My Darling

My Darling
71



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Yoyok yang saat ini menambahkan kecepatan kendaraannya agar segera sampai di tempat berhenti nya Zhafira, sedangkan Zhafira sudah tidak dapat lagi melajukan kendaraannya membuat Zhafira segera mempersenjatai dirinya dengan cepat sebelum para pria itu turun dari mobil mereka. Satu persatu penjahat turun dengan senyuman jumawa karena berhasil membuat mangsanya terjerat.


Crash, suara kaca jendela mobil di pukul dengan benda oleh penjahat, kaca jendela mobil Zhafira terlihat retak namun belum berhasil ditembus mungkin karena ketebalan kaca mobil Zhafira cukup tebal. Sehingga dalam tempo waktu itu dimanfaatkan oleh Zhafira untuk mengatur strategi dan memanfaatkan momen apa saja yang akan dia pakai untuk mengunakan senjata yang dia miliki.


Jujur saja, hanya Zhafira dan Fauziah yang tidak memiliki kepemilikan senjata api, bukan karena dia tidak bisa mengunakan senjata api, hanya saja Zhafira tidak suka dengan senjata api, itu saja. Dalam kondisi seperti ini, Zhafira sedikit menggerutu mengapa dia tidak meminjam milik Yoyok sebelum dia pergi tadi, tapi namanya penyesalan selalu diakhir, bukan.


Saat ini bukan kondisi dia harus menyesal, dia harus fokus untuk bisa melumpuhkan musuh hingga Yoyok dan Ali datang. Zhafira dalam kondisi lelah, dan masih dalam masa pemulihan akibat benturan beberapa bulan lalu masih belum cukup baik untuk dia memaksimalkan atau memforsir tenaganya, walaupun Zhafira memiliki bekal ilmu beladiri.


Ctas, pecahan kaca membanjiri kursi penumpang dengan cepat Zhafira segera menyemprotkan pepper spray yang membuat penjahat A berteriak kesakitan pada matanya di momen ini Zhafira berhasil keluar lewat pintu lainnya pada saat penjahat B membuka pintu bagian pengemudi


Bugh, Zhafira memukul penjahat C dengan kekuatan penuh mengunakan baton stick yang di pegang di tangan kanannya dimana posisi penjahat ini lebih dekat dengan Zhafira dan dalam posisi tidak siap yang dia kira rekannya bisa menghandle mangsanya


Lengkingan kesakitan membuat penjahat lainnya segera berusaha menjangkau Zhafira untuk melumpuhkan mangsanya namun Zhafira dengan cekatan memberikan perlawanan. Terjadi perkelahian sengit antara Zhafira dengan penjahat yang tersisa, mereka bahkan tidak segan-segan menyerang Zhafira dengan membabi buta, tidak peduli jika mangsa mereka adalah seorang perempuan, karena Zhafira memberikan perlawanan yang cukup tangguh.


Baton stick milik Zhafira terlempar jauh akibat tendangan yang dilayangkan salah satu penjahat mengenai bahu sebelah kanan Zhafira yang pernah mengalami cidera. Dan karena itu lah desisan keluar dari bibir sexy Zhafira yang memantik gairah beberapa penjahat


Sehingga tatapan para penjahat bukan lagi tatapan sangar saja, akan tetapi bermakna hasrat dan gairah yang membuat Zhafira segera waspada. Apalagi Zhafira masih menyimpan stick yang dapat berubah menjadi sebuah tongkat yang dia sembunyikan di dalam punggungnya. Dan hanya tersisa inilah satu-satunya alat pertahanan diri yang dia miliki sekarang. Konsentrasi penjahat sudah sedikit mengendur akibat nafsu binalnya sehingga membuat Zhafira berhasil memukul penjahat E sehingga membuat penjahat tersebut membungkuk kesakitan sembari memegang lututnya yang berhasil Zhafira lumpuhkan.


Namun nasib buruk tidak dapat Zhafira hindari ketika salah satu musuh berhasil menyakiti bagian tubuh Zhafira yang memang menjadi titik lemah Zhafira akibat cidera lalunya membuat Zhafira memekik kesakitan. Zhafira tidak bisa pungkiri jika dia sudah diambang batas ketika merasakan bagian bahunya terasa kembali sangat nyeri sehingga saat ini Zhafira hanya mengandalkan kekuatan dari tangan kirinya saja yang sudah pasti tidak sebaik tangan sebelah kanannya.


Melihat kondisi Zhafira yang melemah, dan mengetahui titik kelemahan dari mangsa mereka, beberapa penjahat memperlihatkan seringai licik di wajah menjijikan mereka. Dan hanya bermodalkan tatapan satu sama lainnya, mereka saling memberikan kode yang hanya mereka pahami artinya, sedangkan bagi Zhafira melihat tatapan penjahat yang menatap tubuhnya dengan lapar dan binal tentu saja membuat Zhafira ingin menangis saat ini juga, dia belum sanggup jika para penjahat ini berhasil melecehkannya. Hanya saja, Zhafira harus kuat, harus semakin mengokohkan tekadnya untuk menghadapi musuh. Dan di saat seperti ini, bayangan sang abang hadir di pelupuk matanya, membuat Zhafira semakin kuat tekadnya untuk bertahan setidaknya sampai Yoyok dan Ali datang memberikan bala bantuan padanya.


Zhafira segera memejamkan kedua matanya sembari menenangkan dirinya sendiri, kemudian tidak lama kemudian Zhafira membuka mata menatap wajah para penjahat dengan penuh kebencian. Pergulatan kembali terjadi antara Zhafira dengan para penjahat yang ternyata sepakat untuk menyerang Zhafira secara bersamaan. Namun Zhafira berusaha mempertahankan harga dirinya walaupun di sisa tenaganya dan keterbatasan yang Zhafira miliki akibat cidera lama, Zhafira terus berusaha untuk tetap melindungi dirinya sendiri dari segala tindakan kurang ajar para penjahat ini, bahkan Zhafira tidak dapat mengelak ketika hijab Zhafira terlepas yang memperlihatkan betapa cantik Zhafira dengan rambut hitam panjang nan lurus , dan beraroma wangi yang semakin membuat penjahat ingin segera menjamah tubuh Zhafira, sangking brutal dan sadis kelakuan para penjahat ini.


Zhafira masih berusaha melindungi dirinya dalam kesulitan yang dia hadapi, Zhafira bahkan harus merelakan ketika salah satu penjahat berhasil mencumbu lehernya, namun sekali lagi Zhafira berhasil menjatuhkan lawannya yang sudah bersikap kurang ajar padanya


Melihat temannya berhasil di lumpuhkan oleh Zhafira membuat penjahat lain yang tersisa semakin berang dan bringas. Zhafira semakin menambah konsentrasinya untuk membaca pergerakan lawan sehingga bisa dia lumpuhkan satu persatu.


Zhafira sudah berada diambang batasnya ketika tubuhnya mengalami banyak pukulan, apalagi sempat mengalami pukulan bertubi-tubi di area bahu Zhafira yang memiliki cidera lama, dan beberapa pukulan di area perut, belum lagi tenaga Zhafira tidak sebanding dengan tenaga penjahat yang memang sudah mempersiapkan diri untuk menyerang mangsanya, sedangkan Zhafira masih dalam proses pemulihan, yang sudah tentu tidak sebanding.


Penampilan Zhafira di final battle ini sungguh sangat memprihatinkan. Hijab nya terlepas, beberapa kancing baju yang Zhafira kenakan sudah terlepas entah kemana, yang hanya menyisakan sedikit kancing sehingga memperlihatkan tubuh Zhafira bagian dalam, bahkan beberapa bagian baju telah robek di beberapa bagian akibat tarikan dari penjahat, yang memperlihatkan betapa putih dan mulusnya tubuh yang selalu tertutup itu. Dan di fase ini, semakin ingin para penjahat ingin menjajah Zhafira, Naudzubillah Min Dzalik.


Zhafira mengatur nafasnya begitu pula dengan para penjahat yang berdiri di hadapan Zhafira. Para penjahat semakin intens melihat penampilan mangsanya, semakin kuat pula rasa ingin mencicipi mangsanya, bahkan seringai menjijikan tersebut kembali membuat Zhafira semakin menatap tajam wajah- wajah menjijikan di hadapannya.


" kucing liar "


" Membawamu di bawah kendaliku, suatu kebanggaan" ucap penjahat F yang sudah berlari sembari melayangkan tinjunya ke arah Zhafira, dan gerakan lainnya diikuti oleh beberapa para penjahat lainnya


" Allahu Akbar " ucap Zhafira dengan lantang sambil menatap tajam para musuhnya, sambil mengatur ritme nafasnya yang tersisa, dan dengan tenaga tersisa Zhafira harus melakukan perlawanan dimana dia harus bertahan sampai titik dimana dia tidak berdaya melawan perbuatan amoral seperti ini.


Zhafira bergerak dengan lincahnya, mengulangi gerakan- gerakan perlawanan yang diajarkan setiap sensei, dan senpai, beberapa teknik beladiri dia praktekkan , memilin,memutar, membanting, memukul dan menendang di lakukan Zhafira secara cepat dan tepat pada bagian tubuh lawan


Namun kali ini, Zhafira kalah, dimana salah satu penjahat menekan bahu Zhafira yang cidera itu membuat Zhafira berteriak kesakitan yang tidak lama kemudian Zhafira terjatuh dan terkukung oleh para penjahat yang tersisa, dan suara tawa mereka menggelegar di telinga Zhafira membuat Zhafira menangis dengan kerasnya karena dia berhasil dikalahkan.


Di sisa tenaganya Zhafira meminta para penjahat melepaskan dirinya dengan mengiba bahkan sampai meraung-raung. Namun, para penjahat sudah buta hati, dan menulikan pendengaran mereka dikarenakan mereka semua sudah dikuasai oleh hawa nafsu untuk segera mencicipi tubuh sang mangsa yang beraroma sangat wangi, walaupun dengan tubuh penuh peluh dan luka.


Ciiitttttttttttt.....


Suara benturan ban mobil dengan aspal ketika di rem secara tiba- tiba


Cahaya mobil menyilaukan untuk beberapa penjahat yang berusaha menjamah tubuh Zhafira


" b*sat " umpat Ali dengan wajah penuh amarah yang sudah berada di hadapan para penjahat. Ali menghajar musuh dengan membabi buta, begitu pula Yoyok yang sudah tidak dapat menguasai diri ketika melihat para penjahat melakukan penderaan pada Zhafira yang sudah dalam kondisi memprihatinkan


Para penjahat sudah mendapatkan lawan sepadan, bahkan Ali dan Yoyok menghantam tubuh para penjahat dengan sangat beringas tanpa ampunan sama sekali, sedangkan Zhafira menghajar pria yang masih bertahan untuk menjamah tubuh Zhafira. Zhafira melakukan perlawanan alhasil pria itu tersungkur dengan keadaan naas


Zhafira segera mengucapkan kalimat Alhamdulillah dan setelah itu pandangan Zhafira tiba-tiba menghitam dan gelap. Hanya dalam hitungan detik Zhafira ambruk. Namun dengan cepat Ali segera menahan tubuh Zhafira jangan sampai menghantam kerasnya aspal. Ali menangis sembari merengkuh tubuh Zhafira masuk dalam dekapannya.


" Biadab " ucap Ali dengan penuh emosi, Ali kembali menghujam'i para penjahat dengan pukulan membabi buta. Yoyok segera membuka jaketnya untuk menutupi bagian tubuh Zhafira yang terekspos, akan tetapi tidak bisa menutupi aurat puncak kepala Zhafira yang selama ini terjaga. Yoyok masih harus menyelesaikan amarah nya pada para penjahat, mereka berdua harus segera meringkus mereka semua agar tidak ada satupun yang akan berhasil melarikan diri.


Setelah itu, Yoyok mencari selimut dan hijab yang biasanya ada di dalam mobil Zhafira untuk menutupi tubuh Zhafira dan puncak kepala Zhafira ketika seluruh penjahat berhasil diselesaikan oleh mereka berdua dengan cara jantan, sedangkan Ali menatap Zhafira dengan wajah sendu dan tidak sadar jika gerakan tangannya yang akan memeriksa denyut nadi Zhafira dengan tangan yang sudah gemetaran. Sekali lagi Ali tanpa sadar telah merengkuh, memeluk tubuh Zhafira masuk ke dalam dekapannya kembali ketika nadi Zhafira masih terasa dan teraba, hanya saja sedikit lemah yang bisa saja terjadi akibat kelelahan. Bahkan, Ali juga tanpa sadar telah melabuhkan kecupan di puncak kepala Zhafira yang belum tertutupi hijab


" Bang "


" Ini salah aku " ucap Ali yang sudah menangis dengan pilu dalam posisi masih mendekap Zhafira. Yoyok segera menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat bersalah. Apalagi melihat kondisi tubuh Zhafira yang terdapat banyak sekali luka, dan beberapa sudah terlihat menunjukkan tanda-tanda lebam. Mereka berdua menangis dengan penuh penyesalan. Tanpa sadar, suara tangisan mereka sangat kuat membuat Zhafira terbangun dari pingsannya.


" Al "


" haus " ucap Zhafira dengan lemah yang masih dalam pelukan Ali. Tanpa menunggu lama Yoyok segera mengambil air mineral, dan Zhafira meminumnya sedikit, setelah itu Zhafira kembali berucap dengan nada yang sangat rendah namun masih terdengar oleh keduanya


" Al "


" Aku lelah, boleh rebahan " ucap Zhafira yang merasa tubuhnya butuh tempat yang tepat untuk berbaring, lagipula Ali adalah pria yang bukan mahramnya sehingga Zhafira merasa tidak nyaman. Dengan gerakan sangat lembut penuh kehati-hatian Ali mengendong tubuh Zhafira ala bridal style meletakan tubuh Zhafira kedalam mobil yang Yoyok tumpangi .


Tubuh lemah Zhafira berbaring di mobil bagian tengah, rencananya mereka menunggu ambulance datang, namun melihat kondisi Zhafira, Yoyok berinisiatif untuk segera meninggalkan lokasi, bagaimana pun kondisi Zhafira jauh lebih penting, sedangkan untuk penjahat, hanya dalam hitungan menit mereka akan menikmati neraka dunia karena ternyata Adhitama lebih dahulu bergerak ketika Zhafira tanpa sengaja menghidupkan alarm bahaya pada liontin yang dia gunakan.


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Zhafira merapatkan selimutnya, sembari menekan suara tangisannya agar tidak terdengar oleh Yoyok dan Ali, namun keheningan malam membuat suara sekecil apapun sangat terdengar membuat Yoyok dan Ali menitikkan air mata. Sehingga mereka bertiga sama- sama menahan diri agar suara tangisan mereka tidak terdengar oleh satu sama lainnya.


Ali mengangkat telepon dari tuan Adhitama, suara tegasnya membuat Ali terdiam dan mengiyakan saja ketika Adhitama memerintahkan kepada dia untuk membawa Zhafira ke rumah sakit terdekat yang ternyata rumah sakit yang terdekat merupakan rumah sakit milik keluarga Bhalendra.


Ali sangat ragu, namun bagaimana lagi keselamatan Zhafira merupakan hal yang paling utama. Ali berbicara yang nyaris berbisik ketika melihat Zhafira tertidur yang menyisakan suara segukan. Yoyok menganggukkan kepalanya saja pertanda dia akan segera memenuhi permintaan ayahnya Zhafira.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Zhafira segera dipindahkan ke brangkar atau tempat tidur khusus pasien. Kedatangan Zhafira bahkan di tangani secara cepat dan terbaik, karena pasien yang datang mengunakan mobil pribadi ini merupakan cucu pemilik rumah sakit ini, tentu saja mereka harus bekerja dengan terbaik, bahkan ruangan IGD sudah di sterilkan dari para pasien lainnya, dokter- dokter terbaik turun tangan.


Meskipun Adhitama belum berada di tempat. Yoyok maupun Ali sama - sama gelisah menunggu di depan ruangan yang biasanya hanya ditutup dengan bed screen atau skerem khusus IGD. Namun untuk rumah sakit milik Bhalendra, mereka lebih memilih mengunakan pap gorden rumah sakit yang lebih simpel dan lebih tertutup daripada mengunakan bed screen.


Entahlah suara gaduh di arah depan ruangan membuat beberapa orang tidak sengaja menjerit, membuat Zhafira yang memang benar-benar kelelahan itu sampai berusaha terbangun sangking gaduhnya, dan Zhafira yakin jika itu Ali atau Yoyok yang pasti mendapatkan pukulan, entah dari siapa yang pasti nyawa kedua menjadi sasaran empuk atas apa yang menimpa Zhafira.


Zhafira meminta perawat untuk membantunya berdiri, dan berjalan di saat tubuhnya sendiri butuh perawatan Zhafira masih memikirkan nyawa orang lain.


Zhafira melindungi Ali dan Yoyok, membuat Yoyok dan Ali tidak kuasa menahan tangisan mereka. Bahkan Zhafira meminta mereka berdua untuk selalu berada di dekatnya. Zhafira tidak ingin Ali ataupun Yoyok mengalami kekerasan akibat kesalahan yang Zhafira lakukan karena dia yang keras kepala tidak mengindahkan peringatan Yoyok sebelumnya untuk menunggu sebentar. Alhasil, Yoyok dan Ali yang disalahkan karena lalai dalam bertugas. Mereka bahkan tidak tahu apa yang terjadi jika sampai Zhidan tahu apa yang terjadi pada Zhafira.


Adhitama menangis, ketika melihat kondisi Zhafira yang ternyata begitu buruk. Terdapat robekan hampir di seluruh pakaian Zhafira, bahkan bagian aset Zhafira terlihat, belum lagi ketika Zhafira tidak mengenakan hijab, yang artinya selama tragedi naas terjadi musuh berhasil melakukan penderaan pada Zhafira.


Itu dapat terlihat dari rambut Zhafira yang sangat berantakan, terlihat beberapa helai rambut terputus yang mungkin saja akibat cengkeraman para penjahat, luka lecet dan lebam belum lagi bekas kissmark di leher Zhafira membuat Adhitama naik pitam.


Tanpa sadar, Adhitama mengucapkan kalimat perintah pada asisten kepercayaannya yang membuat dia tanpa sadar kembali menjadi Adhitama yang dahulu, kejam.


Yoyok dan Ali bahkan kesulitan menelan air ludah mereka setelah mendengar ucapan Adhitama yang memandang tajam ke arah Ali dan Yoyok


" Beruntung sekali kalian mendapatkan jaminan dari nona Zhafira. Jika tidak, "


" Nasib kalian akan sama seperti para pelaku "


" Tuanku berbeda dengan tuan Lesham. Akan tetapi tidak jauh berbeda dari tuan muda. Berhati-hati lah dalam bertugas. Ini adalah kesalahan terakhir yang kalian perbuat, jika kalian masih sayang dengan nyawa " ucap asisten kepercayaannya Adhitama yang ternyata sama dinginnya dengan sang tuan.


Ali dan Yoyok terdiam sembari menundukkan kepalanya pertanda mereka telah lalai. Namun untuk berhenti bekerja dengan Zhafira, sangat sulit apalagi hati mereka sudah terpaut akan pesona Zhafira.


Bahkan di antara rasa sedih yang Ali rasakan, tanpa bisa dia pungkiri wajah cantik Zhafira tanpa mengenakan hijab terus saja menari - nari dalam ingatannya, begitu pula dengan Yoyok yang harus berusaha keras untuk tidak mengkhianati sang istri. Bagaimanapun cantiknya Zhafira, Zhafira tetaplah klien yang harus dia lindungi sebagai seorang bodyguard.


*


*


*


*


*


*


🌺🌺