
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Di hari ke berapa yang tidak terlalu dipikirkan oleh Zhafira yang sibuk memenuhi harinya dengan kesibukan. Dengan rutinitas harian Zhafira dan Anggie seperti hari - hari mereka dalam mengais rezeki versi para pekerja dengan dedikasi tinggi dalam loyalitas kepada perusahaan yang tujuan utamanya demi kemakmuran perusahaan. Seperti biasanya baik Zhafira dan Anggie memiliki segudang aktivitas yang padat merayap seperi jalanan ibu kota.
Kali ini, Zhafira dan Anggie memiliki agenda berkunjung di rumah Abang Zhayn, yang merupakan panti asuhan yang di huni puluhan anak yatim-piatu, dan anak-anak yang tidak diakui oleh orang tuanya sendiri yang dengan tega membuang bayi-bayi yang tidak berdosa itu di pagar Rumah Abang Zhayn. Karena panti asuhan ini cukup terkenal oleh masyarakat, dikarenakan dikelola baik oleh beberapa relawan menurut penuturan dan berita yang beredar, tanpa mereka ketahui jika pemilik rumah tersebut adalah perempuan muda yang sangat mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak yang dicintai oleh Allah SWT yang selalu sering disebutkan dalam kitab suci sebanyak 23 kali dalam berbagai surah.
Dan diantaranya :
โSekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.โ (Al-Fajr: 17)
Dimana dalam pernyataan dari surah ini dapat disimpulkan bahwa memuliakan anak-anak yatim sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh sesama umat muslim. Untuk surah yang lain tidak disebutkan, namun bisa kita lihat di dalam kitab suci, pada :
Surah al-Anโam ayat 152
Surah Al-Isra ayat 34
Surah Al-Fajr ayat 17
Surah Ad-Dhuha ayat 6 dan 9
Surah Al-Maun ayat 2
Surah Al-Insan ayat 8
Surah Al-Balad ayat 15
Surah Al-Kahfi ayat 82
Surah Al-baqarah ayat 83, 177, 215, dan 220
Surah An-Nisaโ ayat 2,3,6,8,10,36 dan 127
Surah Al-Anfal ayat 41
Surah Al-Hasyr ayat 7
Yang secara keseluruhan dari surah tersebut menjelaskan bagaimana kedudukan anak yatim-piatu, dan bagaimana kewajiban umat muslim untuk memelihara mereka dan tentu saja Allah SWT menjanjikan pahala dan balasan pada orang-orang yang memelihara anak yatim-piatu.
Walaupun Anggie tidak satu keyakinan dan agama dengan Zhafira. Namun, Anggie sangat sering melakukan kegiatan kemanusiaan. Hanya saja Zhafira terkadang suka lupa waktu jika berkunjung di Rumah Abang Zhayn. Apalagi jika para adik-adiknya Zhafira mulai rewel untuk selalu berada di dekat Zhafira.
Untuk beberapa orang adiknya Zhafira terlalu sungkan untuk bermanja-manja dengan Anggie, apalagi ketika Anggie yang tidak pernah memberikan seulas senyuman di wajahnya, karena Anggie terlalu kaku untuk melakukan hal itu. Namun, Zhafira sangat pandai menghidupkan suasana sehingga tidak ada drama-drama yang membuat adik-adik Zhafira ketakutan jika berada di dekat Anggie.
Zhafira terlihat telaten ketika mengasuh seorang bayi laki-laki yang baru saja bergabung di dalam rumah ini. Bahkan, Zhafira mendatangkan seorang dokter anak di dini hari ketika salah satu satpam membangunkan seorang kepala pengasuh di rumah ini , saat melihat seorang bayi yang berada di dalam kardus menangis kencang di tengah hujan yang mengguyur pada dini hari ini.
Zhafira memutuskan untuk datang ke Rumah Abang Zhayn sebelum subuh, sehingga Anggie yang datang dengan membawa barang-barang kebutuhan adik-adik asuhnya Zhafira yang menurut Zhafira perlu ditambahkan. Dan camilan yang cukup banyak. Carolina sampai harus rela berhimpitan dengan barang yang diminta oleh Zhafira. " Sempit banget, Untung boss " ucap Carolina tanpa sengaja mengemukakan celetukannya yang mendapatkan tatapan tajam dari sekretaris Anggie " turun saja, dan buatlah surat pengunduran diri" ucapnya yang membuat Carolina tidak berani lagi berucap satu katapun.
Karena, bagaimana yang diucapkan oleh sekretaris Anggie, artinya itu pula lah yang dilakukan Anggie. Sebegitu sayangnya sekretaris Anggie kepada Zhafira, apalagi Anggie yang bahkan rela menawarkan nyawanya demi Zhafira, dan itu juga berlaku untuk orang-orang di sekitar Zhafira. Hanya saja di masa depan tidak tahu apa yang terjadi, sehingga mungkin kehidupan Zhafira akan diporakporandakan oleh ujian yang menguras akal pikiran Zhafira yang hal itu tidak pernah di sangka- sangka, allahualam bisawwab.
Kembali di dalam mobil dimana Carolina sudah tidak mau lagi berkutik, padahal niat dan maksud awalnya Carolina hanya sekedar bergurau dimana Carolina sangat jarang bertemu dengan Anggie untuk di setiap kesempatan selalu Diana yang mendampingi Zhafira di setiap momen kerja dan hari ini Carolina di minta Zhafira untuk menemani dirinya beraktivitas dikarenakan Diana sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota bersama asisten kepercayaan Zhafira untuk meninjau lokasi proyek yang akan didirikan bersama perusahaan lain dalam pembangunan mega proyek yang seharusnya di hadiri oleh Zhafira. Karena sesuatu dan lain hal Zhafira enggan untuk melakukan perjalanan kerja sehingga diwakili oleh Diana selaku sekretaris utama dan Abdillah selaku salah satu asisten kepercayaan Zhafira.
Dikarenakan suasana di dalam mobil selama perjalanan sangat hening, seperti biasanya jika ada Zhafira disana. Maka Carolina hanya berusaha membangun suasana jangan terlalu hectic saja ,akan tetapi peruntungan dia malah dipertaruhkan hanya karena kalimat sederhana yang menurut Carolina bukan hal yang akan di permasalahkan . Carolina yang kehilangan senyuman di wajahnya mengirimkan Diana pesan, dimana Carolina mendapatkan emojicon yang membuat Carolina semakin menekuk wajahnya. Namun tidak memperburuk keadaan ketika salah satu isi pesan Diana yang mengatakan jika dia akan membantu Carolina untuk menjelaskan kepada Zhafira apa yang terjadi jika memang sampai Anggie mengusulkan pemecatan terhadap Carolina. Dan pesan terakhir Diana kirimkan yang membuat Carolina kincep tidak lagi berkata-kata, sehingga perjalanan menuju ke Rumah Abang Zhayn kali ini terasa sangat, sangat lama bagi Carolina.
Zhafira puas bercengkrama dengan kepala pengurus Rumah Abang Zhayn, dan anak-anak yang berada dalam naungan rumah panti tersebut membuat suasana hati Zhafira sedikit lebih baik dari beberapa hari lalu, walaupun belum ada komunikasi terbangun antara Zhafira dengan Aisyah setelah perselisihan di mansion Azzam.
Anggie yang baru tiba di sana, sudah pasti mencari Zhafira, berada dekat dengan Zhafira, begitu pula dengan sekretaris Anggie. Namun tidak dengan Carolina yang merasa takut jika berada di sekitar Anggie dan sekretaris Anggie yang satu server dengan tuannya
" Kakak kenapa di sudut itu "
" Kemari lah " ajak Zhafira dengan raut wajah yang bersahaja. Carolina sangat ingin mendekati Zhafira yang kepribadian nya sangat disukai setiap orang termasuk Carolina. Namun, besarnya rasa takut membuatnya memilih untuk menjauh, karena Anggie nampak begitu menyeramkan baginya saat ini, padahal Anggie tidak pernah memperlihatkan sisi itu kepada orang lain, kecuali di saat tertentu saja.
Anggie memiliki raut wajah yang flat, terkesan dingin, namun pada kenyataannya tidak seperti itu. Anggie hanya kurang bisa mengekspresikan rasa yang ada di dalam perasaannya. Dengan berbisik di telinga Zhafira, Anggie menceritakan kejadian di dalam mobil dalam perjalanan ke sini dan Zhafira terdiam saja mendengarkan cerita Anggie, sesaat kemudian Zhafira tertawa tidak lepas
" Kamu sih "
" Takut dianya "
" Kalian berdua harus belajar untuk tersenyum mulai hari ini "
Ucap Zhafira yang menahan diri agar suaranya hanya didengar oleh Anggie saja. Dan hal itu sukses membuat Anggie mengerutkan keningnya
" Iya "
" Belajarlah untuk itu, Gie "
" Jadi, orang-orang akan tahu jika ucapan yang kamu lontarkan itu sebenarnya hanya gurauan saja "
" Dikatakan dengan kalimat demikian, dengan raut wajah seperti ini "
" Wajarlah jika kak Lina merasa ketakutan dengan kalian berdua " ucap Zhafira sembari menimang-nimang bayi dalam dekapannya
" Yah "
" Aku tahu jika Eva berusaha mengajak sekretaris kamu berbicara "
" Dan niatnya hanya bercanda "
" Sekretaris kamu saja yang terlalu baperan " ucap Anggie acuh tak acuh. Zhafira hanya menyunggingkan senyuman saja, tidak lagi membalas ucapan Anggie lagi.
" Ayo "
" Ibu Darwin, pasti sudah menanti kedatangan kita " ucap Anggie yang tidak dapat Zhafira bantah karena memang hari ini ada agenda untuk mengunjungi panti asuhan lainnya yang membutuhkan uluran tangan dari para donatur- donatur pejuang rahmat-Nya pemilik alam.
Zhafira segera melepaskan diri dari para adik-adik asuhnya dengan memberikan pelukan, dan kecupan yang terkadang mendapatkan derai air mata karena tidak sudi untuk berpisah dengan kakak tersayang yang terkadang terasa seperti seorang ibu yang memberikan kasih sayang tulus tanpa batas.
" Mommy " ucap balita S yang masih berusia 2,5 tahun, yang masih enggan melepaskan lilitan tangannya di leher Zhafira
'' iya "
" Dedek, harus patuh dengan nenek yah "
" Anak sholeh mommy paling ganteng " ucap Zhafira sembari memberikan kecupan di hidung bangir balita tampan itu.
" Dedek "
" Mau mobil "
" Ngeng ....ngeng "
" Yang ada bunyinya " ucap balita S lagi
" Insyaallah "
" Mommy akan kirim sore hari ini, untuk dedek dan saudara yang lainnya "
" Sekarang mommy harus kerja , cari uang agar bisa beliin dedek mainan, beli roti, beli ice cream " ucap Zhafira yang langsung disambar dengan kalimat yang membuat Zhafira tertawa lepas, dan Zhafira menganggukkan kepalanya kemudian memberikan kecupan selamat tinggal
Semua anak panti tidak sudi menyapa Zhafira dengan sebutan kakak, mereka menyapa Zhafira dengan sebutan bunda, mommy, umi, mama, umma, dan lainnya. Kecuali jika yang baru saja bergabung di rumah panti dengan usia remaja, mereka akan segan untuk menyapa Zhafira dengan sapaan tersebut, sehingga beberapa orang menyapa Zhafira dengan sapaan kakak. Zhafira tidak mempermasalahkan hal itu yang terpenting bagi Zhafira. Zhafira mampu melimpahkan kasih sayang yang tulus, memberikan fasilitas terbaik untuk para penghuni rumah panti di bawah asuhannya, walaupun dengan segudang aktivitasnya Zhafira berusaha menyempatkan waktu setiap harinya untuk mampir ke tempat ini agar anak-anak tidak pernah merasa kehilangan seorang ibu yang digantikan oleh Zhafira walaupun tidak akan pernah sama. Namun setidaknya cukup mengobati rasa kangen pada sosok seorang ibu.
Dan sosok seorang ayah bisa mereka dapatkan dari Zhidan, dan Zhabit walaupun mereka tidak terlalu banyak bicara seperti Zhafira. Namun sosok yang ditampilkan oleh kedua pria ini mampu membuat meleleh perasaan para penghuni rumah panti.
Perjalanan mereka dilanjutkan ke tempat tujuan terakhir hari ini. Yang memang tidak ada agenda datang ke kantor. Sudah ada Zhidan yang menghandle pekerjaan Zhafira.
" Zha "
" Setelah selesai schedule hari ini โ
" kita langsung jalan yuk "
" Menikmati ice cream di Mall* , sepertinya sudah lama kita tidak kesana " ucap Anggie memecahkan kebisuan yang sudah duduk santai tepat di samping kursi penumpang sebelah Zhafira
" bukan kah aku ada jadwal kerja di rumah sakit, malam hari ini ? " ucap Zhafira
" iya "
" Hanya sebentar saja, aku tiba-tiba menginginkan semangkuk ice cream dengan lelehan coklat bertabur kacang almond "
" Setelah itu, kamu bisa langsung bisa bekerja karena aku sudah mempersiapkan segala kebutuhan yang kamu butuhkan untuk bekerja " ucap Anggie
" Baiklah " ucap Zhafira dengan singkat, kemudian dia memejamkan matanya, aktivitas yang dia lalui sejak subuh sangat menguras tenaganya di rumah panti, tentu saja Zhafira membutuhkan waktu untuk beristirahat barang sebentar sebelum sampai di panti asuhan selanjutnya.
Jarak tempuh ke lokasi nyonya Darwis cukup menyita waktu perjalanan, karena letaknya yang berada di perbatasan antar kota. Setelah dua jam perjalanan, mereka telah tiba di tempat tujuan. Zhafira dan Anggie lekas turun dari dalam mobil yang diikuti oleh sekretaris mereka masing-masing.
Melalui kode mata , Eva yang memiliki respon cepat, segera melaksanakan perintah Anggie yang tanpa diucapkan tersebut. Eva segera memerintahkan kepada sopir dan teman sopir mobil box yang mengiringi kendaraan Anggie untuk segera menurunkan barang - barang bawaan mereka menuju area dapur panti.
Semua diturunkan tanpa meninggalkan satu barang pun. Yang membuat area dapur tidak dapat menampung barang - barang tersebut, sehingga salah satu pengurus panti meminta bantuan untuk memindahkan barang -barang ke area gudang yang tidak jauh dari dapur. Para pria segera mengangkut barang tersebut. Yang ternyata sebelumnya sudah ada donatur juga yang sudah menyuplai kebutuhan panti. Sangat wajar jika barang tersebut tidak muat lagi di dapur.
Semua atas izin dan kehendak Allah SWT, ketika sebuah pertemuan antara Zhafira dengan ibunda dari pria yang sangat tidak disukai oleh Zhafira terjadi di tempat ini.
Di panti asuhan milik nyonya Darwis mereka dipertemukan kembali, yang membuat perempuan yang sudah tidak muda lagi itu menyunggingkan senyuman hangat menyambut perempuan dengan penampilan yang terlihat anggun dan bersahaja.
Zhafira mengucapkan kalimat salam sapa ketika memasuki ruangan yang biasa digunakan oleh nyonya Darwis untuk menyambut para donatur, ataupun tamu pribadinya.
Seorang donatur tetap di panti asuhan nyonya Darwis memandang wajah para perempuan cantik yang baru saja tiba, namun tatapan matanya lebih lama menatap lekat seorang perempuan berhijab yang sejak awal menarik perhatiannya.
Nyonya Darwis mempersilahkan para tamu yang baru datang untuk segera menempati sofa yang kosong, yang tentu saja Anggie dan yang lainnya segera duduk dengan sempurna. Sedangkan Zhafira yang terbiasa menyapa orang lain khas penduduk pribumi yang selalu diajarkan oleh ibundanya Zhafira , tentu saja Zhafira melakukan hal itu menurut norma kesopanan.
Satu persatu orang, Zhafira berikan hormatnya dengan memberikan salam berupa salam dengan mencium punggung telapak secara takjim. Namun satu orang perempuan segera menarik dengan cepat tangannya ketika Zhafira memperlakukan dia sama seperti orang lain
" Kenapa, ibu " ucap Zhafira dengan sopan
" Saya tidak pantas, nona "
" Saya hanyalah seorang pelayan dari nyonya " ucap perempuan separuh baya tersebut dengan menundukkan kepalanya, serta menunjuk ke arah nyonya nya.
" Sehebat-hebatnya orang "
" Adalah orang yang tinggi derajatnya nya di mata Allah "
" Setinggi - tinggi nya derajatnya orang "
" Adalah orang yang besar amalan ibadahnya di mata Allah " ucap Zhafira menyunggingkan senyuman manis
" Dan saya terlalu malu kepada Allah SWT, meninggikan diri sendiri dari orang lain, bila pada kenyataannya saya hanyalah seorang hamba penuh kekurangan ini, merasa lebih hebat, lebih tinggi dan lebih besar dari orang yang lebih baik dari saya dalam ilmu, dan usia " ucap Zhafira sembari tetap mempertahankan senyuman di wajah cantiknya. Ucapan yang Zhafira katakan menambah decak kagum tamu nyonya Darwis sebelumnya.
Sedangkan perempuan yang selalu setia mendampingi wanita paruh baya tersebut tidak henti memandangi wajah Zhafira, ucapannya sungguh sama seperti sang nyonya yang tidak pernah memandang rendah dirinya. Padahal sampai detik ini ,masih terselip rasa sungkan jika dia berjalan mendampingi nyonya nya dalam setiap aktivitas di luar mansion.
*
*
*
*
*
*
*
๐บ๐บ
.