My Darling

My Darling
73



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di area ruangan depan yang masih merupakan bagian ruangan rawat inap Zhafira, sudah berdiri Zhidan yang menatap nyalang Yoyok dan Ali yang berdiri sembari menundukkan kepala mereka. Tidak lama kemudian tanpa aba-aba Zhidan mengamuk dengan menghantam tubuh Ali dan Yoyok secara bergantian karena merasa jika Yoyok dan Ali lalai dalam menjalankan tugasnya dan juga menduga jika keduanya tidak mengindahkan ucapannya selain dari kata lalai dalam tugas karena Zhidan pernah mengatakan bagaimanapun kondisinya, jika Zhafira dalam mode on keras kepala mereka berdua harus bisa mengintimidasi Zhafira untuk menurut pada mereka, dengan ancaman pun tidak mengapa karena segala resiko kemarahan Zhafira akan ditanggung oleh Zhidan. Dan Zhafira tidak akan pernah berani jika itu berurusan dengan Zhidan karena Zhafira tahu jika berurusan dengan Zhidan akan lebih merepotkan lagi.


Zhidan kembali lagi menghantam tubuh Yoyok dan Ali secara bertubi-tubi yang diperlakukan Zhidan layaknya samsak membuat tubuh keduanya sudah terasa seperti jelly. Zhidan yang hendak melayangkan bogem mentah nya kembali pada Ali yang sudah bersimbah darah, tersentak kaget ketika Zhafira segera bertindak dengan menjadi tameng bagi Ali yang membuat Zhafira terjatuh dengan tiang infus ikut terjatuh pula. Gerakan yang tidak terarah itu membuat tiang infus terjatuh abstrak dengan jarak yang sedikit jauh dari Zhafira yang membuat jarum infus terlepas dari punggung telapak tangannya Zhafira sehingga membuat luka robek cukup besar pada punggung telapak tangan yang secara otomatis darah segar keluar dari pembuluh darah vena yang sejak awal menjadi jalur masuknya cairan infus ke dalam tubuh Zhafira. Pembuluh darah vena itu terbuka dan robek yang tentu saja dalam kondisi terluka membuat darah segar itu berceceran di lantai dan dimana-mana ketika Zhafira bergerak.


Suara teriakkan dari beberapa pengunjung lainnya ditambah darah segar berceceran di lantai dan dimana-mana membuat suasana semakin mencekam di dalam kamar perawatan super VVIP ini. Melihat kondisi Zhafira dengan mata kepalanya sendiri seperti ini tanpa sadar Kenzie menendang tubuh Zhidan ketika Zhafira tersakiti dan pelakunya adik kandung kekasih hatinya sendiri, kemudian Kenzie berteriak histeris ketika melihat kondisi Zhafira semakin memburuk, membuat tim medis yang berada di nurse station segera bergerak masuk ke dalam ruangan untuk segera membantu Zhafira dan menyelamatkan Zhafira.


Yang menyebalkannya lagi dalam kondisi seperti ini Zhafira masih lebih mengkhawatirkan orang lain, adiknya. Dengan pandangan yang sudah buram, Zhafira melihat Zhidan yang sudah menyeka sudut bibirnya yang sedikit robek akibat hantaman yang Kenzie berikan pada sang adik. Tanpa memperdulikan kondisinya sendiri, Zhafira yang berusaha berdiri dengan bantuan Kenzie malahan menjangkau sang adik yang terjatuh dilantai dengan luka memar dan menanyakan kondisinya, padahal kondisinya sendiri jauh lebih memprihatinkan daripada kondisi orang lain.


Zhafira mencoba mengangkat tubuh Zhidan dengan menggumamkan kalimat - kalimat menenangkan sang adik. Di sela usahanya ternyata kondisi Zhafira sudah semakin melemah, nafasnya sudah semakin menipis meskipun Zhafira berusaha bernafas dengan baik. Terlihat sekali wajah Zhafira yang memucat namun sekali lagi di sisa kesadarannya, Zhafira masih meminta Zhidan untuk tenang.


Melihat kondisi Zhafira seperti ini, tanpa ragu Kenzie segera menggapai tubuh Zhafira untuk masuk dalam dekapannya dengan menepis tangan Zhafira yang melemah memegang lengan sang adik, dan benar saja Zhafira sudah kesulitan bernafas di sisa-sisa kesadarannya, tanpa menunggu lama, Kenzie kembali meneriaki dokter untuk segera memberikan Zhafira bantuan medis. Dokter memberikan oksigen, dengan cepat sembari membawa tubuh Zhafira kembali ke atas ranjang pasien, dokter mulai memeriksa kondisi pasien, sedangkan perawat membubarkan para pengunjung, yang menyisakan para tim medis saja agar penanganan lebih fokus.


Kenzie yang sejak awal mendampingi Zhafira sama sekali tidak beranjak dari sisi Zhafira membuat dokter mengabaikan Kenzie dan melakukan tindakan medis yang dibutuhkan Zhafira saat ini.


" Bagaimana dengan bahunya, dokter ? " Tanya Kenzie khawatir, karena sempat terjatuh, takutnya kondisi cidera pada bahu Zhafira kembali bergeser.


Dokter spesialis ortopedi yang dihubungi oleh dokter juga hanya bisa menggaruk kepalanya saja karena kalimat Kenzie ini sebenarnya buruk. Kalau saja Zhafira ini bukan orang penting, dan para pengunjung Zhafira ini bukannya petinggi rumah sakit, sudah dari sejak awal masuk dokter spesialis ini sudah ceramah agama. Namun sudahlah, nasi sudah jadi bubur, dokter hanya berkata


" Jangan sampai terjadi lagi, pak "


" Kasihan nona Zhafira nya. Kalau semakin memburuk, bukan keluarga yang merugi, akan tetapi nona Zhafira nya, kalau sampai itu terjadi, resiko amputasi, apakah kalian mau itu terjadi " ucap dokter spesialis ini dengan hiperbola agar semua orang pengunjung Zhafira mendengarkan kalimatnya ini sebagai peringatan terakhir, jika Zhafira memang separah itu, jangan sampai ada benturan lagi. Padahal tanpa melakukan operasi, cidera Zhafira masih bisa teratasi dengan masa pemulihan yang jauh lebih lama namun minim resiko bagi beberapa orang yang parno terhadap prosedur operasi yang menjadi pilihan tercepat.


Akan tetapi jika terus- menerus seperti ini, bisa jadi, dokter akhirnya memutuskan untuk operasi saja jalan cepatnya. Karena pemilihan pun membutuhkan waktu yang tidak sedikit.


Zhidan hanya menundukkan kepalanya ketika dialah sumber kekacauan ini kembali terjadi. Sumber kesakitan Zhafira, yang padahal Zhafira harusnya mendapatkan ketenangan dan perawatan. Azzam memberikan tepukan pada bahu Zhidan agar Zhidan jangan terlalu dalam merasa bersalah.


Akan tetapi Azzam tetap memaksa Zhidan untuk segera pulang, namun Zhidan bersikukuh untuk tetap berada di sini. Dan berakhir pada sebuah kesepakatan yang harus disetujui oleh Zhidan, jika tidak Zhidan tidak akan mendapatkan akses bertemu Zhafira sampai Zhafira selesai masa perawatan di rumah sakit.


Azzam peduli dengan keresahan dan ketakutan yang dirasakan oleh Zhidan. Akan tetapi jika perilaku Zhidan dibiarkan begitu saja, lama kelamaan akan semakin menjadi - jadi. Perlu diberikan peringatan keras agar Zhidan tidak mengulangi kembali perbuatannya yang suka sekali melepaskan atau meluapkan emosi yang berujung menyakiti Zhafira, dan selalu membuat Zhafira terluka ketika harus menenangkan Zhidan.


Sedangkan Adhitama dan Aisyah selaku orang tua hanya terdiam saja tidak berani menegur perilaku Zhidan yang diluar batas seperti ini. Takut membuat polemik lainnya. Jangan sampai fokus mereka terbagi, cukup fokus pada kesembuhan Zhafira saja, untuk Zhidan biarkan urusan Azzam dalam soal menasehati dan memperingati nya. Saat ini hanya Azzam lah yang bisa diandalkan dalam hal itu. Karena orang lain percuma saja, Zhidan seperti buta dan tuli ketika orang lain menasehatinya apalagi jika yang menasehatinya Aisyah atau Adhitama yang jelas-jelas orang yang sudah tidak sama sekali Zhidan pedulikan lagi.


Siti, Amanda dan Ibrahim hanya mengamati pertikaian, bukan tidak mau ikut campur. Untuk Siti, dia sudah yakin jika sang suami akan menjadi penengah karena Zhidan hanya akan patuh padanya setelah Zhafira, sedangkan Ali dan Yoyok sudah Siti selamatkan dengan membawa kedua pemuda ini keluar dari ruangan dan meminta tim medis untuk memeriksa kondisi keduanya. Bila perlu medical checkup sekalian, karena Zhidan bersungguh-sungguh menghukum keduanya.


Untuk Ibrahim dan Amanda, karena mereka adalah orang luar, bukan bagian anggota keluarga Lesham dari permasalahan keluarga ini, hanya terpekur tanpa mempertanyakan satu pertanyaan pun, tanpa merespon apapun saat pertikaian itu terjadi kecuali saat tubuh Zhafira terpental cukup jauh dengan tiang infus yang ikut terjatuh cukup jauh dari tubuh Zhafira yang terjatuh di lantai. Ibrahim segera menahan tubuh istri nya yang hendak memberikan pertolongan pada calon menantunya yang ternyata kalah cepat dari gerakan Kenzie. Sekali lagi, Ibrahim menekankan pada istrinya jika poin penting mereka datang kesini tujuannya untuk melihat kondisi calon istri putra mereka, calon menantu yang sangat mereka inginkan, itu saja. Amanda memandang sendu Zhafira dengan kondisi seperti ini masih saja mengalami hal buruk seperti ini. Amanda juga merasa prihatin dengan kondisi Zhafira yang bukannya membaik, malah berakhir seperti ini , andaikan saja Zhafira sudah menjadi istrinya Kenzie. Sejak awal Amanda pasti menyembunyikan Zhafira dari orang-orang menyebalkan ini, terutama sang adik Zhafira yang suka sekali meledakkan emosinya tanpa lihat situasi dan kondisi sang kakak.


Setelah memastikan kondisi Zhafira stabil dan baik-baik saja. Dokter dan tim medis lainnya meninggalkan ruangan, dan memberikan pesan agar para pengunjung tidak membuat keributan lagi karena kondisi pasien yang membutuhkan ketenangan selama dia beristirahat.


Kenzie yang masih betah duduk di samping ranjang pasien mengamati wajah damai Zhafira, dan tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Tautan itu semakin hangat, berkali-kali Kenzie mencium punggung telapak tangan Zhafira. Besar sekali harapan Kenzie untuk segera menikahi Zhafira. Bukan lagi perkara taruhan pada para sahabatnya, bukan lagi karena rasa obsesi atau rasa semu, ini murni rasa yang tumbuh dengan sendirinya.


Kenzie telah memantapkan hati untuk segera melamar Zhafira dalam tempo yang secepat- cepatnya, dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.


Apa yang terjadi ? " Tanya Anggie yang membuat semua orang kembali memilih bungkam daripada salah bicara. Bukan rahasia umum, bagaimana over protective Anggie terhadap Zhafira. Jika sosok pria yang over protective terhadap Zhafira adalah Zhidan, maka sosok perempuannya adalah Anggie.


Mereka bagaikan tangan kanan dan kiri Zhafira yang siap melakukan apa saja demi Zhafira, menghancurkan siapa saja yang menyakiti Zhafira. Oleh karena itu, semua orang terdiam jangan sampai terjadi lagi perang dunia, cukup drama tadi sore saja, jangan sampai terulang kembali malam hari ini.


Drama telah diselesaikan, dibuat selesai begitu saja agar tidak ada lagi yang mengetahui tragedi dan insiden yang terjadi beberapa waktu lalu termasuk Anggie. Namun, mata elang Anggie dapat membaca keresahan orang yang berada di sini. Baiklah jika orang-orang ini tidak mau bicara, Anggie akan mencari tahu sendiri dengan memindai keseluruhan area ruangan perawatan Zhafira, bahkan Anggie memindai tubuh Zhafira dengan sangat intens, sampai Anggie melihat keanehan dimana shoulder sistem yang dikenakan oleh Zhafira sudah berubah warna dari warna sebelumnya. Walaupun banyak sekali stok untuk alat bantu ini dengan berbagai macam warna dan merk yang berkualitas tinggi. Akan tetapi, penggunaan shoulder abduction brace ini sedikit mencurigakan bagi Anggie apalagi ketika tubuh Zhafira mendapatkan lebam baru yang membuat Anggie mengeryitkan dahinya. Dan ketika melihat selang infus telah berpindah ke sisi tangan Zhafira yang lainnya. Bahkan punggung telapak tangan Zhafira yang sebelumnya di pasang selang infus tertutup perban yang cukup lebar dari bekas jarum infusan, ada yang terjadi ? Tanya Anggie dalam batinnya


Meskipun tidak berhasil menjawab di otak cerdasnya, Anggie bisa memahami jika sesuatu yang buruk sudah terjadi tanpa Anggie ketahui apa penyebab mengapa hal itu bisa sampai terjadi. Baiklah Anggie tidak akan tinggal diam kali ini. Sudah cukup dia mengalah sejak sedari malam karena memahami posisinya bukanlah anggota keluarga inti, akan tetapi Anggie tidak dapat memungkiri perasaannya yang sudah diambang batas toleransi.


" Biarkan aku saja yang akan menjaga Zhaza " ucap Anggie yang membuat semua orang mengiyakan karena mungkin itu adalah solusi terbaik saat ini. Zhidan yang hendak protes dibungkam oleh tatapan Azzam yang membuat Zhidan menundukkan kepalanya. Azzam tidak pernah mengungkapkan marahnya dengan cara meledak - ledak, namun tatapan mata Azzam mampu membuat lawan takut, termasuk Zhidan yang saat ini menjadi sosok yang Azzam tuju.


Mau tidak mau, Zhidan harus pulang ke rumah. Namun, di tengah malam Zhidan kembali ke kamar rawat inap Zhafira untuk tidur disini. Untuk apa dia pulang ke tanah air, jika tidak bersama sang kakak. Di ruangan bagian depan yang tidak menganggu Anggie dan Zhafira sama sekali. Zhidan rela tidur bersama Yoyok, Ali, dan kedua bodyguard yang ikut menunggu Zhafira.


Perawat jaga sampai menggelengkan kepalanya melihat banyak sekali orang yang menemani Zhafira. Namun, dia tidak bisa protes karena pasien penghuni kamar ini merupakan anak, cucu, dan cicit pemilik rumah sakit.


Keesokan harinya, Yoyok dan Ali bersimpuh di hadapan Zhidan. Namun Zhidan ikut berlutut di hadapan keduanya takut jika sampai sang kakak marah padanya karena telah bersikap kurang ajar pada Ali dan Yoyok. Mereka laki- laki sehingga berusaha untuk tidak akan menangis di depan pria lain karena sangat memalukan. Namun mata mereka terlihat berkaca-kaca ketika menyampaikan permintaan maaf masing-masing. Yoyok dan Ali memahami tindakan impulsif Zhidan akibat rasa khawatirnya yang terlalu tinggi. Di sinilah Yoyok menjelaskan kronologis kejadian dini hari kemarin yang membuat Zhafira sampai dirawat inap kembali. Zhidan terdiam saja, karena sang kakak terkadang memang sering kali bersikap sembrono dan ceroboh.


Setelah hari pertama di rawat Zhafira dipenuhi keluarga Lesham, dan kolega. Maka hari kedua anggota keluarga Bhalendra satu persatu berdatangan, bahkan yang berada di negara lain pun tiba. Membuat direktur rumah sakit beserta dewan direksi harus ikut turun tangan menyambut tuan besar Bhalendra yang lebih tepatnya tetua Bhalendra sebelumnya yaitu Sultan Bhalendra. Dan Zhidan memilih untuk tidak menemani Zhafira karena terlalu malas bertemu dengan keluarga besar Bhalendra.


Sedangkan untuk Zhafira, dia tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan para anggota keluarga Bhalendra yang sok kenal dan sok dekat padanya. Entah itu tulus atau itu hanya pencitraan saja di hadapan sang kakek.


Idris Bhalendra mencurahkan isi hatinya ketika melihat kondisi Zhafira untuk pertama kali pertemuan mereka yang sempat terputus karena memang Aisyah tidak mengizinkan pihak keluarga Bhalendra untuk berada di radius yang ditetapkan saat itu, atas dasar demi keamanan Zhafira, karena kematian Zhayn salah satu penyebabnya adalah adanya unsur kesengajaan dari salah satu oknum anggota keluarga Bhalendra yang bekerjasama dengan perempuan yang di mendapatkan dukungan Malika.


Idris masih mendekap tubuh kecil Zhafira karena rasa rindunya yang luar biasa. Sebesar apapun Zhafira tetaplah balita di mata Idris. Sang ayah, Sultan Bhalendra hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah laku putra menyebalkan nya ini. Akan tetapi jangan pernah menanyakan dimana istrinya Idris karena sudah pasti jawabannya tidak akan pernah bisa menampakan wajahnya di hadapan satu orang pun anggota Lesham, akibat dosa masa lalunya dan hal itu sudah disepakati setelah mereka melakukan pertemuan yang memilih jalan damai yang bersyarat. Kecuali jika Zhafira mengizinkannya, maka perjanjian itu akan terkesan sia- sia saja walaupun inkrah dalam hukum. Oleh karena itu beberapa sepupu Zhafira berjuang untuk mendapatkan pengampunan itu dengan mendekati Zhafira yang ternyata sesulit itu. Barisan barikade dari pelindung Zhafira sangat ketat, mulai dari ibu, adik, bodyguard, bahkan Azzam pun ikut sebagai orang yang tidak akan memberikan akses Malika mendekati Zhafira.


Hal itu dikarenakan Zhafira sangat pemurah, dan pemaaf, takut hal itu akan dimanfaatkan oleh orang-orang licik seperti mereka, termasuk Malika. Namun untuk Idris, merupakan pengecualian sore hari ini apalagi setelah Idris berlutut di hadapan menantunya yang ingin diberikan izin bertemu cucu perempuan satu- satunya yang dimiliki keluarga Bhalendra.


*


*


*


*


*


*


🌺🌺