
🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷
Para sahabatnya saja terkadang sangat kesal dengan sikap Zhafira yang seperti ini, akan tetapi mau bagaimana lagi karakter Zhafira yang terkadang naif membuat orang sampai mengatakan orang itu sinting jika sampai berurusan dengan Zhafira dalam versi negatif. Karena Zhafira tuh orangnya lempeng aja nggak neko-neko. Agak nyesek ketika ada orang yang jahat terhadap Zhafira.
Tapi sudahlah, kita tidak bisa mengukur hati seseorang. Yang pasti perbaiki hati sendiri. Pikir Inez, namun ketika sepupunya mengatakan hal yang sedikit meragukan kebaikan Zhafira maka Inez merasa harus mengucapkan kalimat yang membungkam semua orang dengan apa yang mereka pikirkan tentang Zhafira
" Iya "
" Sebaik itu adikku. Oleh karena itu, aku tidak sudi jika dia tersakiti " ucap Ameer
" Bukankah yang menyakiti Zhaza " ucap Inez yang terhenti ketika Aditya meminta Inez menghentikan ucapannya yang akan menyakiti perasaan para sepupu Zhafira
" Aku akan mengatakannya langsung dengan Zhaza bagaimana kondisi nenek " ucap Ehsan yang merasa bahagia jika benar apa yang dikatakan oleh Inez jika Zhafira sebaik itu. Namun tawa Inez membuat Ehsan mengerutkan keningnya
" Sorry " ucap Inez yang sudah menguasai dirinya
" Semudah itu, sangat lah mudah "
" Tapi " ucap Inez dengan nada panjang pada Pi
" Sesulit itu, dan sangatlah sulit jika berurusan dengan Zhizi. Bukankah kalian semua melihat bagaimana reaksi Zhizi tadi ketika kalian menyebutkan nenek kalian. Nah , itu "
" Aku bisa menjamin jika Zhizi tidak akan membiarkan kalian menyebutkan nama nenek kalian di depan Zhaza. Bukankah kalian tahu apa yang kalian dapatkan jika sampai itu terjadi "
" Permisi " ucap Inez yang langsung undur diri, bukan karena malas untuk bertegur sapa lagi. Dia hanya merasa kelelahan setelah melewati aktivitas hari ini yang memacu adrenalin nya. Perasaannya di buat seperti roller coaster dari bahagia, sedih, kaget, khawatir, dan bahagia lagi.
Aditya dengan sopan ikut undur diri menemani sang istri untuk beristirahat.
Semua orang terdiam. Apa yang dikatakan oleh Inez ada benarnya, kali ini Zhidan tidak akan lagi lengah seperti tadi, dipastikan Zhidan akan semakin protektif terhadap Zhafira dari para sepupunya. Akan tetapi Malik semakin bersemangat untuk bisa mengatakan kondisi sang nenek pada Zhafira.
Mereka sama sekali tidak mengetahui jika Adhitama berhasil membuat Aisyah untuk tinggal bersamanya di dalam mansion baru yang di beli Adhitama sejak dia ditinggalkan oleh istri dan anaknya. Di dalam mansion itu, Adhitama hidup sendirian, yang hanya di temani para penjaga di pos satpam sedangkan maid datang ketika Adhitama tidak ada di mansion, sesuai dengan permintaan Adhitama yang tidak ingin ada seorang maid pun.
Adhitama masih sangat trauma dengan kehadiran maid yang ternyata ada pengkhianat yang menyamar menjadi maid, bahkan sang ibu memiliki maid yang berguna untuk memberitahukan apa saja tentang rumah tangga dia dan istrinya. Oleh karena itulah Adhitama tidak mengizinkan satu orang maid pun untuk tinggal di mansion ini.
Sehingga kondisi mansion semakin terasa dingin dan suram. Bahkan Aisyah merasa ngeri entah terasa tidak nyaman saja, karena terlalu sunyi untuk ukuran sebesar ini.
Hari berganti, mentari menyapa dimana dia sudah berada di ufuk yang masih terselimuti awan, sehingga sinarnya masih belum kentara terasa di kulit
Zhafira berdiri di atas batu berukuran besar. Zhafira meresapi setiap hembusan angin yang menyapa kulitnya, sinar mentari yang terlihat indah. Zhafira menghirup udara pagi ini yang masih sangat bersih.
Zhafira merentangkan kedua tangannya meresapi setiap nikmat Allah SWT yang dia dapatkan. Jika seperti ini, wajah sang ayah yang dia rindukan. Karena sang ayah yang selalu mengajak dia berjalan- jalan menikmati ciptaan Allah SWT setelah pulang dari ibadah wajib subuh dua raka'at nya.
Satu nama yang selalu dia rindukan, meskipun dia tidak pernah mengatakan hal itu pada siapa pun, cukup disimpan di dalam relung hatinya saja. Zhafira terlalu takut menyakiti perasaan sang ibu, dan sang adik jika sampai dia mengatakan jika dirinya merindukan cinta pertamanya itu.
Tatapan mata Zhafira menerawang jauh menembus hamparan bukit yang tiada bertepi. Kenzie yang selalu membayangi Zhafira hanya tertegun melihat sikap Zhafira yang begitu random menurutnya. Bukankah tadi Zhafira tersenyum, dan entah kenapa Zhafira terlihat menahan diri untuk menutupi lukanya.
Sepandai-pandainya Zhafira menutupi rasa kangennya yang berselimut luka, Zhafira tidak mampu menahan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Kenzie menundukkan pandangannya. Apa yang Zhafira pikirkan hingga membuatnya begitu terluka. Hampir empat puluh menit dirinya berada disini, yang tanpa disadari oleh Zhafira jika sejak setelah subuh dirinya diikuti oleh Kenzie.
Zhafira bersenandung mengagungkan Allah SWT, dengan asma Allah, dan tidak pula lupa bershalawat atas nabi Muhammad Saw, nabi tercintanya umat muslim.
Hanya inilah obat hati terbaik. Menyanjung Allah pemilik alam semesta beserta isinya, dan menyanjung nabi Muhammad Saw semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan manusia paling mulia di sisi Allah SWT.
" Dari mana saja, kakak " tanya Zhidan yang entah dari mana sudah mendekati sang kakak
" Hm "
" Hanya di sekitar kawasan villa saja " ucap Zhafira
Zhafira melihat Zhidan mengendarai sebuah sepeda. Tanpa sungkan, Zhafira segera duduk di sepeda. Bukannya duduk di sepeda bagian belakang, Zhafira malah duduk di bagian depan, membuat Zhidan melepaskan sweater tebal yang dia kenakan agar sang kakaknya dapat duduk dengan nyaman.
Posisi seperti itu membuat Kenzie dibakar cemburu. Rasa kesalnya sudah sampai di ubun-ubun. Ingin rasanya Kenzie mendorong tubuh atletis Zhidan yang saat ini mengukung Zhafira di dalam dekapannya, mendorong hingga menjauh dari tubuh Zhafira.
Zhafira tertawa renyah, entah apa yang membuat sampai dia tertawa seperti ini, apa yang Zhidan katakan. Kenzie merasa sangat iri, sampai - sampai Kenzie tidak sadar jika dia melewati sepeda yang dikendarai oleh Zhidan.
Belum lah sempat Zhafira mengatakan awas, Kenzie telah terlebih dahulu jatuh. Zhidan langsung sigap membantu Kenzie yang nampak kesakitan ketika dahi dan telapak tangannya terluka.
Zhafira meminta Zhidan memeriksa bagian tubuh pria ini, apakah ada luka lainnya yang dia dapatkan setelah terjatuh. Mengapa bukan Zhafira yang notabene memiliki ilmu di bidang keperawatan. Alasannya sangat simpel, selama masih ada Zhidan atau pria yang bisa menjadi penolong, Zhafira hanya akan memberikan arahan apa saja yang akan di kerjakan. Apalagi hanya sekedar luka gores seperti ini cukup dibersihkan dengan cairan pembersih luka atau larutan nat* kl*, lalu berikan antiseptik, dan kemudian sentuhan terakhir tutup luka dengan kasa steril atau perban agar lukanya tidak terkena debu. Ada juga yang menginginkan hasil lukanya tertutup sempurna, dan seperti sediakala tanpa ada bekas luka. Maka gunakan saja salep khusus luka *, dijamin tidak akan meninggalkan bekas luka sama sekali.
Kenzie berpura-pura kesulitan berjalan, dan itu berhasil membuat Zhafira iba, lalu meminta Zhidan untuk membonceng pria ini. Sedangkan Zhafira akan mengayuh sepedanya sendiri, sepeda yang dibawa oleh Zhidan tadi. Dengan posisi sedikit dekat di tempat kejadian jatuhnya Kenzie membuat Zhafira menyadari sesuatu jika sepertinya dia pernah bertemu dengan pria ini. Akan tetapi dimana mereka bertemu, Zhafira kesulitan untuk mengingatnya.
Di saat Zhafira sibuk menggali ingatannya, maka Kenzie sibuk tersenyum sendiri karena merasa bangga sudah berhasil membuat Zhafira tidak satu sepeda lagi dengan Zhidan. Tidak ada lagi mesra-mesraan di depannya.
" Abang temannya bang Adit " tanya Zhidan yang tentu saja dijawab Kenzie
" Usaha Abang di bidang apa yah, bang " tanya Zhidan lagi yang ingin tahu bisnis apa yang di geluti oleh orang yang lebih senior di bidang nya, ingin mengetahui lebih dalam suka duka, baik buruk, bagaimana profit nya apakah yang menjadi kendala dalam berbisnis di bidang itu. Terus terang saja, Zhidan termasuk baru untuk di bidang- bidang usaha yang ingin dia capai.
Kenzie menjelaskan apa saja yang dia miliki, bagaimana proses perjuangan dia dalam merintis karier di bidang yang sama sekali dia buta ilmu, namun berkat kegigihannya membuat usahanya di bidang itu sudah mendapatkan profit yang sangat menguntungkan.
Zhidan mengambil hikmahnya saja dari segala hal yang diceritakan oleh Kenzie yang ternyata sama saja dengan para temannya yang umurnya mungkin tidak jauh berbeda dengan Kenzie.
Zhidan tidak membatasi usia dalam pergaulannya, karena Zhafira selalu memberikan dia edukasi tentang itu, dimana hidup itu harus bisa membawa diri dimanapun berada, berteman dengan siapapun, ambil baiknya dalam pertemanan karena pasti ada positif dari luasnya pergaulan, dan tetap pada koridor yang benar, jangan mencla- mencle karena sekali salah jalan takutnya sulit untuk kembali.
Hari ini, mereka akan kembali ke kota asal mereka untuk mengais rezeki. Tempat ini hanyalah tempat mereka melepaskan penat. Dan untuk beberapa sahabatnya, mereka akan kembali ke negara asal mereka setelah menuntaskan pertemuan bisnis di negara ini termasuk kerjasama dengan perusahaan Zhafira dan keluarga Clarke yang tentu saja Anggie yang akan menjadi orang bertanggung jawab atas kerjasama yang terjalin nantinya.
Dunia bisnis memang tidak hanya di seputar mereka saja. Hanya saja jika sudah ada rekan, kenapa tidak dimanfaatkan, toh jauh lebih bisa dipercaya, dan keuntungan pasti akan didapatkan oleh kedua belah pihak. Oleh karena itu, perjalanan mereka ke kota ini bukan hanya untuk sekedar refreshing saja, ada urusan bisnis, urusan kemanusiaan yang mereka bahas dalam suasana yang santai, tidak kaku sama sekali seperti mereka membuat janji pertemuan dengan perusahaan lain, pastinya harus lebih formal.
Sama halnya dengan para perempuan, para lelaki pun melakukan hal serupa, emang pada dasarnya circle mereka di bidang bisnis. Kondisi apapun yah uang saja di otak mereka. Sehingga beberapa kesepakatan mereka buat, yang akan terealisasi setelah mereka pulang ke kota mereka nantinya.
Tidak terasa hari semakin berlalu, hingga pada pukul sembilan pagi mereka meninggalkan kawasan villa yang meninggalkan kenangan sedih dan indah. Mereka kira, mereka akan langsung pulang ke kota, namun ternyata Cleo tetap keinginan dia yang menginginkan untuk berpacu di landasan sirkuit.
Zhafira hanya menggelengkan kepalanya saja akan tingkah random salah satu sahabatnya
" Untuk taruhan kemarin. Deal kan ? " Tanya Queen
" Sudahlah, tidak usah pake taruhan segala sih " sahut Fauziah
" Nggak seru, Zia "
" Zhaza mainnya pasti nggak pake gas kalau nggak pake taruhan " ucap Liliana yang mendapatkan anggukan kepala dari semua orang
" Nggak kayak gitu juga kali "
" Aku serius mainnya kok, meskipun tanpa taruhan. Lagipula kaki aku sudah aman juga "
" Emang enak betul, setelah di pijat. Ah, rasanya aku bisa lari ratusan kilo deh " sahut Zhafira yang membuat para tuan putri lainnya tertawa.
Perjalanan pun menuju ke sirkuit yang tidak jauh dari daerah yang masih tempat mereka akan menuju ke kota. Melihat arah mobil di depannya sedikit berbeda arah membuat mobil lainnya mengikuti saja. Padahal Inez sudah mengatakan jika pada suaminya jika mereka masih akan menuju ke suatu tempat.
Aditya juga sudah menyampaikan hal tersebut pada para sahabat dan kerabat lainnya, namun bukannya mereka pulang ke kota, mereka malah tetap mengikuti jalur mobil yang ada di depannya. Begitu mobil terhenti di tempat yang memang dituju oleh para gadis. Cleo melipat kedua tangannya di bagian dada
" Apakah kalian tidak ada kerjaan selain mengikuti kami " tanya Cleo dengan angkuhnya
" Yah "
" Sepertinya menarik melihat kalian bertanding " sahut salah satu sepupu jauh Cleo yang membuat Cleo berdecak sebal. Andai saja anak pamannya ini sebuah bola, sudah sejak dari tadi Cleo lemparkan ke sembarang arah.
Sudahlah daripada moodnya memburuk, Zhafira segera kembali ke tempat para sahabatnya yang sudah mulai bersiap-siap.
" Kamu membiarkan saja istri kamu ikut bertanding, Adit " tanya salah satu sahabatnya
" Mau bagaimana lagi. Mereka sudah sangat jarang bertemu. Tidak masalah bagiku, yang penting istri aku happy setelah ini " ucap Aditya
" Bukankah pertandingan ini cukup ekstrim bagi seorang wanita " sahut yang lainnya
" Ini belum seberapa " sahut Aditya yang diiringi suara tawanya sembari melambaikan tangan pada sang istri yang sudah siap bertarung
'' Wah "
" Aku tidak akan membiarkan putri tuan Abdullah melakukan hal seperti ini lagi jika aku sudah berhasil menikahi dia " ucap sahabat Aditya yang lainnya, yang membuat Aditya kembali tertawa
" Really "
" I hope, u can do it " sahut Aditya yang masih tertawa. Dirinya saja tidak bisa melarang sang istri. Padahal jika dari garis keturunan, Cleo masih memiliki kekerabatan yang masih sangat dekat dengan dirinya. Dia saja tidak bisa berkutik jika dihadapkan dengan ketujuh gadis ini.
" Mereka terlalu mandiri, akan sulit bagi kita untuk melarang mereka untuk melakukan hal yang mereka sukai " sahut yang lainnya
" Sulit "
" Bukan berarti tidak bisa, kan " sahut yang lainnya
" whatever, just do it if you can " sahut Aditya dengan menghardikan bahunya pertanda jika setiap orang bisa saja melakukannya. Namun Aditya memilih tidak, karena rasa sayangnya pada sang istri sangat besar, sehingga tidak ingin istrinya merasa sedih hanya karena keinginannya tidak terpenuhi. Lagipula persahabatan mereka jauh lebih lama daripada rasa cinta Aditya pada sang istri. Sangat tidak adil, jika dia menghalangi kebahagiaan sang istri
Sama halnya dengan para pria, para wanita pun masih terlibat percakapan, dimana percakapan itu Zhafira mengatakan sebenarnya di negara ini sudah dibangun sirkuit baru untuk ajang bergengsi dalam ajang F1, dan sudah mumpuni jika memang ajang bergengsi ini diadakan di negara*. Namun sekali lagi, mereka hanya ingin have fun saja, mengisi liburan mereka dengan hal menyenangkan, tidak masalah jika mereka sekedar mampir di sirkuit ini hanya sekedar melakukan sprint mandiri.
Para gadis sudah selesai bersiap-siap mengenakan pakaian khas balap, dan mereka mulai melangkahkan kaki mereka menuju Paddock area. Pada area ini semua kendaraan atau mobil balap dan segala peralatan ada di sini termasuk kru yang akan membimbing mereka masing-masing dalam apa saja mengenai jalannya pertandingan yang akan mereka lakukan.
Anggie menatap curiga satu orang yang entah mengapa perasaannya tidak nyaman merasuki pikirannya saat ini, hanya saja sebuah tepukan di bahu Anggie membuat anggi8 terkesiap, dan Cleo membaca perubahan raut wajah Anggie
" What happen " tanya Cleo
" Nothing " ucap Anggie sembari masih menatap ke arah pria yang berpura-pura tidak berani menatap wajah cantik Anggie
" Apakah selera kamu sekarang pria seperti itu " tanya Cleo menggoda sahabat nya yang sudah terlalu lama single. Anggie tidak menghiraukan ucapan Cleo. Anggie malah mengubah arah pandangannya menuju mobil - mobil balap yang terparkir, dan memilih mobil yang akan dia gunakan.
*
*
*
*
*
*
🌺🌺