
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Pria tampan yang saat ini masih sabar dan gigih dalam usaha meyakinkan Zhafira jika dirinya bukanlah berniat buruk, akan tetapi murni menolong Zhafira. Kemudian pria ini memiliki kesempatan untuk mengatakan
" Pakailah motor saya, nona "
" Saya akan memperbaiki motor anda " ucap pria tersebut yang juga menundukkan kepalanya. Pria asing ini sangat berharap Zhafira segera menyetujui apa yang dia sarankan
" Hm "
" maafkan saya, mas "
" Saya masih sanggup kok untuk mendorong motor saya " ucap Zhafira yang tidak begitu saja menerima bantuan pria asing. Yang tanpa Zhafira sadari jika pria tersebut menyunggingkan senyuman di wajah tampannya. Seperti biasanya, Zhafira tidak mudah memberikan respon balik atas kebaikan seorang pria asing baginya.
Pria tersebut mulai mengajak Zhafira untuk berkomunikasi yang kemudian mengeluarkan kartu tanda penduduk, kartu nama, dan dalam pembicaraan tersebut pria itu juga menyebutkan nama Aisyah sebagai tameng agar Zhafira mempercayai jika dia bukanlah pria yang memiliki niat buruk terhadap Zhafira.
Mendengar setiap kalimat yang pria asing itu katakan membuat Zhafira sedikit lunak apalagi jika pria ini mengenal sang ibu, bahkan tahu beberapa hal tentang sang ibu, tentang keluarga nya yang membuat Zhafira percaya jika pria ini memang betul-betul tetangga tempat mereka tinggal.
" Pergilah "
" Nona akan pergi bekerja kan "
" Jangan ditunda lebih lama lagi, nanti nona akan terlambat " ucap pria asing tersebut
" Terimakasih, mas "
" Nanti kita bertemu di rumah mas saja, insyaallah akan saya pulangkan motor milik mas ke rumah kamu, mas "
" Sekalian silaturahmi " ucap Zhafira sembari mengembangkan senyuman
" Tidak perlu, nona "
" Tidak akan lama "
" Saya akan mengembalikan motor nona ke rumah sakit tempat nona bekerja " ucap pria asing tersebut
" Kok gitu, mas ? " Tanya Zhafira heran
" Iya "
" Nggak apa-apa, nona " ucap pria asing
" Untuk motor saya "
" Titipkan saja kunci motor ke satpam, saya akan mengambilnya di parkiran saja " ucap pria asing tersebut
" Oh "
" Kalau begitu, bagaimana cara saya berterimakasih kepada, mas " ucap Zhafira lagi yang merasa tidak enak
" Kita pasti akan berjumpa kembali, nona "
" Bukankah alamat rumah saya berada tidak jauh dari rumah nona " ucap pria asing itu mencoba meyakinkan bahwa tujuan dan niatnya membantu Zhafira adalah tulus tanpa pamrih yang berharap jika Zhafira dapat menerima saja niat darinya.
" Hm "
" Bagaimana yah, mas " ucap Zhafira yang masih ragu menerima kebaikan dari pria asing yang berdiri di hadapannya
" Terimalah, nona "
" Apa perlu saya menghubungi nyonya "
" Hm , maksud saya bunda Aisyah, atau Zhidan " ucap pria asing itu lagi sedikit kikuk ketika berinteraksi dengan Zhafira untuk pertama kalinya, karena sebelumnya dia selalu tidak terlihat, namun dengan terpaksa ketika ada beberapa orang sudah ingin berniat jahat kepada Zhafira.
" Ah "
" Tidak perlu, mas "
" Hm, baiklah kalau begitu saya mengucapkan terimakasih, mas "
" Atas kebaikan mas padaku malam hari ini "
" Hanyalah Allah membalas kebaikan yang mas berikan, semoga Allah membalas kebaikan mas berkali-kali lipat dari kebaikan yang mas berikan " ucap Zhafira dengan tulus yang segera diaminkan oleh pria tersebut di dalam batinnya. Zhafira kembali menunggangi kuda besi milik orang lain untuk menuju ke rumah sakit.
Tidak berselang lama, sebuah mobil derek datang, pria tersebut yang bernama Ilham segera memberikan perintah kepada seorang pria lainnya yang datang bersama sang sopir. Meminta agar motor Zhafira segera di preteli. Dimana motor Zhafira digantikan dengan motor baru, hanya saja body motor, dan plat motor di tukar dengan milik Aisyah. Itulah resep mengapa motor Aisyah tetap bagus meskipun sudah tua, karena semua itu atas perintah Adhitama.
Untuk mesin motor lama Aisyah masih berada di gudang penyimpanan pabrik. Takutnya, perbuatan Adhitama diketahui oleh Aisyah, maka Adhitama masih menyimpan barang kesayangan Aisyah.
Waktu tempuh perjalanan menuju tempat kerja harusnya cukup, dan sesuai dengan perkiraan Zhafira. Akan tetapi, musibah tidak dapat di tolak membuat Zhafira hampir telat untuk absensi sidik jari sehingga berjalan sedikit lebih cepat, yang nyaris berlari. Walaupun Zhafira memiliki peran penting dalam perusahaan miliknya dan milik keluarganya, Zhafira terbiasa untuk bekerja dengan profesional, sehingga meskipun hanya pekerjaan sampingan sebagai perawat, Zhafira selalu tepat waktu, hanya saja terkadang ada-ada saja kendala yang dihadapi Zhafira dalam melaksanakan tugasnya, seperti malam hari ini.
Zhafira tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya, tujuan Zhafira hanya fokus pada absensi dan selanjutnya handover shift dengan shift sebelumnya. Zhafira bisa saja langsung masuk ke dalam lift khusus petinggi rumah sakit, karena Zhafira memiliki peran penting dalam rumah sakit, yang tanpa sepengetahuan rekan-rekan Zhafira, jika Zhafira termasuk dalam jajaran direksi.
Apalagi rumah sakit ini, sudah di akuisisi oleh perusahaan Zhafira ketika rumah sakit mengalami kolaps pasca meninggalnya pemilik pertama rumah sakit. Secara otomatis rumah sakit ini telah dimiliki oleh Zhafira. Akan tetapi, karena sudah banyak yang ditanggung oleh Zhafira, membuat Zhafira tetap menunjuk beberapa orang berada di posisi mereka masing-masing, yang pastinya berkompeten dalam tupoksi kerja masing-masing.
Hanya saja beberapa orang yang menjadi parasit pada rumah sakit sudah dikeluarkan secara hormat, mengingat mereka pernah menanamkan jasa pada berdirinya rumah sakit. Karena penyakit hati membuat mereka lupa diri, sehingga membuat pemilik sebelumnya mengalami kehancuran. Bagaimana bisa Zhafira mengakuisisi rumah sakit, hal itu dikarenakan atas permintaan dari pemilik rumah sakit itu sendiri. Dia memilih rumah sakit berada di tangan Zhafira daripada hancur di tangan saudaranya yang hanya menginginkan dirinya hancur.
Zhafira yang memiliki rasa empati yang tinggi, mau tidak mau membantu pemilik rumah sakit, apalagi Zhafira mengenal baik pemilik rumah sakit dimana Zhafira pernah memberikan pertolongan kepada sang pemilik, sedangkan dari sang pemilik kenapa meminta bantuan kepada Zhafira karena memiliki tujuan lain, yaitu menjodohkan putra sulungnya kepada Zhafira, walaupun sang putra sudah pernah menikah, pemilik rumah sakit sangat berharap jika Zhafira mau menerima putranya yang sekarang memilih untuk berada di negara lain yang membawa serta cucunya akibat pertentangan di masa lalunya.
Kembali ke masa dimana Zhafira masih setia berdiri menunggu pintu lift yang terbuka, dan akan membawa Zhafira menuju lantai ruangan rawat inap VVIP bangsal anak. Namun malang tidak dapat di tolak, Zhafira terhuyung ke belakang, yang membuat Zhafira sampai terjatuh ke lantai, bahkan kepala Zhafira sampai sakit akibat benturan. Dan jangan ditanyakan lagi bagaimana hijab yang dipakai Zhafira senada dengan pakaian kerja khas perawat itu yang sudah tidak beraturan.
Suara tawa menggelegar setelah Zhafira terjatuh ke lantai membuat semua orang memandang Zhafira dengan rasa iba, dan memandangi wajah perempuan yang tega menyakiti Zhafira dengan tatapan jijik.
" Ups "
" Sorry "
" Gue, sengaja " ucap perempuan itu dengan sok kecantikan, dan pura-pura iba.
Zhafira yang sudah berdiri sembari membenarkan hijab yang dia kenakan, melihat ke arah perempuan yang dengan lancang menarik hijabnya. Sesaat kemudian Zhafira menarik nafasnya dengan dalam lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan-lahan.
Bersamaan dengan terbukanya lift kejadian Zhafira terjatuh disaksikan oleh banyak orang. Baik yang akan masuk kedalam lift, maupun orang yang akan keluar dari dalam lift. Beberapa orang tidak peduli langsung melakukan aktivitas mereka sendiri, ada juga yang peduli , yang mencoba membantu Zhafira berdiri, dan ikut merapikan baju Zhafira.
" Ternyata kamu bekerja yah "
" telek curut " ucap perempuan itu yang malah membusungkan dadanya sembari melipat kedua tangannya. Seakan-akan dia ratu dia yang berhak menghinakan orang lain. Yang membuat semua orang yang masih setia menengahi kejadian itu menggelengkan kepala mereka. Sekarang mereka tahu yang mana yang akan mereka bela.
" hei "
" Kenapa kalian berada di pihak gadis miskin itu "
" Aku kasih tahu kepada elo- elo pada yah "
" Perempuan ini " ucap perempuan itu dengan gaya nya yang luar biasa menyebalkan di mata semua orang
" Dia ini perempuan miskin "
" Tapi "
" Sekolah di sekolah yang bukan levelnya "
" Dia ini , wanita tidak tahu diri "
" Sekarang, lihatlah "
Zhafira membiarkan perempuan yang dia kenal itu menghinakan dirinya, dan Zhafira lebih cenderung memilih diam, sembari menundukkan wajahnya, agar tidak di lihat oleh banyak orang. Zhafira tidak ingin wajah nya di ekspos banyak orang. Makanya Zhafira memilih diam tanpa membela dirinya.
" Mohon maafkan saya "
" Silahkan melanjutkan kembali aktivitas kalian semua "
" Dan terimakasih atas kepedulian terhadap saya " ucap Zhafira yang malah meminta semua orang untuk membubarkan diri. Beberapa satpam yang melihat Zhafira diperlakukan seperti ini terlihat geram. Hanya saja, mereka memilih bungkam setelah melihat kode dari Zhafira. Untuk beberapa satpam bayangan yang merupakan ajudan Zhidan tentu saja langsung menghubungi atasannya. Sedangkan satpam asli rumah sakit hanya membubarkan pengunjung yang membuat kerumunan.
Setelah kerumunan tidak ada lagi, kini tersisa satpam bayangan, dan untuk satpam lainnya sudah kembali ke pos masing-masing. Untuk perempuan yang sudah berani melakukan penyerangan terhadap Zhafira, masih berdiri dengan angkuh diikuti oleh beberapa temannya yang selalu melakukan bullying terhadap Zhafira sejak masa putih abu-abu.
Perempuan bernama Pretty tersebut berjalan dengan angkuh mendekati Zhafira, membuat satpam bayangan segera berdiri di depan Zhafira dengan wajah garang menatap perempuan yang sudah menyakiti nona kesayangan mereka.
Akan tetapi Zhafira memerintahkan mereka semua untuk mundur, karena kali ini Zhafira sudah siap jika perempuan di hadapannya ini menyerangnya kembali. Yang tanpa sadar jika aktivitas mereka di rekam oleh seseorang yang bersembunyi di balik pilar yang masih melanjutkan siaran langsung sejak awal.
Perempuan itu kembali memberikan kalimat ujaran kebencian, yang hanya di tanggapi santai oleh Zhafira, karena Zhafira sibuk menenangkan dirinya dengan membaca istighfar agar jangan sampai dirinya ditunggangi oleh syaitan.
" Sudah "
" Sudah puas cuap-cuap nya " ucap Zhafira sembari memberikan senyuman mengejek.
" Elo ! " Ucap Pretty dengan garang
" Kalau elo belum puas "
" Kita lakukan debat terbuka "
" Battle fight juga nggak apa-apa "
" Gue ladenin maunya , elo "
" Tapi nggak di sini " ucap Zhafira dengan tatapan matanya yang serius
" Elo tentukan waktu dan tempat "
" Maka gue akan memenuhi undangan yang elo buat, Ok " ucap Zhafira yang kini menantang lawannya.
Akan tetapi Pretty yang diberikan tantangan tersebut, seketika nyalinya menciut. Bayangan akan kekalahan dirinya sudah tentu berada di depan mata. Pretty mencari dalih lain dalam pikirannya, agar terbebas dari tantangan Zhafira
" Kenapa "
" Takut " ucap Zhafira sembari dengan tingkah sok imut yang membuat satpam bayangan menahan tawa mereka, yang ternyata sukses membuat Pretty terpancing emosi, wajahnya merah padam karena merasa disepelekan
" Tidak "
" Kita adu boxing di * " ucap Pretty dengan angkuh
" Ok "
" Besok , pukul 17. 00 " ucap Zhafira yang sudah menyunggingkan senyuman, karena kali ini walaupun kondisi kakinya Zhafira belum terlalu pulih, Zhafira tidak akan mengalah dalam hinaan seperti ini.
Pretty pergi saja meninggalkan Zhafira yang masih berdiri di tempatnya. Begitu pula dengan para dayang - dayang Pretty yang segera menyusul Pretty setelah memberikan tatapan mencemooh Zhafira. Zhafira sih baik-baik saja, tetapi tidak untuk para bodyguard Zhafira yang berkedok satpam
" Sumpah "
" Ingin aku remukan itu mulut "
" Anj* "
" Mulut kok isinya sampah " ucap salah satu bodyguard
" Ck "
" Istighfar, bang " ucap Zhafira yang sudah memungut barang nya yang terjatuh.
" Maafkan saya, nona "
" Sangking kesalnya, saya lupa memunguti tas nona " ucap si B merasa bersalah
" Ah "
" Bukan masalah "
" Masalah nya, aku sudah sangat terlambat karena perbuatan fans fanatik aku itu " ucap Zhafira yang sudah menekan tombol pada lift
'' kalian kembali lah bekerja "
" Jangan laporkan kejadian tadi dengan Zhizi " ucap Zhafira lagi sembari setia menunggu di depan pintu lift
" Maafkan saya, nona " ucap si C, yang membuat Zhafira menekan pelipis nya yang tiba-tiba terasa sakit. Karena sebentar lagi Zhidan pasti akan menelfon dirinya, dan membuat perhitungan dengan Pretty.
Tanpa Zhafira ketahui jika kejadian tersebut sudah viral hanya dalam hitungan jam saja. Dengan hastag tempat kejadian, video - video bermunculan. Keluarga besar Lesham, Bhalendera, dan sekarang keluarga besar Abrisham yang sudah meng-klaim Zhafira adalah calon menantu yang akan menjadi bagian keluarga Abrisham tidak tinggal diam.
Laporan di meja polisi terus berdatangan, dengan lembaga bantuan hukum lainnya, serta organisasi profesi yang Zhafira tekuni turut melayangkan gugatan pidana atas pelecehan terhadap profesi. Dewan direksi rumah sakit malam itu juga segera melakukan rapat tertutup terkait insiden, dan juga melakukan tuntutan berupa tindakan tidak menyenangkan karena telah melecehkan karyawan rumah sakit, dan membawa citra buruk bagi rumah sakit, membuat kegaduhan, dan membuat tidak nyaman pasien dan keluarga pasien. Pretty dijerat dengan pasal berlapis dimana bukti - bukti foto dan video yang berisikan ujaran kebencian, hinaan terekam jelas.
Zhafira yang awalnya bahagia karena akan bekerja malam hari ini harus menunda kembali karena Diana telah datang dengan mobil yang akan membawa Zhafira pulang ke keluarga Lesham.
Wajah Zhafira terlihat sangat dingin. Zhafira tidak suka jika banyak pihak terlalu banyak melibatkan diri atas apa yang terjadi pada dirinya. Zhafira merasa jika dia bisa mengatasi hal sekecil ini, tanpa harus melibatkan orang lain karena yah, Zhafira butuh privasi yang tidak pernah bisa dia dapatkan.
Sekembalinya Zhafira ke dalam kediaman Azzam. Zhafira di sambut pelukan dari semua keluarga tanpa kecuali. Bahkan sang ibu sudah menangis ketika melihat ada sedikit memar pada pipi Zhafira yang terbentur pada lantai.
Ketika semua selesai menyambut Zhafira. Zhidan dengan posesif membawa Zhafira langsungasuk ke dalam mansion Azzam menuju ke arah kamar yang biasa digunakan Zhafira untuk beristirahat. Zhafira hanya bisa pasrah ketika Zhidan mengeluarkan tanduknya seperti ini. Karena akan sia-sia saja jika Zhafira melawan. Zhidan mulai melucuti hijab sang kakak melihat secara keseluruhan, adakah memar lainnya.
Wajah dingin Zhidan semakin terlihat menyeramkan, dan Zhafira tahu apa yang Zhidan lakukan jika sudah seperti ini. Maka Zhafira segera menghentikan langkah kaki Zhidan setelah Zhidan membelai wajah cantik Zhafira, dan memberikan kecupan
" Beristirahat, kakak " ucap Zhidan dengan lembut.
Namun Zhafira segera menarik lengan Zhidan seraya berkata
" Temani kakak " ucap Zhafira dengan penuh harap, Zhafira bahkan harus memeluk tubuh Zhidan untuk mempertahankan niatnya menghentikan apa yang akan Zhidan lakukan
" Ayolah "
" Kakak tidak akan bisa istirahat dengan nyenyak malam ini, jika kamu tidak mau menemani kakak " ucap Zhafira dengan lembut.
Zhidan menghembuskan nafasnya dengan berat, permintaan Zhafira bukannya berat dia lakukan, hanya saja dia harus menyalurkan emosi yang membara di hatinya. Ketika ada seseorang menyakiti sang kakak, maka dia akan menghukum orang tersebut.
Zhidan selalu luluh akan permintaan Zhafira, terbukti saat ini ketika Zhafira meminta Zhidan untuk tidak kemana-mana, dan langsung tidur bersamanya ketika Zhidan hendak keluar dari kamar dengan alasan menganti pakaian tidurnya.
*
*
*
*
*
🌺🌺