
ππππππππππππππ
Azzam memijat pelipisnya, ketika anak, ayah, dan ibu sama saja. Sama-sama menginginkan Zhafira menjadi bagian dari keluarga Abrisham
" Ibra "
" Bukannya aku tidak menyukai putra kalian meminang Zhaza. Hanya saja, lebih baik kita bicarakan hal ini di lain kesempatan saja. Karena menurut aku, saat ini bukanlah waktu yang tepat. Bukan hanya keluarga kamu dan keluarga Abang saja yang harus menghadiri acara itu nanti. Kita harus mengundang keluarga Bhalendra, Zhafira masih memiliki kakek buyutnya. Beliau pasti tidak akan terima jika kita menetapkan hal sepenting ini tanpa mereka " ucap Azzam dengan bijak
" Baiklah. Lebih cepat lebih baik, bang "
" aku menunggu Abang menetapkan waktu nya " ucap Ibrahim dengan penuh semangat, Amanda terlihat bahagia mendengar apa yang diucapkan oleh Azzam yang tidak menolak lamaran Kenzie
" Untuk keluarga Bhalendra, kamu saja yang akan mengurusnya, Tama "
" Kalau untuk aku pribadi, siapapun lelaki yang menjadi pilihan Zhaza, aku pasti akan merestui nya, yang paling penting bagiku untuk calon suami Zhaza yaitu baik agamanya, akhlaknya, bertanggung jawab dan tentunya mencintai Zhaza "
" dan untuk kamu, maupun keluarga besar kamu, Bhalendra khususnya "
" Bagaimana penilaian kalian untuk kriteria calon suami Zhaza itu urusan kalian, dan aku tidak ikut campur urusan kalian "
" Namun, alangkah baiknya jika hal penting seperti ini untuk kita bicarakan bersama-sama untuk mendapatkan mufakat "
" Zhaza sudah cukup umur, dan dewasa dalam bersikap, tidak baik kita menunda- bunda dia untuk memiliki pasangan " ucap Azzam yang mendapatkan anggukan kepala dari Adhitama.
" Terimakasih, bang " ucap Ibrahim yang percaya diri jika Azzam menerima pinangan dari anaknya
" Belum mufakat, Ibra " sahut Azzam dengan jengah, yang hanya ditanggapi Ibrahim dengan nyengir saja
" Terimakasih, Tama "
" Kenzie pasti akan menjadi menantu yang baik. Kami juga menyayangi Zhafira jauh sebelum anakku ini datang untuk melamar Zhafira " ucap Ibrahim setelah mengalihkan pandangannya ke arah Adhitama yang lebih muda dari Ibrahim
" Jangan terlalu percaya diri, Ibra "
" Aku belum mengiyakannya " ucap Adhitama yang tidak suka jika keluarga Abrisham ini seenak udelnya mengklaim putri kesayangannya adalah menantu mereka.
" Belum, bukan berarti tidak "
" Bukankah seperti itu " ucap Ibrahim yang lagi-lagi berucap dengan percaya diri
" Entahlah "
" Aku akan melakukan transfer pasien ke rumah sakit milik Bhalendra, tolong kamu permudah administrasi dan prosesnya " ucap Adhitama yang sudah malas berdebat dengan rekan bisnis nya ini.
" Ah "
" Untuk itu, jangan kamu pikirkan, Tama "
" Aku sudah memberikan fasilitas terbaik dari rumah sakit milik keluarga kami "
" Sehingga, selama Zhafira berada di rumah sakit ini, Zhafira akan mendapatkan semua layanan terbaik, begitu pula dengan perlindungan. Zhafira akan mendapatkan perlindungan dari keluarga kami "
" Toh, Zhafira adalah calon menantu di keluarga kami, sudah pasti kami akan memberikan dia segala yang terbaik yang kami miliki " ucap Ibrahim yang kali ini membungkam Adhitama yang ingin menolak, karena Aisyah menggelengkan kepalanya pertanda Adhitama berhentilah untuk kembali berdebat dengan lawan bicaranya.
Aisyah mengajak Amanda berbasa-basi, bercerita tentang banyak hal dengan tema random, asal nyambung saja. Begitu pula dengan Siti. Sehingga para perempuan terlibat obrolan hangat. Namun tidak untuk para pria yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia dari ketiga perempuan ini.
Sampai dimana Ibrahim memecahkan percakapan hangat itu kembali ke tema awal. Membahas tentang bagaimana sampai Zhafira mengalami kecelakaan yang di sengaja, padahal Zhafira termasuk orang yang cukup mumpuni dalam balap mobil.
" Jadi "
" Bagaimana kronologis kejadian hingga membuat menantu Daddy seperti ini " tanya Ibrahim pada putranya, karena sepengetahuan Ibrahim, Zhafira sejak remaja sudah sering berlatih balap bersama sang kakak laki-lakinya. Bukan rahasia umum jika Zhafira dan para gadis lainnya menyukai olahraga ekstrim ini. Keponakannya sering kali bercerita bagaimana circle pertemanan mereka. Dan sudah sering mendengar cerita- cerita para pria mengagumi kelompok gadis yang tidak tersentuh kaum laki-laki, karena selalu bersama para saudara laki-laki mereka jika tidak di dampingi bodyguard.
" Ada penyusup "
" Dugaan sementara ini, masih berhubungan dengan keluarga Morris, Dad " sahut Kenzie
Kenzie mengetahui hal ini, setelah Kim memberitahukan informasi yang dia dapatkan dari Mr P. Dimana tim kru Zhafira telah berhasil diamankan. Dan ternyata beberapa orang yang menjadi kru Zhafira telah dihabisi nyawanya dan digantikan oleh penyusup.
" Lalu " tanya Ibrahim
" Tenang saja, uncle"
" Uncle Edward sudah mengirim orang-orang itu ke tempat yang aman " sahut Inez yang masih berada di sini bersama sang suami
" Hanya adik sepupu aku saja yang menjadi incaran musuh uncle Edward. Untuk itu saya mewakili keluarga besar Morris, memohon maaf atas apa yang menimpa Zhaza " ucap Aditya yang langsung berdiri, begitu pula dengan Inez kemudian mereka berdua menundukkan kepalanya pertanda mereka bersungguh-sungguh meminta maaf atas apa yang telah dialami oleh Zhafira
" Sudah "
" Tidak apa-apa yang terpenting Zhaza tidak mengalami cidera yang serius, jika tidak Paman yang akan turun langsung menghadapi orang itu " ucap Azzam yang membuat Ibrahim dan Adhitama memutar bola mata mereka. Karena maksud Azzam yang turun langsung menghadapi orang itu, hal yang paling kejam Azzam lakukan hanya mengeluarkan kalimat dengan nada tinggi, itu saja. Atau paling kencang memberikan nasihat pada musuhnya, itulah mengapa Ibrahim dan Adhitama tidak bisa bersikap arogan di hadapan Azzam. Karena Azzam tidak suka orang-orang yang memiliki sikap itu. Demi citra keluarga yang baik, mau tidak mau Ibrahim menahan diri di hadapan orang yang selalu berhati malaikat ini.
Sedangkan Aisyah, si adik berhati malaikat ini, segera berdiri dan merengkuh tubuh Inez sembari menggelengkan kepalanya. Hm, ini juga yang Adhitama tidak disukai dari anak keturunan Lesham, luas sekali hati mereka kecuali jika sudah sangat, sangat keterlaluan. Maka Aisyah tidak mampu menahan sakitnya, dia memilih menjauhi orang-orang yang menyakiti hatinya.
" Iya "
" Jangan khawatir, bang "
" Enam keluarga besar sudah mulai bergerak untuk menghabisi keluarga besar itu "
" Saat ini, mereka pasti sedang lari tunggang langgang menyelamatkan diri " ucap Ibrahim
" Lima ? " Ucap Azzam tidak percaya
" Iya, benar Paman "
" Uncle Edward, uncle Clarke, uncle Michael, uncle Kenneth, papa Arthur dan papi aku, bahkan uncle.... " ucap Aditya menatap ke arah Ibrahim yang tanpa disebutkan mereka tahu maksud dari Aditya
" Kakek pun turut ikut dalam aliansi keluarga itu. Karena Zhaza yang menjadi korban atas insiden ini " ucap Adhitama dengan sangat pelan karena takut Azzam tahu, Adhitama sangat paham sikap Azzam yang lebih memilih mengalah dan menyerahkan segala urusan dengan jalan yang benar yaitu menyerahkan permasalahan ini pada pihak berwajib dan tuhan sebagai hakimnya, yang bertolak belakang dengan pilihan keluarga Bhalendra yang selalu membabat habis musuh tanpa ampun, sama seperti keluarga lainnya termasuk keluarga Abrisham.
" Sudahlah "
" Jangan berlebih-lebihan bertindak. Hukum saja oknumnya, dan jangan main hakim sendiri "
" Kasihan anak keturunan yang tidak berdosa, dan tidak bersalah atas perbuatan salah satu oknum keluarga itu. Jangan pukul rata setiap orang walaupun terlahir dari satu keturunan yang sama. Karena setiap orang pasti berbeda, doakan saja agar oknum itu insyaf akan dosanya, dan memperbaiki kesalahannya " ucap Azzam yang terdengar bijak, namun semua orang terdiam karena tidak satu frekuensi dengan penuturan Azzam yang selalu " baik hati "
Tapi inilah yang menjadi alasan mengapa anak keturunan Lesham menjadi incaran dari keluarga besar lainnya. Sisi kemanusiaan dan ibadahnya mereka sangat kental dan kuat, oleh karena itu Ibrahim tidak akan pernah melepaskan Zhafira sebagai kandidat terkuat calon menantu di keluarga Abrisham.
" Tuh kan " gumam Adhitama dalam batinnya, karena Azzam selalu seperti ini, tidak akan pernah bisa sekeras batu. Buktinya saja, dia. Dia yang begitu melukai adik kandung Azzam, Adhitama masih saja mendapatkan pengampunan.
" Allah saja maha pengampun lagi maha bijaksana, masa aku yang bukan siapa-siapa ini tidak mau memaafkan kamu yang sudah bertaubat " ucap Azzam kala itu. Padahal kesalahan Adhitama sangat lah fatal, akan tetapi Azzam masih memberikan Adhitama kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga nya, hanya saja Aisyah yang sudah tidak sudi menerima Adhitama hadir sebagai suaminya. Oleh karena itu, drama itu Adhitama ciptakan, agar dia dan Aisyah tetap terikat tanpa melukai Aisyah.
" Baiklah, aku tidak akan memberikan hukuman pada keluarga itu. Akan tetapi aku tidak bisa menjamin keluarga lain akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan, bang " ucap Ibrahim, seakan-akan dirinya berhati putih bersih, yang pastinya ingin terlihat baik di hadapan Azzam, agar Azzam memberikan penilaian yang baik padanya dan keluarganya. Padahal Ibrahim sama sekali tidak kasih kendor hukuman untuk keluarga yang berhasil mencelakai Zhafira walaupun niat awalnya mencelakai Cleo
Waktu terus berputar, tidak ada satupun orang yang mau beranjak dari tempat duduknya. Menantikan Zhafira terbangun dari tidurnya, termasuk Adhitama
" Tama " ucap Azzam dengan lembut
" Lebih baik, kalian berdua pulanglah terlebih dahulu. Aku tahu, kamu merindukan Zhaza. Akan tetapi kondisi saat ini tidak kondusif, Zhizi tidak akan suka melihat kamu " ucap Azzam berhati-hati sekali, takut adik iparnya akan tersinggung. Azzam tahu, sangat tahu jika Adhitama ingin sekali berjumpa dengan anak gadis kesayangannya, akan tetapi ada hati yang harus dia jaga juga disini.
" Keluarga Lesham yang lainnya juga akan segera datang.
" Hm, alangkah baiknya kamu pulang lah terlebih dahulu bersama Aisyah. Menurut penglihatan Abang ,Aisyah terlihat sudah terlihat kelelahan "
" Bukankah besok pagi kalian bisa mampir ke sini lagi " ucap Azzam yang lagi-lagi masih berhati-hati, berharap kalimat yang diucapkan olehnya tidak menyakiti hati dan perasaannya Adhitama
" Dan alangkah baiknya kita melakukan pertemuan keluarga lagi di lain kesempatan. Namun, jangan sekarang. Belum waktunya "
" Kita cari waktu yang tepat, Abang akan menasehati Zhizi. Mungkin Zhizi akan sedikit melunak, tapi "
" Bukan saat ini " ucap Azzam lagi dengan hati-hati
Aisyah menggenggam telapak tangan suaminya yang mendadak dingin. Penolakan Zhidan membuat jiwanya terguncang. Adhitama tahu jika di masa lalu dia bersalah. Namun, apakah tidak ada kata maaf, bila dirinya sudah mengakui kesalahannya, berniat bertaubat, dan memperbaiki kesalahannya.
" Zhizi sulit mengerti, bukan berarti dia tidak bisa mengerti. Aku akan berbicara dengan Zhizi dan juga akan mengajak Zhaza untuk membujuk adiknya. Bukankah Zhizi memiliki sisi sifat kamu yang pendendam, tidak seperti Zhayn dan Zhaza " ungkap Azzam yang langsung membuat Adhitama bungkam.
" Abang " ucap Adhitama dengan lirih
" Iya "
" Tenang saja, kamu bisa datang kesini kapan pun. Asal jangan menampakkan wajah kamu di hadapan Zhizi terlebih dahulu, sebelum kami menasehatinya. Takutnya dia akan " ucap Azzam yang menggantung, tapi Adhitama tahu maksud Azzam
Dengan sangat berat hati, Adhitama pamit untuk pulang bersama Aisyah. Bagaimana pun kondisinya Zhidan tetaplah putranya, penolakan Zhidan itu wajar, kedatangan Adhitama sangat tiba-tiba mengejutkan jiwanya. Adhitama paham itu, walaupun sangat terluka ketika apa yang dia sangka terbukti nyata. Tapi sudahlah, Azzam sudah mengatakan jika Azzam akan membantunya, yang terpenting saat ini, fokusnya adalah Aisyah bagaimana caranya agar Aisyah membuka pintu hatinya selebar- lebarnya seperti dahulu kala pertama mereka menjadi pasangan suami istri. Adhitama harus bisa menunjukkan keseriusan dirinya dalam memperbaiki pernikahan mereka yang sempat retak diguncang badai prahara rumah tangga. Adhitama merasa sangat bersyukur ketika Azzam sudi untuk menikahkan kembali dia dan adiknya, walaupun proses ijab kabul itu tanpa disaksikan oleh saudara Aisyah yang lainnya, dan anak-anak mereka berdua Zhafira dan Zhidan. Dominan keluarga Bhalendra dan
Sangat menyakitkan, ketika seorang ayah ditolak kehadirannya oleh seorang anak, meskipun itu terjadi akibat dosa masa lalunya. Adhitama menangis di pelukan sang istri ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Aisyah tidak bisa apa-apa. Toh, Zhidan sepertinya akan ikut membenci Aisyah jika Zhidan mengetahui jika Aisyah sudah menikah kembali dengan Adhitama.
Namun, Aisyah yakin, jika Zhafira akan bersikap bijak atas keputusan yang diambil oleh Aisyah, toh memang dia masih istri sah Adhitama. Hanya Aisyah saja yang meninggalkan Adhitama, menuntut cerai yang pada kenyataannya tidak seperti itu. Aisyah juga sebenarnya sudah memaafkan Adhitama ketika Adhitama memberikan bukti- bukti jika semua itu adalah kebohongan ibu mertua dan perempuan itu saja, yang membuat Aisyah memilih untuk pergi dari kehidupan Adhitama.
Soal kematian Zhayn, itu murni kecelakaan yang disengaja perempuan itu, karena Adhitama sudah membuat kehidupan keluarga besar perempuan itu hancur. Sebagai bentuk balas dendam keluarga perempuan itu membuat Zhayn dan Zhafira kecelakaan yang membuat Zhayn harus meninggal dunia.
Bahkan Aisyah telah datang menjenguk ibu mertuanya. Dimana ibu mertuanya bersimpuh di bawah kaki Aisyah meminta ampunan atas kekhilafan dan kesalahannya di masa lalu, sungguh dia telah menyesali dan bertaubat atas dosa-dosa nya. Malika bahkan selalu mengunjungi makan Zhayn, cucu pertamanya itu. Dan Aisyah tahu, karena bunga yang dibawa oleh Malika selalu ada, di makam sang putra setiap kali dia pergi berkunjung ke rumah abadi nya Zhayn.
Ibrahim dan Amanda serta Kenzie segera pergi dari rumah sakit tidak berselang lama dari kepergian Adhitama dan istrinya. Karena bagi mereka yang berkutat di dunia bisnis, tentu saja masih banyak hal yang harus mereka lakukan.
*
*
*
*
*
πΊπΊ