My Darling

My Darling
77



🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Tiga perempuan yang masih terlihat muda dari usianya telah berhasil dalam misi mereka untuk menjauhkan Anggie dengan Zhafira. Dimana maksud mereka untuk mendekatkan Zhafira dengan Kenzie, itu saja. Dan jangan sampai Anggie salah paham atas niat baik mereka malam hari ini yang bisa saja menyebabkan kesalahpahaman beberapa pihak


" Zhaza secara perlahan-lahan pasti akan membuka hatinya, Ais " ucap Siti yang mendapatkan anggukan kepala dari beberapa orang


" Terimakasih, Gie "


" Sudah mau mengalah. Hubungan Zhaza tidak akan berkembang jika kamu selalu berada di dekatnya. Zhaza perlu waktu beradaptasi dengan Kenzie. Maafkan bunda yang membuat kamu sedikit jauh darinya " ucap Aisyah yang membuat batin Anggie sedikit mencelos mendengar ucapan ibu sahabatnya


" Tapi yakinlah, kamu tetap prioritas bagi Zhaza, dan bunda tidak akan pernah menghalangi persahabatan kalian " ucap Aisyah kembali agar Anggie tidak merasa tersinggung, dan Anggie mencoba untuk mengerti walaupun dia belum memberikan respon apapun atas ucapan yang Aisyah lontarkan padanya.


" Maafkan kami, Gie "


" Berikan pria itu waktu untuk mendekati Zhaza. Lagipula dia calon suami Zhaza " Siti ikut menimpali percakapan ini


" Wah , Mommy sangat terharu sekali. Persahabatan yang begitu kental. Semoga kelak jodoh kamu menyusul yah, nak " Amanda ikut mengimbuhkan ucapan lainnya


Percakapan semakin lama semakin seru, dimana Anggie yang diajak bergabung dengan para ibu-ibu ini kemudian memijat pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut karena setelah beberapa waktu berharga nya dia tersita oleh obrolan yang dia tidak mengerti. Dan dia harus bersabar untuk itu apalagi ketika ketiga perempuan ini mulai mengajaknya berghibah yang sama sekali tidak pernah Anggie tahu siapa yang menjadi bahan gunjingan mereka bertiga. Dunianya hanyalah seputar bisnis dan di dunia tanda kutip itu sehingga ketika diajak untuk berghibah membuat Anggie merasa bosan, dan jenuh. Anggie me minta diselamatkan oleh siapa saja, pokoknya dia mau segera pergi meninggalkan para gadis mantan perawan ini yang sudah menguras energinya sejak sedari tadi.


" Suster " ucap bocah berumur sekitar sepuluh tahun yang menatap Zhafira tanpa berkedip membuat Zhafira sedikit terkejut, karena sangat jarang sekali orang mengenali profesi lainnya.


Sehingga ketika ada orang yang mengenalinya sebagai seorang nakes yang lebih tepatnya seorang perawat, Zhafira merasa begitu excited. Profesi ini profesi yang sangat membanggakan nan mulia bagi Zhafira, yang terkadang masih dia geluti hingga sampai saat ini dimana hal itu dilakukan oleh Zhafira untuk mendedikasikan ilmunya dalam dunia medis.


Walaupun untuk bekerja di bidang itu Zhafira harus terlibat penuh drama karena selalu saja permasalahannya adalah waktu kerja dimana waktu kerjanya selalu berbentrok dengan schedule kerjanya di perusahaan. terkait jam kerja sebagai perawat yang menguras waktu Zhafira hingga delapan jam penuh dalam satu kali kerja, yang jika di kalkulasi dalam hitungan bisnis. Zhafira sudah mampu menghasilkan cuan dalam nominal yang tidak sedikit dan tentu saja Zhafira terbilang merugi jika dibandingkan dengan kinerja nya sebagai seorang pengusaha dan pimpinan sebuah perusahaan.


Namun lagi- lagi, Zhafira selalu berkata " ilmu yang aku dapatkan akan sia - sia jika aku tidak mengimplementasikannya " membuat Anggie dan Diana harus memutar otak untuk menyelipkan waktu kerja Zhafira dalam ilmu keperawatan.


Kembali lagi pada waktu adik kandung Kenzie paling bontot mendekati Zhafira. Dimana Kenzuo selalu memperhatikan Zhafira, sang calon kakak iparnya. Apakah perempuan ini akan tetap bersikap baik padanya, dan akan berbeda jika tanpa orang-orang dewasa di dekat Kenzuo.


Apalagi Kenzuo mulai menyukai cara Zhafira melakukan pendekatan padanya. Yang tanpa diketahui Kenzuo jika Zhafira memang sangat mudah dekat dengan anak-anak, karena dirinya adalah ibu asuh yang sesungguhnya dari panti asuhan yang dia kelola dengan bantuan ibu panti yang dipilih Zhafira sebagai perpanjangan tangan Zhafira yang tidak bisa full time menjaga anak-anak panti.


" Aku mengenal kamu, pada saat Varo di rawat inap " ucap Kenzie membuat Zhafira terkejut. Yang dijawab singkat oleh Zhafira dengan kata : Benarkah ? , Karena Zhafira sama sekali tidak mengingat Kenzie.


" Kenapa sampai bisa di rawat inap di rumah sakit ? " Tanya Zhafira yang meminta jawaban langsung dari mulut adiknya Kenzuo. Serta dengan gerakan yang dimengerti sang bocah, Zhafira meminta Kenzuo untuk duduk diantara mereka berdua setelah berbincang sebentar tadi. Namun, Kenzie sama sekali tidak mau mengeser tubuhnya sehingga tanpa Kenzie berkata apapun, Kenzuo paham maksud dari kakak laki-lakinya sehingga Kenzuo memilih untuk duduk di sisi Zhafira lainnya, yang membuat Zhafira semakin menempel dekat dengan Kenzie dan itu berhasil membuat Kenzie menyunggingkan senyuman bahagia.


Zhafira berusaha mengajak adiknya Kenzie untuk berbicara kembali seperti sebelumnya. Namun pada dasarnya Kenzuo cukup irit dalam mengeluarkan kosakata sehingga Zhafira harus aktif berbicara. Sedangkan Kenzuo masih sibuk memperhatikan Zhafira. Sesungguhnya Kenzuo mulai menyukai Zhafira yang bersikap hangat padanya padahal banyak orang tidak akan bertahan lama dari sikap dingin yang Kenzuo tunjukkan.


Tanpa Kenzuo ketahui lagi, jika Zhafira sudah sangat terbiasa dengan orang-orang yang memiliki kepribadian introvert. Ayahnya, abangnya adiknya, sahabatnya, bahkan sang kakek pun sama saja. Sehingga bukan hal baru bagi Zhafira jika harus berinteraksi dengan golongan tipikal ini. Kenzuo hanya menjadi salah satu diantaranya dan Zhafira selalu sukses dalam mengikat hati orang yang memiliki sikap introvert seperti ini.


Zhafira tidak menghitung Kenzie termasuk dalam golongan tipe ini, karena Kenzie sama sekali tidak pernah menunjukkan sikap seorang introvert pada umumnya diketahui semua orang di hadapan Zhafira. Malah sering kali bersikap aneh, menurut pemikiran Zhafira. Padahal aslinya Kenzie sangatlah introvert dari segala sisi.


Hari semakin larut, hingga mereka harus mengakhiri acara hari ini. Dimana Anggie memutuskan akan pulang dengan pak sopirnya saja sedangkan Zhafira akan pulang bersama kedua orang tuanya yang juga harus rela menginap di mansion utama Bhalendra yang belum pernah dilakukan oleh Zhafira setelah beberapa tahun semenjak sang ibu dan ayah berpisah.


Kini Zhafira berada di dalam mobil yang sama dengan Sultan Bhalendra bersama Adhitama dan juga Aisyah. Hal ini tentu saja hal yang sangat membanggakan dan membahagiakan bagi Sultan Bhalendra apalagi besok adalah weekend, dimana dia telah mengabarkan kepada seluruh anggota keluarga Bhalendra jika Zhafira akan menginap di mansion utama Bhalendra. Dan tanpa perlu diperintah, seluruh anggota keluarga pasti akan hadir. Karena Zhafira satu-satunya bunga yang tumbuh di keluarga besar Bhalendra. Sebegitu berharganya Zhafira, sang intan berlian milik Bhalendra.


Sultan Bhalendra bahkan tanpa sungkan meminta Zhafira untuk tidur bersamanya, dan juga sang ayah yang sudah sangat sepuh. Sultan Bhalendra dan Malik Bhalendra sekarang berada dalam kamar yang sama dikarenakan kondisi Malik Bhalendra yang sudah sangat sepuh. Tidak bisa kemana-mana lagi selain berada di dalam kamar dan di beberapa tempat yang dia inginkan saja.


Zhafira hanya mengiyakan saja keinginan dari sang kakek buyutnya, memaklumi keinginannya sang kakek buyut karena wajar saja pertemuan mereka terbilang singkat. Ketika nanti Zhafira tiba di dalam kamar utama milik Bhalendra yang sekarang menjadi tempat Sultan Bhalendra beristirahat juga sudah terbayang di pikiran Zhafira bagaimana nanti dia mencium aroma khas dari minyak urut sang eyang buyutnya yang ternyata sudah dipakai juga oleh kakek buyutnya kembali menari-nari dalam ingatannya. Zhafira tertawa ketika di usia kecilnya dia menjahili sang eyang buyutnya yang tidak pernah dilakukan oleh para cucu dan cicit lainnya.


Hanya pada Zhafira saja Sultan Bhalendra beserta isterinya tidak pernah menegur tingkah jahil Zhafira. Sang eyang buyutnya pun sama seperti sang putra yang hanya bisa menggelengkan kepalanya akan tingkah laku sang cicit sedikit berlebihan. Seperti Zhafira yang mengajak Sultan Bhalendra untuk bermain dengannya, dimana Sultan harus rela di make up dan di dandani ala princess yang sukses membuat istri Sultan terpingkal-pingkal, Malik pun mengabadikan momen tersebut dengan sebuah bidikan kamera yang diperintahkan langsung olehnya yang segera dilaksanakan oleh asisten kepercayaannya. Tidak ada yang tidak menertawakan Sultan Bhalendra yang pasrah di make over ala princess oleh sang cicit.


Mengingat hal itu, Zhafira kembali merasa sedih. Karena selama sepuluh tahun lebih, Zhafira tidak pernah bertemu kembali dengan kakek buyutnya, dan eyang buyutnya ini. Bagaimana kabar terkini eyang buyutnya, dan baru terpikirkan oleh Zhafira beberapa waktu ini, Ah Zhafira kehilangan rasa kantuknya karena ingin segera menemui sang eyang buyut.


Mobil yang membawa mereka semua telah tiba di mansion utama Bhalendra. Sultan Bhalendra yang sudah berjalan mengenakan tongkat segera mendapatkan bantuan dari Zhafira untuk segera masuk ke dalam kamarnya karena terlihat sekali jika Sultan Bhalendra sudah sangat kelelahan, dan sudah melewati jam istirahatnya malam hari ini.


Zhafira yang sudah lupa tata letak mansion hanya menuruti langkah kaki Sultan dimana Sultan berhenti di depan sebuah pintu besar di lantai dasar ini. Yang jika sudah berada di dalam kamar maka terlihat sekali betapa luasnya kamar ini. Zhafira lupa apapun tentang masa lalunya, walaupun sesekali memori itu datang bertabrakan dengan pola abstrak yang membuat dirinya kesakitan luar biasa. Sehingga Zhafira merasa asing di tempat ini.


Intinya, di dalam kamar inilah Malik dan Sultan berbagi tempat istirahat mereka. Karena Sultan memilih untuk tidur bersama sang ayah daripada tidur masing-masing Hanya saja mereka berbeda tempat tidur meskipun dalam satu kamar. Hal ini dikarenakan Sultan Bhalendra takut jika tidurnya menganggu sang ayah yang sudah sangat sepuh, keberuntungan saja sang ayah diberikan umur yang panjang yang masih bernafas sama sepertinya padahal ibu dan salah satu adiknya telah lebih dahulu berpulang ke Rahmatullah.


Zhafira tidur di kasur yang sama dengan Sultan Bhalendra, tanpa membangunkan Malik Bhalendra yang sudah terlelap sejak sedari mereka masuk ke dalam kamar. Biarkanlah besok menjadi kejutan untuk sang ayah, pikir Sultan Bhalendra.


Dan Sultan Bhalendra sendiri sejak pertemuan keluarga tadi terlihat sangat bersemangat untuk hidup lebih lama, apalagi ketika Zhafira menyetujui untuk segera menikah. Membayangkan jika kelak dia akan mengendong cicit dari cicit kesayangannya, Sultan Bhalendra sampai menitikkan air mata.


Banyak rencana di kepala Sultan Bhalendra, yang membuatnya sulit untuk tidur, namun Zhafira memaksa Sultan Bhalendra untuk segera memejamkan mata, karena memang hari sudah semakin larut malam hari ini. Sultan Bhalendra yang dipaksa untuk tertidur pun tidak bisa mengelak ketika elusan lembut di puncak kepala Sultan Bhalendra yang diberikan oleh cicit kesayangannya sehingga tidak menunggu waktu lama Sultan Bhalendra terlelap dalam dekapan cicit kesayangannya.


Secapek- capeknya Zhafira, karena sudah terbiasa bangun di waktu subuh. Zhafira pasti akan segera bangkit dari tidurnya. Zhafira segera menuju ke dalam kamar yang sudah ditandai sebagai kamar khusus untuk Zhafira sejak dari kecil hingga sampai saat ini. Namun karena sudah terlalu lama, Zhafira lupa tata letaknya.


Zhafira membutuhkan petunjuk dari salah satu penghuni mansion utama Bhalendra, dan tanpa dia ketahui jika orang yang dia minta bantuan adalah kepala pelayan baru di mansion utama Bhalendra yang mengantikan kepala pelayan lama yang sudah tutup usia.


Kepala pelayan ini sedikit terkejut, melihat Zhafira. Karena sudah beberapa waktu lamanya mansion utama Bhalendra tidak pernah kedatangan tamu, apalagi berjenis kelamin perempuan. Banyak tanda tanya di benaknya. Siapakah perempuan muda cantik ini.


Setelah mengingat - ingat dalam ingatannya, kepala pelayan ini segera menutup mulutnya, dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ternyata tuan besar berhasil membawa pulang cicit kesayangannya pulang ke mansion utama Bhalendra. Dimana foto besar wajah cantik Zhafira terpajang di spot foto keluarga besar Bhalendra. Bagian khusus yang hanya berisi foto Sultan Bhalendra berserta istri dan anaknya saja, dimana foto - foto Zhafira selalu ada di galeri khusus itu.


Baik foto di pohon keluarga, maupun foto pribadinya Meskipun Zhafira tidak pernah berfoto langsung dengan Sultan di masa dewasanya, entah dapat darimana foto - foto tersebut ada.


Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sosok nyata Zhafira dihadapannya membuat pria dewasa ini menundukkan pandangannya, bukan hanya di foto saja kecantikan Zhafira terpancar, bahkan aslinya lebih dari itu dimana gadis soleha nan cantik dan anggun ini membuat kepala pelayan semakin mengagumi sosok cicit yang selalu diceritakan oleh tuan besarnya, dan ayahnya sendiri yang telah lama berpulang.


Luar biasa cantik baik inner maupun outer yang Zhafira miliki. Dari kepribadian maupun penampilan dan bentuk fisik. Sangat wajar, jika tuan besar selalu membangga- banggakan cicit kesayangannya yang tidak pernah berhasil di bawanya pulang ke mansion utama.


Tutur kata Zhafira sangat terjaga, sikap dan perilakunya pun sama, apalagi terhadap orang rendahan seperti dirinya dan para maid yang berada di mansion utama Bhalendra. Mereka saja yang merasa sungkan, tidak untuk Zhafira. Apalagi ketika Zhafira membantu mempersiapkan menu sarapan pagi untuk mereka nikmati nantinya.


Zhafira tidak bersikap serba tahu, dan mengatur semua orang termasuk chef yang bertugas membuat menu sarapan. Zhafira hanya bertanya dan memperhatikan. Sesekali bercengkrama dengan chef selama bekerja di sini, apa saja yang menjadi pantangan menu makan untuk Sultan dan Malik. Apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh keduanya.


Bagaimana perasaan mereka selama mengabdikan diri bekerja di mansion utama Bhalendra. Dan meminta bantuan mereka semua memperhatikan kesehatan Sultan dan Malik, karena dirinya tidak mungkin bisa melakukannya karena bukan penghuni tetap di mansion sehingga tanggung jawab itu dibebankan kepada para pelayan dan chef yang bertugas dalam mengatur pola makan kedua sesepuh ini.


Zhafira bahkan tanpa sungkan menggoda beberapa maid, termasuk maid yang paling senior yang sangat susah diajak tersenyum karena selalu serius dalam pekerjaannya. Sekalinya tersentil urat gelinya, perempuan paruh baya itu tidak berhenti tertawa. Suasana suram menjadi cerah, secerah matahari pagi hari ini.


Begitu pula dengan suasana hati Sultan yang berusaha membangunkan tidur sang ayah yang terlalu sungkan untuk membuka kedua bola matanya. Karena setiap harinya selalu sama, dan Malik bermalas-malasan untuk segera beranjak dari posisinya


" Ayah " sapa Sultan Bhalendra yang masih berusaha membuat tuan besar ini segera bangun dari tidurnya


" Hm " ucap Malik Bhalendra yang masih terlalu malas untuk membuka kelopak matanya.


" Ayah. Segeralah bangun "


" Aku ada kejutan untuk ayah "


" Bersiaplah "


" Tampil dengan pakaian yang baik. Jangan pakai piyama terus " ucap Sultan Bhalendra dengan mata berbinar-binar, jangan lupakan semangatnya ketika berucap dengan Malik yang membuat Malik merasa jengah. Apa sih yang membuat anak sulungnya ini bersemangat


" Ck " kesal Malik Bhalendra sembari berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Apalagi ketika sang anak sudah mempersiapkan pakaian yang harus dia kenakan.


Eits, apa tadi ? Sang putra menghinakan pakaian yang sering kali dia kenakan sehari-harinya, bukankah hidupnya seperti ini saja , stuck itu - itu saja kegiatan yang dia lakukan, tidak ada sensasi lain. Mau pakai baju apa memangnya dan untuk apa juga sih. Malik masih terlalu malas untuk berganti pakaian lain, cukup piyama sajalah lagipula dia terlalu nyaman mengenakan itu. Kalau tidak piyama, yah kaos oblong dengan celana pendek bahan yang lembut. OOTD yang selalu dia kenakan dan tidak pernah berubah lagi sejak dia tidak pergi kemanapun selain di mansion atau di peternakan ataupun spot lain yang sudah lengkap di kawasan mansion utama Bhalendra.


*


*


*


*


*


🌺🌺