My Darling

My Darling
6



🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Zhidan sudah menghentikan langkah kakinya ketika sudah berdiri di depan pagar rumah Aisyah. Nampak Aisyah sudah menganti pakaiannya dengan pakaian baru sebagai pertanda bahwa dirinya sudah menyelesaikan pekerjaan di area dapur, dan juga sudah membersihkan tubuhnya yang pasti terasa lengket setelah selesai berkutat di area dapur.


Aisyah masih setia bersenandung kecil, mengucapkan sholawat pada nabi dan Rasullullah Saw sembari menyirami berbagai tanaman yang Aisyah rawat dengan penuh kasih sayang. Terlihat tanaman Aisyah sangat hijau daunnya, bunga-bunga bermekaran untuk tipe tanaman yang berbunga.


Untuk jenis tanaman berduri, hanya pohon Bidara yang Aisyah rawat dan pelihara, bahkan diletakkan Aisyah berada di dua tempat berbeda di rumah Aisyah. Karena diyakini beberapa kajian bahwa pohon bidara termasuk salah satu tanaman yang tumbuh di surga, namun sekali lagi allahualam bisawab, untuk mengetahui kebenarannya, hal itu hanya terdapat di beberapa referensi bacaan, dan bukan hadist sohih.


Aisyah menghentikan kegiatannya barang sebentar, Aisyah segera mematikan keran air yang dia gunakan untuk menyirami tanaman.


Kalimat salam sapa dari kedua anaknya membuat Aisyah segera membalas dengan kalimat yang sama , bahkan menyunggingkan senyuman manis di wajah cantiknya yang tidak pupus karena usia.


Zhafira mulai dengan drama manjanya, membuat Zhidan merasa gemas sendiri, Zhidan sempat mencubit gemas salah satu pipi Zhafira, yang membuat Zhafira merasa kesal, segera membalaskan perbuatan Zhidan, namun gerakan Zhafira yang sudah terbaca oleh Zhidan, membuat Zhafira hanya memukul udara, karena Zhidan sudah meminta perlindungan dari Aisyah.


Zhafira yang tidak berhasil membalaskan perbuatan Zhidan membuat dia merasa tertantang, kiri mereka berdua menjadikan Aisyah sebagai tameng. Hal itu semua terekam dalam memory Adhitama, kedua matanya yang sudah berkaca-kaca tidak melepaskan pandangan dari kegiatan yang Aisyah, Zhafira, dan Zhidan di depan halaman rumah Aisyah.


Rama yang sejak sebelum subuh mengantikan posisi sopir pribadi tuan Adhitama, hanya terdiam di kursi pengemudi. Rama mengisi waktunya dengan stalking media sosial miliknya, sesekali membuka salah satu aplikasi terkenal.


Sesekali Rama mengintip tuan Adhitama melalui rear vision mirror atau kaca spion mobil yang berada di dekat pengemudi untuk mengamati apa yang tuannya lakukan karena sejak tadi mereka berdua hanya berdiam diri di dalam mobil, yang membuat bokong nya sudah mati rasa.


" tuan " ucap Rama dengan intonasi suara yang rendah, namun masih bisa terdengar oleh Adhitama, sehingga atensi Adhitama sudah berpindah ke sosok Rama


" Hm "


" saya ingin ke kamar mandi " ucap Rama dengan hati-hati, karena dia juga merasa tidak nyaman menahan sejak beberapa saat yang lalu.


" atau saya bisa menumpang sebentar di rumah nyonya, tuan " ucap Rama yang tidak tahu jika kalau ucapan dia membuat Adhitama segera melebarkan kedua bola matanya.


" jangan, Rama " ucap Adhitama mendesah pasrah akan polosnya orang kepercayaan nya yang baru saja dia rekrut.


" sudah "


" kita pergi sekarang " ucap Adhitama yang kembali fokus menatap ketiga wajah yang selalu dia rindukan.


Rama tanpa ragu, segera menurunkan hand brake atau rem tangan yang orang Indonesia sering sebut juga dengan parking brake atau rem parkir. Adhitama masih terus menatap ke arah yang masih membuat dirinya rindu, walaupun hanya tersisa siluet rumah Aisyah .


" tuan"


" pak Kemal, menghubungi saya "


" beliau bertanya, apakah tuan bisa datang berkunjung ke mansion utama "


" kali ini tuan besar yang meminta tuan untuk datang berkunjung "


" Hm "


" kondisi nyonya besar semakin memburuk " ucap Rama yang masih fokus mengemudi. Adhitama hanya terdiam untuk sesaat. kemudian dia meminta Rama untuk menganti rute perjalanan menuju ke mansion utama.


Sedangkan Aisyah yang awalnya rela menjadi tameng ketika kedua anaknya sedang terlibat dalam perkelahiannya yang tidak juga bisa disebut perkelahian karena mereka hanya bergelut karena keusilan Zhidan saja.


Kini Aisyah menghentikan Zhidan dan Zhafira, jika tidak sikap kekanak-kanakan anaknya tidak akan selesai selama seharian.


Setelah mereka bertiga menyelesaikan sarapan pagi hari ini, mereka kembali ke kamar masing-masing, untuk menyelesaikan keperluan masing-masing, lalu mereka memutuskan untuk ke ruangan keluarga hanya sekedar saling bertukar informasi kegiatan yang akan mereka lakukan.


Seperti Aisyah yang memberitahukan kepada kedua anaknya aktivitas yang akan Aisyah lakukan hari ini.


" Zhaza "


" Zhizi "


" nanti setelah bunda pulang mengajar "


" bunda akan langsung menuju ke mansion nya pakde kalian " ucap Aisyah yang sudah membuka buku saku kegiatan dan materi selama dia akan mengajar hari ini, yang kebetulan jam mengajar Aisyah yang tidak terlalu pagi.


" Hm "


" ke mansion pakde Azzam ? "


" memangnya ada apa, bunda ? " ucap Zhidan dengan penasaran, bahkan Zhidan sempat mem- pause permainan game di ponselnya yang dia mainkan saat ini.


" bunda juga mana tahu "


" bunda juga tidak mengetahui apa-apa "


" kalau pun tidak ada apa-apa, kan biasa bila pakde kalian meminta bunda untuk menginap " ucap Aisyah sambil menghardikan bahu nya.


" sebenarnya bunda juga penasaran sih "


" apalagi kemarin sore, pakde kalian menelepon bunda "


" terus meminta bunda untuk datang hari ini "


" katanya sih, ada yang mau pakde sampaikan kepada bunda secara langsung " ucap Aisyah dengan lembut, yang kali ini fokus pada notebook Aisyah.


" wah "


" berita apaan tuh , yang mau pakde sampaikan untuk bunda "


" membuat jiwa kepo nya Zhaza meronta-ronta nih, bunda " ucap Zhafira dengan antusias


" yah bunda juga mana tahu "


" tiba-tiba aja pakde bilang mau menyampaikan sesuatu "


" jarang banget pakde berbicara dengan serius seperti itu "


" so far "


" membuat bunda juga merasa penasaran " ucap Aisyah sambil menghardikan bahu nya


" nanti bunda akan pulang ke rumah, atau menginap di mansion nya pakde , bunda ? " ucap Zhidan yang kembali melanjutkan permainan game di ponselnya


" bunda juga tidak tahu "


" apa nanti akan menginap atau tidak "


" nanti bunda kabarin lagi aja " ucap Aisyah dengan santainya


" Oh "


" yah, udah deh "


" nanti kalau semua kerjaan Zhaza sudah selesai "


" Zhaza juga mau ikutan juga menginap di mansion pakde yah, bunda "


" Oh "


" Ok "


" kalau kamu bagaimana, Zhi ? "


" kamu mau juga menginap di mansion pakde " ucap Aisyah kepada anak laki-laki nya


" yah "


" oke juga sih "


" sekalian ada yang akan Zhizi tanyakan dengan Abhi terkait keperluan kuliah " ucap Zhidan.


Aisyah segera bersiap- siap untuk segera berangkat kerja, begitu pula dengan Zhidan. Karena, saat ini Zhidan dan Abhi sepupu Zhidan, anaknya Azzam berada di waktu tunggu masuk kuliah meneruskan program S1 yang baru saja Zhidan selesaikan beberapa bulan lalu.


Oleh karena itu Zhidan memanfaatkan waktu selama masa liburan ini dengan mengisi waktunya untuk bekerja di perusahaan sang ibu, dan mengurus perusahaan startup yang sudah memiliki beberapa cabang di berbagai kota. Kepergian Zhidan menuntut ilmu pendidikan tidak membuat Zhidan kesulitan karena sudah ada orang yang sudah sangat dia percayai, yang akan meng-handle pekerjaan Zhidan di perusahaan startup miliknya .


Orang tersebut adalah orang yang sama , orang yang sudah di angkat Aisyah sebagai putra yang usianya sama seperti usia putra sulung Aisyah. Rasyid, itulah nama pria tampan itu . Pria tampan yang bernama Rasyid itu adalah salah satu sahabat Zayn sedari remaja, dimana Rasyid menemukan sosok seorang ibu yang tidak pernah dia rasakan sejak dirinya kecil, karena sang ibu telah meninggal dunia, sedangkan sang ayah meninggalkan dirinya dengan nenek dari ibunya. Hati Aisyah merasa terpanggil untuk mengangkat Rasyid menjadi putranya, sehingga takdir Allah, akan kematian Zhayn, sedikit terobati dengan adanya Rasyid, walaupun tidak mengobati seluruh luka karena kehilangan putra kandung yang sangat Aisyah cintai.


Dimana Rasyid adalah salah satu sahabat Zayn sedari remaja, yang sudah tentu sangat mengenal baik Aisyah, Zhafira, dan Zhidan. Tanpa keluarga Aisyah ketahui sesungguhnya bila Rasyid memiliki perasaan cinta terhadap Zhafira sedari dulu. Bahkan, Zayn senang sekali menggoda Rasyid. Untung nya rahasia Rasyid masih tetap terjaga karena sampai akhir hayat Zayn tidak pernah mengatakan rahasia hatinya kepada siapapun.


Hanya saja beberapa pesan sebelum kematian Zhayn, Zhayn mengatakan banyak hal, yang jarang sekali Zhayn katakan, karena Zhayn sedikit tertutup mengenai dirinya, namun hari itu, Zhayn bahkan bersikap tidak seperti biasanya, namun tidak pernah terpikirkan oleh Rasyid ,bila itu adalah perjumpaan terakhir dirinya dengan sahabat, yang juga saudaranya.


Aisyah sedikit menganti identitas Rasyid, dengan menyematkan Zhabit di depan nama depannya, sehingga Zhabit Rasyid Lesham, adalah identitas dirinya sejak saat itu, apalagi jika Zhafira dan Zhidan memanggil dirinya dengan " abang Abit ", maka Rasyid sangat merasa senang sekali di hatinya, walaupun di saat yang sama hatinya merasa sakit ketika Zhafira menyebutkan nama panggilannya yang sudah menjadi identitas baru Rasyid, karena secara otomatis Zhafira sudah menetapkan Rasyid adalah saudara nya, walaupun bukan saudara kandung, yang artinya Rasyid tidak akan pernah bisa menyatakan perasaannya kepada Zhafira.


Cinta dalam diam, itulah yang dirasakan oleh Rasyid, tapi mungkin itu lebih baik daripada Rasyid mengatakan perasaannya yang sesungguhnya kepada Zhafira yang mungkin saja akan memperburuk hubungan Rasyid terhadap Zhafira, karena Zhafira sangat tidak respect terhadap pria-pria yang sudah menyatakan perasaannya kepada Zhafira, dan Rasyid tidak ingin hal yang sama seperti yang pernah terjadi orang lain akan berlaku pada dirinya juga.


Kembali lagi di saat dimana Aisyah, Zhafira, dan Zhidan berada. Mereka yang sudah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat tujuan masing - masing, kecuali Zhafira, karena untuk hari ini Zhafira hanya memiliki agenda kegiatan monitoring dan evaluasi kinerja di beberapa cabang perusahaan bersama Anggie yang akan melakukan hal yang serupa pada cabang perusahaan keluarga Anggie.


" Zhi "


" kamu sudah hubungi lagi pak Irwan sudah sampai dimana "


" kasihan bunda , sudah menunggu dari tadi " ucap Zhafira


" iya "


" yang sabar dong, kak "


" jam macet ini " ucap Zhidan


" kasihan juga pak Irwan "


" kalau di spam "


" nanti dia buru-buru bawa kendaraan, nasib jelek, kecelakaan "


" kakak mau bertanggung jawab " ucap Zhidan menambahkan ucapan sebelumnya


" astaghfirullah "


" pedas kali mulut kamu "


" udah lama rupanya minta cabai nih mulut bocah " ucap Zhafira yang hendak mendekati Zhidan, yang sudah barang tentu Zhidan segera berlindung di balik tubuh sang ibu.


Aisyah hanya mampu memberikan beberapa tekanan di dahinya akan tingkah kedua anaknya yang seperti bocah, yang hobinya selalu berantem bila bertemu, tapi sedih bila akan berpisah walaupun hanya sebentar saja.


tin - tin , bunyi suara klakson mobil yang dibunyikan oleh pak Irwan, membuat Aisyah segera beranjak dari duduknya, yang sejak tadi terganggu oleh ulah nakal kedua anaknya.


" hati-hati di jalan bunda" ucap Zhafira ketika sudah berdiri di depan pagar rumah Aisyah.


Pak Irwan sibuk mengangkat barang - barang Aisyah untuk diletakkan di bagasi mobil.


" iya " sahut Aisyah yang sudah duduk manis di dalam mobil, bagian belakang. Zhafira segera menyodorkan tangan kanannya, untuk segera menyalami Aisyah dengan penuh takzim, begitu pula dengan Zhidan yang ikut melakukan hal yang serupa seperti kakaknya lakukan.


Zhidan mulai menstarter kendaraan bermotor roda dua nya, yang tidak semua orang memiliki nya, kecuali orang-orang yang dalam level ekonomi yang sama dengan Zhidan. Bukan berarti Zhidan menjadi sosok borjuis yang suka pamer, akan tetapi memakai barang yang dia miliki, karena segala sesuatu berupa barang harus digunakan dengan baik, tidak boleh hanya disimpan, di pajang, walau bagaimana pun bagus, indah, nilai sebuah barang akan tetap memiliki hisab dalam penggunaan nya.


Oleh karena itu lah, alasannya baik Zhafira maupun Zhidan bila memiliki barang, harus dipakai, dipergunakan dalam berbagai kegiatan ibadah, bekerja, dan kegiatan lainnya.


Zhidan mengendarai motor sport milik nya dengan santai, mengikuti ritme kecepatan kendaraan roda empat yang dikendarai oleh pak Irwan.


Beberapa tahun silam, Aisyah masih mau diajak oleh Zhidan menunggangi motor sport milik almarhum Zhayn yang masih baik kondisi, bahkan selalu di rawat Zhafira, yang hingga saat ini pajak kendaraan bermotor itu masih hidup, dan motor sport milik almarhum Zhayn sudah di klaim menjadi milik Zhafira.


Kenapa Aisyah tidak mau lagi diajak Zhidan, maupun Zhafira menunggangi motor itu lagi, yang jelas bukan karena trauma, atau anak-anaknya tidak pandai berkendaraan. Hal itu dikarenakan Aisyah merasa dirinya sudah tidak pantas lagi untuk naik sepeda motor. Rasa malu membuat Aisyah memilih untuk berpergian mengunakan kendaraan roda empat saja, itupun mobil yang mau ditumpangi nya hanya lah mobil-mobil merk biasa, bukan yang harus brand ini, brand ini, dengan fitur terbaik, inilah itulah.


Aisyah bukan tipe sosialita yang hidup nya harus menggunakan barang-barang branded.


yang penting nyaman selama pemakaian. Hal ini jugalah yang diajarkan oleh Aisyah kepada kedua anak-anaknya untuk membeli barang yang bisa dimanfaatkan sehari-hari, barang yang dipakai bukan untuk disimpan atau dipamerkan, karena semua barang yang ada, barang yang kita miliki akan memiliki hisabnya atau diperhitungkan ketika kita sudah di berada akhirat kelak.


Pak Irwan sudah memperlambat laju kendaraannya, dan seperti nya sedang berusaha mencari tempat untuk memarkirkan kendaraan roda empat yang baru saja dia kendarai. Aisyah melambaikan telapak tangan ketika Zhidan sudah mendekati mobil yang baru saja dia tumpangi.


Zhidan tanpa turun dari atas motor membuka kaca pada helmet yang di pakainya, lalu berkata jika dia terburu-buru, karena di kejar meeting pagi hari ini, dan Aisyah hanya memberikan jawaban " hati-hati di jalan , nak " , dan Zhidan kembali menutup kaca helmet sport yang sama warna dengan motor sport Zhidan yang berwarna navy dengan beberapa list merah yang memberikan kesan anggun, dan elegan. Kedua warna ini, sebenarnya warna kesukaan Zhafira, hanya saja Zhafira tidak memiliki kendaraan warna kesukaan Zhafira dikarenakan Zhafira lebih suka memakai barang yang ada milik almarhum Zhayn, sehingga Zhidan memakai barang yang memiliki warna kesukaan sang kakak kesayangannya.


Zhidan membunyikan klakson motor sport yang dikendarainya, sebagai pertanda bila dirinya akan segera pergi meninggalkan Aisyah, sehingga Aisyah merespon dengan anggukan kepala dan melambaikan tangannya.


" nanti jam berapa , saya akan menjemput ibu lagi " ucap pak Irwan


" nanti saya hubungi bapak lagi "


" karena hari ini, saya kurang bisa memprediksi jam berapa selesai acara sekolah selesai diadakan " ucap Aisyah yang mendapatkan anggukkan kepala dari pak Irwan


" bapak boleh pulang terlebih dahulu " ucap Aisyah sebelum pak Irwan kembali menjalankan kendaraan roda empat nya. Dan Aisyah segera bergegas masuk ke dalam sekolah tempat yang selama ini dia membaktikan diri memberikan anak-anak didik nya ilmu pengetahuan yang dia miliki.


Namun , setelah Aisyah sempat membalikkan tubuhnya ke arah pintu utama masuk sekolah atau yang lebih dikenal dengan gerbang masuk sekolah tempat Aisyah mengajar, terdengar kalimat salam dari seseorang yang sangat familiar bagi Aisyah akan suara dari orang tersebut, yang membuat Aisyah membatu di tempatnya, tanpa mampu membalikkan tubuhnya karena sangking shock , semoga saja dia salah memprediksi


*


*


*


*


*


*


*


🌺🌺