My Darling

My Darling
18



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Suara detak jam pada jam tangan yang Daniel kenakan, seakan-akan terdengar nyaring bunyinya, seketika suasana langsung saja terasa senyap. Daniel merasakan kerongkongannya terasa kering ketika dia tidak mampu mengatakan berita selanjutnya yang mungkin akan membuat Ibrahim marah besar. Bagaimana pun sikap Darren, pemuda itu tetap lah anak yang meskipun bukan terlahir dari rahim isterinya tuan Ibrahim.


" Dan "


" tuan muda Darren saat ini berada di rumah sakit " ucap Daniel. Mendengarkan ucapan Daniel membuat Ibrahim sangat terkejut. Bukan karena apa-apa. Darren memiliki kemampuan beladiri yang cukup mumpuni.


" Siapa yang sudah berhasil melukai putra aku ! " Ucap Ibrahim dengan dingin, membuat Daniel terdiam ketika raut wajah Ibrahim yang sudah berubah seperti ini


" Sahabat nona Zhafira, tuan " ucap Daniel dengan hati-hati


" Iya "


" siapa dia " ucap Ibrahim yang sudah geram akaan tindakan sahabat dari Zhafira


" Nona Anggie "


" Putrinya tuan Steven Clarke " ucap Daniel dengan menundukkan kepalanya. Ibrahim yang mendengarkan ucapan dari Daniel sangat terkejut akan berita yang disampaikan kepadanya.


" Putri ? " Ucap Ibrahim


" Putrinya Steven ? " Ucap Ibrahim tidak percaya dengan apa yang dia dengar, sehingga mengulangi kembali ucapan dari Daniel, dan mendapatkan anggukkan kepala dari Daniel


" Oh "


" Ya Allah " ucap Ibrahim yang langsung menekan pelipis nya yang terasa berdenyut


" Untung saja hanya nona Anggie yang bergerak "


" Karena saat itu, nona Zhafira sedang terluka pada kakinya "


" Sehingga tidak terjadi pertarungan yang lebih parah "


" Lagipula tuan muda Darren cukup beruntung terlepas dari maut "


" Karena nona Zhafira yang telah berhasil menghentikan nona Anggie yang saat itu akan menghabisi nyawa tuan muda Darren " ucap Daniel yang kembali menjelaskan hal yang terjadi


" Akan tetapi sepertinya kita akan mendapatkan kabar baik nya , tuan " ucap Daniel dengan menyunggingkan senyuman devil


" Tuan Kenzie pasti memanfaatkan hal tersebut untuk menjerat nona Zhafira " ucap Daniel. Dan Ibrahim menganggukkan kepalanya


" Aku menyukai gadis itu untuk menjadi menantu aku "


" Tolong berikan gadis itu perlindungan "


" Aku tidak ingin Kenzie berada di luar batas nya ketika dia menginginkan sesuatu, dia pasti akan berusaha mendapatkan nya meskipun dengan cara kotor sekalipun "


" Aku tidak ingin bermasalah dengan keluarga besar Lesham "


" Aku berhutang nyawa pada Azzam "


" Untuk itu, awasi pergerakan dari Kenzie " ucap tuan Ibrahim dengan serius. Tuan Ibrahim sudah tidak berselera untuk menghabiskan minuman ketika mendengarkan berita terakhir.


" Tolong antarkan aku ke rumah sakit tempat Darren di rawat inap saat ini " ucap Ibrahim yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


Dan gerakan Ibrahim diikuti oleh Daniel. Mereka berdua segera bergegas menuju ke rumah sakit tempat dimana Darren di rawat inap.


Daniel segera mengurus biaya administrasi di bagian kasir restoran mewah ini, dan selanjutnya segera masuk ke dalam mobil mewah tuan Ibrahim yang sudah duduk di kursinya.


" Rahasia kan hal ini dari isteri ku "


" Bagaimana pun nakal putranya, Amanda akan merasa sedih jika melihat kondisi Darren " ucap Ibrahim dengan wajah sedih


" Seberapa parah kondisi Darren ? " Ucap Ibrahim lagi. Karena Ibrahim sangat tahu bagaimana kemampuan dari keluarga Clarke dalam melindungi diri mereka dari musuh, ataupun memghabisi nyawa musuh nya. Daniel tidak menjawab pertanyaan dari tuannya, dan memilih diam, agar tuannya melihat langsung kondisi dari Darren yang beberapa waktu lalu mengalami kekerasan.


Ibrahim meminta Daniel untuk membelikan beberapa camilan dan makanan untuk Darren, siapa tahu tengah malam Darren akan kelaparan. Sampai akhirnya mobil mewah Ibrahim terparkir sempurna di lobby rumah sakit. Ketika Ibrahim, Daniel, dan beberapa orang lainnya turun, sang sopir melanjutkan menepikan mobil mewah Ibrahim ke area tempat parkir rumah sakit.


Bertepatan dengan tuan Ibrahim akan masuk ke dalam lift menuju ke suite room yang berada di lantai atas, seorang pria keluar dari lift.


" Tama " ucap Ibrahim, yang melihat jika orang yang berpapasan dengannya adalah sahabat lamanya. Suara sapaan itu membuat Adhitama menghentikan langkah kakinya


" Ibra " ucap Adhitama yang terkejut jika ada orang yang masih bisa mengenali dirinya yang sudah memakai masker menutupi wajahnya yang masih tampan.


" Apa kabar kamu, Tama " ucap Ibrahim dengan basa-basi, bagaimana pun buruk nya Adhitama di masa lalu, Ibrahim tidak pernah menghukum Adhitama akan perbuatannya yang pasti sudah sangat disesalkan oleh Adhitama itu sendiri.


" Not bad " ucap Adhitama menyambut uluran tangan dari Ibrahim


" Siapakah yang sedang kamu kunjungi ? " Ucap Ibrahim yang harus menjalin hubungan silaturahmi yang baik, karena beberapa waktu ke depan, Adhitama akan menjadi besannya


" Putri ku " ucap Adhitama cepat


" Maafkan aku, Ibra "


" Aku terburu-buru "


" Kita akan melakukan pertemuan di lain waktu "


" Sekali lagi mohon maafkan aku " ucap Adhitama merasa tidak enak, karena dirinya memang harus pergi ke suatu tempat saat ini juga karena asisten pribadi tuan Bhalendra mengabarkan bahwa isteri tuan besar Bhalendra sedang dirawat inap di rumah sakit yang cukup jauh dari tempat Zhafira di rawat inap sekarang.


" Oke "


" Baiklah "


" aku akan memberikan kabar kepada kamu atau asisten pribadi kamu, untuk waktu dan tempat pertemuan kita yang akan datang " ucap Ibrahim


" Iya "


" Pasti akan aku hadiri pertemuan kita, insyaallah "


" Ibra " ucap Adhitama yang sudah berjalan terburu-buru.


" Tuan " ucap Daniel membuat atensi tuan Ibrahim ke arah Daniel


" Artinya, nona Zhafira berada di tempat yang sama dengan tuan muda Darren " ucap Daniel.


" Awasi gerak gerik Kenzie "


" Aku menjadi penasaran apa yang akan Ezie lakukan kepada putri Adhitama " ucap Ibrahim yang sudah menggelengkan kepalanya


Langkah kaki tuan Ibrahim, beserta rombongannya membuat semua orang yang berjaga di depan ruangan super VVIP, atau suite room rumah sakit itu segera mengalihkan perhatiannya kepada rombongan tersebut. Kemudian menundukkan kepalanya ketika melihat kedatangan Ibrahim dan para rombongannya. Dan bertepatan dengan itu, asisten pribadi Kenzie baru saja keluar dari dalam kamar rawat inap Darren. Dawn agak kesulitan menelan saliva nya


" tu - tuan " ucap Dawn yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi lebih lanjut. Karena jika berkata jujur akan mempengaruhi kerja nya, jika berkata bohong akan mempengaruhi nyawanya. Karena tidak ada yang selamat dari Ibrahim jika ternyata orang tersebut berbohong.


Dawn hanya bisa pasrah ketika dihadapkan dengan tuan Ibrahim, mungkin setelah ini Dawn memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai asisten pribadi Kenzie. Ternyata bekerja dengan orang seperti ini bukan hanya mendapatkan cuan yang besar, ada tanggung jawab yang besar juga yang harus ditanggung oleh para pejuang cuan, termasuk dirinya.


Tuan Ibrahim masuk ke dalam ruangan suite room tempat dimana Darren di rawat inap. Wajah Darren dipenuhi luka lebam, dan dibeberapa bagian tubuh sudah nampak membiru. Serta di pinggir bibir yang nampak pecah. Ibrahim sangat terpukul dengan keadaan Darren. Sedangkan Darren masih betah terlelap tidur karena tubuhnya meminta hak untuk diistirahatkan.


" Daddy " ucap Darren ketika dia baru saja terbangun setelah terlelap begitu nyenyak.


Berbeda dengan sang ibu, Darren terkadang masih suka bermanja-manja, kecuali jika ada adik bungsunya, maka mereka semua termasuk Ibrahim harus rela mengalah dari bocah itu.


" Kamu haus ? " Ucap Ibrahim ketika melihat Darren sedikit terbatuk-batuk. Dan Darren menganggukkan kepalanya saja sebagai pertanda jika memang dia membutuhkan air mineral.


Ibrahim membantu Darren untuk minum. Dan memang sudah terlalu larut malam, membuat Darren kelaparan, karena setelah dia di bawa ke rumah sakit, Darren terlalu malas untuk makan, yang dia inginkan hanyalah beristirahat saja. Namun ternyata setelah tidur nya cukup, saat ini perutnya menagih haknya untuk segera diisi makanan.


Dengan telaten Ibrahim mengurus putra angkatnya ini. Membuat Darren kian terharu. Dan mengalir lah cerita bagaimana kronologis sampai dia harus di rawat inap di rumah sakit ini. Suara dering ponsel Ibrahim memberikan tanda bahwa ada panggilan masuk dari sang isteri.


Darren tahu jika sang ibu tidak diberitahukan kondisinya saat ini, ditakutkan kondisi sang ibu yang akan jatuh sakit, karena sang ibu memiliki riwayat hipertensi. Mau tidak mau Ibrahim harus segera pamit pulang ke mansion utama dan berjanji jika esok hari Ibrahim akan datang berkunjung.


Darren tidak masalah dengan itu, yang terpenting baginya adalah dia diberikan fasilitas terbaik, dan makanan kesukaan sudah ayah nya berikan. Begitu pula Kenzie yang telah berjanji memberikan dia motor sport yang diidamkan oleh Darren, karena rasa bersalah Kenzie, yang sore hari itu tidak membantu Darren dalam pertarungan dengan Anggie.


Darren hanya merasa malu , karena dirinya dikalahkan oleh seorang perempuan. Tapi mau bagaimana lagi, kemampuan perempuan itu di atas kemampuannya, sehingga sangat wajar jika Darren sampai babak belur seperti ini. Darren hanya tidak ingin sampai bertemu kembali dengan Anggie, karena rasa malunya masih saja membekas di relung hati nya yang paling dalam.


Ibrahim berjalan ke arah keluar suite room rumah sakit. Senada dengan gerakan Ibrahim, di depan ruangan suite room Darren beberapa orang juga keluar menuju arah lift yang sama.


Seorang perempuan cantik yang memakai hijab tengah duduk di kursi roda, satu kakinya terbungkus oleh elastis perban yang di dorong oleh seorang perempuan yang lebih dewasa. Perempuan berhijab itu memberikan seulas senyuman manis di wajah cantiknya. Ibrahim membalas senyuman itu dengan ramah.


Karena lift yang digunakan sama, sedangkan orang yang menunggu antrian lift banyak membuat Zhafira meminta untuk Ibrahim segera masuk terlebih dahulu daripada dirinya. Namun tanpa di duga Ibrahim juga memberikan Zhafira untuk segera masuk ke dalam lift.


Yang pada akhirnya, Ibrahim dan mantan asisten pribadi Ibrahim, yaitu Daniel masuk ke dalam lift, diikuti oleh Zhafira dan Diana, sedangkan yang lainnya menunggu antrian selanjutnya.


Daniel membisikkan sesuatu di telinga Ibrahim membuat Ibrahim melebarkan pupilnya sembari menatap ke arah Zhafira. Sedangkan Zhafira yang tanpa sadar menolehkan wajahnya ke arah Ibrahim kembali memberikan senyuman ketika manik mata mereka bersibobrok.


" Kenapa kaki nya, nak ? " Sapa Ibrahim membuka percakapan


" Oh "


" Hanya terkilir saja, pak " ucap Zhafira dengan hangat


" Sekarang bagaimana ? "


" Masih terasa sakit " ucap Ibrahim kembali


" Hm "


" Tidak terlalu sakit, pak "


" Saya sudah minum obat pereda nyeri juga sih, mungkin karena itu, tidak terlalu nyeri seperti sebelumnya " ucap Zhafira lagi menimbali ucapan Ibrahim


" Kita belum berkenalan "


" Saya Ibrahim " ucap Ibrahim memperkenalkan diri untuk lebih menarik simpatik dari Zhafira


" Oh "


" Perkenalkan Saya Zhafira, pak "


" Senang berkenalan dengan bapak " ucap Zhafira menangkupkan kedua telapak tangannya sembari menundukkan kepalanya. Melihat respon dari Zhafira membuat Ibrahim tersenyum, inilah calon menantu idamannya, yang bisa menjaga kehormatannya dengan tidak bersentuhan dengan orang selain mahramnya.


" Kamu mau pulang bersama Daddy "


" Nanti Daddy akan mengantarkan kamu pulang sampai ke rumah dengan selamat " ucap Ibrahim yang membuat Zhafira, bahkan Diana mengernyitkan dahinya


" Daddy ? " Tanya Zhafira dan Diana di dalam batinn mereka masing-masing


" Oh "


" Terimakasih, pak "


" Sudah ada abang, lagipula sudah banyak orang yang mengantarkan saya pulang "


" Hm "


" Terimakasih atas tawaran bapak, mungkin lain kali saja " ucap Zhafira dengan sopan menolak ajakan dari Ibrahim. Penolakan dari Zhafira membuat Ibrahim kecewa. Tapi kata lain kali yang diucapkan oleh Zhafira membuat Ibrahim bersemangat untuk mewujudkan kesempatan mereka untuk bertemu kembali. Karena lain kali yang Zhafira ucapkan memiliki arti jika Zhafira memberikan kesempatan mereka untuk bertemu kembali, dan itu akan dimanfaatkan oleh Ibrahim sebaik mungkin.


" Baik "


" Jika Lain kali "


" Jangan menolak ajakan dari Daddy yah, nak " ucap Ibrahim dengan senyuman


" Hm "


" Iya "


" Insyaallah, jika Allah berkenan mempertemukan kita kembali, pak " ucap Zhafira yang hanya sekedar basa-basi, namun ditanggapi serius oleh Ibrahim


" Ok "


" Lain kali, tanpa penolakan " ucap Ibrahim penuh semangat.


" Iya " ucap Zhafira dengan lempeng, karena Zhafira berfikir tidak akan lagi pernah bertemu dengan bapak yang usianya kurang lebih seumuran dengan Azzam.


Mereka berpisah di depan lobby rumah sakit, karena mobil Ibrahim lebih dahulu tiba di drop zone lobby rumah sakit. Ibrahim masuk ke dalam mobil mewahnya dengan penuh senyuman. Ada bahagia dan juga sedih di hari ini. Namun, kesedihan yang dirasakan oleh Ibrahim tidak terlalu buruk, Darren masih dalam keadaan baik-baik saja, hanya terluka, tidak sampai mengalami patah, dan cidera serius lainnya.


Sedangkan akibat dari tragedi itu, membuat Ibrahim memiliki kesempatan untuk mendapatkan calon menantu idamannya dan juga idaman isterinya. Ibrahim tidak sabar untuk segera pulang dan memberikan berita bahagia kepada isterinya.


Jika Ibrahim terlihat sangat bahagia, maka tidak berlaku dengan Zhafira. Karena Zhafira menganggap pertemuan itu seperti pertemuan biasa saja yang berjumpa dengan orang baru dia kenal, mengajak bercerita dengan tema biasa yang tidak memberikan kesan spesial.


Apalagi ketika Anggie dan Ali yang sibuk dengan pertengkaran mereka, membuat Zhafira lupa akan tema dan topik pembicaraan yang baru saja terjalin dengan Ibrahim. Zhafira hanya fokus agar Anggie tidak lagi melanjutkan pertanyaan yang membuat mereka akan mengalami masalah, itu saja yang terpenting di dalam pikirannya Zhafira.


Sampai dimana perjalanan mereka yang mengantarkan Diana dan Eva terlebih dahulu pulang ke kediaman mereka masing-masing. Perjalanan dilanjutkan dengan rute perjalanan menuju ke mansion utama keluarga Clarke. Zhafira tidak dibiarkan oleh Anggie untuk turun, karena Zhafira akan sedikit kesulitan ketika naik lagi ke dalam mobil.


Zhafira meminta kepada Anggie untuk menyampaikan salam sapa kepada tuan Steven dan isterinya, dikarenakan Zhafira akan melanjutkan perjalanan kembali menuju ke kediaman Azzam. Dan Anggie segera masuk ke dalam mansion utama keluarga Clarke agar Zhafira tidak berlama-lama lagi , karena hari juga sudah sangat larut malam untuk ukuran Zhafira yang terbiasa pulang dibawah pukul delapan malam.


Zhafira kembali tertidur di dalam mobil mewahnya, karena pengaruh obat, dan juga karena aktivitas harian nya yang cukup berat hari ini. Dua pria dewasa yang masih lajang, sibuk mencuri-curi pandang pada Zhafira yang sudah terlelap dalam tidurnya. Yoyok hanya pura-pura tidak tahu perbuatan dari sahabat seprofesi dengan dirinya. Serta sang sopir yang masih cukup muda , mungkin seusia dengan Ali.


Hanya saja Robi lebih good looking daripada Ali yang warna kulitnya sedikit eksotis, khas warna kulit asia, sedangkan Robi lebih ke warna kulit putih dengan wajah khas Pakistan. Bukan itu point penting nya, karena mau pria itu tampan seperti apapun, nona Zhafira nya ini tidak berkeinginan menikah, tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis.


Itulah mengapa Yoyok merasa miris ketika mengetahui bahwa rekan satu profesi nya ini menyukai nona Zhafira. Karena rasa cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan saja. Tidak akan pernah bersambut kecuali atas izin Allah.


*


*


*


*


*


*


*


🌺🌺