
🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷
Namun mereka berdua baik ibundanya Adhitama maupun adiknya Adhitama gagal menyelamatkan Adhitama ketika Adhitama membenturkan kepalanya pada vas keramik berukuran besar di kepalanya.
Di saat itulah ibunya Adhitama menyadari kesalahan yang diperbuatnya sudah sangat fatal. Apalagi ketika Adhitama berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri dikarenakan tidak dapat bertemu Aisyah dan anak-anaknya.
Keadaan Adhitama semakin memburuk ketika dia mengetahui kematian Zhayn dimana dia tidak menghadiri prosesi pemakaman putra sulung kesayangannya, dikarenakan Adhitama saat itu dia pun sama-sama mengalami kecelakaan. Kecelakaan Adhitama maupun Zhayn tepat di hari yang sama, hanya saja di waktu dan tempat yang berbeda.
Di dalam tidurnya, Adhitama bermimpi jika dirinya bertemu dengan Zhayn, putra sulung kesayangannya.
Banyak tempat yang mereka kunjungi. Di sana mereka banyak menghabiskan waktu dan banyak bercerita tentang banyak hal yang sudah sangat jarang Adhitama lakukan ketika Zhayn sudah beranjak dewasa. Entah kenapa sebuah kalimat yang diucapkan oleh Zhayn mungkin sebuah kalimat perpisahan yang hanya Adhitama dengar saat itu, membuat Adhitama seketika sekujur tubuh terasa begitu menyakitkan bagi Adhitama yang juga membuat Adhitama tersentak hingga membuat Adhitama terbangun dari koma.
Dan beberapa hari kemudian setelah Adhitama terbangun dari koma dengan kondisi fisiknya yang lumayan membaik, asisten kepercayaannya mengatakan berita duka yang membuat Adhitama di serang serangan panik, jiwanya terguncang, Adhitama bahkan kembali mencoba menyakiti dirinya lagi yang untungnya Adhitama masih dalam perawatan medis sehingga Adhitama berhasil di tenangkan.
Namun hal itu tidak membantu sama sekali, Adhitama semakin terpuruk secara psikis, kondisi mental Adhitama semakin hari semakin kearah yang mengkhawatirkan. Sampai-sampai Adhitama sering berada di sekitar pusara putranya, menangis di pusara putranya yang tiada henti - hentinya menggumamkan kata maaf secara berkali - kali. Ibunya Adhitama pun tidak ubahnya dengan Adhitama, Malika pun menggumamkan kata maaf kepada putranya yang tidak pernah merespon kehadiran Malika di sekitarnya.
Sampai suatu hari Adhitama dipertemukan oleh Allah SWT dengan seorang pria paruh baya yang mengingatkan Adhitama tentang asal-usul kehidupan, kisah manusia diciptakan, dan di sanalah awal mula Adhitama mulai memperbaiki amalan ibadahnya.
Titik balik Adhitama ketika Adhitama mondok di salah satu tempat yang Allah SWT pilihkan untuk Adhitama kembali mengingat arti hidup sehingga Adhitama kembali bersemangat untuk berjuang hidup demi orang-orang yang disayanginya, dan ikhlas atas apa yang terjadi, karena satu helai daun yang terjatuh pun tidak luput dari izin Allah SWT, sehingga apa yang terjadi dalam kehidupan Adhitama hanyalah jalan yang Allah SWT untuk mengingatkan Kepada hamba-Nya atas kodrat, dan alasan dia dilahirkan di dunia yang hanya sementara ini.
Ketika Adhitama dihadapkan dengan sebuah kalimat yang diucapkan oleh Aisyah yang jujur saja kalimat itu cukup mengguncang jiwanya Adhitama kembali. Namun, Adhitama terus mengucapkan kalimat - kalimat sholawat agar Allah SWT memberikan dirinya kesabaran, dan kekuatan. Karena dirinya pasti rapuh dan masih rapuh ketika dirinya diingatkan kembali dengan masa lalu dan dosa yang telah dia perbuat. Bukan karena dia tidak terima atas kesalahan yang telah dia lakukan, bukan. Bukan itu.
Lebih tepatnya Adhitama menyesali perbuatannya itu, dan dia berusaha kuat bagaimana dia mendapatkan pengampunan dosa dari orang yang dia sakiti, terutama istrinya terlebih dahulu untuk dia perjuangkan saat ini.
" Mansion yang aku maksudkan bukanlah mansion kita yang lama, istri ku "
" Aku telah membeli dan membuat mansion baru untuk kita tinggal di sana " ucap Adhitama dengan lirih
" Rumahku adalah istanaku "
" Di sana aku selalu merasa lengkap bersama orang-orang yang aku cintai "
" Tempat dimana Zhayn selalu ada di sana "
" Tempat aku dan anak-anak ku berlindung dari kerasnya hantaman ujian "
" Pulang lah kamu , kembali lah kamu ke pangkuan ibumu yang selalu menyayangi mu dengan tulus tidak seperti diriku yang hanya seekor parasit yang kapanpun akan menggerogoti kamu hingga tiada sisa " ucap Aisyah dengan sarkas membuat hati Adhitama begitu teriris ketika mendengar kalimat sarkas Aisyah. Begitu pula dengan ibunya Adhitama yang berada tepat di depan pintu ruangan pertama menuju ruangan istirahat pasien.
Malika menghapus jejak air matanya, menahan suara sesegukan yang tanpa terasa hampir saja keluar
" Mama " ucap Ezra, adik Adhitama yang mendorong kursi roda sang ibu
" Ki-kita menunggu di tempat lain saja "
" Kita datang di waktu yang tidak tepat " ucap Malika menahan suara tangisnya. Ezra turut merasa sedih dengan apa dia dengar. Akan tetapi itu adalah buah dari apa yang ditanam ibunya di masa lalu. Sehingga Ezra tidak bisa menyalahkan saudari ipar nya ketika saudari ipar nya mengatakan hal seperti itu. Pada kenyataannya, itulah awal dari semua yang terjadi.
Ezra hanya bisa menenangkan sang ibu, jika Aisyah masih membutuhkan waktu, dan Adhitama pasti bisa meluluhkan hati Aisyah yang dia kenal sangat baik dan tulus kepada setiap orang. Tidak mungkin hati Aisyah sekeras batu.
" Maafkan aku " ucap Adhitama menundukkan kepalanya, namun Aisyah tidak mau lagi luluh. Aisyah menyingkirkan tangan Adhitama yang masih menahan dirinya
" Lepaskan "
" Sudah mengakui kesalahan kamu dan keluarga kebanggaan kamu itu kan "
" Yah udah, lepaskan aku "
" Dan silahkan datang di waktu dan tempat yang nantinya akan diberitahukan oleh Abang " ucap Aisyah yang berusaha melepaskan diri dari Adhitama. Namun sialnya, genggaman tangan Adhitama tidak bergeser satu inci pun, membuat Aisyah semakin kesal
" Apa sih maunya, kamu " ucap Aisyah dengan kasar
Adhitama yang mendapatkan ucapan dan sikap kasar dari Aisyah, malah menyelipkan rambut Aisyah ke belakang telinga, yang membuat Aisyah mendelikkan kedua bola matanya. Ternyata Aisyah memperlihatkan auratnya kepada Adhitama
" Kamu ! " Ucap Aisyah yang terhenti ketika Adhitama meraup bibir mungil Aisyah yang sudah sangat dia rindukan. Kecupan itu bukan hanya menempel, akan tetapi melekat. Adhitama mengabsen setiap bagian rongga mulut Aisyah. Aisyah yang memberontak pun tidak berhasil menghindari serangan Adhitama yang nampak sangat rakus seperti seorang yang sudah tidak makan dan minum berhari-hari dihidangkan makanan dan minuman, seperti itulah gambarannya.
" Aku merindukan kamu, sayang "
" Sungguh - sungguh merindukanmu " ucap Adhitama dengan suara yang terengah-engah, meraup oksigen dengan begitu rakus begitu pula dengan Aisyah.
" Kamu ! " Ucap Aisyah lagi, yang kesal dengan perbuatan Adhitama, namun seperti tadi Adhitama kembali mengulangi perbuatannya. Akan tetapi kali ini Adhitama sudah mampu mengendalikan diri tidak seperti di awal, Adhitama sudah bisa memberikan ritme pada setiap kecupannya, bahkan tangan nakal Adhitama sudah tidak ada etikanya lagi yang merambah ke bagian titik-titik sen*t.if Aisyah yang membuat Aisyah mendelikkan kedua bola matanya. Tidak bisa dibiarkan kalau seperti ini gumam Aisyah dalam hati, sehingga Aisyah mencari kesempatan mengigit bibir Adhitama.
Dan akhirnya Aisyah bisa terbebas dari belitan lidah Adhitama.
" Manis " ucap Adhitama tanpa malu, menyeka bibir Aisyah yang bengkak akibat perbuatannya. Aisyah memukul dada Adhitama dengan keras yang hanya dibalas Adhitama dengan suara kekehan tawa renyah yang kemudian Adhitama tanpa tahu diri mengecup puncak kepala Aisyah sembari memeluk tubuh mungil Aisyah dengan penuh kelembutan.
" Sinting, kamu mas " ucap Aisyah yang sudah mengemukakan kekesalannya. Namun seakan-akan buta dan tuli
" Iya " sahut Adhitama yang menganggap hinaan tersebut sebuah pujian
" iih, sumpah "
" Menyebalkan banget sih kamu " hina Aisyah lagi, namun berkali-kali Aisyah menghina, mencaci, memaki. Adhitama sama sekali tidak peduli dan tidak memberikan respon sama sekali. Adhitama malah asyik tertawa renyah, menganggap celoteh Aisyah bagaikan angin lalu, kalau pun dia mendengar jelas setiap katanya, Adhitama tetap diam saja sembari mempertahankan senyuman dan tawa. Momen yang sudah lama dirindukan oleh Adhitama.
" Ayo, kita sarapan pagi terlebih dahulu, sayang "
Adhitama menyiapkan meja makan pasien, dan memakaikan hijab instan ke atas kepala Aisyah dan kemudian bunyi suara ketukan pada pintu, masuklah asisten kepercayaan Adhitama yang diiringi oleh beberapa orang menyajikan menu makanan di atas meja makan pasien, dan di atas meja makan keluarga pasien.
Takut Aisyah akan bertindak impulsif, seperti berlari ke luar ruangan rawat inap. Adhitama tidak mengeser satu inci pun dari Aisyah. Adhitama malah duduk di tempat yang sama, yaitu duduk di ranjang pasien. Dengan tenang, Adhitama menyiapkan makanan di atas piring untuk dia suapkan kepada istrinya. Namun Aisyah enggan untuk memakan makanan yang ada di dalam sendok
" Oh "
" Mau dengan cara lain "
" Seperti ini tidak romantis sama sekali " ucap Adhitama yang menyuapkan makanan dalam sendok masuk ke dalam rongga mulutnya lalu Adhitama memberikan makanan tersebut mouth to mouth dengan sedikit pemaksaan membuat Aisyah terpaksa menelan makanan lunak itu.
Adhitama dengan telaten memasukan kembali makanan ke dalam rongga mulut, namun kali ini Aisyah menyerah dengan mengatakan dia akan memakan makanan itu sendiri, sehingga berhentilah menyuapi Aisyah dengan seperti ini, protes Aisyah terhadap tingkah Adhitama.
Adhitama yang mendapatkan pernyataan tersebut malah dengan polosnya bertanya dengan Aisyah dengan kalimat tanya KENAPA. Yang membuat asisten kepercayaan Adhitama mati-matian menahan tawanya jangan sampai terdengar oleh Adhitama begitu pula dengan petugas-petugas gizi rumah sakit yang masih berada di dalam ruangan. Untuk menghindari kemarahan Adhitama secara perlahan-lahan namun pasti semua orang tanpa terkecuali berjalan keluar dari ruangan.
Setelah semua orang tidak ada di dalam ruangan tersebut , segera Aisyah mendelikkan kedua bola matanya sembari memukul dada Adhitama membuat Adhitama tertawa renyah, bukankah pukulan itu menyakitkan. Namun tidak bagi Adhitama.
" Tidak tahu diri "
" Tidak tahu malu " maki Aisyah kembali, namun masih seperti tadi Adhitama tidak menggubris sama sekali makian yang dilayangkan oleh Aisyah. Adhitama malah sibuk menyiapkan air mineral di dekat isterinya.
" Minumlah terlebih dahulu, kamu pasti kehausan isteri ku " ucap Adhitama dengan tenang.
Aisyah yang sudah tidak ada tenaga lagi meladeni Adhitama, hanya mengambil air mineral itu dengan kasar, meminum air mineral dengan rakus
" Pelan-pelan, sayang "
" Nanti kamu tersedak " ucap Adhitama yang masih terus memperhatikan Aisyah dengan penuh perhatian.
Aisyah makan dan minum tanpa memperdulikan kehadiran Adhitama yang sudah menempel bagaikan seekor lintah padanya. Aisyah yang telah menghabiskan sarapan pagi nya, ingin ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terasa lengket, setelah itu dia akan segera bergegas pulang ke rumahnya agar terlepas dari Adhitama.
Namun Adhitama masih mengekor pada Aisyah, setelah tiba di depan pintu masuk ke dalam kamar mandi, Aisyah segera membalikkan tubuhnya
" Mau apa kamu ? " Ucap Aisyah menatap nyalang pada Adhitama. Dengan polos nya Adhitama menggelengkan kepalanya mengatakan bahwa dia ingin ikut masuk ke dalam. Dan hal itu berhasil membuat Aisyah sakit kepala. Luar biasa mantan suaminya ini, di kasih hati minta jantung.
" Tuan Adhitama yang terhormat "
" Saya mau mandi, mengerti " ucap Aisyah yang sudah tidak bisa lagi menahan emosi nya.
Adhitama hanya merespon dengan satu kata " OH " yang sangat panjang.
Namun Adhitama tidak beranjak dari posisinya, sampai Aisyah menghempaskan pintu kamar mandi pun, Adhitama tidak bergeming.
Dia berdiri di depan kamar mandi, takut Aisyah akan luput dari perhatiannya, dan melarikan diri dari dirinya. Adhitama tidak ingin sampai itu terjadi. Bahkan Adhitama memperketat penjagaan di depan pintu ruangan rawat inap VVIP tersebut.
Aisyah merasakan sakit kepala, sejenak dia tertegun di dalam bathtub, namun dikarenakan ini di kamar mandi Aisyah tidak ingin terlalu lama di dalam sini. Air sabun tanpa sengaja mengenai luka pada kulit leher Aisyah yang membuat Aisyah sedikit berdesis kesakitan.
Aisyah meraba bagian itu, dan melihat di kaca yang ada di dalam kamar mandi.
Luka yang hanya beberapa inci itu terlihat memerah.
Aisyah yang sok tegar, menangis puas di dalam kamar mandi. Dia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Sedih, terluka, takut, berbagai perasaan tidak nyaman meliputi batinnya, membungkus Aisyah dalam pikiran - pikiran yang Aisyah sendiri pun tidak tahu harus melakukan apa.
Aisyah memutarkan kedua bola matanya ketika Adhitama masih berdiri di depan pintu masuk ke dalam kamar mandi.
" Sudah alih profesi, kamu " ucap Aisyah sembari berjalan meninggalkan Adhitama
" Iya "
" Aku sudah beralih profesi sebagai penjaga "
" Penjaga hati kamu " ucap Adhitama yang sudah pintar menggombal.
" Semakin profesional saja "
" Buaya " sindir Aisyah sembari memakai skincare yang sudah berada di atas meja rias, yang sudah pasti Adhitama lah pelaku nya.
" Haruslah "
" Terlalu lama merindu membuat aku seperti Qais bin Mu'adz ( Majnun )yang merindukan Laila " ucap Adhitama dimana pasti setiap orang tahu bila kisah inspiratif yang dituliskan oleh seorang pujangga yang berasal Azerbajian yang terkenal dengan nama pena Nizami Ganjavi . Dimana Nizami telah menyadur kisah cinta ini dari tanah Arab yang membuat kisah cinta ini menjadi terkenal di seluruh dunia karena sang pemeran utama laki-lakinya merupakan penyair yang sangat terkenal di masanya.
Aisyah sudah terlalu malas untuk mendebat Adhitama lagi, dia terdiam sembari mengoleskan cream di wajah cantiknya, dan perawatan tubuh lainnya, dengan sentuhan terakhir memberikan parfum yang selalu dia semprotkan ke beberapa area tubuhnya.
*
*
*
*
🌺🌺