My Darling

My Darling
38



πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Zhafira tersenyum ketika Maxwell menyambut Zhafira keluar dari dalam mobil, dimana Maxwell meletakkan salah satu tangannya diatas pintu mobil agar Zhafira tidak terantuk ketika turun. Zhafira mengucapkan terimakasih, namun Robi yang melihat itu segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


Zhafira merasa senang, ketika Maxwell mengajaknya untuk makan di akringan , tempat biasa mereka makan saat Zhayn masih ada. Bagaikan sebuah kolase nostalgia dari pengalan - pengalan kisah lalu, ketika Zhafira memandangi setiap sudut bagian tempat akringan yang selalu menjadi tempat favorit mereka ketika mendapatkan upah dari kerja part time, secara mereka masih terlalu muda untuk bekerja full time.


Syukur-syukur masih ada orang yang berbelas kasih memberikan mereka pekerjaan untuk mendapatkan uang.


" Abang masih ingat tempat ini " ucap Zhafira dengan mata berkaca-kaca


" Pasti lah " ucap Maxwell sembari mengelus-elus puncak kepala Zhafira. Karena di hati Maxwell,rasa cintanya tulus sebagai seorang Abang ke adiknya.


Maxwell juga mengingat Zhayn, karena dirinya juga ikut pada fase itu, dimana mereka sama-sama bekerja part time untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bekerja di banyak tempat dari yang jualan koran di persimpangan lampu merah, jualan asongan, semir sepatu, sampai mereka menjadi sales produk semua mereka kerjakan demi mendapatkan cuan. Mereka anak-anak berbakti yang tidak ingin membebani ibu mereka yang single parents.


" Hm "


" Abang mau pesan apa " tanya Zhafira sembari melihat - lihat menu yang tersaji.


" Seperti biasanya " sahut Maxwell, dengan cepat Zhafira menyebutkan kepada penjual apa yang ingin mereka pesan, Zhafira juga memesan menu untuk Robi setelah menanyakan apa yang ingin Robi pesan


" Ck "


" Jangan mau satu menu dengan Zhaza, Bi " ucap Maxwell yang mendapatkan pelototan mata Zhafira


" Syirik aja, Abang "


" Jangan didengarkan seloroh bang Maxi, bang " ucap Zhafira sembari melototkan kedua bola matanya yang indah. Maxwell tertawa lepas melihat ekspresi wajah Zhafira yang terlihat menggemaskan, namun bagi Robi terlihat menggoda.


Robi berkali-kali memalingkan wajahnya ke arah lain


" Bang, lihatin apa sih dari tadi "


" Kearah sana melulu " tanya Zhafira yang kemudian akan memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya, namun tidak sampai karena Maxwell telah merebut suapan tersebut, yang membuat Zhafira melayangkan tepukan di bahu Maxwell. Maxwell yang menerima tepukan protes hanya menyunggingkan senyuman saja. Yang kali ini membuat orang yang baru saja tiba di sana melayangkan tatapan tajam ke arah mereka berdua


" Bagus "


" Rupanya seperti ini, kalian enak-enak makan "


" Meninggalkan kami " ucap Rasyid yang baru saja tiba di tempat setelah Maxwell memberikan alamat, yang lebih tepatnya search lock tempat tujuan mereka.


" Yah "


" Tinggal pesan saja, kenapa sih "


" Repot amat hidup kamu " sahut Maxwell ketika mendengar protes dari Rasyid


" Noh "


" Lihat tuh Zhizi saja sudah pergi ngantri untuk memesan "


" Bukan seperti kamu yang dari tadi protes melulu " ucap Maxwell lagi, yang membuat Rasyid menoleh ke arah yang Maxwell tunjuk, tanpa ba bi Bu Rasyid segera meluncur ke arah Zhidan yang sedang memesan menu.


Mereka makan khas penduduk pribumi+62, makan sembari sesekali bercerita, padahal mereka berdua sudah hampir tidak pernah melakukan hal tersebut ketika berada di negara tempat mereka meniti karier.


" Woi "


" Ngomong - ngomong "


" Bumbu masakan yang kamu pesan muncrat nih " protes Rasyid, namun bukannya memperbaiki cara makannya Maxwell memasukkan makanan tersebut langsung ke mulut Rasyid


Dan hal tersebut membuat Zhafira tidak bisa menghentikan tawanya. Kedua Abang nya ini jika sudah bertemu pecah lah sudah, tidak ada sikap ja'im - ja'im yang biasa mereka berdua tunjukkan kepada orang lain. Zhidan pun tersenyum melihat tingkah laku abang-abang angkat nya ini.


" Merem telur "


" Diam aja kamu dari tadi, Zhi " ucap Rasyid


" Iya nih "


" Diam aja "


" Dia lagi hitung harga saham , bang " seloroh Zhafira


" Harga gituan di pikirin sih, Zhi "


" Cabe nih, di hitung'in biji nya " seloroh Rasyid yang membuat Maxwell mengemplak kepala Rasyid yang berucap konyol


" Ngapain hitung biji cabai "


" Nih bulir nasi ada berapa yang ada di piring Abang " seloroh Maxwell yang membuat Zhidan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua Abang nya yang seperti bocah


Baik Rasyid maupun Maxwell tidak henti menggoda Zhidan dengan banyak hal, terkadang Zhafira pun tidak luput dari ghibah'an mereka berdua membuat menjadi suasana hangat. Bahkan Robi yang ikut diajak untuk bergabung pun, turut menjadi bahan ghibah'an kedua Abang Zhafira dan Zhidan.


Mereka tetap asyik makan bersama tanpa peduli jika di sekitar mereka memperhatikan kehangatan mereka, bahkan beberapa perempuan mencuri-curi pandang pada tiga pria tampan ini. Sedangkan untuk Kenzie yang saat ini yang berada di dalam mobil hanya memandangi wajah Zhafira yang tertawa lepas ketika berada di tengah-tengah saudara-saudaranya.


" Bukankah Zhafira tidak pernah berdekatan dengan pria "


" Mengapa dengan santainya pria Bangs* itu berkali-kali terlihat merangkul Zhafira " ucap Kenzie yang tersirat cemburu


" Bisa-bisanya Zhafira membiarkan saja tubuhnya di sentuh seperti itu "


" Heh "


" Banyak orang mengatakan jika dia tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki "


" Bullshit " ucap Kenzie lagi-lagi pria dingin ini menampilkan sorot wajah yang tampak terlihat cemburu


" Wanita sama saja "


" Pergi dari sini " ucap Kenzie yang sudah memalingkan wajahnya ke arah lain.


Sang sopir tidak berdaya, hanya menjalankan tugasnya saja, sedangkan seorang asisten kepercayaan Kenzie hanya menggaruk dahinya yang tidak gatal. Jika boss nya sudah bersikap seperti ini, percuma saja memberikan penjelasan apapun. Tunggulah sampai emosi Kenzie mereda, baru dia akan menjelaskan siapakah kedua pria yang berada di samping Zhafira.


Lagipula Kim sudah mengirimkan foto kedua pria tersebut untuk di analisa, dan diselidiki biodata tentang kehidupan mereka berdua. Karena kedua pria ini luput dari perhatian Kim. Seseorang yang dihubungi oleh Kim segera melaksanakan tugasnya seperti biasanya, Kim hanya memberikan dia waktu hanya beberapa jam, dan tidak lebih, yang artinya Kim akan segera mengetahui identitas dari kedua pria yang terlihat akrab dengan Zhafira.


Kalaupun pria-pria ini orang asing. Mengapa Zhidan tidak memberikan reaksi ketika seorang pria menyentuh Zhafira, walaupun hanya sekedar mengelus-elus puncak kepala Zhafira, mencubit pipinya Zhafira, dan merangkul bahu Zhafira. Sangat aneh, menurut Kim. Sehingga Kim memiliki kesimpulan bahwa kedua pria ini masih anggota keluarga mereka.


Kenzie melangkahkan kakinya menuju ke tempat biasa jika Kenzie dan beberapa sahabat nya berkumpul, dengan berbagai topik pembicaraan. Kenzie membutuhkan minuman yang bisa sedikit mengurangi perasaan kesalnya. Kim hanya mendesah pasrah ketika melihat tingkah laku boss nya yang sudah jauh dari ajaran agamanya.


Beberapa sahabat Kenzie yang telah tiba lebih dahulu, menyambut kedatangan Kenzie dengan menyajikan makanan dan minuman yang haram bagi Kenzie. Akan tetapi Kenzie tidak peduli dengan semua itu.


Pembicaraan berlanjut, sampai tiba salah satu sahabat Kenzie melemparkan map, yang disusul oleh semua sahabat Kenzie yang bergabung malam ini di ruangan private salah satu bar dan lounge terkenal di kota ini. Reaksi Kenzie hanya terdiam tanpa berkomentar ketika semua bahan taruhan di letakkan di atas meja.


" Sekarang apa yang menjadi barang taruhan jika kamu tidak berhasil mendapatkan permata Bhalendra " ucap salah satu sahabat Kenzie yang paling berani menyuarakan pendapatnya


Hanya dengan kode, Kenzie memerintahkan Kim untuk menilai barang taruhannya. Kim menyebutkan total barang taruhan yang ternyata melebihi harga taruhan mereka selama ini, bahkan satu orang sahabat Kenzie mempertaruhkan salah satu mansion di negara yang terkenal dengan harga rumah biasa saja sangat mahal, dan ini mansion dengan ukuran tanahnya luar biasa besar.


Kenzie semakin merasa tertantang untuk memenangkan pertarungan judi ini. Kenzie mengatakan barang-barang apa yang akan dia pertaruhkan. Beberapa menyunggingkan senyuman, untuk kali ini Kenzie royal dengan apa yang dia pertaruhkan, sehingga membuat beberapa orang meletakkan beberapa lagi barang taruhan. Sehingga telah ditetapkan batas waktu yang disepakati oleh semua orang, dan untuk pertama kali ini, semua orang sepakat untuk membebaskan Kenzie dari waktu akhir, hanya saja Kenzie harus bisa menaklukkan hati perempuan yang menjadi barang taruhan mereka. Dengan syarat Kenzie harus bisa menikahi dan menikmati malam pertama dengan Zhafira dan membagikan kisah malam pertama bersama Zhafira kepada mereka semua. Yang nauzubillah min dzalik semoga saja Zhafira terjauhkan dari mara bahaya yang akan menimpanya.


Kim yang mendengarkan isi pembicaraan ini hanya mengepalkan tangannya dengan erat, menahan perasaan yang entah kenapa untuk pertama kalinya Kim merasa jika perbuatan sang tuan kali ini sudah melampaui batas. Namun Kim yang sudah bersumpah untuk tunduk di bawah perintah Kenzie hanya bisa terdiam, walaupun di sudut hatinya yang paling dalam terasa sakit ketika wanita sebaik Zhafira dijadikan bahan taruhan.


Hari berganti hari, dimana Rasyid dan Maxwell masih memutuskan untuk tetap berada di negara ini untuk satu minggu kedepan. Segala urusan telah mereka limpahkan kepada asisten kepercayaan mereka masing-masing.


Sedangkan untuk untuk orang-orang di kediaman keluarga Abrisham, lebih tepatnya Amanda yang sejak kedatangan Kenzie ke kediaman mansion utama Abrisham semakin merasa sangat bahagia ketika sang putra mengatakan ingin menjadikan Zhafira sebagai isteri nya


Malam itu juga, Amanda memaksakan kehendaknya kepada sang suami untuk menceritakan semua hal mengenai Zhafira. Yang pada akhirnya Amanda terisak-isak mendengarkan kisah tentang kehidupan Zhafira di masa lalu, tentang bagaimana perjuangan Zhafira untuk sampai pada titik ini, berjuang tanpa meminta bantuan kepada Lesham. Padahal sang Paman selalu siap untuk membantu mereka secara finansial. Akan tetapi Zhafira tidak ingin memanfaatkan kesempatan itu, karena saat itu Zhafira berkata bahwa saat- saat seperti inilah yang kelak akan Zhafira rindukan, yaitu saat-saat berjuang dalam keterpurukan, sehingga ketika datang masa bosan, rasa muak dalam kelebihan, masa ini akan menjadi pengingat betapa sulitnya bangkit dalam keterpurukan. Masa berjuang dalam melawan ketidakadilan dunia. Walaupun pada kenyataannya, masih ada peran Azzam dalam proses tumbuhnya perusahaan Aisyah, hanya saja hal itu tidak diketahui oleh Aisyah maupun putra-putri Aisyah.


Azzam salut dengan kegigihan adik kesayangannya, serta para keponakannya dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Terkadang ketika keponakannya dari saudara- saudari Azzam mengeluh maka setiap itulah juga Azzam akan menceritakan betapa hebatnya anak-anak Aisyah dalam berjuang hidup diatas kakinya sendiri. Begitu pula jika anak- anaknya Azzam mulai bertingkah maka Azzam akan memulai ceramahnya yang berisikan tema perjuangan kedua keponakannya dalam menerjang kerasnya hidup, yang sudah tentu berisi kalimat yang membanggakan Zhayn dan juga Zhafira.


Azzam bersikap seperti ini bukan karena tidak mau membantu saudara yang sedang dalam kesusahan, bukan itu. Akan tetapi Azzam memberikan gambaran kehidupan, agar tidak gampang menyerah, dan berputus asa, berusahalah dengan keras untuk bangkit dari keterpurukan. Karena benar yang dikatakan oleh Zhafira jika datang masa kita terlalu terlena, terbuai oleh kenikmatan semu maka akan ada masa lalu sebagai pengingat.


Agar kita tidak lupa diri, tidak tinggi hati, selalu meletakkan setiap nikmat sebagai rasa syukur atas karunia Allah SWT dengan cara mensyukuri setiap nikmat itu. Bagaimana caranya mensyukuri nikmat- nikmat itu, yah dengan banyak hal, terutama berbagi kenikmatan tersebut dengan sesama manusia, berbagi kenikmatan tersebut dengan yang membutuhkan.


Amanda yang masih setia membaca setiap lembaran Curiculum Vitae pada identitas pribadi Zhafira terus saja berderai air mata yang ternyata pernah menjadi kandidat calon menantu yang diberikan oleh Ibrahim kepada Amanda. Sayangnya pada waktu itu, jangankan di baca, menolehkan mata pun tidak Amanda lakukan begitu pula dengan Kenzie yang terlihat cuek sangking banyaknya CV perempuan sebagai kandidat calon menantu Amanda dan calon istri Kenzie.


Kalau Kenzie tidak memperdulikan CV perempuan - perempuan yang menjadi kandidat calon istri dikarenakan terlalu banyak, terlalu muak melihat wajah-wajah perempuan yang dipoles cantik, dan terlalu bosan pula, apalagi Kenzie sudah tidak tertarik kepada namanya perempuan. Sedangkan untuk Amanda hal itu dikarenakan sangking banyaknya perempuan yang menjadi pilihan, sampai-sampai Amanda tidak tahu lagi yang mana nama dan yang mana wajah perempuan itu, yang paling penting bagi Amanda adalah Kenzie mau diajak untuk bertemu dengan perempuan yang akan dikenalkan kepada Kenzie, serta Kenzie tidak akan bersikap buruk, itu saja.


Itulah kenapa Curiculum Vitae tentang Zhafira tergeletak begitu saja di atas tumpukan CV lainnya, namun Ibrahim menyimpan CV itu dengan baik pada lemari di ruangan kerja Ibrahim yang berada di mansion keluarga Abrisham dikarenakan menurut Ibrahim hanya Zhafira dari keturunan Lesham yang dia inginkan untuk menjadi menantu di keluarga Abrisham.


Kembali ke hari , dimana Aisyah sudah memboyong semua anak-anaknya kembali ke rumah milik Aisyah. Rumah yang tidak terlalu besar, dan tidak juga mewah ini, yang hanya memiliki empat kamar tidur yang tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil. Tidak pula memiliki bathtub berukuran besar, yang hanya berukuran kecil saja, cenderung bulat, sehingga ukuran kamar mandi tidak terlalu besar juga. Sehingga pemanfaatan lahan dengan optimal untuk ukuran lahan yang terbilang hanya seperempat dari sebuah mansion.


Memiliki kamar masing-masing, tidak lantas membuat mereka tidur di kamar masing-masing, mereka memilih untuk tidur bersama di ruangan keluarga yang di bentangkan ambal yang berlapiskan kasur lebar berbahan tebal, sehingga tidak terasa sakit ketika terbangun dari tidur. Mereka tertidur bagaikan anak kucing.


Termasuk Zhafira, walaupun Zhafira di wajibkan untuk tidur di kasur terpisah yang jaraknya terpisahkan oleh sang ibu. Zhafira pula mengenakan hijab meskipun sedang tertidur pulas di bawah sinar lampu yang temaram. Aisyah memandangi wajah-wajah putra putrinya yang sedang tertidur pulas, membelai satu persatu dari mereka lalu memberikan kecupan penuh kasih sayang.


Aisyah berfikir, jika dirinya sudah semakin tua, wajar saja jika satu persatu penyakit menggerogoti tubuhnya yang memang tidak sebaik masih muda. Namun, satu persatu dari setiap anaknya belum ada yang berniat berumah tangga. Alasan mereka, untuk Rasyid dan Maxwell mengatakan jika mereka akan menikah setelah berhasil mengantarkan Zhafira ke kursi pelaminan dengan seorang pria yang bertanggungjawab yang dicintai oleh Zhafira atas izin Allah, sedangkan Zhafira mengatakan jika dirinya akan menikah jika abang-abang nya sudah memiliki pasangan, dengan kalimat


" Masa sih, Zhaza menikah terlebih dahulu daripada Abang. Toh umur Abang lebih tua dari Zhaza. Alangkah anehnya nanti anaknya Zhaza lebih tua dari umur anak-anak Abang, pamali, bunda " ucap Zhafira sebagai protes sekaligus ngeles dari pertanyaan sekitar pernikahan.


Tidak, tidak. Anak-anaknya harus segera menikah , Aisyah harus melihat semua anak-anaknya menikah sebelum Allah SWT menyerah pada takdir Allah. Aisyah akan menerima dengan lapang dada jika harus pergi meninggalkan semua orang yang dia sayangi dalam kondisi mereka semua sudah memiliki pasangan berbagi suka dan duka.


Aisyah tidak ingin anak-anaknya mengalami hal apa yang dia alami. Merasa sendirian di keramaian. Merasa kesepian di kesendirian. Aisyah tidak munafik, terkadang ketika di waktu malam, terasa hampa ketika terbangun dari tidur tidak ada orang yang menemaninya, di saat-saat tertentu tidak ada teman berbagi duka ketika menghadapi kerikil-kerikil kehidupan.


*


*


*


*


*


🌺🌺