My Darling

My Darling
23



๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Bik Minah, salah satu maid yang sudah lama mengabdikan dirinya bekerja di mansion Azzam mengantarkan menu makan yang entah menu makan siang atau bukan. Karena setelah kejadian pagi hari tadi, Zhafira melewatkan sarapan dan makan siangnya. Sehingga baru siang menjelang sore ini, Zhafira mau untuk mengisi perutnya dengan makanan, dan itupun karena paksaan dari sang adik.


Semangkuk bubur di hadapan Zhafira dengan Zhidan yang memberikan setiap suapannya memastikan bahwa Zhafira menghabiskan bubur atau Zhafira tidak akan menyentuh makanan apapun. Dan Zhidan paham betul kebiasaan sang kakak jika merasa terluka.


" Nanti kakak akan pergi ke resto BR di Jalan S "


" Kakak sudah ada janji bertemu dengan seseorang " ucap Zhafira dengan suara yang tidak se ceria seperti biasanya. Mendengar ucapan sang kakak membuat Zhidan menatap wajah Zhafira dengan tidak suka


" Dengan kondisi kakak seperti ini "


" Tidak " ucap Zhidan yang tidak lagi mempedulikan ekspresi Zhafira yang hendak protes akan ucapan Zhidan


" Zhi "


" Tidakkah menepati janji adalah merupakan sifat orang beriman "


" Dan Setiap janji adalah utang, sedangkan utang itu sendiri harus sesegera mungkin ditunaikan "


" Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa salah satu tanda orang munafik adalah mengingkari janjinya " ucap Zhafira, namun Zhidan masih diam saja, sembari memberikan suapan ke dalam mulut Zhafira. Zhafira berusaha menelan bubur tersebut dengan susah payah, karena dia sangat malas untuk menelan makanan.


" Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah, setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu)., Dalam Qs An Nahl "


" Bahkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu, mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, โ€œBarang siapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia mendapat laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusanโ€ (HR. Bukhari, 1870, dan Muslim, 1370) " ucap Zhafira kembali. Dan kali ini Zhidan tidak bisa berkutik lagi jika Zhafira mengeluarkan hadist sohih. Zhidan menghembuskan nafasnya dengan berat


" Baiklah "


" Aku akan menemani kakak " ucap Zhidan, dan terlihat jika Zhafira hendak melakukan protes, Zhidan langsung mengucapkan kalimat yang membuat Zhafira terdiam


" Aku ikut, atau kakak tidak akan pergi sama sekali " kalimat singkat Zhidan yang menatap tajam ke arah manik Zhafira


Zhafira terdiam, bukan tanpa ide. Zhafira selalu berhasil merayu sang adik, tidak sulit merayu Zhidan yang sangat bucin kepada sang kakak, dan itu juga yang sangat ditakutkan oleh Zhafira jika kelak Zhidan mendapatkan tambatan hati, takut nya Zhidan akan dimanfaatkan jika perempuan itu tidaklah tulus kepada Zhidan.


Zhafira memulai dengan rayuannya. Dia meletakkan tubuhnya di atas pangkuan sang adik, dan memulai aksinya, hal ini Zhafira lakukan karena Zhafira tidak ingin Zhidan bertemu dengan pria yang menghubunginya, entah kenapa perasaan Zhafira tidak nyaman saja bila Zhidan sampai bertemu pria ini, menurut feeling nya.


Dengan terpaksa Zhidan menuruti keinginan Zhafira, setelah bujuk rayunya Zhafira yang selalu berhasil meluluhkan hati adiknya. Sementara itu, Zhafira menyunggingkan senyuman dan memberikan kecupan sayang kepada sang adik.


" kakak akan meminta bang Robi untuk mengantarkan kakak ke lokasi pertemuan " ucap Zhafira


" Nanti di kawal abang Yoyok dan Ali yah, kak "


" Zhizi mengkhawatirkan kondisi kakak yang masih seperti ini " ucap Zhidan


" jangan "


" tidak perlu , adikku , sayangnya kakak " ucap Zhafira yang masih bermanja-manja dengan Zhidan


" Begitu sampai, kakak hanya akan masuk ke dalam resto dan menyelesaikan urusan kakak, setelah itu kakak akan pulang "


" Lagipula menurut kakak, orang itu bukanlah orang jahat, dia terlihat orang yang kaya, tidak mungkin baginya mencelakakan kakak "


" Dia hanya menuntut janji yang telah kakak ucapkan " ucap Zhafira kembali merayu sang adik yang sudah melunakkan hatinya


" baiklah "


" segera pulang, jika urusan kakak sudah selesai " ucap Zhidan


" iya "


" kakak akan segera pulang ke rumah kita " ucap Zhafira


" kenapa seperti itu ? " tanya Zhidan mengernyitkan dahinya


" kakak malu, Zhi "


" Kakak telah menyakiti hati bunda, berada di mansion pakde pula "


" Bukan hanya dikarenakan hal ini diketahui oleh orang lain selain kamu, dan bunda, akan tetapi kakak merasa lebih malu kepada Allah atas kesalahan kakak, yang telah menyakiti hati bunda "


" Kakak "


" hanya ingin berada di rumah kita saja " ucap Zhafira yang sudah tidak mampu menahan laju air mata yang perlahan-lahan mulai turun


Hal itu membuat Zhidan menarik nafasnya dengan berat.


" Kalau seperti itu, Zhizi akan ikut pulang ke rumah kita " ucap Zhidan


" Jangan "


" Jagalah bunda, bunda membutuhkan kamu, dik "


" Jagalah bunda, demi kakak "


" Zhi " ucap Zhafira mendongak menatap manik mata Zhidan. Zhidan yang di tatap seperti itu merasa iba, sekaligus berat. Hati dan perasaannya berporos pada sang kakak, akan tetapi bakti nya kepada sang ibu, dan perintah sang kakak membuatnya terpaksa menganggukan kepala


" Kalau Zhizi di sini "


" Dengan siapa kakak di rumah " ucap Zhidan yang sudah mendekap lembut tubuh sang kakak


" Begitu sampai di rumah, kakak hanya akan berbaring, lagipula besok hari merupakan weekend "


" Jadi, kakak akan lebih banyak beristirahat" ucap Zhafira berusaha menenangkan sang adik


" Kakak meminta kepada kamu, agar kamu tetap di sini untuk menemani bunda "


" Agar Kakak bisa mendapatkan informasi tentang bunda melalui kamu, karena kakak terlalu malu untuk bertanya kepada pakde maupun bude bagaimana kondisi bunda "


" Mau yah, dik " ucap Zhafira dengan penuh harap


Dengan berat hati Zhidan menganggukkan kepalanya, terlalu berat untuk mengiyakan permintaan dari Zhafira, bagaimana pun Zhidan yang pada dasarnya sangat protective kepada Zhafira dalam keadaan biasa-biasa saja, apalagi di saat ini dengan kondisi seperti ini, semakin beratlah Zhidan menyetujui permintaan Zhafira.


Zhafira memang dengan sengaja tidak menyebutkan dengan siapa, dan jenis kelamin orang yang akan ditemui nya. Jangan kan bertemu dengan seorang laki-laki, bertemu dengan seorang perempuan pun, Zhidan akan sangat detail menanyakan identitas nya. Dan Zhafira sangat hafal dengan karakteristik sang adik, oleh karena itu Zhafira meminta Zhidan untuk tidak pergi menemani dirinya bertemu dengan pria yang dia lupa ada kepentingan apa, dan janji apa yang diucapkan oleh dirinya.


Untungnya Zhidan cukup kooperatif hari ini, apalagi Zhafira mengatakan jika dirinya ingin menyendiri, sendirian menyelesaikan permasalahannya dengan orang yang akan ditemuinya, dan sendirian dalam menentukan apa yang akan dia lakukan atas permintaan sang ibunda.


Waktu pertemuan yang sempat tertunda dikarenakan mengingat kondisi tubuh Zhafira dan kondisi hati Zhafira yang masih dalam suasana tidak baik. Sehingga membuat pertemuan dengan pria tersebut menjadi ba'da magrib, dimana sebelum magrib Zhafira sudah meminta Robi untuk mengantarkan dirinya menuju tempat tujuan.


Penampilan Zhafira malam ini terlihat biasa saja, namun seperti biasanya Zhafira akan selalu terlihat cantik dan bersahaja dengan mengenakan pakaian apapun, katanya jika bayi terlilit tali pusar akan selalu seperti itu, terlihat pantas mengenakan apapun, untuk hal ini allahualam bisawwab, yang pasti untuk Zhafira selalu terlihat menarik.


Seperti cerita sebelumnya, jika Zhafira pernah menghadiri sebuah acara, dimana Zhafira mengunakan busana yang bukan dari desainer ternama dunia, maupun merk ternama. Zhafira hanya mengenakan produk lokal , handmade dari desainer tanpa nama, yang merupakan adik-adik asuhnya dan beberapa orang yang memang memiliki ilmu di bidang itu yang baru saja merintis karir di dunia mode dan sudah tentu di fasilitasi oleh Zhafira dengan mendukung adik-adik asuhnya dan orang-orang yang dinilai Zhafira memiliki potensi besar di dunia mode dan fesyen.


Dan untuk malam hari ini Zhafira telah memilih mengenakan overall putih yang ada embroidery nya ber motif bunga, di padupadan dengan blouse polos berwarna pink coral berlengan panjang dimana pada bagian tangan memiliki aksen bell sleeve , dan untuk hijab yang dikenakan oleh Zhafira disesuaikan dengan warna yang cocok dengan pakaian yang dia kenakan.


Sedangkan untuk penunjang penampilan lainnya Zhafira mengenakan jam tangan, dan cincin bermahkota berlian yang merupakan hadiah dari Zhayn di jari manisnya sebelah kanan, yang selalu dia pakai semenjak Zhayn menyematkan cincin tersebut, dan itu juga dimanfaatkan Zhafira sebagai ciri khas jika dia sudah menikah. Sedangkan di jari manis sebelah kiri Zhafira tersematkan cincin yang bermahkota Ruby yang merupakan hadiah dari Zhidan di ulang tahunnya beberapa tahun silam.


Zhafira menatap pantulan wajah nya di cermin meja rias. Pada bagian matanya masih terlihat membengkak khas jika seseorang menangis lama. Zhafira berusaha menutupi dengan riasan, namun masih terlihat sembap di area sekitar bola mata. Mau tidak mau, Zhafira akhirnya memutuskan untuk mengenakan kacamata yang berukuran besar jenis kacamata capung.


Suasana mansion Azzam begitu sangat hening, para penghuni mansion seperti nya berada di kamar masing-masing, atau sedang menikmati weekend mereka dengan kegiatan masing-masing. Zhafira yang berdiri di depan pintu kamar Aisyah, hanya terdiam mematung. Zhafira terdiam, dengan sejuta pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya, hingga Zhafira memilih untuk berlalu pergi dari depan kamar Aisyah tanpa meminta izin. Zhafira masih terlalu sedih karena menjadi penyebab ibunda tercinta nya tersakiti hatinya.


" bunda "


" Zhaza izin untuk pergi sebentar "


" Zhaza akan langsung pulang ke rumah kita " ucap Zhafira dengan lirih, bahkan nyaris tidak terdengar. Sedangkan Zhidan yang sejak dari tadi mengekori tubuh Zhafira terlihat menahan kesedihannya.


" pergilah kak "


" nanti Zhizi yang akan menyampaikan pesan kakak kepada bunda "


" dan INGAT ! jangan pulang larut malam "


" jika urusan kakak sudah selesai segeralah pulang ke rumah dan berikan Zhizhi kabar kakak " ucap Zhidan sambil menggenggam telapak tangan kakaknya sembari berjalan menuju lobby utama mansion nya Azzam.


Mobil yang akan membawa Zhafira menuju ke lokasi pertemuan sudah berada di depan lobby mansion nya Azzam, Robi telah memarkirkan kendaraan roda empat milik Zhafira di depan mansion utama Azzam sebelum Zhafira tiba. Robi pun menyambut kedatangan Zhafira dengan membuka pintu bagian tengah untuk Zhafira masuki, dan hal itu membuat Zhafira menggerutu karena Zhafira tidak suka jika Robi bersikap formal bila tidak dalam posisi menyambut klien atau acara besar yang diwajibkan orang-orang bekerja dengan tupoksi nya.


" Lain kali, seperti biasa saja, bang "


" Lagipula ini bukan arah menuju ke kantor "


" Atau menuju ke arah acara pertemuan bisnis, dan acara formal lainnya "


" Zhaza tadi kan sudah bilang, jika Zhaza hanya akan bertemu seseorang saja " ucap Zhafira dengan sedikit rasa kesal, terlihat dari cara bicara Zhafira yang sedikit memberi tekanan pada bibirnya sehingga terlihat sedikit berkerut


" baik, nona " ucap Robi sambil tersenyum kecil, merasa begitu bahagia dengan teguran yang terkesan seperti perhatian kepadanya


Di dalam perjalanan, Zhafira bermonolog dengan dirinya sendiri. Bertanya kepada dirinya sendiri, apakah salah dengan pemikirannya, dan benar pemikiran sang ibu. Apakah dirinya bisa bahagia dengan pernikahan, Tapi bagaimana dengan hatinya, dengan goresan luka terpendam yang sangat membekas. Apakah dia harus melepaskan prinsipnya, tekadnya demi kebahagiaan sang ibu, atau kah bertahan dengan apa yang dia yakini. Bisakah sang ibu memahami keinginan nya, dan ataukah dia sendiri yang harus melepaskan keinginan dirinya.


Ataukah prinsipnya akan mengalahkan keinginan sang ibunda, atau dia yang meletakkan prinsipnya demi keinginan sang ibu. Benar yang diucapkan oleh Zhidan, jika baik Zhafira maupun Aisyah membutuhkan ruang dan waktu untuk sendiri, untuk mengintrospeksi diri sendiri agar bisa memilih yang terbaik untuk orang terkasihnya.


Robi beberapa kali melirik ke arah belakang, melalui center spion atau spion bagian tengah mobil. Tidak biasa nya Zhafira bersikap seperti ini. Karena biasanya Zhafira mengajak Robi bercerita membuka obrolan apa saja yang menarik untuk mereka bahas, namun kali ini tidak, Zhafira hanya memandangi siluet jalanan ketika mobil melintasi jalanan.


Setelah sampai di tempat tujuan, Robi memanggil Zhafira yang masih melamun menatap keluar jendela mobil. Kemudian Robi kembali memanggil Zhafira ketika tidak ada pergerakan dari Zhafira. Dan kali ini Zhafira tersentak dari lamunannya. Setelah tersadar dari lamunannya Zhafira meminta Robi untuk meninggalkan dirinya. Ada terbesit ragu di hati Robi untuk meninggalkan Zhafira dalam kondisi seperti ini, namun sekali lagi Zhafira meminta Robi untuk meninggalkan dirinya. Melihat Zhafira yang seperti ini membuat Robi mengiyakan saja permintaan Zhafira. Padahal kenyataannya secara diam-diam Robi mengikuti Zhafira melalui ReMix yang merupakan GPS yang di-implan ke dalam tubuh Zhafira yang berbentuk chip wireless mini sehingga segala pergerakan Zhafira akan diketahui oleh Adhitama. Dan Robi memiliki akses itu, karena Robi lah orang kepercayaan Adhitama yang dipercaya untuk melindungi Zhafira.


Yang tanpa diketahui oleh Adhitama jika Robi telah melabuhkan hatinya kepada Zhafira semenjak Robi mengetahui semua aktivitas Zhafira, kecuali ranah pribadi, dan yang sangat pribadi. Apalagi ketika malam tiba, suara merdu Zhafira sering sekali melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang menyentuh qalbu, secara perlahan-lahan Robi memperbaiki ibadah yang diwajibkan dan disunnahkan syariat Islam yang mencerminkan seorang mukmin yang beriman dan bertaqwa kepada Allah pemilik alam.


Kondisi Zhafira yang masih tidak baik-baik saja, dimana kondisi kaki nya yang terkilir, masih terasa sakit, terlihat ketika Zhafira belum melepaskan elastis perban yang masih setia berada di lokasi yang terkilir. Kondisi lambung nya yang bermasalah , dimana Zhafira masih enggan untuk makan , dan hanya sanggup menelan beberapa suap bubur yang Zhidan berikan. Belum lagi suasana hati nya yang tidak baik-baik saja, sehingga besar kemungkinannya jika Zhafira bisa jatuh sakit kapan saja.


Zhafira memang tidak mengunakan tangan tongkat yang membantunya berjalan, karena Zhafira membiasakan kaki nya untuk bisa berjalan agar melatih kaki nya yang terkilir untuk bisa berfungsi seperti semula. Zhafira bukan tipe perempuan manja, sehingga meskipun terasa sakit, Zhafira memaksakan diri agar terlihat baik-baik saja.


Tapi tidak pula Zhafira memaksakan diri secara berlebihan. Buktinya Zhafira berjalan dengan perlahan-lahan mengikuti ritme berjalan yang tidak seperti biasanya Zhafira lakukan. Sehingga untuk kali ini, Zhafira memperlambat langkah kakinya, namun terlihat seolah-olah gaya berjalan nya seperti perempuan pada umumnya. Kalau menurut cara berjalan Zhafira biasanya, maka Zhafira bisa berjalan lebih cepat, karena waktu sangat berharga baginya.


*


*


*


*


*


*


*


๐ŸŒบ๐ŸŒบ