
πππππππππππππππ
Usia Azzam tidaklah muda lagi, bahkan sudah masuk kategori paruh baya yang hampir mendekati senja, namun rasa khawatir nya sangat besar sehingga tanpa sadar dia segera membopong tubuh kecil adiknya ke arah kamar Aisyah untuk segera membaringkan tubuh Aisyah yang jatuh pingsan setelah pertengkaran dengan Zhafira.
Abhi berusaha untuk membantu sang Papi, namun terlambat ketika melihat betapa gesitnya Azzam merengkuh tubuh adiknya dalam dekapannya. Tidak hanya Abhi, bahkan Siti melihat bagaimana besarnya kekhawatiran Azzam, yang juga memperlihatkan betapa sayangnya Azzam terhadap Aisyah.
Jika dahulu Siti sempat memiliki perasaan iri , karena sikap Azzam yang dianggap Siti terlalu berlebihan terhadap Aisyah. Dan, sekarang, saat ini Siti tidak menghiraukan lagi bujukan syaitan kepadanya. Karena jelas, rasa sayang Azzam terhadap Aisyah adalah kasih sayang yang tulus dari seorang abang kepada adiknya, adik perempuan bungsunya, yang sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang kedua orang tua, karena setelah kelahirannya sang ibu menutup usia, sedangkan sang ayah tewas karena kecelakaan yang hingga saat ini masih menjadi sebuah misteri penyebab kematiannya, apakah murni kecelakaan ataukah disengaja oleh seseorang, karena terdapat banyak keganjilan jika dinyatakan sebagai murni akibat kecelakaan saja.
Kembali ke kondisi di mana Aisyah sudah berada di atas kasur empuknya, dimana semua para maid mansion sibuk mengurusi Aisyah agar bisa segera sadar dari pingsannya, dan Zhafira dengan kondisi tidak jauh berbeda. Namun baik Zhafira maupun Aisyah tidak mengetahui kondisi masing-masing, karena para penghuni mansion bungkam, dan membagi prioritas mereka.
" kalian keluar lah terlebih dahulu "
" Biarkan aku yang akan mengurusnya "
" Aisyah butuh udara , tidak baik jika kalian semua ada di dalam sini " ucap Azzam dengan nada suara yang rendah.
Siti tidak lagi tersinggung dengan ucapan Azzam yang terkesan Aisyah adalah orang terkasih nya, menyingkirkan posisi Siti di hati Azzam. Siti sangat paham, jika Aisyah adalah adik kesayangannya Azzam dan jangan pernah di minta untuk memilih di antara Aisyah dan Siti, karena jawaban sudah pasti.
Aisyah adalah saudaraku , dan kamu adalah istriku, jangan pernah mempertanyakan kedudukan kalian di hatiku, karena di hatiku , posisi kalian sudah berada di tempat nya masing-masing, inilah salah satu jawaban yang pernah Azzam berikan, ketika Siti diserang dengan rasa cemburu buta yang melanda hatinya.
Dan sekarang, saat ini tidak lagi, karena sangat wajar Azzam mencemaskan adik kesayangannya. Adik yang secara langsung mendapatkan pengasuhan Azzam, itulah perbedaan perlakuan Azzam dengan adik-adiknya yang lain, bukan berarti Azzam tidak adil dalam banyak hal untuk saudara-saudara Aisyah lainnya
Satu persatu penghuni mansion yang mengkhawatirkan Aisyah keluar dari kamar Aisyah, demi menuruti permintaan Azzam. Begitu pula dengan para saudara sepupu Zhafira ketika suara teriakan Zhidan menggelegar saat setelah Zhafira meminta Zhidan menurunkan tubuh Zhafira, karena Zhafira ingin masuk sendiri ke dalam kamarnya. Namun siapa sangka Zhafira langsung hilang kesadaran, sesaat setelah Zhidan selesai menurunkan Zhafira dari dekapannya. Untung nya Zhidan sigap, yang langsung menarik tubuh mungil,masuk kembali ke dalam dekapannya.
Tanpa sadar, Zhidan berteriak yang langsung membuat beberapa orang berlari ke arah Zhafira dan Zhidan berada. Terlihat sekali Zhidan sangat khawatir, dengan wajah pucat,dan tubuh yang gemetaran.
Saudara sepupu Zhidan yang lainnya berusaha untuk mengangkat tubuh Zhafira untuk masuk ke dalam kamar, karena melihat bagaimana kondisi Zhidan seperti itu, namun Zhidan dengan sikap posesif dan over protective nya , tentu saja tidak membiarkan orang lain merengkuh tubuh sang kakak.
Beberapa tetesan air mata Zhidan jatuh melihat kondisi sang kakak, Zhidan memberikan kecupan di wajah Zhafira sebelum dia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah kasur di dalam kamar yang Zhafira tempati.
Perlakuan Zhidan terhadap Zhafira tentu saja terlihat jelas oleh para sepupunya dan sahabat Zhidan.
" Nah, begitu loh bang "
" Bang Zhizi , cowok banget "
" Dedek suka sekali dengan pria seperti itu "
" Bang Zhizi sangat menyayangi saudara nya "
" So sweet banget, aku suka aku suka "
" Enggak kayak abang , yang sukanya bikin nangis adiknya " ucap Afika sambil mencibir kepada kakak laki-laki nya yang berada tepat di samping Afika .
Hal itu tentu saja membuat kakak laki-laki nya menyentil dahi sang adik. Afika yang mendapatkan perlakuan seperti itu tentu saja hendak melayangkan protes, namun saudara sepupu lainnya memperingatkan mereka jika saat ini, sedang dalam kondisi tidak baik jika mereka meninggikan suara mereka, apalagi membuat keributan, sedangkan terjadi hal seperti ini.
Tanpa Afika ketahui, jika salah satu sahabat sang kakak laki-laki nya sedang memperhatikan sikap Afika sejak awal, dan melihat Afika dengan penuh kasih, dan menargetkan Afika untuk dijadikan isterinya kelak. Pria itu menyembunyikan senyuman di wajahnya, entah tersenyum karena tingkah Afika, atau tersenyum karena dapat melihat wajah cantik Afika.
Hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Azzam, Zhidan pun meminta semua orang untuk keluar dari kamar yang di tempati oleh Zhafira. Zhidan mengelus- elus rambut panjang Zhafira dengan lembut. Mendekap tubuh Zhafira masuk ke dalam dadanya.
Zhidan meresapi aroma tubuh Zhafira
" Kakak " ucap Zhidan yang tanpa sadar meneteskan air mata
" Kakak " ucap Zhidan lagi dengan suara lirih nan bergetar
" Apa Zhizi tidak usah melanjutkan pendidikan, Zhizi tidak sanggup jauh dari kakak "
" Hanya kakak , yang Zhizi punya " ucap Zhidan dengan suara yang bergetar
Zhidan sangat ketakutan, dirinya takut terjadi apa-apa dengan sang kakak.
Apalagi ketika mendengar sang ibu yang meninggikan suara nya terhadap satu - satunya saudara kandung, yang sangat dia cintai dan sayangi. Zhidan sangat menghawatirkan Zhafira, bagaimana jika sang ibu memaksakan lagi kehendak sang ibu. Sedangkan dirinya jauh dari sang kakak, siapa yang akan tetap setia di samping sang kakak, siapa yang akan berdiri melindungi sang kakak. Zhidan sangat tahu , jika sang kakak pasti akan mengalah dari sang ibu. Meletakkan kebahagiaan nya demi mengangkat kebahagiaan sang ibu
Melepaskan kebahagiaan dirinya, mendekap kebahagiaan sang ibu, walaupun Zhafira mendekap sakit dan luka. Zhidan tidak ingin itu terjadi, Zhidan ingin mengantikan semua luka sang kakak. Zhidan sangat takut, jika sang kakak pada akhirnya akan luluh menuruti perintah dan kehendak sang ibu seperti yang sudah-sudah.
Tanpa sadar, Zhidan hanyut dalam pemikirannya yang begitu berat, dan dia pun terjatuh dalam dunia mimpi, ikut terlelap di samping sang kakak yang tertidur karena pingsan.
Anggie yang sejak pagi menghubungi Zhafira, namun sekali pun tidak mendapatkan respon membuat Anggie berdecak kesal. Apalagi ketika menghubungi Zhidan, hasilnya juga sama. Sehingga Anggie memutuskan untuk memerintahkan Ali untuk datang ke mansion utama Azzam, menanyakan langsung kepada Zhafira kenapa Zhafira sampai tidak mengangkat panggilan telepon dari Anggie.
Dari keterangan Ali, membuat Anggie mengkhawatirkan kondisi Zhafira, namun dia harus menghandle rapat hari ini, walaupun hanya sebentar karena hari ini merupakan hari terakhir kerja bagi para karyawan yang akan menyambut weekend. Namun, rapat hari ini harus dilakukan untuk menuntaskan pekerjaan di hari awal kerja nanti. Mau tidak mau Anggie menghandle semua kerja Zhafira hari ini agar Zhafira tidak di pusingkan akan hal ini, karena di hari kerja nanti Zhafira sudah memiliki schedule lain yang tidak kalah penting dari ini.
Tidak berselang lama, sejak Abhi menghubungi dokter keluarga Lesham, dokter yang sedang di nanti - nantikan kedatangan nya segera memeriksa kondisi Aisyah. Dimana tekanan darah Aisyah naik dari tekanan darah Aisyah seperti biasanya. Dan dokter membiarkan Aisyah tetap beristirahat, apalagi Aisyah pada waktu pemeriksaan belum tersadar, walaupun sesaat lalu sempat siuman, namun karena Aisyah mengeluhkan sakit ketika membuka kedua matanya, dan sakit di bagian kepala hingga batang leher yang terasa kaku, Azzam meminta Aisyah untuk kembali beristirahat sampai dokter memeriksa kondisi Aisyah.
Kemudian Abhi mengantarkan dokter menuju ke arah kamar yang Zhafira huni.
Dokter bahkan memberikan sedikit tekanan pada perut Zhafira untuk memeriksa kondisi lambung Zhafira yang seperti biasa bermasalah. Lenguhan kesakitan yang dirasakan oleh Zhafira membuat Zhidan terbangun dari tidurnya. Bahkan tanpa sadar Zhidan menepis tangan dokter yang berada di perut Zhafira.
Reaksi spontan Zhidan membuat Abhi langsung menggelengkan kepalanya saja. Abhi juga memiliki adik perempuan, tapi tidak seperti Zhidan yang terlalu over protective karena dua adik perempuannya pernah complain akan sikap yang dia berikan. Dan pada dasarnya Abhi yang sedikit lunak, maka memenuhi permintaan adik-adik perempuan nya
Bisa jadi, Zhidan hanya memiliki Zhafira sebagai saudara, dan itu adalah hal wajar jika sikap Zhidan seperti ini. Dan abhi memaklumi nya, namun beberapa kali Abhi juga memperingatkan Zhidan ketika Zhidan sudah terlalu berlebihan.
Respon dari dokter keluarga Lesham hanya diam ketika hal yang sedikit tidak mengenakan itu terjadi.
" Tolong Maafkan saudaraku, dokter " ucap Abhi dengan sedikit menundukkan tubuhnya dengan menundukkan kepalanya, terlihat kesungguhan dalam kalimat yang Abhi katakan
" Tidak apa-apa "
" Saya tahu, jika Zhizi tidak sengaja "
" Hanya gerakan refleks saja " ucap dokter tidak ingin menjadikan hal itu menjadi lebih panjang lagi
" Hm "
" Maafkan aku, dokter "
" Sungguh aku tidak sengaja melakukan hal itu " ucap Zhidan merasa bersalah akan perbuatannya
" Iya "
" Tidak masalah kok bagi saya "
" Ini " ucap dokter sambil melihat ke arah Zhidan dan Abhi secara bergantian
" Tekanan darah nya sangat rendah "
" Dan masalah pada lambung nya pun sepertinya kumat "
" Alangkah baiknya jika nona Zhaza diberikan cairan infus untuk pemulihan lebih cepat " ucap dokter. Dan Zhidan langsung segera menyetujui saran dari dokter.
Namun betapa terkejutnya Zhidan ketika Zhafira terbangun dari tidurnya, dan mengatakan jika dia tidak mau diberikan penangan medis dengan diberikan cairan infus. Zhafira memilih untuk mengkonsumsi obat oral saja.
Zhafira malah menanyakan kondisi sang ibunda terkini, mengingat sang ibu yang dia tinggalkan dalam keadaan marah kepadanya. Zhafira kembali bermuram durja.
Zhidan menyampaikan bahwa dokter telah memeriksa kondisi Aisyah terlebih dahulu dari Zhafira. Dan dokter hanya menyarankan Aisyah untuk minum obat dengan teratur, dan istirahat yang cukup. Dan tentu saja hal itu tetap membuat Zhafira tidak berkurang sedikit pun rasa sedihnya yang bercampur dengan rasa bersalah. Karena dirinya lah sang ibu sampai jatuh sakit, karena dirinya lah sang ibu harus mendapatkan perawatan medis dari dokter
Dan inilah juga yang tidak disukai oleh Zhidan karena sudah pasti Zhafira akan menghukum dirinya sendiri seperti yang pernah terjadi ketika Zhafira tidak menuruti kemauan sang ibu. Ada kalanya Zhidan tidak menyukai sikap sang ibu yang selalu ingin anak-anak menuruti apa yang sang ibu mau dan inginkan, bahkan jika itu harus mengorbankan kebahagiaan sang anak.
Sedangkan di dalam kamar Aisyah. Aisyah yang juga sudah tersadar dari pingsannya menanyakan kondisi sang anak gadisnya, namun masih enggan untuk menemui sang anak. Karena Aisyah merasa kali ini dia harus keras terhadap Zhafira, jika tidak. Maka, Aisyah tidak akan pernah melihat Zhafira menikah, karena Zhafira pasti akan kekeuh dengan keinginan nya yang tidak ingin menikah.
Sehingga Aisyah menyampaikan unek-unek di dalam hati nya kepada Azzam bahwa apa yang dilakukannya, dan itu tidaklah salah. Oleh karena itu, Aisyah memutuskan bersikap keras kepada Zhafira tadi. Dan karena kondisi Aisyah, mau tidak mau Azzam mengiyakan saja curahan hati Aisyah agar Aisyah tidak terlalu banyak pikiran yang akan memperburuk kondisi kesehatan Aisyah.
Dan dengan sikap Aisyah seperti ini, maka Zhidan sudah tentu berdiri di samping sang kakak, karena bagaimana pun saat ini Aisyah terlalu menekankan pada Zhafira untuk menuruti kehendak sang ibu,yang menurut pandangan Zhidan, dalam kondisi seperti ini Zhidan lebih berpihak kepada sang kakak, sedangkan Azzam dan Siti berpihak kepada Aisyah, oleh karena itu Zhidan meninggalkan kamar Aisyah, bagi Zhidan prioritas utama bagi nya saat ini hanyalah Zhafira, karena dia satu frekuensi atau satu pemikiran dengan sang kakak.
Mencintai seseorang itu terlalu menyebalkan, karena harus menjaga hati dan perasaan pasangan, padahal hal itu sangat tidak mereka sukai, bertahan dalam suatu hubungan demi image, norma-norma yang berlaku di sistem yang masih dianut oleh warga, tentu saja membuat bagi orang yang tidak mengikuti nya akan menjadi bahan gunjingan, sedangkan menikah itu adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan terciptanya rasa nyaman dan aman bersama, saling menghargai dan menghormati, yah memenuhi kewajiban masing-masing,dan menerima kelebihan dan kelemahan masing-masing
Namun pada kenyataannya dalam pernikahan banyak hal yang tergadaikan, salah satunya kebahagiaan diri sendiri, bahkan terkadang salah satu pasangan bertindak dominan, namun masih saja mengikat padahal sudah saling tidak cocok, mengumbar kelemahan pasangan , tetapi tidak mau berpisah. Dan tentu saja itu merupakan hal yang konyol menurut pemikiran Zhidan, dan hal itu pula adalah hal yang wajar jika Zhafira masih betah untuk sendiri.
Dan sekali lagi, kali ini menurut Zhidan ibunya terlalu terburu-buru , dan terlihat sekali memaksakan kehendaknya kepada anak-anak nya , terutama kepada sang kakak. Oleh karena itu, Zhidan akan berdiri di depan sang kakak, sebagai seorang yang satu pemahaman dalam hidup, mereka berdua sama-sama mengalami hidup menjadi korban divorce, mereka tidak ingin kelak jika memang mereka akan memilih menikah. Anak-anak mereka nantinya akan merasakan hal yang sama seperti yang mereka alami sebelumnya.
Dan yang jadi salah satu pertanyaan nya akankah mereka akan mendapatkan pasangan yang satu pemahaman. Apalagi salah satu sahabat Zhidan yang sudah menikah, pernah mengeluhkan bagaimana perubahan sikap dari pasangan setelah lama mereka bersama, dan sulitnya menyamakan persepsi satu dengan lainnya, dan masih banyak lagi kisah pernikahan yang saling mencintai namun berakhir dengan perceraian. Begitu banyak pengalaman yang di dengar oleh Zhidan tentang uniknya suatu pernikahan dan sekali lagi hal itu memperkuat pemikiran Zhidan semakin kuat dan yakin, jika pernikahan adalah hal yang tidak perlu dan penting.
*
*
*
*
*
*
*
πΊπΊ