My Darling

My Darling
63



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ruangan yang menjadi ruang rawat inap Zhafira yang merupakan ruangan khusus jika keluarga inti Abrisham mendapatkan perawatan medis. Hal ini tidak diketahui oleh semua orang yang berada di dalam ruangan ini, kecuali Kenzie sendiri. Dan sudah pasti direktur, staf dan pegawainya. Oleh karena itu, ketika Kenzie meminta di sediakan ruangan ini semua yang memiliki kompetensi dan wewenang segera bergerak cepat.


Jika hampir semua pegawai dan jajaran direksi rumah sakit ini tengah sibuk sana sini, di waktu yang sama Zhidan dengan santainya sudah tertidur dalam satu kasur dengan Zhafira di ranjang pasien membuat Kenzie merasa sangat geram akan tingkah laku Zhidan yang membuat Kenzie di serang rasa cemburu. Bahkan dalam khayalan Kenzie, dia sudah mendorong tubuh Zhidan hingga terjatuh ke lantai, lalu memukuli Zhidan tanpa ampun, setidaknya dengan berkhayal mengurangi rasa kesal di hati Kenzie, walaupun pada kenyataannya Kenzie hanya bisa menatap kedua kakak beradik itu terlelap dalam tidurnya. Ternyata bukan hanya berita miring, bukan pula isapan jempol belaka, jika Kim mengatakan Zhidan dalam tanda kutip mengidap sister complex, Zhidan pun tidak peduli dengan keberadaan orang lain, baginya sang kakak, hanya kakaknya saja. Kenzie harus bisa mengalah atau jika dia tidak mau mengalah, Kenzie harus membawa Zhafira jauh, sejauh mungkin. Keluar dari jangkauan Zhidan, itu yang dipikirkan oleh Kenzie saat ini.


Zhidan yang masih terlelap itu, bahkan tidak membiarkan Zhafira bergerak sedikitpun, harus dalam dekapannya, membuat Zhafira sedikit meringis ketika Zhidan tanpa sengaja menyenggol luka yang sengaja di tutupi Zhafira dari Zhidan. Karena jika Zhidan mengetahui jika sang kakak mengalami sakit, meringis saja membuat Zhidan kalang kabut, memanggil dokter berkali-kali untuk segera memeriksa Zhafira secara intensif padahal lukanya itu yah wajarlah jika terluka pasti sakit, minimal nyeri, dan itu biasa saja, akan tetapi tidak bagi Zhidan.


Kenzie mengalihkan perhatian dengan bekerja pada Mac books nya saja daripada moodnya semakin memburuk apalagi sejak melihat Zhidan yang seperti ini Kenzie semakin terlihat kesal semakin swing moodnya. Dengan mengalihkan pikirannya ke pekerjaan membuat Kenzie fokus untuk membalas banyak kiriman surel dari sekretaris dan asisten kepercayaannya yang semakin menumpuk itu. Karena ternyata Kim juga sibuk berkoordinasi bersama Mr P untuk mengintrogasi pelaku yang sudah berhasil mencelakai Zhafira.


Azzam membuka pintu ruangan rawat inap dengan sangat hati-hati agar tidak menganggu orang yang ada di dalamnya. Kenzie mengalihkan pandangannya pada area pintu yang terbuka. Kedua pasangan paruh baya ini, segera masuk ke dalam dengan langkah lebar untuk segera melihat keadaan Zhafira


" Zhi " ucap Aisyah yang menyentuh lengan Zhidan, namun Zhidan menepis sentuhan Aisyah membuat hati Aisyah terasa teriris- iris. Aisyah tahu jika Zhidan sangat menyayangi kakaknya melebihi rasa sayangnya pada Aisyah sebab sejak sedari kecil Zhafira lah yang sangat dekat dengan Zhidan. Memberikan perhatian lebih pada Zhidan, ketiga anaknya ini sangat kompak. Zhayn mengantikan sosok seorang ayah yang sibuk bekerja, dan Zhafira mengantikan sosok seorang ibu yang pada saat itu telah terjadi polemik dalam rumah tangga mereka sehingga Aisyah lebih cenderung sibuk dengan dunianya sendiri.


" Zhi "


" Tidak boleh seperti itu " tegur Azzam dengan lembut yang terkesan sopan. Zhidan yang mendengar ucapan lembut sang paman membuat hatinya tersentuh, Zhidan mengakhiri drama nya, dia segera turun dari ranjang pasien setelah memberikan kecupan di wajah sang kakak yang masih terlelap tidur


Satu persatu paruh baya itu mendekati tubuh Zhafira yang masih betah terlelap itu. Memberikan kecupan di wajah Zhafira yang masih damai. Malangnya keponakannya ini selalu saja ditimpa kemalangan. Bukankah kakinya beberapa minggu lalu mengalami cidera, dan apa lagi kali ini. Cideranya memang tidak terlalu serius, mungkin setelah ini Azzam akan berkata tidak jika Zhafira meminta izin untuk melakukan olahraga ekstrim seperti ini lagi.


Setelah Azzam, lanjut Siti yang mencurahkan rasa sayang dan sedihnya begitu pula dengan Aisyah. Dan tiba saat giliran Adhitama, pertama kali yang dia lakukan mengecup telapak kaki sang anak gadisnya. Seperti saat pertama kalinya Zhafira hadir di dunia ini, Adhitama mengecup telapak tangan, lalu mengecup kedua mata Zhafira , seperti hal yang sama dia lakukan saat menyandang status ayahnya Zhafira, satu- satunya anak perempuan yang terlahir di keluarga besar Bhalendra, dan satu- satunya cucu dan cicit di keluarga besar itu.


Tubuh Adhitama terguncang hebat saat mengecup bibir sang anak, hal yang selalu dia lakukan semasa dia bersama anaknya ini. Setelah melihat bagaimana perlakuan Adhitama pada sang kakak, Zhidan baru mengingat siapakah pria yang ikut datang bersama paman dan ibunya.


Zhidan yang sudah lama memendam perasaan benci, mengepal erat telapak tangannya hingga terlihat buku-buku tangannya yang memutih, Zhidan hendak meringsek masuk ke arah ranjang pasien, hendak mengusir Adhitama yang tiba-tiba tiada angin tiada hujan datang begitu saja seolah-olah dia orang yang paling tersakiti ketika melihat kondisi Zhafira saat ini. Zhidan meludahi lantai sembari berdecih jijik.


Rasa sakitnya diluapkan oleh Zhidan saat ini.


" Pergi ! "


" Pergi dari sini sekarang juga " ucap Zhidan penuh dengan penekanan


Namun Adhitama seakan-akan buta dan tuli


Hari ini, Adhitama dapat kembali menyentuh putri kecilnya yang terlihat masih sangat imut dan lucu di matanya sama seperti saat- saat Zhafira masih dalam dekapannya. Adhitama terdistraksi kembali ke kenangan masa lalu dimana saat itu Zhafira menginap di kediaman Sultan Bhalendra yang merupakan mansion utama Bhalendra. Zhafira tertawa riang sembari berlari kesana-kemari mengejar beberapa kelinci yang memang sengaja di pelihara Sultan Bhalendra atas permintaan Zhafira.


Sebegitu sayangnya Sultan Bhalendra, hingga membuat taman, dan peternakan kecil yang berisikan berbagai hewan yang di sukai oleh Zhafira, kecuali b.a*, dan a.nj* yang saat itu Zhafira kecil mengira jika hewan itu sangat lucu sesuai dengan imaginasinya saat menonton acara anak- anak.


Suara teriakkan Zhidan membuat Adhitama tersentak, jujur saja Adhitama tidak mendengar ucapan Zhidan yang masih mengusirnya dengan cara baik - baik agar sang kakak tidak perlu bangun. Namun Zhidan merasa muak sekali ketika pria tua di hadapannya ini tanpa malu menyentuh kakak kesayangannya.


Semua orang kaget melihat sikap Zhidan yang seperti ini, termasuk Aisyah yang sudah menahan air matanya.


" Pergi kalian semua ! "


" Pergi ! " Teriak Zhidan yang seperti kesetanan yang membuat Zhafira terkejut, dan bangun dari tidurnya.


Aisyah dan Siti sampai ketakutan melihat wajah Zhidan yang terlihat sangat menyeramkan yang belum pernah mereka lihat selama ini, bahkan kedua perempuan paruh baya ini sampai berpelukan sangking takutnya.


" Zhidan ! "


" Istighfar nak " Teriak Azzam sembari menghalangi Zhidan yang hendak menerjang Adhitama. Namun Zhidan tidak peduli dengan orang lain. Jiwanya terguncang, hatinya terlampau sakit, melihat pria tua di hadapannya ini membuat amarah yang selama ini terpendam. Pecah, meledak bagaikan magma yang terdorong keluar oleh gas bertekanan tinggi. Begitu lah perasaan yang dirasakan oleh Zhidan saat ini.


Azzam beberapa kali terlempar ketika mendorong Zhidan menjauh dari Adhitama, Kenzie tidak tinggal diam. Namun kekuatan yang ditunggangi oleh setan, apalagi Zhidan yang memiliki kemampuan beladiri yang sangat hebat, tentu saja kedua orang ini bukanlah apa-apa. Sampai-sampai Aditya yang baru datang ikut membantu pun tidak ada hasilnya sama sekali.


Inez yang datang bersama Aditya meminta para bodyguard yang berdiri diluar segera datang untuk membantu mereka yang sudah terlibat


" Pergi dari sini ! "


" Pergi ! " suara Zhidan yang sudah sangat histeris, kecewa, sedih, dendam menjadi satu. Membuat semua orang paham apa yang dirasakan oleh Zhidan.


Zhafira yang tidak tahu apa-apa itu. Langsung berdiri dari posisinya, dia tidak tahu sama sekali apa yang membuat adiknya seperti ini. Zhafira takut terjadi apa-apa dengan adik kesayangannya.


Inez menghalangi Zhafira yang hendak mendatangi sang adik.


" Zhaza berbahaya, Zha " ucap Inez dengan nada bicaranya yang sudah bergetar. Inez tidak pernah melihat Zhidan di sisi seperti ini.


" Nez "


" Hanya aku yang pasti berhasil menenangkan Zhizi "


" Jika sudah seperti ini, yang aku takutkan adikku membunuh orang yang tidak dia sukai, dan aku tidak tahu siapa orang yang tidak disukai oleh Zhidan saat ini. Pasti orang itu tidak akan bisa selamat "


" Aku sangat mengkhawatirkan adikku "


Ucap Zhafira yang membuat Inez akhirnya membebaskan Zhafira. Karena benar apa yang dikatakan oleh Zhafira jika dirinyalah satu- satunya yang ditakuti dan disegani oleh Zhidan.


Dalam kondisi tubuh yang tidak berdaya, Zhafira berusaha meringsek masuk ke dalam kerumunan. Bahkan Zhafira menarik paksa jarum intra vascular yang melekat di punggung telapak tangannya Zhafira.


" Zhi "


" Zhi "


" Astaghfirullah " ucap Zhafira sembari terus masuk kedalam kerumunan. Kenzie yang melihat kedatangan Zhafira berusaha menghalang-halangi Zhafira


" Tolong menyingkir lah " ucap Zhafira dengan suara yang bergetar membuat Kenzie menahan diri untuk tidak membawa Zhafira pergi dari ruangan ini.


" Zhizi, istighfar dek. Astaghfirullah. Astaghfirullahaladzim " ucap Zhafira dengan lembut di telinga sang adik. Membuat Zhidan segera berhenti memberontak, dan sadar jika yang memeluk tubuhnya saat ini adalah orang yang sangat dia sayangi.


" Kakak " ucap Zhidan yang sudah menangis seperti seorang anak kecil yang mengadu jika dirinya terluka, sangat terluka.


Zhafira mengelus-elus punggung lebar sang adik. Sedangkan Zhidan memeluk tubuh kecil sang kakak dengan sangat erat, hingga tubuh sang kakak menghilang tertutup tubuhnya.


Azzam meminta semua orang untuk segera keluar dari ruangan dalam rawat inap Zhafira, Azzam mengajak beberapa orang untuk tetap tinggal di ruangan lain yang masih menjadi ruangan rawat inap Zhafira.


Sedangkan Kenzie yang menyadari ada tetesan darah, melihat kemana asal darah itu, membuat Kenzie sangat kesal sekali. Namun Kenzie meminta dokter dan timnya untuk segera membantu Zhafira. Satu sisi Kenzie kesal dengan Zhafira yang tidak memikirkan kondisinya namun di sisi lain Kenzie baru menyadari jika hanyalah Zhafira yang bisa membuat pria muda ini jinak.


Zhidan masih bertingkah seperti anak kecil yang mengadu pada sang ibunya. Zhafira pun masih seperti seorang ibu yang sibuk menenangkan sang anak, sampai seorang dokter dan timnya masuk menanyakan kondisi Zhafira. Dan di situ Zhidan menyadari jika mereka saat ini berada di rumah sakit, karena kondisi sang kakak.


Zhidan merasa sangat bersalah ketika melihat ada robekan pada punggung telapak tangan Zhafira dan darah masih menetes disana. Namun Zhafira kembali harus menenangkan adiknya yang kini menangis karena membuat sang kakak terluka akibat tingkahnya.


Dokter tersebut berusaha sabar dengan kondisi yang tidak dia ketahui ada tragedi apa yang membuat ruangan ini sangat kacau. Walaupun sebenarnya dokter mengutuk keluarga pasien yang bertingkah seperti ini di saat pasien harusnya mendapatkan kenyamanan dan ketenangan.


Dokter dan timnya salut dengan kelembutan dan kesabaran pasien menghadapi polemik yang terjadi, bahkan tanpa sungkan Zhafira meminta maaf atas tindakan gegabah nya yang mencabut secara paksa jarum intra vascular yang menghubungkan infus dengan pembuluh darah.


Zhafira sama sekali tidak bersikap seperti para borjuis biasanya. Sikap sopan dan santun Zhafira membuat dokter dan timnya menyukai Zhafira. Setelah mereka menyelesaikan tugasnya, mereka pamit undur diri, dan meminta Zhafira menekan bel, jika Zhafira membutuhkan pertolongan dari petugas medis termasuk dokter. Dan Zhafira mengatakan terimakasih setelah dokter memberikan penjelasan


Zhidan. Jangan ditanya pria muda yang berkamuflase seperti bocah. Dia sudah meringkuk di ranjang pasien bersama Zhafira setelah Zhafira meminta Zhidan untuk membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya yang basah penuh air keringat dengan pakaian yang bersih dan nyaman dipakai.


Zhafira mengelus-elus puncak kepala sang adik dan memberikan kecupan. Zhafira masih tidak ngeh, apa yang membuat Zhidan sampai bersikap seperti tadi. Namun otak Zhafira terlalu lelah untuk memikirkan banyak hal, Zhafira kembali terlelap dalam dekapan sang adik


Di ruangan lain, tepatnya di depan ruangan istirahat pasien, dimana ruangan ini sama luasnya dengan ruangan istirahat pasien, yang masih satu kesatuan ruangan rawat inap Zhafira.


Azzam, Kenzie, dan lainnya sudah selesai diobati


" Maafkan aku " ucap Adhitama yang membuat Azzam mendesah pasrah atas apa yang baru saja terjadi


" Sudahlah, lupakan saja "


" Beginilah dampak dari perbuatan kamu di masa lalu. Jangan kamu salahkan Zhizi atas sikap yang dia tunjukkan kepada kamu. Ini adalah buah dari apa yang kamu tanam " ucap Azzam dengan lembut namun tegas, Azzam tidak ingin Adhitama menilai buruk keponakannya, karena Zhidan tidak pernah menampakkan sisinya yang seperti ini selama dia mengenal Zhidan dan mengurus Zhidan.


" Kamu sudah berkenalan dengan Adhitama, Kenzie " tanya Azzam tanpa basa-basi


" Sudah, pakde " sahut Kenzie dengan sopan


" Untuk kamu "


" Kepalang tanggung kamu telah melihat minusnya keluarga kami. Maka dengan ini aku mengatakan kepada kamu sebaiknya berpikir matang- matang lagi. Jika masih mengharapkan Zhaza menjadi isteri kamu "


" Lihatlah bagaimana reaksi Zhidan ketika melihat Zhaza bertemu dengan orang yang telah menyakiti keluarganya, terutama Zhaza. Bahkan dia tidak peduli jika itu ayah kandungnya sendiri "


" Zhaza dikelilingi orang-orang yang mencintai dan menyayanginya "


" Zhaza juga dikelilingi para pria posesif dan over protective, dan tidak hanya itu kamu juga tidak bisa menghalangi para sahabatnya untuk bertemu, khususnya putri tuan Clarke "


" Untuk itulah aku meminta kamu untuk mempertimbangkan kembali apa yang kamu inginkan "


" Karena, walaupun nantinya kamu bisa menikahi Zhaza,bisa mendapatkan restu seluruh keluarga. Zhaza akan selalu bersilaturahmi dengan keluarganya terutama adiknya yang, yah seperti itu. Dan kamu tidak bisa menghalangi silaturahmi itu, bagaimana " ucap Azzam dengan bijak , karena Kenzie wajib mengetahui luar dalam Zhafira dan keluarga Zhafira sebelum memutuskan melanjutkan niatnya.


Untuk sejenak Kenzie terdiam, mencerna setiap untaian kata yang diucapkan oleh Azzam. Kemudian dia mengucapkan kalimat yang membuat para tetua ini terdiam. Karena bagi Kenzie menikahi Zhafira sudah menjadi tujuan hidup nya.


Tidak berselang lama kemudian, Ibrahim datang bersama istrinya, yang pastinya ibu kandung dari Kenzie. Mereka langsung menyambut kedatangan Ibrahim dan istrinya


" Maafkan kami yang datang terlambat "


Ucap Ibrahim


" Ah , kamu "


" Terimakasih, Ibra "


" Sungguh aku terkejut, sampai- sampai kamu datang kemari " ucap Azzam yang sebenarnya terkejut kedatangan tamu yang tidak disangka-sangka, padahal Zhafira belum sampai berjam- jam di rawat inap di rumah sakit ini


" Ah, itu "


" Karena Kenzie mengatakan jika anak menantu kami mengalami kecelakaan. Tentu saja kamu harus segera datang menjenguknya, bang " ucap Ibrahim dengan mantap walaupun Ibrahim merasakan kode Amanda yang diberikan kepada Ibrahim jika itulah yang diinginkan istrinya.


*


*


*


*


*


🌺🌺