
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Zhafira menuju mushola yang masih berada di rooftop, yang hanya bisa di akses beberapa orang saja, karena musholla kecil ini berada tidak jauh dari ruangan kerja Zhafira. Setelah Zhafira menyelesaikan menunaikan ibadah wajib empat raka'at nya, Zhafira mengajak Anggie untuk menyantap menu masakan chef di restoran selain agak lapar, Zhafira ingin merasakan citarasa yang disajikan di restoran , apakah masih terjaga kualitasnya.
Zhafira memesan menu yang berbeda dengan Anggie, agar mereka bisa saling icip-icip rasa. Zhafira mempertanyakan kepada para sekretaris setelah ini kemana lagi tujuan perjalanan mereka, dan tentu saja Diana menjelaskan secara rinci kemana lagi mereka akan pergi.
Zhafira meminta Diana dan sekretaris Anggie untuk mengisi energi mereka terlebih dahulu sebelum berangkat lagi. Dan meminta para bodyguard yang berada di dekat Zhafira untuk memesan menu masakan yang ada di restoran.
Tentu saja tidak akan di tolak, menyingkirkan wanita yang tadi cukup membuat mereka sakit kepala, apalagi wanita itu terus meronta-ronta untuk dilepaskan. Dan butuh waktu sampai kedatangan polisi ke area restoran. Sedangkan ibu Utami sudah pergi untuk mengurus laporan terkait permasalahan tadi.
" Gie "
" kok bisa yah "
" kamu memiliki insting atau feeling akan sesuatu seperti itu " ucap Zhafira mengawali obrolan mereka sembari menunggu pelayan menyajikan menu masakan yang mereka pesan.
" Anggieta Immanuella "
" gitu loh " ucap Anggie dengan jumawa sembari mengibaskan rambutnya
" Iya "
" Anaknya Daddy Steven " ucap Zhafira bercanda kepada sahabatnya
" Iya dong "
" Keturunan Clarke, harus bisa menilai apakah orang itu baik atau buruk "
" Kalau nggak bisa, sejak aku kecil sudah meningoy " ucap Anggie, membuat Zhafira tertawa. Membenarkan ucapan Anggie, karena resiko hidup di zona itu, memang sudah terbiasa di tempa untuk memiliki insting dan kemampuan bertahan hidup.
Percakapan dengan tema random menghiasi hari mereka. Diana ikut menimpali ucapan kedua pimpinan ini, begitu pula dengan Eva sekretaris Anggie yang hampir sama seperti tuannya yang sedikit kurang banyak bicara kecuali hal-hal yang dianggap penting saja
" Sudah lumayan nih, mbak " ucap Zhafira memberi kode ke arah Eva
" Iya"
" Udah nggak nge-freeze lagi " ucap Diana mengikuti alur Zhafira
" wajar dong "
" Kalian aja yang terlalu berlebihan " ucap Anggie
" Kok bisa yah, kamu dapat orang yang sama seperti kamu, Gie " Zhafira menggoda Anggie
" Awal-awal kenal, dan kerja dengan nona Zhafira "
" Agak terkejut juga sih, dengan nona Anggie, namun lama kelamaan yah sudah terbiasa aja "
" Mbak pikir, nanti yang akan gantiin Vero beda gitu "
" Eh, sama " ucap Diana yang juga menggoda Anggie dan Eva
" Hm "
" Sama " ucap Anggie
" Aku juga mengira yang gantiin Mona bakal sedikit lebih slow down "
" Nggak petakilan kayak Mona ,yah " ucap Anggie
" Ternyata " tanya Zhafira
" Beda " jawab Anggie singkat dengan sedikit memiringkan satu pipinya
" Bedanya tipis banget "
" Setipis tissue satu lapis " ucap Anggie, membuat Zhafira tidak bisa menahan tawanya
" Asem banget " ucap Diana dengan mengerucutkan bibirnya
" Balas ,mbak " ucap Zhafira mengompori Diana
" Aku tuh beda yah dengan Mona "
" Kalau Mona tuh energik, baterai full banget " ucap Diana
" kalau mbak ,letoy "
" Gitu " ucap Eva dengan savage. Membuat Zhafira tidak bisa menahan tawanya lagi
" Lanjut, Eva " ucap Anggie yang kali ini mengompori Eva untuk membalas ucapan Diana
" Ayo, mbak "
" Sikat " ucap Zhafira, yang membuat Diana kesal
" Sikat- sikat "
" Nih, odol "
" Gosok Gigi kamu nya " ucap Diana
" Jiah "
" Kalah tim lawan, Eva "
" Berantem tuh mereka " ucap Anggie
" Iya ,nona " ucap Eva yang masih mempertahankan sikap dinginnya
" Ngomong-ngomong, gimana pertemuan dengan tuan * " ucap Zhafira
" Biasa aja " ucap Anggie
" Biasa tuh, gimana "
" Sudah mencapai kesepakatan belum " ucap Zhafira
" Dia masih minta untuk memperbaiki beberapa persyaratan permohonan kerjasama "
" Sepertinya mereka cukup baik prospek kedepannya, jika terus mempertahankan visi dan misi perusahaan mereka "
" Walaupun terbilang baru, kualitas yang mereka tawarkan lumayan "
" Dan harga yang ditawarkan juga, standar aja sih, tapi yah "
" Aku harus segera mengatasi tikus itu, kalau tidak segera ngerombak sistem "
" Takutnya mereka akan semakin semena-mena " ucap Anggie mengatakan sedikit masalah yang dialami perusahaan Clarke.
" Benar "
" Basmi dari akar "
" Seperti bunda dahulu "
" Kamu tahu kan bagaimana kesalnya bunda dengan aku, karena para tikus aku racun " ucap Zhafira
" Mati dong " ucap Anggie
" Mati mata pencariannya, Gie "
" Kita itu memutuskan orang berbuat keburukan maka akan mendapatkan pahala "
" Jangan bunuh orangnya, bunuh sikap dan sifat buruk nya " ucap Zhafira
" Ah "
" Ribet "
" Ntar bakal ngulang lagi, namanya tabiat, Zha " ucap Anggie
" Nggak "
" Nggak "
" Aku nggak izinkan kamu buat itu "
" Aku bantu untuk racun sikap mereka aja, kita basmi tuh tikus, tapi jangan disakiti tikus nya "
" Cukup buat mereka bertaubat aja " ucap Zhafira.
Mengenang beberapa tahun yang lalu saat perusahaan Aisyah masih dipimpin oleh Aisyah yang masih double job sebagai Presdir dan CEO, karena Zhafira masih menempuh pendidikan, ternyata penyakit hati membuat orang yang awalnya mendukung Aisyah dan memajukan perusahaan menjadi lebih baik dari sebelumnya merasa iri akan keberhasilan Aisyah.
Banyak terobosan Zhafira yang membuat perubahan cukup besar di perusahaan membuat laju grafik perkembangan perusahaan semakin naik. Sehingga orang itu mengajak beberapa rekan yang dahulu berdiri bersama Aisyah untuk pergi meninggalkan Aisyah seorang diri dengan keadaan perusahaan yang kolaps.
Awalnya Penjelasan Zhafira tentang rencana masa depan perusahaan yang Zhafira rancang, tidak bisa di terima oleh Aisyah, membuat mereka berdua berseberangan pendapat, karena Zhafira membuat keputusan merombak orang-orang kepercayaan Aisyah pada bagian- bagian penting perusahaan, yang pada masanya dikendalikan oleh Aisyah, karena orang-orang inilah yang membuat perusahaan mengalami masa krisis.
Akhirnya, Aisyah harus mengakui kemampuan Zhafira dalam memimpin perusahaan yang sudah mengalami krisis, namun belum sampai perusahaan terjatuh dan kolaps. Sejak saat itu Aisyah mempercayakan segala keputusan yang Zhafira ambil meskipun dengan cara yang cukup ekstrim bagi Aisyah , akan Aisyah terima saja, karena Zhafira sudah pasti mempertimbangkan baik buruknya sebelum memutuskan sesuatu.
" Kita lihat saja nanti, Zha "
" Aku harus tahu motif orang ini untuk menumbangkan perusahaan Daddy "
" Mungkin karena aku yang memimpin saat ini, sehingga mereka meremehkan kemampuan seorang Anggie " ucap Anggie dengan dingin. Zhafira menyentuh punggung telapak tangan Anggie
" Bukan seperti itu, Gie "
" Kita tidak pernah bisa mencegah hati orang - orang untuk membenci kita "
" Dan untuk menyukai kita "
" Penyakit hati itu, jangan di lawan dengan hati yang keras "
" Cukup kita sadarkan perbuatan buruk dari penyakit hati itu , agar mereka sadar mereka menyakiti orang lain hanya akan menyakiti diri mereka sendiri " ucap Zhafira
" Aku bukan kamu, Zha " ucap Anggie menatap Zhafira
" Kamu memang bukan aku, Gie "
" Aku hanya ingin kamu nyaman aja, Gie "
" Capek mikirin orang-orang nggak penting " ucap Zhafira, Anggie hanya terdiam saja, sampai para pelayan menyajikan menu pesanan mereka.
Diana mewakili para boss nya mengucapkan terimakasih kepada pelayan yang menyajikan menu masakan, dan Zhafira membawa pesanan Anggie di hadapan Anggie, dan mengambil pesanan dirinya sendiri. Diana dan Eva menata pesanan mereka masing-masing.
Masing-masing dari mereka fokus pada menu makanan pesanan yang mereka inginkan. Pada dasarnya suka jahil, Zhafira mulai menggerayangi makanan yang ada di piring Anggie, terkadang menyuapi Anggie dengan pesanan miliknya. Mereka makan tanpa batasan atasan dan bawahan, makan bersama layaknya bersama teman saja
kecuali dalam keadaan formal, maka mereka dituntut harus bersikap profesional
" ini nih penyakit kalau sudah kenyang " ucap Zhafira
" Iya "
" Jadi mager yah, nona " ucap Diana
" Bukan itu doang, jadi mengantuk juga " sahut Eva, dan Anggie yang mendengarkan obrolan memberikan senyuman dan anggukan kepala, membenarkan ucapan dari mereka.
Mereka membiarkan beberapa menit sampai memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena masih ada beberapa tempat untuk dikunjungi Zhafira Anggie.
Ali dan Yoyok sudah diperintahkan untuk pulang oleh Zhafira, begitu pun dengan bodyguard nya Anggie, namun Ali dan Yoyok bersikeras akan tetap bersama menemani Zhafira apalagi tindakan kekerasan baru saja terjadi kepada Zhafira, walaupun ada Anggie yang membantu Zhafira, tetap saja Ali dan Yoyok tidak mau kecolongan.
Akhirnya Ali dan Yoyok, harus berada satu mobil dengan dua sekretaris pribadi Zhafira dan Anggie, karena Zhafira kesal dengan kegigihan Ali dan Yoyok yang membuat mood Zhafira sedikit buruk, sehingga di mobil mereka hanya ada Zhafira dan Anggie saja penghuni mobil, di tambah pak sopir yang masih cukup muda bila di sapa dengan sapaan bapak.
Zhafira memerintahkan Ali dan Yoyok , untuk segera pergi ke tempat tujuan mereka selanjutnya bersama kedua sekretaris pribadi mereka , sedangkan Anggie diminta Zhafira untuk segera ke mobil yang akan mereka tumpangi, karena Zhafira yang akan membayarkan bill tagihan tadi.
Namun Ali hanya mengiyakan saja permintaan Zhafira, menunggu Zhafira di area parkiran agar Zhafira tidak lagi kehilangan mood seperti tadi ketika mereka berdua membantah ucapan Zhafira. Sedangkan Anggie langsung ke area parkiran karena memang akan mengisi waktunya untuk memeriksa dokumen - dokumen penting, dan meninjau ulang kontrak kerjasama dengan klien.
" ya sudah "
" aku tinggal yah, Zha "
" tidak apa-apa, kan " ucap Anggie
" iya "
" tidak apa-apa "
" aku pasti akan menyusul kamu dengan gerakan cepat, secepat gerakan ninja "
" Ninja Hatori , yah " ucap Zhafira dengan sedikit lelucon
" jangan lama " ucap Anggie
" iya, beibs "
" kamu menunggu aku di mobil saja " ucap Zhafira dengan santainya
Anggie segera kembali ke dalam mobil yang mereka tumpangi dari awal untuk kembali memeriksa dokumen atau kontrak kerjasama dengan investor lain , dan mengecek laporan yang dikirimkan oleh manajer operasional perusahaan kepada dirinya melalui email di MacBook Anggie.
Oleh karena itu Anggie fokus dengan pekerjaannya sembari menunggu kedatangan Zhafira yang hanya meminta izin untuk membayarkan bill tagihan makan tadi. Padahal sebagai owner, bisa saja Zhafira tidak membayarkan bill tagihan, namun tidak Zhafira lakukan karena dirinya ingin memberikan contoh, bahkan seorang owner membayar bill tagihan sendiri ketika makan di restoran milik dia sendiri.
.
.
.
Bruuukk.....
Zhafira terpental dan terjatuh dengan tidak cantik merasakan nikmatnya paving block atau yang lebih dikenal dengan conblock jalan , beberapa isi dalam tas nya ikut berhamburan di area jalan menuju ke arah parkiran,karena Zhafira belum menutup resleting tas dengan baik, bahkan Zhafira melakukan kegiatan mengancingkan tas sambil berjalan menuju lahan parkir tanpa melihat ke arah depannya, yang membuat dia kehilangan keseimbangan.
" adu- aduduh "
" Astagfirullah Allazim " ucap Zhafira sedikit meringis ketika melihat telapak tangannya ada beberapa goresan
Zhafira menengadahkan wajahnya, menatap mata orang yang berada tepat didepannya, karena di hadapannya adalah seorang pria maka Zhafira segera langsung mengalihkan pandangannya sembari memunguti barang-barangnya yang terjatuh keluar dari dalam tas. Zhafira masih berusaha bangkit setelah sempat terduduk di lantai selasar pelataran parkir mobil di dalam restoran.
Pria tampan itu mencoba membantu Zhafira untuk berdiri dari posisi sebelumnya, namun Zhafira berusaha untuk bangkit sendiri tanpa meminta bantuan dari pria tampan itu, karena pantang bagi Zhafira untuk bersentuhan dengan pria yang bukan mahramnya.
Namun apa daya ketika kaki Zhafira sempat tergelincir pada waktu Zhafira terjatuh membuat kaki Zhafira sedikit kesulitan berdiri, bahkan Zhafira hampir terjatuh lagi karena belum bisa menyeimbangkan diri dengan baik, pria tampan itu dengan sigap membantu Zhafira segera berdiri dengan sempurna, yang pada akhirnya sentuhan itu terjadi
" terimakasih, bang " ucap Zhafira berusaha menolak genggaman tangan dari pria tampan itu, namun hal tidak terduga kembali terjadi, saat tanpa disangka-sangka pria tampan itu dengan sengaja melingkarkan tangannya kearah pinggang Zhafira sehingga tubuh pria itu terlihat mendekap tubuh Zhafira, sehingga dengan jarak yang sangat dekat seperti ini, membuat suara detak jantung masing-masing terdengar oleh mereka.
Pria itu memandang wajah cantik Zhafira dengan sangat lekat, sedangkan Zhafira semakin menundukkan pandangannya. Zhafira juga langsung berusaha untuk menepiskan tangan pria tampan yang dinilai tidak bermoral oleh Zhafira karena dengan lancang telah menyentuh tubuhnya yang bahkan tidak pernah bersentuhan dengan lelaki manapun.
" jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yah, bang "
" Tolong hargai perempuan "
" Aku perempuan muslim , haram bagiku bersentuhan dengan pria yang bukan mahram bagiku " ucap Zhafira dengan penuh penekanan, yang masih menundukkan pandangannya. Zhafira sangat takut akan dosa besar, yang sama sekali tidak pernah Zhafira bayangkan akan mengalami pelecehan seperti ini dari seorang pria.
" kamu terlalu sering menabrakkan diri kepada aku "
" apakah ini sebuah trik kamu untuk mendapatkan perhatian dari aku " ucap pria tampan itu dengan jumawa
" Astaghfirullah"
" Trik yang sangat menjijikkan yang kamu ucapkan, bang "
" Demi Allah pemilik bumi dan langit "
" Tidak ada sedetik pun aku mau menyerahkan diri untuk bersentuhan dengan pria yang bukan mahram bagiku "
" Jangan ucapkan fitnah kejam itu padaku "
" Sungguh aku tidak pernah sudi diperlakukan seperti ini "
" Tolong lepaskan aku " ucap Zhafira yang masih dengan intonasi rendah namun penuh penekanan, karena Zhafira sudah sangat tidak nyaman terlihat dari tubuhnya yang gemetaran, dan suhu tubuhnya yang mendadak freeze sejak mereka bersentuhan.
" fitnah ? "
" sudah beberapa kali kamu menjatuhkan barang-barang milik aku , dan merusakkan nya " ucap pria tampan itu sambil memindai wajah cantik Zhafira, sesekali menghirup aroma tubuh Zhafira yang terasa begitu menenangkan.
Harus Kenzie akui sejak bertemu tanpa sengaja dengan cara yang sama perjumpaan mereka. Kenzie bisa tidur dengan nyenyak, apalagi mengingat wajah cantik Zhafira yang begitu anggun, aroma yang menenangkan. Sekarang diberikan kesempatan lagi untuk bertemu, Kenzie tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena sebelumnya hanya sekretaris pribadi Zhafira yang menyelesaikan semua masalah dan urusan yang menimpa Zhafira.
Zhafira masih nampak begitu memikirkan ucapan pria yang ada dihadapannya, lebih tepatnya menahan dirinya. Agak sulit Zhafira mengingat memori yang tenggelam di dalam ingatan, apalagi memori itu sengaja Zhafira buang karena menurut Zhafira tidak penting untuk diingat dan disimpan.
Waktu yang digunakan Zhafira untuk mengumpulkan kembali ingatan dia akan pria ini, dimanfaatkan oleh pria itu dengan mengamati wajah cantik Zhafira yang begitu dalam. Maha sempurna, matanya, hidung nya, bahkan kelopak mata Zhafira memiliki bulu mata yang lentik alami membuat pria itu terpesona.
Beralih ke area bibir, pria itu menelan air liurnya dengan kesusahan, membuat jakunnya naik dan turun, inhin rasanya mencicipi manis dari bibir perempuan yang membuat dirinya merasa nyaman.
Sedangkan Zhafira masih terus menggali ingatannya. Suatu ketika ingatan itu muncul, Zhafira menatap ke wajah pria itu dengan mendongakkan kepalanya, sedangkan pria itu yang masih setia menatap wajah cantik Zhafira, sehingga tatapan manik mata mereka bertemu
" tu " ucap Zhafira, namun gerakan bibir Zhafira mengatakan dua huruf itu semakin membuat pria itu tidak bisa menahan diri untuk tidak merasakan manisnya bibir Zhafira. Wajah tampan pria itu semakin mendekat membuat Zhafira melebarkan pupil matanya.
*
*
*
*
*
*
*
🌺🌺