saja hadir di tengah-tengah pembicaraan mereka. Walaupun pembicaraan soal perjodohan terhenti dikarenakan hadirnya Zhafira, dan mereka juga merasa topik pembicaraan itu lebih baik digantikan dengan topik pembicaraan yang lainnya saja.


Sehingga kali ini Zhafira menjadi topik pembicaraan dalam hal aib - aib Zhafira yang di bahas, membuat Zhafira tidak terima jika hal tersebut dijadikan bahan bullying padahal menurut Zhafira lumrah dialami seseorang. Seperti lupa meletakkan barang, suka tidur di sembarang tempat jika mengantuk, asalkan nyaman tempatnya maka Zhafira akan tertidur dengan pulas, dn tingkah konyol Zhafira yang lainnya.


Zhidan yang baru saja turun dari lantai dua mansion Azzam, segera menghampiri Zhafira dan memberikan kecupan di puncak kepala sang kakak. Zhidan mengernyitkan dahinya ketika melihat kruk


" Alah "


" Kakak kamu ini, hanya terkilir saja Zhizi "


" Jangan terlalu mengkhawatirkan Zhaza terlalu seperti itu " ucap Siti yang melihat perubahan warna rona wajah Zhidan. Agar Zhidan tidak terlalu bersikap berlebihan. Seperti yang mereka ketahui jika Zhidan terlalu over protective terhadap Zhafira. Luka secuil saja seperti Zhafira mengidap penyakit parah. Apalagi Zhidan melihat kruk tepat berada di belakang sofa tempat Zhafira duduk.


Zhidan mengindahkan ucapan Siti. Dia segera mengecek secara keseluruhan area tubuh Zhafira, membuat Zhafira malu dibuatnya


" Nih "


" Kaki kakak saja yang terkilir "


" Tidak perlu periksa yang lainnya "


" Kakak juga sudah ke dokter spesialis Ortopedi kok " ucap Zhafira yang langsung memperlihatkan area kaki yang masih terbalut elastis perban.


Zhafira tidak ingin Zhidan membawanya kembali ke rumah sakit yang ujung-ujungnya sama saja penjelasan dokter sebelumnya dan dokter lainnya. Zhafira hanya butuh istirahat di rumah saja sampai besok hari. Toh, hanya itu yang dibutuhkan selain mengurangi aktivitas pada kaki nya.


" Ya udah "


" Zhi akan bersiap-siap untuk kita berangkat ke rumah sakit " ucap Zhidan dengan keras kepala


" Zhizi " rengek Zhafira seraya mengapit lengan kekar sang adik


" Kan udah kakak bilang, kalau kakak udah pergi ke dokter spesialis loh "


" Di rumah sakit pula "


" Kakak juga sudah di observasi di rumah sakit "


" Masa kakak harus ke rumah sakit lagi, kakak capek " ucap Zhafira dengan sedikit memelas. Raut wajah Zhafira dengan menampilkan puppies eyes membuat Zhidan mendesah pasrah akan permintaan sang kakak. Zhidan pasti luluh dengan tingkah mengemaskan Zhafira.


" Ya udah kalau capek "


" Kita tidur "


" Ayo " ucap Zhidan dengan singkat dan segera memberikan ancang-ancang untuk mengendong tubuh sang kakak ala bridal style.


Zhafira hanya bisa pasrah ketika Zhidan telah menyampaikan titahnya. Kalau Zhafira berani melawan, maka rumah sakit pasti menunggu dirinya. Bukan karena di sakiti oleh Zhidan, bukan itu maksudnya. Akan tetapi Zhidan pasti membawa Zhafira ke rumah sakit untuk di rawat inap.


Kan agak lucu bagi Zhafira yang notabenenya seorang perawat. Masa sih hanya karena keseleo saja, sampai harus di rawat inap. Tidak, Zhafira tidak ingin menanggung malu seperti itu lagi seperti waktu itu. Lebih baik Zhafira mengiyakan dan menuruti permintaan dari Zhidan, daripada terjadi drama episode panjang, lebih baik dia diam.


Azzam dan Siti, begitu pula dengan Aisyah hanya bisa terdiam saja. Mereka tahu , sangat tahu bagaimana over protective Zhidan terhadap kakak perempuannya, satu - satunya saudara yang dimilikinya. Sehingga mereka juga sama seperti Zhafira hanya bisa menonton tingkah Zhidan yang memperlakukan Zhafira seperti porselen mahal yang harus di jaga dengan sangat hati-hati.


" Ais " ucap Siti. Seakan-akan tahu apa yang hendak dipertanyakan oleh Siti, Aisyah hanya menghardikan bahu nya saja


" Semakin lama , semakin meresahkan tingkah laku Zhidan terhadap Zhafira "


" Ini jugalah tugas kita semua untuk membuat Zhidan jangan terlalu bersikap seperti itu lagi " ucap Siti ketika punggung lebar Zhidan telah berlalu pergi meninggalkan ruangan . Dan ucapan dari Siti mendapatkan anggukkan kepala dari Azzam dan Aisyah.


" Bersyukurlah Zhidan melanjutkan kembali program pasca sarjana tidak di sini "


" Sehingga hal itu membuat Zhidan tidak terlalu berlebihan " ucap Azzam


" Bukan kah Zhizi mempercepat menyelesaikan kuliahnya demi Zhaza "


" Sungguh tidak di sangka Zhizi, jika Zhaza memaksa Zhizi untuk melanjutkan pasca sarjana " ucap Siti


" Walaupun dia bersama Abhi di sana "


" Aku sangat yakin, jika nanti Zhizi menyelesaikan kuliah pasca sarjana lebih cepat dari Abhi, walaupun putra ku itu sama pintar nya dengan Zhizi "


" Harus aku akui, jika putra mu itu lebih baik dari Abhi, Ais " ucap Siti yang tersirat kekaguman terhadap Zhidan.


" Itu sih karena Zhizi punya motivasi untuk segera menyelesaikan kuliahnya "


" Sedangkan Abhi menikmati proses kuliah nya "


" Aku rasa itu yang benar, kakak " ucap Aisyah dengan merendahkan ucapan nya


" Sudahlah "


" Untuk itu tidak perlu diperdebatkan lagi oleh kita "


" Fokus kita saat ini, bagaimana caranya agar Zhizi tidak terlalu over protective terhadap Zhaza "


" Yang aku takutkan jika Zhaza memiliki suami suatu hari nanti. Akan bermasalah jika Zhizi terus menerus bersikap seperti itu "


" Takutnya suami Zhaza tidak suka dengan sikap berlebihan Zhizi, yang akan berakibat buruk pada hubungan Zhaza dengan suaminya kelak "


" Karena Zhaza pasti akan membela Zhizi apapun kondisinya " ucap Azzam yang mendapatkan anggukkan kepala dari Aisyah dan Siti, yang secara bersamaan ikut mengiyakan perkataan dari Azzam.


Hari semakin larut membuat Azzam, Siti dan Aisyah mengakhiri sesi percakapan hangat mereka, meskipun besok adalah hari libur menyambut weekend. Akan tetapi mereka tetap harus bangun pagi hari. Sedangkan Zhafira telah di bawa Zhidan kembali ke dalam kamar yang biasa di tempati Zhafira untuk beristirahat kala datang berkunjung di mansion Azzam.


Untuk Zhidan sendiri, dia kembali berkumpul bersama para sepupunya dan para sahabat yang beberapa orang dikenal oleh Zhidan dan Abhi, putra Azzam yang seumuran dengan Zhidan. Mereka melanjutkan permainan game, sampai alarm pada ponsel Zhidan memberikan peringatan untuk dia segera beristirahat


" Mau kemana kamu ? " Tanya salah satu sahabat Zhidan


" Tidur " ucap Zhidan dengan singkat


" Jangan katakan, jika kamu mau tidur satu kamar dengan kakak " ucap Abhi menatap ke arah manik mata Zhidan. Dan diamnya Zhidan adalah pertanda jika ucapan Abhi sesuai dengan yang ada di benak Zhidan


" Ayolah, Zhi "


" Walaupun kamu dengan kakak adalah mahram "


" Dengan perasaan berlebihan kamu itu, tidak mungkin tidak pernah terbesit nafsu di dalam nya "


" U knows " ucap Abhi memperingatkan Zhidan bahwa perbuatan yang akan dilakukan oleh Zhidan adalah hal yang tidak baik.


" Sean saja selalu menundukkan pandangannya jika bertemu kakak "


" Karena pesona kakak luar biasa "


" Bahkan aku pun berpikiran sama dengan Sean, meskipun aku tahu jika jarak umur antara aku dengan kakak sangat terlampau jauh "


" Wajah kakak yang memiliki kontur Baby face membuatnya seperti seumuran dengan Afika saja " ucap Kevin


" Anj* "


" Kamu mau bilang jika adikku boros wajah nya " ucap Abhi sambil melemparkan bantal ke arah Kevin. Sedangkan Kevin hanya tertawa renyah mendengarkan ucapan Abhi yang tidak terima dengan pernyataan Kevin


" Bukan seperti itu, Bhi "


" Beruntunglah keluarga kalian dianugerahi wajah yang rupawan "


" Itu maksud Kevin " ucap si A sahabat dan sepupu Abhi yang lain, yang membuat si B, C, D, E,F menganggukkan kepalanya saja.


" Yes , what i mean it's that " ucap Kevin


" Aku, keluar sebentar " ucap Zhidan yang memutuskan untuk bergabung tidur dengan para sahabatnya dan sepupunya.


Karena Zhidan membenarkan ucapan Abhi, dimana perasaan Zhidan kepada Zhafira beberapa kali sudah berada di rasa yang salah, mungkin bisikan iblis yang menggoda keimanan Zhidan karena rasa sayang yang terlalu besar kepada sang kakak.


Zhidan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tempat Zhafira beristirahat. Dia memandangi wajah cantik Zhafira dalam diam. Zhidan membaringkan tubuhnya di samping Zhafira, dan masih terus memandanginya lagi dan lagi. Sebentar lagi Zhidan akan merindukan wajah ini, karena titah sang kakak yang mengharuskan dirinya menempuh pendidikan di negara yang jauh dari negara mereka tempati saat ini.


Akankah dirinya berhasil seperti sebelumnya menahan rindu yang begitu menyiksa Zhidan. Zhidan memberikan kecupan di seluruh wajah cantik Zhafira, sekuat tenaga Zhidan menahan diri untuk tidak melabuhkan kecupan di bibir Zhafira, takut hasrat kelelakiannya bangkit jika dia melangkahkan kecupan di sana. Zhidan hanya memeluk tubuh Zhafira untuk meredam rasa itu, agar dia mengingat jelas jika Zhafira adalah kakak kandung nya sendiri, jangan sampai dia terjerumus akan rasa yang salah.


Setelah itu Zhidan memutuskan kembali ke tempat dimana para sepupu dan sahabat nya berkumpul. Dan sekembalinya Zhidan ke ruangan tersebut, beberapa dari mereka telah terlelap. Dan Zhidan pun memutuskan untuk segera mengistirahatkan tubuh nya, setelah mendapatkan mood booster sambil tersenyum Zhidan mendayuh mimpi malam hari ini.


*


*


*


*


*


*


🌺🌺