
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Atas dasar inilah, Malika tidak pernah dekat dengan anak menantunya, dan pada suatu momen itu dimana Malika mengalami kondisi terpuruknya, semua orang yang selalu memuja memuji Malika, orang - orang yang selalu membuat Malika bahagia, bersenda gurau bersama, hangout dan kegiatan yang menyenangkan Malika lainnya tidak satupun hadir memberikan support semangat kepada dirinya. Bahkan tidak ada siapapun yang hanya sekedar bertanya kabar dirinya apalagi mendekatinya, merangkulnya, dan memberikan cinta kasih.
Hanya beberapa orang itupun para pelayan yang memang melaksanakan tugasnya. Para pelayan pun yang membantu Malika, adalah pelayan yang baru di rekrut semenjak Malika mengalami kelumpuhan.
Sang suami yang selama ini selalu memberikan dia kritik dan saran atas perbuatan buruknya sama sekali tidak pernah mengucapkan satu buah kata pun semenjak Aisyah dan anak-anaknya berpisah dari Adhitama. Jangankan berkata-kata, sekedar datang menjenguk ke kamarnya pun tidak, apalagi untuk bertegur sapa. Idris mendiamkan Malika seperti Malika adalah makhluk tidak kasat mata di hadapannya. Padahal status pernikahan mereka masih terikat sebagai suami-istri.
Oleh karena itu kelumpuhan pada Malika tidak mengalami kemajuan karena Malika kehilangan semangat hidup, Malika juga kehilangan harapan untuk hidup. Bagaimana mau ada semangat, sedangkan tidak ada orang yang support dirinya untuk berusaha sehat kembali.
Malika sudah meminta untuk pemilik nyawa mencabut saja nyawanya secepat mungkin, karena sia -sia saja dia hidup, toh tidak akan ada juga orang yang akan menangisinya ketika dia wafat di dalam benaknya Malika.
" Malika " ucap Idris yang sudah membantu istrinya untuk duduk di kursi roda kembali. Malika hanya menundukkan kepalanya, dia tidak ingin melihat wajah suaminya dalam jarak sedekat ini. Malika terlalu malu, namun terlalu merindukan suaminya yang sudah tidak satu kamar dengan dirinya
" Tama "
" Perbaiki rumah tangga kalian "
" Bukan untuk kalian sendiri, namun ada hati anak-anak dan keluarga yang harus kalian jaga "
" Seperti yang pernah Kakek katakan jika sebuah pernikahan bukan hanya mengikat kalian berdua, namun dua keluarga besar yang menjadi satu dikarenakan sebuah pernikahan "
" Ini juga berlaku untuk kalian berdua Idris "
" Malika "
" Tidakkah kalian berdua merasa malu atas sikap dan tingkah laku kalian "
" Sudah berumur namun pola pikir kalian kalah pada sikapnya dengan anak - anak "
" Sudahi lah sikap kekanak-kanakan kalian " ucap tetua Bhalendra membuat nama yang disebutkan terdiam
" Khusus untuk kamu Malika "
" Bertaubat lah "
" Bukankah, sudah beberapa tahun terakhir ini kamu menikmati hukum tabur tuai yang Allah berikan padamu sebagai pengingat bahwa perbuatan kamu hanya merugikan diri kamu sendiri "
" Daddy tidak menerima kalian di mansion bukan karena Daddy membenci kalian, akan tetapi Daddy meminta kalian berfikir dua kali seandainya kalian mengulangi kesalahan yang sama "
" Daddy pernah mengingatkan kamu untuk tidak mengulangi ,namun apa "
" Kamu semakin menjadi-jadi, bahkan tetua Syekh Ahmad sudah menyerah dengan sikap kamu di luar akal logika itu " ucap tetua Bhalendra membuat Malika sangat malu ketika di forum besar keluarga sikap di masa lalunya di telanjangi seperti ini
" Apakah kamu mau bertaubat kali ini "
" Ataukah kamu masih ingin keras kepala seperti yang sudah-sudah " tanya tetua Bhalendra yang mendapatkan anggukan kepala dari Malika
" Maafkan aku Daddy "
" Maafkan aku " ucap Malika dengan tersedu-sedu menatap bergantian ayah mertuanya dan ayah kandungnya yang di dampingi oleh ibunya yang juga mengunakan kursi roda.
Akhirnya semua orang saling berjabat tangan, dan saling merangkul. Dua keluarga besar ini kembali merajut silaturahmi yang sempat memburuk
" Tama "
" Kamu jangan terlalu senang "
" Ada restu yang harus kamu dapatkan untuk dapat menikahi Aisyah kembali. Walaupun dalam syariat kamu dan Aisyah masih sah sebagai suami-istri, namun kalian tetap harus menikah kembali "
" mintalah restu pada seluruh anggota keluarga Lesham " ucap tetua Bhalendra yang membuat jakun Adhitama naik turun. Bagaimana dirinya bisa meyakinkan beberapa saudara Aisyah, jika beberapa waktu tadi saja terjadi hal buruk.
Tetua kedua keluarga besar ini tertawa, melihat kegalauan Adhitama, yang diikuti oleh beberapa orang yang hadir di sana
" Istriku"
" Ayo kita berjuang bersama demi keutuhan rumah tangga kita " rayu Adhitama
" Kita ? " Ucap Aisyah dengan mengerutkan keningnya
" Kamu saja kali, aku nggak tuh " ucap Aisyah dengan sarkas
" Silahkan kamu raih restu seluruh anggota keluarga aku, begitu pula dengan kedua anakku "
" Maka aku bersedia untuk memperbaiki rumah tangga kita" ucap Aisyah yang menyangka jika Adhitama akan memilih mundur sebelum berjuang. Akan tetapi Adhitama membulatkan matanya tekadnya semakin membara, dengan sumringah Adhitama menuju ke luar ruangan tersebut.
Namun sesaat kemudian, dia masuk lagi
" Bagaimana aku bisa berbicara dengan Abang, Ais "
" Bahkan pintu gerbang Lesham tertutup untukku "
" Setidaknya kamu temani aku, sayang " ucap Adhitama dengan merengek
" Itu, urusan kamu "
" Urusan elo, ngerti " ucap Aisyah yang lagi-lagi bersikap cuek terhadap Adhitama
Setelah beberapa waktu, akhirnya dua keluarga tersebut memutuskan untuk keluar dari ruangan rawat inap Aisyah. Sedangkan Aisyah sudah diperbolehkan pulang oleh dokter setelah dokter memberikan penjelasan. Dokter juga memberikan jadwal bedah estetika untuk luka goresan pada leher Aisyah. Karena khawatir jika anggota keluarga Lesham melihat bekas luka itu maka mereka akan semakin membenci Adhitama, begitu pula dengan Zhidan. Oleh karena itu Aisyah memutuskan untuk membuat goresan luka tersebut di buat sebaik mungkin tanpa bekas.
Aisyah mengatakan jika dirinya akan menginap di rumah teman baiknya saja. Jika pulang ke rumah khawatir jika anak-anaknya mengetahui apa yang menimpanya, begitu pula jika dia memilih pulang ke mansion Azzam maupun mansion Lesham, maka selesailah apa yang dia tutup-tutupi, alangkah baiknya jika dirinya bersembunyi terlebih dahulu sampai lukanya tidak terlihat.
Adhitama mengajukan protes, memaksa Aisyah untuk tinggal bersamanya. Namun Aisyah tetap kekeuh pada pendiriannya. Memang dasar Adhitama si tukang paksa. Adhitama rela isterinya diberikan bius, untuk mempermudah dia membopong tubuh istrinya dan membawa Aisyah ke mansion baru mereka daripada harus bertengkar lagi dengan isterinya.
Menjelang sore, Aisyah terbangun di tempat tidur yang sangat empuk sehingga membuat dirinya nyaman.
Aisyah bangun dari tidurnya, dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket meskipun di dalam ruangan yang memiliki suhu dingin.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Aisyah membersihkan tubuh nya, lalu dia berada di depan meja rias untuk berdandan.
Langkah kaki terdengar di indera pendengaran Aisyah, dengan aroma maskulin khas yang dia tahu siapa pemiliknya
" Aku sudah memberitahukan pada Abang jika untuk satu minggu kedepan kita akan tinggal bersama " ucap Adhitama yang kemudian mengecup puncak kepala Aisyah
" Apa jawaban Abang " tanya Aisyah menatap Adhitama melalui pantulan kaca
" Boleh "
" Asalkan tidak menyentuh isteri ku terlebih dahulu sebelum kita melakukan prosesi akad nikah ulang " ucap Adhitama
" Kalau begitu dimana kamar yang akan aku tempati " ucap Aisyah yang sibuk mengoleskan lotion di lengannya
" Bukankah ucapan Abang sudah sangat jelas kamu dengarkan, kamu belum tuli " ucap Aisyah dengan sarkas
" Iya "
" Abang berkata jangan menyentuh kamu dalam artian meminta itu tuh " ucap Adhitama sedikit tersipu yang membuat Aisyah mengeram kesal melihat tingkah laku malu-malu Adhitama seperti bocah remaja yang baru jatuh cinta
" Itu sudah tahu "
" Yah udah "
" Dimana kamar aku " ucap Aisyah dengan jengah terlalu malas untuk berbicara banyak dengan sintuan pemaksa
" Iya di sinilah kamar kita, sayang " ucap Adhitama tanpa malu
" Jangan katakan jika kita di ranjang yang sama " ucap Aisyah yang sialnya Adhitama mengangguk-anggukan kepalanya pertanda benar tebakan Aisyah. Aisyah langsung mengucapkan kalimat istighfar.
" Kalau begitu, bagaimana bisa kamu menahannya " ucap Aisyah dengan penekanan
" Selama ini aku mampu menahannya. Namun berada di dekat kamu , aku tidak bisa menahannya "
" Namun aku berjanji tidak akan meminta itu " ucap Adhitama dengan malu-malu lagi
" Tidak bisa, aku pergi " ucap Aisyah yang tidak ingin tenggelam dalam buaian kucing garong
" Janganlah, sayang "
" Kita hanya akan satu kasur, kalau kamu tidak percaya kita akan buat batas dengan keimanan yang aku " ucap Adhitama dengan pede namun membuat Aisyah jengah mendengarkan ucapan Adhitama. Kadar keimanan ucap Adhitama dimana Aisyah langsung ingin muntah jika mengingat kadar keimanan yang Adhitama maksud itu hanya setebal tissue yang di bagi dua, yang sama halnya dengan tingkat kesabaran Adhitama.
Baiklah Aisyah hanya diam, dan enggan merespon Adhitama lagi, sampai mereka berdua menyelesaikan makan malam dan kembali ke kamar mereka setelah Aisyah menghubungi anak-anaknya jika Aisyah menginap di rumah sahabatnya. Mau tidak mau anak-anaknya menerima apa yang ibundanya sampaikan. Zhafira juga mengatakan jika dirinya akan berkumpul dengan para sahabatnya besok sore, dan Aisyah menyetujui saja. Lantaran Aisyah mempercayai para sahabat Zhafira yang tidak akan pernah menjerumuskan Zhafira ke arah negatif.
Namun tidak untuk Adhitama yang tidak suka jika Zhafira dekat dengan beberapa sahabat Zhafira apalagi yang berbeda keyakinan dengan mereka. Di sini Aisyah tidak setuju dengan pemikiran Adhitama. Akibat perdebatan pendapat Aisyah yang kadung kesal melemparkan bantal ke arah Adhitama yang membuat Adhitama tergelak. Karena di momen ini, Adhitama merasa seperti mimpi jika yang menjadi lawan debatnya adalah sang istri yang sangat dia rindukan.
Adhitama meraih tubuh Aisyah lalu memeluknya dengan lembut. Adhitama meresapi aroma tubuh yang sangat dia rindukan
" Katakan bila kamu marah "
" Katakan bila kecewa , padaku "
" Jangan pernah kamu meninggalkan aku lagi istriku "
" Demi Allah, dunia aku runtuh. Hidup aku hancur. Lebih baik Allah SWT mencabut saja nyawa ku " ucap Adhitama dengan lirih.
" Di masa lalu, aku sangat marah padamu "
" Aku tidak tahu jika itu sebuah jebakan, sehingga ketika Jessica " ucap Adhitama yang tidak melanjutkan ucapannya ketika respon Aisyah yang sudah di duga oleh Adhitama akan seperti ini jika menyebut nama orang yang sudah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga mereka.
Aisyah berusaha melepaskan diri dari pelukan sang suami, ketika Adhitama menyebutkan nama perempuan yang bukan hanya menyebabkan rumah tangganya hancur, akan tetapi perempuan itu adalah penyebab kematian Zhayn. Walaupun perempuan tersebut sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya, namun tidak bisa menghidupkan kembali putranya
" Jangan pernah sebut nama perempuan yang sudah kamu bela mati-matian di masa lalu "
" Tidak perlu kamu mengingatkan aku tentang dia di matamu "
" Tidak perlu " ucap Aisyah dengan dingin yang kemudian langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk membelakangi Adhitama. Aisyah masih merekam dengan jelas setiap momen pahit di masa lalunya. Tanpa orang - orang terdekat Aisyah ketahui jika Aisyah mengidap insomnia parah. Namun hebatnya Aisyah mampu menutupi penyakitnya ini dengan berpura-pura tidur, atau berpura-pura baru terjaga ketika tidak sengaja berpapasan dengan orang yang ikut terjaga, dan berpura-pura tidur ketika semua orang belum tidur, dan akan kembali terjaga setelah semua orang tertidur.
Secara perlahan-lahan Adhitama memeluk pinggang Aisyah menghimpit Aisyah sampai di sudut kasur sehingga Aisyah tidak memiliki space untuk melarikan diri dari dekapan sang suami
" Ketahuilah "
" Akupun kecewa pada diriku sendiri "
" Aku " ucap Adhitama yang kembali terhenti ketika Aisyah mengucapkan satu kalimat yang membuat Adhitama bungkam
" Hentikan "
" Tolong hentikan, jangan pernah membahas masa lalu yang membuat luka hatiku semakin mengangga "
" Aku memaafkan kalian, namun tidak dengan kenangan yang kalian ciptakan "
" Sungguh jangan memaksakan kehendak kamu kepadaku melebihi batas " ucap Aisyah yang kemudian Aisyah tenggelam dalam tidurnya. Yang saat ini terpaksa tertidur, karena sebelumnya Aisyah menelan obat yang biasa dia konsumsi setelah berhasil meyakinkan dirinya untuk melakukan pengobatannya beberapa waktu lalu ketika dokter memvonis dirinya dengan beberapa penyakit fisik , terutama pada jantung dan otaknya.
Insomnia yang di alami oleh Aisyah termasuk dalam kategori berat. Hal itu terjadi akibat masalah berat yang menimpanya di masa lalu sehingga insomnia Aisyah termasuk dalam insomnia yang diakibatkan post-traumatic stress disorder (PTSD) seperti yang di alami oleh Zhafira dan Zhidan sebelumnya. Yang berbeda adalah Zhafira dan Zhidan sudah melakukan pengobatan sejak awal ketika beban itu baru menimpa mereka sehingga kondisi Zhafira dan Zhidan Alhamdulillah membaik. Namun tidak untuk Aisyah. Aisyah saat itu di tempa menjadi sosok yang kuat, menjadi tameng bagi anak-anak, menjadi tiang bagi anak-anak, sehingga dia tidak memperdulikan kondisi dirinya sendiri.
Sehingga tahun berganti tahun, penyakit Aisyah semakin hari semakin ke arah yang memprihatinkan dari hanya akut, sekarang dinyatakan dalam kondisi kronis. Bahkan obat yang di konsumsi Aisyah beberapa bulan terakhir ditafsir dengan dosis cukup tinggi untuk awal pengobatan. Namun dokter mengatakan jika pengobatan memiliki tingkat keberhasilan yang cukup baik jika Aisyah bisa berobat secara rutin dan teratur, begitu pula dengan pengobatan lainnya yang belum diketahui oleh semua orang termasuk Adhitama.
Namun Adhitama, sudah meminta asisten kepercayaannya untuk menganalisis obat-obatan yang ada di dalam tas Aisyah tanpa diketahui oleh Aisyah. Adhitama sudah memberikan data baik dari nama produk, hingga nama rumah sakit yang menjadi tempat dimana Aisyah melakukan pengobatan. Sudah cukup untuk Adhitama mengetahui riwayat penyakit apa yang di derita oleh sang isteri yang telah disembunyikan oleh Aisyah dari semua orang.
" Maafkan aku " ucap Adhitama tepat di telinga Aisyah. Namun Aisyah tidak merespon lagi, dia sudah tenggelam dalam mimpinya yang tidak berujung. Selalu dan selalu mimpi yang sama jika itu kembali lagi. Inilah yang disebut dengan trauma, karena Aisyah sudah lama tenggelam dalam pikirannya sendiri selama bertahun-tahun lamanya, untuk mengubah itu sangat sulit meskipun sudah di tunjang dengan pengobatan medis.
Aisyah membuka kelopak matanya ketika Adhitama sudah terlelap. Aisyah menyingkirkan telapak tangan yang membelit tubuhnya dengan sangat hati-hati. Lalu Aisyah berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah itu Aisyah membuka pintu balkon kamar. Di sana Aisyah memandangi bintang yang bertaburan menghiasi langit malam. Aisyah bersholawat, mengirimkan doa pada anaknya yang sudah tertidur di dunia yang berbeda dengannya.
Air mata Aisyah tumpah dengan sendirinya. Aisyah sudah merasa lelah dengan hidupnya. Akan tetapi masih harus bertahan karena masih ada anak yang Aisyah urus, ada Zhafira dan Zhidan yang harus dia pikirkan masa depannya. Baiklah mungkin hanya Zhafira saja, karena putrinya ini harus segera dia nikahkan sebelum ajal menjemputnya. Untuk Zhidan, Aisyah sangat yakin jika Zhidan akan sangat patuh pada kakaknya sehingga Aisyah tidak terlalu mengkhawatirkan Zhidan yang kelak akan menjadi kepala keluarga.
Sedangkan Zhafira akan menjadi seorang istri. Sehingga Aisyah harus memilih jodoh terbaik untuk anak gadisnya ini. Tanpa Aisyah sadari jika Adhitama sejak awal sulit tidur, sama seperti dirinya. Hanya saja Adhitama selalu memandangi wajah Aisyah dari kejauhan.
Adhitama sudah tidak bisa menahan diri untuk membiarkan Aisyah terjaga terus seperti ini. Namun bagaimana mengatakan kepada Aisyah jika perilakunya sudah semakin kearah yang mengkhawatirkan.
" Apa yang membuat kamu terjaga, istriku " ucap Adhitama yang sudah melingkarkan kedua telapak tangannya di pinggang sang istri. Adhitama menundukkan kepalanya pada bahu sang istri
" Tidak ada " ucap Aisyah dingin. Aisyah tidak suka jika ada orang lain menanyakan hidupnya
" Di sini udara dingin "
" Kita masuk, yuk " ucap Adhitama dengan lembut, sedangkan Aisyah memejamkan kedua matanya menahan kesal.
*
*
*
*
*
*
*
πΊπΊ