
ππππππππππππππ
Zhafira hanya bisa mengangguk pasrah ketika Azzam telah bertitah.
" Baiklah Baginda raja " ucap Zhafira sembari bersikap seperti hamba di sinetron kerajaan yang membuat semua orang kembali tertawa. Zhafira sangat pandai memeriahkan suasana menjadi hangat seperti ini padahal kondisi dirinya yang cukup memprihatinkan.
Zhidan sudah mulai tersenyum, moodnya sudah semakin membaik, bahkan dia melupakan hal yang terjadi sebelumnya. Dia terlalu malas untuk mengingat orang yang menggoreskan luka hati, sudah cukup, matilah saja sendiri, jangan sampai menampakkan wajah di hadapan Zhidan lagi, wajahnya terlalu memuakkan untuk di lihat. Akan tetapi nasehat Azzam membuat Zhidan terbelenggu rasa bakti. Andaikan bisa memilih, Zhidan lebih baik memilih Azzam sebagai ayah kandungnya daripada pria menyebalkan itu, yang sayangnya sepertinya sang ibu telah memaafkan pria itu. Karena Zhidan sempat melihat pria itu menggenggam telapak tangan sang ibu dengan begitu mesra, dan ibunya merangkul lengan pria itu sembari sedikit mengelus-elus lengan pria itu. Dengan interaksi itu sedikit banyak Zhidan menyadari jika sang ibu dan ayahnya sudah berbaikan. Namun Zhidan tidak mau Zhafira mengetahui hal tersebut, dikarenakan baginya sang ibu adalah seorang pengkhianat, ibunya tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dia katakan,dan itu membuat Zhidan merasa ibunya menjijikan.
Kok bisa, bisa bersikap seperti tidak ada apa-apa, padahal pria itu sudah menyakiti ibu dan anak-anak, sungguh hal itu diluar akal logika Zhidan. Segampang itu ibunya luluh, wah bodoh sekali ibunya ini kok bisa-bisanya terjerat lagi pada penjahat kela*n itu. Terserah sajalah, yang penting bagi Zhidan ibunya ini tidak pantas dihormati karena omongan dan tindakan dia tidak sinkron sama sekali.
" Siapa yang akan menemani kamu di sini, Zhaza " tanya istri Adnan
" Ada Anggie " ucap Zhafira
" Kakak " protes Zhidan
" Pulang lah "
" Besok, kamu harus memimpin rapat. Atau kakak yang akan pulang malam hari ini "
" Besok adalah rapat pemegang saham yang harus kakak hadiri. Namun kondisi kakak seperti ini. Walaupun rapat pemegang saham di tunda dikarenakan kondisi kakak seperti ini, akan ada tiga rapat tertutup untuk usaha bunda dan kakak. Apakah kamu tidak ingin membantu kakak " tanya Zhafira yang mampu membuat Zhidan bungkam.
Akhirnya dengan berat hati, Zhidan memilih untuk pulang atas permintaan Zhafira. Zhidan pulang bukan karena mengalah namun karena apa yang dikatakan Zhafira ada benarnya. Zhidan harus memimpin rapat untuk mengantikan kakak yang masih dalam perawatan
" Baiklah "
" Besok, Zhidan akan datang lebih cepat " sahut Zhidan dengan pasrah
" Eits "
" Selesaikan terlebih dahulu pekerjaan kamu "
" Kalau sempat baru kesini, jika tidak "
" Biarkan kakak saja pulang malam hari ini, Istirahatnya di rumah saja " ucap Zhafira
" Tidak , jangan "
" Iyaa, Zhizi selesaikan semua urusan setelah itu Zhizi akan kesini "
" Akan tetapi besok, Zhidan yang akan menjaga kakak di sini " tegas Zhidan yang tidak mau mengalah. Dan kata " baiklah " meluncur di bibir Zhafira. Adiknya ini tidak bisa dibantah jika sudah berekspresi seperti ini.
Zhafira terlihat celingukan, seakan-akan dia menantikan kedatangan seseorang, dan itu dapat dirasakan oleh istri Abbas, sehingga istri Abbas mencolek Siti yang berada tidak jauh darinya setelah mereka menyelesaikan makan malam
" Kak "
" Sepertinya Zhaza mencari Ais " ungkap istri Abbas. Berbisik-bisik di telinga saudara iparnya
Siti baru menyadari jika sebelumnya Zhafira sempat bertengkar hebat dengan Aisyah, dan setelah itu lama mereka tidak berjumpa sampai Zhafira mengalami hal ini, walaupun sempat bertemu di kediaman mansion Azzam, mereka berdua nampak canggung.
Zhafira mungkin merasa jika sang ibu masih membencinya karena tidak menuruti maunya Aisyah. Zhafira terlihat sendu meskipun sesekali dia tertawa dan tersenyum ketika mendengar guyonan dari paman- pamannya yang sangat hangat pada keponakannya, tidak seperti di keluarga sang ayah yang cenderung bersikap dingin.
" Mana Anggie, Zha "
" Bukannya tidak mau menunggu kamu lebih lama. Jam segini pasien pasti diminta untuk istirahat, hanya petugas medis sungkan untuk menasehati pasien yang berada di VVIP seperti ini " ucap istri Ammar
" Hm, dia dalam perjalanan, Tante "
" Kalian pulang lah saja, tidak apa-apa kok, Zhaza di tinggal. Paling lama tiga puluh menit lagi dia akan sampai " ucap Zhafira yang sengaja berbohong. Padahal Anggie sama sekali tidak bisa dihubungi, entah apa yang dia kerjakan setelah memberikan pesan jika malam ini dia yang akan menemani Zhafira
" Nanti saja, kita tunggu kak Anggie datang, baru kita semua pulang " ucap Zhidan yang tidak ingin Zhafira sendirian
" Ah, kamu "
" Pulang lah, besok pagi harus rapat loh, jangan sampai kamu kurang tidur sehingga besok kurang berkonsentrasi. Bukankah besok banyak rapat, apalagi ada rapat untuk perencanaan memenangkan tender di * "
" Pulang dan istirahat " nasehat Zhafira yang mau tidak mau Zhidan harus menuruti permintaan Zhafira.
Tanpa menunggu Anggie, mereka semua pulang. Zhidan seperti biasanya, pasti paling lama pamitan. Bermanja-manja dengan sang kakak. Membuat Siti menarik telinga nya Zhidan
" Harusnya Ais menikahkan Zhizi saja terlebih dahulu. Biar tidak menganggu Zhaza lagi. Kamu ini masih saja seperti anak koala yang tidak mau pisah dengan induk semang "
" Sudah, kasihan kakak kamu, sudah badannya kecil, lagi sakit pula, bebannya bertambah dengan di tindih oleh babon " ucap Siti sembari menyingkirkan tubuh atletis Zhidan yang memang besar, kurang lebih sama besar dengan Abhi anaknya Siti
Zhidan pasrah saja, ketika semua orang menertawakan tingkah dia, dan mengiyakan apa yang diucapkan oleh Siti karena emang benar seperti itu. Zhidan selalu dan selalu menempel dengan kakaknya ini walaupun ada Aisyah sekalipun.
Tiga puluh menit ditunggu, Anggie belum menampakkan batang hidungnya. Zhafira pula sudah mulai mengantuk sehingga dia terlelap tanpa tahu jika di dalam ruangan ini sudah ada sang ayah yang sudah menungguinya sejak tadi. Tangan Adhitama masih terasa sangat dingin, ingin sekali rasanya dia menyentuh putri kecilnya ini, namun tangannya terlalu bergetar, sehingga Adhitama memutuskan untuk tidak menyentuh Zhafira.
Adhitama masih terus menerus menatap wajah damai anaknya. Sampai dimana suara knock pintu bagian kamar pasien istirahat terbuka
" U - uncle " ucap Anggie sedikit shock ketika melihat Adhitama. Karena Anggie masih sering bertemu dengan Adhitama yang terkadang tanpa disengaja. Anggie tahu, jika Adhitama sering memperhatikan Zhafira dari jauh, kadang- kadang Adhitama sengaja datang ke kediaman sang ayah hanya untuk bertanya tentang putri kesayangannya ini dengan tuan Clarke ataupun dengan Anggie.
Tuan Clarke selalu mengatakan kepada Anggie untuk bersikap sopan, bagaimana pun buruknya seorang pria, dia akan sangat menyayangi anak- anaknya. Sehingga tuan Clarke meminta Anggie untuk berlaku hormat pada ayahnya sahabatnya ini.
" Silahkan, uncle "
" Akan tetapi izinkan aku tetap berada di sini. Aku dan Cleo akan tidur di ruangan depan. Takutnya subuh atau pagi nanti Zhidan kemari, dan dia tidak melihat kami. Hm " ucap Anggie yang tidak menyelesaikan kalimatnya dikarenakan semua orang tahu betapa protektif si koala itu, jika sampai dia mengetahui jika yang menunggu Zhafira bukan Anggie maka sudah dipastikan terjadi perang yang tidak mungkin dimenangkan Anggie atau siapa pun itu.
" Jangan khawatir "
" Sebelum subuh aku akan pulang "
Ucap si ayah yang meminta belas kasih, supaya diperkenankan untuk menginap
" Hm, baiklah uncle " ucap Anggie
Cleo terkejut ketika Anggie keluar lagi dari dalam kamar, tanpa Zhafira. Bukankah Anggie mengatakan jika dia akan masuk dan membangunkan Zhafira untuk menyantap cemilan yang mereka beli sebelum sampai kesini
" Why ? " tanya Cleo yang terhenti ketika melihat sosok Adhitama keluar dari dalam setelah Anggie
Cleo memelototi Anggie untuk meminta penjelasan, namun dengan santainya Anggie mengangkat bahunya pertanda dia juga tidak tahu.
Adhitama menyapa Cleo dan berbasa-basi dengan keduanya. Namun tidak berselang lama, ketika camilan dan makanan yang dibeli oleh mereka tersaji di depan mereka, Cleo melontarkan kalimat yang membuat Adhitama sedikit mengeryitkan dahinya
" Ah "
" Makanan ini terlalu amis " ucap Cleo dan inilah yang membuat Adhitama mengeryitkan dahinya. Karena ucapan itu, biasanya diucapkan oleh para pembunuh, ketika mereka telah selesai menghabisi nyawa musuhnya
Cleo segera berlalu pergi begitu saja meninggalkan Adhitama dan Anggie. Dia membutuhkan air untuk mandi sekali lagi dan berendam dengan aromaterapi dikarenakan indera penciumannya masih mencium aroma darah yang membasahi tubuhnya ketika mereka berdua menghabisi orang-orang yang sudah berani menyabotase mobil balap yang harusnya dikendarai oleh Cleo
" Oh "
" Maafkan kami, uncle "
" Kami tidak se' bersih dan se' suci putri uncle " ucap Anggie yang masih sibuk mengunyah makanan yang sempat mereka beli tadi sebelum sampai ke rumah sakit ini. Anggie terbiasa hidup di dunia seperti itu, sehingga bau darah tidak lagi membuatnya bereaksi mual, ngeri ataupun takut, malah cenderung santai.
Adhitama mengerti maksud ucapan Anggie yang pada kenyataannya Zhafira berteman dengan beberapa putri dari kalangan dunia gelap, dan masih aktif dalam dunia itu sampai saat ini. Sangat wajar jika mereka mem* dan menyakiti musuhnya.
Tidak berlaku untuk Zhafira dan Fauziah, mereka berdua bersih dari perbuatan itu, walaupun Zhafira menyakiti musuhnya itupun masih dalam tahap wajar, sebagai bentuk perlindungan diri dari perbuatan buruk yang akan musuhnya lakukan.
Walaupun Zhafira dalam perlindungan baik dari keluarga Lesham, dan Bhalendra. Terkadang Zhafira suka sekali hidup bebas tanpa perlindungan, dan pada momen ini terkadang dimanfaatkan oleh musuh-musuhnya Bhalendra di masa lalu. Karena keluarga Lesham belum pernah memiliki musuh. Walaupun ada, akan tetapi tidak seganas musuh keluarga lain termasuk keluarga Bhalendra.
Mereka masih bercerita bagaimana kronologis kejadian, hingga detik-detik penyelamatan Zhafira. Adhitama sangat kesal mendengar hal itu, walaupun detik - detik kronologis kejadian sudah Adhitama dapatkan link video bagaimana proses penyelamatan Zhafira hanya saja Adhitama masih merasa sedih, marah, dan kesal bercampur aduk perasaannya. Namun, sepertinya semua keluarga sahabat anaknya ini sudah bertindak satu langkah lebih cepat dari yang dia kira, andaikan saja Azzam mengetahui nasib sekarang orang yang sudah mencelakai keponakannya, tentu mereka semua akan mendapatkan ceramah dari Azzam, karena seburuk-buruk makhluk, tindakan pem* tidak dibenarkan dan Azzam tidak suka itu.
" Tidak perlu khawatir, uncle "
" Zhaza tidak akan pernah menjadi target keluarga itu "
" Daddy bahkan sudah mengurus tikus- tikus itu sampai ke akar-akarnya "
" Lagipula, mereka mengincar aku. Hanya saja Zhaza selalu baik, dia hanya memikirkan keselamatan orang lain. Itulah mengapa kami tidak pernah bisa menjauh dari Zhaza. Karena selain kami menyayangi Zhaza, kami juga berhutang nyawa padanya " ucap Cleo yang sudah datang dan memilih serta mengambil menu makan malamnya sendiri , setelah berbasa-basi menawarkan makanan yang tersaji, Cleo sudah mampu untuk makan setelah membersihkan tubuhnya dikarenakan perutnya meronta-ronta ingin diisi, hanya saja tadi aroma amis khas da* masih terasa melekat, sehingga dia lebih baik memutuskan untuk mandi dan berendam sekali lagi agar dia bisa makan dengan lahap.
" Hm "
" Daddy menitipkan salam untuk uncle "
" Kata Daddy " Selamat ", gitu aja sih Daddy bilang " ucap Anggie, dan Cleo pun berkata hal yang sama persis seperti yang diucapkan oleh Anggie. Padahal mereka berdua merasa penasaran, kalimat selamat ini, untuk apa diucapkan oleh orang tua mereka, bahkan mereka telah mengirimkan kado ke alamat Adhitama yang baru.
" Katakan pada Daddy kalian, paman mengucapkan terimakasih " ucap Adhitama dengan tersenyum. Karena Adhitama tahu jika rekan bisnisnya ini tahu jika Adhitama berhasil menikahi Aisyah lagi. Bukannya menutupi pernikahan Adhitama yang ini, bukan. Hanya saja media tidak pernah tahu, jika Adhitama dan Aisyah sempat terpisahkan dalam waktu yang cukup lama.
Tertutup dari semua liputan seluruh media, karena pada kenyataannya media tidak pernah tahu jika mereka berdua sudah sempat terpisah cukup lama, hanya saja beberapa media pernah membahas perselingkuhan Adhitama karena selingkuhan Adhitama mempublikasikan hubungan mereka. Namun itu tidak bertahan lama, karena kemudian berita itu langsung hilang bak di telan bumi.
Cleo dan Anggie tidak lagi menangapi lagi ucapan terimakasih yang dilontarkan oleh Adhitama, Toh mereka cukup lelah untuk sekedar basa-basi, Adhitama tahu itu, sehingga dia memilih untuk kembali ke kamar istirahat pasien bagian dalam. Zhafira yang masih terlelap, sama sekali tidak terusik dengan kedatangan Adhitama.
Sepanjang malam ini, Adhitama menjaga putri kecilnya yang sudah beranjak dewasa namun tetap putri kecil bagi Adhitama yang memang sangat menyayangi Zhafira. Apalagi untuk mendapatkan Zhafira, banyak sekali ujiannya, banyak sekali rintangan, begitu pula setelah mendapatkan Zhafira. Rumah tangganya diguncang hebat oleh prahara rumah tangga yang tidak kunjung usai, sampai di satu titik. Aisyah memilih untuk mundur, dia terlalu lelah dengan drama queen yang dimainkan oleh ibu mertuanya, dan Adhitama sama sekali tidak menghalangi tingkah laku sang ibu dengan dalih berbakti.
Kalau begitu, Aisyah menyerah, dia tidak lagi sanggup jika Adhitama sendiri tidak memperjuangkan pernikahan mereka. Dan di titik inilah penyesalan Adhitama, karena dengan menyerahnya Aisyah, rumah tangganya hancur, dia harus kehilangan tatapan cinta dari istri dan anak - anaknya, tidak lama kemudian dia harus kehilangan putra sulung kebanggaan Adhitama yang selalu mengagungkan jika Zhayn kelak akan menjadi penerus kerajaan bisnis miliknya.
Namun nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi, dan sudah bertahun-tahun hidup dalam penyesalan. Adhitama sudah muak dalam kegelapan itu, kini sudah waktunya Adhitama memperjuangkan pernikahan, cinta anak- anaknya kembali meskipun Zhidan membunuh dirinya jika nanti bertemu kembali, Adhitama tidak peduli, baginya yang terpenting perasaannya bukan perasaan Zhidan. Cintanya bukan cinta anaknya, karena Adhitama paham bagaimana sakitnya Zhidan, sehingga wajar, sangat wajar jika Zhidan memilih bersikap seperti itu.
Biasanya di sepertiga malam, Zhafira pasti terbangun, namun untuk malam hari ini Zhafira melewatkannya. Salah satunya efek obat yang diberikan oleh dokter, sehingga Zhafira bisa tertidur sangat lelap sekali. Adhitama meninggalkan ruangan rawat inap Zhafira sebelum qabliyah subuh. Adhitama masih cukup malu untuk bertemu dengan sang putri. Kemarin dia nekat datang karena kondisi Zhafira, itu saja.
Zhafira tidak pernah tahu, jika dia mengalami demam, atau sakit dan di rawat di rumah sakit, Adhitama tidak pernah absen untuk datang dan menemani Zhafira, walaupun Adhitama harus pintar-pintar mencari sela waktu agar tidak ketahuan oleh keluarga Lesham.
*
*
*
*
*
πΊπΊ