
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Aisyah meninggalkan Adhitama menuju ke arah kamar mandi. Aisyah kembali menelan satu pil obat lagi, yang jika Aisyah masih tidak bisa tertidur, dokter meminta Aisyah untuk menelan pil tambahan ini satu tablet saja. Tidak berselang lama Aisyah segera tidur kembali setelah menunaikan ibadah sunah malamnya.
Adhitama membiarkan Aisyah ibadah sendiri, walaupun sebenarnya mereka bisa saja dengan makmum'an. Adhitama tahu jika Aisyah masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan status mereka saat ini. Namun, Adhitama tidak membiarkan Aisyah menjauhinya di atas ranjang. Adhitama tidak membiarkan ada jarak diantara mereka. Aisyah yang sudah menelan obatnya secara perlahan-lahan mulai tertidur.
Asisten kepercayaannya Adhitama menanti kedatangan Adhitama di depan ruangan kerja dimana Adhitama yang sudah biasa terjaga sebelum jam lima pagi.
" Katakanlah " ucap Adhitama menghembuskan nafasnya secara perlahan-lahan untuk menguatkan dirinya jika apa yang dia pikirkan tidak seburuk itu. Namun siapa sangka jika asisten kepercayaannya mengatakan fakta yang membuat jiwanya terguncang. Adhitama terjatuh dari posisinya ketika mendengar kenyataan bahwa istri tercintanya membutuhkan tindakan medis terkait fisik dan jiwanya.
Adhitama meraung-raung di dinginnya lantai membuat asisten kepercayaannya pun tidak mampu menahan tangisannya
" Bagaimana ini "
" Oh Tuhan "
" Hukum saja hamba. Hamba lah yang bersalah, hamba lah pendosa " ucap Adhitama yang membuat asisten kepercayaan Adhitama yang mendengar ucapan Adhitama terasa teriris hatinya. Dia bahkan berjanji dalam batinnya untuk tidak menyakiti hati istrinya kelak. Karena melihat bagaimana tuannya tersiksa karena telah menyia-nyiakan keluarga kecilnya di masa lampau akibat perbuatannya sendiri
" Tuan "
" Saya sudah mempersiapkan semua nya "
" Jika pun nyonya membutuhkan cangkok organ jantung, maka aku sudah mencari donornya "
" Aku tidak berjanji namun aku akan berkerja keras untuk mendapatkan donornya secepat mungkin sebelum terjadi apa-apa pada nyonya " ucap Dito
" Pantas saja, dia sibuk mencarikan Zhaza suami "
" Ternyata inilah alasan yang sebenarnya " ucap Adhitama dengan lemah
" Apa kita akan memberitahukan ini pada tuan Azzam, tuan " ucap Dito
" Jangan "
" Biarkan Abang mengetahui hal tersebut dengan sendirinya, karena istriku tidak suka jika aku mengatakan hal yang sudah dia sembunyikan selama ini "
" Aku tidak ingin sampai membuat dia merasa tidak nyaman di sisiku " ucap Adhitama
" Namun berikan abangku akses, beberapa clue yang membuat dia menemukan sendiri kenyataannya "
" Dengan begitu, istriku tidak akan menyalahkan aku atas apa yang diketahui oleh keluarganya sendiri " ucap Adhitama lagi yang membuat Dito menganggukan kepala lalu meninggalkan Adhitama yang terdiam di posisinya
Adhitama di dera rasa bersalah yang sangat besar. Ingin rasanya dia berandai-andai, mengemukakan lara hatinya dengan kalimat berandai-andai. Namun di dalam agama yang dia yakini tidaklah baik dengan selalu berandai-andai. Karena apa yang sudah terjadi merupakan hal yang sudah sepatutnya terjadi, ambil hikmah dari setiap apa yang kita lalui baik itu baik buruknya karena ada pesan cinta kasih Allah SWT disana.
Adhitama bermunajat kepada pemilik alam semesta, meminta belas kasih atas apa yang menimpa istrinya, meminta pertolongan atas apa yang menimpa keluarganya. Akankah berakhir ujian-ujian ini, allahualam bisawwab.
Terkadang inilah kerugian dari mengkonsumsi obat-obatan. Aisyah yang terlelap tidur efek dari meminum obat membuatnya terlambat bangun sehingga waktu subuhnya hampir saja terlambat. Walaupun seperti itu Aisyah masih bisa mengerjakannya. Setelah Aisyah menyelesaikan ibadahnya Aisyah masih merasa lemas, matanya enggan terbuka, walaupun isi kepalanya sudah mulai memintanya untuk melakukan aktifitas yang biasa dia kerjakan kala pagi hari menyapanya
Adhitama membopong tubuh istrinya untuk kembali ke atas kasur. Namun Aisyah berkata tidak dengan mata yang masih terpejam membuat Adhitama tersenyum.
Kembali di saat anak-anak Aisyah yang mendapatkan telepon di malam hari setelah Azzam menanyakan posisi mereka saat ini. Zhafira menjawab jika mereka semua berada di rumah Aisyah dimana mereka sedang melakukan party ala - ala. Mereka melakukan nobar, karaoke bareng, bahkan main games sepuasnya tanpa peduli besok akan beraktivitas. Bukan tidak peduli, hanya saja saat ini memasuki libur sekolah bagi anak-anaknya Azzam, Ammar, dan lainnya. Sehingga mereka merengek-rengek untuk diperbolehkan ikutan party ala-ala yang hanya berisikan pemuda pemudi saja tanpa orang tua.
Azzam berpesan jika mereka boleh berpesta, asalkan jangan membuat kegaduhan yang akan menganggu tetangga, mereka juga diharuskan untuk wajib menunaikan ibadah wajib, dan mereka harus bisa menjaga diri walaupun mereka masih dalam hubungan sepupu, tidak boleh melewati batas laki-laki dengan perempuan yang sepatutnya. Maka dari itu, di dalam rumah Aisyah sedang seperti pada kubu masing-masing, dengan circle pembicaraan yang berbeda-beda sesuai minat dan kesukaan masing-masing orang.
Menu makanan tidak akan sulit mereka cari, toh bahan makanan di dalam tempat persediaan di kitchen set lengkap, mau makanan tinggal pesan online , semudah dan segampang itu bukan. Walaupun di dalam rumah Aisyah diisi dengan banyak orang, namun semua orang tahu diri, sehingga rumah Aisyah tetap terjaga kebersihan dan kerapian. Bahkan setelah mereka selesai mengunakan area dapur, mereka segera membereskan kembali seperti sedia kala.
Zhafira yang tidak cukup baik kondisi tubuh nya tertidur dengan pulas di dalam dekapan Zhidan yang masih memegang stik game nya. Suara teriakkan yang nyaring tidak membuat Zhafira terbangun.
Namun Maxwell mengingatkan Zhidan jika bawalah Zhafira segera ke dalam kamar nya, karena terlalu kasihan melihat Zhafira yang nanti tidak merasa nyaman dalam tidurnya.
Namun Zhidan tidak peduli dengan ucapan kakak angkat nya, karena nanti Zhidan akan merindukan momen ini. Zhidan menambahkan kecupan - kecupan di puncak kepala Zhafira
" Kasihan " ucap Tsani dan Tsania secara bersamaan menggoda Maxwell yang dicuekin oleh Zhidan , anak kembarnya Abbas Lesham, Paman Zhafira yang tidak datang di pertemuan dikarenakan sedang sakit.
Maxwell hanya merenggut kesal dengan tingkah Zhidan yang membuatnya cemburu. Bukankah dia juga ingin selalu berada di dekat Zhafira. Padahal orang yang mereka perebutan saat ini tidak ada manis-manisnya, tidak ada cantik-cantiknya. Bahkan air liur Zhafira hampir menetes di baju Zhidan, tidak diperdulikan oleh Zhidan, dia asyik saja bermain game dengan mendekap tubuh kakak kesayangannya.
Ah kesalnya aku, gumam Maxwell yang tidak pernah berhenti melirik Zhidan dengan tajam. Rasyid yang melihat tingkah kekanak-kanakan mereka berdua hanya menggelengkan kepala sembari mengatakan childish dengan senyuman mengejek keduanya.
Sudahlah daripada memperhatikan kedua orang yang tidak pernah bisa akur ini, apalagi dengan karakter yang hampir sama Rasyid memilih untuk bergabung dengan sepupu- sepupu Zhafira lainnya. Hari berganti, dimana pagi hari ini Azzam memberitahukan kepada Zhafira jika sang ibu sedang menginap di rumah temannya. Zhafira yang masih belum berani berbicara banyak dengan ibunya, hanya mengirimkan pesan kepada ibunya yang dibalas Aisyah jika untuk beberapa hari Aisyah akan menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Banyak pesan yang disampaikan oleh Aisyah melalui pesan singkat pada salah satu aplikasi.
Hingga tiba hari dimana para sahabatnya berkumpul di negara tempat Zhafira dilahirkan. Di dalam group salah satu aplikasi mereka menentukan tempat mereka akan melakukan pertemuan. Untuk Rasyid dan Maxwell sedang berkumpul dengan para sahabat mereka selama mereka berada di negara ini. Dan sesekali mereka mengisi waktu liburan mereka dengan melakukan pertemuan bisnis dengan beberapa kolega di negara ini, sehingga untuk hari ini mereka melakukan kegiatan masing-masing setelah menyelesaikan sarapan pagi bersama.
Waktu pertemuan mereka ditetapkan setelah atau ba'da ashar, karena Zhafira ingin menuntaskan ibadah wajibnya terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan apapun itu. Dan mengatakan akan sampai di tempat setelah di jemput oleh Zhidan. Entah kenapa Zhidan mengatakan jika dirinya akan mengantarkan Zhafira menuju ke tempat pertemuan.
Sembari menunggu kedatangan Zhidan, Zhafira sibuk memeriksa kondisi rumah sebelum dia meninggalkan rumah. Di mulai dari mengunci pintu-pintu, memeriksa jendela-jendela apakah sudah terkunci dengan baik ,memeriksa keran air sudah di matikan dengan baik, memastikan aliran listrik aman bila nanti ditinggalkan dalam waktu cukup lama. Zhafira juga mematikan saklar lampu yang tidak digunakan, dan terakhir memastikan tidak ada kebocoran gas yang sangat berbahaya jika itu sampai terjadi.
Suara motor sport khas milik Zhidan terdengar, apalagi klakson yang dibunyikan agar Zhafira segera membuka pintu utama rumah. Zhidan meminta Zhafira memberikan dirinya waktu untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
Memang menyebalkan sekali adiknya ini. Bukankah Zhafira bisa berangkat sejak tadi dengan memesan kendaraan lewat aplikasi online yang bisa mengantarkan Zhafira menuju ke titik lokasi pertemuan dengan para sahabatnya. Dan ini, Zhafira harus menunggu waktu lagi untuk Zhidan menyelesaikan mandinya.
Zhidan tidak perduli dengan wajah sang kakak yang sudah tidak sedap di pandang mata, dia asyik dengan dunianya, menyelesaikan mandi dan memastikan kembali tampilan setelan pakaian yang dia pakai sore hari ini, karena dia akan melakukan pertemuan juga dengan beberapa sahabat yang bergulat dalam dunia bisnis, berbagi informasi dan ilmu dalam karier dan lainnya.
" ayo " ucap Zhidan dengan lembut sembari mengecup puncak kepala Zhafira yang saat ini duduk di kursi pijat yang membuat Zhafira cukup rileks, daripada dia marah-marah yang membuat mood nya buruk, lebih baik dia membuat nyaman dirinya sendiri.
Setelah memastikan rumah Aisyah sudah dalam keadaan terkunci sempurna, dan semua sudah di cek keamanannya. Zhidan lekas menaiki motor sport warna navy pekat mengkilap yang terlihat sekali gagah dan maskulin nya. Zhidan membantu Zhafira untuk naik ke atas motor miliknya dengan memegangi tangan Zhafira, lalu Zhidan memasang helm sport untuk sang kakak hingga terpasang sempurna. Kemudian Zhidan melajukan motornya ke arah jalan yang menjadi tujuan Zhafira melakukan pertemuan.
Bunyi khas suara knalpot motor sport Zhidan melibas jalanan ibukota dan berhenti di salah satu cafe mewah yang Instagramable dan tentu saja terasa cozy dan warm begitu mulai memasuki area cafe.
" hati - hati " ucap Zhidan sebelum melepaskan sang kakak masuk ke dalam cafe. Zhidan membantu sang kakak melepaskan helm, dan merapikan hijab yang membungkus puncak kepala Zhafira agar Zhafira tampil rapi.
" Iya " sahut Zhafira singkat
" Beri Zhizi kabar jika sudah akan selesai " ucap Zhidan yang terlihat seolah-olah memeluk tubuh Zhafira yang membuat Kenzie memalingkan wajahnya. Sungguh dia tidak suka jika ada pria yang terlalu dekat dengan Zhafira bahkan jika itu saudara kandung Zhafira sendiri.
Entah kenapa dia bersikap seperti ini, bukankah dia hanya ingin menaklukkan Zhafira saja, akan tetapi semakin hari perasaan Kenzie semakin lama semakin besar. Dia mengasumsikan perasaannya hanyalah sekedar obsesinya semata, toh selesai semua permainan maka dia adalah pemenang dari taruhan yang masih berjalan sampai dia mendapatkan apa yang diinginkan oleh dirinya.
" Ingat ! " Ucap Zhidan memperingati Zhafira yang membuat Zhafira bersikap sempurna memberikan penghormatan kepada Zhidan. Adiknya ini sungguh cerewet sekali. Bukankah Zhafira hanya akan berkumpul dengan para sahabatnya di malam Sabtu ini.
Sebelum sampai di cafe tempat pertemuan, beberapa kali motor sport yang dikendarai oleh Zhidan berhenti di lampu merah. Yang ternyata di saat Zhafira memeluk tubuh atletis sang adik, Zhidan menautkan jemarinya dengan jemari sang kakak, sesekali memberikan elusan di lengan bagian bawah Zhafira, menyentuh paha sang kakak, yang terlihat seperti sepasang kekasih halal atau pasangan halal yang menikah di usia muda apalagi melihat penampilan Zhafira yang mengenakan pakaian yang tertutup baik, dan yang pastinya tidak mungkin ketat.
Zhidan sudah merasa jika ada orang lain yang mengikuti mereka sejak mereka keluar dari rumah Aisyah, itulah yang membuat Zhidan berucap kata " hati-hati "
Pada Zhafira setelah berhasil mengantarkan Zhafira dengan selamat di cafe tempat pertemuan Zhafira dengan para sahabatnya.
Zhafira masih berdiri mematung di area parkir cafe sembari melambaikan tangan pada sang adik, yang dibalas Zhidan dengan satu kali anggukan kepala dan membunyikan klakson pertanda dia akan meninggalkan Zhafira di sana.
Ah, senangnya Zhafira terbebas dari adiknya untuk beberapa jam ke depan. Namun itu hanya terlepas dari Zhidan saja, karena di sini dia akan terjerat pada sikap Anggie yang sama saja seperti Zhidan dalam soal over protective.
" Hai " ucap Zhafira tersenyum menatap beberapa gadis di depannya sembari melambaikan tangannya
" nggak usah banyak basa-basi Lo "
" kebiasaan banget "
" telat " ucap Cleo dengan kalimat sarkas, yang tidak pernah ada manis-manisnya. Namun, Zhafira tidak memperdulikannya begitu pula dengan yang lainnya karena Zhafira dan sahabat lainnya sudah terbiasa mendengarkan Cleo yang selalu mengucapkan kalimat - kalimat sarkas, sehingga mereka sudah terlalu kebal akan hal itu. Namun itu hanya di bibirnya saja sebab pada kenyataannya Cleo sangat peduli dan sayang pada semua anggota kelompok yang sudah terbentuk sejak putih abu-abu
" maafkan aku yah, girls " ucap Zhafira tanpa menghiraukan ucapan Cleo, malahan Zhafira mendekati Cleo dan memeluk tubuh Cleo yang tentu saja langsung di sambut oleh Cleo tanpa mengubah mimik wajah menjadi manis, karena itu tidak mungkin, dan jarang terjadi.
" not bad " ucap Cleo lagi sembari menatap jam tangannya
" Hug me, please " pinta Fauziah mendekati Cleo dan Zhafira
" assalamualaikum "
" ustazah " ucap Zhafira Zhafira yang sudah merentangkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Fauzia setelah selesai dengan Cleo
" waalaikumsalam"
" anak soleha nya bunda Aisyah " sahut Fauziah
" Wah "
" Lumayan lah hari ini keterlambatan kamu tidak seperti yang dulu "
" Sekarang malah Inez dan Lily yang jam karet nya luar binasa " ucap Fauziah
" luar biasa , Zia " ucap Cleo melirik malas ke arah Fauzia yang hanya mendapatkan cengiran dari Fauziah
" alah "
" cuman salah dikit je " ucap Fauziah membela diri
" sedikit kamu itu sudah beda arti, Maimunah " sahut Cleo
" Zha " Anggie memberikan kode kepada Zhafira agar berada di sisinya tanpa memperdulikan keributan yang terjadi diantara Fauziah dengan Cleo. Namun dengan cepat Cleo merespon ketika Anggie memberikan kode kepada Zhafira dengan memberikan kode juga kepada Zhafira untuk berada di sisinya saja. Zhafira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sedangkan Fauziah hanya menepuk dahinya. Perkara posisi duduk saja bisa menjadi masalah bagi Anggie dan Cleo padahal mereka baru saja bertemu.
*
*
*
*
*
*
*
πΊπΊ