
ππππππππππππππ
Masih mengenang kembali kisah masa yang lalu, dimana ingatan Adhitama seakan-akan di tarik kembali ke masa itu, dimana di masa itu dia masih bisa berkomunikasi baik dengan Aisyah.
" Sampai kapanpun, kamu adalah isteri aku, Ais "
" Tidak akan pernah ada kata talak dari aku untuk kamu, dan tidak pernah ada perceraian di antara kita "
" Aku hanya membebaskan kamu meniti jalan yang membuat kamu merasa lebih baik, namun tidak dengan hidup kamu dan anak-anak kita "
" Aku disini, akan tetap berada disini "
Ucap Adhitama menyentuh Aisyah untuk terakhir kalinya
Adhitama segera merengkuh tubuh ringkih Aisyah dengan sangat lama, menyesap aroma tubuh Aisyah yang mungkin akan lama dia rasakan kembali.
" Ais "
" Pulang lah , ketika rasa sakit hati yang kamu rasakan sudah menghilang"
" Aku akan selalu menantikan kepulangan kamu "
" Ini pembuktian dari rasa bersalah aku padamu, bukan aku tidak memperjuangkan kamu "
" Tapi demi kamu, aku memilih untuk kamu mencari kebahagiaan tanpa aku di sana, akan tetapi bukan untuk melepaskan kamu dari aku, dari hidup aku, bukan , bukan untuk itu " ucap Adhitama kala itu. Dan Aisyah hanya terdiam saja tanpa menjawab apa yang Adhitama katakan karena hatinya masih terlampau sakit untuk hanya membalas ucapan Adhitama.
Tanpa Adhitama ketahui, jika hari itu pula lah menjadi hari terakhir perjumpaan Adhitama dengan Aisyah dan anak-anaknya. Karena setelah itu, kematian Zhayn membuat Aisyah membulatkan tekad untuk memilih jalan yang semakin jauh dari Adhitama. Apalagi terjadi peperangan di antara dua keluarga besar. Dimana perang tersebut untuk memperebutkan Zhafira dan Zhidan menjadi bagian keluarga mereka setelah gugatan cerai berhasil diajukan oleh Aisyah di meja peradilan agama.
Kekuasaan keluarga besar Bhalendra lebih besar dari keluarga besar Lesham, namun berkat solidnya dukungan keluarga besar lainnya membuat keluarga besar Lesham mampu mempertahankan Zhafira dan Zhidan tetap bersama keluarga besar Lesham. Dan atas permintaan Zhafira dan Zhidan sendiri juga lah yang membuat mereka berdua menjadi bagian dari keluarga besar Lesham hingga sampai saat ini, sehingga membuat keluarga besar Bhalendra kalah dalam peperangan memperebutkan hak asuh anak.
Sejak saat itu, tuan besar Bhalendra, ayah kandung Adhitama tidak pernah bisa lagi bertemu dengan Zhafira, cucu satu-satunya berjenis kelamin perempuan. Tuan Bhalendra terkadang menangis sendiri, karena rasa rindunya kepada Zhafira, yang sekali lagi sebagai informasi bahwa Zhafira merupakan satu-satunya cucu perempuan yang hadir di keluarga besar Bhalendra. Sedangkan nyonya besar Bhalendra hanya bisa menyesali perbuatannya kala itu, yang membuat hubungan dirinya dengan sang suami menjadi dingin, dan hubungan dirinya dengan anak bungsunya pun tidak pernah sama lagi. Sama seperti sang ayah, Adhitama memilih untuk tidak pernah pulang lagi ke mansion utama keluarga besar Bhalendra.
Dan kini di masa tuanya, nyonya besar Bhalendra merasa hidupnya kesepian, terkadang dia merasa sendirian meskipun sebenarnya dia masih sering mendapatkan kunjungan dari para cucu - cucu lainnya.
Namun masih sangat merindukan sosok Zhafira, yang merupakan satu-satunya cucu perempuan, dimana Zhafira yang selalu sangat memperhatikan semua hal-hal yang terlihat kecil dan remeh bagi orang lain, akan tetapi cukup penting bagi nyonya besar Bhalendra.
Zhafira juga sangat suka sekali bermanja-manja dengan nyonya besar Bhalendra sehingga Zhafira termasuk salah satu cucu yang mampu membuat dirinya bisa tertawa dengan lepas. Tanpa disadari oleh semua anak tuan Bhalendra, jika anak-anak mereka yang merupakan cucu-cucu tuan dan nyonya besar Bhalendra mulai menutup diri terhadap nyonya besar Bhalendra, dan itu hanya bisa dirasakan oleh nyonya besar Bhalendra saja.
Di dalam kediaman tuan besar Bhalendra Masih sering diadakan acara kumpul keluarga besar Bhalendra. Akan tetapi, tidak pernah sekalipun Adhitama datang untuk mengunjungi mansion utama keluarga Bhalendra. Sehingga membuat suasana dalam acara keluarga besar Bhalendra menjadi sangat dingin.
Ditambahkan tuan besar Bhalendra yang tidak pernah lagi datang untuk bergabung dengan anak-anaknya ketika ada kehadiran istrinya di tempat acara. Tuan Bhalendra menjadi sangat dingin dengan isterinya. Namun tidak ada satupun anak tuan Bhalendra yang mampu menasehati ayah mereka, karena apa yang dilakukan oleh ibu mereka memang kesalahan yang fatal, kesalahan yang menyebabkan Adhitama dan keluarga kecilnya menjadi berantakan.
Suara deheman Robi menyadarkan Adhitama untuk kembali ke masa kini, tempat dimana Zhafira masih saja terlelap tidur, yang mungkin masih dalam pengaruh bius, akan tetapi tidak akan lama lagi semua orang akan terbangun karena batas toleransi tubuh dengan pengaruh bius yang Robi berikan tidaklah lama. Bila ingin egois, Adhitama bisa saja tetap berada di sana, dan tetap memeluk tubuh Zhafira dalam dekapannya, dan menyampaikan kepada anak gadisnya, betapa Adhitama sangat menyayangi, dan juga sangat merindukan Zhafira.
" Ikut lah bersama ayah, nak " satu kalimat yang selalu tertinggal di tenggorokannya saja, yang tidak pernah mampu Adhitama ucapkan.
Air mata Adhitama masih saja terus mengalir, tanpa bisa dia hentikan. Rasa rindu ini sangat menyiksa diri nya, ada rasa yang selalu dia tahan, namun setelah berhasil memeluk tubuh sang anak, Adhitama seakan-akan merasa serakah, ingin selalu bisa berada di sisi putri cantiknya ini.
Bukan kah waktu yang sudah lebih dari sepuluh tahun ini sudah cukup sebagai hukuman yang Aisyah dan keluarga besar Lesham berikan kepada dirinya sebagai pendosa. Bukan kah Adhitama sudah sangat bersabar karena rasa bersalah yang dia rasakan. Dan Adhitama juga sudah cukup sabar menunggu sampai Aisyah memaafkan kesalahan dirinya.
Mau sampai kapan lagi Aisyah akan menghukum dirinya, Adhitama sudah tidak sabar lagi menantikan kebebasannya untuk dapat bersama keluarga kecilnya lagi, bisa bertemu, memeluk dan mencium putri dan putra nya yang sudah semakin dewasa.
Adhitama akan segera membuat jalan agar bisa bertemu dengan Aisyah, agar mereka bisa membicarakan kembali tentang mereka, tentang anak-anak, tentang rumah tangga mereka, yang masih diyakini oleh Adhitama , jika dia masih sebagai kepala rumah tangga di dalam keluarga kecilnya.
Adhitama akan melakukan pertemuan dengan Azzam selaku kakak laki-laki tertua di keluarga besar Lesham. Adhitama akan melakukan segala hal sampai tujuan nya tercapai, dan bila keluarga besar Lesham masih tetap tidak menerima dirinya, maka Adhitama mungkin akan melakukan cara yang sedikit lebih keras.
Andai keluarga besar Lesham masih saja memisahkan Adhitama dengan Aisyah, dengan Zhafira, dan juga dengan Zhidan, mau tidak mau Adhitama akan mengibarkan bendera peperangan demi mendapatkan kembali anggota keluarga kecilnya. Adhitama sudah tidak sabar lagi untuk berkumpul, merasakan kembali kehangatan sebuah keluarga yang utuh.
Selama ini Adhitama sudah cukup bersabar. Dan untuk itulah Adhitama harus melakukan gebrakan meskipun akan mengalami peperangan lagi antara dua keluarga besar. yang terpenting bagi Adhitama tujuannya bisa tercapai. Adhitama sudah merasa di titik batas toleransi nya. Apalagi melihat sikap Aisyah yang masih di klaim Adhitama sebagai isterinya, di pertemuan di beberapa waktu lalu, seolah-olah mereka adalah orang lain, dari cara Aisyah memperlakukan Adhitama, dari cara Aisyah menyapa Adhitama, sudah cukup. Adhitama tidak akan menahan diri lagi untuk menampakkan diri di hadapan anak-anaknya, beberapa tahun yang hilang sudah cukup menjadikan batas hukuman orang kepada Adhitama, Adhitama hanya ingin mengambil haknya sebagai seorang suami dan seorang ayah.
" Ayah akan kembali "
" Ayah selalu menyayangi Zhaza "
" Selalu menyayangi kamu, nak " ucap Adhitama yang mulai memberikan kecupan di seluruh wajah Zhafira, tanpa terkecuali.
Mengelus-elus puncak kepala
" Masyaallah "
" Ayah Sungguh-sungguh merindukanmu, nak " ucap Adhitama dengan suara yang sudah parau.
Walaupun dengan berat hati, Adhitama harus segera beranjak dari posisinya yang ada di satu ranjang dengan Zhafira. Mungkin bukan malam ini Adhitama akan menampakkan diri, karena Adhitama hanya merasa takut akan membuat Zhafira merasa terkejut dengan pertemuan mereka yang terkesan tiba-tiba.
Adhitama sudah merencanakan suatu pertemuan yang indah untuk mereka, dan mengantungkan harapan yang sangat besar, Zhafira akan menerima dirinya, tidak akan menolak seperti terakhir kali mereka bertemu, karena pertemuan terakhir kali itu, diwarnai drama yang menyesakan jiwa Adhitama.
" Buatlah pertemuan itu se natural mungkin "
" Aku sudah tidak sabar, mengatakan kepada anakku, jika aku sangat merindukan dia, Robi " ucap Adhitama sembari berjalan meninggalkan ruangan rawat inap Zhafira.
" Baik, tuan " ucap Robi, sembari menundukkan kepalanya
" Aku mempercayakan semua nya kepada kamu "
" Jangan kecewakan aku, Robi " ucap Adhitama yang sudah menghentikan langkah kakinya, dan menatap manik mata Robi dengan serius
" Aku akan selalu setia kepada tuan "
" Demi nama ayah dan ibu aku "
" Terimakasih, Robi " ucap Adhitama menepuk ringan pundak Robi. Lalu meninggalkan ruangan rawat Zhafira, dengan berjalan di koridor yang mengarah ke lift.
Diana terbangun terlebih dahulu dari kedua gadis yang ada di dalam ruangan yang sama. Diana merasakan sakit kepala setelah terbangun dari tidurnya, entah kenapa. Biasanya kalau orang baru saja terbangun dari tidur, tubuh akan terasa lebih fresh. Tetapi malam hari ini Diana merasakan tenggorokannya terasa kering, oleh karena itu Diana segera berjalan menuju dispenser yang terletak di sudut dekat kitchen kabinet.
Diana segera mencuci wajah nya agar sedikit lebih segar. Tidak lama setelah Diana keluar dari kamar mandi, Anggie ikut terbangun, dan merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh Diana.
Anggie lantas segera bertanya kepada Diana, apakah dia merasakan hal yang sama seperti yang dia alami. Diana tentu saja segera menganggukkan kepalanya dengan cepat. Membuat Anggie mengeram menahan rasa kesal. Siapa yang berani melakukan hal seperti ini, apalagi dirinya sudah tidak berada di sisi Zhafira.
Anggie bergegas menuju ruangan rawat inap lainnya yang menghubungkan antara ruangan bagian dalam dan luar suite room.
" Perawat lupa menghidupkan air humidifier di dalam ruangan "
" Sedangkan di bagian depan , Robi sudah menghidupkan air humidifier " ucap Robi yang memilih beralibi dengan ucapannya agar tidak ketahuan yang sudah terjadi beberapa saat lalu. Padahal, pada kenyataannya Robi telah melupakan bahwa segala hal sekecil apapun tidak akan pernah bisa membuat Anggie mudah dikelabui, kecuali atas bantuan tuhan.
" Bukan seperti itu, bang "
" Tuh " ucap Zhafira sembari menunjuk ke arah tempat asap mengepul. Membuat Robi keringat dingin, takut sekali jika perbuatannya diketahui oleh Anggie, apalagi Anggie sudah memicingkan matanya menatap wajah Robi
" Ada diffuser di sana "
" Essentials oil nya sedikit pekat, mungkin karena itu, setelah berada lama di dalam ruangan, membuat tenggorokan kita terasa kering " ucap Zhafira yang mematahkan kecurigaan Anggie. Dan Anggie dengan terpaksa menyetujui pernyataan Zhafira, mungkin ada benarnya ucapan dari Zhafira.
Robi segera menarik nafasnya dengan perlahan-lahan, jangan sampai Anggie kembali mencurigai dirinya lagi.
" Mbak "
" Sepertinya , aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya "
" Lebih baik kita segera pulang " ucap Zhafira menatap Diana, dan tanpa menunggu lama, Diana segera mengurus biaya administrasi.
Namun betapa terkejutnya Diana, ketika dia berada di depan loket pembayaran, seorang petugas yang sedang berada di jam kerjanya berkata jika seluruh biaya perawatan Zhafira telah dibayarkan oleh seseorang. Diana tentu merasa sangat ketakutan, bukan takut dengan Zhafira, akan tetapi takut dengan Anggie.
Untuk sampai di rumah sakit ini saja, seluruh akses keluarga terdekat di tutup, agar tidak terjadi kehebohan, dan ini ada seseorang sudah membayarkan seluruh tagihan perawatan. Dan satu pesan yang disampaikan oleh petugas kasir kepada Diana
" Jika orang yang datang ke loket pembayaran masih mempertanyakan siapa aku "
" Katakan, bahwa aku adalah cinta pertama putri ku " ucap petugas kasir, mengulangi ucapan seseorang yang telah membayarkan seluruh tagihan perawatan medis yang Zhafira dapatkan dari rumah sakit ini. Diana kesulitan menelan saliva nya, karena baru kali ini dia mendengar kalimat yang tidak pernah dia ketahui.
Karena sepengetahuan Diana, bila Aisyah adalah sosok single parent, yang di pikir Diana, jika suami Aisyah telah meninggal dunia. Tanpa sadar Diana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya
" Putri " ucap Diana penasaran. Mungkin nanti akan dia tanyakan langsung kepada Zhafira tanpa Anggie, karena Anggie tidak terlalu suka, bila untuk masalah yang dianggapnya privasi menjadi konsumsi publik. Sepertinya Diana akan mengingat ini dengan baik, agar bisa mendapatkan informasi yang valid. Siapakah ayah kandung dari nona Zhafira nya ini.
" Ada apa ? " Tanya Anggie, melihat ada sedikit risau yang Diana rasakan, sedikit nampak di wajah Diana
" Ah "
" tidak ada apa-apa " ucap Diana untuk menyembunyikan fakta yang baru saja dia ketahui, ternyata Zhafira masih memiliki seorang ayah. Suatu waktu mungkin Diana akan menanyakan tentang ayah Zhafira secara langsung tanpa Anggie, karena Anggie terkenal tidak ingin masalah pribadinya diketahui oleh orang lain.
Diana takut, jika pertanyaan yang diajukan oleh dirinya karena rasa keinginan tahuannya saja akan berakhir tragis, dengan berakhirnya pekerjaan dia sebagai sekretaris Zhafira. Untuk kali ini Diana sudah merasa sudah menemukan pekerjaan dan bos yang baik dari pada pekerjaan sebelumnya.
" Kemana Eva" tanya Zhafira ketika dia baru menyadari jika tidak ada Eva setelah dia tersadar dari tidur nya.
" Oh "
" Dia sudah aku perintahkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa kita selesaikan " ucap Anggie yang sudah bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan.
Begitu pula dengan Diana. Mereka pula sudah mempersiapkan diri untuk pergi meninggalkan rumah sakit setelah Zhafira diperiksa kembali sebelum pulang.
Dokter memberikan semua hal yang patut diketahui oleh pasien dan keluarga pasien agar kasus cidera yang dialami oleh Zhafira bisa cepat pulih sehingga dapat beraktivitas lagi seperti biasanya. Dokter memberikan obat yang harus dihabiskan oleh Zhafira, dan ada juga yang diminum jika perlu saja, ketika rasa nyeri yang terasa sudah mereda tidak lagi nyeri seperti sebelumnya.
Zhafira berjalan dibantu dengan kursi roda yang akan di dorong oleh Ali, namun Anggie segera mencegahnya, membuat Yoyok segera mengambil alih kursi roda, sekali lagi Eva bergerak maju untuk memuluskan langkah Anggie, suasana kembali mencekam membuat Zhafira semakin sakit kepala dibuatnya. Istirahat yang cukup membantu Zhafira merasa lebih baik, kini mendadak semua menjadi sia-sia.
" Mbak " ucap Zhafira memanggil Diana untuk segera mendekati dirinya. Walaupun dengan rasa takut, Diana segera meringsek maju diantara empat orang yang dalam kondisi bersitegang
" Gie " ucap Zhafira yang berhasil menyita perhatian Anggie
" Sudah, cukup mbak Diana saja yang membantu aku "
" Kamu kelelahan, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa " ucap Zhafira agar meluluhkan kekerasan hati Anggie. Dan benar saja, Anggie segera menuruti kemauan Zhafira yang terkesan Zhafira peduli dan sayang dengan Anggie.
Ali terlihat kecewa, akan tetapi tatapan mata Yoyok membuat Ali mengalihkan pandangannya, karena arti tatapan mata Yoyok mengisyaratkan agar Ali lebih mawas diri, jangan terlalu menunjukkan rasa sukanya jika tidak ingin berakhir dengan buruk.
*
*
*
*
*
*
πΊπΊ