My Darling

My Darling
69



🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Anggie memerintahkan dua orang bodyguard dan Abhi untuk membawa tubuh Zhidan untuk pergi dari rumah sakit. Dikarenakan tubuhnya Zhidan besar, dan kokoh membuat mereka harus meminjam brangkar atau tempat tidur pasien.


" Tenang saja, bunda "


" Aku akan melepaskan totok setelah Zhizi berada di tempat yang tepat " ucap Anggie sebelum dia meninggalkan sepasang suami-isteri ini.


Aisyah mendesah pasrah ketika melihat lebam yang ada di wajah tampan Adhitama


" Aku tidak apa-apa. Aku memang layak mendapatkan ini. Bahkan lebih dari ini pun tidak apa-apa. Ini tidak sebanding dengan apa yang telah aku perbuat pada kalian " ucap Adhitama yang menatap dalam manik mata Aisyah. Dan dapat Aisyah rasakan penyesalan yang dalam yang tersirat.


" Sudahlah, kemari. Aku akan mengobati luka kamu, mas "


" Aku takut, Zhafira akan menanyakan luka disudut bibir kamu. Zhafira sangat sensitif hatinya ketika melihat orang yang dia sayangi terluka. Bahkan jika itu kamu sekalipun dia kecewa padamu " ucap Aisyah yang sudah berjalan ke arah kotak P3K yang sudah diberikan perawat atas permintaan Anggie setelah meninggalkan mereka.


" Aku takut, Honey " ucap Adhitama dengan lirih membuat Aisyah menghentikan gerakannya


" Berhentilah menyapa aku dengan honey "


" Sangat memuakkan, aku tidak sudi lagi kamu sapa dengan sapaan yang sama kamu berikan pada Dia " ucap Aisyah dengan kesal. Sungguh Aisyah belum seratus persen menerima Adhitama walaupun dia menerima pernikahan keduanya ini dengan suami yang sama.


" Aku tidak pernah mengatakan Honey pada Dia, Honey " ucap Adhitama dengan memelas


" Terserah, aku tidak peduli "


" Kamu selalu saja seenak udel kamu saja , aku sudah terlalu malas menanggapi kamu. Dan perlu aku pertegas jika aku bukanlah Zhaza yang dengan mudah melupakan perbuatan orang lain setelah dia mengucapkan kata maaf "


" Kenangan itu masih sangat, sangat membekas di sini " ucap Aisyah yang sudah selesai membersihkan luka Adhitama sembari menunjuk ke arah bagian dadanya


" Aku mengerti. Untuk itulah aku akan terus berjuang, tolong berikan aku kesempatan untuk itu " ucap Adhitama setelah berhasil menghentikan gerakan Aisyah yang akan beranjak dari posisi sebelumnya. Aisyah hanya menghardikan bahunya saja sebagai respon.


Anggie yang niat awalnya memberikan laporan hasil kerjasama dan berkas - berkas perjanjian kontrak kerjasama, serta berkas lainnya harus rela menundanya dikarenakan dia harus menanggani Zhidan yang seperti anak kecil sedang tantrum. Anggie sangat kesal dengan sikap Zhidan yang dinilai childish. Namun Anggie memahami mengapa Zhidan bisa bersikap seperti ini, ada latar belakang yang mendasari sikap Zhidan.


Setelah berhasil menenangkan Zhidan, dan memberikan Zhidan nasehat, Anggie segera menuju tempat pertemuan dengan kolega yang akan diajak perusahaan keluarganya untuk bekerja sama, Diana sang sekretaris Zhafira mau tidak mau harus ikut bersama Anggie untuk beberapa urusan yang melibatkan perusahaan Aisyah yang di bawah kekuasaan Zhafira sebagai pelaksana tugas mengantikan Presdir. Diana tidak sendiri, dia selalu di dampingi orang kepercayaan Zhafira yang selalu bisa menghandle pekerjaan Zhafira jika dalam kondisi seperti ini. Apalagi Zhidan belum bisa diharapkan seratus persen dalam tata kelola perusahaan. Karena Zhidan terkadang masih suka impulsif terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan cara kerjanya dia.


Zhafira terbangun dari tidurnya setelah merasakan kelaparan, yah wajar saja hari sudah menunjukkan pukul dua belas empat puluh delapan, dimana dia melewatkan sedikit jam makan siangnya


" Ah, aku tertidur terlalu lama "


" Maafkan aku, bunda " ucap Zhafira yang merasa tidak enak karena tertidur, Zhafira bahkan lupa jika dirinya sempat pingsan dan ada tragedi sebelum nya. Karena begitulah cara kerja hipnoterapi yang pernah Zhafira jalani, yang terkadang tanpa sadar masih Zhafira gunakan untuk menekan ingatan yang tidak diinginkan oleh dirinya untuk muncul kembali sebagai memori yang tersimpan dalam


Ingatannya.


Zhafira nampak santai, dan terkesan manja, ketika sang ibu masih setia menemani dirinya, sampai dimana sang ayah masuk ke dalam ruangan dengan membawa cukup banyak makanan untuk mereka santap makan siang ini.


Zhafira yang memang awalnya shock, dan menganggap sebelumnya hanya sekedar mimpi dan mencoba melupakannya, semakin lama semakin jelas jika ayahnya benar-benar hadir, ada, dan nyata di dalam ruangan tempat Zhafira di rawat.


Adhitama nampak salah tingkah, bagaimana menjelaskan bahwa dia merindukan Zhafira. Apalagi respon Zhafira lumayan lebih baik daripada Zhidan yang secara terang-terangan tidak menyukai Adhitama. Dengan bungkahan rasa tersimpan di sanubarinya, membuat Adhitama sedetik pun tidak mengalihkan pandangannya pada buah hatinya ini, dagunya bergetar menahan Isak tangis yang tertahan. Dia lupa seyogianya jika dia adalah seorang pria, pantang untuk bersikap melankolis seperti ini, namun dia tetap manusia yang memiliki sisi ini


Zhafira pun sama menatap pria pertama yang dia cintai selain sang Abang dan adiknya. Mereka saling tatap dengan air mata yang mengalir deras tanpa mereka sadari. Tatapan penuh kerinduan membuat Aisyah pun sesegukan, suasana mengharu biru.


" Maafkan ayah, Zha " ucapan pertama kali yang Adhitama ucapkan dengan susah payah, dan di sambut Zhafira menggelengkan kepalanya. Mereka saling berpelukan mengeluarkan rasa rindu yang mendalam. Berkali-kali Adhitama masih menggumamkan kalimat permintaan maaf, dan berkali-kali pula Zhafira menganggukkan kepalanya sebagai jawaban jika dia baik- baik saja.


Sebenci- bencinya, sekesal- kesalnya, kecewa,dan sedih, tidak dapat menutupi rasa cinta dan sayang pada cinta pertamanya ini. Zhafira terlalu menyayangi sang ayah, membuat Zhafira mengikhlaskan saja atas semua yang telah terjadi, toh semua itu adalah garis takdir yang harus mereka lampaui. Tidak akan ada Zhafira yang seperti ini, jika dia tidak di dukung kekuatan cinta dan semangat untuk terus bangkit dari keterpurukannya.


Lama terhanyut dalam situasi ini, membuat Aisyah tersenyum, walaupun setelah itu wajahnya kembali suram mengingat masih ada hati yang harus Adhitama taklukkan. Hati sang putra yang lebih keras dari batu karang. Ah, Aisyah tiba-tiba merasa sakit kepala mengingat putranya ini yang bahkan perlahan menatap Aisyah dengan tatapan kecewa di manik mata hazelnya.


Sampai dimana Kenzie tiba-tiba masuk melihat pemandangan yang cukup mengharukan baginya


" maafkan aku, datang di saat tidak tepat. Hm, aku belum melewatkan jam makan siang , kan ? " Tanya Kenzie dengan sopan


" Ah "


" Kami hampir saja melewatkannya, terimakasih telah mengingatkan hal ini, nak " ucap Aisyah dengan ramah


Adhitama langsung mengajak Zhafira untuk turun dari ranjang pasien menuju ke tempat makan yang berada di area depan kamar rawat inap, agar mereka bisa makan bersama saja, sehingga tidak perlu dibedakan tempat saat santap siang, toh Zhafira tidak mengalami apa- apa pada kakinya.


Zhafira terlihat santai saja, bukan berarti Zhafira tidak mengamati area sekitar tempat rawat inap dimana Zhafira merasa janggal pada sosok laki-laki, dan kenapa pula pria ini selalu saja datang di setiap harinya. Entah datang pagi hari setelah dia sarapan, entah makan malam, sekarang di saat makan siang. Apakah pria ini salah satu kerabat dari pihak ayahnya, berdasarkan analisa sesat Zhafira. Karena jika dari pihak sang ibu, Zhafira sudah sangat khatam sekali, siapa saja keluarga dari sebelah sang ibu.


Sedangkan dari pihak sang ayah, Zhafira kurang terlalu mengenal dikarenakan sejak kejadian itu memori ingatan Zhafira hilang dan sengaja dihilangkan. Menjadi ingatan yang saat ini selalu menjadi baru setiap harinya, dan Zhafira akan mengingat memori yang terbaru saja, atau hal yang dianggap penting saja bagi Zhafira. Itu salah satu metode melindungi diri Zhafira dari kejamnya serangan panik terhadap hal yang menyakitkan dan melukai perasaannya.


Adhitama memijat pelipisnya yang terasa tidak nyaman kehadiran pria yang mengklaim putrinya sebagai calon istrinya. Padahal Adhitama baru saja bisa berkomunikasi dan dekat dengan sang putrinya. Adhitama tidak bisa menerima jika nantinya dia terpisahkan kembali ketika Kenzie meletakkan Zhafira di sisinya. Bukankah Kenzie termasuk jenis pria yang over protective sama seperti Zhidan.


Tidak terbayangkan oleh Adhitama, bagaimana nantinya dia kesulitan untuk hanya sekedar bertemu dengan Zhafira. Adhitama harus segera menegaskan di awal ini, jika tidak. Maka Kenzie pasti bisa membuat dia uring-uringan ketika Kenzie menunjukkan sisi protective nya. Adhitama tidak mau hal itu terjadi.


"Gigih juga kamu, putra Ibrahim " ucap Adhitama dengan sarkas setelah mereka menyelesaikan makan siangnya


" Bukan gigih, ayah mertua "


" Aku mengkhawatirkan calon istri aku saja "


" Sangat wajar, kan " ucap Kenzie mencoba bersikap sopan, membuat Adhitama mendengus mendengar kalimat penuh percaya diri dari Kenzie.


Aisyah tidak ingin ada keributan, membuat Aisyah memberikan lirikan mata yang dimengerti oleh Adhitama, yang tentu saja membuat Adhitama harus mengalah untuk kali ini. Baiklah, Kenzie beruntung ada Aisyah sebagai penolong dirinya kali ini.


Makan siang yang seperti pada umumnya, bahkan Kenzie terkadang memberikan perhatian kecil seperti menyerahkan tisu ketika Zhafira berusaha mengapai karena letaknya sedikit jauh, mengisi air mineral Zhafira yang sudah berkurang setengahnya, dan perhatian kecil lainnya yang tidak luput dari pandangan Aisyah dan Adhitama. Jika Aisyah terlihat suka, tidak bagi Adhitama. Sedangkan Zhafira terlihat biasa saja, sama seperti abang- abang lainnya yang biasa dekat dengannya apalagi posisi duduk Kenzie berada di sampingnya, sangking Zhafira berfikir jika Kenzie adalah kerabat sang ayah. Jika dia tahu Kenzie bukan siapa-siapa bagi dirinya maupun sang ayah, sudah dipastikan Zhafira tidak akan mau duduk berdekatan seperti ini.


Bahkan Kenzie tanpa sungkan mandi, dan berganti pakaian di ruangan rawat inap Zhafira, mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda, seperti Adhitama, dan mereka duduk berseberangan dengan kegiatan yang hampir sama, sibuk dengan MacBook masing-masing, dengan ponsel tidak jauh dari posisi mereka.


Aisyah menyiapkan camilan sore untuk mereka nikmati setelah membantu Zhafira berganti pakaian. Tidak ada percakapan, yang terdengar hanya alunan murojaah yang Zhafira hafalkan untuk memuluskan mutkin surah yang telah dia hafalkan.


Alunan suara yang menenangkan, bahkan Aisyah ikut menyimak dengan membuka kitab suci demi menyamakan apa yang telah Zhafira lantunkan. Aisyah tidak terlalu fasih seperti sang Abang, yang bahkan tidak perlu membuka kitab suci, sudah tahu dimana letak tiap ayat-ayat dan surah, bahkan nomor surah pun Azzam sangat hafal.


Azan magrib berkumandang di smartphone Zhafira membuat Zhafira menghentikan kegiatannya, dan memperbaiki posisinya, bukankah sebentar lagi dia akan melaksanakan ibadah wajibnya. Untuk pertama kalinya setelah mereka lama berpisah Zhafira akan merasakan bagaimana sang ayah menjadi imam dalam sholatnya.


Setelah mereka menyelesaikan sholat, Anggie yang sudah datang membisikkan sesuatu pada Aisyah yang membuat Aisyah menganggukkan kepalanya dan mengajak sang suami untuk segera pergi. Karena Zhidan sebentar lagi akan tiba, Anggie hanya ingin jika memang permasalahan keluarga harus diselesaikan, harusnya di rumah saja tidak disini. Zhafira membutuhkan ketenangan, begitulah kurang lebih pemikiran Anggie yang disetujui oleh Aisyah.


Tidak perlu menunggu lama, Zhidan datang beriringan dengan para sahabatnya Zhafira yang lainnya. Sedangkan Kenzie tetap bertahan di ruang rawat inap Zhafira. Anggie sudah sangat gatal untuk mengusir pria ini, namun pria ini telah berjasa menyelamatkan Zhafira sehingga Anggie menelan kalimat sarkas yang sudah di ujung lidah.


Jika Anggie dilanda kesal tidak dengan para pengunjung yang datang untuk berobat, ataupun berkunjung anggota keluarga mereka yang juga dirawat inap di rumah sakit ini, bahkan beberapa petugas medis berdecak kagum pada para gadis cantik berjalan bak para model di catwalk dan para wanita tidak berhenti memuja wajah tampan Zhidan yang terkesan dingin yang juga beriringan dengan asisten pribadinya yang sama dinginnya dengan Zhidan.


Cleo tersenyum tipis ketika melihat Kenzie yang masih betah di ruangan rawat inap Zhafira. Begitu pula dengan Inez dan lainnya. Terlihat sekali jika Kenzie menyukai Zhafira.


" Dimana Aditya " tanya Kenzie setelah melihat istri dari salah satu kolega dan sahabat nya ini


" Oh, sebentar lagi sampai "


" Maklumlah, jalanan macet di jam pulang kerja. Lagipula jarak tempuh dari kantor Abang ke sini lumayan jauh " ucap Inez dengan ramah dan Kenzie hanya memberikan respon anggukan kepala saja.


Hingga makan malam tiba, semua berkumpul. Zhafira duduk di samping Zhidan, karena Zhidan tidak akan membiarkan Zhafira untuk bergabung dengan para pria lainnya yang sudah duduk dibawah, walaupun lebih tua darinya seperti Ali dan Yoyok dan bodyguard lainnya bawaan Kenzie karena Zhafira ingin semua orang makan bersama tidak ada yang makan duluan atau makan nanti. Hanya saja saat ini ada si over protective, sehingga Zhafira harus selalu bersama Zhidan. Yang pada akhirnya Zhidan mengalah, dan makan bersama Zhafira dengan duduk di sofa, bukan di lantai maupun di meja makan bersama sahabatnya Zhafira.


Setelah selesai makan, Zhidan mengajak Kenzie bercerita bersama pria lainnya tanpa sungkan. Andai saja Zhidan tahu maksud dan tujuan Kenzie. Maka sudah dipastikan sikap Zhidan tidak akan pernah sehangat ini. Itulah yang membuat Aditya tersenyum sendiri


" Hei, apa ada yang membuat kamu tersenyum sendiri seperti itu " tegur salah satu pria


" Ah , bukan apa-apa "


" Hanya saja, aku mengingat ketika bagaimana tikus itu memohon ampunan " ucap Aditya membuat Zhidan menundukkan kepalanya


" Maafkan aku "


" Aku tidak bisa memb* "


" Karena itu terlarang dalam agama yang aku anut, bang " ucap Zhidan dengan lirih


" Sudahlah "


" Mereka sudah diselesaikan "


" Hanya saja, aku masih tidak menyangka putri tuan Clarke "


" Walaupun aku tahu sepak terjangnya, tapi yah "


" Aku speachlees untuk dia "


" Berhati-hati lah dengan nya " ucap Aditya sembari memberikan sebuah kode yang membuat para pria bergidik ngeri.


" Betulkah " tanya salah satu pria


" Semoga saja kamu mempunyai kesempatan untuk melihat dia dalam mode on itu " ucap Aditya dengan serius membuat pria itu menggelengkan kepalanya


Jangankan untuk melihat Anggie dalam kondisi seperti itu, menatap wajah nya saja, beberapa pria lebih memilih menghindar, sangking savage aura yang terpancar.


" Bagaimana persiapan kamu ke * " tanya Aditya


" Setelah kakak pulang ke rumah, aku akan segera berangkat bersama Abhi " ucap Zhidan dengan sopan


" Semangat menuntut ilmu, jangan terlalu khawatir dengan kakak kamu. Banyak yang akan melindunginya " ucap Aditya


" Emang sih banyak yang melindungi kak Zhaza, bang "


" Tapi belum ada yang mampu melindungi kecerobohan dan kebodohan kak Zhaza " ucap Abhi membuat semua orang tertawa kecuali Zhidan yang sudah melotot menatap Abhi yang ikut tertawa


" Untuk itu, aku angkat tangan " ucap Aditya diselingi dengan suara tawa


" Bang Ali dan bang Yoyok, tolong Zhizi buat jagain kakak " ucap Zhidan penuh harap


" Yang perlu kamu omong'in tuh kak Zhaza dong , Zhi "


" Orang kakak tuh kadang suka ngeyel, keras kepala, suka' suka dia aja "


" Nih yah, aku kasih tahu kamu. Waktu itu dia bilang gini " Bhi, nggak usah nyusul ntar kakak aja yang ke tempat kamu " "


" Nunggu nih, kan ceritanya. Abisnya dia kan kalau udah maunya, udah ikutin aja daripada aku kesana kakak kesini, ujungnya nggak ketemu. Eh, tunggu punya tunggu nggak nongol - nongol "


" Tahunya kemana ? " Ucap Abhi yang membuat semua orang penasaran


" Dia ke * "


" Teriaknya kesasar, sampai sejauh itu. Eh, ternyata beberapa bulan kemudian orang yang dia tolong datang tuh nemuin papi, dengan bawa banyak banget hasil panennya "


" Orang itu cerita tuh , bagaimana kakak sampai bantuin tuh orang , dan aku dibuatnya nunggu sampai 3 jam lebih dan nggak jadi ketemu dengan kakak " ucap Abhi yang membuat Ali dan Yoyok tidak mampu menahan tawanya.


*


*


*


*


*


*


*


🌺🌺