
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Para anak-anak yang menuntut ilmu pendidikan di sekolah ini, perlahan-lahan semakin lama semakin ramai yang memang sudah jam masuk sekolah. Aisyah yang juga sebagai pengajar di sekolah ini juga memiliki waktu sama seperti para muridnya, akan tetapi memang untuk hari ini Aisyah sengaja datang sedikit agak siang dari jam masuk sekolah.
Dikarenakan hari ini sekolah sedang mengadakan kegiatan yang masih harus diikuti oleh para siswa - siswi untuk mengisi waktu di masa bagi raport. Tentu saja para siswa merasa sangat bersemangat, karena tanpa belajar, akan tetapi tetap beraktivitas mengisi waktu mereka dengan berbagai kegiatan positif.
Aisyah sudah memiliki agenda sama seperti para pengajar lainnya. dengan mengusung tema go green yang kekinian membuat anak-anak didik mereka mengkreasikan berbagai macam ide-ide yang cukup kreatif, dan hasil kerja keras para anak-anak didik mereka akan mendapatkan reward dari sekolah, dan banyak kegiatan lainnya.
Aisyah sudah tentu termasuk sebagai juri, yang terkenal selektif, dan objektif, akan memberikan reward bagi pemenang. Dan Aisyah akan membeli hasil karya anak-anak didik Aisyah jika menurut Aisyah sangat menarik, dan hal ini tentu membuat anak-anak di sekolah tempat Aisyah sangat excited mengikuti lomba yang diadakan oleh pihak sekolah.
Ada guru tajir, tapi tetap tampil sederhana, ada guru bersahaja yang selalu menjadi sahabat bagi para muridnya. Sehingga, bila Aisyah menjadi wali kelas di salah satu kelas, maka seluruh penghuni kelas tersebut akan merasa sangat beruntung dan sangat bahagia karena memiliki wali kelas yang begitu sangat mereka kagumi.
Kembali lagi ke pada waktu Aisyah yang masih berdiri di pintu utama masuk sekolah atau yang lebih dikenal dengan gerbang masuk sekolah tempat Aisyah mengajar. Beberapa anak-anak didik Aisyah menyapa Aisyah sebelum masuk ke dalam sekolah, yang sudah tentu kalimat sapaan anak-anak tadi mendapatkan balasan dari Aisyah.
Namun, sebelum Aisyah melangkahkan kakinya kembali untuk masuk ke dalam sekolah, suara yang sangat familiar menyapa Aisyah, dan itu membuat Aisyah terpaku ditempatnya, tanpa bisa hanya sekedar membalikkan tubuhnya ke arah asal suara.
" waalaikumsalam " ucap Aisyah menjawab salam sapa orang itu, karena wajib hukumnya membalas ucapan salam dari orang lain, ketika orang itu memberikan salam.
Melihat tidak ada pergerakan dari Aisyah membuat pemilik suara kembali mengulangi kalimatnya yang kali ini terasa berat nan lirih. Aisyah memejamkan kedua matanya, menahan gemuruh yang berkecamuk di dalam dadanya. Aisyah berusaha keras membalikkan tubuhnya ke arah asal suara.
Aisyah segera mendekatkan dirinya kepada orang tersebut, menyodorkan tangan kanannya untuk meminta orang tersebut memberikan sebelah tangan yang sama seperti yang Aisyah sodorkan. Dan pria itu segera menyambut tangan Aisyah, sehingga Aisyah segera memberikan hormat nya kepada orang yang lebih tua itu dengan penuh takzim, apalagi pria yang sudah sangat berumur itu adalah mantan ayah mertuanya.
" Ais " ucap pria tua itu dengan suara berat nan lirih
" iya, Papi " sahut Aisyah yang enggan menatap wajah mantan ayah mertuanya
" bagaimana kabar kamu dan cucu-cucu Papi" ucap pria tua itu yang bernama Idris Hutama Bhalendra, yang hingga saat ini masih sangat terkenal dengan kekayaan dan kekuasaan dalam segala hal. Namun untuk tata kelola perusahaan milik Idris sudah diambil alih oleh para putra dan putri nya sebagai penerus, sehingga tuan Idris hanya akan meninjau perusahaan hanya berdasarkan laporan hasil kinerja anak-anaknya , keputusan tuan Idris dalam pengambilan keputusan adalah mutlak, karena bagaimana pun tuan Idris adalah Presdir di perusahaan - perusahaan miliknya pribadi dan milik keluarga Bhalendra.
" Alhamdulillah "
" kami semua dalam keadaan baik, Pi " jawab Aisyah sewajarnya, jangan sampai dia bersikap kurang baik, karena mantan ayah mertua nya ini, saat Aisyah masih menjadi menantunya tidak begitu baik, tapi tidak pula begitu buruk seperti mantan ibu mertua nya yang sangat buruk memperlakukan Aisyah, begitu pula dengan anak-anaknya Aisyah.
" Hm "
" bisa "
" kita membicarakan beberapa hal " ucap mantan ayah mertuanya Aisyah, dan Aisyah baru saja hendak menjawab " katakanlah saja disini " namun ternyata sang mantan ayah mertuanya Aisyah cukup memahami Aisyah.
Idris merasa jika Aisyah akan menolak ajakannya, namun tuan Idris masih berupaya untuk membujuk Aisyah
" Papi ingin kita berbicara di tempat yang jauh lebih baik dari sini, Ais " ucap ayah mantan mertua nya Aisyah.
Sesuai dengan prediksi tuan Idris, jika Aisyah merasa sangat enggan untuk berbicara, jangan kan untuk berbicara , untuk bertemu secara tidak sengaja pun Aisyah terlalu malas, pasti ada - ada saja, drama apalagi yang dilakoni oleh keluarga dari mantan suaminya ini.
Tidak cukup kah, penderitaan dirinya dan anak-anaknya selama Aisyah terikat pernikahan dengan putra mereka. Aisyah bukannya mendendam akan hal-hal yang sudah dia lampaui di masa lalu, hanya saja untuk masa depan Aisyah ingin hidup lebih baik, hidup damai bersama kedua anaknya, tanpa orang lain mengusik kehidupan mereka yang sudah lebih dari kata baik dibandingkan di beberapa masa lalu yang menyakitkan bila Aisyah, Zhafira, dan Zhidan tiba-tiba mengenang masa itu.
Menjaga silaturahmi tidak harus bertatap muka, cipika cipiki, bermanis - manis kata, tidak juga harus seperti itu, dengan bersikap baik ketika bertemu, menjaga attitude ketika tidak sengaja berjumpa, termasuk menjaga silaturahmi, agar tidak membuat lawan bicara merasa terluka.
" di sekolah masih ada kegiatan yang harus Aisyah ikuti "
" apalagi Aisyah sebagai salah satu orang yang memiliki tanggung jawab di kegiatan itu, Pi " ucap Aisyah yang berbicara formal, namun masih menjaga sikapnya. Dari cara Aisyah yang menyapa tuan Idris dengan sapaan yang masih sama seperti pada waktu Aisyah menjadi menantu tuan Idris.
Bukan kenapa-kenapa, hal itu adalah permintaan tuan Idris untuk tidak mengantikan sapaan Aisyah terhadap dirinya.
" silahkan melanjutkan aktivitas kamu, Ais "
" izinkan Papi untuk menunggu kamu menyelesaikan urusan kamu " ucap tuan Idris yang bersikukuh untuk berbicara dengan Aisyah.
Hal itu membuat Aisyah merasa tidak nyaman, namun apalah dirinya jika sang mantan ayah mertuanya berkehendak, maka itulah yang akan terjadi.
" tidak perlu, Pi "
" Papi berikan saja alamat dimana kita akan bertemu "
" setelah selesai, Aisyah akan segera menghubungi Papi " ucap Aisyah yang akhirnya mengalah. Hanya sekedar berbicara, yah sudah dengarkan saja apa yang akan menjadi topik pembicaraan yang akan tuan Idris sampaikan kepada dirinya
" baik, Papi akan segera pulang "
" pak sopir akan menunggu kamu selesai dengan urusan kamu " ucap tuan Idris sambil menunjuk salah satu mobil yang terparkir di depan pagar sekolah, tempat para orang tua menjemput putra putri mereka yang akan pulang sekolah.
Aisyah menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, bukannya menjawab ucapan Aisyah, tuan Idris malah menunjukkan sebuah mobil yang akan membawa Aisyah ke tempat pertemuan.
" baiklah, Papi "
" kalau begitu, Aisyah meminta izin untuk masuk ke dalam sekolah "
" acara akan segera di mulai " ucap Aisyah menatap arloji nya, mengusir dengan cara halus, Aisyah masih enggan berlama-lama melakukan kontak dengan keluarga dari mantan suaminya, maupun dengan mantan suaminya, bila perlu tidak usah bertemu sama sekali. Karena terlalu muak untuk bermanis kata, tapi tidak boleh juga menunjukkan perasaan nya, karena hal itu tidak baik di contoh, apalagi dirinya seorang ibu yang harus memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya.
Sepeninggalnya tuan Idris, Aisyah segera masuk ke dalam area sekolah, yang sudah ramai dengan anak-anak didik mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan oleh pihak sekolah. Aisyah segera melangkahkan kakinya menuju ke ruangan para guru. Sesekali Aisyah membalas salam sapa dari anak-anak didik yang menyapa dirinya sepanjang jalan menuju ke ruangan para guru.
Satu guru langsung mencerca Aisyah dengan pernyataan dan pertanyaan sekaligus, ketika Aisyah baru saja mendaratkan tubuhnya ke atas kursi.
" iya, ibu Siska " ucap Aisyah yang langsung mengambil lembaran penilaian, yang ada di dalam tas Aisyah.
" iya "
" kamu itu yah, Ais "
" belum pernah ada tuh sejarah nya, pak kepala sekolah yang menunggu salah satu gurunya " ucap Siska
" yah, ini "
" bapak sekolah lagi menunggu kedatangan ibu Aisyah " ucap Sari , menggoda Aisyah
" cieee cie-cie "
" abang rela nungguin dedek Aisyah "
" asal dedek datang "
" abang bisa melihat wajah dedek Aisyah " ucap Eka yang ikut menggoda Aisyah.
Aisyah tertawa mendengar ucapan para guru yang saat ini menggoda dirinya, akan tetapi ucapan sarkas dari Siska membuat semua orang diam, karena terlalu malas berdebat dengan orang yang memiliki penyakit hati.
Karena yang sesungguhnya Siska sudah menyukai bapak kepala sekolah sejak kepala sekolah itu baru dipindahtugaskan ke sekolah ini, dimana bapak kepala sekolah yang baru ini diketahui jika beliau sudah beberapa tahun lalu ditinggal mati oleh istrinya, dan santer terdengar jika bapak kepala sekolah mencari istri atas permintaan anak-anaknya, dimana anak-anaknya meminta bapak kepala sekolah itu menikahi Aisyah, yang pernah menjadi wali kelas salah satu anak kepala sekolah.
Putri sulung bapak kepala sekolah itu, setuju-setuju saja jika sang ayah menikah kembali, asal calon ibu sambung mereka baik , dan sayang kepada mereka juga bukan hanya kepada ayah nya saja.
Putri bungsu bapak kepala sekolah yang masih sekolah di tempat sang ayah bekerja, tentu saja merekomendasikan Aisyah sebagai calon yang tepat, dengan berdalih sakit, meminta Aisyah untuk datang menjenguk. Tanpa alasan seperti itu, Aisyah pasti menyempatkan waktu mengunjungi anak didiknya bila memang sampai di rawat inap di rumah sakit. Dari sanalah pertemuan pertama antara Aisyah dengan keempat anak kepala sekolah. Betapa terkejutnya bapak kepala sekolah itu, ketika semua anak-anaknya meminta sang ayah segera menikahi salah satu pengajar di tempatnya bekerja, namun tanpa anak-anaknya tahu jika sebenarnya sang ayah sudah memendam rasa suka sejak pertama kali bertemu dengan Aisyah. Yang semakin lama perasaan itu semakin intens merasuki bapak kepala sekolah itu.
Aisyah tidak ingin terjadi hal-hal yang membuat mood nya berantakan lebih parah lagi, segera meninggalkan ruangan guru yang masih ada Siska di dalamnya yang saat ini sedang menatap Aisyah dengan aura penuh permusuhan.
" a u ah gelap " ucap si A, yang ikut keluar
" hareudang - hareudang "
" panas - panas - panas " ucap B yang ikut mengekor si B
" emang rese yah kalian "
" tunggu 'in aku dong " ucap si C yang bergerak mengemasi meja kerjanya yang juga mengikuti para guru lainnya meninggalkan ruangan guru.
" beberapa waktu lalu di tolak bapak kepala sekolah " asal mula ghibah salah satu guru
" mana ada "
" di tolak anak-anaknya bapak " ucap guru lainnya
" salah, informasi kalian tidak valid "
" dia ditolak oleh bapak dan anak-anaknya " ucap lainnya, membuat para guru yang berjalan beriringan, membentuk barisan jalan tertawa bersama
" kalian ini "
" hati-hati di dengar para siswa "
" kita ini pengajar " ucap Aisyah memperingati para rekan satu profesi dengan dirinya
" kamu tidak tahu saja, Ais "
" belum menjadi isterinya bapak "
" dia sudah bersikap semena-mena " ucap guru lainnya
" iya, ibu Ais "
" apalagi terhadap kami yang guru honorer "
" terhina sekali kami, bu "
" mulut nya itu "
" argh " ucap guru lainnya
" tuh , dengerin tuh, Ais "
" semua orang menahan diri, sejak kepala sekolah diganti dengan bapak "
" semakin aneh aja tingkah laku si Siska "
" para murid didiknya aja sudah pada komplain loh "
" ada NIP aja , makanya bapak tidak bisa berbuat apa-apa "
" kalau di tegur bapak, alasannya inilah itulah " ucap guru lainnya.
" ya udah "
" dia seperti itu, kita diamkan saja "
" nanti dia capek sendiri " ucap Aisyah sedikit innocent dengan perkataan dari Siska yang selalu mencoba-coba mencari kesalahan Aisyah.
Karena Aisyah adalah pengajar tetap, dan memiliki NIP juga seperti dirinya, maka dari itu Siska hanya berani koar-koar memancing keributan, syukur-syukur Aisyah mengajaknya duel, tapi sayang sekali, Siska bertepuk sebelah tangan, karena Aisyah tidak terlalu ambil pusing dengan perbuatan Siska, asal dia tidak mengganggu hal yang menjadi titik sensitif nya Aisyah, yaitu anak-anaknya .
Di salah satu restoran mewah yang jarak tempuh dari tempat Aisyah mengajar cukup jauh. Namun , tidak terasa oleh Aisyah, karena sejak duduk manis di dalam mobil, Aisyah sempat tertidur. Dan sang sopir tidak berani untuk membangunkan Aisyah, karena nyenyak nya Aisyah tertidur. Aktivitas Aisyah bersama para muridnya membuat energi Aisyah cukup banyak terkuras.
Sang sopir memberitahukan kepada orang kepercayaan tuan Idris jika mereka telah tiba, namun sang sopir membiarkan mantan Nyonya tuan Adhitama untuk melanjutkan istirahat nya. Luar biasanya tuan Idris rela menunggu Aisyah terbangun dari tidur nya sendiri, daripada membangunkan mantan menantu yang masih diharapkan nya tetap menjadi menantunya.
Bunyi alarm di ponsel Aisyah membangunkan tidur nya, Aisyah sedikit terkejut setelah dia tersadar jika mobil yang dia tumpangi sedang terparkir sempurna halaman parkir restoran.
" loh "
" bukannya ini, restoran Zhaza " ucap Aisyah, sembari turun dari mobil.
" nyonya " sapa pak sopir
" jangan panggil saya nyonya lagi, pak Karyo " ucap Aisyah dengan sopan.
" maafkan saya, nyonya "
" perintah tuan muda "
" juga perintah tuan besar " ucap bapak sopir pribadi yang menundukkan tubuhnya, dan hal itu juga membuat Aisyah menarik nafasnya dalam-dalam, akan tingkah seenaknya dari keluarga Bhalendra.
Aisyah sudah bertatap muka dengan tuan Idris, bukannya langsung mengatakan tujuan dari pertemuan ini , tuan Idris dengan santainya mengajak Aisyah untuk makan siang.
Demi menghormati tuan Idris, mau tidak mau Aisyah menuruti lagi kemauan dari tuan Idris yang selalu seperti ini, suka sekali memberikan kalimat perintah tanpa mau mendapatkan penolakan, yang juga diwariskan tuan Idris ke anak-anaknya terutama mantan suami Aisyah.
Setelah selesai menyantap menu makan siang mereka dalam diam, tuan Idris akhirnya memulai percakapan dengan intro terlebih dahulu.
" restoran ini "
" adalah milik cucuku , Zhaza " ucap tuan Idris pertama kali membuka percakapan.
" tidak juga"
" awal merintis usaha ini, adalah Zhayn "
" Zhaza hanya meneruskan cita-cita Zhayn "
" untuk memiliki restoran"
" bahkan secara keseluruhan restoran ini, merupakan ide-ide yang ingin Zhayn wujudkan "
" tapi karena keegoisan, keserakahan dan ketamakan orang, membuat Zhayn hanya bisa bermimpi sebelum mewujudkan impian nya "
" padahal saat itu, saya sudah memutuskan bersama anak-anak untuk pergi menjauhi keluarga, Papi " ucap Aisyah yang sudah mengatakan kebenaran dari asal muasal restoran ini berdiri.
Hati tuan Idris terasa tersayat - sayat oleh benda tidak kasat, ketika Aisyah mengucapkan kalimat itu lagi, yang merupakan kesalahan keluarganya, kesalahannya yang tidak mampu mengambil sikap, sehingga harus kehilangan salah satu cucu paling berharga nya, yang dia gadang-gadang akan menjadi sosok pemimpin perusahaan Bhalendra Jaya Group,
perusahaan Hutama Group.
Seperti yang Aisyah katakan, kematian Zhayn merupakan bentuk keegoisan, keserakahan, dan ketamakan keluarga besar Bhalendra, dan kebobrokan Hutama sebagai generasi penerus Bhalendra yang tidak mampu bersikap tegas kepada isterinya pada saat itu.
Yang sudah sangat semena-mena terhadap cucu dan menantu mereka.
*
*
*
*
*
*
*
🌺🌺