My Darling

My Darling
72



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setelah Zhafira selesai mandi yang dibantu perawat jaga perempuan atas permintaan Zhafira, dan itu dikarenakan Zhafira membutuhkan pertolongan dalam proses tersebut Zhafira sudah sangat kesulitan mandi sendiri akibat cidera cukup berat pada area bahunya yang mengalami cidera yang cukup serius dari cidera sebelumnya. Dan oleh karena itulah, ketika Zhafira telah selesai membersihkan tubuhnya, Zhafira langsung mendapatkan penanganan medis ketika hasil rontgen sudah keluar dan dokter membacakan hasil pemeriksaan di hadapan pasien. Karena Zhafira cukup paham beberapa bahasa medis yang diucapkan oleh dokter, dan dokter pun tanpa sungkan mengajak Zhafira berbincang dengan bahasa medis, karena beberapa dokter ini pernah menjadi konsulen ketika Zhafira menjadi mahasiswi kedokteran saat itu.


Cidera yang dialami Zhafira pada bahunya memang cukup serius, dokter memberikan penjelasan yang lebih terinci ketika Adhitama banyak bertanya ini itunya, sehingga dokter tidak lagi hanya berbicara mengunakan bahasa medis saja, Dokter menjelaskan diagnosa nya dengan versi yang lebih bisa dicerna oleh masyarakat awam saja. Dimana dokter menjelaskan jika cidera yang dialami oleh Zhafira terjadi adanya pergeseran pada tata letak tulang yang biasa disebut dislokasi bahu yang terjadi ketika bonggol, yang merupakan bagian dari kepala tulang lengan atas atau humerus, keluar dari rongga yang mewadahinya. Sehingga diperlukan pengobatan khusus untuk dislokasi bahu ini, yaitu dengan prosedur reduksi tertutup. Dimana pada prosedur ini dilakukan pengembalian bonggol pada rongga nya sehingga lengan pasien harus dimasukkan ke gondongan selama kurang lebih satu hari atau sampai pasien sudah merasa nyaman sebagai proses observasi yang dilakukan dalam sebuah tindakan medis. Dan dalam prosedur ini si pasien harus mengunakan alat bantu penyanggah lengan.


Namun bila pada prosedur yang disarankan dokter ini tidak mengalami perbaikan karena bonggol yang tidak dapat dipulihkan ke rongganya kembali, maka mau tidak mau Zhafira harus menjalani prosedur lanjutan dengan jalan operasi. Dimana pada prosedur ini lebih dikenal dengan prosedur artroskopi atau bedah invasif yang dilakukan untuk memperbaiki bagian bahu yang rusak yang tingkat keberhasilannya jauh lebih baik.


Adhitama mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama, dan meminta tim dokter melakukan hal yang terbaik untuk putrinya. Tidak terlalu penting ini itunya, pokoknya yang paling penting bagi Adhitama dan keluarganya adalah kesembuhan sang putri yang menjadi lebih baik, bila perlu kembali seperti semula.


Tim dokter tidak menjanjikan bisa, akan tetapi tim dokter berkata bahwa mereka akan melakukan yang terbaik, membuat Adhitama tidak suka mendengar kalimat pernyataan tersebut karena terkesan ambigu baginya. Zhafira segera menenangkan sang ayah agar jangan terlalu mengkhawatirkan dirinya toh Zhafira sudah meminum obat penghilang rasa nyerinya dengan dosis yang tepat, bahkan Zhafira sudah mulai merasa mengantuk yang tidak lama kemudian dia tertidur dengan pulas.


Zhafira meminta sang ayah untuk tidak menghukum Yoyok dan Ali, Zhafira bahkan meminta sang ayah berjanji akan hal itu. Yang lebih hebatnya lagi, Zhafira bahkan meminta Adhitama melindungi kedua pria bodyguard nya ini dari orang- orang yang akan menyalahkan mereka berdua, membuat Yoyok dan Ali semakin merasa bersalah atas apa yang menimpa Zhafira dan semakin sayang pada sosok Zhafira yang tidak pernah habis baiknya sedangkan sikap Zhafira membuat Adhitama geram dengan dua kunyuk ini yang lebih mendapatkan perhatian dari Zhafira.


Keesokan harinya, lebih tepatnya pagi hari sekitar pukul tujuh pagi semua orang mulai berbondong-bondong datang ke rumah sakit setelah Adhitama mengatakan kondisi Zhafira. Hal ini terjadi karena pihak rumah sakit Lesham sempat menghubungi Siti subuh tadi untuk meminta penjelasan terkait telepon yang masuk di layanan call center rumah sakit dimana orang tersebut tepatnya seorang pria mengabarkan jika mereka harus bersiap-siap untuk menyambut anggota keluarga Lesham yang dini hari tadi mengalami kecelakaan, apakah berita itu , berita yang valid atau benar atau hanya hoax saja. Tim medis menunggu konfirmasi tersebut hingga subuh ini, akan tetapi tidak ada satupun anggota Lesham tiba ke rumah sakit dan mengklarifikasi berita tersebut, sehingga penanggung jawab supervisor yang bertugas pada malam hari ini segera mengkonfirmasi hal tersebut langsung pada tetua Lesham, yang tidak lain Azzam Lesham selaku pemilik rumah sakit Lesham sayangnya handphone Azzam tertinggal dan Siti lah yang mendengarkan penjelasan dari pihak rumah sakit Lesham.


Sedangkan untuk Azzam sendiri, dia mengetahui kondisi Zhafira, mengenai musibah yang dialami oleh Zhafira telah dikabarkan langsung oleh Ali sejak dini hari, dalam proses penyelamatan Zhafira. Oleh karena itu, sejak dini hari Azzam telah tiba di rumah sakit tidak lama setelah Zhafira tertidur karena pengaruh obat yang telah disuntikkan dokter melalui selang infus agar Zhafira bisa terlelap. Dan semua itu tidak lepas dari permintaan Azzam yang tahu jika Zhafira pasti merasa ketakutan dan sulit tidur, daripada kenapa-kenapa lebih baik Zhafira diberikan obat yang memiliki efek sedatif yang membuat Zhafira bisa tertidur dengan pulas.


Azzam memang sengaja tidak memberitahukan kondisi Zhafira pada siapapun. Oleh karena, Siti memiliki riwayat tekanan darah tinggi jika diberikan atau dikejutkan dengan berita duka takutnya akan membuat Siti jatuh sakit. Apalagi kejadian musibah ini terjadi pada dini hari, dimana Siti lagi enak-enaknya tidur.


Tidak jauh berbeda dengan Azzam, Adhitama pun memutuskan untuk tidak memberitahukan sang istri dini hari tadi karena alasannya yang sama, dan akan memberitahukan berita duka ini pagi hari saja, sayangnya Siti lebih dahulu menghubungi Aisyah yang membuat Aisyah meraung-raung menangis untuk segera diantarkan ke rumah sakit sekarang juga. Oleh karena itu, Siti berjanji akan menjemput Aisyah, hanya saja Adhitama sudah memerintahkan seorang sopir untuk menjemput Aisyah yang akan langsung diantar ke rumah sakit ini.


Afika yang mendengar keributan di mansion Azzam. Apalagi Siti berbicara dengan cukup keras, membuat seluruh penghuni mansion Lesham terkejut mendengar isi percakapan Siti dengan Aisyah. Apalagi Siti sudah bergerak kesana kemari yang niatnya untuk bergegas ke rumah sakit. Tanpa dia sadari jika Afika ikut mendengarkan kabar duka ini. Dan tidak menunggu waktu yang lama, Afika pun segera memberikan kabar kepada Abhi sesuai apa yang dia dengar dari percakapan antara Siti dan Aisyah.


Parahnya Abhi me' loudspeaker percakapan dia dan sang adik yang membuat Zhidan yang saat ini berada di dekat Abhi segerap beranjak mempersiapkan segala dokumen keberangkatan ke tanah air demi melihat di kondisi Zhafira yang sebenarnya. Abhi hanya bisa memijat pelipisnya ketika Zhidan tidak memperdulikan jika esok hari mereka memiliki jadwal mata kuliah penting.


Abhi yang ditinggalkan Zhidan begitu saja hanya bisa pasrah. Yah sudahlah, besok pagi dia akan mengurus perizinan mereka pada kepala prodi untuk dirinya dan Zhidan dengan alasan orang tua mereka di tanah air sedang mengalami musibah yang mengharuskan mereka pulang. Setelah itu, Abhi akan menyusul setelah mempersiapkan segala keperluan yang dia bawa pulang dengan dokumen - dokumen penting yang harus dia bawa sebagai syarat kepulangan ke negara tempat kelahirannya.


Anggie yang datang terlebih dahulu dari yang lainnya kecuali Azzam dan Adhitama segera masuk tanpa memperdulikan Ali dan Yoyok yang masih tertidur di ruangan depan. Lagipula mereka tidak terlalu terlihat karena tertidur di kasur lantai berbahan lembut.


Mereka berdua baik Ali maupun juga Yoyok masih kelelahan setelah bergulat, dan menerima pukulan dari saudara sepupu Zhafira yang datang bersama Adhitama. Namun mereka semua segera pergi bersama sang asisten kepercayaan pamannya untuk menghukum para penjahat yang sudah berani menyentuh anggota keluarga Bhalendra.


Anggie memandangi wajah Zhafira yang penuh lebam. Zhafira bahkan tidak mengenakan hijab sehingga semua luka pada bagian tubuh Zhafira terlihat semua. Anggie menelusuri tubuh Zhafira, sampai ketika dia menyibakkan baju Zhafira dimana lebam area itu terlihat nyata yang membuat Anggie mengepalkan tangannya menahan diri.


" Baj * " umpat Anggie yang sudah dikuasai emosi.


Adhitama yang pagi hari tadi pergi menemui dokter dan meminta penjelasan, dimana dokter tersebut menyarankan agar Zhafira tidak hanya mendapatkan penanganan medis karena luka fisik saja, Zhafira juga harus di dampingi psikolog, karena bagaimana pun Zhafira mengalami penderaan, takutnya berdampak besar pada Zhafira, dan itu jangka waktunya lama. Jangan sampai Zhafira mengalami trauma terhadap pria, sentuhan pria bahkan jika itu ayahnya sendiri, atau adiknya sendiri.


Adhitama langsung menyetujui dan meminta yang terbaik dalam bidangnya tanpa membuat Zhafira merasa tertekan. Dan disetujui oleh dokter yang menangani Zhafira secara langsung. Bahkan dokter ini telah membentuk tim dokter dalam proses penyembuhan Zhafira.


Adhitama sudah memesan makanan untuk mereka makan, termasuk Zhafira andaikan saja dia tidak menyukai menu sarapan yang dia dapatkan dari rumah sakit. Mereka yang dimaksudkan oleh Adhitama disini adalah Yoyok dan Ali yang masih tertidur dengan pulas seakan-akan mentari pagi tidak akan lagi terbit besok. Adhitama menatap kedua pria menyebalkan di mata Adhitama dengan tatapan kesal, bahkan Adhitama menghembuskan nafasnya dengan kasar, jika saja Zhafira tidak melindungi kedua pria ini pasti sudah menyandang gelar alm di depan nama mereka. Dan bisa- bisanya Zhafira memberikan perhatian pada pegawainya sendiri, akan tetapi itulah Zhafira.


Adhitama yang sama sekali tidak mengetahui jika sudah ada Anggie yang berada di dalam ruangan Zhafira yang ternyata sedang disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk, berbekal sebuah MacBook dan sebuah laptop untuk menunjang kinerjanya yang working at home. Adhitama yang sedikit terkejut dengan kehadiran Anggie tanpa pemberitahuan hampir saja memukul Anggie, namun untungnya segera bisa menguasai diri. Bahkan menawarkan menu sarapan pagi untuk Anggie yang dijawab hanya dengan kata " nanti saja, sama Zhaza sarapan nya " ucap Anggie yang membuat Adhitama hanya menganggukkan kepalanya saja


Tidak berselang lama, Aisyah datang yang ditemani Siti dan Azzam. Aisyah segera memindai wajah cantik Zhafira yang masih terlelap tidur padahal Zhafira tidak pernah selelap ini kalau matahari telah menyingsing.


" Kissmark " ucap Siti dengan lirih yang membuat Azzam mengucapkan banyak kalimat tauhid karena sekali lagi dia harus melihat tanda itu. Begitu pula dengan Aisyah yang sudah menangis.


" kita keluar saja, jika kalian tidak bisa menguasai diri. Kasihan Zhaza butuh istirahat " ucap Azzam dengan sangat hati-hati. Yang kemudian mereka semua terdiam dan bertahan mendampingi Zhafira sampai Zhafira membuka kelopak matanya nanti. Zhafira yang belum sadar jika sudah banyak orang yang mendampinginya di dalam ruangan karena pikirannya saat ini sangat blank atas apa yang menimpa dirinya. Namun ketika rasa haus menyiksa tenggorokan nya membuat Zhafira sedikit terbatuk-batuk kecil


Zhafira semakin merasa tersiksa bahkan pita suara nya terdengar serak, dia membutuhkan air mineral untuk melepaskan rasa kering pada tenggorokannya.


Anggie dengan telaten, segera memberikan air mineral itu pada Zhafira sampai Zhafira menghabiskan satu botol penuh ukuran sedang. Lalu meminta Anggie membantunya untuk masuk ke dalam kamar mandi dan meminta agar Anggie meninggalkan dirinya sendiri. Beruntung nya di kamar mandi ini sudah tersedia perlengkapan mandi beserta pakaian ganti pasien. Dan di sinilah Zhafira menumpahkan kesedihan dia dalam tangisannya ketika ingatannya kembali ke belakang di saat musibah itu menimpa dirinya.


Zhafira berusaha keras untuk tidak menunjukkan kesedihan yang dia rasakan pada orang lain karena bisa jadi akan berdampak buruk pada orang- orang yang dianggap lalai dalam tugasnya, juga para penjahat yang mungkin saat ini sudah mendekam di dalam penjara.


Zhafira sedikit terkejut ketika di dalam ruangan rawat inapnya sudah banyak sekali orang yang datang mengunjungi dirinya. Zhafira dengan mudah merubah raut wajahnya dengan senyuman manis untuk menutupi luka hatinya akibat penderaan yang dia alami agar orang-orang ini tidak bertindak yang lebih jauh terhadap pelaku kejahatan.


Zhafira dengan santainya mengajak pengunjung untuk bercerita ngarul ngidul entah topik apa yang menjadi pembicaraan yang pasti tidak mengarah pada penderaan yang dialami Zhafira sampai kemudian tim dokter masuk bersama beberapa perawat jaga pagi hari ini.


Disini dokter menyampaikan jika Zhafira akan melakukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan Elektromiografi yang berfungsi untuk mengecek sinyal kelistrikan pada otot, Pencitraan resonansi magnetik (MRI) untuk melihat detail struktur dalam tubuh. Hal ini harus dilakukan karena diperlukan agar tim dokter bisa memastikan diagnosis dengan tepat. Sedangkan untuk pemeriksaan dengan Sinar-X sudah dilakukan sebelumnya, dan tidak perlu dilakukan kembali.


Salah satu dokter ortopedi melakukan tugasnya dengan memeriksa kondisi bahu yang cidera dengan menggerakkan dan menyentuh bahu. Ketika Zhafira mendesis kesakitan, Adhitama ikut melakukannya membuat Aisyah menahan suara tawanya, ada - ada saja suaminya ini, ah, suami. Aisyah sedikit tidak percaya dengan jalan takdirnya yang sangat mean blowing sekali


Kamar rawat inap Zhafira tidak pernah sepi dari pengunjung. Satu pulang, yang lain berdatangan, hingga banyak sekali buah tangan berdatangan di kamar rawat inap Zhafira. Membuat bodyguard kebingungan mau diletakkan dimana lagi, padahal koridor menuju ruangan Zhafira sudah hampir penuh dengan buah tangan yang dibawa pengunjung.


Hingga tiba, Kenzie datang berkunjung setelah pulang dari kerja, dengan tanpa malu Kenzie membersihkan diri di kamar rawat inap Zhafira, karena merasa sangat gerah dan lelah. Sikap Kenzie yang sudah seperti calon suami membuat beberapa anggota keluarga Lesham saling melirik, kecuali Azzam yang sudah memijat pelipisnya akan sikap Kenzie yang sedikit berlebihan.


Bukan hanya Kenzie, bahkan Ibrahim dan Amanda bersikap kurang lebih hampir sama seperti sang putra, yang bersikap seperti bagian dari Zhafira. Yang Zhafira sendiri tipikal cuek, tidak tahu jika .,,hal itu membuat ketiga orang ini berfikir bahwa Zhafira menerima mereka, dan menerima pinangan Kenzie. Padahal Zhafira sama sekali belum mengetahui negoisasi, kesepakatan atau apalah yang terjadi diantara dua keluarga besar ini.


Zhafira hanya sibuk dengan dirinya sendiri,sibuk menutup rapat luka hatinya yang sedari tadi selalu menampilkan senyuman palsu yang terkadang tertawa dengan suara tawa garing dan untuk beberapa anggota keluarga Lesham memahami jika itu cara Zhafira yang tidak ingin terlihat sedih dan terluka di hadapan orang lain.


Zhafira sedikit risih ketika Kenzie selalu duduk disampingnya, ingin sekali Zhafira bertanya siapa anda ? . Namun melihat ramainya orang, bukankah itu terkesan tidak sopan dan kasar, sehingga Zhafira mengurungkan niatnya untuk bertanya. Mungkin nanti, setelah keadaan lebih sepi.


Sentuhan yang diberikan oleh Kenzie membuat Zhafira tidak nyaman, apalagi ketika Kenzie menggenggam telapak tangan Zhafira, entah itu sengaja atau tidak sengaja, bahkan beberapa kali Kenzie menyentuh punggung Zhafira, dan beberapa kali mencuri kecupan di puncak kepala Zhafira yang membuat Zhafira semakin geram.


" Bang "


" Abang ini siapa nya Zhaza, sih " ucap Zhafira dengan serius ketika suasana sedikit kondusif. Yang dijawab Kenzie seulas senyuman saja


Dan itu berhasil membuat Zhafira mencabik bibirnya, Zhafira kesal. Dan hendak melayangkan protes kembali. Namun, suara gaduh di area ruangan depan rawat inap Zhafira membuat Zhafira tersentak kaget. Hal yang ditakutkan Zhafira benar- benar terjadi. Kenzie membantu Zhafira untuk beranjak dari posisi sebelumnya menuju ke arah depan karena melihat Zhafira yang tergesa-gesa untuk turun yang hampir mencelakai Zhafira kembali.


*


*


*


*


*


*


🌺🌺