
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Seorang perawat pria membantu Malik untuk duduk di kursi rodanya, karena Malik terlalu enggan untuk berdiri terlalu lama, di usia nya yang sudah memasuki delapan puluh empat tahun, di tahun ini.
Ulang tahun yang dirayakan setiap tahunnya selama ini juga selalu sama, itu itu saja tanpa kesan semenjak perpisahan dia dengan cicit kesayangannya. Dan dia terlalu malas untuk ulang tahunnya dirayakan mewah. Cukup kirimkan saja paket- paket sebagai tanda cinta ke beberapa panti asuhan yang menyebar di kota ini, karena memang Malik sudah kehilangan semangatnya ketika cicitnya melakukan hal buruk pada istri dan anak-anaknya. Yang jadi masalah, Malik tidak pernah lagi bertemu dengan anak perempuan dari cicit sulung kesayangannya itu, yang super super jahil akan tetapi yang selalu dia rindukan.
" Berikan aku pakaian yang biasa aku pakai saja "
" Sejak kapan aku memakai kemeja seperti ini "
" Ck " Rajuk Malik pada perawat pria yang sudah merawat dia selama ini
" Tuan besar sendiri lah yang memilihkan pakaian ini. Bahkan warna pakaiannya sama dengan yang tuan besar kenakan, tuan " ucap perawat pria itu dengan segan
" Ck "
" Memangnya mau menghadiri acara apa sih, Sultan "
" Aku tidak mau pergi keluar dari mansion ini, katakan ini pada bandot tua itu ! " Marah Malik
Yang ternyata orang yang sedang dia nistakan nya itu, masuk ke dalam walk in closed milik sang ayah
" Really, Benarkah ? "
" Nanti jangan mengemis-ngemis minta ikut, jika ayah sudah melihat kejutan yang aku berikan untuk ayah, yah " Sultan menggoda sang ayah , membuat Malik sedikit penasaran. Memangnya apa yang bisa membuat dia merasa penasaran di usianya yang seperti ini, pikir Malik di dalam benaknya ketika melihat sang putra menggoda dirinya.
" Baiklah, baiklah "
" Jangan merajuk, jika ayah tidak akan aku ikut serta kan dalam acara aku kali ini , pokoknya ini tuh special banget deh, trust me, Dad " ucap Sultan dengan jumawa sembari melangkah keluar dari walk in closed sang ayah. Sedangkan Malik semakin merasa penasaran dengan clue yang diberikan oleh sang anak apalagi melihat mimik wajah Sultan yang terlihat serius walaupun sedang menggoda dirinya.
Sehingga, untuk pertama kalinya di masa hibernasi nya Malik mengenakan pakaian yang semi formal seperti ini. Karena dari rona wajah Sultan, membuat Malik diam- diam merasa penasaran apa sih yang membuat putranya ini begitu semangat pagi hari ini dan membuat seantero mansion heboh, karena Malik mendengar semua maid tergesa-gesa menyelesaikan titah Sultan, yang tentu saja menarik perhatian Malik, ada apa dengan Sultan hari ini ?.
Awas saja jika tidak ada manis - manisnya , gumam Malik sembari memakai pakaiannya yang dibantu oleh perawat, dan si perawat masih bisa mendengar gerutu sang tuan besar satu ini
" Tinggal beli LeM* aja, tuan "
" Biar ada manis- manisnya " ucap perawat pria itu dengan polosnya, membuat wajah Malik memerah menahan kesal, sedangkan sang perawat hanya menyegir kuda yang memperlihatkan deretan giginya
' maafkan aku, tuan "
" Tapi sungguh, saya, dan bahkan semua penghuni mansion ikut merasakan excited hari ini, untuk pertama kalinya semenjak saya bekerja dengan tuan besar, saya melihat tuan besar sangat bahagia, hari ini " ucap perawat dengan raut wajah sukacita yang membuat Malik semakin di dera rasa penasaran.
Tuh kan, kena deh si tetua Bhalendra satu ini, ikutan semangat hari ini. Buktinya Malik meminta di dandani dengan baik setelah mendengar ucapan perawat khususnya.
Sedangkan di salah satu bagian mansion utama Bhalendra, Zhafira nampak santai sekali setelah menyelesaikan mandi, dan berganti pakaian atas permintaan sang kakek buyut yang warnanya sudah senada dengan kakek buyutnya dia sempat berkirim pesan dan video call dengan sahabatnya Anggie mengenai hari yang akan dia lalui hari ini.
Setelah itu, Zhafira turun dari unit kamarnya yang terletak di lantai tiga mansion tanpa basa-basi Zhafira langsung ke area dapur dan bercengkerama dengan para penghuni mansion yang sudah sibuk di area masing-masing. Yang untuk kali ini Zhafira sudah bercengkrama dengan para maid, yang mana para maid itu sendiri yang merasa canggung ketika sang nona muda bersikap ramah.
Ketika Zhafira memilih untuk selesai mengajak beberapa penghuni mansion utama berbincang-bincang dengan tema random dan hendak kembali ke unit kamarnya seseorang menghentikan langkah kakinya
" Nona Zhaza "
" Benarkah ini, nona ? " Tanya kepala pelayan itu dengan suara gemetar, membuat Zhafira menghentikan langkahnya. Karena bingung akan sikap kepala pelayan ini yang seolah-olah mengenal Zhafira jauh sebelumnya. Padahal Zhafira merasa baru pertama kali melihat pria ini. Dan bukankah pria inilah yang sejak awal memberitahukan letak kamarnya di mansion ini. Namun sikapnya kali ini sedikit membuat Zhafira merasa aneh
" Iya "
" Ini saya "
" Ada apa yah, mas "
" Bukankah kita tadi sudah berkenalan di area dapur bersama yang lainnya " ucap Zhafira dengan sopan. Zhafira mengira-ngira saja sapaan untuk pria dihadapannya karena pria ini memiliki bentuk wajah, dan warna kulit khas daerah j*, yang biasanya dengan sapaan itu sebagai tanda hormat, dan bentuk sopan santun terhadap orang yang usianya di atas dia. Zhafira merasa heran saja mengapa pria ini kembali mengulangi pertanyaan yang sama sampai dua tiga kali seperti ini, apa ada yang salah pada dirinya
" Terimakasih sudah bersedia untuk datang, dan pulang kembali ke mansion ini, nona "
" Tuan besar, dan ayah tuan besar pasti sangat bahagia sekali saat ini "
" Awalnya saya bingung , mengapa tuan besar memberikan beberapa perintah pada saya, ternyata semua itu demi menyambut kedatangan nona "
" Bahkan tuan besar sendiri ikut juga turun tangan untuk beberapa hal yang seharusnya bisa diselesaikan oleh para pekerja beliau "
" Dan ternyata benar, ternyata anda.... "
" Memang anda sesuai dengan apa yang tuan besar, dan ayah tuan besar serta ayah saya deskripsi kan, atau ceritakan pada saya, bagaimana sosok anda, nona "
" dan Terimakasih "
" Tidak pernah kami berani untuk tertawa. Bahkan untuk tersenyum saja sulit, karena memang sesuram itu suasana mansion ini, nona " ucap kepala pelayan tersebut dengan mata berkaca-kaca dan berbinar-binar secara bergantian membuat Zhafira merasa tidak enak hati, benarkah seperti itu ?
apakah seberharga itukah dirinya bagi keluarga sang ayah. Akan tetapi, mengapa dahulu kala mereka dikucilkan oleh beberapa anggota keluarga Bhalendra, walaupun Zhafira mendapatkan banyak sekali limpahan kasih sayang dari dua tetua sepuh Bhalendra, Akan tetapi tidak untuk beberapa anggota keluarga yang lainnya. Yang ternyata akhir - akhir ini diketahui oleh Zhafira jika beberapa orang tersebut terjangkit penyakit hati.
Semakin dewasa Zhafira memahami, jika setiap orang bisa berubah, bisa juga bertahan dengan sikap yang mereka ambil. Toh, amal ibadah di hisab masing-masing, bukan.
Zhafira kembali masuk ke dalam kamarnya kembali setelah mendengar kalimat panjang dari kepala pelayan mansion utama Bhalendra yang kebenarannya tidak terlalu Zhafira pikirkan. Zhafira hanya mengamati lamat- lamat kamar yang katanya memang menjadi kamar khusus Zhafira di mansion utama Bhalendra sehingga setiap sudutnya berusaha Zhafira rekam dalam memori nya agar dia bisa mencoba menarik ingatannya masa lalu. Namun, ketika sakit kepala itu menyerang Zhafira segera menghentikannya dan hanya bisa mengingat yang saat ini saja untuk dia rekam dalam memori sebelum dia keluar lagi menemui sang kakek buyutnya.
Zhafira ingat ucapan ibunya semalam sebelum Zhafira masuk ke dalam kamar Malik. Ibunya berkata jika saat itu ketika Zhafira baru saja dilahirkan dengan proses Seksio Sesarea karena satu dan lain hal sehingga Zhafira harus segera dilahirkan dengan metode ini.
Bagaimana perhatian Malik dan Sultan pada bayi cantik ini sejak masih dalam perawatan medis di rumah sakit, begitu protektif kedua tetua Bhalendra yang sudah dirasakan oleh Zhafira sejak kelahiran Zhafira, sehingga untuk tempat tinggal pun Zhafira wajib untuk tinggal di mansion utama Bhalendra sebagai penghuni tetap mansion. Dan itu pun atas permintaan dari istri nenek buyutnya ini, istrinya Sultan.
Bahkan bukan hanya istri kakek buyutnya saja, bahkan istri eyang buyutnya pun , istrinya Malik ikut mendesak sang suami untuk mempertahankan Zhafira di mansion utama sebagai penghuni baru yang menetap di mansion utama.
Mereka tidak peduli yang lainnya, entah itu Aisyah, Adhitama, dan lainnya yang terpenting Zhafira bersama mereka, hidup bersama mereka , dan ini permintaan kedua perempuan penghuni mansion utama Bhalendra yang langsung disetujui oleh para suami mereka. Sehingga Malik dan Sultan meminta langsung pada tetua Lesham yang pada saat itu masih hidup agar Zhafira diizinkan untuk tinggal dan menetap bersama mereka di mansion utama Bhalendra sebagai penghuni tetap mansion.
Dan tetua Lesham hanya bisa mengiyakan saja permintaan itu, karena tetua Lesham tahu bagaimana rasa kesepian itu melanda di usia mereka yang tidak muda lagi, kehadiran Zhafira bisa menjadi pengobat jenuh, dan benar sekali Zhafira menjadi aset berharga para tetua Bhalendra, dan dari sinilah bermula penyakit hati beberapa anggota keluarga Bhalendra yang lainnya yang takut jika Zhafira mewarisi harta kekayaan Bhalendra.
Dan keretakan - keretakan itu semakin jelas ketika terjadi silang pendapat yang menyebabkan istri eyang buyut Zhafira tertekan perasaannya yang kemudian memang karena sudah waktunya ajal tiba, sang istri tuan Malik menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya dengan mendekap erat tubuh sang cicit. Terlihat jelas jika sang eyang utinya Zhafira terlelap tidur bersama Zhafira.
Dimana ketika Zhafira terbangun dari tidurnya karena gemuruh suara tangis yang datang bersahutan, dan Zhafira tidak suka semua orang menangis, malah mencoba membangunkan eyang utinya.
Eyang kung atau eyang buyut merupakan sapaan Zhafira terhadap Malik. Malik Memeluk tubuh Zhafira, dan Zhafira mengatakan apakah eyang mau ikutan seperti eyang uti yang meminta untuk di ninabobok Zhafira seperti eyang uti nya. Membuat Malik mendekap erat tubuh mungil cicitnya ini. Hingga proses pemakaman berlangsung pun Malik selalu meminta Zhafira untuk selalu di sisinya. Karena Malik pun masih merasa sangat sedih kehilangan jantung hatinya, dia membutuhkan Zhafira sebagai penguat hatinya yang sangat kehilangan. Dan lagi- lagi kedekatan Zhafira terhadap para tetua Bhalendra sebagai sumbu atau akar para Bhalendra lain membenci hadirnya Zhafira dalam tubuh Bhalendra.
Apalagi hanya Zhafira saja lah yang diberikan golden ticket sebagai penghuni mansion utama Bhalendra yang diberikan izin menetap sebagai penghuni tetap di mansion utama sejak Zhafira berusia nol bulan dan itu diumumkan dalam acara besar Bhalendra yang pasti dihadiri seluruh keluarga besar Bhalendra
Adhitama tidak mampu menolak titah tetua padahal Adhitama sendiri telah memiliki sebuah mansion dan menetap di mansion tersebut sebagai rumah untuk keluarga kecilnya dimana Adhitama sebagai kepala rumah tangga. Namun untuk Zhafira terpaksa Adhitama mengikhlaskan putri kecil nya berada di mansion utama Bhalendra, malah mereka yang terpaksa mengalah dan menginap di mansion utama beberapa waktu untuk melepaskan rindu dengan sang putri. Dan memang lebih banyak berada di mansion utama Bhalendra daripada mansion mereka sendiri.
Dan karena tinggal lama di mansion utama Bhalendra, Zhafira sampai - sampai terlalu sungkan untuk kembali ke mansion milik sang ayahnya sendiri, walaupun sesekali mereka semua pulang ke mansion Adhitama. Akan tetapi itu tidak menjadi sebuah masalah yang berarti, karena Zhafira sangat mudah sekali beradaptasi, hanya saja Malik dan Sultan yang suka protes jika Zhafira terlalu lama meninggalkan mansion utama sehingga terkadang ketika Zhafira masih nyaman di mansion sang ayah terpaksa harus ikut eyangnya dengan iming-iming Zhayn diperbolehkan untuk berada ke mansion utama Bhalendra sebagai penghuni tetap mansion utama Bhalendra
Karena memang sedekat itu Zhafira dengan sang Abang, mau tidak mau Zhayn yang mengalah menemani sang adik. Padahal Zhayn terlalu malas bertemu dengan eyangnya yang terlalu kaku dan keras kepala yang keputusannya mutlak tidak mau di ganggu gugat jika sudah mengambil sikap yang terkadang berseberangan dengan keinginan Zhayn.
Sekali lagi, jika Zhafira yang berkata maka luluh lah sudah tembok tinggi yang dibangun Malik. Sehingga Zhayn terkadang memanfaatkan Zhafira untuk beberapa hal termasuk meminta sang eyang memberikan izin Zhayn mengendarai mobil ketika usia Zhayn belum cukup tujuh belas tahun.
Yang ternyata, itu menjadi modal Zhayn berjuang hidup ketika mereka terasingkan dari Bhalendra. Zhayn berjuang menafkahi keluarga kecilnya mengantikan sosok sang ayah sebagai kepala rumah tangga dalam kondisi yang harus mereka lalui, dan Zhafira selalu bersama sang Abang dalam proses tersebut. Perjuangan Zhayn dan Zhafira untuk bangkit tanpa nama besar Bhalendra, tanpa Adhitama, dan tanpa Lesham di masa itu, perjuangan yang penuh luka namun sangat berkesan dimana mereka saling menguatkan dan melindungi satu sama lain.
Oleh karena itu, kepergian Zhayn masih sangat membekas dalam ingatannya Zhafira. Tidak pernah dia lupakan hingga saat ini. Dan karena itu pulalah Zhafira menjauhkan diri dari sang ayah dan keluarga sang ayah. Semenjak kematian Zhayn dimana Zhafira merasa memang kehadirannya di keluarga besar Bhalendra bagaikan duri. Meskipun merindukan Malik, dan Sultan, Zhafira bertahan menjauhkan diri dari Bhalendra karena semua anggota keluarga Bhalendra membenci dirinya, abangnya, adiknya, dan ibunya oleh karena itulah Zhafira semakin mengasingkan diri dari kehidupan Bhalendra dan sang ayah.
Karena terkadang tanpa sadar Zhafira memberikan respon kurang baik terhadap anggota keluarga Bhalendra karena luka hati itu masih ada, nyata, dan sangat terasa, dan itu sangat menyakitkan ketika memori itu datang kembali yang datangnya tanpa bisa Zhafira prediksi kapan itu hadir.
Maka dari itu, Zhafira memaksakan dirinya untuk melupakan beberapa momen dalam hidup yang harus dia buang dari ingatannya, jika tidak ingin dihantui rasa sakit akan dendam. Dan efek sampingnya memori Zhafira hilang sebagian secara permanen. Untuk banyak orang terkadang Zhafira tidak mengenalinya bahkan jika itu masih ada hubungan keluarga. Namun tertutupi dengan sikap sopan santun Zhafira dalam menyapa orang jika bertegur sapa. Termasuk Kenzie yang baru dia kenali, hanya saja, sikap menyebalkan Kenzie membuat Zhafira tidak lupa akan sosok pria menyebalkan akhir - akhir ini.
Malik telah selesai menuruti keinginan dari Sultan, wajah tuanya masih sangat tampan, tergerus usia saja, gurat wajah nya masih sangat segar, konsumsi sayur dan buah secara rutin membuat kulit wajahnya masih sangat bagus dan bersih, bukan karena perawatan yang biasa dilakukan para konglomerat, bukan
Hidup sehat dengan menu yang sehat membuatnya terlihat segar dan baik kondisi kesehatannya. Hanya saja, penyakit jantung nya membuat Malik pernah di ambang hidup dan mati, keberhasilan transplantasi jantung lah yang membuat dirinya masih bisa menghirup oksigen di dunia yang fana ini, karena sang putra masih sangat membutuhkannya dengan alasan inilah Malik bertahan hingga sampai saat ini
Malik sudah bertemu tatap dengan sang putra untuk menagih janji dari sang putra. Namun Sultan berpura-pura tidak paham dengan mau sang ayah membuat Malik geram dengan sikap Sultan, sedangkan Sultan masih mempertahankan sikapnya yang membuat Malik kini menatap Sultan dengan tajam
" Apa ? " Tanya Sultan, masih pura-pura polos
" Kamu mengerjai, Daddy ? " Ucap Malik yang sudah melototi Sultan
" Untuk apa, Dad "
" Kita bukan di usia itu lagi, come on "
" Jangan terlalu serius " ucap Sultan Bhalendra dengan tertawa lepas yang membuat Malik mengeryitkan dahinya. Ada apa dengan putranya ini. Apakah kesepian membuat dia, gila ? Tanya Malik dalam benaknya.
Malik Bhalendra menggelengkan kepalanya, jangan sampa putra sulungnya ini menderita gangguan kejiwaan akibat rasa kesepian yang menyerang mereka berdua. Apalagi sejak ditinggal pergi cicit kesayangannya, dan di tinggal mati sang istri. Malik harus bisa sehat mental dalam kondisi seberat apapun apalagi melihat sang putra yang sejak tadi tersenyum-senyum sendiri. Baiklah, Malik harus segera memberitahu dokter keluarga Bhalendra untuk segera datang saat ini juga untuk menyelamatkan sang putranya ini dari rasa kesepian. Mungkin dengan menikahkan putranya kembali, ucap Malik di dalam batinnya saja.
*
*
*
*
*
🌺🌺