My Darling

My Darling
46



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Adhitama yang sejak tadi memperhatikan Aisyah, tidak sedetikpun melewati setiap bagian merekam apa saja yang dikerjakan oleh Aisyah. Bahkan Adhitama meresapi setiap aroma khas dari parfum kesukaan Aisyah.


" Mau kemana " ucap Adhitama dengan lembut


" Adhitama " ucap Aisyah yang sudah berdiri di hadapan mantan suaminya


" Mari kita membicarakan ini dengan serius " ucap Aisyah yang tidak lagi bertele-tele seperti beberapa waktu yang lalu


Adhitama segera mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di dalam ruangan, begitu pula dengan Aisyah.


" Katakan apa mau kamu ? " Tanya Aisyah dengan serius


" Kembali bersamamu, selalu bersamamu, terimalah cintaku "


" berikan aku kesempatan memperbaiki pernikahan kita "


" Aku berjanji, berikan lah aku kesempatan untuk terakhir kalinya. Tidak akan pernah ada yang kedua ketiga dan selanjutnya "


" Sungguh aku mencintaimu, Aisyah "


" Aku tidak bisa hidup tanpa kamu " ucap Adhitama yang juga menatap wajah cantik Aisyah yang tidak di gerus usia itu dengan dalam.


" Tidakkah kamu mengerti "


" Kita ini sudah lama berpisah "


" Sudah lebih dari sepuluh tahun " ucap Aisyah


" Iya , aku paham hal itu "


" Lagipula aku tidak mempermasalahkan hal itu, mau kita berpisah sampai ratusan tahun pun kamu tetaplah isteri ku "


" Dan aku paham penyebab kamu pergi meninggalkan aku "


" Bukankah kamu sudah mengetahui jika perceraian kita itu adalah kebohongan semata , karena aku tidak pernah akan menceraikan kamu bagaimana pun kamu memintanya , aku tidak akan pernah melepaskan kamu, istriku.


Percayalah aku tidak pernah berkhianat dalam pernikahan kita " ucap Adhitama dengan suara yang lembut.


Ucapan Adhitama membuat Aisyah memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia sangat kesal, bagaimana bisa mantan suaminya ini mengerti jika dirinya lah yang tidak ingin bersama lagi dengan Adhitama, apalagi meneruskan ikatan pernikahan yang sudah lama terputus.


" Adhitama "


" Sudah bukan rahasia umum lagi jika ibumu tidak menyukai aku sejak awal "


" Aku sudah lelah untuk berjuang, dan aku tidak akan pernah berjuang akan segala hal apapun lagi " ucap Aisyah yang mencoba membuat Adhitama mengerti


" Kalau begitu, beristirahat lah "


" Untuk kali ini biarkan lah aku yang berjuang untuk cinta kita, akan ku raih semua restu baik dari keluarga aku maupun keluarga kamu " ucap Adhitama


" Sudah lah "


" Dengan seperti ini, kita hanya akan debat kusir sepanjang hari "


" Aku lelah, Adhitama "


" Aku mau pulang " ucap Aisyah yang sudah berdiri meninggalkan Adhitama.


Betapa terkejutnya Aisyah ketika membuka pintu ruangan istirahat pasien, di ruangan lainnya yang akan membawa Aisyah keluar dari ruangan rawat inap sudah ada sebagian besar keluarga Bhalendra dan Syekh Ahmad.


Pikiran Aisyah langsung traveling ke beberapa waktu lalu, dimana Adhitama bersikap seperti bocah yang haus kasih sayang, dan kini di hadapannya ada para anggota keluarga Bhalendra yang berbaur dengan keluarga dari sang ibunda nya Adhitama bagaimana tidak shock Aisyah. Di dalam pemikiran Aisyah berkecamuk Apakah mereka semua mendengar pembicaraan Aisyah dengan Adhitama. Namun Aisyah tidak peduli lagi, terserah orang mau bicara apa, toh dia sudah tidak mau berhubungan lagi dengan dua keluarga besar ini lagi.


" Aisyah " ucap salah satu iparnya sembari memeluk tubuh Aisyah memberikan salam khas perempuan cipika - cipiki


" Duduk lah terlebih dahulu, nak " ucap Sultan Bhalendra, yang sudah ada di sana entah sejak kapan.


Ruangan VVIP paling mewah ini sungguh luar biasa mampu menampung orang sebegitu banyak seperti ini. Dengan perabotan yang di tafsir tidak murah, Aisyah langsung menyadari jika dirinya saat ini berada di president eksklusif room yang diperuntukkan bagi pemilik rumah sakit saja. Yang kapasitas dan fasilitas terbaik dari yang paling terbaik disediakan oleh rumah sakit.


Aisyah menjatuhkan dirinya di dekat Sultan Bhalendra yang bahkan Azzam pun sangat menghormati beliau. Sultan mengelus-elus puncak kepala Aisyah, yang kemudian menanyakan kondisi Aisyah, baik itu kondisi fisiknya maupun hatinya. Aisyah berusaha untuk bersikap tenang dan dewasa di hadapan semua orang


Sultan Bhalendra memulai pembicaraan serius dengan Adhitama dan Aisyah.


Aisyah masih kekeuh dengan pendapat dan keinginannya, begitu pula dengan Adhitama yang tetap pada pendiriannya yang tidak bergeser satu inci pun. Membuat suasana menjadi tegang


" Ais " ucap Malika yang sudah memberanikan diri mendekati Aisyah.


Aisyah secara refleks bergerak mundur dari duduknya. Sungguh hatinya merasa tidak tenang, karena Malika ini sifatnya bagaikan ular berbisa, yang akan bisa bersikap kamuflase ke arah negatif jika tidak berada di depan orang lain.


" Sudah lah nyonya Malika yang terhormat."


" Saya sudah memaafkan anda sekaligus keluarga besar anda , semua- muanya "


" Saya juga tidak pernah menaruh dendam kepada kalian "


" Jadi, saya mohon beritahukan kepada putra kesayangannya anda untuk menyetujui proses perceraian yang akan saya ajukan kembali "


" Saya berjanji, setelah pernikahan anak perempuan saya. Saya tidak akan pernah memperlihatkan lagi wajah saya dan anak-anak saya di hadapan kalian semua baik keluarga Bhalendra maupun keluarga Syekh Ahmad " ucap Aisyah dengan lembut, namun tetap kekeuh dengan keinginannya.


Secara tiba-tiba Malika jatuh tersungkur dari kursi roda yang selama ini menopang tubuh Malika. Secara refleks Aisyah segera membantu Malika untuk berdiri dan kembali ke atas kursi roda atas dasar hati nurani.


Malika menangis sejadi-jadinya, terdengar suara terisak-isak yang memilukan, membuat Aisyah luluh karena hati dan perasaannya Aisyah sangat lembut sekali.


" Naiklah, nyonya " ucap Aisyah dengan lembut.


Dengan sesegukan Malika berkali-kali meminta maaf, dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda jika dia menginginkan agar Aisyah mengubah keputusannya. Apalagi Malika mendengar dengan jelas salah satu penyebab utama Aisyah menolak permintaan Adhitama karena dirinya.


" Jangan seperti ini nyonya, aku mohon " ucap Aisyah dengan sendu


" Tolong lah aku, aku sudah lelah jika harus tertekan batin. Aku tidak pernah akan menuntut apapun dari keluarga anda, nyonya selain perceraian saya dan pertanggungjawaban Adhitama sebagai seorang ayah yaitu menikahkan anak perempuannya "


" Itu saja " ucap Aisyah yang sudah sangat lelah berfikir dengan bijak


" Apa perlu mama mengakhiri hidup mama sebagai bukti jika mama benar-benar bersungguh-sungguh memohon maaf kepada kamu, nak "


" Mama yang bersalah "


" Mama " ucap Malika yang terbata-bata karena suara sesegukan dan air mata yang masih terus mengalir.


Melihat tidak ada perubahan dari keinginan Aisyah membuat Bastian menjatuhkan diri ke lantai yang di ikuti oleh isterinya. Bagaikan gerakan domino, saudara - saudara Adhitama yang lainnya melakukan hal yang sama, semua orang tanpa terkecuali, yang kemudian Sultan Bhalendra yang sudah sangat sepuh pun kini berusaha untuk bergerak ingin bersimpuh di hadapan Aisyah.


Namun Aisyah yang segera turun ke atas lantai dan bersimpuh di hadapan Sultan Bhalendra mengatakan jika Sultan Bhalendra jangan sampai melakukan hal tersebut dikarenakan hal itu sangatlah tidak patut dilakukan oleh Sultan Bhalendra sebagai tetua keluarga yang sangat dihormati banyak orang.


Aisyah yang menahan diri sejak dari tadi untuk tidak menangis. Di hadapan Sultan Bhalendra dia menumpahkan tangisannya yang membuat suasana begitu memilukan. Beberapa asisten kepercayaan mereka masing-masing yang berdiri di depan pintu ruangan menyeka air matanya. Karena pembicaraan para tuan mereka sangat menyayat hati, apalagi mendengar suara rintihan memilukan itu.


" Ais sungguh sangat lelah, Ais hanya ingin bahagia di sisa umur yang tidak seberapa ini. Ais, tidak akan sanggup lagi dengan beban seperti dulu " ucap Aisyah yang tidak menutupi, jika dia masih trauma dengan masa lalunya.


" Berikan ibumu kesempatan, nak "


" Berikan suamimu kesempatan, nak "


" Berikan Kakek mu ini sejumput kebahagiaan. Bukankah jika umur yang kamu maksud, Kakek lah yang berkemungkinan lebih besar meninggalkan kalian lebih dahulu "


" Kakek ingin melihat kalian semua bahagia, sehat. Apalagi Zhaza yang akan segera menikah, apakah kamu tidak ingin memperlihatkan keluarga yang utuh kepadanya " ucap Sultan Bhalendra yang membuat Aisyah terdiam.


" Jangankan Azzam, aku pun terikat janji pada istriku, dan ayahku Bhalendra "


" Tidakkah kamu mengasihi laki-laki renta ini tersiksa di sisa umurnya " ucap Sultan Bhalendra yang sekali lagi membuat Aisyah terdiam


Aisyah menatap wajah tua Sultan Bhalendra dengan sangat lekat.


" Aisyah akan pergi begitu saja jika sampai Adhitama ataupun anggota keluarga Syekh Ahmad, maupun keluarga Bhalendra menyakiti aku dan anak-anak ku sekali lagi, Kakek " ucap Aisyah dengan sesegukan


" Bahkan jika itu aku yang melakukannya, maka jangan lagi kamu tampakkan wajah kamu di hadapan kakek, nak "


" Kakek sendiri lah yang akan menghentikan setiap orang meminta pengampunan dosa padamu "


" Ini adalah janji kakek padamu " ucap Sultan Bhalendra menatap wajah cucunya


" Ini juga kesempatan terakhir yang aku berikan kepada kalian semua. Tidak ada kesempatan dan tidak ada permintaan maaf lagi di masa yang akan datang "


" Jika sampai kalian menyakiti Aisyah dan putra putrinya, maka dengan itu secara otomatis hilang lah hak kalian atas harta kekayaan yang aku miliki, atau pun milik Bhalendra. Semua harta kekayaan ku hanya akan jatuh pada Zhafira secara mutlak "


" Tidak ada hubungan apapun lagi diantara keluarga Bhalendra dengan Syekh Ahmad " ucap Sultan Bhalendra yang membuat semua orang tanpa terkecuali terdiam, membuat suasana seketika hening, yang terdengar hanya suara sesegukan


" Kakek tidak adil "


" Bukankah aku pun memiliki anak yang tidak kalah hebat dari Zhaza putri bang Tama " ucap Ezra yang complain dengan sumpah janji sang kakek. Ayahnya Idris berusaha memberikan Ezra kode agar putranya yang satu ini harus bisa melihat situasi dan kondisi jika ingin berseloroh


Sultan Bhalendra tidak menghiraukan cucunya yang satu itu, yang suka bertindak suka-suka dia. Hanya saja Damar sudah memberikan pukulan pada perut Ezra yang kini mengerang kesakitan


" Bukankah Abang berpikiran sama seperti aku kan , bang " Ezra masih mengajukan complain yang membuat Damar ingin menonjok wajah adiknya ini


" Berikan aku cicit perempuan, yang seperti Zhaza " ucap Sultan Bhalendra yang tahu jika cucu somplak nya ini hanya bercanda


" Wah "


" Kalau itu, sih sulit. Kakek " ucap Ezra sembari mendesah dengan berat.


" Aku harus meminta izin terlebih dahulu isteri ku untuk memperbolehkan aku berpoligami "


" Kemudian aku harus menikahi kakak ipar "


" Terus menanyakan kepada Abang waktu proses pembuatan Zhaza mengunakan gaya apa, durasinya berapa " Ezra yang belum menyelesaikan kalimatnya sudah mendapatkan serangan dari para saudaranya setelah mereka semua melihat wajah Adhitama yang memerah menahan amarah akan ucapan adiknya yang tidak tahu situasi dan kondisi.


Adhitama yang sudah kadung emosi langsung berdiri hendak memberikan pukulan kepada adiknya yang tidak tahu malu ini. Namun mereka tidak sadar jika tetua Bhalendra menggelengkan kepalanya akan tingkah konyol


" Kakek "


" Tolong lah aku " ucap Ezra yang sudah mendapatkan pukulan dari Adhitama


" Isteri ku, tolong lah aku " ucap Ezra dengan menggiba


" Hentikan Abang Tama "


" Bukankah itu akan suamiku lakukan jika Abang berbuat buruk pada kakak ipar lagi " ucap isteri Ezra dengan polos nya. Membuat semua orang tercengang


" Kamu membiarkan suami kamu menikah lagi " ucap Adhitama tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh saudari ipar nya


" Iya "


" Asalkan maduku adalah kakak Aisyah, bukan perempuan lain "


" Aku sangat menyukai kakak Aisyah, Abang saja yang sudah menyia-nyiakan kakak. Dan mama tidak menyukai kakak, selain kalian kami semua sangat menyayangi kakak kok, bang " ucap isteri Ezra yang masih berbicara dengan polos


" Masalahnya apakah kak Aisyah menyukai kalian berdua "


" Kalian berdua sungguh terlalu percaya diri " ucap Fathan adiknya Ezra. Perang pendapat masih berlanjut membuat suasana menjadi kisruh tidak seperti suasana awal. Yang membuat pusing kepala Sultan Bhalendra


" Sudah "


" Hentikan " ucap Sultan Bhalendra yang membuat semua orang menahan mulut nya untuk tidak berbicara lagi


" Akan tetapi aku serius loh, Kek "


" Aku dan istriku tidak ingin berjanji seperti Kakek.


Andaikan Abang tidak amanah dengan kesempatan terakhir yang diberikan oleh kakak Aisyah. Maka kami akan menculik kak Aisyah untuk tinggal bersama kami " ucap Ezra dengan mantap dan sang isteri mengiyakan ucapan suaminya.


Sebegitu sayangnya adik Adhitama ini pada kakak iparnya. Karena kakak iparnya ini sudah dikenal Ezra sejak kecil. Apalagi ketika Malika tidak mengurus anak-anak nya dengan Idris dengan tidak baik.


Ezra pernah diasuh oleh baby sitter yang tidak bertanggung jawab saat umurnya di bawah tujuh tahun yang menyebabkan Ezra mengalami gangguan pencernaan di perparah dengan kurangnya perhatian dari sang ibu membuat Ezra menjadi anak yang sering sakit dan badung. Ezra yang ternyata satu sekolah dengan Aisyah di sekolah elit yang memiliki fasilitas sekolah lengkap dengan tingkat pendidikan yang lengkap pula dipertemukan dengan tidak sengaja. Sejak pertemuan mereka saat itu, membuat Ezra lebih suka berada di dekat Aisyah dan pulang ke mansion yang Aisyah tempati.


Ezra yang haus kasih sayang dan perhatian sangat menyukai Aisyah apalagi ketika Umma Aisyah sangat hangat menyambut kedatangan Ezra setiap kali Ezra datang berkunjung di mansion Lesham. Dan di sanalah kedekatan Aisyah dengan Ezra semakin dekat bahkan sangat dekat. Sejak saat itu, hubungan silaturahmi yang selama ini baik di antara dua keluarga besar itu semakin erat.


Oleh karena itu ketika Adhitama dan ibunya berbuat buruk terhadap Aisyah maka Ezra lah yang berdiri di garis depan tidak terima dengan perlakuan sang ibu terhadap saudari ipar kesayangannya. Sang istri Ezra sama seperti Ezra menyayangi Aisyah, istrinya Ezra pun menerima jika sikap suami yang terlalu sayang kepada Aisyah dikarenakan Ezra menjelaskan secara rinci dan detail bagaimana masa kecilnya tumbuh besar di dalam keluarga Lesham selain keluarga intinya sehingga membuat istri Ezra tidak mempermasalahkan hal tersebut, toh perasaan sayang Ezra bukanlah perasaan sayang seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Akan tetapi perasaan sayang seorang adik pada kakaknya meskipun bukan kakak kandungnya Ezra.


Terlahir dari sendok emas, tidak membuat semua orang merasa bangga dan terhormat. Tidak setiap orang merasakan perasaan yang sama. Terkadang perlakuan seorang ibu berbeda kepada setiap anaknya yang memicu timbulnya penyakit hati. Dimana itu menjadi titik awal perpecahan keluarga. Ini pun bisa terjadi pada keluarga yang memiliki strata sosial yang tinggi.


Padahal tidak hanya berbicara tentang apa yang dimiliki seseorang, ada kasih sayang yang sangat dibutuhkan di situ. Kesibukan sang ayah dalam menjumput rezeki demi karier, kesibukan sang ibu demi pengakuan dalam circle sosial nya, ada kebutuhan anak yang tergadaikan yaitu kebutuhan cinta kasih, dan perhatian. Itulah yang dialami oleh anak-anak Syekh Ahmad dan Idris, sehingga putra-putri mereka cenderung bersikap egois dan individual.


Pertemuan mereka dengan keluarga Lesham meleburkan itu, namun tidak bagi beberapa orang termasuk ibunya Adhitama yang hatinya sudah teracuni oleh pertemanan yang toxic. Ketika menyadari kesalahannya Malika sudah terlambat, sangat terlambat, apalagi ketika dia mengalami stroke. Beberapa orang yang dianggap dia sahabat menjauhi dia yang terlihat merepotkan bagi circle mereka.


Di sinilah, Malika menyesali perbuatannya apa lagi setelah itu, satu persatu baik dari anggota keluarga kandung nya maupun anggota keluarga suaminya perlahan-lahan namun pasti menjauhi dirinya yang dianggap aib keluarga. Mencoreng nama baik keluarga atas perbuatan jahat yang dia lakukan pada salah satu menantu nya.


*


*


*


*


*


🌺🌺