
Nyonya Darwis selalu kagum dengan Zhafira, yang sekarang sudah menjadi bagian dari panti asuhan miliknya yang dikelola oleh anak angkatnya yang sejak bayi telah diberikan perhatian lebih oleh nyonya Darwis. Pada saat itu Tuan Darwis masih bersamanya, sehingga pria tersebut langsung diadopsi menjadi putra mereka, mengingat pria tersebut di masa kecilnya sangat menyayangi keluarga Darwis, sehingga secara hukum, anak kecil tersebut yang sekarang sudah dewasa secara otomatis menjadi putra Nyonya Darwis.
Pria tersebut memiliki nama Dennis, yang diberikan oleh Tuan Darwis kepadanya. Jika Zhafira memberikan kabar akan berkunjung ke panti, pasti ia akan menyempatkan waktunya untuk berdiam diri di rumah panti dan memutuskan untuk tidak bekerja. Lagipula ada dua orang yang menghandle usahanya.
Nyonya Darwis tersenyum sejak tadi ketika melihat tingkah laku Dennis yang tidak pernah memalingkan wajahnya dari Zhafira, sedangkan Anggie hanya mendengus dan menaikkan sebelah alisnya. Tanpa perlu ditanyakan lagi, sudah sangat jelas bahwa pria ini termasuk barisan fansboy Zhafira. Namun, Anggie merasa kasihan karena pria tampan ini akan termasuk dalam pengagum Zhafira yang tidak mendapat balasan cinta. Namun, pada dasarnya, ia sudah suka. Mau dijawab rasa cintanya akan sangat bersyukur, bila tidak, yah sudahlah. Cukup bila idolanya bisa berinteraksi dengannya saja, itu sudah lebih dari cukup.
"Zha."
"Perkenalkan, ini Nyonya Abrisham," ucap Nyonya Darwis, membuat Zhafira menyunggingkan senyuman di wajahnya sebelum Nyonya Darwis mempersilahkan Zhafira untuk duduk di sofa tamu.
Melihat Amanda tidak bergeming dari kekaguman, membuat pelayan yang mendampingi Amanda segera memberikan sentuhan dan berhasil membuat Amanda kembali tersadar.
"Salam kenal, Nyonya," ucap Zhafira mengulang kembali perkenalannya.
"Mommy."
"Sapa saja dengan Mommy," ucap Amanda dengan cepat yang membuat Zhafira agak melongo. Begitu juga dengan semua orang yang hadir di sana, mendengarkan kalimat yang membuat mereka terkejut, karena Amanda dengan karakter dirinya yang introvert, tiba-tiba bersikap welcome, tentu saja membuat Nyonya Darwis merasa bahwa Amanda terlihat tidak seperti biasanya.
"Mommy Manda," ulang Amanda kembali ucapannya. Dan Zhafira, walaupun merasa tidak nyaman, demi menjaga hati wanita paruh baya ini, mau tidak mau mengikuti permintaan Amanda.
"Iya."
"Mommy Manda," ucap Zhafira dengan penuh rasa hormat. Akan tetapi hal tersebut juga membuat senyuman di wajah tampan Dennis menghilang seketika, karena secara tersirat donatur tetap panti asuhan milik ibunya menargetkan Zhafira untuk menjadi menantu di keluarga kecilnya.
"Manda, perkenalkan ini Anggie dan ini Zhafira. Mereka juga donatur tetap di panti asuhan Mama," ucap Nyonya Darwis.
"Dan dua gadis ini, pasti rekan kalian juga, ya?"
"Mau menjadi donatur juga," ucap Nyonya Darwis menatap Eva dan Carolina secara bergantian.
"Iya, namun saya tidak bisa menyumbang ke panti sebesar Nona Anggie dan Nona Zhafira, Nyonya," ucap Eva dengan diplomatis.
"Oh. Tidak masalah. Asalkan ikhlas, itu sudah lebih dari cukup. Karena bayarannya akan ditunaikan oleh pemilik alam semesta," ucap Nyonya Darwis.
Sedangkan Carolina, yang baru saja bergabung di perusahaan, hanya menundukkan kepalanya saja. Dia memiliki perekonomian yang belum cukup baik dan tidak memiliki kelebihan seperti rekan lainnya, sehingga bingung mau menjawab apa atas pertanyaan yang bermakna permintaan.
"Teman-ku ini sudah memiliki tempat sedekahnya sendiri, Nyonya."
"Mungkin di lain kesempatan," ucap Zhafira sembari memberikan tepukan pelan pada punggung telapak tangannya Carolina.
Pembicaraan berlanjut, terkesan santai dan menyenangkan. Zhafira dan Anggie hanya sebentar bermanis sapa dengan Nyonya Darwis, karena setelah itu mereka langsung berinteraksi dengan para penghuni panti asuhan. Amanda yang awalnya hendak pulang, memutuskan untuk ikut masuk lagi ke dalam area panti asuhan yang berisikan penghuni panti yang memiliki usia beragam, dan pada hakekatnya, Amanda bersama Anggie dan Zhafira berkomunikasi serta berinteraksi dengan para penghuni panti di dalam area itu. Sedangkan Eva dan Carolina sibuk dan fokus dengan iPad-nya masing-masing, bekerja melalui online, menulikan pendengaran mereka demi menuntaskan pekerjaan.
"Kamu kenapa, Den?" ucap Nyonya Darwis tanpa melihat pria dewasa di sampingnya, dan tatapan mata mereka berdua tertuju pada Amanda yang sibuk berinteraksi dengan Zhafira bersama anak-anak penghuni panti yang masih berusia balita.
Suara tawa Zhafira membius mata pria dewasa ini, yang membuat Nyonya Darwis menggelengkan kepalanya saja.
"Ternyata seperti itu."
"Jangan terlalu memperdalam perasaan cinta."
"Atau kamu akan terbakar sendiri pada panasnya api cinta."
"Sakitnya luar biasa, bila cinta tidak berbalas," ucap Nyonya Darwis yang sudah menepuk punggung Dennis.
"Mama," ucap Dennis mengalihkan pandangannya ke arah Nyonya Darwis.
"Meminta lah kepada Allah SWT."
"Jika memang dia wanita pilihan hatimu,"
"Ibu mana yang tidak merestui jika pilihan hati anaknya sudah memilih perempuan terbaik seperti itu."
"Hanya saja, jika bukan jodohmu, nak,"
"Meminta lah kepada Allah SWT agar rasa cintamu juga terangkat."
"Karena di balik rasa cinta yang besar tersimpan juga rasa sakit yang amat dalam jika dia bukan jodohmu, nak."
"Mama tidak suka melihat kamu terluka karena cinta tidak berbalas," ucap Nyonya Darwis, menatap manik mata anaknya.
"Mama," ucap Dennis dengan lirih, dan Nyonya Darwis menarik anaknya masuk ke dalam pelukannya.
"Jika mama bisa memutar dunia, maka akan mama putarkan dunia ini untukmu."
"Jika Mama bisa membuat dia mencintaimu, maka Mama akan melakukan hal itu," ucap Nyonya Darwis. Dennis terdiam mendengarnya.
"Akan tetapi Mama tidak memiliki kemampuan itu, sehingga hati Mama terasa sakit setiap kali melihat kamu menatap dia dalam diam seperti ini," lanjutnya.
"Tidak perlu melakukan hal itu semua, Mama. Doakan saja anakmu ini agar bisa menjadikan nona istriku kelak. Saat ini aku sedang berusaha membuat diriku pantas untuk bersanding dengan nona," ucap Dennis dengan penuh keyakinan.
Apalagi, usaha yang telah Dennis rintis dari nol semakin membaik, dan ia mulai menyadari nilai-nilai yang ada pada dirinya sehingga itulah yang ia tingkatkan. Tanpa ia sadari, usaha yang ia geluti semakin memuncak dan merambah naik. Itulah sebabnya Dennis yakin mampu bersanding dengan Zhafira.
Pernah suatu momen, dimana Zhafira dipertemukan dengan Dennis dalam sebuah acara. Dennis mengajukan sebuah pertanyaan, dan Zhafira tidak menyangka bahwa pertanyaan tersebut ditujukan untuk dirinya. Jawaban Zhafira menyebabkan Dennis semakin mantap untuk melabuhkan perasaannya padanya. Meskipun ia tahu bahwa Zhafira tidak tertarik dengan sebuah hubungan percintaan dan emosi antara laki-laki dan perempuan, Dennis yakin dirinya mampu mengubah sudut pandang Zhafira jika ia menjadi pria yang baik. Oleh karena itu, Dennis selalu berperilaku dan bersikap baik agar suatu saat nanti Zhafira dapat melihat bahwa sosok pria yang baik masih ada di dunia ini dan tidak semua pria seperti yang ia gambarkan.
Amanda yang tadinya hendak segera pulang dari panti asuhan milik Nyonya Darwis, menunda untuk berinteraksi dengan Zhafira. Nyonya Darwis sedikit sedih karena jika dugaannya benar, maka Dennis akan bersaing dengan keluarga konglomerat. Namun, secara tiba-tiba senyuman muncul di wajah Nyonya Darwis ketika dia mengingat bagaimana keluarga Lesham memilihkan pasangan untuk anak keturunan mereka. Keluarga ini lebih memilih pasangan yang memiliki latar belakang agama yang baik. Sehingga Dennis dipastikan akan masuk dalam kriteria dibandingkan keluarga Abrisham yang beberapa anggota keluarganya memiliki tabiat dan nilai agama yang buruk, terutama anak-anak Ibrahim yang pernah di keluhkan oleh Amanda.
Sementara itu, Amanda masih sibuk memperjuangkan niat hatinya, yang terlihat jelas di mata Anggie yang sangat peka.
"Bukankah kita masih memiliki jadwal lain yang belum selesai hari ini, Zha?" ucap Anggie yang berhasil mengalihkan perhatian Zhafira.
"Iya, terimakasih sudah mengingatkan aku, Gie," ucap Zhafira seraya menatap jam tangan yang melingkar di tangan sebelah kanannya.
Hal tersebut membuat Amanda merasa sedih.
"Kalau begitu, kapan lagi kita bisa bertemu?" ucap Amanda dengan lirih.
"Insyaallah, jika Allah berkehendak dan jodoh kita memang ditakdirkan, pertemuan itu pasti akan terjadi, nyonya," ucap Zhafira untuk menenangkan hati Amanda.
"Bukankah kesempatan harus diciptakan?" ucap Amanda penuh harap. Namun, Zhafira tertawa lebar dan menggaruk hijab yang menutupi mahkota kepalanya.
"Alangkah baiknya nyonya menyimpan nomor kontak sahabat saya ini. Dialah yang mengatur jadwal saya tiap hari, nyonya," ucap Zhafira sembari tertawa yang menular ke Carolina dan membuat Amanda sedikit tertekan.
Anggie mencoba berbasa-basi dengan Amanda, namun wajahnya terlihat dingin dan membuat Amanda semakin tertekan. Namun, Zhafira mampu menenangkan suasana dan mengubah pembicaraan dengan menginformasikan nomor ponsel Anggie kepada Amanda.
Zhafira dan Anggie menyelesaikan jadwal mereka untuk hari ini, termasuk mampir ke kedai es krim yang pemiliknya masih termasuk dalam squad mereka. Sayangnya, sang pemilik tidak berada di tempat karena berada di luar negeri. Mereka hanya menghabiskan sisa waktu sebelum Zhafira menunaikan tugasnya di salah satu rumah sakit.
Tidak terasa waktu sudah semakin malam, artinya Zhafira harus segera berangkat kerja. Mereka singgah sebentar di salah satu hotel milik keluarga Anggie dan disediakan kamar khusus untuk Anggie sebagai pemilik hotel. Zhafira butuh istirahat sebentar karena sulit tidur semalam, dia pun meminta layanan pijat urut sebagai relaksasi. Selama pemijatan berlangsung, Zhafira tertidur pulas dan Anggie memberi kode agar kamar tidak di ganggu. Eva merasa kasihan pada Zhafira, namun batas waktu kerja tinggal kurang dari dua jam. Anggie memberi Zhafira dua opsi, dia bisa pergi ke kerja dan akan diantar, atau tidur di hotel bersama Anggie.
Alarm suara subuh membangunkan Zhafira yang merasa sangat lelah. Dia lupa bahwa tidak berada di kamar tidurnya dan dengan mata masih setengah tertutup, ia segera melakukan dua rakaat sholat sunnah qobliyah fajar. Seperti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam anjurkan, sholat sunnah ini lebih baik daripada dunia dan seisinya. Setelah selesai, dia baru menyadari bahwa pada malam itu harus kerja dan segera membangunkan Anggie untuk memesan makanan.
Zhafira pergi sarapan di restoran buffet hotel, sementara Anggie memesan room service karena masih malas bangun. Setelah sarapan, Zhafira bersiap-siap untuk bekerja.