My Darling

My Darling
19



🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Perempuan cantik yang dibalut hijab itu masih tetap betah dalam tidurnya, tidak terusik sama sekali dengan para pria yang selalu menemani perjalanannya, karena mereka adalah para pilihan Azzam dan dalam seleksi ketat Zhidan. Sehingga Zhafira selalu merasa nyaman, tidak pernah sekalipun merasa was-was. Seperti saat ini, dia tertidur sangat lelap, tanpa tahu hati dari pria yang bersamanya memiliki perasaan lebih.


Perjalanan menuju ke mansion Azzam dalam keheningan tanpa satu orang pun membuka percakapan seperti biasanya. Sampai dimana akhirnya Robi berhasil memarkirkan mobil mewah Zhafira di lobby utama mansion Azzam. Yoyok segera masuk ke dalam mansion Azzam untuk meminta bantuan kepada wanita atau Zhidan untuk membangunkan Zhafira. Karena Yoyok sangat menghormati Zhafira yang selalu menjaga kehormatannya sebagai perempuan muslimah yang taat kepada tuhan pemilik semesta.


Terlihat asisten rumah tangga Azzam yang berjenis kelamin perempuan, segera masuk ke dalam mobil, dan membangunkan tidur Zhafira. Zhafira yang dibangunkan oleh asisten rumah tangga Azzam segera membuka kedua matanya yang masih enggan terbuka.


Butuh beberapa waktu untuk Zhafira segera bangkit, dan turun dari mobil. Dengan bantuan asisten rumah tangga Azzam, akhirnya Zhafira berhasil duduk di kursi roda. Dan sang asisten rumah tangga Azzam segera membawa Zhafira masuk ke dalam mansion Azzam. Zhafira meminta untuk di bawa masuk ke dalam kamar yang biasa dia tempati, dan meminta asisten rumah tangga Azzam untuk diam, dan tidak memberitahukan kepada penghuni rumah jika dia telah datang ke mansion Azzam.


Karena Zhafira tidak ingin keluarga besar nya melihat kondisi Zhafira yang masih di balut elastis perban pada kakinya. Dia harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, dan membuka elastis perban tersebut jika dia sudah mulai bisa berjalan dengan baik. Jika tidak dia akan tetap memakai elastis perban, namun dengan menutupi itu dengan mengunakan kaos kaki, sehingga tidak akan terlihat oleh orang lain.


Robi meminta izin pulang ke rumah nya kepada Zhafira sebelum Zhafira masuk ke dalam mansion Azzam. Namun Zhafira meminta Robi untuk menginap saja di mansion Azzam karena hari sudah larut malam, Zhafira tidak mengizinkan Robi pulang dengan alasan keselamatan Robi, karena seharian ini Robi juga beraktivitas menemani dirinya melakukan kunjungan ke beberapa cabang perusahaan. Lagipula ada rumah dengan banyak kamar, yang dibuat khusus bagi para pegawai di mansion Azzam yang disediakan oleh pemilik mansion untuk dihuni oleh para pekerja, sehingga Robi dan lainnya bisa beristirahat.


Setelah Zhafira menyelesaikan aktivitas nya, dia segera belajar berjalan tanpa mengunakan kursi roda. Namun rasa nyeri ketika berjalan masih terasa, membuat Zhafira memutuskan untuk mengunakan kruk yang sempat di beli oleh Diana setelah mereka beristirahat di rumah sakit.


" Hai, cantik " sapa Zhafira membuat asisten rumah tangga Azzam tersipu malu


" Ndak cantik, nona Zhafira "


" Mbok sudah tuir seperti ini, dibilang cantik "


" Serasa terbang hati ne mbok " ucap mbok Minah


" lah "


" Emang mbok cantik, kok "


" Masa, Zhafira bilang mbok ganteng " ucap Zhafira yang masih betah menggoda mbok Minah


" Iyo, iyo "


" Yo wes lah " ucap mbok Minah


" Pakde, bude, dan bunda dimana yah, mbok ? " Tanya Zhafira dan dijawab langsung oleh mbok Minah dengan sopan


" tuan dan nyonya ada di ruang keluarga "


" Begitu pula dengan bundanya nona "


" Mereka masih betah di sana sejak sedari tadi " ucap mbok Minah


" Oh "


" terimakasih, mbok ku yang cantik " ucap Zhafira sembari mengukirkan senyuman di wajah cantiknya . Mbok Minah kembali tersipu malu-malu ketika Zhafira masih saja memberikan dia pujian. Zhafira selalu saja bisa membahagiakan orang lain dengan hal-hal kecil bahkan remeh bagi beberapa orang, seperti memberikan senyuman dan pujian yang membuat hati orang lain merasa dihargai , yang sudah pasti diajarkan oleh ibunya.


" assalamualaikum "


" widih, seru nih pembicaraan nya "


" Boleh ikutan juga, nggak ? " ucap Zhafira dengan sopan sambil merengkuh telapak tangan Azzam, Siti dan Aisyah secara bergantian. Zhafira menemui tuan rumah dan ibunya setelah Zhafira membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian rumahan.


Baik Azzam, Siti, maupun Aisyah cukup terkejut dengan penampilan Zhafira yang datang mengunakan kruk untuk membantunya berjalan. Karena setelah Zhafira menutupi masalah kakinya dengan mengunakan piyama panjang dan kaos kaki untuk menutupi elastis perban yang belum bisa dia lepaskan tetap tidak bisa menutupi masalah pada kakinya. Zhafira mencoba untuk berjalan tetap tidak bisa jika tanpa bantuan kruk, akan terasa sakit padahal Zhafira bukan termasuk tipe manja terhadap penyakit.


Zhafira yang melihat tatapan terkejut dari ketiga orang dewasa di hadapannya membuat Zhafira memberikan senyuman tanpa dosa, dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya. Apalagi ketika semua orang masih memandangi wajahnya dengan intens


" Zhaza hanya terjatuh "


" Sedikit terkilir saja kok " ucap Zhafira diiringi dengan cengiran


" Kamu tuh, toh "


" Hobinya celaka "


" Terjatuh, terserempet "


" Matanya masih berfungsi nggak sih, nak " ucap Siti yang mengomentari tentang kecerobohan Zhafira, sembari memberikan Zhafira pukulan ringan yang membuat Zhafira sedikit meringis ketika Zhafira berhasil duduk di tengah-tengah Siti dan Azzam.


" Nggak perlu kasih tampang memelas seperti itu, Zha "


" Emang kamu nya suka sekali buat orang khawatir "


" Kesalnya bunda sudah diwakilkan oleh bude kamu " ucap Aisyah yang sudah kesal dengan anaknya yang selalu ceroboh. Bukan hanya kesal, Aisyah sebenarnya mereka khawatir dan sedih. Namun, melihat Zhafira yang tidak terlihat sedih dan kesakitan membuat Aisyah malah berpura-pura marah pada anak gadisnya.


" Iya "


" Iya " ucap Zhafira dengan cemberut, bahkan bibirnya sudah maju beberapa senti, membuat Azzam menertawakan tingkah lucu Zhafira


" Ck "


" Kasihan kamu, nak "


" Sudah sakit, mendapatkan ceramah "


" Eh kena pukulan pula " ucap Azzam mengelus-elus puncak kepala Zhafira yang masih tertutup hijab.


" Oh "


" So sweet banget pakde Zhaza yang ganteng nya nggak ketulungan "


" Pakde memang bestie nya Zhaza deh " ucap Zhafira sembari menyodorkan puncak kepala meminta Azzam untuk memberikannya elusan lagi di kepalanya. Namun apa daya tepukan di kepala yang dia dapatkan dari sang ibu


Zhafira meringis pura-pura kesakitan dengan bibir yang sedikit dia majukan. Bola mata indahnya Zhafira dibuat seolah-olah memelas, yang kali ini membuat Azzam menertawakan tingkah lucu Zhafira.


" Kamu memang anak pakde " ucap Azzam yang kembali mengelus-elus puncak kepala Zhafira, dan tentu saja Zhafira menyukai perlakuan dari sang pakde yang mengantikan peran ayah dalam kehidupan Zhafira.


Di ruangan keluarga Azzam sebelum kedatangan Zhafira. Azzam dan Siti selaku tuan rumah selalu mengajak saudara-saudara mereka berkumpul di ruangan keluarga. Mengusung berbagai tema penting yang di balut dengan apik sehingga tidak nampak terlalu kaku ketika obrolan itu sampai ke inti pembicaraan. Dan sudah menjadi rutinitas mereka juga untuk bercengkrama dengan berbagai topik pembicaraan termasuk bagian yang paling privasi bagi anggota keluarga. Dan kali ini Azzam ingin membicarakan tentang masa depan Aisyah dan juga Zhafira.


Azzam kembali membuka percakapan dengan tema-tema random sebelum masuk ke tema yang ingin disampaikan oleh Azzam ke adiknya, dan Aisyah terlihat nyaman akan isi percakapan sehingga Azzam masuk ke inti topik pembicaraan yang ingin disampaikan oleh Azzam.


" anak-anak sudah pada besar "


" sudah punya dunia nya sendiri " ucap Azzam


" iya "


" Betul itu Pi "


" Dan artinya kita ini sudah semakin tua " ucap Siti sembari melirik ke arah adik iparnya, yang niatnya memang ingin menggoda Aisyah, sembari memberi kode kepada suaminya, bahwa mereka berdua sudah satu frekuensi untuk mengeksekusi tema yang akan mereka usung kali ini.


" Benar sekali itu, Bang "


" Kakak "


" Kita sudah semakin berumur " ucap Aisyah yang ikut menimpali ucapan kedua orang ini


" Iya "


" Kini anak-anak sudah semakin besar, sudah semakin dewasa "


" Yang kelak kita semua akan ditinggalkan oleh anak- anak kita "


" Entah karena mereka menempuh pendidikan di negara yang berbeda dengan kita "


" Atau karena mereka akan meninggalkan kita karena menikah "


" dan mereka pasti memilih hidup terpisah dari orang tua "


" Karena mereka pasti beralasan untuk mandiri dengan hidup bersama pasangannya masing-masing " ucap Siti


" Iya "


" Apapun alasannya, kita akan kembali tinggal berdua lagi " ucap Azzam yang sudah menepuk punggung telapak tangan istrinya


" Yah, enak dong "


" Enak buat abang dan kakak "


" kalian berdua berasa kembali ke masa pengantin baru "


" pengantin baru jilid dua "


" Widih "


'' so sweet banget " ucap Aisyah dengan raut wajah nampak sumringah. Azzam dan Siti saling berpandangan mendengar jawaban dari Aisyah yang di luar dugaan mereka. Padahal baik Azzam maupun Siti, mereka berdua memiliki maksud untuk menggoda Aisyah, dan yang terjadi malah sebaliknya.


" dan bagaimana dengan kamu , Ais ? " Ucap Siti dengan hati - hati


" Seandainya Zhafira telah sampai jodoh nya begitu pula dengan Zhidan "


" kamu akan sendirian di masa tua kamu, Ais " ucap Azzam yang juga menjaga lisannya agar tidak terlalu membuat adiknya terluka akan pertanyaan darinya


" Hm "


" apakah kamu tidak berniat untuk membuka hati kamu kembali, Ais "


" untuk cinta yang lain "


" seorang pria yang tulus mencintai kamu " ucap Siti yang juga berkata dengan hati-hati, sembari mendekati Aisyah. Sedangkan Aisyah yang mendapatkan pertanyaan dari kakak laki-laki nya dan kakak iparnya hanya bisa mengulum senyuman saja, sembari mempersiapkan kalimat yang bisa di terima oleh kedua orang yang sangat dia hormati ini.


" Hm "


" Indah sekali " ucap Aisyah yang sudah memejamkan kedua matanya dengan menerbitkan senyuman bahagia


" Seandainya telah sampai jodoh nya Zhaza "


" Begitu pula dengan jodoh nya Zhizi, tentu saja hal itu sangat lah indah "


" Hal yang sangat-sangat Ais nanti - nantikan "


" Mereka akan memiliki keluarga mereka masing-masing "


" Saling mencintai, menyayangi, tumbuh anak - anak yang soleh dan soleha "


" Hal ini sangatlah indah " ucap Aisyah yang kemudian membuka kedua matanya


" Tahukah abang, kakak "


" Di dalam setiap lantunan doa ku, selalu aku panjatkan doa agar kedua anak - anak ku ini mendapatkan pasangan yang tulus menyayangi mereka sepenuh hati " ucap Aisyah dengan tersenyum membayangkan wajah anak-anaknya tersenyum bahagia


" Aamiin " ucap mereka bersamaan


" Tidak seperti kehidupan yang aku jalani "


" Cukup aku saja yang merasakan kegagalan sebuah pernikahan, karena memiliki pasangan yang tidak benar-benar tulus mencintai aku, cinta nya padaku hanyalah sebuah obsesi. Dan ketika obsesi itu telah tercapai semua nya terasa semu, dan hilang tidak bersisa " ucap Aisyah dengan tenang


" Oleh karena itu, untuk abang dan kakak "


" Lebih baik kita fokus akan jodoh Zhafira saja "


" jangan mengkhawatirkan Ais "


" Karena Ais yakin kepada Allah , yang akan selalu memberikan Ais berkah, rahmat, dan perlindungan Nya "


" Ais sangat percaya akan itu, bang, kakak " ucap Aisyah dengan mantap, menatap wajah kakak laki-laki dan kakak iparnya secara bergantian.


" Ais " ucap Azzam sembari memejamkan kedua matanya


" bagaimana abang tidak mengkhawatirkan kamu "


" kamu kan adik bungsu abang "


" ibu dan ayah sudah tidak ada "


" tugas abang sebagai anak tertua untuk menjaga kamu "


" tapi bukan maksud abang menikahkan kamu untuk abang melepaskan tanggung jawab abang terhadap kamu, bukan karena itu "


" abang sangat ingin melihat kamu bahagia di kehidupan kamu, dik " ucap Azzam


" terimakasih, bang " ucap Aisyah dengan seulas senyuman


" bahagia ? "


" abang tidak perlu mengkhawatirkan Aisyah soal kebahagiaan Aisyah "


" karena kebahagiaan Ais, adalah melihat anak-anak bahagia, itulah kebahagiaan bagi Ais " ucap Aisyah yang kembali memberikan senyuman sembari menatap wajah kakak laki-laki nya dan Siti secara bergantian


" tapi " ucap Siti terhenti setelah Aisyah kembali mengemukakan pendapatnya


" abang "


" kakak "


" daripada kalian berdua sibuk mencari dan mempertemukan Ais dengan seorang pria "


" alangkah baiknya jika abang dan kakak, dan Aisyah. Untuk kita segera mencarikan Zhaza dan mempertemukan Zhaza dengan seorang pria "


" Yang tentu saja pria tersebut harus lah yang baik , soleh, dan yang paling penting pria tersebut menyayangi Zhaza " ucap Aisyah lagi sembari menatap Azzam dan Siti secara bergantian.


Pembicaraan tentang perjodohan pun berakhir ketika kedatangan Zhafira yang sedang mengunakan kruk untuk membantunya berjalan. Dan hal itu tentu saja membuat Azzam, Siti, dan Aisyah bertanya-tanya apa yang terjadi kepada Zhafira. Setelah Zhafira menjelaskan bahwa dirinya terkilir karena kecerobohan membuat semua orang malah membully Zhafira yang selalu saja bersikap ceroboh.


Zhafira masih menemani para tetua bercerita, sampai dimana dia memilih untuk datang berkunjung ke ruangan dimana para sepupunya berada. Apalagi Azzam mengatakan jika adik sepupu Zhafira ada beberapa temannya yang datang menginap. Sehingga Zhafira langsung segera pergi menuju ke ruangan para sepupunya berada.


Obrolan para tetua kembali lagi ke topik utama pembahasan mengenai perjodohan.


" sebenarnya, selain abang merindukan kamu, abang ingin memberitahukan kepada kamu, Ais "


" abang akan memperkenalkan Zhaza dengan seorang pria yang kedua orangtua menginginkan pria ini untuk menikah " ucap Azzam yang membuat kedua perempuan itu mendengarkan ucapan Azzam dengan seksama.


" Jangan perjodohan lagi lah, suamiku " ucap Siti yang mendapatkan atensi dari Azzam dan Aisyah


" Itu "


" karena sampai saat ini kita belum pernah melihat Zhafira menyukai seorang pria mana pun " ucap Siti lagi yang membuat kakak beradik itu menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan dari Siti


" Aku hanya takut saja " ucap Siti lagi. Dan sesaat kemudian mereka semua terdiam tanpa mengeluarkan pendapat kembali. Namun secara tiba-tiba, dan tidak berselang lama kemudian Siti secara tiba-tiba pula langsung tertawa dengan sangat renyah, membuat Azzam dan Aisyah saling berpandangan. Aisyah menghardikan bahu nya ketika Azzam bertanya kepada Aisyah melalui kode saja dimana Aisyah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh sang kakak laki-laki Aisyah.


" Mi "


" ada apa dengan kamu ? " ucap Azzam dengan mengernyitkan dahinya, binggung dengan sikap sang isteri, alangkah lebih baik Azzam menanyakan langsung kepada sang isteri, kenapa dia bersikap seperti itu. Apalagi menurut Azzam tidak ada satupun arah pembicaraan mereka yang terdengar lucu.


Sedangkan Siti yang mendapatkan pertanyaan dari sang suami sedang sibuk menyusutkan jejak air mata di pelupuk matanya. dan Siti memandang wajah suaminya dan adik iparnya secara bergantian. Dan ekspresi dari kakak beradik itu terlihat sangat penasaran akan sikap Siti sehingga membuat mereka berdua hanya terdiam saja menunggu jawaban dari Siti mengapa dia bersikap seperti itu. Sehingga mau tidak mau Siti berusaha menguasai diri nya agar bisa menjelaskan apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


" Pi "


" kamu ingat tidak , Papi " ucap Aisyah, namun Azzam menggelengkan kepalanya, dia tidak mengingat apa yang diinginkan oleh Siti


" Ck "


" Ih, papi "


" Masa hal sebegitu lucunya papi melupakan nya sih " ucap Siti. Dan sekali lagi Azzam hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia sungguh-sungguh melupakan peristiwa di masa itu.


" Itu loh, Pi "


" Papi menjodohkan Zhaza di kota P , itu loh " ucap Siti kembali


" kota P ? " Tanya Azzam menatap wajah istrinya


" Iya "


" Kota P " ucap Siti menegaskan bahwa hal itu yang ingin Siti ingatkan pada suaminya. Namun, Azzam masih belum mengingat apa yang diinginkan oleh istrinya. Dan itu membuat Siti sedikit kesal, sehingga Siti mencubit perut Azzam. Aksi Siti mencubit perut Azzam disaksikan oleh Aisyah yang membuat Aisyah menertawakan Azzam yang sedang meringis kesakitan.


*


*


*


*


*


*


*


🌺🌺